Oleh Khabibur Rohman, M.Pd.I
S
aat masih berstatus mahasiswa dulu, saya kerap mengolok-olok para mahasiswa yang berasal dari Jurusan PGMI. Bagi saya kala itu, untuk menjadi seorang guru di sekolah dasar seseorang tak perlu repot-repot kuliah selama 4 tahun. Tentu saja karena menurut saya pelajaran yang diajarkan di sekolah dasar sangatlah mudah. Seorang lulusan SMA menurut saya sanggup jika diminta untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran di sekolah dasar. Bagi saya kala itu, kuliah selama 4 tahun dan hanya bercita-cita menjadi guru SD adalah sebuah kesia-siaan. Hal tersebut tentu sangat berbeda dengan jurusan yang saya ambil semasa kuliah, pendidikan matematika. Matematika bergengsi dan menghadirkan banyak tantangan, selain juga matematika sering kali dijadikan parameter kecerdasan seseorang. Saya berasumsi bahwa matematika unggul telak atas PGMI.Saya akhirnya tahu, bahwa saya telah berada pada kesesatan dalam berpikir. Setiap orang yang menganggap bidang keilmuannya lebih unggul dari bidang keilmuan yang lain adalah mereka yang terperangkap di bawah tempurung pengetahuannya yang sempit. Padahal dia akan mendapati pengetahuan yang maha luas di luar tempurung pengetahuannya tersebut. Setiap bidang keilmuan tentu memiliki kontribusi masing-masing, begitu pun dengan matematika dan pendidikan dasar.
Buku dan pengalaman mendewasakan cara berpikir saya, lewat keduanya saya akhirnya tahu bahwa menjadi guru di sekolah dasar tidak sesederhana yang saya kira, tidak sesepele
IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban
sebagaimana yang saya duga. Sebaliknya, pendidikan di tingkat dasar justru teramat krusial dalam perjalanan seorang manusia. Plato bahkan dengan tegas mengatakan bahwa arah yang diberikan pendidikan untuk mengawali hidup seseorang akan menentukan masa depannya. Kualitas pendidikan di tingkat dini atau dasar akan mempengaruhi masa depan seseorang.
Masa depan bangsa Indonesia dipersiapkan di ruang-ruang kelas. Bagaimana wajah bangsa kita di peridode yang akan datang, sangat tergantung dari bagaimana cara kita memperlakukan anak-anak yang berada di periode emas pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar. Mereka (para peserta didik) yang sedang duduk manis di sana adalah calon presiden, calon pembuat kebijakan, calon dokter, calon polisi, calon pelaku utama dalam drama kehidupan di era yang akan datang.
Memberikan anak-anak bekal yang cukup untuk menghadapi masa depan berarti juga berupaya agar masa depan mereka lebih baik. Wajah anak-anak adalah gambaran masa depan. Jadi seperti apa masa depan negri ini di masa mendatang, tergantung bagaimana kita mempersiapkan mereka saat ini. Apakah mereka akan menjadi pribadi yang baik atau justru destruktif. Apakah mereka akan siap dengan tantangan masa depan atau tidak tergantung bekal yang mereka miliki saat itu, dan hal itu mereka peroleh saat mereka berada di bangku sekolah dasar.
Teman belajar (guru) yang tepat apalagi hebat, akan sangat berpengaruh pada masa depan bangsa ini. Siapapun yang turun tangan mengambil bagian di tempat-tempat anak itu dididik, maka kita sama saja sedang mempersiapkan masa depan yang jauh lebih baik buat Indonesia. Sekali lagi saya akan membuat penekanan, bahwa jika berharap masa depan bangsa ini lebih baik di masa mendatang, maka mari ambil bagian di ruang-ruang kelas.
Menjadi Pengajar di Tingkat Dasar
Jalan takdir mengantarkan saya pada kesempatan menjadi guru di salah satu sekolah dasar di Tulungagung. Kesempatan tersebut saya peroleh bersamaan dengan studi saya di Program Pascasarjana IAIN Tulungagung untuk Jurusan Ilmu Pendidikan Dasar Islam. Masa itu saya menjalani rutinitas yang relatif
mengikat, terutama jika dibandingkan dengan rutinitas saya saat S1. Setiap pagi dari hari Senin sampai Sabtu saya harus mengajar di SD sebagai guru kelas dari pukul 07.00 hingga 15.00. Sebuah aktifitas yang cukup menguras energi dan pikiran. Belum lagi jarak antara tempat saya tinggal dan sekolah yang terbilang cukup jauh. Anehnya, saya benar-benar menikmati masa-masa itu. Bercengkrama dengan anak-anak, menjawab beraneka pertanyaan yang bersumber dari keingintahuan mereka pada banyak hal, dan serangkain hal-hal menyenangkan lainnya.
Masa-masa menjadi guru di sekolah dasar benar-benar sangat berkesan dalam hidup saya. Belum lagi kesempatan dari kepala sekolah yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi wali kelas di kelas 3. Tugas tersebut memberikan peluang kepada saya untuk menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari di satu kelas. Di sana saya belajar banyak hal seputar anak, pendidikan, dan tentu saja kehidupan.
Saya memang hanya mengajar di sekolah dasar selama lebih kurang 6 bulan atau satu semester, karena saya harus
resign agar bisa lebih fokus menyelesaikan tugas akhir program
pascasarjana yang saya ambil. Tapi saya merasakan kemanfaatan yang luar biasa dari pengalaman tersebut. Satu dari sekian banyak hal yang saya peroleh adalah keyakinan bahwa setiap anak terlahir berbeda dan istimewa. Setiap dari mereka terlahir dengan membawa potensi yang luar biasa, dan kita para orang dewasalah yang berkewajiban mendampingi proses belajar mereka. Akan sangat disayangkan anak-anak tidak memperoleh teman belajar yang tepat, tidak mendapat guru yang tepat. Potensi-potensi yang mereka miliki bisa saja tidak berkembang secara optimal. Keyakinan itulah yang mengantarkan saya pada mimpi untuk menjadi dosen di PGMI, mempersiapkan para calon guru di tingkat dasar.
Membangun Peradaban dari Ruang Kuliah
Tiada untai kata yang lebih pantas terucap selain rasa syukur kepada Tuhan penguasa jagad raya, untuk nikmat-Nya yang tak terhitung jumlah. Kembali saya mendapat kesempatan
ngangsu kaweruh tentang pendidikan dasar, kali ini sebagai
dosen di IAIN Tulungagung, atau lebih tepatnya pada jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. Sebuah pekerjaan yang memberikan peluang kepada saya untuk mendampingi proses
IAIN Tulungagung Membangun Kampus Dakwah dan Peradaban
belajara para calon guru di tingkat dasar.
Kita tidak perlu lagi berdebat tentang betapa besar peran strategis seorang guru dalam pengembangan karakter peserta didik, sudah pasti sangat besar. Guru merupakan sosok teladan atau bahkan idola bagi peserta didik. Para peserta didik menempatkan guru sebagai sosok yang terhormat, yang dijadikan sumber motivasi dan inspirasi. Tak salah jika para peserta didik menjadikan setiap ucapan dan tindakan guru sebagai rujukan dalam bersikap. Hal tersebutlah yang membuat saya berbahagia dengan peran saya sekarang, mendampingi kegiatan pembelajaran para calon-calon guru di tingkat dasar.
Ada sebuah uangkapan yang mengatakan bahwa cara termudah untuk belajar adalah dengan cara menjadi pendamping belajar orang lain, mengajar. Saya sangat sependapat dengan ungkapan tersebut. Saya mendapatkan banyak hal selama menjadi pengajar, baik di tingkat dasar maupun di perguruan tinggi. Selain bisa mengulang kembali apa yang pernah saya peroleh di bangku kuliah dulu agar tidak lapuk di otak, dengan menjadi dosen pengetahuan-pengetahuan yang dulunya tak berhasil sama pahami sendiri kini terjelaskan lewat diskusi bersama mahasiswa.
“Pilih pekerjaan yang Anda cintai, dan Anda tidak akan pernah harus bekerja sehari pun dalam hidup Anda” begitu kata Confucius. Pekerjaan menjadi dosen adalah pekerjaan yang benar-benar saya cintai. Selain bisa terus bisa bergumul dengan ilmu pengetahuan, saya juga diberikan kesempatan mendampingi proses belajar para calon guru. saya sungguh memiliki keyakinan yang teramat besar, bahwa pendidikan adalah sarana yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas kehidupan dan kemanusiaan. Dan langkah paling nyata memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan cara memperbaiki pendidikan di tingkat dasar.
Khabibur Rohman, M.Pd.I, adalah dosen yang
dilahirkan dari rahim IAIN Tulungagung. Studi S1 dan S2 ditempuh di almamater yang sama dengan tempat dia mengabdikan dirinya saat ini, kampus dakwah dan peradaban IAIN Tulungagung. Gemar membaca novel dan mengajar. Menghabiskan waktu berjam-jam dalam sehari di depan laptop sebagai juru ketik LP2M IAIN Tulungagung.