• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – EYANG UYUT PART 4

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 92-98)

Laki-laki berpakaian hitam-hitam itu bisa dipastikan hanyalah sosok Astral. Tatapan ku dan Pak Sam saling beradu dengan laki-laki itu. Pertarungan ini lebih pada sebuah perang psikologis (Psy War). Kehadiran laki-laki berpakaian hitam itu bermaksud untuk menebarkan teror dan ancaman. Kami harus menunjukkan kalau kami tidak terpengaruh dengan ancaman itu. Pak Sam dengan santai mengulurkan tangan dan menggerakkan telapak tangannya ke atas ke bawah seolah malah menantang.

“Kene kowe. Tak tandangi…….. – Sini Kamu, Aku hadapi………”, ucap Pak Sam tanpa takut atau khawatir sedikitpun.

Laki-laki berpakaian hitam itu tampak sangat marah. Aku bisa mendengarnya mendengus keras ke arah kami. Untungnya kemudian lelaki itu malah berbalik melangkah pergi kemudian menghilang. Sepertinya dia membatalkan niatnya untuk melakukan sesuatu. Aku dan Pak Sam tersenyum lega melihatnya. Setidaknya saat ini kami hanya perlu fokus untuk memikirkan bagaimana mengembalikan sukma Eyang Uyut ke tubuh nya.

Pak Sam meminta waktu untuk rehat sejenak. Eyang Roto menawari Pak Sam untuk makan malam lebih dahulu. Pak Sam setuju dan menerima tawaran itu. Sementara Pak Sam beristirahat, Aku dan Ayah menemani tubuh Eyang Uyut di kamarnya. Sekitar satu jam an kemudian. Pak Sam dan Eyang Roto kembali ke kamar Eyang Uyut.

Pak Sam mengatakan ini adalah bagian yang paling kritis. Sukma Eyang Uyut sudah terlalu lama terperangkap di sana. Tidak mudah untuk menariknya kembali. Selain itu fisik Eyang Uyut yang sudah tua dan lemah juga berpengaruh. Kemungkinan sukma Eyang Uyut hanya akan mampir sebentar ke tubuhnya, lalu pada saat itu juga harus kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Eyang Roto walaupun berat, dengan pasrah berkata akan mengikhlaskan apapun yang terjadi. Tepat pukul 21:00 prosesi untuk mengembalikan sukma dimulai. Pak Sam meminta untuk tubuh Eyang Uyut seperti dibedong menggunakan kain jarik, melambangkan tubuhnya dianggap selayaknya bayi yang baru lahir. Pak Sam lalu minta untuk disiapkan bunga melati kecil atau kantil. Bunga kantil bagi masyarakat jawa dipercaya sebagai penghubung antara dunia manusia dan dunia roh. Mitosnya bunga itu tidak hanya tumbuh di alam manusia, tetapi juga tumbuh di alam sana.

mengunyahnya. Pak Sam lalu mengatakan kali ini juga membutuhkan bantuan ku. Aku juga diminta nya memakan dan mengunyah bunga kantil itu. Setelah itu Pak Sam meletakkan tangan nya di atas kening Eyang Uyut sementara Aku disuruhnya meletakkan tangan ku di dada Eyang Uyut. Pak Sam lalu menyuruhku untuk berkonsentrasi dan mencari dimana sukma Eyang Uyut sama seperti yang pernah kulakukan dulu. Aku langsung paham. Aku membuka mata ketiga ku dan mengaktifkan nya maksimal.

Beberapa saat kemudian tubuhku seperti terbawa ke tempat yang dulu pernah kudatangi. Sebuah danau di tengah hutan yang sangat lebat dan gelap. Hanya saja kali ini aku bukan dalam posisi melayang di atas danau seperti dulu, tetapi berdiri di pinggir danau. Dan kali ini disampingku ada Pak Sam. Pak Sam seperti memegang sebuah ujung tali dari kain berwarna merah. Ujung tali itu terulur dari tangan nya menuju tengah danau.

Pak Sam lalu memintaku untuk turut memegang tali itu dan membantu menariknya. Kami berdua lalu bersama-sama menarik tali itu. Beberapa saat kemudian Aku baru menyadari bahwa tali itu terhubung dengan sampan di tengah danau tempat Eyang Uyut berada. Sampan itu mulai tampak di kejauhan. Aku makin bersemangat menariknya. Eyang Uyut juga aku lihat tampak gembira sampai meneteskan air mata ketika sampan itu perlahan-lahan berhasil kami tarik sampai ke tepi.

Akhirnya sampan itu berhasil menambat ke tepi dan Eyang Uyut berhasil turun dari sampan itu. Tangan Eyang Uyut cepat kemudian meraih tangan Pak Sam dan menangis bersyukur karena sudah berhasil diselamatkan. Aku yang melihatnya juga turut mengucap syukur dan lega. Akhirnya sukma Eyang Uyut saat ini berada dalam kendali kami

Sekonyong-konyong tiba-tiba sesosok laki-laki berpakaian hitam-hitam datang menerjang ke arah Pak Sam dan menyarangkan sebuah tendangan keras ke dada Pak Sam. Membuat tangan Pak Sam terlepas dari Eyang Uyut. Eyang Uyut sempat terpekik kaget. Laki-laki itu ternyata adalah sosok laki-laki yang Aku dan Pak Sam lihat berdiri di luar pintu kamar beberapa saat yang lalu. Ternyata memang dia ingin menghalangi kami untuk menarik sukma Eyang Uyut kembali.

Reflek Aku membantu Pak Sam dan mencoba untuk menghajar orang itu dengan pukulan ku. Tapi ternyata dengan cepat sosok laki-laki itu menangkisnya dan mencengkeram leherku. Membuatku tercekik dan kesulitan bernapas. Pak Sam sepertinya lebih ingin mengutamakan Eyang Uyut. Tangannya cepat menyambar tangan Eyang Uyut lalu menariknya menjauh meninggalkan ku bersama laki-laki itu. Sesaat kemudian tubuh Astral Pak Sam menghilang bersama dengan Eyang Uyut.

Laki-laki itu tampak semakin marah. Dengan tetap mencengkeram leherku, tubuhku dibanting-banting ke tanah berulang kali.

“Anying Kehed!!... Modar Sia !!!...”, teriak orang itu berulang-ulang. Entah apa artinya Aku tidak tahu. Aku langsung merasakan nyeri di sekujur tubuh. Organ dalamku juga serasa hancur. Kesadaranku perlahan-lahan menghilang karena tidak kuat menahan sakit yang hebat.

Dalam keadaan setengah kesadaran tersisa, Aku merasakan tangan orang itu menyeret lalu melemparkanku ke dalam sampan. Lantai sampan kayu yang kaku dan keras menyambutku dan membuat tubuhku semakin terasa hancur tak karu-karuan. Terakhir Aku hanya sempat mendengar sebuah tendangan keras mengenai dinding sampan kayu itu. Setelah itu kesadaranku hilang sepenuhnya.

Entah berapa lama Aku tidak sadarkan diri. Saat perlahan-lahan siuman dengan badan yang masih menanggung nyeri Aku mencoba memperhatikan sekeliling ku. Ternyata Aku berada di tengah danau. Persis seperti kondisi Eyang Uyut sebelumnya. Sejauh Aku memandang hanya ada air, sementara daratan sepertinya jauh sekali dari tempat sampan ku mengapung. Aku mencoba menggerakkan badanku tapi rasanya lemah sekali. Rasa sakit yang sangat masih kurasakan menghantam sendi-sendiku. Aku sadar, jiwaku sekarang yang ganti terperangkap di sini.

Dukun berbaju hitam itu rupanya berhasil membuat jiwaku terperangkap di sini. Pikiranku sempat kalut. Apa yang harus kulakukan. Aku coba mendekati pinggiran sampan dan coba menggerakkan sampan itu dengan kayuhan tanganku. Tapi sepertinya hal itu tidak berhasil. Sampan itu hanya bergoyang-goyang saja. Tidak bergerak maju sedikit pun. Padahal Aku sudah sebisa mungkin menggerakkan tangan ku dengan menahan rasa nyeri di seluruh tubuhku.

Aku lalu cuma bisa pasrah dan terduduk di pinggir sampan. Aku coba dongak kan kepalaku ke atas. Hanya ada langit hitam dan tidak ada bintang sama sekali. Sekelilingku terasa sunyi sekali, tidak ada satu suarapun yang bisa Aku dengar. Aku coba fokus untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di tubuhku dulu. Aku coba sabar menunggu sampai rasa sakit itu lama-lama menghilang dan tidak lagi menguasai pikiranku. Aku yakin kalau rasa sakit itu tidak menguasaiku maka Aku bisa berpikir jernih. Kalau pikiranku jernih Aku bisa memikirkan cara untuk keluar dari sini.

Aku mencoba mencari patokan waktu untuk mengetahui sudah berapa lama Aku mengapung di atas sampan ini, tapi sepertinya waktu tidak relevan di sini. Jam seakan

berhenti berputar di tempat ini. Sekelilingku yang ada hanya kehampaan dan kosong. Aku jadi berpikir bagaimana dengan jasad kasarku. Mudah-mudahan Pak Sam bisa menjelaskan bahwa masih ada harapan untuk menarik sukmaku lagi. Aku jadi memikirkan Ayah dan Ibu. Saat ini pasti mereka cemas sekali. Terutama Ibu. Ibu pasti panik dan sedih. Membayangkan Ibu menangis saja sudah membuatku merasa bersalah dan berdosa. Seandainya Aku bukan Indigo, mungkin hal ini tidak perlu terjadi.

Lama Aku melamun dan berpikir, sampai akhirnya lama kelamaan rasa sakit di badanku menghilang. Aku mencoba memainkan air yang ada di bawah sampan. Apakah air ini asli? Sampan ini apakah nyata? Aku mulai coba mencari pemahaman tentang lingkungan tempat Aku berada. Lingkungan yang ada disekelilingku sekarang ini tidak lebih dari sebuah perangkap supranatural. Sebuah perangkap yang tercipta karena sebuah kekuatan supranatural dari orang yang mendalami keilmuan tertentu. Kalau Aku bisa mengungguli kekuatan tersebut mungkin Aku bisa membebaskan diri dan kembali ke jasad kasarku. Aku memang bukan orang yang mendalami sebuah keilmuan tertentu, tapi bila mengingat perjalananku hingga hari ini banyak hal telah kualami. Aku pernah menjalani tirakat yang mungkin tidak banyak orang bisa menuntaskan nya. Aku tidak bisa mengatakan bahwa tirakat itu tidak ada manfaatnya bagi diriku. Setelah menjalani nya Aku jadi lebih mudah memperoleh pemahaman tentang hal-hal supranatural. Lebih mudah menangkap dan mempelajari tentang alam dunia gaib.

Mampu mencari dan melacak energi yang tak kasat mata. Semua itu pasti bukan tanpa alasan. Bisa jadi itu karena ada sebuah kekuatan supranatural yang turut berkembang dalam diriku. Apalagi Aku memiliki Mata Ketiga. Sebuah kemampuan yang tidak sembarang orang bisa peroleh dan gunakan. Kemampuan yang Aku peroleh karena pernah menginjak alam roh yang sejati. Kalau Aku pernah menginjak alam roh yang sejati, pasti Aku bisa membedakan mana sejati mana yang tidak.

Alam roh yang memerangkap ku sekarang ini hanya buatan. Semua hanya ilusi. Ilusi ini tidak akan mampu membohongi mataku yang bisa menangkap hal-hal yang sebenarnya. Sepertinya Aku harus menggunakan seluruh kemampuan dan kekuatan Mata Ketiga ku secara masif, sampai batas yang belum pernah bisa kucapai sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi, Aku tidak akan ambil pusing. Apakah akan berhasil atau tidak bukan persoalan lagi buatku. Aku pasrahkan semuanya pada yang di Atas.

Sekelilingku hanya air. Air ini yang seolah membatasi ruang gerak ku di atas sampan ini. Atau dengan kata lain, air ini yang membuatku terjebak dan seolah membelenggu ku di sini. Kalau air ini hilang maka batas yang membelenggu ku juga akan hilang. Aku akan

berjalan menuju daratan dan kembali ke tubuhku. Sekali lagi dengan posisi berjongkok di pinggir sampan Aku celupkan tanganku ke dalam air.

Mengerahkan segenap energi terdalam yang Aku miliki dan memfokuskan nya di tangan. Mata Ketiga ku kuarahkan pada gambaran bahwa air ini tidak nyata dan ada sebuah jalan yang akan membawaku keluar dari tempat ini. Ternyata ada efeknya. Mata Ketiga ku menangkap bayangan bayangan buih yang berasal dari bawah air, dan semakin Aku memfokuskan tenagaku buih itu semakin banyak dan cepat muncul. Semakin lama semakin cepat dan banyak. Air danau di sekelilingku mendidih dan bergejolak.

Aku sadar Aku tidak boleh lengah, tenaga ku dan aktivasi Mata Ketiga ku tetap kukerahkan sampai menembus batas maksimal yang belum pernah kulakukan. Seluruh danau terlihat mengepulkan asap dan mendidih. Aku terus berjuang dengan semangat pantang mundur. Lama-lama kurasakan air danau itu menyusut. Terus menyusut sampai Aku melihat dasar danau yang lama kelamaan mengering. Danau jadi seperti terbelah. Tampak tanah dari dasar danau yang bisa aku lalui.

Dasar sampan sudah menyentuh dasar danau yang berupa tanah keras. Aku m sekarang bisa melangkah keluar dari sampan dan berjalan melalui tanah yang telah kering itu. Aku sempat merasa lemas dan kehilangan tenaga. Energiku berada dalam level kritis. Tapi Aku tidak ingin menyia-nyia kan kesempatan itu. Dengan sisa-sisa semangat juang yang kumiliki Aku berjalan tertatih-tatih keluar sampan menuju ke tepian. Walaupun ujung daratan belum kelihatan Aku tidak perduli. Aku tetap terus berjalan. Tanpa aku sadari air danau mulai kembali meninggi.

Entah dari mana air itu berasal. Aku mulai merasakan tanah kering yang Aku lalui mulai basah. Aku harus cepat. Aku coba memaksakan tubuhku setengah berlari. Perlahan-lahan Aku mulai melihat tepian danau. Hal itu membuat semangatku yang sempat pudar kembali muncul. Sekuat tenaga Aku menyeret tubuhku sedemikian rupa menuju tepian danau. Tapi rupanya tenaga ku keburu habis. Aku terjatuh lemas sebelum bisa mencapai tepian danau.

Air daanu sudah mulai meninggi lagi dan menutupi wajahku yang kuyu. Aku sudah tidak kuat lagi. Cuma bisa pasrah. Air danau lama-kelamaan mulai menutupi tubuhku. Aku mungkin sudah tidak bisa kembali lagi. Ayah.... Ibu.... maafkan Aku.

Aku belum sempat melakukan apa-apa buat Ayah dan Ibu. Terbayang Ayah dan Ibu menghadiri pemakamanku. Ibu menangis sedih di atas batu nisanku. Ayah, sahabat dan teman-temanku tampak sedih dan mendoakan kepergianku. Apakah Aku akan menghadap

yang kuasa? Atau memang hanya akan menghilang dan musnah di tempat ini.

Dalam keadaan antara hidup dan tiada itu tiba-tiba Aku merasa pinggangku tertarik oleh sesuatu. Sempat Aku melihat ada sebuah kain merah saat ini melilit di pinggangku. Aku rasakan kain merah itu menarikku dan menggerakkan tubuhku ke pinggir danau. Ada orang yang menarik tubuhku dengan kain merah itu ke pinggiran. Sesaat kemudian Aku mendengar ada doa-doa yang berkumandang memenuhi telingaku. Di antara doa-doa itu ada suara Ibu, ada juga suara Ayah, suara Eyang Kakung, suara Eyang Roto, dan suara beberapa orang yang Aku kenal. Membuatku merasa nyaman dan tenang

Pinggir danau aku lihat sudah lumayan dekat. Pak Sam aku lihat sedang berjuang menarik kain merah yang melilit di pinggangku.

“Ayo Le, Kowe mesti iso. Gek tangio. Mlakuo sithik ben iki gelis rampung – Ayo Nak. Kamu pasti bisa. Bangunlah... Berjalanlah sedikit lagi, biar ini cepat selesai”, Pak Sam mencoba berteriak dari pinggir danau. Membuat ku kembali mencoba bangun dan merangkak sedikit-sedikit ke pinggir danau. Beberapa kali Aku jatuh, namun Aku coba bangkit lagi. Sampai akhirnya Aku sampai di pinggir danau dan meraih tangan Pak Sam. Pada saat meraih tangan Pak Sam Aku tiba-tiba merasa tersentak dan seperti terlempar kembali ke tubuhku. Aku terbangun dan kesadaranku kembali pulih dengan cepat. Ternyata di sekelilingku sudah ada Ayah, Ibu, Eyang Roto dan Istrinya, Eyang Kakung, dan Tatang temanku. Aku dalam kondisi terbedong kain jarik, persis seperti Eyang Uyut sebelumnya. Selain itu ada beberapa sosok Astral yang juga Aku kenal seperti Mbak Rohana, Pasangan Legendaris Bab*rs*ri, dan Ibu dan Anak yang Aku temui di Jalan Col*mb*. Mereka kecuali Mbak Rohana seperti ditemani oleh beberapa bayangan putih bercahaya.

“Matur sembah nuwun sedherek sedulur, Lemah teles, Gusti Allah sing Mblales – Terima kasih Saudara-saudara ku sekalian. Tanah Basah, Tuhan Allah yang membalas...”. Aku mengucapkan terima kasih pada mereka dalam hati.

“Sampun diwales Mas...- Sudah dibalaskan Mas”, suara itu mereka ucapkan hampir berbarengan. Setelah itu perlahan-lahan mereka lalu menghilang pergi terbawa bayangan putih bercahaya yang menemani mereka masing-masing. Kecuali Mbak Rohana, dia hanya melayang menghilang menembus tembok. Setelah itu Aku tidak sadarkan diri. Badanku rasanya lelah sekali.

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 92-98)