• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekilas Tentang Roland Barthes

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 148-160)

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

A. Sekilas Tentang Roland Barthes

Tokoh satu ini lahir di Cherbourg pada tahun 1915, tetapi dibesarkan di dua kota di Prancis, yakni di Bayonne, sebuah kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis, serta di Paris. Ia berasal dari keluarga kelas menengah Protestan. Ayahnya adalah seorang perwira Angkatan Laut yang terbunuh dalam tugas kala usia Barthes masih kecil. Ia dapat bermain piano berkat bimbingan bibinya. Masa kecilnya, ia habiskan di Bayonne dan baru pindah ke Paris ketika berumur sembilan tahun beserta ibunya yang bekerja sebagai penjilid buku. Masa hidupnya didasari oleh budaya borjuis dan dia sering mendengarkan para nyonya bergosip waktu minum teh. Pada 1934, Barthes terobsesi masuk Ecole Normale Superiure, tetapi

niatnya urung karena sakit TBC. Karenanya ia terpaksa harus berobat di beberapa sanatoria di Pyreness dan Alps (1942-1947). Selama berobat, banyak hal yang dilakukan Barthes. Ia luangkan waktu untuk menggeluti Marxisme dan Eksistensialisme Sartre; karenanya intelektualisme awal Barthes cenderung Marxian dan Sartrean. Setelah satu tahun berobat, Barthes masuk di Universitas Sorbone dan mengambil studi bahasa dan sastra Prancis dan studi klasik (Latin, Romawi, dan Yunani). Ia juga aktif dalam teater dan drama-drama klasik bersama beberapa koleganya.

Prancis di Bukarest (Rumania) dan Kairo (Mesir). Selama di Rumania, Barthes banyak belajar kepada salah

seorang linguist terkenal, yaitu A.J. Greimas. Sekembalinya ke Prancis, ia bekerja untuk Centre

national de recherche Scientifique (Pusat Nasional untuk

Penelitian Ilmiah) dan melahirkan sejumlah artikel

tentang sastra. Pada tahun 1952, ia mendapat beasiswa untuk mengerjakan tesis leksikologi (tentang kamus sosial abad XIX). Sebelum merampungkan proyek tersebut, Barthes mempublikasikan dua kritik sastra, yaitu Le Degree Zero de l’ecriture (Nol Derajat di Bidang Menulis; 1953) dan Micheletpar Lui Meme (1954). Buku pertama berisi kritik Barthes terhadap kebudayaan borjuis; dalam hal ini ia sejalan dengan Sartre dan beberapa Marxis Prancis saat itu .

Kreativitas pemikirannya sangatlah dinamis dan plural. Pemikirannya dapat dikatakan sebagai ikonoklas (antikemapanan) dan menentang segala macam

kontinuitas dan kesatuan; sebaliknya ia menekankan diskontinuitas dan pluralitas. Ia hampir mengalami semua trend pemikiran pada zamannya, seperti

eksistensialisme, Marxisme, dan strukturalisme. Tahun 1955, ia kehilangan beasiswa sebelum sempat

menyelesaikan karya leksikologi-nya. Ia kemudian bekerja di sebuah penerbitan sambil menulis banyak artikel. Kegagalan dalam bidang akademik ini tidaklah membuat Barthes kehilangan elan intelektual kritisnya. Ia justru memiliki kebebasan dalam mengaktualisasikan Pergulatan intelektual Barthes kali ini menghasilkan sebuah karya yaitu Mythologies (1957). Kertas kerja Barthes ini berisi analisis kritis fakta-fakta kultural populer seperti mobil Citroen DS, balap sepeda Tour de

France, dan reklame dalam media massa yang

merepresentasikan gejala masyarakat borjuis dan ia berusaha menunjukkan verisimilitude (ideologi tersembunyi) dari fakta-fakta tersebut.

Pengembaraan intelektualnya semakin tak tertahankan kala ia membaca karya Ferdinand de Saussure, Course de Linguistic Generale, pada tahun 1956. Ia menyadari adanya kemungkinan penerapan semiologi di luar bidang linguistik. Tetapi berbeda dengan Saussure, sang maestro linguistik panutannya, Barthes beranggapan bahwa semiologi haruslah

merupakan bagian dari linguistik dan tidak sebaliknya. Ia sepakat dengan E. Benveniste, linguist Prancis asal Libanon yang menekankan bahwa sekelompok tanda hanya baru bermakna bila terbahasakan. Karenanya, bahasa mempunyai suatu prioritas di atas semua sistem tanda yang lain.

Sejak 1960, ia menjadi asisten dan kemudian

menjadi “direktur studi” di Ecole Praqtiquea des hautes

etudes. Berkat pengabdiannya, pada tahun 1976, ia

diangkat sebagai professor untuk “semiologi literer” di College de France. Masa ini merupakan masa

pergulatan intensif Barthes dengan strukturalisme, khususnya semiologi. Hasilnya, pada tahun 1964 ia mengintrodusir dua karya yang berkaitan dengan

semiologi, yaitu Elements de Semilogie (Beberapa Unsur Semilogi) dan Sur Racine (tentang Racine). Sebagian penulis menyebutkan bahwa Sur Racine ditulis pada tahun 1963, yakni sebelum Elements de Semiologie, sedangkan penulis lainnya menyebutkan bahwa sebaliknya, yakni Sur Racine lahir pada 1964 setelah

Elements de Semiologie [Bentens, 1996:210]. Dalam Elements de Semiologi, Barthes melukiskan

prinsip-prinsip linguistik dan relevansinya di bidang-bidang lain. Kertas kerja inilah yang berjasa menempatkan Barthes sebagai salah seorang empu semiologi struktural.

Sedangkan dalam buku keduanya, menurut para strukturalis sezamannya, Barthes sedang memberikan suatu interpretasi baru tentang dramawan besar dari sastra Prancis abad ke-17, Jean Racine. Barthes

menawarkan pendekatan baru dalam mendedah karya sastra, yang disebutnya sebagai Nouvelle Critique (kritik sastra yang baru); pendekatan ini ia aplikasikan untuk mengulas Jean Racine. Interpretasi baru tentang Racine mendapat kritikan tajam dari Raymond Picard, seorang Professor di Universitas Sorbone, yang menulis Nouvelle

Critique ou Nouvelle Imposture? Picard berusaha

membela dan mempertahankan pandangan tradisional tentang Racine. Tulisan Picard pun dijawab Barthes dengan mempublikasikan Critique et Verite (1966). Polemik pun terjadi di antara para pendukung

keduanya, yang terdikotomikan antara modernis dan tradisionalis. Namun, satu hal dapat dicatat bahwa peristiwa ini justru semakin mengokohkan Barthes sebagai tokoh mondial, sejajar dengan Michel Foucault, Jacques Derrida, dan Jacques Lacan.

Eksperimentasi Barthes dalam menerapkan analisis struktural-semiologis semakin nampak dalam karya berikutnya, yaitu Systeme de la Mode (Sistem Mode; 1967). Ia menerapkan analisis struktural-semiologis atas mode pakaian wanita. Dalam pandangan umum, mode pakaian merupakan sesuatu yang kebetulan dan sepele; namun analisis Barthes menunjukkan bahwa di

belakang mode-mode pakaian wanita tersimpan suatu sistem (tersembunyi). Ia menggunakan artikel-artikel mode pakaian dalam dua majalah dari tahun 1958-1959. Mode-mode pakaian itu diperlakukannya sebagai sebuah korpus (satuan objek) dan ditafsirkannya

sebagai suatu “bahasa” yang ditandai sistem relasi-relasi dan oposisi-oposisi (seperti antara perbagai warna, bahan tekstil yang tertentu, dan krah tertutup atau terbuka) (Bertens, 1996:20).

Dasawarsa terakhir hidupnya merupakan masa keemasan intelektualnya. Hampir setiap tahun ia melahirkan satu karya. Di antara karya pertama yang monumental masa ini adalah S/Z (1970). Buku ini

merupakan kerja intelektual Barthes dalam

strukturalisme. Ia menganalisis sebuah novel kecil yaitu

Sarrasine karya Honore de Balzac, sastrawam Prancis

abad ke-19. Uniknya, ulasan Barthes panjangnya enam kali karya novel aslinya. Tahun 1980 merupakan tahun duka cita bagi para pengikut, kolega, dan para

pengagumnya, karena ia wafat pada usia 64 tahun karena tertabrak mobil di Paris sebulan sebelumnya. B. Persetubuhan dengan “teks” dan Sistem Reproduksi Makna

Dalam sistem semiologi Saussure, para ahli semiotik seringkali membedakan berbagai tingkatan, yang saling mempengaruhi. Semiologi struktural dikembangkan dengan cara lain oleh Hjelmslev, kemudian oleh

Greimas (l. 1917), dan "aliran Paris"-nya, yang terkenal antara lain karena analisis mereka tentang interaksi yang terjadi antara berbagai pemegang peran (subjek dan objek suatu tindakan, pengirim dan penerima suatu pesan, dsb.) di dalam teks tertentu. Setelah Hjemslev dan Greimas, semiologi Saussure menapaki puncaknya di tangan seorang ilmuwan Prancis yang

mengembangkan teori Saussure mengenai tanda di aneka ragam bidang, yaitu Roland Barthes. Namun, di tangan Roland Barthes pula, semiologi struktural mulai beranjak ke tradisi post-struktural, beranjak dari struktur teks menuju analisis orientasi-pembaca dan lainnya.

Sebagaimana Saussure, Roland Barthes meyakini bahwa hubungan antara sebuah petanda dan penanda bukanlah terbentuk secara alamiah, melainkan bersifat

arbitrer, yaitu hubungan yang terbentuk berdasarkan

konvensi, maka sebuah penanda pada dasarnya membuka berbagai peluang petanda atau makna. Roland Barthes menyatakan bahwa apapun jenis tanda yang digunakan dalam sistem pertandaan, menurut semiotik struktural, ia tetap harus menyandarkan

dirinya pada hubungan struktural dalam sistem langue. Dengan demikian, dalam tahap ini, Roland Barthes masih mempertahankan kaidah-kaidah strukturalisme, namun dia tidak terpaku pada konsep diadik

signifier-signified Saussure. Barthes menyebut proses

pemaknaan tanda dengan signification (signifikasi). Bagi

Barthes, signifikasi merupakan proses memadukan pananda (signifier) dan petanda (signified) sehingga menghasilkan tanda. Signifikasi tidak mempersatukan entitas-entitas yang unilateral, tidak pula memadukan dua terma semata-mata, sebab baik penanda maupun pertanda itu sekaligus merupakan terma-terma dari relasi. Namun kemudian dia lebih banyak

mengembangkan konsep pemaknaan konotasi dan tidak hanya berhenti pada pemaknaan denotatif (makna primer). Karenanya, wajar bila orang belakangan menyebut Barthes sebagai tokoh semiotik konotasi (Panuti dan van Zoest, 1992:3-4).

Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Untuk menjelaskan konsepnya ini, Roland Barthes mencoba membedakan antara “teks yang enak dibaca” (lisible) dan “teks yang enak ditulis” (scriptible). Menurut Barthes “teks yang enak dibaca” (lisible) adalah teks yang sekedar dapat dibaca ‘begitu saja’. Di dalam teks seperti ini peralihan dari penanda ke petanda berlangsung dengan jelas, lancar, tetap, dan wajib. Teks yang enak dibaca bersifat statis, seolah-olah “dengan sendirinya” dapat dibaca. Teks semacam ini juga melestarikan pandangan yang mapan tentang realitas dan nilai-nilai yang usang dan membeku, namun tetap berperan sebagai model bagi dunia. Teks jenis ini mempra-anggapkan dan tergantung pada anggapan-anggapan lugu tersebut, di dalamnya hubungan yang pasti antara penanda dan petanda. Di dalam teks ini penanda-penanda berbaris rapi dan, sebagai

paradoksnya, sering kali justru hal itu disebut sebagai teks yang ‘gampang dibaca’ (Kris Budiman, 1999:31).

Sedangkan “teks yang enak ditulis” (scriptible) adalah teks yang secara sadar diri mengundang pembaca untuk membacanya, “terlibat” dan waspada terhadap kaitan antara menulis dan membaca, dan yang serentak memberikan kebahagiaan kooperatif kepada pembaca, semacam kemitraan dengan pengarang, atau bahkan ada moment yang paling intens, yaitu “persetubuhan”. Dalam teks jenis ini penanda-penanda bebas bermain-main, tidak dituntut untuk mengacu secara otomatis kepada petanda-petanda. Teks yang enak ditulis mengajak pembaca untuk tidak melihat hakikat bahasa itu sendiri melalui bahasa di dunia nyata yang belum ditakdirkan. Teks-teks semacam ini justru melibatkan pembaca dalam aktivitas penciptaan dunia kini dengan cara yang penuh bahaya namun menyenangkan bersama-sama dengan pengarangnya. “Teks yang enak ditulis” tidak mempraanggapkan apapun, ia justru mengakui bahwa peralihan dari penanda ke petanda tidak pernah terbuka bagi permainan kode-kode. Di dalam teks semacam ini, penanda-penanda menari-nari, namun—paradoksnya— justru dikatakan sebagai teks “yang sukar dibaca” (Kris Budiman, 1999:31-2).

Pengalaman yang diperoleh dalam aktivitas membaca kedua teks di atas, pada dasarnya, melibatkan dua jenis kenikmatan, yaitu plaisir (kenikmatan) dan jouissance (kesukacitaan, ekstasi, bahkan kenikmatan seksual yang orgasmik). Plassir diperoleh melalui proses membaca yang ‘tembak langsung’ (straight forward), sedangkan jouissance melalui sebuah perasaan tersendat-sendat dan terganggu. Hal ini menyiratkan bahwa-sementara plaisir melekat di dalam tatanan bahasa yang serba jelas, yang tersedia sebagai material bagi teks yang enak dibaca,

jouissance terlahir dari teks-teks yang enak ditulis atau

pada detik-detik klimaks ketika membaca teks yang enak dibaca, ketika tatanannya hancur berantakan, ketika bahasa yang serba jelas tiba-tiba jungkir balik (subverted) dan muncrat seperti sebuah orgasme. Teks

plaisir merupakan teks yang berisi, kesenangan yang

pasti, teks yang bersumber dari kultur dan enggan melepaskan diri darinya, terkait dengan praktik membaca yang membuat kerasan (comfortable). Sebaliknya, teks jouissance adalah teks yang mendedahkan suatu rasa kehilangan, teks yang tidak membuat kerasan, yang bahkan-pada moment tertentu membosankan, serta menggoncangkan asumsi-asumsi historis, kultural, dan psikologis pembacanya, teks yang merusak konsistensi selera, nilai-nilai, serta ingatan pembacanya, yang membawanya ke arah krisis hubungan dengan bahasa (Kris Budiman, 1999:56-7).

Dengan demikian, maka metode dalam mendekati suatu teks atau menilainya dilihat dari bagaimana pembaca memproduksi makna terdalam (atau makna tingkat kedua) itu. Berdasarkan pada asumsi di atas, dalam S/Z (1974: 1-5), Barthes mengajak untuk menilai suatu teks dengan dua cara: Writerly dan Readerly. Kedua cara ini menghasilkan dua teks, Writerly text dan

Readerly text. Bathes tidak secara jelas mendefinisikan

kedua istilah ini kecuali secara negatif, Barthes (1974: 5) menulis, The writerly adalah novelistik tanpa novel, perpuisian tanpa puisi, esai tanpa desertasi, tulisan tanpa gaya, produksi tanpa produk, strukturasi tanpa struktur. Namun apakah readerly texts? Mereka adalah produk-produk [dan bukan produksi], mereka menciptakan sejumlah besar massa dunia sastra.” Namun dapatlah kiranya dipahami bahwa writerly text adalah apa yang dapat ditulis pembaca sendiri terlepas dari apa yang ditulis pengarangnya. Sedangkan

mendorong pembaca untuk menulis, yakni teks terbaca yang merupakan nilai reaktif dari writerly text. Barthes sendiri memilih writerly text sebagai penilaian. Hal ini karena Barthes beralasan, “Karena tujuan dari karya sastra [tujuan sastra sebagai karya] adalah untuk membuat pembaca tak selamanya seorang konsumen, tapi seorang produsen teks.”

Dalam “teks yang enak ditulis” (scriptible) atau

writerly text, teks kemudian menjadi terbuka terhadap

segala kemungkinan. Pembaca akan berhadapan dengan pluralitas signifikasi. Hal paling mendasar dari pengaruh tersebut terlihat dari penggantian epistimologi dengan pleasure (kenikmatan). "The text you write must prove me that it desires me. This proof is exists; it is writing. Writing is: the science of various blisses of language, its Kama Sutra (this science has but one treatise: writing it self" (Barthes, The Pleasure of the

Text, 1975). Bagi Barthes, jika sebuah teks tidak

menggetarkan buhul-buhul darah para pembacanya, tidaklah memiliki meaning apa pun. Ia harus menggelinjang keluar dari bahasa yang dipergunakan-tak ubahnya seperti seni bercinta Kama Sutra. Bagi Barthes pernyataan "bikinan melulu" atau "seperti kristal" tidak berarti apa-apa kalau pembaca tidak merasakan pengalaman yang sama saat mengarungi dahsyatnya teks, terjerambab dalam belantara imajinasi yang tertetak secara leksikal.

Barthes mencoba membantu para penggiat masalah semiotik, bahwa jika ingin mengaktifkan pleasure, pembaca mesti mengganti meaning (dalam pengertian Saussurean) hanya dengan kode, signification dengan

signifiance, the will to knowledge dengan will to desire.

Barthes menjelaskan secara aforistis dan metaforis dalam buku The Pleasure of the Text, bahwa pemfokusan ulang perlu dilakukan agar pleasure menemukan tandanya sendiri melalui teks; hal ini boleh

jadi tak ditemukan sebelumnya karena seluruh beban pengetahuan terkendali oleh struktur. Strukturlah yang menjadi final dari semua proses komunikasi, signifikasi, dialektika, dan (secara garis besar) budaya. Semiotik menjadi metode membaca masalah-masalah kemanusiaan, termasuk membaca sebuah teks. Berdasarkan pengertian seperti ini struktur dikhayalkan tidak akan mengalami kemajalan dan penyimpangan. Padahal strukturalisme dalam sebagian besar penampakannya hanya menjadi hegemonisasi pengetahuan atas nama kepastian (exactness).

Di dalam buku From Work to Text (1971) sikap Barthes tentang jouissance and plaisir mengemuka dalam tulisan-tulisan setelahnya-menunjukkan jejak referensial yang otentik. Dalam buku ini, ia

men-decentering posisi subyek-dengan mengambil beberapa

konsepsi yang dicatat Lacan, Althusser, dan Foucault-bahwa pekerjaan terhadap teks bukanlah pekerjaan mengonsumsi semata tetapi a work of art yang mencerap aspek-aspek keutamaan, esensial, bobot yang terkandung dalam teks itu sendiri, di mana seluruh tindakan selanjutnya adalah mencari inti bacaan, menggeledah, mendiskusikannya dan lain-lain-disimpulkan dengan istilah rekonsepsionalisasi seluruh teks. Pekerjaan seperti ini-seperti juga menulis dan wicara (speech)-mungkin akan menghilangkan beberapa keutamaan awal (dari work) karena langkah berikutnya berhubungan dengan lapangan interaksi, yang disebut dengan bermain (play/simulacrum). Kesimpulan akhir dari sikap bermain-main adalah rasa bosan karena kepenuhan diri terhadap seluruh teks (tulisan). Istilah yang agak garang namun pas untuk maksud di atas terungkap dalam buku Art in Theory, "bahwa tujuan akhir bermain adalah anti-hierarkial"; penegasan bahwa kebenaran tentang eksistensi the author (pemegang wewenang terhadap writing) tidaklah sedemikian

penting lagi.

Pada titik ini Barthes mengkritik pendekatan tunggal yang selama ini merupakan cara represif yang tidak produktif. Pergeseran pusat dari perhatian kepada pengarang (author) kepada pembaca merupakan konsekuensi logis dari semiologi Barthes yang menekankan semiologi tingkat kedua yang memberi peran besar bagi pembaca untuk memproduksi makna. Inilah titik kulminasi semiologi struktural Barthes, yang menurut Bathes, seperti dikutip Culler (1988: 82), “Strukturalisme berusaha untuk memahami bagaimana pembaca menciptakan makna dari sebuah teks yang membawa orang untuk berpikir tentang sastra tidak sebagai sebuah representasi atau komunikasi, tetapi sebagai sebuah seri-seri dari bentuk-bentuk yang diproduksi oleh institusi sastra dan kode-kode diskursif dari sebuah budaya.” Pembaca kemudian dapat melakukan interpretasi terhadap suatu karya, tetapi interpretasi di sini berbeda dari pemahaman umum tentang penemuan makna-makna tersembunyi atau makna ultimate dari suatu teks. Interpretasi dalam pengertian Barthes (1974:5) adalah: “Untuk menginterpretasi sebuah teks bukanlah untuk memberikannya sebuah makna [yang lebih kurang dikukuhkan, lebih kurang bebas], tetapi sebaliknya untuk mengapresiasikan kejamakan apa yang mengkonstitusinya.”

Bagi Barthes, setiap citra atau imaji niscaya memiliki sifat polisemik, menyiratkan serangkaian petanda-petanda yang “mengambang” di balik penanda-penandanya. Menurutnya, berbagai teknik telah dikembangkan dalam upaya untuk “menangkap” (to fix) serangkaian penanda yang “mengambang” tersebut dan untuk menghindari deviasi makna. Salah satunya, amanat lingual –yang biasanya menyertai sebuah citra (judul, caption, dialog di dalam film, balon dialog pada

komik, dan sebagainya), merupakan salah satu dari beragam teknik tersebut. Amanat lingual ini, dalam relasinya dengan amanat ikonik, memiliki dua macam fungsi, yaitu fungsi penambat dan fungsi pemancar.

Amanat lingual terutama dalam tataran denotasi akan berkorespondensi secara tepat dengan sebuah fungsi yang dapat “menambat” atau “mengunci” berbagai kemungkinan makna-maknanya. Dalam fungsinya sebagai penambat, amanat lingual dapat membantu pembaca dalam memilih tataran persepsi yang tepat, memfokuskan pandangan, dan memahami wacana. Di tengah tengah amanat ikonik, eksistensi sebuah amanat lingual bermanfaat untuk memandu proses identifikasi dan interpretasi. Tentu saja sebuah penambat pun dapat berkarakter ideologis, dan sesusngguhnya hal inilah yang justru merupakan fungsinya yang paling mendasar. Teks akan menuntun pembaca dalam menelusuri petanda-petanda citrawi sehingga dia mampu memilih petanda yang satu dan mengabaikan petanda-petanda yang lain. Sebagai penambat, fungsi teks ini seolah-olah seperti alat kontrol jarak-jauh (remote control) bagi pembaca agar dia dapat memilih dan menentukan makna sebuah citra (Kris Budiman, 1999:92)

Fungsi pemancar memang cukup jarang ditemukan; secara khusus ia dapat disaksikan di dalam kartun, komik, atau film. Melalui fungsi ini teks (biasanya berupa dialog) dan citra saling berhubungan secara komplementer. Sebagaimana halnya citra-citra, di sini kata-kata merupakan fragmen dari sebuah sintagma yang lebih general dan keutuhan amanatnya terealisasikan pada tataran yang lebih tinggi, yakni cerita atau diegesis. Fungsi teks sebagai pemancar ini sangatlah penting bagi film yang di dalamnya dialog-dialog bukan hanya berfungsi sebagai penjelas, melainkan sungguh-sungguh mengembangkan tindakan

melalui makna-makna yang tidak dapat ditemukan semata-mata di dalam citra itu sendiri (Krris Budiman, 1999:91-2).

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 148-160)