• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengurai Kode-Kode Wacana

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 184-190)

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

E. Mengurai Kode-Kode Wacana

Pada periode peralihan ke post-strukturalis, Roland Barthes tetap mempertahankan signifikasi “struktur”. Ia tidak lantas membuang begitu saja pemikiran struktur a

la Saussure. Namun, ia kemudian memperlakukan

“struktur” dan “makna” sebagai sesuatu yang bersifat dinamis, labil, bergerak, berubah, bertransformasi, dan berinteraksi, sehingga dengan sifat-sifat demikian produktivitas “struktur” dan “makna” dapat diciptakan. Dalam fase post-strukturalisnya, Roland Barthes menngalihkan objek analisisnya dari “struktur tanda dan makna” ke analisis kode, yaitu cara kombinasi tanda-tanda di dalam teks. Struktur tanda-tanda dan tafsir makna tidak lagi dianggap penting atau bahkan oleh Derrida dianggap sebagai sebuah “kemustahilan”. Barthes dalam S/Z mengemukakan lima jenis kode yang lazim beroperasi dalam sebuah teks.

1. Kode hermeneutik (hermeneutik code) yaitu kode yang melahirkan sebuh teks menampilkan pertanyaan atau teka-teki dengan berbagai cara, respons-respons terhadap pertanyaan tersebut, mencari solusi, menunda jawaban atau meninggalkan sebuah enigma. Kode ini merupakan kode “penceritaan” yang dapat

mempertajam permasalah suatu narasi, menciptakan ketegangan dan misteri, sebelum memberikan pemecahan atau jawaban. Huruf

al-Muqaththa’ah (huruf-huruf pembuka beberapa

surat al-Qur’an), seperti Alif Lâm Mìm (dalam pembukaan surat al-Baqarah) mengandung enigma seperti itu, yang menimbulkan teka-teki yang harus dijawab.

2. Kode semantic (semantic code) atau kode konotatif (connotative code), yaitu kode konotasi yang memberikan isyarat, petunjuk, “kilasan makna” atau kemungkinan makna yang ditawarkan oleh sebuah penanda. Misalnya, tambahan huruf “ta” dalam verba Arab ‘fa’alat’ menunjukkan verba feminin (muannats), demikian pula tambahan huruf –wati dalam wisudawati menunjukkan “feminimitas”. Pada tataran tertentu kode semantik atau konotatif ini, serupa dengan “tema” atau “struktur tematik” yang populer di kalangan kritikus sastra Anglo-Amerika

3. Kode simbolik (symbolic code), yaitu kode yang menawarkan “kontras” atau “anti-tesis” pada sebuah teks, seperti siang-malam, feminin-maskulin, dan terbuka-tertutup. Frase ‘mimpi-siang’ mengandung sifat antitesis ini, sebab mimpi biasanya konotasinya dengan ‘malam’. Kode ini pun merupakan kode “pengelompokan” atau “konfigurasi yang gampang dikenali, berulang-ulang secara teratur melalui berbagai cara dan sarana tekstual.

4. kode proairetik (proairetic code), yaitu kode ‘tindakan’ atau ‘narasi”, yakni urutan-urutan di dalam sebuah tindakan atau cerita. Kode ini didasarkan atas konsep proairesis, yakni “kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat

dari suatu tindakn secara rasional”. Misalnya di dalam al-Qur’an, penggambaran proses turunnya ayat-ayat merupakan sebuah kode proairetik. 5. Kode budaya (cultural code) atau referensial,

yaitu kode yang berasal dari ‘suara-suara kolektif’ yang anonim dan otoritatif mengenai pengetahuan atau kebijaksanaan atau moralitas yang “diterima bersama”, misalnya kesucian, kesakralan, atau baik dan buruk.

Roland Barthes menandai berbagai kategori kode tersebut berdasarkan batas epistemologisnya, seperti

kode gaya (gaya fashion, gaya furniture, dsb.), kode citraan visual (iklan, film, dsb.), kode tingkah laku

(upacara, etika, bahasa tubuh, dsb.), kode ideologi (agama, lembaga moral, struktur keluarga, dsb.), dan

kode narasi (mitos, komik, dsb.). kode-kode Barthes

tersebut didaptasi oleh Yasraf (2003:255) untuk menjelaskan estetika posmodernisme hubungannya dengan makna dan ekspresi. Adaptasi Yasraf tersebut sebagaimana terlihat dalam diagram berikut:

Kode Makna Ekspresi

Hermeneuti

ka - Efek provokatif - Enigma - Parodi

Semantik - Konotatif - Feminim/makskulin - Pervesitas - Normal/Abnormal - Pastich e - Kitsch Camp Simbolik - Fargmen-fragmen Makna - Ketidakmungkinan Makna - Makna kontradiktif - Skizofrenik

Proairetik - Naratif atau

antinaratif - Linear/Sirkular

- Pastich e - Kitsch

- Camp

Kultural - Mitologis

- Ideologis

S

S

EMIOTIKEMIOTIK

S S

OSIALOSIAL

M.A.K. H

M.A.K. H

ALLIDAYALLIDAY

A. Prolog

Linguistik pada dasarnya merupakan bagian-bagian dari semiotik yang khusus mempelajari bahasa. Bahasa sebagai sistem sistem tanda atau simbol untuk mengekpresikan nilai dan norma kultural dan sosial suatu masyarakat tertentu di dalam suatu proses sosial kebahasaan. Adalah M.A.K Halliday dengan koleganya beserta muridnya mengembangkan semiotik sosial sebagai pendekatan studi makna. Pendekatan ini tidak melihat bahasa sebagai suatu entitas yang secara otomatis dirujuk sebagai hubungan antara ‘yang ditandai’ dan ‘yang menandai’. Aliran semiotiknya dikenal pula dengan sebutan semiotik behavioris yang mengembangkan teori semiotik dengan jalan memanfaatkan temuan-temuan baru dalam psikologi yang tentunya berpengaruh pada linguistik. Pendekatan psikologi Halliday berbeda dengan kaum Behavioris lainnya. Kaum behavioris, misalnya Bloomfield, dalam linguistik membahas makna bahasa sebagai siklus stimuli dan respon. Orang berbahasa karena adanya stimulus dan respon, yang harus mereka respon melalui bahasa. Dengan demikian, Blommfield melihat bahasa bukan sebagai fenomena semiotis melainkan fenomena psikologis behavioristik atau perilaku. Tidak ada yang salah dalam pandangan Bloomfield ini, hanya saja pandangan seperti ini menegasikan kenyataan bahwa bahasa merupakan

sistem simbol yang digunakan untuk berinteraksi di dalam masyarakat.

Sebenarnya, aliran semiotik Halliday memiliki banyak sebutan, terutama sebutan yang “berbau” linguistik, antara lain adalah: Tata Bahasa madhab

Halliday, Scale and Category Linguistics dan Systemic Linguistics; yang istilah bahasa Indonesianya adalah Linguistik Sistematik. Mengapa madhab ini cenderung

disebut sebagai Linguistik Sistematik karena dalam

Linguistik Sistematik terdapat pengetian bahwa

linguistik membedakan fungsi dalam konteks paradigma dan fungsi dalam konteks sistematika. Konteks

sistematik dikenal juga sebagai struktur bahasa. Sistem menyebabkan orang dapat menginterpretasikan

hubungan paradigmatik sedangkan struktur bahasa memungkinkan orang menginterpretasikan hubungan sistematika. Madzhab Halliday juga sering disebut sebagai neo-Firthian karena madzhab ini diilhami oleh madzhab Firthian yang dikembangkan oleh seorang guru besar general linguistics di universitas London yaitu Firth.

Pendekatan ini lebih melihat bahasa sebagai 1) suatu realitas, 2) realitas sosial dan sekaligus sebagai 3) realitas semiotik. Sebagai suatu realitas bahasa merupakan fenomena pengalaman fisis, logis, psikis, atau fenomena filosofis penuturnya dalam konteks situasi dan konteks kultural tertentu. Kemudian sebagai realitas sosial, bahasa merupakan fenomena sosial yang digunakan masyarakat penuturnya untuk berinteraksi dan berkomunikasi di dalam konteks situasi dan konteks kultural tertentu. Yang terakhir, bahasa sebagai realitas semiotik, bahasa merupakan simbol yang merealisasikan realitas-realitas sosial di atas dalam konteks situasi dan konteks kultural tertentu pula. Oleh karena itu, ketiga realitas tersebut berfungsi atau bekerja secara simultan dalam mengekspresikan makna

atau fungsi sosial tertentu.

Dengan demikian konsep semiotik ini lebih melihat bahasa sebagai sistem makna yang diperoleh melalui jaringan hubungan antara sistem sosio kultural suatu masarakat dan sistem bahasa yang dipakainya. Sistem sosio kultural suatu masyarakat sebetulnya menjadi sumber sistem makna (meaning system resources)

sedangkan bahasa merupakan bidang

pengungkapannya (semiotic resources). Akhirnya dari penjelasan di atas akan diperoleh batapa pentingnya mempelajari bahasa dalam perspektif semiotik sosial, selain dapat meluruskan kembali bidang semiotik yang sebenarnya juga yang paling penting adalah dengan pendekatan ini pembaca akan memperoleh pemahaman holistik dari suatu fenomena proses sosial yang menggunakan bahasa.

B. Kebudayaan Sebagai Jaringan Sistem Semiotik

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 184-190)