• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – TIRAKAT PART 1

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 32-35)

Tekadku sudah membulat. Apapun hasilnya, aku harus mencoba melakukan tirakat. Aku pun memberitahu Eyang dan mengatakan niatku. Eyang agak cemas sebenarnya, tapi satu sisi juga kasihan melihatku tersiksa dengan kemampuanku ini.

“Lakukan lah Yus, jika menurutmu itu memang jalan keluarnya. Kamu sudah besar sekarang. Eyang cuma bisa mendukung setiap keputusan kamu”.

Eyang lalu meniup ubun2ku sebanyak 2 kali. Itu tanda dirinya memberikan restu. Eyang lalu berpesan agar tetap melakukan tirakat itu sambil diiringi sembahyang. Aku pun mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Aku sadar tirakat ini tidak sekedar puasa dan menguji fisik semata.

Tetapi juga melatih batin dan menahan keduniawian. Aku harus menjaga omongan, menjaga pikiran dan hati, supaya tidak semakin membebani tirakatku. Majalah-majalah FHM, DVD Miyabi dan Brazzer aku masukkan ke dalam kardus, lalu aku letakkan di gudang. Bahkan kamar tidurku juga aku bersihkan secara khusus.

Tepat pada weton Khamis Pahing yang merupakan weton kelahiranku aku memulai tirakatku. Tahap pertama adalah Mbedug. Aku mulai tidak makan dan minum dari jam 4 subuh, sampai matahari tenggelam. Aku juga melakukan sahur. Persis waktu sedang berpuasa pada bulan Ramadhan. Aku sadar tahap Mbedug ini adalah pondasi untuk tahap selanjutnya.

Seperti tahap latihan untuk tirakat berikutnya. Berpuasa pada saat orang lain tidak berpuasa memang sebuah ujian sendiri. Berat memang rasanya. Apalagi bila kadang cuaca panas. Untuk lapar aku masih bisa menahan, tapi haus aku paling tidak kuat. Hampir beberapa kali Aku menyerah. Namun bayang-bayang dipeluk dari belakang dan merasakan sentuhan dingin “mereka” membuatku tidak jadi menyerah.

Pada tahap Mbedug ini aku belum merasakan perubahan pada diriku. Mata ini masih bisa melihat mereka, tapi lama-kelamaan Aku merasa seperti mereka agak menjauh dan mengambil jarak dari ku. Aku anggap itu sebuah kemajuan yang nyata. Menumbuhkan kembali semangatku setiap kali. 30 hari berlalu, tahap pertama pun akhirnya terlewati. Tahap kedua, Ngrowot. Aku berpuasa seperti tahap sebelumnya namun saat berbuka dan sahur aku hanya makan umbi-umbian seperti kentang dan ubi. Tahap ini lebih berat dari

sebelumnya. Tubuhku sepertinya bereaksi dengan melakukan detoksifikasi. Sempat sekitar 2-3 hari aku mengalami muntah-muntah. Yang aku muntahkan adalah cairan berwarna hijau kehitaman.

Aku mulai merasakan pergerakaan yang ada disekelilingku melambat. Selain itu Aku mulai merasakan tubuhku mengeluarkan hawa panas yang luar biasa. Walaupun malam kadang suhu kota Y*gya sangat dingin, tapi aku malah merasa panas dan gerah. Sangking gerahnya sampai-sampai Aku sering mandi di tengah malam. Tidak perduli kadang ada sepasang mata liar dengan rambut tergerai panjang Aku lihat mengintipku dari jendela atas kamar mandi. Fisik ku Aku rasakan mulai melemah, demikian juga dengan otak ku. Pikiranku jadi lemot. Sulit mengingat, menganalisa dan menyerap informasi.

Lama-kelamaan hawa panas dan gerah yang Aku rasakan berubah menjadi rasa panas yang membakar. Entah kenapa Aku merasakan seperti itu. Kadang rasa panas itu seperti terpusat di bawah pusar dan begitu menyiksa. Hal itu biasanya Aku rasakan pada saat jam 11 malam ke atas. Sampai-sampai pernah pada suatu malam Aku membenamkan diriku ke dalam bak mandi sangking tidak kuatnya. Penglihatan Indigoku juga belum berkurang. Aku melihat mereka masih menjaga jarak, namun tatapan mereka ke arahku rasanya jadi sedikit berbeda.

Tatapan mereka menunjukkan rasa tidak suka dan seperti marah terhadapku. Seakan keberadaanku begitu mengancam mereka. Penampakan-penampakan mereka yang kulihat juga sepertinya jauh lebih menyeramkan dari biasanya. Lebih aneh-aneh lagi, dan lebih mengerikan. Semakin sering Aku melihat sosok dengan tubuh rusak membusuk seperti zombie berusaha meraih dan mendekatiku. Aku pun makin merasa sulit tidur. Membuat badanku makin terasa tidak karu-karuan. Akhirnya 30 hari puasa Ngrowot bisa kulewati. Tahap berikutnya, Ngalong. Tetap berpuasa, dan pada saat berbuka hanya memakan buah-buahan yang menggantung . Pepaya, Apel, dan pisang paling sering menjadi menu berbuka puasa dan sahurku. Berat badanku turun drastis. Saat itu genap turun 7 Kilogram.

Tahapan ini Aku rasakan begitu berat untuk dilalui. Baik secara fisik, mental maupun jiwa. Beberapa kali Aku hampir pingsan di sekolah. Pandanganku sering berkunang-kunang. Beberapa teman juga tampaknya mulai curiga dengan diriku yang tidak pernah lagi ke kantin saat jam istirahat.

Namun aku tetap berusaha merahasiakan tirakat yang Aku lakukan ini. Ujian sekalipun Aku tetap menjalaninya sambil melakukan puasa Ngalong. Aku merasa badanku makin

terasa ringan dari hari kehari. Tantangan paling besar pada tahap ini adalah menjaga tingkat kewarasan dan kesadaranku. Aku seperti melihat dimensi “mereka” dan dimensi manusia tumpang tindih. Aku seperti melihat dua alam tidak hanya berdampingan tetapi juga campur aduk dengan segala dinamika nya.

Aku melihat mereka juga turut melakukan aktifitas seperti manusia. Mereka memasak, menonton TV, saling berinteraksi, berpacaran lalu menikah, mengasuh anak, tidur dan lain-lain. Bahkan pernah ketika menonton pertandingan basket di gelanggang Kr*dh*sono Aku melihat sosok kuntilanak sedang membersihkan darah menstruasi di dalam toilet gelanggang itu.

Pada tahap ini rasa panas dan terbakar yang kurasakan terkadang masih menyerangku. Hanya saja rasa panas terbakar itu lebih banyak aku rasakan di seputar dada. Sampai pada tahap ini, Aku ragu apakah tetap akan jalan terus untuk tirakat atau tidak.

Penglihatan mata indigoku sama sekali tidak berkurang, malah sepertinya makin tajam. Ingin sebenarnya Aku coba untuk menemui Pak Sam, namun Aku khawatir malah dibentak lagi. Tidur malam menjadi hal yang sulit untukku. Badanku rasanya makin lemas. Eyang Putri bahkan sampai khawatir dengan keadaanku. Pipiku makin tirus. Aku membayangkan seperti apa jadinya ketika Aku harus Mutih dan Pati Geni.

Apakah Aku kuat untuk sampai di situ? Aku mencoba semakin memperkuat sembahyangku. Berharap agar tiba-tiba penglihatan Indigo ku menghilang dan penampakan mereka sirna seketika dari pandanganku, dan Aku tidak perlu melakukan Mutih dan Pati Geni. Hanya saja sepertinya doa itu belum kunjung terjawab. Tidak terasa besok adalah tahap terakhir puasa Ngalong. Haruskah Aku meneruskan dengan puasa Mutih selama 9 hari? Atau ini semua hanya sebuah langkah sia-sia?

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 32-35)