Eyang yang khawatir dengan kondisiku setelah melakukan tirakat segera membawaku ke rumah sakit. Sebenarnya Aku menolak, namun Eyang sedikit memaksa. Akhirnya Aku menurut. Biasanya di rumah sakit Aku banyak sekali melihat penampakan “mereka”. Anehnya entah mengapa saat itu Aku sama sekali tidak melihat “mereka”. Aku mulai merasa optimis, tirakatku berhasil. Senang sekali rasanya. Dokter yang memeriksaku mengatakan kondisiku cukup baik. Meskipun agak lemah dan ada gejala-gejala mal-nutrisi tapi semua masih dalam keadaan yang aman. Dokter menyarankanku untuk segera memperbaiki pola makan ku.
Pulang dari rumah sakit, Eyang mengajakku mampir makan ke warung Sate Klathak Pak P*ng. Saat gigitan pertama memakan sate klathak tersebut, tanpa terasa air mata ku mengalir berlinang. Aku merasakan Sate itu rasanya enaaaaaa…….kkkkk sekaliii………. Aku begitu terharu memakannya. Itu efek karena hampir lebih dari 2 bulan Aku sama sekali tidak makan daging. Eyang cuma bisa heran melihat tingkahku yang se-lebay itu. Hari itu 2 piring sate dan 1 piring tongseng tandas Aku makan.
2 hari berlalu setelah itu. Selama 2 hari itu Aku sama sekali tidak melihat mereka. Hanya saja pernah Aku merasakan seperti ada orang yang memperhatikan ku. Setelah itu terasa seperti ada hembusan angin dingin yang membuat bulu kuduk ku bediri, yang Aku yakini itu adalah tanda-tanda kehadiran “mereka”. Namun Aku tidak melihat penampakan mereka. Aku benar-benar merasa lega. Mata Indigoku sepertinya sudah tertutup
Aku pun menjalani hari-hari seperti biasa dengan perasaan yang lebih tenang. Sampai pada suatu hari, pada suatu siang yang panas terik, saat pulang sekolah tiba-tiba motorku mogok. Saat itu posisiku tengah berada di pinggir jalan raya C*lom*b*, persis di depan gerbang Kampus UN*. Aku coba starter motorku berulangkali namun motorku masih belum mau menyala.
Mungkin busi nya kotor atau aki nya sudah waktunya diganti. Saat sedang asyik mengutak-atik motor, tiba-tiba ada seorang Ibu-ibu mengenakan pakaian daster warna merah yang ditutup jaket coba memanggilku. Rambutnya keriting panjang dibiarkan tergerai.
sama sandal hello kity…….”, kata Ibu-ibu itu
Aku menghentikan kegiatanku dengan motorku. “Ada fotonya Bu”, tanyaku kemudian. Ibu itu menggeleng. Aku kasihan melihatnya. Wajah ibu itu tampak begitu kelelahan dan cemas. Ada rona pucat di matanya. Kesedihan dan kekhawatiran jelas terpancar. Aku jadi ingat Ibu ku. Pasti Ibu ku juga khawatir kalau anaknya hilang, dan akan mencari nya seperti yang dilakukan Ibu ini.
“Ayo Bu, Saya bantu cari”. Aku benar-benar berniat ingin membantu Ibu itu. Kami berjalan menyusuri Jalan Raya C*lom*b*. Setiap orang yang kutemui di ruko-ruko, termasuk tukang parkir di sepanjang jalan itu kutanyai satu persatu. Aku sebenarnya sempat menanyakan ke Ibu itu kenapa anaknya bisa hilang, tapi sepertinya Ibu itu sengaja tidak menjawab atau berpura-pura tidak mendengar.
Berhubung Aku memang sudah niat ingin membantu, Aku tidak terlalu mempermasalahkan. Saat hampir mendekati perempatan S*gan, diseberang jalan dekat rumah makan sate S*mir*no Aku melihat seorang anak kecil seperti kebingungan dan menangis. Ciri-cirinya persis sama seperti yang digambarkan oleh Ibu itu. Perempuan, rambutnya dikuncir dua, mengenakan rok putih dan sandal hello kitty.
“Lha itu….. itu anaknya bukan Bu?”, tanyaku pada Ibu itu sambil menunjuk anak tadi. “Chikaaaaa !!!……”, Ibu itu berteriak memanggil
“Mamaaaaaaa !!!………”, Anak yang menangis di seberang jalan itu merespon panggilan Ibu itu. Aku hantarkan Ibu itu menyeberang jalan. Sampai di seberang Ibu dan Anak itu berpelukan. Mereka berdua lalu menangis bagaikan dua orang yang sudah lama sekali tidak bertemu. Lama mereka berdua bertangisan dan saling berpelukan. Seakan tidak memperdulikan ku yang sedari tadi ada di situ melihat mereka.
Aku mencoba memalingkan pandanganku ke arah lain. Memberikan sedikit privasi bagi mereka. Mataku tertumbuk pada keramaian yang ada di dekat situ. Beberapa orang berkerumun mengelilingi sesuatu. Karena penasaran Aku mencoba mendekati kerumunan itu dan melihat apa yang ada di tengah kerumunan itu. Tampak dua buah tubuh ditutup Koran tergeletak tidak bergerak. Orang-orang di situ berkasak-kusuk atas sebuah tabrak lari yang menewaskan seorang Ibu dan seorang anak perempuan.
Katanya motor mereka ditabrak dari belakang, Si Ibu terlindas mobil sedangkan anaknya sempat terseret beberapa meter. Aku perhatikan tubuh yang ditutup koran itu. Darahku
seperti terkesiap. Tubuh Ibu-ibu yang berlumuran darah itu mengenakan daster merah yang ditutup jaket, sedangkan tubuh anak kecil itu mengenakan rok putih dan sandal yang tergeletak di dekatnya adalah sandal….hello kitty. Persis seperti yang dikenakan oleh Ibu-ibu dan anak yang tadi kutemui.
Cepat Aku menoleh ke tempat Ibu dan anak tadi yang kutinggalkan tidak jauh dari situ. Mereka masih di sana, menangis berpelukan. Aku seakan tidak percaya dengan penglihatanku. Sangking tidak percayanya Aku sampai melihat bolak-balik ke dua arah itu untuk memastikan. Sampai akhirnya Aku yakin, Ibu dan anak yang sedang bertangisan, dan 2 jasad yang sudah tergeletak tak bernyawa itu adalah orang yang sama. Sejenak Aku merasa bingung dengan apa yang harus kulakukan. Pantas sepertinya orang-orang yang kutanyai waktu menanyakan anak kecil tadi seperti tidak melihat Ibu-ibu berdaster itu.
Bingung Aku harus melakukan Apa. Namun seperti ada yang membimbing aku berjalan pelan mendekati dua insan Ibu Anak yang masih berpelukan dan bertangisan itu. Aku lihat Si Ibu dengan penuh kasih sayang dan masih berlinang air mata menciumi dan tidak hentinya memeluk anak kecil itu. Tangisan Si Kecil sudah agak mereda
“Bu…. Ibu sama adik ini sebetulnya sudah meninggal kan?”, entah apa yang ada dalam pikiranku sehingga berkata demikian.
Ibu itu melihat ke arahku dengan tatapan sedih, sementara anaknya malah kembali menangis mendengar perkataanku. Aku spontan ingin menenangkan tangis anak itu dan menjulurkan tangan ku hendak membelai kepalanya. Namun tanganku seperti menembus dan menyentuh udara kosong. Ibu itu lalu berusaha menenangkan tangis Si Anak kembali.
“Chika anak manis, ndak boleh nangis, bentar lagi Ibu ajak Chika pergi ke tempat yang bagus ya? Nanti Chika bisa main sepuasnya disana”.
Ucapan Ibu itu rupanya mampu membuat Si anak tenang kembali. Hanya sesekali isaknya terdengar.
Ibu itu lalu berkata, “Terima kasih sudah membantu Ibu Mas, kalau Ibu tidak menemukan Chika mungkin bakal selamanya Ibu akan mencarinya di sepanjang jalan tadi. Maaf ya Mas. Ibu sudah merepotkan. Semoga kebaikan Mas ini menjadi pahala. Lemah teles ya Mas, Gusti Allah sing mbales ”. Trenyuh hatiku mendengar kata-kata Ibu itu.
“Iya Bu, semoga amal ibadah Ibu diterima dan Ibu dan anak Ibu selalu berbahagia”, spontan Aku menjawab
Selesai berbicara seperti itu Aku melihat ada seperti seberkas cahaya putih yang melingkupi mereka berdua, seperti datang menjemput dan menyinari mereka.
“Da…da Om……”, Anak itu sempat Aku lihat melambai ke arahku dengan manis. Wajahnya begitu bercahaya. Lama kelamaan mereka menghilang dari hadapanku bersama dengan berkas cahaya itu. Seketika Aku menghembuskan napas lega. Ada kedamaian tidak terlukiskan yang menyelimuti hati. Senang melihat Ibu dan Anak itu bisa bertemu lagi dan sepertinya Aku merasa mereka akan bahagia di alam sana.
Tapi sesaat kemudian Aku tersadar dan terhenyak……. SIALAAAAAAANNNNN !!!!!! Ternyata kemampuan Indigo ku masih ada……. TIDAAAAAAAKKKK!!!!!!!