• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – GADIS DI KAMPUS BARU PART 1

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 126-132)

INDIGO INTERDIMENSIONAL

MATA INDIGO – GADIS DI KAMPUS BARU PART 1

OSPEK itu…… no comment lah. Jaman itu ya Ospek itu seperti itu. Isi nya tidak lain dan tidak bukan adalah perploncoan. Perploncoan yang berkedok orentasi kampus. Orientasinya 20%, sisanya adalah siksaan batin akibat gojlokan dari kakak-kakak kelas. Tugas yang aneh-aneh harus dikerjakan seperti harus bawa pisang yang ukurannya persis 10 Cm, bawa prakarya dari sabun mandi, atau harus bawa buku tulis merek Gelatik, sampai dengan mempersenjatai diri dengan perlengkapan aneh bin norak seperti memakai topi dari peci yang diberi rumbai-rumbai dari tali rafia, mengenakan papan dada yang dibuat dari kardus Indomie, dan membawa tas plastik yang dirakit jadi tas ransel. WAT DE PAK!! Belum lagi kalau tidak bisa memenuhinya, maka hukuman dari senior dan hinaan-hinaan verbal yang bikin hati remuk redam siap menanti.

Tugas-tugas dan dandanan aneh bin norak itu sebenarnya bagi ku bukan masalah seberapa. Paling masalah dan menyebalkan buatku adalah harus bangun pagi subuh-subuh dengan dandanan ajaib seperti itu saat keluar kompleks.

Nenek-nenek tetangga sebelah sampa gigi palsunya copot gara-gara ngakak keras melihatku bagaikan badut setengah jadi keluar dari halaman rumah. Dan yang paling menyebalkan adalah Genderuwo dekat gerbang kompleks juga tertawa sampai bulu nya bergoyang-goyang melihatku. Mungkin Genderuwo itu harus sekali-sekali merasakan yang namanya di OSPEK.

Ospek berlangsung hampir selama 4 hari 3 malam. Aku cenderung lebih menikmatinya. Adrenalinku rasanya lebih terpacu karena untuk pertama kalinya setelah 3 tahun Aku kembali berkumpul dengan makhluk-makhluk yang nama nya wanta. Wanita remaja yang beranjak menjadi wanita yang ranum dengan segala keelokannya (Tsaahhhh…..). Ya tidak semua nya elok memang. Yang kualitas reject atau pun di bawah standar juga ada. Selama Ospek, peserta pria dan wanita disuruh duduk berpasangan. Sebelahku kebetulan adalah seorang wanita bernama Rika Nurjannah. Belakangan sering dipanggil Onah. Dari awal sudah menunjukkan kesan judes, ketus dan kurang bersahabat. Padahal dari segi tampilan dan rupa dia termasuk yang kualitas reject atau di bawah standar itu tadi.

ini sudah dengan ketus berkata kepada ku, “Awas ya, jangan banyak harap. Aku dah punya pacar lho….”.

Ok, so what?, pikirku kemudian. Sehaus-hausnya Aku akan wanita, Aku pun masih pilih-pilih juga kali. Lebih baik Onah ini jangan terlalu banyak dibahas, karena hanya menambah dosa dan mengurangi ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Aku akhirnya mengetahui kalau ternyata beberapa teman ku satu SMA dulu juga mendaftar di kampus ini. Saat ini tentu saja mereka juga mengalami nasib yang sama denganku yaitu di OSPEK. Salah satu nya adalah Adi, teman satu kelas ku dulu. Kebetulan saat itu jam makan siang dan acara santai. Aku melihat Adi duduk di barisan yang tidak jauh dari barisan ku. Aku berusaha melambaikan tangan ke arahnya. Adi membalas lambaian tanganku dan mencoba memulai komunikasi dengan kode gerakan bibir.

“Se-Be-Lah-Mu Na-Ma-Nya Sia-Pa?”. Aku bisa membaca gerakan bibirnya dengan jelas. Aku menjawabnya dengan mengangkat papan nama Onah dan mengarahkannya pada Adi. Tak peduli Onah melotot dan memonyongkan bibirnya ke arah ku. Adi mengangguk dan mengacungkan Ibu jari nya ke arah ku tanda mengerti. Aku pun lalu ganti menanyakan pertanyaan yang sama ke Adi

“Ka-Lau Se-Be-Lah-Mu Si-A-Pa?.

Jawaban dari Adi yang kutangkap kemudian tidak begitu jelas. Gerakan bibir nya seperti antara menyebutkan nama “Noah”, “Ola” atau “Mona”. Pada saat sedang berusaha memecahkan kode tersebut, gadis yang Aku maksud di sebelah Adi sempat menoleh dan melihat ke arah ku. Pada saat tatapan nya mengarah kepadaku, entah kenapa waktu serasa berhenti. Dan mendadak Aku mendengar suara vokal Giring Nidji menghantam nada kunci A dan F#m

Aku mendengar nyanyian 1000 dewa dewi cinta Menggema dunia

Perintah panitia Ospek agar seluruh peserta bersiap untuk acara selanjutnya menyadarkanku dari lamunan. Seolah mengembalikanku pada realita. Namun semenjak saat itu perhatianku tidak pernah lepas dari sosok gadis yang ada di sebelah Adi.

Wajahnya masuk kategori cantik, dengan mata lebar dan rambut panjang, dengan bibir tipis yang sediki memberi kesan seksi. Sekilas mirip Titi Kamal. Tubuhnya semampai berisi dan tidak terlalu tinggi. Bisa dibilang tingginya termasuk ukuran menengah untuk kategori cewek Indonesia. Selain itu dari tatapan mata nya ada sedikit aura misterus yang memancar.

Tidak puas-puas nya Aku melihat dan mencuri pandang ke arah nya. Sampai tidak terasa Ospek sudah memasuki hari terakhir, dan sampai dengan malam inagurasi pun Aku belum mengetahui siapa namanya. Otak ku malah masih sibuk untuk memecahkan kode gerakan bibir dari Adi yang menyebutkan siapa nama gadis manis misterius di sebelahnya itu. Padahal seharusnya kenapa tidak Aku tanyakan langsung saja pada Adi, atau langsung mengajaknya berkenalan.

Malam Inagurasi menghadirkan acara musik dari band-band kampus dengan nama yang aneh-aneh. Mulai dari “Elek yo” Band, “Luwehlah” Band, sampai dengan band bernama “Selingkuhan Monyet”. Musik-musik yang dihadirkan cukup bervariasi. Rata-rata beraliran cadas progresif. Kebanyakan pemainnya lebih mengandalkan gaya dari pada skill. Baru bisa memainkan kunci-kunci dasar dan menghafal nada, namun sudah berani tampil di panggung. Jelas yang menjadi tontonan hanya musikalitas yang seadanya.

Malam inagurasi berlangsung sampai larut malam. Mata ku masih terus mengikuti kemana pun wanita misterius yang ada di sebelah Adi beranjak. Satu hal yang membuatku terkejut. Gadis itu dengan cueknya ngeloyor sendirian ke kamar mandi kampus yang terletak di salah satu sudut gedung kampus. Padahal biasanya yang namanya cewek pasti tidak akan berani pergi ke kamar mandi kampus sendirian

Pasti mereka akan meminta kakak-kakak panitia untuk menemani atau setidaknya mengajak rekan atau teman nya sesama cewek pergi sama-sama ke kamar mandi beramai-ramai. Tapi gadis itu Aku lihat begitu berbeda. Seperti tidak mengenal takut, dengan cueknya menyusuri lorong kampus yang gelap sepi sendirian. Ada yang berbeda pada diri wanita itu. Jarang wanita yang memilki urat kawat keberanian seperti itu.

Malam Inagurasi berlalu. Anggaplah Aku anak kuliahan sekarang. Seminggu setelah Malam Inagurasi kuliah pertama dimulai. Kebanyakan kuliah dengan judul yang diberi embel-embel kata “pengantar”. Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Budaya, Pengantar Hukum Indonesia, dan pengantar-pengantar lainnya. Hari itu kuliah Pengantar Ilmu Hukum. Ternyata karena hari pertama kuliah banyak juga mahasiswa yang hadir. Tidak hanya mahasiswa baru, tapi juga mahasiswa angkatan lama yang belum lulus mata

kuliah itu juga ikut hadir.

Karena terlalu banyak bengong dan belum menguasai keadaan, Aku agak lambat masuk ke kelas. Jadinya Aku hanya kebagian tempat duduk di barisan belakang, dan di barisan sebelah kiri ku menyisakan 2 tempat duduk alias bangku kosong. Dosen belum masuk ke kelas.

Saat baru saja Aku mengeluarkan alat tulis dan kertas untuk mencatat dari tas ku, tiba-tiba ada suara wanita bertanya di sebela kiri ku.

“Maaf Mas, tempat duduknya kosong?”. Belum sempat Aku menjawab, saat mata ku bertatapan dengan mata wanita itu tiba-tiba waktu serasa kembali berhenti dan suara vokal Giring Nidji yang menghantam nada kunci A dan F#m kembali terdengar oleh ku Aku melihat matahari

Kan datang padaku

Dan memelukku dengan sayang

Ternyata yang bertanya adalah gadis yang duduk di sebelah Adi pada saat Ospek. Dia datang bersama temannya. Aku tetap berusaha kalem walaupun hatiku bersorak-sorai. Menekan setiap salah tingkahku yang bisa muncul kapan saja

“Kosong kok”, jawab ku sambil tersenyum.

“Terima kasih”. Gadis itu menjawab sambil juga tersenyum, lalu mulai duduk di sebelahku. Aku perhatikan gerak-geriknya juga gugup. Mungkin karena canggung, mungkin juga karena hari pertama kuliah. Dosen masuk ke kelas dan menyapa seluruh penghuni kelas sebelum memulai kuliah.

Saat dosen mulai menjelaskan materi kuliah Aku sama sekali tak bisa berkosentrasi. Pikiranku malah sibuk sendiri memikirkan bagaimana cara memulai pembicaraan dengan makhluk manis di sebelahku ini. Setidaknya Aku bisa mengetahui siapa namanya, sehingga Aku tidak pulang dengan rasa penasaran hari ini.

“Kamu teman nya Adi ya?”. Tak disadar tak dinyana gadis itu memulainya terlebih dahulu dan bertanya kepada ku, di tengah-tengah saat dosen sedang menjelaskan dan mengajar. Duh Gusti, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kau buka kan juga jalan itu Ya Allah. Tapi Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri untuk tetap tidak terlalu over reaktif.

“Iya, kamu yang di sebelah nya Adi waktu Ospek ya? Nama kamu siapa?”. Aku sama sekali tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.

“Yowan”, katanya sambil mengulurkan tangan ke arah ku. Aku pun menyambut uluran tangan itu sebagai tanda perkenalan.

“AWW !!....”. Tiba-tiba saat tanganku dan tangan Yowan bersalaman seperti ada kejutan arus listrik yang kami rasakan, menyengat dan menghentak seperti seakan-akan tubuh kami terkena korsleting listrik arus pendek. Membuatku dan Yowan reflek mendadak menarik tangan kami masing-masing dan tidak jadi bersalaman. Mata ku dan mata nya saling menatap dengan penuh keheranan. Mata Yowan sedikit mengeryit ke arah ku

“Kamu??……”. Aku tidak bisa mendengar Yowan meneruskan kata-katanya, karena Dosen keburu menegur kami dengan berdehem keras. Aku dan Yowan terpaksa kembali mengalihkan perhatian kami pada pelajaran yang sedang berlangsung. Diriku yakin, Yowan pasti juga sedang memikirkan keanehan yang barusan. Dari mana sengatan listrik itu? Selama 1,5 jam ke depan Aku coba mengalihkan perhatianku pada dosen yang menjelaskan mengenai silabus di depan. Sesekali membuat catatan-catatan kecil. Aku lihat sesekali Yowan melirik ke arah catatan yang Aku buat.

Akhirnya kuliah itu berakhir. Otak ku cepat berpikir untuk melanjutkan pembicaraan dengan Yowan. Sayang, belum sempat Aku bicara teman Yowan di sebelahnya keburu mengajak dan menariknya meninggalkan ruangan. Aku pun hanya memandang Yowan perlahan menjauh meninggalkan ruangan. Ya sudah lah, setidak nya hari itu Aku sudah tahu siapa nama nya.

Setelah kuliah Aku tidak langsung pulang hari itu. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bersosalisasi dan berkenalan dengan teman-teman baru. Tidak lupa juga berkenalan dengan kakak-kakak kelas, karena dari mereka mahasiswa baru sepertiku bisa mendapatkan akses soal-soal ujian semenster tahun lalu. Gosipnya dosen-dosen jarang mengubah soal-soal mereka dari tahun ke tahun.

Pada saat mengobrol dengan kakak-kakak kelas itu Aku melihat Yowan berjalan dari arah depan ruang tata-usaha hendak menuju keluar ke arah gerbang kampus. Instingku mengatakan ini saat yang tepat untuk kembali dan memulai lagi pembicaraan dengan Yowan. Secepatnya Aku pamit pada kakak-kakak kelas yang ada di situ, lalu berlari mengejar Yowan yang sudah lebih dulu sampai di gerbang kampus.

Tidak jauh dari gerbang kampus seketika langkahku terhenti. Bisa dibilang yang kulihat saat itu bahkan lebih horor dari segala penampakan alam sebelah yang pernah Aku saksikan. Aku melihat Yowan dijemput oleh seorang laki-laki sebayaku dengan menggunakan motor Yamaha Byson. Wajahnya tidak terlihat karena menggunakan helmet full face.

Waktu itu seperti ada retakan yang muncul di hati ku saat melihatnya. Laki-laki itu lalu memberikan helm kepada Yowan, dan setelah Yowan naik ke atas boncengan motor mereka pun pergi. Aku yang memandang nya hanya bisa menghela napas dan berbalik arah. Merasakan sedikit noktah pedih yang dengan cepat bermunculan menguasai pikiran dan perasaanku.

Adakah benar ku terlambat Merebut dirimu dan hatimu

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 126-132)