• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELAKSANAKAN DAKWAH DAN MEMBANGUN PERADABAN

Oleh Dr. M. Darin Arif Mu’allifin S.H., M.Hum

M

ustikanya hidup ada pada ilmu, mustikanya ilmu ada pada adabiyah, mustikanya adabiyah ada pada lelaku-perilaku-amal sholeh, sedangkan mustikanya lelaku-perilaku-lelaku-perilaku-amal sholeh ada pada kenikmatan-keselamatan. Untuk kepentingan itu semua Nabi Muhammad Saw. diutus Allah Swt. untuk memperbaiki akhlak-adabiyah umatnya.

Perwujudan dari uraian di atas maka hakikat pembangunan nasional Indonesia yang dijabarkan dalam tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam GBHN 1999, dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif, sehat jasmani dan rohani.

Memahami tujuan Pendidikan Nasional Indonesia tampaklah bahwa dalam rangka meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan tidak bisa dilepaskan dari unsur-unsur moral dan agama. Berkaitan dengan itu keberadaan Institut Agama Islam Negeri (Tulungagung) memiliki peran dan makna penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia. Hal ini relevan dengan pernyataan Albert Einstein, “Ilmu tanpa agama adalah buta, Agama tanpa ilmu adalah lumpuh”.1

Pernyataan dari Albert Einstein kepada mahasiswa California Institut Of Technologi tersebut patutlah direnungkan. “Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat

1 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka, 1996), hlm. 278-280.

kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”.2 Di samping itu perlu disimak imbuhan Profesor Ace Partadireja dalam pidato pengukuhannya selaku Guru Besar Ilmu Ekonomi di Universitas Gajah Mada, yang mengharapkan munculnya Ilmu Ekonomi yang tidak mengajarkan keserakahan,3 sehingga tidak timbul praktik-praktik ekonomi yang monopolistik-kapitalis.

Pengaruh negatif atas penggunaan yang salah dari ilmu pengetahuan dan teknologi pernah diucapkan oleh seorang ilmuwan, Bachtiar Rifa’i, sebagai berikut:

Memang tidak dapat disangkal bahwa dalam dasawarsa terakhir ini ilmu dan technologi telah mengalami perkembangan spektakuler yang tiada taranya dalam sejarah. Namun kemenangan gemilang itu dalam gejolak dan derap pembangunan, kita dihadapkan kepada krisis nilai-nilai insani (human values) dan masalah agar manusia itu tidak menjadi alat atau korban dari ciptaannya sendiri.4

Berangkat dari uraian tersebut di atas, timbul ide atau gagasan yang perlu mendapatkan pembahasan yang memadai, yaitu: bagaimana mewujudkan IAIN Tulungagung sebagai Kampus yang Beradab, dalam Berdakwah dan membangun peradaban.

Lembaga Ilmiah yang Integratif dalam Ilmu Pengetahuan dan Moral Agama

IAIN Tulungagung dalam konteks wawasan almamater adalah konsepsi yang mengandung anggapan-anggapan sebagai berikut:

1. Perguruan tinggi harus benar-benar merupakan lembaga ilmiah sedangkan kampus benar-benar merupakan masyarakat ilmiah.

2. Perguruan tinggi sebagai almamater (ibu asuh) merupakan suatu kesatuan yang bulat dan mandiri di bawah pimpinan rektor sebagai pimpinan utama. Keempat unsur sivitas akademika, yaitu pengajar, karyawan

2 Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Sebuah Karangan Tentang Hakikat Ilmu, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), hlm. 248.

3 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, hlm. 229.

4 Cony R. Semiawan dkk, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, (Bandung: Remaja Karya, 1988), hlm. 1.

IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban

adiministratif, mahasiswa dan alumnus harus manunggal dengan almamater, berbakti kepadanya dan melalui almamater mengabdi kepada rakyat, bangsa dan negara dengan jalan melaksanakan tri darma perguruan tinggi.

Keempat unsur sivitas akademika dalam upaya menegakkan perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah dan kampus sebagai masyarakat ilmiah, melaksanakan Tri Karya yakni: Institusionalisasi, Profesionalisasi, dan Transpolitisasi.

Tatakrama pergaulan di dalam lingkungan Perguruan Tinggi dan kampus didasarkan atas asas kekeluargaan serta menjunjung tinggi keselarasan dan keseimbangan sesuai dengan pandangan hidup Pancasila.5

Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu di IAIN Tulungagung dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada bidang pendidikan dan penelitian, juga sebagai perwujudan dari Tri Karya yakni, institusionalisasi dan profesionaliasi pada dasarnya memerlukan dua pertimbangan:

obyektivitas, yang tertuju pada kebenaran, merupakan landasan

tetap yang menjadi pola dasarnya. Dan nilai-nilai kemanusiaan

(moral), yang merupakan dasar, latar belakang dan tujuan

dari kegiatan keilmuan,6 serta nilai-nilai agama Islam sebagai kekhususannya.

Pertimbangan akan nilai-nilai tersebut sangat berpengaruh pada penentuan tujuan ilmu pengetahuan dan kegiatan pada umumnya. Berdasarkan pertimbangan nilai, maka pandangan para ilmuwan dapat dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu:

Para ilmuwan yang hanya menggunakan satu pertimbangan nilai yaitu nilai kebenaran dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan nilai-nilai metafisik yang lain, yaitu nilai etik, kesusilaan dan kegunaannya akan sampai pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Golongan ini menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataupun dipergunakan untuk

5 Badan Koordinasi Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Buku panduan Putra Alma mater Tahun 1986-1987, Malang hlm. 1.

6 Tim dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 1996), hlm. 55.

tujuan yang buruk.7

Para ilmuwan yang memandang sangat perlu dimasukkan pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran.

Menurut golongan ini netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya –bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuwan harus berlandaskan asas-asas moral. Tahap tertinggi dalam kebudayaan moral manusia, ujar Charles Darwin, adalah ketika kita menyadari bahwa kita seyogyanya mengontrol pikiran kita.8

Berdasarkan dua pandangan tentang kebenaran ilmu pengetahuan yang bebas nilai dan taut nilai, maka masalahnya terletak pada hakikat ilmu itu sendiri. Sebenarnya ilmu itu bersifat netral, tidak mengenal sifat baik dan buruk, manusialah yang menjadi penentu dengan kata lain netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologinya saja. Secara ontologis dan aksiologis, ilmuwan harus mampu menilai antara baik dan buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap. Dalam hal ini seorang ilmuwan harus memiliki moral yang kuat, agar supaya tidak menjadi (merupakan) momok bagi kemanusiaan.9

Seorang ilmuwan, di samping dituntut pertanggung jawab ilmiah, dituntut pula pertangguangan jawab etis, yang mengandung pengertian moral. Seorang filosof Prancis Emile Durkheim, dalam bukunya Moral Edukation memberi tiga unsur moral, yakni disiplin, sifat keterikatan pada kelompok dan otonomi kehendak manusia.10

Dari uraian tersebut di atas dapatlah diketahui bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya tidak bebas nilai tetapi terikat dengan nilai-nilai moral/etik dan nilai-nilai agama agar supaya kemanfaatan ilmu pengetahuan bisa betul-betul dinikmati oleh masyarakat. Tidak sebaliknya, yaitu sebagai pemusnah peradaban manusia.

Sebagai perwujudan konsep nilai-nilai tersebut di atas IAIN Tulungagung, menjabarkan dalam kurikulumnya seperti:

7 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, hlm. 235.

8 Ibid

9 Tim dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat, hlm. 61.

10 Slamet Sutrisno (ed.), Tugas Filsafat Dalam Pergembangan Budaya, (Yogyakarta: Liberty, 1986), hlm. 55-56.

IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban

Filsafat Pancasila maupun etika profesi untuk masing-masing Fakultas maupun Jurusan yang ada. Di samping itu di kampus ini telah berkembang tradisi keilmuan yang multieksen dan multikultural, seperti contoh di Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (FASIH) terdapat kajian pada Forum FASIH Mengaji, tentang masalah: Agama, Hukum serta IPOLEKSOSBUDHANKAM, yang diikuti dari kalangan kampus, instansi, profesi dan masyarakat. Pada Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) terdapat kajian-kajian seperti: Institut Transvaluasi, Institute for Javanese Islam Research, begitu pula yang dilakukan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Berkaitan dengan kajian-kajian multikultural tersebut, patut pula dipedomi ugeran: “Jowo digowo, Barat

diruwat, Arab digarap. Anglaras ilining banyu, ngeli tan keno keli.”

Tanggung Jawab dalam Berdakwah dan Membangun Peradaban

Dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi bidang pengabdian kepada masyarakat, serta pelaksanaan Tri Karya ketiga yakni transpolitisasi, sivitas akademika (sebagai personifikasi) dari IAIN Tulungagung harus bertanggungjawab terhadap apa yang telah diperolehnya. Tanggung jawab seorang ilmuwan bukan saja dalam arti normatif (misalnya erat berkaitan dengan moral yang lebih bersifat legalistik), melainkan juga dalam arti kedudukan manusia itu diantara manusia-manusia lain (sosial). Di sinilah perlu dikaji lagi aspek aksiologis dari ilmu.11

Arti tanggung jawab di atas mengandung makna “penyebab”, “bertanggung jawab atas” memang menunjukkan suatu hubungan kausalitas. Subjek yang bertanggung jawab dianggap penyebab salah satu akibat yang telah berlangsung, subjek yang telah menyebabkan sesuatu itu dapat diminta penjelasannya, dan subjek itu tidak saja dapat menjawab, tetapi juga harus menjawab.

Oleh karena itu, tanggung jawab itu adalah suatu cara tak langsung berbicara tentang manusia yang mempraktikkan, menerapkan dan menggunakan ilmu pengetahuan.

Mengapa ilmuwan harus bertanggung jawab? Hal ini

karena dalam arti setiap ilmuwan terdapat kewajiban etis keinsyafan etis.

Kewajiban Etis

Kewajiban etis selalu menyadari adanya ketegangan antara yang seharusnya ada yang pada kenyataannya ada. Pada kenyataannya terdapat ketidakadilan, tetapi seharusnya tidak ada. Maka dari itu kewajiban manusia adalah mengejar pengadilan. Pada kenyataannya terjadi pembunuhan, tetapi seharusnya tidak boleh terjadi. Pada kenyataanya ilmu pengetahuan disalahgunakan, padahal seharusnya tidak.

Keinsyafan Etis

Keinsyafan etis mencakup lebih banyak daripada kewajiban etis. Keinsyafan etis menyangkut juga ketegangan antara yang seharusnya ada dan yang pada kenyataannya ada, tetapi dalam karangan yang lebih luas. Sebab, keinsyafan etis itu tidak menyangkut apa yang seharusnya ada begitu saja, melainkan apa yang sebetulnya seharusnya ada.12

Berdasarkan uraian di atas dapat disampaikan betapa pentingnya seorang ilmuwan suatu kepekaan besar terhadap konsekuensi-konsekuensi etis ilmunya. Sebab dialah satu-satunya orang yang dapat mengikuti dari dekat perkembangan-perkembangan yang konkrit. Seorang ilmuwan berdasarkan pengetahuannya memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi sehingga tanggung jawa sosial seorang ilmuwan dalam hal ini adalah berdakwah yakni memberikan perspektif yang benar, untung dan ruginya, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.

Dalam kaitannya dengan kegiatan berdakwah ini, perlu dipahami, dipedomi dan dilaksanakan Lima Landasan untuk amar makruf nahi munkar dari Kanjeng Sunan Kalijogo, yakni:

Prasaja, Prayoga, Pranata, Prasetya dan Prayitna. Prasaja,

bermakna hidup sederhana supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Prayoga, bermakna mengamalkan yang baik-baik saja, sehingga menjadi teladan hidup. Pranata, bermakna menghormati dan mentaati peraturan dan perundangan. Prasetya, bermakna menetapi dan sekaligus bertanggung jawab, mempunyai tekad yang kuat untuk

IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban

melaksanakan sesuatu.Prayitna, bermakna berhati-hati dalam melaksanakan tugas, waspada, tidak sembrono.13

Kanjeng Sunan Panjalu dalam kaitan dengan kegiatan dakwah berpesan, “Waru bengkong lurusno, Turi ambruk

dekno, Kaline Brantas iwake yo dibrantas supoyo tambah akeh”, yang dapat dimaknai pada zaman sengoro-sekarang

ini yang ditandai perilaku saru-tidak pantas (biadab) dengan sikap welas asih dan kasih sayang berikan pitutur luhur dan bijaksana pada jalan lurus kebenaran kepada sesama, sampai dilakukannya sedekah sebagai amal sholeh.

Sebagai perwujudannya kampus IAIN Tulungagung berkomitmen mewujudkan Kampus Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), semoga, aamiin.

Kegiatan dakwah dari sivitas akademika IAIN Tulungagung, salah satunya dilaksanakan melalui Biro Penyuluhan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BPKBH) IAIN Tulungagung, memberikan Penyuluhan, Konsultasi, Pelatihan serta Bantuan Hukum kepada masyarakat, melalui kerjasama Instansional seperti dengan Pengadilan Agama Tulungagung, Pengadilan Agama Blitar dan Pengadilan Agama Kabupaten Kediri, membantu masyarakat yang tidak mampu secara finansial maupun intelektual guna memperoleh keadilan oleh Alumni Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum pada Pos Layanan/Bantuan Hukum Pengadilan, semoga bermanfaat.

Berkaitan dengan tugas membangun peradaban, pada dasarnya ilmu dan ilmuwan mendukung pengembangan kebudayaan manusia (masyarakat), sehingga mampu mengembangkan peradaban dan kesejahteraan manusia atau masyarakat tersebut. Jujun S Suriasumantri memberikan beberapa pemikiran tentang langkah-langkah yang sistematik dan sistemik untuk meningkatkan peranan dan kegiatan keilmuan serta ilmuwan, yang pada pokoknya sebagai berikut:

Ilmu merupakan bagian dari kebudayaan dan oleh sebab itu langkah-langkah ke arah peningkatan peranan dan kegiatan keilmuan harus memperhatikan situasi kebudayaan masyarakat kita. Hakikat ilmu itu sendiri adalah universal namun peranannya dalam kehidupan tidaklah terlepas dari matrik kebudayaan

13 Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga, Mistik dan Makrifat, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2013), hlm. 234.

secara keseluruhan.

Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran-kebenaran. Di samping ilmu masih terdapat cara-cara lain yang sah sesuai dengan lingkup pendewaan terhadap akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran harus dihindarkan.

Asumsi dasar dari semua kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah rasa percaya kepada metodeyang dipergunakan dalam kegiatan tersebut. Oleh sebab itu salah satu langkah yang penting dalam peningkatan peranan ilmu pengetahuan dalam masyarakat adalah jalur meninggikan integritas, ilmuwan dan lembaga keilmuan. Dalam hal ini maka modus operandinya adalah melaksanakan dengan konsekuen kaidah moral dari keilmuan.

Pendidikan keilmuan harus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral. Makin pandai seseorang dalam bidang keilmuan, maka harus makin luhur landasan moralnya.

Pengembangan bidang keilmuan harus disertai dengan pengembangan dalam bidang filsafat terutama yang menyangkut keilmuan. Pengembangan yang seimbang antara ilmu dan filsafat akan bersifat saling menunjang dan saling mengontrol terutama terhadap landasan epistemologis (metode) dan aksiologis (nilai) keilmua.

Kegiatan ilmiah haruslah bersifat otonom yang terbebas dari kekangan struktur kekuasaan. Untuk itu kebebasan mimbar akademik yang didukung oleh tradisi keilmuan yang sehat harus dijunjung tinggi. Kecuali dalam hal yang sangat penting dan fondamental seyogyanya dikontrol secara ketat oleh segenap pihak yang kepentingannya terlibat.14

Berdasarkan uraian tersebut di atas, sebagai upaya konkrit meningkatkan rasa tanggung jawab lembaga ilmiah dan masyarakat ilmiah, sivitas akademika IAIN Tulungagung harus beradab lebih dahulu, sebelum melaksanakan dakwah guna membangun peradaban.

Sebagai kesimpulan dari gagasan yag menjadi pembahasan tersebut di atas dapat diambil pokok-pokok pikiran sebagai berikut :

1. Tujuan Ilmu dalam lembaga ilmiah dan masyalakat ilmiah adalah dalam rangka menemukan kebenaran

IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban

guna meningkatkan peradaban dan harkat kemanusiaannya, tidak bisa dilepaskan dari nilai nilai moral, etika dan agama.

2. Tanggungjawab lembaga ilmiah dan masyarakat ilmiah, melalui sivitas akademikanya adalah melaksanakan dakwah guna membangun peradaban yang menyelamatkan dan membahagiakan.

Sebagai akhir dari tulisan ini, perlulah sebuah saran diberikan dengan mensitir kata-kata dari lagu Indonesia Raya yang digubah oleh WR. Supratman”...Bangunlah Jiwanya

Bangunlah Badannya...”. Melalui IAIN Tulungagung yang

beradab dengan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi dan Birokrasi Bersih dan Melayani, dilaksanakan Dakwah guna membangun Peradaban yang membahagiakan dan menyelamatkan semuanya berdasarkan Pancasila dan Agama... Aamiin.

RUJUKAN

Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga Mistik dan Makrifat, Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2013.

Badan Koordinasi Kemahasiswaan Universitas Brawijaya, Buku

panduan Putra Almamater Tahun 1986-1987, Malang.

Cony R. Semiawan dkk, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, CV. Remaja Karya, Bandung,1988.

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, Sebuah Karangan

Tentang Hakikat Ilmu, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,

1995.

___________________, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pustaka, Jakarta, 1996.

Slamet Sutrisno (ed.), Tugas Filsafat Dalam Pergembangan

Budaya, Yogyakarta: Liberty, 1986.

Tim dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 1996.

Dr. H. M. Darin Arif Mu’allifin S.H.,M.Hum adalah

Lektor Kepala (IV/a) pada Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, Dosen dengan Tugas Tambahan sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Ketua Jurusan Hukum Tata Negara Islam, Ketua Biro Penyuluhan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BPKBH) IAIN Tulungagung, Koordinator Posbakum pada Pengadilan Agama Tulungagung, Pengadilan Agama Blitar, dan Pengadilan Agama Kabupaten Kediri, Pengurus Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Jawa Timur.

IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban

22

IAIN TULUNGAGUNG: