BAB 6 Fragmentasi Gerakan Petani
6.4. Stagnasi Gerakan Petani
6.4.1. Pengeroposan Dari Dalam
Pasca aksi pendudukan lahan istilah “mabuk kemenangan” menjadi akrab. Konsepsi ini justru mengarah pada perilaku dan pengaruh negatif yang berimplikasi pada makna perjuangan yang semakin memudar, soliditas sosial semakin lemah, tingkat kepercayaan antar sesama semakin turun, jaringan hubungan semakin mengendur, dan komitmen perjuangan semakin melemah. Singkatnya, modal sosial gerakan petani mengalami peluruhan drastis. Sekalipun banyak yang mengklaim bahwa gerakan petani adalah sukses, tetapi sebenarnya tidak mengubah kehidupan petani secara berarti. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya bahwa anggapan seperti itu justru mendorong munculnya tindakan-tindakan yang berindikasi terjadinya pengeroposan dari dalam. Hasil penelitian Hartoyo (2010: 143-146) menemukan beberapa kelemahan organisasi tani sebagai berikut:
1. Sikap menjadi fungsi kepentingan. Selama aksi unjuk rasa dan
pendudukan lahan, orientasi tindakan para partisipan
terkonsentrasi pada tercapainya tuntutan-tuntutan praktis yang mendukung tujuan strategis gerakan. Pasca reklaiming orientasi tindakan mereka berubah semakin berjarak dengan tujuan strategisnya. Komunitas petani basis diposisikan sebagai sumberdaya mobilisasi potensial dan menjadi ajang perebutan pendukung tercapainya kepentingan instrumental oleh para elit garakan itu sendiri.
2. Praktik saling menegasikan. Jatuh bangundalam kepemimpinan
organisasi tani, upaya membunuh karakter, menyebar fitnah dan mempersempit gerak pihak lain dalam akses di ruang publik adalah bagian dari indikasi upaya meningkatkan derajat kekuasaan diri dan kelompoknya dengan cara menurunkan atau mengeliminir derajat kekuasaan kelompok lain yang dianggap pesaing atau lawan.
3. Pola kepemimpinan dalam gerakan yang lebih bersifat
transaksional daripada transformasional. Upaya untuk menguasai petani basis baik secara langsung maupun melalui penguasaan kontrol terhadap organisasi tani bukan dalam rangka penyelesaian persoalan substantif petani tetapi lebih dilihatnya memiliki nilai jual yang bisa mendatangkan keuntungan politik dan ekonomi.Oleh karena itu, gerakan petani dalam perkembangan organisasionalnya lebih bersifat sebagai gerakan untuk mencapai tujuan praktis dan pragmatis daripada untuk mencapau tujuan strategis gerakan. Kualitas kepemimpinan semakin nampak keropos dan mandul, mereka saling mengklaim petani basis sebagai anggotanya, saling
menegasikan pihak lain dan perpecahan sebagai jalan keluar dengan membentuk organisasi tani sendiri.Indikasinya antara lain adalah: (1) kepemimpinan yang jatuh bangun; (2) tidak ada kaderisasi; (3) tidak mampu tampil sebagai kelompok penekan dengan inovasi isu-isu petani secara produktif; (4) kepemimpinan yang tidak demokratis; (5) keanggotaan bersifat kolektif dan berbasis klaim; (6) tidak dapat mengatasi persoalan pembagian lahan hasil pendudukan sesuai dengan tujuan gerakan, yakni mendahulukan yang berhak dan para petani miskin; (7) tidak mandiri dan tidak memiliki garis massa yang jelas; dan (8) organisasi tani oleh para petani basis semakin kurang dipercaya sebagai wadah perjuangan petani karena para elit organisasi membawanya masuk terlibat proses transaksi dalam dinamika politik lokal.
4. Kesadaran petani basis dalam mendukung keberlanjutan
organisasi tani semakin lemah. Kuat anggapan bahwa perjuangan petani telah selesai ketika mereka sudah mendapatkan tanah pertanian. Tujuan gerakan petani adalah spesifik, kongkrit dan bersifat meterial bukan pada tujuan strategis. Fakta ini merupakan kelemahan para elitnya karena tidak mampu mentransformasikan tujuan strategis gerakan dalam struktur schemata petani.
5. Struktur komunikasi dalam organisasi tani semakin kurang efektif
karena kurang pendekatan secara periodik. Pada tataran perilaku para elit juga sudah cacat di mata petani basis karena berbagai kesalahan tindakan yang telah mereka lakukan. Petani basis sering menjadi alat mobilisasi untuk mencapai kepentingan para elit gerakan sehingga sangat sulit mempertahankan kepercayaan mereka yang sudah terlanjur luntur. Berbagai kasus yang terjadi di mana petani basis semakin jelas menjadi obyek mobilisasi untuk kepentingan politik dan ekonomi yang berujung sebagai korban kesalahan tindakan. Dalam ranah sosiopolitik petani basis menjadi sadar sebagai obyek mobilisasi dukung-mendukung pencapaian kekuasaan politik sehingga rasa simpati, loyalitas dan kepercayaan petani menjadi semakin turun. Dalam ranah ekonomi, antara lain kasus koperasi tani yang didukung secara materi oleh petani basis (iuran modal/simpanan wajib), tetapi oleh para elit aktornya diselewengkan dengan tidak ada pertanggung jawaban yang jelas. Koperasi menjadi gulung tikar dan modalnya juga ikut habis tidak diketahui kemana larinya. Kedua kasus tersebut melunturkan kepercayaan petani dan sikap mereka menjadi apatis, pasif dan bahkan cenderung tidak mau tahu terhadap kondisi organisasi tani yang juga semakin rapuh.
6. Terjadi pembelahan arus sumberdaya gerakan sampai terjadi polarisasi antara yang terkonsentrasi pada organisasi tani dan yang terkonsentrasi pada massa petani basis. Para aktor strategis gerakan semakin larut bermain pada ruangnya sendiri berada di dalam organisasi tani. Mereka sengaja memanfaatkan kapabilitas organisasi tani untuk dapat bermain pada ruang relasi kekuasaan
dalam struktur jaringan eksternal.67 Kemudian terjadi dua
stratifikasi ruang yang terpisah antara kelompok elitis organisasi tani dan komunitas petani basis. Jarak stratifikasi ruang tersebut selain menunjukkan lemahnya soliditas jaringan internal juga menunjukkan bahwa kedua kelompok aktor dalam ruangnya masing-masing sehingga sama-sama terjebak pada upaya pemuasan kepentinganya sendiri dalam jangka pendek.
7. Rendahnya sumberdaya manusia dalam kepengurusan organisasi.
Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan organisasi dan kualitas penyelesaian setiap persoalan petani. Tujuan pragmatis petani memperoleh tanah tidak mampu dikontrol secara baik dan distribusinya diserahkan sepenuhnya kepada organisasi tani tingkat basis (paling tinggi tingkat posko induk). Akibatnya, di wilayah yang berhasil diduduki terjadi pembagian yang kacau dan tidak dapat dibendung, munculnya para borjuis kecil, aksi premanisme, maraknya para spekulan tanah dan para penunggang
bebas (free-rides) dari berbagai kalangan.68Sesuai dengan tujuan
gerakan, para petani miskin yang seharusnya menjadi sasaran utama justru banyak yang tidak mendapatkan bagian lahan
garapan.Terdapat ungkapan bahasa Jawa: “asu gede menang
kerahe” (anjing besar mesti menang dalam berkelahi). Artinya, ketika melakukan aksi unjuk rasa dan reklaiming semua partisipan (dengan beragam latar belakang) bekerjasama secara sinergis (bahu membahu). Bahkan banyak organisasi tani basis dari berbagai wilayah ikut serta membantu. Tetapi setelah tanah dapat dikuasai, kemudian muncul saling mengaku (klaim) yang paling berjasa dengan mengeluarkan berbagai atribut kekuasaan untuk
67
Masing-masing aktor strategis memiliki kapabilitas membangun jaringan kepentingan dengan pihak luar secara politik maupun ekonomi yang berkaitan atau tidak dengan kepentingan substantif petani. Jaringan hubungan tersebut menjadi lintas batas termasuk berhubungan dengan para pemegang otoritas institusional atau dengan pihak lain meskipun harus menjual diri dan menjual massa petani basis anggota organisasi.
68
Capaian langsung para oportunis bukan hanya untuk mendapat citra sebagai pejuang, sebagai pahlawan petani, serta untuk memperoleh kekuasaan sosial politik sebagaimana yang terjadi pada kasus gerakan petani di Kalibakar Malang Selatan (Wahyudi, 2005: 198). Lebih dari itu, mereka juga berkeinginan mendapatkan keuntungan materi dan bagian tanah pertanian. Bahkan sebagian besar motivasi aktor strategis (petani dan non petani) pada akhirnya terlihat bahwa partisipasi mereka dalam gerakan hanya sebagai alat untuk mencapai kepentinganya yang bersifat oportunis.
mendapatkan bagian yang paling banyak. Mereka adu kekuatan untuk saling menyingkirkan yang lain, dan yang paling kuat adalah mereka yang mampu memperoleh bagian yang paling banyak sesuai keinginan. Sedangkan mereka yang lemah hanya mendapatkan sisanya, bahkan ada yang tidak mendapatkan bagian atau hanya sebagai klien (petani penggarap) dari pihak-pihak non petani (patron) yang dapat menguasai lahan disitu.
8. Komunitas petani basis secara terus menerus berpotensi menjadi
ajang perebutan pengaruh oleh berbagai organisasi lain yang para elit aktornya secara historis pernah berjasa terhadap keberhasilan perjuangan petani di masa lalu. Para elit gerakan (petani dan non petani) tidak lagi bisa bersatu karena kuatnya kepentingan masing-masing dan saling menganggap bahwa komunitas petani basis yang ada itu juga menjadi anggota organisasinya. Beberapa contoh kasus di antaranya adalah: (1) berdirinya Posko (baru) di dalam Posko (lama); (2) munculnya isu akan dilakukan gerakan 40.000 petani dengan mudah dibatalkan secara sepihak oleh para aktor strategis non petani karena mereka sudah berhasil mengurus ijin operasi perusahaan dan mendapatkan sejumlah uang dari perusahaan; (4) perebutan pengaruh dalam acara peringatan sewindu pasca reklaiming; dan (5) berdirinya LSM dan organisasi tani (baru) yang mengklaim sebagian besar anggotanya adalah juga yang menjadi anggota organisasi tani lain (lama).
Semua itu membawa suatu kondisi bahwa konflik horizontal masih rentan terjadi. Suatu persoalan yang krusial adalah belum adanya tanda-tanda upaya penyatuan kembali gerak langkah perjuangan berbagai organisasi gerakan petani. Menurunnya kapasitas organisasional gerakan petani berdampak pada munculnya persoalan horizontal, semakin menurunnya soliditas perjuangan, komitmen
moral dan jaringan (networks) antara para aktor strategis petani dan
segenap elemen pendukungnya.