• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – EYANG UYUT PART 1

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 76-80)

Aku belajar sesuatu tentang Mata Ketiga ku ini. Ternyata membuka mata ketiga lebar-lebar itu tanpa Aku sadari menghabiskan banyak energi. Pantas saja Aku sampai kelelahan dan pingsan waktu turun dari Merapi. Setelah itu Aku jadi lebih bijak menggunakan Mata Ketiga ku. Supaya tenaga ku tidak terkuras. Selain itu Eyang Kakung menyarankan kepada Ku untuk banyak melakukan meditasi.

Berhubung sudah lulus sekolah, Aku mulai mencari-cari tempat kuliah. Aku memutuskan untuk tetap kuliah di Y*gya. Selain mendaftar untuk ikut ujian perguruan tinggi negeri, Aku juga mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi swasta. Jurusan hukum, psikologi, dan manajemen menarik minatku. Waktu antara proses pendaftaran sampai dengan dengan pengumuman diterima itu ternyata cukup panjang. Yang artinya panjang pula waktu ku sebagai pengangguran. Selama menganggur itulah Aku melakukan saran Eyang untuk melakukan meditasi.

Suatu ketika Ayah dan Ibu datang ke Y*gya menengok ku. Rencananya mereka akan ada selama seminggu di Y*gya. Selama di Y*gya itu Ayah dan Ibu berencana untuk menengok sejumlah Saudara yang tinggal di Y*gya. Terutama yang dari pihak Ayah. Sebelumnya Aku memang tidak terlalu mengenal keluarga dari pihak Ayah. Aku jarang bertemu mereka, padahal sebenarnya kami tinggal satu kota.

Keluarga Pertama yang hendak ditemui Ayahku adalah Keluarga Eyang Roto. Eyang Roto adalah Kakak Tiri dari Ibu Ayahku (Red – Ibu dari Ayah dipanggil Eyang Mami). Satu hal yang membuatku terkejut adalah Ibunya Eyang Roto ternyata masih ada (masih hidup). Sebut saja yang namanya Eyang Uyut. Ayah bilang Eyang Uyut ini kondisinya sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Sudah sejak lama juga Eyang Uyut tidak bisa diajak komunikasi, karena hanya diam saja tanpa pernah merespon orang yang mengajaknya bicara. Hanya saja katanya walaupun dalam kondisi seperti itu, Eyang Uyut masih bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang lain seperti tangan, kaki, kepala dan leher, siku, dan lain-lain. Ayah sendiri tidak bisa memastikan berapa usia Eyang Uyut. Prediksinya sudah hampir menyentuh angka 90 tahun.

Keluarga Eyang Roto tinggal di daerah P*rwangg*n. Arah rumahnya masuk ke dalam gang-gang sempit. Uniknya di dalam gang-gang sempit itu ada sebuah rumah dengan

ukuran yang cukup besar dan halamannya lumayan luas. Itu lah rumah Eyang Roto. Sampai di sana Aku dikenalkan dengan Eyang Roto dan sanak saudara yang juga tinggal di sana. Sampai akhirnya Aku diajak melihat Eyang Uyut.

Eyang Uyut ditempatkan di sebuah kamar di bagian belakang. Eyang Roto mengatakan biasanya Eyang Uyut ini ditemani oleh seorang Pramurukti yang biasa mengurusnya. Hanya saja Pramurukti yang menjaga biasanya tidak pernah lama dan sering berganti-ganti. Aku tadinya menganggap hal itu sebagai hal biasa karena mengurus orang yang sudah sepuh seperti Eyang Uyut dengan kondisi seperti itu pasti bukan lah hal mudah. Sampai di kamar Eyang Uyut dan melihat kondisinya, intuisiku mengatakan ada yang tidak wajar pada diri Eyang Uyut. Kondisinya terbaring di tempat tidur. Saat Aku diperkenalkan, dia enggan bersalaman dengan ku. Dan yang paling terlihat mencolok adalah mata nya. Mata Eyang Uyut Aku perhatikan tidak pernah sedikitpun berkedip. Melotot tajam ke arahku dan ke arah orang-orang yang ada disekelilingnya. Eyang Uyut hanya membalas perkataan orang-orang hanya dengan suara dari tenggorokannya yang terdengar seperti suara geraman yang berat. Badannya bisa bergerak tapi terlihat kaku dan terpatah-patah.

Diantara orang-orang itu dia sepertinya paling tidak suka terhadapku. Sikapnya seperti memusuhiku. Entah itu hanya perasaanku sendiri atau bukan. Aku yang penasaran lalu mengaktifkan Mata Ketiga ku. Anehnya Aku tidak melihat penampakan apapun. Aku hanya melihat seperti energi aneh yang melingkupi Eyang Uyut. Aku jadi curiga. Sepertinya sesuatu yang kucurigai itu ada di dalam tubuh Eyang Uyut, dan Aku akan bisa mengetahuinya kalau Aku bisa menyentuh Eyang Uyut. Sama seperti pada waktu Aku memegang keris dan akik dari Eyang Kakung (lihat Part 3).

Aku meminta izin untuk menyentuh Eyang Uyut dengan alasan belum sempat bersalaman. Eyang Roto dan Ayah tidak keberatan. Hanya saja belum sempat tanganku menyentuhnya, Eyang Uyut dengan kasar menepisnya.

“KELUAR !!!”. Kami semua terkejut mendengar dan melihatnya. Eyang Uyut yang selama ini tidak pernah berbicara dan mengeluarkan sepatah kata pun tiba-tiba bisa berteriak seperti itu. Suaranya terdengar menggelegar memecah suasana. Tangan nya menunjuk ke arah pintu keluar dan teracung kaku. Matanya nyalang menatapku dengan tatapan marah. Peristiwa itu semakin memperkuat dugaanku bahwa ada yang tidak beres pada diri Eyang Uyut. Kami pun lalu keluar dari kamar Eyang Uyut, kecuali Ibu dan istri Eyang Roto yang tetap di kamar menemani Eyang Uyut.

Pada sebuah kesempatan dimana AKu bisa mengobrol berdua dengan Eyang Roto, Aku mencoba menanyakan tentang ikhwal awal dari kondisi Eyang Uyut pada Eyang Roto. Eyang Roto mengatakan bahwa sebetulnya kondisi Eyang Uyut sudah berlangsung selama 7 tahun lebih. Awalnya Eyang Uyut seperti terkena stroke dan sempat koma selama beberapa hari. Kondisinya sempat kritis, dan Eyang Roto bahkan sudah mempersiapkan segala sesuatunya seandainya kalau Eyang Uyut sampai mangkat dan benar-benar tiada.

Hanya saja tiba-tiba Eyang Uyut tersadar dari koma dan keadaannya berubah menjadi seperti yang sekarang ini. Secara kedokteran katanya Eyang terkena Celebral Palsy atau disebut juga kelumpuhan otak besar. Namun Aku punya pendapat lain. Aku mengungkapkan pendapatku kalau kondisi Eyang Uyut tidak wajar. Tentu saja secara hati-hati, karena Aku khawatir Eyang Roto tersinggung.

Eyang Roto juga sebenarnya merasakan ketidakwajaran itu. Beberapa bekas Pramurukti yang pernah menjaga Eyang Uyut kata Eyang Roto juga sering mengeluh dan ketakutan melihat Eyang Uyut. Pada malam-malam tertentu Eyang Uyut kadang mengeluarkan bau seperti bau bangkai atau bau seperti benda terbakar. Selain itu pernah suatu ketika saat diberi Ayam Goreng, Eyang Uyut malah hanya memakan tulang-tulangnya saja sedangkan dagingnya dibiarkan.

Seorang Pramurukti bahkan pernah menceritakan ketika dirinya menunaikan sholat di kamar Eyang Uyut, Eyang Uyut malah berteriak-teriak sambil menutup telinga. Kemudian mendorong dan mengobrak-abrik meja yang ada di kamar itu, seperti mengamuk.

Aku semakin yakin bahwa sebenarnya telah terjadi sesuatu pada Eyang Uyut. Aku jadi ingin membantu dan melakukan sesuatu untuk menolong. Aku meminta Eyang Roto menyiapkan segelas air putih yang diletakkan di dalam sebuah tatakan gelas, dan di tatakan gelas itu diselipkan sebuah kertas yang sudah ditulisi Ayat Kursi dan bacaan Al-Fatihah. Air Putih dalam tatakan gelas itu oleh istri Eyang Roto kemudian ditaruh di meja yang ada di sebelah tempat tidur Eyang Uyut saat Eyang Uyut sedang tidur. Malam itu Aku, Ibu dan Istri Eyang Roto menunggui Eyang Uyut di dalam kamarnya.

Kejadian yang tidak terduga terjadi. Eyang Uyut tiba-tiba terbangun, bangkit dari tempat tidurnya lalu mengangkat gelas Air Putih yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Mengambil kertas yang telah ditulis bacaan dan ayat itu dari tatakannya, lalu menyobek-nyobek kertas itu menjadi serpihan-serpihan kecil. Matanya yang nyalang sekali lagi menatap kami yang sedang duduk tidak jauh dari situ dengan sinis, sambil tertawa

ngikik. Istri Eyang Roto sampai mengatupkan telapak tangannya di bibir sambil tidak-henti-henti nya ber istiqhfar.

Bulu kuduk kami seketika meremang tegang melihat pemandangan itu. Eyang Uyut yang sebelumnya hanya tertidur dan terkulai tiba-tiba bisa bangkit dan bangun, hanya untuk menyobek sebuah kertas kecil di dalam tatakan gelas itu. Kini dia duduk di hadapan kami di pinggir tempat tidur sambil tidak henti-hentinya tertawa ngikik. Apa yang sebenarnya terjadi pada Eyang Uyut? Sepertinya yang kuhadapi ini tidak akan bisa dijelaskan dengan nalar manusia.

PS : Supaya timeline nya tidak campur aduk dengan post terakhir, sekedar informasi kalau pada part ini terjadi pada garis waktu sebelum Gempa Y*gya. Saat terjadi gempa dan pasca gempa akan dibahas nanti di Part tersendiri.

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 76-80)