• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejumput Identitas Intelektual

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 119-128)

Tokoh dan Pemikiran Semiotik

A. Sejumput Identitas Intelektual

Louis Hjelmslev terlahir di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 1899. Ayahnya seorang professor di bidang matematika. Ia menyelesaikan studi dari sekolah dasarnya hingga mendapat gelar master-nya di kotanya sendiri, Kopenhagen. Ia menyelesaikan master-nya tersebut pada tahun 1923 dalam bidang linguistik komparatif. Pada tahun 1923, ia pun hijrah ke Praha, Paris, dan di kota inilah ia mengikuti perkuliahan-perkuliahan Linguitik dari Ferdinand de Saussure sekitar 4 tahun lamanya (dari tahun 1923 hingga tahun 1927). Pengetahuan-pengetahuan linguistik yang didapatkan Hjelmslev dari Saussure inilah yang kelak mengantarkannya menjadi penerus teori-teori linguistik Saussusre yang berpengaruh (Masinambow, 2000:iii).

Pada tahun 1928, Hjelmslev kembali ke kotanya, Kopenhagen, dan pada tahun yang sama ia menerbitkan karyanya Principles de Grammaire Générale. Banyak karya tulis yang lahir menyusul bukunya tersebut Popularitasnya sebagai linguist pun mulai menanjak terlebih ketika ia mendirikan organisasi Cercle

Linguistique de Copenhague (1931) dan menerbitkan

majalah Acta Linguistica bersama Viggo Brøndal pada tahun 1939. Prolegomena to a Language Theory, buku utamanya, diterbitkan dalam bahasa Denmark pada tahun 1943 dan dalam edisi Bahasa Inggris pada tahun 1953. Di dalam bukunya ini dia mengusulkan untuk menetapkan terminologi yang paling luas tentang

sebuah tataruang yang konseptual untuk teori apapun. Resumenya, yang diedarkan di dalam beberapa salinan, dan diterbitkan antara tahun 1941 sampai 1943 dan selanjutnya diterbitkan pada tahun 1975, secara teknis adalah kumpulan tentang terminologi, lambang, definisi, aturan, dan catatan. Gagasannya sering berdasarkan pada Saussure, tetapi gagasannya itu, dalam suatu cara yang ambivalen, dan lebih radikal.

Pada tahun 1934, ia pun menerbitkan buku Omkring

Sprogteoriens Grundlæggelse. Beberapa tahun

kemudian ia menerbitkan Travaux You Cercle

Linguistique de Copenhague (1945). Pada tanggal 30

Mei 1965, Hjelmslev meninggal dunia, dan mewariskan seabreg buah intelektualnya yang cukup banyak meliputi, linguistik umum, linguistik khusus, linguistik komparatif, dan lainnya. Karenanya, Louis Hjelmslev diklaim sebagia orang yang sangat produktif dalam menulis. Di bawah ini disebutkan beberapa karya Louis Hjelmslev baik berupa buku, makalah, atau pun berupa artikel yang telah dimuat di media massa.

Principes de Grammaire Générale.

Diterbitkan di Kopenhagen oleh penerbit E. Munksgaard pada tahun 1928.

• "Structure Genérale Correlations of the Linguistiques." Dalam Hjelmslev, Louis,

Essais of Linguistiques II. Terbit di Kopenhagen oleh penerbit Nordisk Sprog og Kulturforlag pada tahun 1933.

La Catégorie Cas. Étude de Grammaire Générale. Diterbitkan pertama kali pada

tahun 1935, dan menyusul cetakan kedua pada tahun 1937 di Aarhus oleh penerbit Universitetsforlaget. Diterbitkan di Munich oleh W. Finch pada tahun 1972.

Le Nature You Pronom. Diterbitkan di Paris

"Edward Sapir." Dalam Acta Linguistica

Hafniensia 1:76 77. diterbitkan di Kopenhagen pada tahun 1939.

• “Note sur les Opposition Supprimables.” Dalam Travaux de l'Institut de Linguistique. Terbit di Kopenhagen pada tahun 1939.

"La Structure Morphologique (Type de

Système)." Makalah disampaikan sebagai

pengantar pada Kongres Ahli Linguistik Internasional (The Internationally Congress of Linguists) pada tahun 1939.

"La Notion de Rection." Dalam Acta

Linguistica Hafniensia 1:10 23. Diterbitkan di

Kopenhagen pada tahun 1939.

“Structural Linguistics.” Dalam Studia

Linguistica I diterbitkan pada tahun 1947.

Omkring Sprogteoriens Grundlaeggelse.

Diterbitkan di Kopenhagen oleh penerbit E. Munksgaard pada tahun 1943, dan oleh penerbit Akademisk Forlag pada tahun 1966.

• "Éditorial. [ programs de la linguistique structurale ]." Dalam Acta Linguistica

Hafniensia 4:v-xi. diterbitkan di Kopenhagen

pada tahun 1944.

Prolegomena ton of A Theory of Language.

Diterbitkan di Baltimore oleh penerbit Universitas Indiana pada tahun 1953 dan di Madison oleh penerbit Universitas Wisconsin (tahun 1961 dan 1974).

Sur l'indépendance de l'épithète. Diterbitkan

di Kopenhagen oleh penerbit Munksgaard pada tahun 1956.

• "Animé et inanimé, personnel et non personnel." Dalam Travaux de l'Institut de

tahun 1956.

"Pour une Sémantique Structurale." Makalah disampaikan sebagai pengantar pada Kongres Ahli Linguistik Internasional (The Internationally Congress of Linguists) pada tahun 1958.

Essais of Linguistiques. Diterbitkan di

Kopenhagen oleh penerbit Nordisk Sprog og Kulturforlag pada tahun 1959.

The Language; An Introduction.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Francis J. Whitfield dan diterbitkan di Madison oleh penerbit Universitas Wisconsin pada tahun 1970 dan di Darmstadt oleh penerbit Scientific Book Company pada tahun 1968.

Essais of Linguistiques. Diterbitkan di Paris

oleh penerbit Éd. de Minuit pada tahun 1971.

• “The Aim of Linguistic Theory.” Dalam J. P. Allen dan S. Pit Corder (ed.) Reading for

Applied Linguistics. Diterbitkan di Oxford

oleh penerbit Universitas Oxford pada tahun 1973.

Essais of Linguistiques II. Diterbitkan di

Kopenhagen oleh penerbit Nordisk Sprog og Kulturforlag pada tahun 1973.

Essays to the Linguistics. Diterbitkan di

Stuttgart, Jerman oleh penerbit Klett pada tahun 1974.

Prolegomena to a Language Theory.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Francis J. Whitfield dan terbit di Bloomington oleh penerbit Universitas Indiana pada tahun 1953. Dicetak ulang di Madison oleh penerbit Universitas Wisconsin (1963). Dicetak ulang

lagi di Muenchen oleh penerbit Hueber (1974).

Résumé of A Theory of Language.

Diterbitkan di Madison oleh penerbit Universitas Wisconsin pada tahun 1975. B. Metasemiotik Louis Hjelmslev.

Lanigan (1988:124-128) menyebutkan bahwa Louis Hjelmslev merupakan salah satu linguist yang berperan dalam pengembangan semiologi pasca-Saussure. Pemikiran pokoknya ia tuangkan dalam beberapa karya tulis, antara lain lewat karyanya yang terbaik, yaitu

Prolegomena to Theory of Language (1943; yang

kemudian diterjemahkan oleh Francis J. Whitfield pada tahun 1963) dan Language: An Introduction. Inti-inti pemikiran Louis Hjelmslev dalam bidang linguistik antara lain:

a. Menggunakan metode-metode formal untuk mempelajari suara atau bunyi dan makna.

b. Menolak dengan keras untuk mendeskripsikan linguistik.

c. Tugas utama linguistik adalah menemukan teori-teori pendekatan terhadap linguistik (glosematik) berlandaskan pada prinsip-prinsip empiris bahwa teori itu seharusnya bebas dari kontradiksi, lengkap, dan sesederhana mungkin (tanpa menyebutkan hubungannya terhadap sebuah data yang nyata).

d. “Induktivisme” membawa pembaca ke pemahaman konsep-konsep abstrak yang sudah dihipotesis secara nyata. Induktivisme adalah konsep penyamarataan; namun Hjelmslev tidak pernah dapat menghasilkan deskripsi “yang empiris” tentang bahasa.

e. “Induksi” tidak membawa pembaca pada ketetapan akan tetapi membawa pembaca pada

kebetulan.

f. Linguistik “memerlukan deduktif”.

Beberapa pemikiran Hjelmslev di atas telah memberikan kontribusi kepada semiotik Saussure, yakni penegasan perlunya sebuah “Sains yang mempelajari bagaimana tanda hidup dan berfungsi dalam masyarakat” (Cobley & Jansz, 1999:39). Hjelmslev berhasil membuat kemajuan dalam memperjelas perbedaan antara langue dan parole yang telah dilakukan Saussure. Hjelmslev mendefinisikan “sistem bahasa” (langue menurut Saussure) sebagai sesuatu yang bebas dari teks. Tampaknya, dia ingin mengatakan bahwa bahasa itu pada dasarnya adalah suatu sistem otonom –karena apabila bahasa tanpa teks itu masih dapat dibayangkan, maka teks tanpa bahasa itu tidak dapat. Konsekuensinya adalah ia mereduksikan bahasa menjadi semacam model linguistik bahasa (language), dan mengabaikan dua tataran bahasa (model dan pemakaian) yang integrated.

Seperti Saussure, teori Hjelmslev berawal dari pendirian bahwa bahasa adalah suatu lembaga supra-individu yang harus dipelajari dan dianalisis secara tersendiri, bukannya diamati sebagai sarana atau peralatan pengetahuan, pikiran, dan emosi, atau lebih umum lagi, sebagai cara untuk melakukan kontak dengan yang berada di luarnya (Lechte, 2001: 213). Singkatnya, pendekatan transenden (bahasa sebagai suatu cara) seharusnya memberikan jalan kepada pendekatan imanen (telaah tentang bahasa itu sendiri). Untuk tujuan ini, Hjelmslev mengembangkan sistem konsep dan istilah yang dianggapnya sebagai sesuatu yang sederhana dan ketat, yang pada tingkat generalitasnya yang paling tinggi akan memperjelas sifat bahasa sekaligus membuat telaah tentang realisasinya menjadi semakin mudah.

dua sistem (dyadic system), yaitu segi expression (ekspresi; E) dan segi content (isi; C). Dua istilah ini sejajar dengan signifier dan signified dari Saussure. Apabila segi ekspresi (E) adalah segi seleksi kata-kata (rangkaian signifier), maka rangkaian kata-kata tadi dapat memberi makna khusus (signified, C), yaitu umpamanya dengan memindahkan tempat kata-kata sehingga didengar lebih indah dan halus; seperti halnya yang terjadi pada puisi. Hjelmslev juga mengatakan bahwa, selain ekspresi (E) dan isi (C), bahasa juga mempunyai dua segi lain, yaitu form (bentuk, F) dan

substance (substansi, S). Form (bentuk, F) adalah apa

yang diberi kepada kata yang dipakainya, atau apa yang dapat diperikan secara lengkap, sederhana, dan koheren (tiga butir kriteria epistemologi) oleh linguistik tanpa memperhitungkan premis-premis ekstra-lingual sedikitpun (Kris Budiman, 1999:12). Sedangkan

substance (substansi; S) adalah kata atau ucapannya.

Melalui bentuk yang dipilih oleh pembicara maka suatu kata mempunyai arti dan makna. Sehingga kini dalam sistem bahasa beropersasi empat unsur, yaitu 1)

expression form (bentuk ekspresi) dan 2) content form

(bentuk isi), 3) expression substance (substansi ekspresi) dan 4) content substance (substansi isi). Maka, dengan perluasan ini, diperoleh gambaran bahwa sebelum expression form terbentuk, terdapat bahan tanpa bentuk (amorphous matter atau purport) yang melalui expression substance memperoleh batasan yang akhirnya terwujud dalam expression form tersebut. Expression form (bentuk ekspresi) tersusun dari kaidah-kaidah paradigmatik dan sitagmatik, sementara ekspression substance (bentuk isi)

merupakan organisasi formal petanda-petanda melalui hadir-tidaknya sebuah marka semantik. Demikian pula,

content form terbentuk dari content substance.

adalah ibarat jala yang dilempar di laut, pada saat pelemparan terlihat bayangan jala itu yang diibaratkan sebagai substance yang memberikan batasan pada hamparan laut. Hamparan laut itu diibaratkan sebagai bahan omorphaus, yang tanpa bentuk (Alex Sobur, 2003:61).

Expression Form

(EF) Content Form(CF)

Expression Substance (ES) Content Substance (CS)

Hjelmslev menegaskan bahwa tanda-tanda tidak dapat dibangun secara sederhana sebagai kombinasi diferensial dari penanda dan petanda. Ia pun menegaskan tentang hakikat dari sebuah tanda dalam koneksi logisnya dengan tanda-tanda lain. Menurut Hjelmslev, logika digital Saussurean dan diferensiasi

either/or (korelasi) membatasi sebuah sistem yang tidak

lengkap. Dia juga mengusulkan bahwa diferensiasi

both/and mempertahankan relasi dalam sebuah proses.

Baginya, sebuah tanda merupakan self-reflexive dalam artian bahwa sebuah penanda dan petanda masing-masing secara konsekuensial menjadi membentuk kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Ia beranggapan bahwa fungsi simbolik bahasa memuat representasi

eidetik dan representasi empiris dari pemaknaan. Fungsi

simbolik bahasa ini berajak dari semiotik konotatif ke semiotik denotatif dan akhirnya sampai pada metasemiotik dari referensi yang “riil”.

Semiotik Konotatif Semiotik denotatif Metasemiotik

denotatif adalah “sebuah semiotik yang mana bidangnya bukanlah semiotik”, sedangkan semiotik konotatif adalah “sebuah semiotik yang mana bidangnya bersifat semiotik”. Walaupun demikian, realitasnya tidak sesederhana seperti itu. Ranah kajian pun dapat juga menjadi semiotik, dan menurut Hjelmslev hal ini disebut sebagai sebuah “metasemiotik”. Metasemiotik dimaksudkannya sebagai “bentuk penghubugan tanda-tanda dalam teks (sastra) sebagai fakta semiotis hingga membuahkan gambaran semiotisnya” (Alex Sobur, 2003:61).

Hjelmslev mencanangkan metasemiotik sebagai

scientific semiotic, yakni sebagai rekonstruksi sistemis

yang memiliki beberapa karakter, yakni 1) dilakukan interpreternya, dan 2) mengandung hubungan multiplanar, dalam arti tanda dalam teks mempunyai hubungan antar tanda dalam teks dan intertektualitas (memiliki jaringan hubungan dengan subsistem yang lain secara eksternal), dan 3) dalam kesadaran batin interpreter, metasemiotik ada sebagai lambang kebahasaan yang memiliki kerangka hubungan secara internal maupun eksternal. Metasemiotik sebagai rekonstruksi interpreter tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem tanda yang ditafsirkannya dan tidak mampu mengadakan formulasi dan rekonstruksi (Aminudin, 2000:47).

Linguistik, Menurut Hjelmslev, merupakan sebuah contoh dari metasemiotik, yaitu telaah tentang bahasa yang juga adalah bahasa itu sendiri. Para penulis lain seperti Barthes, Todorov, dan Eco pun menggunakan pengertian tentang semiotik konotatif dan denotatif, namun, mereka masih berhati-hati sehubungan dengan pengertian tentang metasemiotik ini. Hjelmslev, misalnya, memberikan contoh analisis mengenai jargon

manifest destiny. Menurutnya jargon manifest destiny

orang-orang Amerika pada saat jargon ini muncul. Menurut Cobley dan Jansz (1999), cukup mudah untuk menelusuri akar dari jargon ini. Arti denotatifnya bermakna “tandir yang tak terhindarkan”. Lebih jauh Cobley dan Jansz (1999:42) menyebutkan:

What strikes the readers of these two words—if he or she is suffciently versed in history—is a whole set of assocoations to do with American expansion (the frontier, the 19th century, heroic pioneers, the railroad, the claiming of land from the East to the Pacific, the removal of Native Americans) (Apa yang mungkin dipahami oleh pembaca dua kata ini—apabila mereka memahami sejarah Amerika—adalah kumpulan ide yang berkaitan dengan ekspansi Amerika ke daerah-daerah perbatasan, pada abad ke-19, perintis-perintis yang heroik, klaim pemilikan tanah dari Timur sampai pesisir pasifik , dan penggusuran penduduk asli Amerika)

Kenyataannya, kata Cobley dan Jansz (1999:42),

Manifest Destiny terlahir pada 1846 merupakan jargon

yang dilontarkan presiden Amerika pada abad ke-19 untuk melegitimasi upaya kolonisasi seluruh dantaran. Karena itu, dalam tanda manifest destiny tersebut mengandung konotasi. Sebagaimana tanda yang lain, secara potensian konotasi tersebut dapat mengektifkan keseluruhan sistem penandaan yang ada dalam masyarakat.

Dalam dokumen SEMIOTIKA KONTEMPORER (Halaman 119-128)