• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATA INDIGO – EYANG UYUT PART II

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 80-85)

Malam itu, Aku, Ayah dan Ibu mampir ke Puro Pak*alam*an sehabis dari tempat Eyang Roto untuk menikmati secangkir Teh Poci. Ibu tidak henti-hentinya membahas kejadian aneh Eyang Uyut yang dia saksikan bersamaku dan Istri Eyang Roto. Ayah yang biasanya berpikir logis mulai kehabisan argumen. Tidak ada logika yang bisa menjelaskan perilaku Eyang Uyut. Akhirnya untuk pertama kali nya Ayah meminta pendapatku tentang Eyang Uyut.

“Bagaimana menurutmu Yus? Eyang Uyut sebenarnya kenapa?”. Aku tidak menjawab. Aku merasa percuma saja menjawabnya. Jika Aku menjelaskan tentang hal-hal gaib, Ayah pasti akan bertanya dari mana Aku tahu? Jika Aku menjelaskan kalau Aku tahu karena Aku punya kemampuan Indigo Ayah dan Ibu juga tidak akan percaya.

“Tidak tahu Yah, mungkin ada kerusakan otak….”, jawab ku asal saja. Sikap antipatiku ini bukan tanpa alasan. Bertahun-tahun Ayah dan Ibu seperti tidak memahami dan mencoba mengerti keadaanku yang seperti ini. Membuatku dari kecil merasa stres dan merasa diperlakukan seperti orang aneh. Roman wajah Ayah lalu agak berubah, wajahnya jadi tampak sedih.

“Yus Ayah dan Ibu sebenarnya sudah tahu kalau kamu punya Indra Keenam. Eyang Kakung sudah cerita semuanya”. Kata-kata Ayah membuatku terkejut. Jadi Ayah sudah tahu keadaanku. Kenapa baru sekarang mereka mengatakan nya?

“Yus, Ibu dan Ayah minta maaf kalau selama ini mungkin salah bersikap ke kamu. Ayah dan Ibu sebenarnya mungkin takut. Tidak ingin berhubungan dengan hal-gal seperti gaib, hantu atau apa pun itu yang sering kamu katakan kamu lihat. Jadi maaf kalau Ayah dan Ibu selama ini cenderung menolak percaya tentang kemampuan mu itu.

Tapi selama ini Eyang Kakung selalu berusaha meyakinkan Ayah dan Ibu. Eyang selalu bilang, selalu siap disuruh membuktikan kemampuan mu itu. Eyang Kakung bilang ini semua sudah kodrat. Mau tidak mau Ayah dan Ibu juga harus menerima nya. Kami tidak bisa selama nya menolak dan tidak mengakuinya”. Kata-kata Ibu bagaikan guyuran air yang membasahi tanah kering di dadaku. Aku jadi terharu mendengarnya.

“Benar Yus, Ayah juga sadar bahwa selama ini memang yang namanya kita manusia tidak pernah bisa lepas dari hal-hal yang bersifat gaib. Banyak hal yang kadang tidak

bisa dijelaskan dengan logika. Tadinya memang Ayah sulit percaya tentang kemampuan Indra Keenam mu, tapi hari ini Ayah dan Ibu sudah melihat sendiri, bagaimana tiba-tiba Eyang Uyut jadi berubah seperti itu”. Akhirnya Ayah dan Ibu mengakui kemampuan ku. Setelah sekian lama Aku menunggu mereka mempercayai keadaanku, malam ini pengakuan itu akhirnya bisa kudengar dari mereka sendiri.

“Bantulah Eyang Uyut Yus, setidaknya kamu bisa jelaskan kepada kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Eyang Uyut. Ibu minta sama Kamu”. Aku jadi tidak bisa menolak permintaan itu. Aku juga sebenarnya tidak yakin akan apa yang terjadi pada Eyang Uyut

“Besok antar Yus ke tempat Eyang Uyut lagi Yah. Nanti Yus coba cari tahu……”. Ayah menyambut perkataanku dengan senyum dan anggukan. Baru kali ini Aku merasa lega dan bisa bersikap lebih nyaman lagi di depan Ayah dan Ibu. Malam itu pengakuan Ayah dan Ibu menjadi alasan terkuatku untuk membantu Eyang Uyut. Sebuah babak baru malam itu dimulai.

Keesokan harinya, menjelang siang Ayah mengajakku lagi ke tempat Eyang Roto. Ayah lalu mewakiliku bicara kepada Eyang Roto dan mengatakan ingin membantu dengan kemampuan yang Aku miliki. Eyang Roto tampak ragu. Mungkin dia juga tidak sepenuhnya percaya kalau Aku punya Indra Keenam. Akhirnya Eyang Roto mengijinkan. Aku lalu dibawa ke kamar Eyang Uyut.

Tampak saat itu Eyang Uyut sedang tidur. Aku lalu mengaktifkan Mata Ketigaku semaksimal mungkin. Tujuanku mencoba mencari tahu apa yang bersembunyi di tubuh Eyang Uyut. Hasilnya nihil. Seperti biasa hanya tampak aura energi aneh yang melingkupinya. Apa mungkin Aku harus menyentuhnya supaya Aku bisa melihatnya. Tapi Aku khawatir nanti Eyang Uyut malah bangun dan mengamuk. Bisa dibayangkan kalau mengamuk malah membahayakan orang lain dan dirinya sendiri. Aku harus mencoba cara lain.

Sekali lagi Mata Ketigaku coba kuaktifkan maksimal. Mungkin karena sudah ada dukungan dari Ayah dan Ibu tenagaku jadi terasa melimpah ruah. Aku lalu berlutut dan mencoba berkonsentrasi. Dalam posisi berjongkok tanganku memegang lantai tepat di depan kamar Eyang Uyut. Melacak pola dan energi gaib tertentu yang tidak biasa. Aku berpikir kalau apa yang ada di tubuh Eyang Uyut itu bukan sukma nya berarti tubuh itu saat ini hanya sebuah wadah kosong.

berbentuk manusia. Ini yang sebenarnya tidak wajar. Untuk sebuah tubuh manusia dibuat serupa wadah kosong maka tubuh itu harus dimanifestasikan ke dalam sebuah benda tertentu. Tentu saja benda itu adalah benda mati. Benda itu sebagai perantara yang energi nya pasti berhubungan dengan tubuh Eyang Uyut saat ini.

Aku tinggal melacak benda mengeluarkan energi yang berhubungan dengan tubuh Eyang Uyut itu. Beberapa pola energi yang berasal dari makhluk gaib lain yang ada di sekitar situ Aku pisahkan. Sampai akhirnya ……. BINGO, Aku mendapatkan sesuatu yang mengeluarkan energi yang dimana energinya itu Aku lihat berhubungan dengan tubuh Eyang Uyut. Letaknya dari arah langit-langit kamar Eyang Uyut.

Aku lalu coba berbicara pada Ayah dan Eyang Roto. Aku ingin sementara Eyang Uyut dipindahkan dari kamarnya ke kamar lain. Eyang Uyut bersama dengan seluruh tempat tidurnya lalu di dorong keluar dari kamar itu. Ayah lalu mengambil tangga. Pada bagian langit-langit kamar itu ternyata ada sebuah tingkap yang bisa dibuka. Aku yakin seharusnya ada sesuatu di situ. Pertama kali mencarinya, Ayah tidak menemukan apa-apa.

Aku lalu ikut naik membantunya. Berbekal senter Aku coba menyorot ke sekeliling. Pada bagian kanan ada sebuah ember kecil dengan posisi terbalik yang menarik perhatianku. Aku lalu membuka dan membalik ember kecil itu, di situ Aku menemukan sesuatu. Sebuah bungkusan kecil terbuat dari kain putih berbentuk seperti pocong kecil. Benda itu lalu Aku bawa turun ke bawah.

Eyang Roto dan Istrinya amat terkejut dengan apa yang kutemukan. Ketika bungkusan itu Aku buka di dalamnya hanya ada beberapa helai rambut, beberapa batang gosong seperti batang hio yang pendek, sebuah kertas dengan tulisan-tulisan aneh dan sejumput kain coklat dengan noda darah. Benda itu juga mengeluarkan bau yang tidak sedap. Saat benda itu dibuka Aku dengar dari arah kamar Eyang Uyut seperti berteriak-teriak tak karuan. “Jangan sentuh itu !!!!…… Aku bunuh Kamu!!!!.... Awas Kamu……”. Teriakan itu terdengar berulang-ulang. Sempat Aku dengar istri Eyang Roto berbisik kalau suara yang keluar dari Eyang Uyut itu bukan suara Eyang Uyut yang sesungguhnya.

“Ini apa Yus?”, tanya Ayah padaku. Aku lalu coba menjelaskan, sepertinya ini adalah teluh. Orang biasa pasti menyamakan teluh dengan santet. Padahal menurutku teluh dengan santet adalah hal yang berbeda. Santet biasanya adalah tindakan mengirimkan guna-guna dengan memasukkan benda-benda tajam atau keras ke dalam tubuh manusia secara kasat mata. Tujuan nya adalah mencelakan atau membunuh orang yang menjadi sasaran santet itu.

Orang yang terkena santet akan merasa badannya sakit atau tidak enak, kemudian sampai pada tahapan tertentu orang itu akan memuntahkan paku, beling, rambut atau potongan besi yang dimasukkan itu lewat mulutnya. Sedangkan teluh sedikit berbeda. Teluh biasanya adalah tindakan memerangkap jiwa atau sukma manusia dan menyesatkan nya ke alam lain lalu mengganti tubuh manusia yang kosong itu dengan hantu, siluman atau roh jahat. Tindakan ini bertujuan bukan untuk membunuh atau mencelakakan orang yang menjadi sasaran teluh.

Tapi hanya lebih untuk mengerjai dan membuat repot keluarga atau orang-orang yang ada di sekitar orang itu. Caranya adalah setelah jiwa atau sukma itu diperangkap maka tubuh yang kosong dimanifestasikan ke dalam sebuah benda tertentu sebagai perantara. Biasanya adalah berupa bungkusan atau benda yang dibentu seperti boneka atau orang-orangan. Biasanya tindakan ini dilakukan oleh orang-orang yang memang mendalami ilmu-ilmu tertentu. Melihat dari ke khas-an nya Aku bisa menyimpulkan bahwa ini dikerjakan oleh orang yang berasal dari wilayah Pantai Utara Jawa.

“Jadi apa yang ada di tubuh Eyang Uyut sekarang bukan Eyang Uyut Yus?”, Eyang Roto seakan tidak percaya dengan penjelasanku. “Lalu dimana roh Eyang Uyut yang asli sekarang?”. Aku tidak punya informasi untuk menjawabnya. Ada dua pertanyaan yang harus dijawab sebenarnya. Dimana sukma Eyang Uyut yang asli berada dan makhluk apa yang ada di tubuh Eyang Uyut yang sekarang. Aku mencoba menggenggam bekas kain putih yang tadi kutemukan di laingit-langit kamar Eyang Uyut.

Aku coba berkonsentrasi dan mengarahkan Mata Ketigaku untuk mengetahui makhluk apa yang ada di tubuh Eyang Uyut. Karena benda itu dan tubuh Eyang Uyut berhubungan, pasti Aku bisa melacaknya. Ternyata memang benar, Aku bisa melihat jelas seperti apa makhluk yang menghuni tubuh Eyang Uyut.

Rambutnya panjang dan awut-awutan seperti ijuk. Matanya melotot dan seputar lingkar matanya berwarna merah pekat. Makhluk itu tidak memiliki bibir. Gusi dan giginya yang buruk langsung terlihat menonjol dan tampak kemana-mana. Tubuhnya kurus seperti tengkorak dan berkulit keriput, dengan pakaian seperti berbalut kain kafan yang kotor. Aku lalu mencoba menjelaskan apa yang Aku lihat. Eyang Roto dan istrinya semakin shock. Keanehan yang terjadi dan selama ini coba diabaikan terkuak sudah. Perasaan kalut dan sedih jelas tampak di wajah mereka yang tampak tua. Aku sebenarnya sudah merasa agak lelah.

Energi ku seperti terkuras. Kepalaku sedikit terasa bertkunang-kunang dan berdenyut-denyut. Cuma masih ada satu lagi yang harus kulakukan. Mencari tahu dimana sukma Eyang Uyut berada. Kalau ditemukan berarti tinggal bagaimana cara nya supaya sukma itu bisa kembali. Jika tidak ditemukan Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa.

Aku lalu bertanya apakah Eyang Roto memiliki foto atau gambar Eyang Uyut sebelum terkena sakit stroke. Ternyata Eyang Roto memiliki nya. Foto itu di bawa kehadapanku. Cepat Aku memegang foto itu dan mulai berkonsentrasi. Tidak lupa Aku memohon bimbingan Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang untuk membantuku. Pemandangan yang kulihat cukup mengejutkan. Aku seperti di bawa ke sebuah danau yang sangat tenang dan sunyi. Tempat itu tampak suram dan gelap. Sinar matahari seolah tidak mampu menembus tempat itu. Entah dimana letak danau itu.

Danau yang sangat luas itu seperti berada di tengah hutan yang dikelilingi pepohonan besar yang cukup lebat. Di tengah danau itu ada sebuah sampan mengapung diam. Aku melihat Eyang Uyut ada di dalam sampan itu. Tampak menangis meminta tolong. Kasihan sekali Eyang Uyut. Ingin tanganku untuk meraihnya. Namun sepertinya Aku hanya bisa melihatnya, sedangkan tubuhku seperti berada di tempat lain. Tiba-tiba Aku merasa seperti ada yang membuatku terpental dan kembali ke kesadaranku semula.

Saat tersadar nafasku sesak tersengal-sengal. Ayah lalu mengambilkanku minum. Tenaga ku benar-benar terkuras habis. Sambil mengatur napas Aku lalu mencoba menceritakan apa yang kulihat pada Eyang Roto dan Istrinya. Eyang Roto dan Istrinya tidak henti-henti nya beristiqfar mendengar penjelasanku. Apa yang terjadi ini benar-benar tidak bisa diterima akal sehat.

Selain itu siapa yang tega sampai berbuat seperti ini pada Eyang Uyut? Namun bagi ku yang lebih terpenting bagaimana bisa mengembalikan Roh Eyang Uyut kembali ke tubuhnya semula. Jelas hal itu di luar kemampuanku. Seketika itu juga Aku teringat Pak Sam. Apakah Pak Sam mampu mengembalikan Eyang Uyut seperti sedia kala?

Dalam dokumen Diary Mata Indigo (Halaman 80-85)