• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – SETELAH TIRAKAT PART 2

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 42-53)

Kemampuan Indigoku benar-benar masih ada. Mata Indigoku masih aktif. Tidak hilang seperti yang kuharapkan. Puasa berikut tirakat yang kulakukan selama 100 hari kemarin sepertinya benar-benar sia-sia. Kecewa dan tidak habis pikir rasanya. Apakah ada yang kurang? Atau mungkin aku salah mengartikan kata-kata Pak Sam? Atau memang Pak Sam dalam mimpi ku itu hanya mimpi semata yang tidak punya arti? Satu-satu nya cara untuk menjawabnya hanya dengan menemui Pak Sam dan bertanya padanya.

Keesokan harinya setelah jam pulang sekolah, Aku mencari Pak Sam ke ruang guru. Kebetulan Aku lihat Pak Sam masih ada, sepertinya dirinya belum ada tanda-tanda mau pulang.

“Kenapa Yus?”, tanya Pak Sam begitu melihatku.

“Anu Pak….. boleh bicara sebentar?”, Pak Sam sepertinya langsung mengerti. Beliau lalu mengajakku ke kantin untuk mengobrol lebih lanjut.

Sampai di kantin, Aku langsung menceritakan semuanya kepada Pak Sam. Tirakat yang kujalani, semua yang kualami selama tirakat, sampai kejadian kemarin yang menyimpulkan bahwa mata indigo ku masih ada. Pak Sam hanya tersenyum dan tertawa terkekeh mendengarnya.

“Yus, seandainya kamu memang benar mimpi bertemu Saya. Pasti saya tidak pernah mengatakan bahwa dengan melakukan tirakat begini-begini nanti indra keenam kamu bisa tertutup. Betul tidak?”. Aku merasa seperti orang yang baru dibangunkan dari tidur. Aku mengingat-ingat saat mimpi bertemu Pak Sam. Mengingat setiap kata-katanya. Kata-kata yang kuingat hanya Kata-kata “mengendalikan” dan bukan Kata-kata “menutup”.

“Tapi kan Pak Sam bilang, prinsip membuka sama dengan menutup? Bukannya orang biasanya melakukan tirakat untuk mendapatkan kemampuan indra keenam. Waktu pelajaran Antropologi Pak Sam bilang begitu. Berarti untuk menutup juga harus melakukan tirakat yang sama juga kan?”. Nadaku agak meninggi, berbarengan dengan emosiku yang juga meninggi. Aku tidak terima. Pak Sam tidak tahu perjuanganku selama melakukan tirakat. Bagaimana menderitanya Aku menjalaninya. Sekarang Pak Sam bagiku seperti orang yang ingin berkelit.

“Oalah Mas Yus… Mas Yus….. Coba kamu pahami ini. Apa kalau kamu punya mata terus mata itu kamu tutup itu artinya mata kamu hilang? Kalau Saya bilang prinsip menutup itu sama dengan membuka, apa itu artinya kalau menutup itu sama dengan menghilangkan?”. Kata-kata Pak Sam begitu memungkas. Aku seperti di skak mat. Tidak mampu menjawab lagi. Terdiam dan kehabisan kata. Memahami asumsiku yang salah. Pak Sam lalu merangkulkan tangannya di pundak ku. Seperti memberi penghiburan dan semangat.

“Yus, Saya beritahu sebuah rahasia kecil. Saya pun seperti kamu. Dulu Saya pernah mengalami mati suri. Waktu itu kota ini diserang wabah pes. Saya salah seorang yang terkena wabah. Pagi panas badan Saya meninggi, sorenya Saya dinyatakan meninggal. Ketika hendak dimakamkan keesokan harinya, ternyata Saya kembali hidup. Semenjak itu Saya sama seperti kamu. Mengalami hal yang sama seperti kamu. Bahkan Saya juga melakukan tirakat yang sama dengan kamu”. Aku memandang Pak Sam seakan tidak percaya, ternyata Pak Sam juga mendapatkan indra keenam dengan cara yang sama denganku.

“Tapi Saya ingin seperti layaknya orang normal Pak. Saya tidak ingin punya kemampuan seperti ini. Kemampuan ini membuat Saya terganggu Pak….” Aku masih bersikeras. Pak Sam sepertinya sangat memahami karakter Orang Indigo. Dirinya dengan sabar coba menenangkan diriku.

“Kamu harus tahu Yus, dalam kehidupan ini ada hal yang tidak bisa diubah dan ada hal-hal yang bisa diubah. Kucing ya bentuknya seperti itu. Ikan ya hidupnya di air. Hanya Burung Elang yang bisa terbang tinggi di angkasa. Kamu ya kamu. Kamu tidak bisa dipaksakan harus seperti orang lain. Begitu juga orang lain tidak bisa dipaksakan harus seperti kamu.

Kamu tidak bisa menipu diri kamu bahwa kamu adalah orang normal. Kamu adalah orang yang punya kelebihan, orang yang punya kelebihan tidak bisa disebut orang biasa”. Kata-kata Pak Sam seperti tidak terbantahkan. Memang benar yang Pak Sam katakan, tapi hati kecilku masih ada sedikit penolakan. Penolakan yang timbul karena sebuah kebingungan dalam menyikapi keadaan.

“Kalau kemampuan Saya tidak bisa dihilangkan lalu Saya harus bagaimana Pak? Saya bingung harus bagaimana dengan keadaan Saya yang seperti ini”. Pak Sam dengan lembut memegang pundakku.

“Semuanya berawal dari pikiran Yus, jadi yang pertama ubah pikiran kamu, Ubah pola pikir kamu. Kalau selama ini kamu merasa kehadiran mereka mengancam, menakuti, atau meneror, kamu harus buang itu semua. Pahami itu sebagai keegoisanmu sebagai seorang manusia. Kalau kamu pernah dipeluk oleh mereka dari belakang saat kamu tidur, apakah kamu pernah berpikir bahwa itu terjadi bukan karena mereka ingin menggangu.

Siapa tahu mereka kasihan melihat kamu tidur di bawah waktu itu sehingga mereka ingin sedikit menghangatkan dengan memeluk kamu. Kalau karena kamu bisa melihat mereka, apakah itu memang karena mereka selalu ingin mengganggu kamu? Bisa jadi tidak”. Kata-kata Pak Sam begitu mengena. Semua itu ada benarnya.

“Kedua Yus, saran saya mulai saat ini kamu harus mulai menggunakan istilah Mata Ketiga untuk menyebut kemampuan kamu itu. Dasar pengertian itu untuk menanamkan sugesti dalam pikiran kamu bahwa itu adalah mata kamu. Mata itu anggota tubuhmu. Kamu yang kendalikan. Kamu yang putuskan kapan kamu mau membukanya dan kapan kamu harus menutup.

Saat kamu tidak ingin, ya kamu jangan buka. Saat memang perlu untuk melihat, maka kamu harus buka. Itu prinsipnya. Tirakat yang kamu lakukan itu untuk memberikan kamu kemampuan untuk mengendalikan Mata Ketiga itu. Jadi jangan salah paham bahwa tirakat itu untuk menutup lho yaaa….. Itu untuk memaksa Mata Ketiga mu membuka sampai batas maksimal, sehingga kamu bisa mengendalikannya”. Aku mengangguk memahami kata-kata Pak Sam.

“Lalu apa lagi Pak?”. Aku coba berusaha menggali lagi. Pak Sam lalu tersenyum. Matanya sedikit menerawang. Dirinya tidak langsung menjawab. Seolah ingin membuatku sedikit penasaran

“Ketiga, kamu harus berusaha menemukan kedamaian versi kamu sendiri Yus…..”. “Maksudnya?”, Aku malah heran. Tidak paham dengan pernyataan Pak Sam.

“Bukan masalah “maksudnya” Yus….., tapi caranya”, kata Pak Sam sambil terkekeh-kekeh. Aku jadi sedikit kesal

“Oke..oke… lalu caranya bagaimana Pak?”, tanyaku mengejar lagi.

Pak Sam ternyum penuh arti kearahku, “Itu semua proses Yus. Kamu harus temukan itu. Yang pasti kedamaian itu ada ketika kamu merasa berarti dengan kemampuan yang kamu

miliki. Kamu bisa melakukan sesuatu bagi yang lain dengan Mata ketiga yang kamu miliki, dari situ Tuhan akan berikan kedamaian buat kamu”. Aku menghela napas panjang. Wejangan Pak Sam begitu berat, namun begitu melekat di dalam pikiranku. Memberikan ku bekal untuk menapaki babak selanjutnya dari kemampuan ku ini. Karena hari sudah sore Pak Sam lalu pamit untuk pulang. Aku memandangi tubuh nya berjalan dan menghilang dibalik koridor sekolah. Iseng Aku mencoba untuk mempraktekkan Apa yang dikatakan oleh Pak Sam tadi. Aku sempat melihat ada satu sosok anak kecil berkepala botak plontos dengan mata yang tidak ada titik hitamnya (lihat part 7) sedang berjongkok di atas meja memperhatikanku.

Aku coba berkonsentrasi untuk menutup mata ketiga ku. Memusatkan pikiran bahwa Aku tidak ingin melihatnya. Ternyata lama kelamaan sosok itu seperti berbayang di hadapanku, makin lama makin tipis dan akhir menghilang. Aku jadi takjub sendiri. Tidak terpikirkan bahwa Aku sekarang memiliki kemampuan seperti ini. Sekarang prosesnya Aku balik. Aku memusatkan pikiran bahwa Aku ingin melihatnya. Dan prosesnya pun berbalik. Sosok anak kecil berkepala plontos itu terlihat lagi olehku.

Aku sama sekali tidak menyangka ternyata Aku memiliki kemampuan baru seperti ini. Aku bisa mengendalikannya sesuka hati sekarang. Aku jadi ingin berterima kasih pada Pak Sam begitu mengetahui nya. Ternyata benar bahwa Pak Sam membantuku selama ini. Teringat kembali wejangan-wejangan Pak Sam beberapa menit yang lalu. Wejangan-wejangan itu yang saat ini akan menjadi peganganku.

Aku mendapatkan hikmah bahwa menjadi manusia seperti apapun kita harus selalu mensyukuri apa yang kita miliki, dan dengan apa yang kita miliki itu kita harus menjadi berguna bagi orang lain. Tidak boleh berprasangkan buruk. Kedamaian dalam hidup ini akan diberikan olehNya jika kita merasa berguna melakukan sesuatu bagi orang lain. Ahh… Pak Sam untung Aku bertemu guru seperti dirimu. Bukan hanya jadi seorang guru di sekolah, tetapi juga guru dalam hal spiritual.

Tapi saat mengingat-ingat pembicaraan dengan Pak Sam tadi, ada satu hal yang membuatku heran. Dari mana Pak Sam tahu kejadian Aku pernah dipeluk “mereka” dari belakang? Seingatku aku tidak pernah menceritakan hal itu pada siapapun. Atau jangan-jangan…….. Ah sudahlah, tidak semua pertanyaan harus dijawab bukan?

MATA INDIGO – Residual Energi Part 1

Akhirnya Aku bisa mengendalikan Mata Indigoku. Tidak mudah memang. Butuh proses. Tapi sebenarnya jika dipikir-pikir yang paling berpengaruh adalah wejangan Pak Sam yang Pertama, yaitu mengubah pola pikir atau mindset. Hal ini yang membuatku sekarang menganggap penampakan atau kehadiran “mereka” bukan lagi sebagai ancaman atau ketakutan, tapi lebih sebagai bagian dari kehidupan ini. Hal itu membuatku jadi lebih berani, dan tidak terganggu lagi dengan penampakan-penampakan mereka. Mungkin juga karena Aku sudah terbiasa dengan penampakan mereka saat ini .

Satu hal lagi, wejangan itu yang membuatku sadar bahwa sebagai manusia tidak boleh egois. Kita tidak perlu merasa takut atau terganggu, dan langsung men-judge bahwa mereka itu jahat. Siapa tahu kita yang memang harus koreksi diri. Manusia memang makhluk yang egois, dengan hal yang jelas-jelas kelihatan Saja kadang dia sulit ber empati, apalagi dengan hal yang tidak kelihatan.

Selain bisa mengendalikan Mata ketiga ini, kemampuan ku yang juga semakin peka adalah kemampuan melihat residual energi. Residual energi adalah energi yang terkumpul akibat sebuah peristiwa masa lalu yang kadang menimbulkan refleksi atau jejak yang dapat terlihat sebagai pengulangan dari kejadian tersebut secara utuh.

Seperti film yang diputar ulang kembali setelah sekian lama. Kadang juga berupa suara atau bunyi-bunyian, yang selalu terdengar pada waktu yang sama dan teratur. Kadang residual energi ini sering disalah kaprahkan sebagai hantu atau gangguan arwah. Padahal arwah atau hantu itu tidak berbentuk suatu gambaran peristiwa, tetapi lebih berfokus pada sosok.

Tidak terasa sudah hampir 3 tahun Aku tinggal di kota ini. Menurut pandanganku kota ini adalah kota yang kaya dengan residual energy. Contohnya, mungkin bagi sebagian orang yang tinggal di kota ini sudah pernah mendengar legenda urban tentang suara drumband seperti suara genderang orang sedang baris-berbaris. Suaranya sering terdengar di waktu subuh.

Apabila ada orang yang berusaha mencari asal dari suara tersebut maka bisa dipastikan tidak akan pernah ketemu, dan hanya akan berputar-putar bagaikan dipermainkan oleh suara tersebut. Dicari ke barat malah terdengar seperti berasal dari timur, dan apabila dikejar ke timur, akan seperti terdengar dari arah utara, dan begitu seterusnya.

Sebagian orang mempercayai itu adalah suara genderang perang dari para prajurit kraton yang sedang latihan. Ada juga yang berpikir itu adalah suara genderang dari pasukan Nyi Roro Kidul yang disebut Lampor. Ada juga yang mengatakan itu adalah suara arwah atau hantu anggota mayoret yang sering berlatih di depan halaman Gr*ha S*bha Kampus UG*.

Bagiku suara drumband atau genderang tersebut adalah residual energi dari sebuah peristiwa di masa lalu. Sebuah peristiwa yang terjadi entah di masa apa dan kapan. Peristiwa ketika kota ini dilanda wabah mematikan yang hebat. Orang menyebutnya Pageblug. Begitu banyak masyarakat yang menjadi korban dan meninggal karena wabah ini.

Orang yang terkena wabah itu badan nya akan terkena demam tinggi pada siang hari, dan pada malam harinya bisa dipastikan meninggal. Begitu juga sebaliknya, jika terkena demam pada malam hari, maka paginya meninggal. Energi kesedihan, kengerian, dan ketakutan menyelimuti kota ini. Hawa kematian begitu mencekam. Populasi manusia berkurang drastis

Sultan pada waktu itu akhirnya mencoba melakukan tirakat untuk mencari petunjuk dari Yang Maha Kuasa bagaimana mengakhiri wabah Pageblug ini. Tidak lama kemudian Sultan menitahkan agar dilakukan kirab pusaka mengelilingi kota. Tidak tanggung-tanggung, 4 Pusaka terkuat Kraton termasuk pusaka Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dikeluarkan dan dikirab mengelilingi kota.

Prosesi kirab melibatkan hampir seluruh armada prajurit Kraton yang terdiri dari 10 Bregada. 4 Pusaka dibawa oleh pemimpin pasukan setingkat Adipati, yang sebelumnya sudah berpamitan kepada pihak keluarganya. Karena siapapun yang membawa pusaka terkuat Kraton saat dikirab sudah pasti mati. Mati karena tidak kuat menahan beban kekuatan (supranatural) pusaka itu.

Prosesi kirab juga dilakukan dengan tabuhan genderang seperti saat hendak berperang. Kirab dilakukan selama 7 hari, 7 malam. Selama 7 hari itu pun Sultan pun menitahkan agar masyarakat biasa di rumah untuk memasak sayur lodeh tanpa menggunakan terong atau labu siam dan turut berdoa. Bagi orang yang bisa melihatnya, selama 7 hari itu terjadi benturan antara 2 energi gaib, yang satu bersifat gelap dan mematikan sedangkan yang satunya bersifat terang dan menyembuhkan.

melawan. Tepat pada hari ke 7, akhirnya energi gelap yang mematikan itu kalah dan sirna. Wabah pageblug tersebut serta-merta berakhir. Kirab selesai. Para Adipati yang membawa pusaka ternyata benar-benar wafat tepat pada saat kirab itu berakhir. Bagi yang bisa melihat, tampak tubuh mereka seperti banyak bekas lebam dan luka, seakan-akan mereka memang habis benar-benar berperang.

Walaupun kirab berakhir dan pageblug telah sirna, energi terang yang berasal dari 4 pusaka itu masih melingkupi seluruh kota setelah itu. Waktu demi waktu berlalu, jaman pun berubah. Energi itu pun perlahan-lahan memudar walaupun sisa-sisanya masih melindungi kota. Kadang sisa-sisa energinya masih bisa dirasakan.

Bagi orang yang peka seperti ku atau bagi orang yang kebetulan berada pada frekuensi yang tepat, energi itu bisa dirasakan dalam bentuk suara yang terdengar seperti genderang atau drumband baris-berbaris. Itu adalah suara tabuhan genderang yang ditabuh pada saat dulu kirab berlangsung. Bagi ku suara itu memberikan rasa aman dan nyaman. Sama seperti slogan nya :

Kota Berhati Nyaman. Tidak heran banyak orang yang percaya jika ada orang yang mendengar suara tersebut, bisa dipastikan akan merasa rindu dan kangen pada kota ini. Karena setiap orang pasti ingin datang dan tinggal di tempat yang memberikan perasaan nyaman dan aman

Aku sendiri kadang memang suka rindu pada suasana kota itu. Menikmati suasana di sekitar jalan M*liob*ro, sambil ditemani secangkir kopi arang dan sepiring gorengan. Bersama dengan teman, rekan dan handai taulan. Suara derap sepatu kuda dari andong yang terdengar khas. Keramahan para penjaja di pasar B*ringh*rjo. Makan Mi Godhog Pak Pel* di samping Kraton. Membeli Arum Manis saat Sekaten di alun-alin.

Ramai kaki lima, menjajakan hidangan khas berselera Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi…

Tak sadar diriku bersenandung bila rasa kangen itu muncul. Aiihhh…. Benar-benar rindu rasanya masa-masa itu

Sebenarnya ada satu hal lagi yang paling kusukai saat berada di Y*gya, yaitu berdiam lama duduk di pantai P*r*ngkusum*, sambil memandang laut. Tidak perduli kadang sampai tegah malam. Memandang jauh sampai batas cakrawala. Kadang tampak olehku di batas cakrawala seperti bayangan istana dengan balutan lembayung warna hijaunya.

Bagi ku di pantai itulah Aku dapat melihat sebuah residual energi yang begitu besar. Residual Energi yang bila kurangkai menggambarkan sebuah cerita. Aku tidak berani menyebutnya sebagai legenda atau sejarah, karena mungkin yang kulihat dan kurangkai ini juga bisa saja salah. Toh apa perduli orang, ini mata kan mataku sendiri, penglihatanku sendiri. Toh yang percaya ya cuma diriku sendiri, karena Aku sudah melihatnya. Orang lain tidak percaya ya terserah. Aku coba merangkainya menjadi sebuah cerita. Mungkin cerita ini berguna sebagai dongeng sebelum tidur bila Aku punya anak kelak.

MATA INDIGO – Residual Energi Part 2

Saben mendra saking wisma Lelana laladan sepi

Ngisep sepuhing sopana Mrih para pranaweng kapti

Aku masih ingat pada waktu itu. Malam itu adalah malam ketiga minggu tenang sebelum ujian kelulusan sekolah. Aku lebih memilih untuk menyepi ke pantai Parangkusumo. Malam itu bulan bulat bersinar penuh. Langit begitu cerah dan bintang bersinar memenuhi angkasa. Aku duduk di pinggir pantai, memandang jauh ke batas cakrawala. Sudah lama sebetulnya Aku merasakan sebuah residual energi yang begitu besar, melingkupi sepanjang pesisir pantai selatan Jawa ini.

Malam itu Aku mencoba sejauh mana kemampuan Mata Ketigaku bisa menangkap dan melacak residual energi tersebut jauh ke belakang . Ternyata residual energi itu dapat disusun ke dalam sebuah babak demi babak sehingga menyusun sebuah cerita. Babak pertama berawal dari residual energi dari sebuah batu gilang di sekitar Cepuri Parangkusumo. Energinya begitu terasa. Energi dari seseorang yang hidup pada jaman lalu, bernama (bergelar) Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati pada masa itu telah berhasil membuka hutan (babad alas) dan mengembangkannya menjadi sebuah daerah dengan tata pemerintahan tersendiri. Setelah daerah itu berkembang menjadi sebuah daerah yang hidup di bawah kepemimpinannya, Panembahan Senopati yang memiliki kewaskitaan tinggi merasa gelisah dan khawatir. Khawatir karena dirinya bisa mengetahui masa depan (ngerti sajroning winarah), dimana daerah yang berhasil dikembangkannya menarik perhatian kerajaan lain untuk diserang dan ditaklukkan. Sementara itu juga daerah tersebut menyimpan potensi bencana karena berdekatan dengan gunung (Gunung Merapi), dan berada pada lintasan daerah yang rawan gempa (baik tektonik maupun vulkanik).

Kegelisahan yang dialami nya tersebut membuat Panembahan Senopati mencoba untuk bertirakat di pinggir pantai Parangkusumo, menata batin dan memusatkan pikiran untuk memohon Yang Maha Kuasa agar berkenan memberikan pertolongan. Panembahan Senopati adalah orang yang benar-benar sakti dan memiliki energi yang besar, bahkan sangking besarnya energi yang dimilikinya, energi tersebut tidak hanya mempengaruhi

dimensi manusia (fisik) tetapi juga dimensi alam lain (gaib).

Gambaran yang Aku lihat, saat Panembahan melakukan meditasi laut mendadak menjadi ganas. Suhu disekelilingnya serta merta meningkat, yang tidak hanya bisa dirasakan oleh penghuni dimensi kasar, namun juga oleh penghuni dimensi alam lain. Termasuk dirasakan pula oleh Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul, sosok entitas tingkat tinggi yang menjadi sentral penguasa alam lain (gaib) terutama di pesisir pantai selatan Jawa.

Tuhan saat itu mungkin berkenan memberikan bantuan kepada Panembahan Senopati, dan bantuan itu datang lewat Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul. Singkat cerita Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul lalu datang menemui Panembahan Senopati dan bertanya mengapa melakukan tirakat sampai membuat hawa panas dan air laut mendidih. Panembahan Senopati lalu mengutarakan maksud dan tujuannya melakukan tirakat.

Rupanya karena Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul tertarik pada budi dan paras Panembahan Senopati, dirinya bersedia untuk berjanji menolong menjaga keselamatan dan keamanan wilayah kekuasaan Panembahan Senopati dengan syarat Panembahan Senopati dan keturunanya yang akan menjadi raja-raja dinasti Mataram bersedia untuk terikat di dalam pernikahan.

Terjadilah konsensus antara dua dimensi yang berbeda, yang apabila dipikir secara nalar dan logika tidak mungkin. Namun karena yang satu adalah entitas tingkat tinggi dan yang satu adalah manusia yang sakti mandraguna dan memiliki ilmu kewaskitaan tingkat tinggi, dan tentu saja dengan seizin Tuhan yang Maha Kuasa maka hal (pernikahan) tersebut dapat dilakukan dan terjadi.

Babak saat pernikahan antara bangsa halus dan bangsa manusia (babak kedua) ini juga memunculkan sebuah energi yang cukup besar. Konsensus ini juga sepertinya bukan isapan jempol. Saat terjadi penyerbuan dari kerajaan Pajang dengan kekuatan pasukan 10.000 orang, sedangkan Mataram hanya bertahan dengan 1000 orang pasukan, Kerajaan Pajang dapat dikalahkan karena Mataram dibantu oleh kekuatan dari pasukan Nyi Roro Kidul.

Energi ini juga cukup lestari dan terpelihara hingga kini karena manifestasinya masih tercermin ke dalam budaya dan adat istiadat yang dilakukan oleh masyarakat seperti upacara Labuhan, Tarian Bedhoyo Ketawang, Pranata Cara Tingalan Jumenengan, dan lain sebagainya. Hal ini juga secara tersirat tertuang di dalam tata aturan Paugeran

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 42-53)