• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – TIRAKAT PART 2

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 35-38)

30 Hari puasa Ngalong terlewati. Tahapan kali ini adalah puasa Mutih. Pada saat berbuka atau sahur hanya makan nasi putih dan minum air putih. Mustahil dan tidak masuk akal sepertinya. Tetapi semua sudah sejauh ini. Tidak mungkin berhenti begitu saja. Aku harus berani jalan terus. Dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan Aku menjalani tahap Mutih. Penglihatanku semakin menggila. Aku hampir tidak bisa membedakan antara alam “mereka” dan alam manusia. Jumlah mereka memenuhi setiap jengkal jarak penglihatanku.

Mataku bahkan jadi bisa melihat lebih detail sampai pada bagian terkecil dari mereka. Aku jadi stress luar biasa. Untuk mengurangi beban pikiranku, sampai-sampai saat berada di rumah kadang Aku menggunakan ikat untuk menutup mata ku. Pada beberapa kesempatan mereka seperti berusaha untuk berkomunikasi dengan ku. Sepertinya mereka ingin agar Aku menghentikan tirakat yang ku lakukan. Beberapa dari mereka seperti sudah berani mendekatiku. Paling banyak adalah beberapa penampakan pocong.

Keanehan lain yang terjadi pada diriku adalah rasa panas yang mulai menjalar di sekitar kening. Aku sampai merasakan migraine yang sangat parah gara-gara rasa panas itu. Kepalaku terasa sakit luar biasa. Kadang hanya di sebelah kanan, kadang berpindah tiba-tiba di sebelah kiri. Puasa Mutih ini Aku lebih banyak kehilangan semangat makan. Kadang Eyang Putri bahkan membantu untuk menyuapiku. Badanku lemas luar biasa. Sampai akhirnya tiba hari ke 9.

Tinggal satu tahapan terakhir yang harus Aku lewati, yaitu Pati Geni. Semangat juangku mulai muncul karena mengingat ini adalah tahapan terakhir. Walapun Aku masih bertanya-tanya, Apa yang akan terjadi setelah tahapan ini terlewati. Aku mulai mempersiapkan kamar tempat Aku akan menjalani Pati Geni.

Ventilasi dan jendela Aku tutup dengan kardus, agar sinar matahari tidak masuk. Aku juga berpesan pada Eyang, jika dalam 2 hari Aku tidak kunjung keluar Eyang boleh masuk ke kamar dan melihatku. Eyang yang melihat semangatku begitu luar biasa hanya bisa mengangguk dan memegang pesanku.

Tepat jam 12 malam Aku memulai Pati Geni. Aku duduk bersila dan bermeditasi di tengah kamarku. Waktu demi waktu, menit demi menit berlalu. Pikiranku hanya terfokus pada doa dan munajatku untuk menutup penglihatan indigoku. Kadang Aku teringat Ayah

dan Ibu ku, sedang apa mereka sekarang. Entah sudah lewat berapa lama waktu berlalu. Rasa lapar dan haus mulai menyerangku.

Aku berusaha bertahan. Aku baru sadar sedari tadi Aku tidak merasakan maupun melihat kehadiran “mereka”. Aku mulai merasa optimis ini akan berhasil. Aku hanya perlu bertahan beberapa saat lagi. Suara sekecil apapun mulai terdengar di telingaku. Bahkan Aku bisa mendengar detak jantung sendiri. Aku mulai mendengar suara motor dan suara orang berjualan mulai ramai lewat di dekat rumah. Sepertinya sekarang sudah mulai masuk tengah hari. Badanku mulai menagih untuk diberi asupan.

Aku mendengar detak jantungku mulai melemah, tanda tubuhku juga berangsur melemah. Aku tetap menguatkan diri. Rasa lapar dan haus serta tubuh yang melemah itu hanya faktor pikiran saja. Pikiranku harus mengendalikan tubuhku. Beberapa kali kesadaranku seperti hilang. Mungkin aku tertidur atau pingsan. Suara Azan terdengar lagi, sepertinya ini yang ke 3. Tanda waktu sebenarnya sudah maghrib. Aku berusaha kembali fokus, menghimpun sisa-sisa kekuatan dan kesadaranku. Mengatur napas setenang mungkin. Seiring waktu mulai muncul keanehan pada diriku. Aku merasa ada ular besar yang merambat dan menjalar di seputaran tubuhku, gerakannya seperti naik turun bergantian. Mulai merambat dari bawah ke atas, berputar di ubun-ubun lalu turun lagi ke bawah. Gerakannya makin lama makin cepat. Sampai akhirnya menghilang di tengah perut. Kenyataannya tidak pernah ada ular apa pun di sana.

Keanehan belum berhenti di situ. Berikutnya Aku mulai merasa tubuhku terangkat pelan-pelan. Aku mulai merasa tubuhku tidak menyentuh lantai lagi. Namun tiba-tiba Aku merasa dibanting lagi ke tanah. Nafasku sampai sesak. Tulang-tulangku serasa mau rontok. Hal itu tidak terjadi sekali, namun berkali-kali. Aku mencoba bersabar. Kentongan ronda dan tiang listrik Aku dengar sudah dipukul. Aku memperkirakan pasti sekarang sudah masuk menjelang tengah malam. Tinggal beberapa saat lagi ini semua akan berakhir

Sesaat kemudian Aku merasa suhu ruangan berubah drastis menjadi dingin. Seperti serasa berada di dalam kulkas. Tubuhku mulai menggigil kedinginan. Tiba-tiba suasana ruangan berubah, ruanganku seperti dilingkupi oleh aura kuasa gelap. Segala ketakutan dan kengerian mulai menjalar dalam pikiranku. Ada sesuatu yang tidak beres. Ternyata benar saja. Tiba-tiba dari pojok ruangan aku melihat seperti ada sosok bayi merangkak keluar.

sekarang sudah berjarak sepangkuanku. Bayi itu seperti hanya mengenakan popok kain. Aku melihat kepala bayi itu ternyata adalah kepala kakek-kakek tua keriput dengan gigi ompong dan tatapan yang mengerikan, rambutnya putih menjuntai di belakang kepalanya. Jenggotnya juga tampak putih menjuntai. Saat ini dia sedang terkekeh-kekeh di hadapanku.

Sekejap kemudian beberapa sosok lain yang tak kalah mengerikan bertubi-tubi bermunculan di sekelilingku. Jumlah mereka sangat banyak, dengan tatapan marah dan angker mereka semua mendekatiku. Mengelilingiku dan seperti akan mengeroyokku. Tangan-tangan mereka yang mengerikan terjulur kea rah ku seperti hendak mencekik dan mencincangku. Aku bergidik ngeri, Aku tidak tahan melihat semua ini. Spontan aku bangkit dari tempat ku duduk, meloncat dan mendobrak keluar dari kamar. Tidak perduli lagi dengan Pati Geni yang sedang kulakukan.

Hal pertama yang segera kulakukan adalah mengisi tenggorokanku dengan air sebanyak-banyaknya. Segera aliran air yang memenuhi tenggorokanku memulihkan lagi kesadaranku. Aku baru tesadar ternyata dari tadi Eyang Putri dan Eyang Kakung memandangiku dari ruang TV.

Ternyata sudah jam 7 pagi. Matahari aku lihat sudah menerobos masuk lewat sela-sela jendela. Ternyata sudah lewat jauh dari batas yang ditentukan. Aku tidak tahu apakah tirakat yang kulakukan berhasil? Apakah hal tadi adalah hal terakhir yang Aku lihat dari mereka? Apakah Aku berhasil menutup Mata Indigo ku? Atau gagal?

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 35-38)