INDIGO INTERDIMENSIONAL
MATA INDIGO – BENY DAN IBUNYA PART 3
Mama Jahat... Mama Jahat... Kata-kata itu terus terdengar dari Kania yang telah merasuki tubuh Beny. Kania yang sudah terlalu lama terpapar seluruh emosi negatif seperti kesedihan, penyesalan, dan kedukaan yang ada di rumah ini, tampaknya sudah berubah menjadi sebuah entitas jahat.
Jika merasuki tubuh seseorang entitas ini bisa sangat membahayakan tubuh yang dirasukinya, karena cenderung melakukan hal-hal yang mengancam nyawa seperti menyakiti diri nya sendiri, memutar sendi-sendi sampai batas ekstrim bahkan mematahkannya, memasukkan benda-benda tak layak makan seperti pecah belah, beling, paku, kayu atau serpihan besi ke dalam mulutnya, dan melakukan tindakan-tindakan membahayakan lainnya.
Selain itu entitas seperti ini jika merasuk ke dalam tubuh seseorang akan cenderung menarik entitas-entitas gaib lainnya untuk masuk ke dalam tubuh yang dirasukinya. Tidak heran jika ada orang yang kesurupan atau kerasukan, setelah dikeluarkan ada kecenderungan kembali kerasukan atau kesurupan lagi.
Aku sendiri mulai melihat banyak makhluk gaib mulai bermunculan di sekitar kamar ini. Mereka semua seperti ditarik oleh sukma Kania yang saat ini membuat Beny kerasukan. Ini bisa berbahaya. Tubuh Beny tidak akan kuat kalau dirasuki makhluk gaib sebanyak itu, dan akan semakin susah untuk mengeluarkan mereka dari tubuh Beny.
Mau tidak mau Aku harus melakukan sesuatu. Otak ku spontan mengingat tekhnik dan cara-cara yang diajarkan Yowan untuk melakukan penarikan dan menyembuhkan orang yang kesurupan. Walaupun ini merupakan, hal yang pertama buat ku, Aku harus mencobanya. Tidak ada pilihan lain. Situasinya sekarang benar-benar mendesak. Semakin lama Kania dibiarkan merasuki Beny, resiko nya semakin besar
Spontan kemudian Aku mengerahkan dan memusatkan energi terdalam ku pada telapak tangan dan membentuk lapisan Bioplasmik yang melapisi telapak tangan ku. Lapisan bioplasmik adalah lapisan energi yang sifatnya sama dengan energi astral atau gaib, sehingga karena sifatnya yang sama maka dapat menjangkau dan menarik makhluk gaib yang merasuk ke dalam tubuh seseorang.
Aku tarik bisa saja terluka atau tersakiti. Hal ini bisa membuat makhluk-makhluk gaib lainnya yang ada di sekitar kami marah atau langsung serentak maju menyerang ke arahku dan Beny, karena ada semacam solidaritas di antara mereka.
Tapi aku tidak punya pilihan lain. Cepat Aku bergerak ke arah Beny dan bersiap menarik Kania dari tubuh Beny. Belum sempat Aku menjangkau Beny tiba-tiba Ibunya Beny bangkit dari duduknya dan bersuara :
“Nak... Kania.... Kamu kah itu Nak?”. Perkataan dari Ibu nya Beny membuatku menghentikan seluruh aksi ku seketika. Aku lihat Ibu nya Beny perlahan-lahan mendekati Beny lalu bersimpuh memeluk Beny sambil menangis penuh kesedihan. “Kania....Anakku...Maafkan Ibu ...”.
“Mama jahat... Selalu ninggalin Kania.... Mama sibuk... Nggak ada waktu untuk Kania...”. Walaupun tubuh yang digunakan adalah tubuh Beny, tetapi itu suara Kania. Suara anak perempuan berumur 11 tahun yang polos. Kata-kata itu membuat tangis Ibu nya Beny makin pecah. Isaknya sampai membuat tubuhnya sendiri terguncang-guncang. Menggambarkan hati nya yang hancur karena penyesalan yang mendalam.
“Nak kalau kamu marah sama Mama, marah lah sama Mama Nak. Jangan sakitin Abang mu seperti ini. Kasihan abang mu...”. Ibu nya Beny berusaha berbicara pada Kania di tengah isak tangisnya. Pelukannya Aku lihat semakin erat di tubuh Beny. Seolah-olah tubuh yang dipeluknya saat ini adalah Kania yang sangat dirindukannya. Aku yang melihatnya jadi ikut terharu.
Berusaha menahan titik air mata agar tidak sampai jatuh membasahi sudut mata ku. Aku lalu memberikan sedikit ruang bagi mereka untuk berpelukan dan bertangisan. Bagaimanapun juga ini urusan Ibu dan Anak. Urusan keluarga. Tidak sepantasnya Aku mencampuri terlalu jauh. Perlahan-lahan Aku merasakan perubahan hawa. Hawa yang tadinya sempat tegang, perlahan-lahan reda dan berubah menjadi lebih lembut.
“Mama....mama.... Kania kangen Mama... Kania takut Ma...“. Tampak Aku lihat air mata meleleh dari mata Beny, dan Aku tahu bahwa itu sebenarnya adalah air mata Kania. Tangan Ibu nya Beny lalu mengusap-usap rambut Beny yang dipeluknya. Perlahan-lahan dalam penglihatanku tubuh Beny tampak berubah sepenuhnya menjadi bayangan tubuh Kania.
Tubuh anak perempuan kecil berusia 11 tahun berwajah manis, dengan rambut dikepang model buntut kuda. Anak kecil itu tampak menangis memeluk ibu nya dengan manja. Air
matanya mengalir dan membahasi kedua pipinya yang chubby. Tampaknya Beny juga memberi kesempatan bagi Kania untuk menggunakan tubuhnya supaya bisa memenuhi dan menyampaikan seluruh kerinduan dan perasaannya kepada Ibu nya.
“Kania.... Anak Mama yang cantik... Tidak usah takut Nak... Sekarang Mama akan terus ada buat kamu Nak.... Mama akan selalu ingat sama kamu... Nama Kania akan selalu Mama sebut dalam setiap doa Mama... Mama minta maaf sama Kania kalau Mama salah ya Nak? Mama janji, setiap hari akan datang menengok kamu Nak...”.
Ucapan itu terdengar tulus. Aku yang melihatnya benar-benar tidak bisa membendung empati ku. Aku coba menutup mata dan memusatkan pikiranku pada yang Maha Kuasa. Ya Tuhan... Ya Allahku yang Maha Pengasih dan Maha Rahim... Ijinkanlah hamba memohon pada Mu. Tuntunlah dan tunjukkan jalan bagi hamba Mu Kania agar bisa kembali kepada Mu dalam kedamaian dan kasih Mu.
Tidak berapa lama kemudian Aku melihat suasana ruangan berubah menjadi lebih terang. Aku sempat melihat ada 2 sosok tubuh bercahaya tiba-tiba muncul entah dari mana. Satu nya kecil, dan yang satunya lebih besar. Sepertinya Aku mengenal mereka. Aku sempat melihat Kania juga memandang ke arah 2 sosok itu. Rupa nya hanya Aku dan Kania yang menyadari dan melihat kedua sosok tersebut.
“Ma.... Kania lihat ada ibu-ibu dan anak kecil datang Ma... Kayak kita...Pakai baju putih-putih... Anak kecilnya namanya Chika... Oiya, dia bilang mau ajak Kania ke tempat yang bagus dan Indah.... Dia bilang di sana semua senang... Kania pasti suka katanya di sana...”. Kata-kata Kania terdengar polos. Ibu nya Beny tersenyum penuh haru. Meskipun dirinya tidak dapat melihat apa yang dimaksud oleh Kania, namun sepertinya dirinya cukup mengerti.
“Pergi lah Nak... Mama juga tahu tempat itu... Di sana damai... Nanti di sana Kania tetap jadi anak yang baik ya.... Sampai nanti Kania ketemu lagi sama Mama di sana...”. Ibu nya Beny lalu mencium kening Kania dengan air mata berlinang. Tampaknya dirinya sudah benar-benar mengikhlaskan Kania.
Aku lihat Kania lalu perlahan-lahan memisahkan diri dari tubuh Beny, lalu mendekati 2 sosok cahaya itu. Wajah Kania tampak tersenyum, bersih dan bercahaya. Terlihat Ibu nya Beny walaupun sedih, tampak menyiratkan ada kelegaan besar yang mengisi hatinya. Seolah beban yang menghimpitnya mendadak hilang dan terangkat dengan sendirinya. Beny Aku juga lihat perlahan-lahan sadar dan mencoba memperhatikan sekelilingnya.
“Kania pergi dulu ya Ma... Da da Mama... Da da Abang... Da da Kak Yus...”. Kania melambaikan tangan nya ke arah kami. Perlahan-lahan dirinya bersama 2 sosok cahaya itu lamat-lamat menghilang. Menembus dimensi waktu yang tidak lagi terikat pada nestapa dan kedukaan dunia. Ada suasana damai yang hangat menyelimuti hati kami semua. Aku pun menghela napas lega. Sekali lagi hari ini Yang Maha Kuasa menunjukkan kemuliaan dan kebesaran Nya. Meskpun dengan cara yang benar-benar tidak terduga.
Beny dan Ibu nya lalu sekali lagi berpelukan dan bertangisan. Tapi kali ini adalah tangis bahagia dan kelegaan. Ibu nya Beny juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada ku. Mengatakan kalau pintu rumahnya kapan pun akan selalu terbuka buatku. Aku juga mengatakan senang bisa membantu Beny dan Ibunya.
Sebelum pulang Aku menyarankan agar kolam renang di halaman belakang lebih baik ditutup, dan sebaikya rumah ini sering-sering diadakan acara sembahyangan atau pengajian untuk mengurangi efek residual energi yang ada. Beny dan Ibu nya setuju untuk melakukan saranku itu. Setelah kejadian itu, Beny mengatakan kepada ku kalau sakit di kaki Ibunya sudah sembuh. Ibunya bisa berjalan normal, tidak pincang lagi. Beny juga bercerita kalau Ibunya setiap hari selalu mendatangi makam Kania dan memberikan perhatian lebih pada nya.
Semenjak saat itu hubunganku dengan Beny jadi akrab. Selama Aku di Jakarta Beny benar-benar menyervisku penuh. Mulai dari mengajakku ke tempat-tempat kuliner, mengajak ku ke tempat-tempat hiburan (termasuk hiburan malam), sampai mengenalkanku pada beberapa teman-teman wanita nya yang berwajah cantik bak model dan artis (Sayangnya sudah ada Yowan, hehehe...). Beny dan Aku jadi bagaikan Saudara, karena Beny memperlakukanku bukan lagi sebagai orang lain.
“Kalau ada apa-apa atau elo perlu bantuan apa pun, lu tinggal bilang sama Gwe Yus. Gwe akan bantu. Gwe anggap lu dah jadi Saudara angkat Gwe sekarang...”. Kata Beny pada suatu kesempatan kepada ku. Tangan nya terulur mantap ke arahku.
“Oke Brother...”, Aku menyambut uluran tangan itu. Menjabatnya erat tanpa keraguan. Jabatan itu diiringi gelak tawa kami kemudian.
“Jujur... Elo jadi bener-bener menginspirasi Gwe Yus. Gwe jadi pengen membuat hidup Gwe jadi lebih berarti daripada yang sekarang.... Cuma gimana caranya ya? Kira-kira elo ada saran nggak Yus?”. Beny bertanya pada ku. Sempat Aku agak bingung menjawab.
“Menurut ku sih supaya lebih berarti lebih baik diawali dengan berpikir untuk kembali pada keluarga dulu. Apa yang sebenarnya diinginkan keluarga mu dari kamu Ben. Lalu apakah keadaanmu yang sekarang sudah sesuai dengan keinginan atau kebutuhan yang ada di keluarga mu”. Beny kemudian tampak berpikir sejenak.
“Bapak tu pernah bilang ke Gwe, dia kan sekarang udah tua. Dia ngerasa mungkin udah saatnya bisa mewariskan apa yang dia punya ke Gwe. Cuma lu tahu sendiri kan, Gwe punya kehidupan yang kayak apa? Kondisi Gwe kayak apa. Bisnis Bapak tu bisnis yang keras. Butuh kemampuan sama pengetahuan yang lebih dari sekedar lulusan SMA kayak Gwe”.
“Kalau begitu kenapa tidak coba untuk kuliah Ben? Setidaknya kalau kamu bisa dapat gelar sarjana, kamu bisa punya kesempatan dan nggak akan terlalu malu-maluin untuk meneruskan bisnis Bapak mu. Mulai sekarang coba dipikirkan saja minat sama jurusan apa yang menurut mu Kamu suka, dan kira-kira kamu mampu”, jawabku kemudian.
“Apa Gwe masuk jurusan yang sama kayak Elu aja ya Yus, biar kalau ada apa-apa Gwe bisa nanya Elu... Hahahahaha”. Aku tersenyum mendengar candaan Beny. Sebenarnya sih sah-sah saja, tetapi Aku lebih senang membiarkan Beny menentukan pilihannya sendiri.
Tidak terasa sudah hampir 2 minggu Aku di Jakarta. Aku sudah benar-benar kangen pada Yowan. Lewat chat dan SMS Yowan juga mengatakan hal yang sama. Sebetulnya libur semester masih lama, namun Aku dan Yowan memutuskan untuk kembali ke Y*gya lebih awal dari daerah masing-masing. Yowan berangkat lebih dulu dari Pekalongan, sedangkan Aku baru menyusul keesokan harinya dari Jakarta menuju Y*gya.
Yowan mengatakan ingin menjemputku di stasiun. Aku sebetulnya sudah mengatakan supaya tidak usah dijemput. Cuma entah kenapa Yowan bersikeras. Ya sudah, kalau memang itu mau nya. Aku sih senang-senang saja dijemput Yowan. Aku kembali ke Y*gya naik kereta malam. Pagi sekitar jam 5:30 Aku sampai di statsiun Tug*.
Saat menuju pintu keluar, Aku lihat Yowan sudah ada di depan pintu keluar. Dirinya tampak bercakap-cakap dengan seorang pria tua paruh baya. Aku tercekat melihat nya. Apakah pria itu papa nya Yowan? Pria itu sempat melihat ke arah ku dan tersenyum. Penampilannya tampak biasa dengan menggunakan kaos polo kerah warna biru dan celana jeans. Kulitnya berwarna hitam dengan raut tegas khas orang Jawa. Kumisnya
melintang panjang di atas bibirnya. Tampak di beberapa jari tangan kanannya mengenakan cincin akik beraneka warna.
Glek.... Aku sampai terdiam beberapa saat. Tak berani maju melangkah lagi. Otak ku berpikir keras. Kira-kira apa yang harus aku sampaikan pada Papa nya Yowan?? Bagaimana jika papa nya melarangku untuk pacaran dengan Yowan? Apa mungkin sebaiknya Aku pura-pura sakit ayan atau kejang-kejang saja ya??