• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serpihan identitas Diri

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 131-139)

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

A. Serpihan identitas Diri

A

KTANSIALKTANSIAL

A.J. G A.J. G

REIMASREIMAS

Greimas, yang bernama lengkap Algirdas Julien Greimas, terlahir di Lithuania pada tahun 1917 dan meninggal dunia pada tahun 1992. Ia pertama kali datang ke Prancis untuk belajar hukum di Universitas Grenoble. Di kota inilah, minatnya pada kultur Abad Pertengahan muncul secara menggebu. Sesudah menyelesaikan Licence es lettres pada tahun 1939, Greimas mulai mempelajari dialek Franco-provencale. Ia kembali ke Lituania pada tahun 1940, hanya untuk menyaksikan invasi yang dilakukan oleh Jerman dan Russia. Setelah kembali ke Prancis pada tahun 1944, ia memulai program doktoralnya yang berpuncak, dan berhasil menyelesaikan tesisnya pada tahun 1948 tentang mode bertajuk Le Mode de l’epoque (mode pada tahun 1830-an). Inti tulisannya merupakan essai deskriptif tentang pembendaharaan kata vestimentary dalam surat kabar masa itu. Buku ini, pada gilirannya memberikan nuansa pada karya Roland Barthes, The

Fashion System, yang pada awalnya dibuat sebagai

tesis doktor Barthes.

Pada tahun 1956, Greimas menerbitkan sebuah artikel yang berpengaruh dan penting tentang karya Saussure, yang memanfaatkan karya dua tokoh penting lainnya, yaitu Maurice Merlaeu-Ponty dan Claude Levi-Strauss. Sepuluh tahun kemudian, dalam tahun-tahun penuh kenangan strukturalisme, terutama tahun 1966, bersama Roland Barthes, J. Dubois, dan tokoh lainnya, Greimas mendirikan jurnal Langages dan menerbitkan karya awalnya tentang semantik struktural, yaitu

semantique structurale (semantik struktural). Bersama

Todorov, Kristeva, Genette, Metz, dan lainnya, Greimas juga menjadi anggota penelitian semiotik milik kelompok Levi-Strauss di College de France.

Kertas kerja yang pernah diselesaikan oleh A.J. Greimas di antaranya adalah Structural semiotics: An

Writings In Semiotics Theory (1970), Maupassant: The Semiotics of the Text (1976), The Social Sciences: A Semiotic View (1976), Du Sens II: Essais Semiotique

(1983; diterjemahkan menjadi Narrative Semiotics and

Cognitive Discourse oleh Paul Perron dan Frank Collins), Of Gods and Men: Studies in Lithuanian Mythology

(1985), dan The Semiotics of Passion (1991). B. Figurasi Wacana Naratif

Dalam sebuah pernyataan terbuka yang ditulis pada tahun 1975 tentang hubungan antara karyanya dengan karya Vladimir Propp, A.J. Greimas menuliskan:

Sekarang ini meskipun nilai heuristiknya agak berkurang dan meskipun pandangan itu tidak terlalu asli, kita masih tergoda untuk mengikuti contoh Propp, dan menggunakan prinsip untuk bergerak dari yang diketahui ke hal yang tidak diketahui, dari yang sederhana ke hal yang rumit, dari cerita rakyat (sastra lisan) ke sastra tulisan, dalam upaya kita untuk membenarkan model teoretis parsial dan bahkan pada fakta yang tidak teratur, agar pengetahuan kita tentang narasi dan organisasi diskursif menjadi semakin meningkat.

Tulisan Greimas ini pada dasarnya mengandung beberapa kritiknya; Pertama, bahwa “contoh dari Propp” dalam mengembangkan model cerita rakyat Rusia— meskipun terkenal sangat kaku—masih mempengaruhi karya para ahli semiotik dalam tahun 1970-an yang terilhami secara ilmiah. Kedua, Greimas mengingatkan pembaca tentang kekeliruan pandangan mengenai konsep metafisis. Konsep metafsisis disebutkan, yakni “pegerakan dari ‘yang diketahui ke hal yang tidak diketahui’, ‘dari yang sederhana ke yang rumit’, dan bahkan ‘dari sastra lisan ke tulisan’. Hal ini tampaknya datang dari suatu perwatakan filosofis tertentu yang memberi momentum pada semiologi Greimas, namun pada saat yang sama sangat ingin ia hindari atau ia

ingin ubah. Mengikuti Greimas, upaya untuk menyandarkan diri, secara implisit, pada kerangka metafisis seperti itu atau pada sekumpulan asumsi, akan berakibat dikacaukannya semiotik dengan lingkungan ontologi atau ke-mengada-an itu sendiri.

Penyebabnya adalah karena saat ingin memisahkan lingkungannya dari lingkungan ekstra-lingual, linguistik cenderung memunculkan masalah yang bersifat konseptual bahkan bersifat empiris. Greimas tidak lari dari masalah ini, tetapi bergerak lebih jauh dari ahli semiotik lainnya dalam mengembangkan teori wacana semiosis (naratif) dan dalam menyadari segala kesulitan yang datang saat mengaplikasikannya. Buah dari upaya untuk pembacaan kritis Greimas ini dimaksudkan agar semiotik menjadi ilmiah, sekalipun beresiko menjadi positivistik.

Secara implisit di dalam kutipan di atas bahwa Greimas menyinggung persoalan wacana naratif. Konsep wacana Greimas, merujuk pada konsep wacana Benveniste, yaitu “bahasa sebagaimana yang dipakai oleh penutur bahasa’. Oleh sebab itu, wacana itu adalah bahasa sebagaimana ia dipakai. Bagi Gerimas, wacana naratif tidak akan sempurna, tanpa wacana deskriptif. Untuk itu, Greimas berusaha memformulasikan suatu teori untuk menganalisis berbagai wacana yang dapat berlaku secara universal, yakni bertumpu pada wacana naratif dan deskriptif. Melalui kedua wacana ini, Greimas berusaha keras melakukan konfigurasi intelektual dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Ia menulis wacana hukum, khususnya hukum Prancis yang terkait dengan berbagai perusahaan, dagang, dan menunjukkan bahwa “dalam kaitannya dengan bentuk, setiap diskursus hukum datang dari tata bahasa hukum yang berbeda dari tatabahasa alami yang memunculkan diskursus ini”.

generatif. Dalam teori ini, Greimas membedakan tiga

ranah bagi pemaknaan sebuah wacana, yaitu ranah “struktur teks”, “struktur semio-naratif”, dan “struktur kewacanaan. Yang pertama, “struktur teks”, merupakan ranah permukaan teks yang tidak merupakan isi teks itu, tetapi sesuatu yang dapat diindera (dicerap oleh pancaindera). Akan tetapi, ia merupakan suatu perangkat struktur yang berlapis-lapis yang terdiri atas “tataran bawah” dan “tataran atas”. Ini mirip dengan “teori tataran” (theorie des niveaux) yang antara lain dikemukakan oleh Benveniste (1974), yang mengemukakan bahwa setiap tataran dalam bahasa (fonem, morfem, sintagma, klausa, kalimat, atau teks) membentuk suatu kesatuan dari “bawah” ke “atas” dan satuan “bawah” terintegrasikan dengan satuan di atasnya untuk memperoleh makna. Bagi Greimas, pada “tataran bawah” terdapat unsur-unsur yang belum menjadi tanda dan belum bermakna. Unsur-unsur “tataran bawah” itu (yakni fonem-fonem dalam bahasa) baru bermakna bila terintegrtasi pada “tataran atas”, yakni tataran tekstual.

Pada analisis Greimas, hal yang diutamakan adalah teks yang mengintegrasikan semua unsur pada tataran di bawahnya. Dua ranah lainnya adalah yang terdapat pada tataran di dalam dan merupakan isi wacana yang bersangkutan, yaitu struktur semio-naratif dan struktur

kewacanaan. Dalam struktur semio-naratif dapat

ditemukan kaidah-kaidah umum (semacam langue). Jadi struktur semio-naratif dapat ditemukan pada berbagai jenis sistem kode (verbal dan non-verbal). Struktur

semio-naratif tidak terikat konteks atau pun setting

(tempat dan waktu). Struktur kewacanaan berkaitan dengan berbagai jenis aktor dalam berbagai setting, sehingga berada lebih di “atas” (lebih dekat dengan struktur teks) dibandingkan dengan struktur

Satuan-satuan analisis dari konsep Greimas yang berbeda dari linguistik konvensional adalah salah satu petunjuk tentang adanya tata bahasa satuan yang diformalisasikan, dan tentang adanya kemungkinan model hubungan antara satuan-satuan ini. Greimas menyadari pentingnya suatu sistem; baginya satu buah tanda tidak melakukan penandaan. Walaupun demikian, tidak seperti Saussure, Greimas menekankan bahasa sebagai suatu “kesatuan struktur penandaan” yang mensyaratkan bahwa suatu sistem itu sebelumnya sudah ada, tetapi ia tetap harus diartikulasikan atau dibentuk. Oleh sebab itu, cara kerja tatabahasa menjadi pusat perhatian penelitian Greimas, sebagaimana dilakukan oleh Merleau-Ponty. Selain itu, meskipun Greimas mempelajari hubungan antar usnur wacana— paling tidak wacana naratif—namun bukan hanya kualitas substanstif unsur-unsur ini, ia juga mengambil jarak terhadap dorongan idealis Saussure.

Perbedaan analisis wacana naratif yang dicanangkan Greimas dari linguistik konvensional adalah ketika analisis wacana naratif tidak terlalu memfokuskan kajiannya pada ‘kata’ maupun ‘kalimat’, tetapi bertumpu pada suatu jaringan yang memunculkan makna di dalamnya (discourse; wacana). Bagi Greimas pengertian tentang suatu ‘jaringan hubungan’ berjalan seiring dengan pemakaian bahasa, suatu semantik struktural akan menjadi suatu semiotik naratif saat makna diubah menjadi satuan-satuan analisis yang

menjelaskan pembentukan makna dalam satu konteks

tertentu. Semiotik naratif menguraikan makna dari makna. Makna ini tidak bersifat intensional (terkait dengan subjek psikologis) atau hermeneutik (makna yang ada sebelum bahasa dipakai). Singkatnya, Greimas berusaha mempelajari pembentukan makna dalam wacana, makna sebagai suatu proses penandaan (signification).

Greimas menempatkan proses pemaknaan (signification) ini sebagai konsep utama. Sebagaimana Saussure, bagi Greimas, pemaknaan adalah hasil proses pembedaan antara dua unsur yang berbeda dalam suatu relasi sistemis. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah perbedaan antara ibu dan bapak atau isteri dan suami. Kedua pasang kata itu dimaknai dengan perbedaan antara “perempuan” dan “laki-laki”. Ini adalah prinsip disjungsi (hubungan kontras). Namun, lebih lanjut, perbedaan itu sebenanrnya didasari oleh persamaan pada tataran yang lebih “atas”, yakni “jenis kelamin”. Oleh karena itu, sekaligus ada prinsip

konjungsi (hubungan setara). Prinsip ganda (disjungsi

dan konjungsi) ini merupakan struktur elementer

pemaknaan.

Dalam upaya mengembangkan jalinan istilah

autentik, yakni sebuah kosa kata yang sebenarnya

berguna untuk menguraikan dan melakukan analisis secara semiotik pada lingkup wacana, Greimas mengikuti langkah Hjelmslev. Greimas mengembangkan kosa kata khusus untuk struktur elementer pemaknaan atau “satuan analisis dalam wacana” ini, seperti seme (satuan arti minimal), sememe (inti semie dan semes kontekstual yang sesuai dengan ‘arti kata tertentu’),

classeme (atau semes kontekstual), anapora (yang

mengaitkan ujaran atau paragraf). Kosa kata semacam ini berbeda dari terminologi linguistik konvensional karena satuan analisisnya itu bukan kalimat melainkan diskursus. Meskipun demikian, Greimas juga tetap mengikuti beberapa konsep linguistik konvensional, baik pada term-term teknis seperti ‘inventarisasi’, ‘pra-anggapan’, atau ‘praktis’, maupun pada payung baru bagi linguistik (semiotik)—yang dalam kata-kata Greimas sendiri ‘menjadi disiplin semiotik yang paling berkembang’ menjadi yang ‘dianggap memiliki klaim terkuat dalam statusnya sebagai ilmu’.

Term sem (seme) dimaksudkan sebagai struktur elementer pemaknaan. Term ini jika dikaitkan dengan teori tanda Hjemslev. Greimas menempatkan sem pada tataran substansi petanda atau bagian dari

content-substance, jadi belum sampai pada tataran form yang

merupakan unsur tanda (sign) yang efektif. Ini berarti

sem masih belum merupakan unsur tanda, tetapi sudah

terstruktur (semiotically formed). Sem merupakan satuan terkecil yang membedakan makna dalam proses pemaknaan dalam bentuk semem-semem. Perwujudan

sem dan semem dapat dicerap dalam bentuk leksikon

pada lapisan teratas (struktur teks), yang sebenarnya tidak bermakna kecuali pada tataran semem-nya. Dari semua itu (sem, semem, leksikon), sem merupakan bagian dari kategori konseptual pikiran manusia. Kelihatannya di sini sudah ada struktur, yaitu struktur

semio-naratif ada pada tataran sem ini. ini dapat

dipahami karena pada dasarnya struktur adalah suatu bangun yang abstrak (Benny H. Hoed, 2003:21).

Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa bagi Greimas tanda terdiri dari penanda dan petanda, yang masing-masing terdiri dari tiga lapisan. Pada segi penanda (signifer) terdapat tiga lapisan, yaitu 1) penanda (expression-form) sebagai bagian integral tanda (tidak terpisahkan dari petandanya), 2) materi penanda (expression-substance) yang belum memiliki kedudukan sebagai bagian dari tanda, tetapi sudah mulai terstruktur (semiotically formed) sebagai materi penanda, dan 3) materi penanda yang masih belum memiliki nilai semiotis. Pada segi petanda (signifed) terdapat tiga lapisan, yaitu 1) petanda (content-form) sebagai bagian integral tanda (tidak terpisahkan dari penandanya); 2) substansi petanda (content-substance) yang belum merupakan bagian integral tanda, tetapi telah mulai terstruktur sebagai suatu konsep (semiotically formed); dan 3) substansi calon penanda

yang masih belum memiliki nilai semiotis.

Expression Form

(EF) Content Form(CF)

Expression Substance (ES) Content Substance

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 131-139)