BAB 7 Pergeseran Arah Perkembangan Gerakan Petani
7.3. Strukturasi Internal: Persoalan Siklus Gerakan Petani
Sebagaimana sudah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa perjuangan petani di Lampung mulai dari era Orde Baru sampai saat ini telah berhasil mengembangkan struktur gerakan, mulai dari aksi protes klasik, gerakan konsensus, gerakan lokal-tradisional, sampai dengan gerakan sosiopolitik. Perjuangan petani terutama berbasis pada klaim-kalim material (tanah), kemudian dengan hadirnya elemen pendukung dari luar dalam gerakan sosiopolitik maka orientasi gerakan petani tidak lagi hanya terkokus pada dimensi material tetapi juga sampai pada tuntutan keadilan dan demokrasi agraria. Rendahnya kualitas sumberdaya petani dalam mengendalikan struktur gerakan petani di lampung semakin membuka peluang bagi elemen aktor pendukungnya untuk menduduki posisi strategis dalam struktur gerakan skala wilayah provinsi.
Struktur sumberdaya petani dan segenap elemen aktor pendukungnya memiliki posisi yang sama pentingnya dalam dinamika gerakan petani meskipun keduanya memiliki sifat-sifat struktural yang berbeda. Dilihat dari sudut pandang diferensiasi-integrasi, perbedaan tersebut cenderung mengarah pada pola pembagian tugas masing-masing dalam satu kesatuan irama kerja gerakan sesuai dengan sifat-sifat strukturalnya. Elemen aktor pendukung gerakan cenderung berperan aktif dalam melakukan tekanan ke atas dan berhubungan dengan struktur otoritas, sedangkan elemen aktor petani cenderung berperan dalam menjaga dan mengembangkan jaringan hubungan ke bawah hingga sampai pada komunitas petani basis.
Tidak dapat dihindari bahwa untuk menjaga kekuatan struktur sumberdaya mobilisasi, maka kepemimpinan yang semakin dekat dengan jalur komunitas petani basis, selain semakin dikuasai oleh elemen aktor petani juga semakin terikat pada sistem otoritas tradisi setempat. Oleh karena itu, secara umum struktur sumberdaya mobilisasi dalam gerakan petani terjadi dua kutub pola organisasi dan kepemimpinan moderen (tingkat wilayah provinsi yang diwarnai oleh elemen aktor pendukung) dan tradisional (tingkat komunitas petani basis, yang diwarnai oleh elemen aktor petani).
Akan tetapi, isu gerakan petani masih tetap dominan berkutat pada persoalan klasik (material). Misalnya di wilayah kehutanan, basis isu faktualnya masih tidak beranjak dari persoalan pertarungan kuasa atas tanah pertanian antara komunitas petani melawan dominasi
negara yang masih melekat ruh asas domeinverklaring. Jika gerakan
petani tersebut dimasukkan sebagai gerakan reforma agraria dari
bawah (agrarian reform by leverage) maka hingga saat ini masih tidak
Keberhasilan pendudukan lahan bisa diklaim sebagai prestasi gerakan. Akan tetapi, prestasi tersebut pada kenyataannya tidak berjalan seiring
dengan keberhasilan dalam menjalankan asset reform sesuai dengan
klaim-klaim yang diperjuangkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani miskin. Padahal, peran strategis organisasi tani bukan hanya sebagai katalis gerakan, tetapi juga sebagai wadah penyelesaian persoalan agraria dan wadah pemberdayaan petani dalam dimensi politik, ekonomi dan kultural. Masih banyak kasus konflik pertanahan di Lampung yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan secara tuntas, bahkan berkembang persoalan baru dan rentan terhadap konflik horizontal.
Meskipun gerakan petani pada tahapan awal bisa dikatakan berhasil dalam melakukan reklaiming, tetapi secara umum banyak pihak yang menganggapnya gagal. Pembagian lahan hasil reklaiming diserahkan sepenuhnya kepada organisasi tani di bawah (Posko Induk dan Posko Basis), dan hasilnya justru malah kacau, ada yang dijual dan dimiliki oleh orang-orang yang tidak pernah ikut berjuang. Dalam perkembangannya banyak pihak luar yang ikut barmain di dalamnya.
Organisasi tani skala provinsi pada masa pra dan pada masa berlangsungnya aksi-aksi kolektif petani dikendalikan oleh elemen petani bersama dengan elemen aktor pendukungnya. Tetapi, pasca aksi-aksi kolektif petani di antara mereka terjadi rebutan sumberdaya mobilisasi, sehingga persoalannya yang semakin “blunder”, terjadi cek-cok dan kental dengan kepentingan ekonomi dan politik transaksional. Karena kepentingan elemen aktor pendukung tidak terpenuhi, banyak di antara mereka yang kemudian meninggalkan organisasi tani begitu saja. Jika ada beberapa organisasi tani basis yang masih didukung perjuangannya oleh elemen aktor dari luar, tetapi kebanyakan lebih menonjolkan dukungan yang bersifat pribadi.
Sekarang organisasi tani di Lampung sudah tidak memiliki kekuatan yang cukup sebagai organisasi gerakan. Roda organisasi banyak yang dipegang oleh petani sendiri, dan tidak didukung sepenuhnya oleh elemen aktor dari luar seperti yang terjadi pada awal-awal gerakan dulu. Dilihat dari karakteristik dasarnya sebagian besar petani di Lampung berpendidikan rendah, lebih suka bertahan, lebih membutuhkan tanah untuk bertani, tidak memiliki pengalaman berorganisasi, banyak “okol” tapi kurang “akal”, sehingga jika tidak digerakkan oleh elemen aktor dari luar melalui wadah organisasi tani, maka mereka tidak bisa bergerak.”
Dalam perkembangannya, kekuatan struktur organisasi gerakan petani semakin melemah. Legitimasi dan kredibilitasnya semakin menurun baik dihadapan konstituen petani basis maupun dihadapan
para pemegang otoritas. Isu-isu kritis sudah tidak diproduksi, dan bahkan terjadi komodifikasi sumberdaya. Kondisi ini menambah
distrust petani basis terhadap peran organisasi gerakan petani sebagai wadah perjuangan petani. Keberadaan struktur organisasi gerakan dianggap tidak mampu lagi mengartikulasikan kepentingan petani dan dalam menggugat kebijakan agraria kepada para pemegang otoritas. Secara obyektif aksi-aksi kolektif petani terorganisir sudah menurun sangat drastis dan secara subyektif memang sudah dianggap tidak lagi menjadi pilihan strategi gerakan yang utama.
Aktivitas gerakan oleh kalangan konstituennya juga dianggap sudah jauh mengalami disorientasi akibat perilaku para elitnya untuk mencapai kepentingan sesaat. Pada sisi lain, pasca formalisasi gerakan petani maka keberadaannya selain semakin mengerucut terdiri dari unsur petani juga semakin tidak didukung sepenuhnya oleh elemen aktor non petani. Kondisi ini semakin memperkuat posisi gerakan secara orgnisasional semakin lekat dengan irama dan kultur kehidupan komunitas petani basis di pedesaan, semakin kehilangan karakternya sebagai organisasi gerakan, dan keberadannya semakin menyempit terkonsentrasi di wilayah sekitar tempat tinggal pengurus inti. Misalnya IPL wilayahnya kerjanya menyempit hanya terkonsentrasi di desa Sinar Rejeki dan sekitarnya; Mirak Nadai terkonsetrasi di wilayah Padang Ratu; dan SPL/SPI sebagian besar basisnya sudah lepas dan kemudian mencari anggota baru yang bukan dari komunitas petani basis di wilayah konflik. Bukti ini menunjukkan bahwa struktur sumberdaya gerakan cenderung kembali terkonsentrasi di wilayah komunitas petani basis yang terikat dengan otoritas tradisi setempat. Posisi basis selain terlepas dari struktur induknya juga dukungan elemen aktor non petani semakin melemah dan menjauh.
Menurunnya derajat legitimasi dan kredibilitas organisasi gerakan petani juga terjadi dihadapan para pemegang otoritas. Kekuatan posisi tawar dalam struktur hubungan agraria menurun sejalan dengan perubahan momentum peluang politik. Ketika momentumnya mendukung (saat krisis politik pada awal reformasi) maka dukungan sebagian para pemegang otoritas terhadap keberadaan organisasi gerakan petani cukup kuat. Tetapi saat ini, para pejabat di daerah yang dulu mendukung sudah berganti, momentum peluang politik sudah terlewati, keanggotaan petani sudah dikeluarkan dari tim kerja yang dibentuk oleh pemerintah, sehingga posisi tawarnya menurun pada posisi terendah. Aktivitasnya tidak lagi menunjukkan sebagai organisasi gerakan, tetapi sebagai organisasi tani yang berkarakter konservatif berjalan mengikuti arus sistem sosial agraria yang mapan.
Semakin mandulnya peran organisasi gerakan petani skala provinsi, maka kekuatan gerakan dan persoalan petani di Lampung kembali berada pada posisinya semula, yakni menyebar, terlokalisir, dan terkonsentrasi pada lokus wilayah komunitas lokal (petani basis) masing-masing. Sebagian besar basis-basis petani yang dulunya menjadi anggota organisasi tani sekarang mereka berjuang sendiri-sendiri. Bahkan persoalan yang muncul di dalam juga dihadapi sendiri, dan banyak yang tidak selesai sampai sekarang. Para petani yang sudah dapat tanah asyik dengan urusannya sendiri, dan terjadi jual beli. Organisasi tani sudah tidak mampu lagi mengontrolnya.
Penjelasan di atas memperkuat kesimpulan bahwa dilihat dari rentang historis gerak perjuangan petani berangkat dari kesendirian dan saat ini kembali dalam kesendirian. Gambar 9 menunjukkan strukturasi perjuangan petani mulai masa Orde Baru hingga saat ini. Dilihat dari dejarat integratif antara petani dengan segenap elemen aktor pendukungnya selama perkembangan perjuangan petani telah terjadi tiga tahapan berubahan struktur sumberdaya mobilisasi, yakni:
tahapan pra-struktur (unintegrated), penguatan struktur (integrated),
dan pecahnya struktur (disintegrated).
1. Tahap pra-struktur (unintegrated). Tahap ini terjadi pada awal
gerak perjuangan petani dalam bentuknya yang paling sederhana. Seperti dalam aksi-aksi protes baik langsung berhadapan dengan pihak lawan maupun secara tidak langsung (terselubung atau tersembunyi) semuanya relatif masih murni dilakukan oleh petani korban dan belum mendapat dukungan dari elemen aktor non petani. Perilaku kolektif petani ini masih dalam lingkup
lokal-kasuistik, tidak terorganisir (amorph), emosional, sporadis,
spontan, dan sebagainya.
2. Tahap penguatan strukur (integrated). Awal penguatan struktur
mobilisasi sumberdaya dengan dukungan elemen aktor non petani terjadi ketika petani korban secara kolektif mulai berjuang untuk mendapatkan haknya atas tanah melalui jalur institusional (gerakan konsensus). Elemen petani bekerjasama dengan elemen aktor non petani untuk mendapatkan advokasi hukum. Karena dengan menggunakan strategi ini tidak berhasil maka struktur perjuangan petani semakin diperkuat dengan melibatkan elemen aktor non petani yang lebih banyak untuk melakukan gerakan lokal-tradisional. Puncak penguatan struktur terjadi dalam gerakan sosiopolitik merespon terbukanya peluang politik seiring dengan jatuhnya rezim Orde Baru. Dalam gerakan ini dukungan elemen aktor non petani sangat kuat terdiri atas berbagai kalangan masyarakat sipil dan partai politik, tingkat lokal dan nasional.
Keterangan: OGP (Organisasi Gerakan Petani) Gambar 9. Strukturasi Internal Gerakan Petani Sumber: Hartoyo, 2010.
3. Tahap pecahnya struktur (disintegrated). Ini terjadi pasca aksi-aksi
kolektif dan dalam proses penguatan organisasi gerakan petani. Pada masa ini terjadi perebutan kepentingan dan kekuasaan, terjadi konflik antar elemen struktur sumberdaya gerakan yang diikuti dengan fragmentasi organisasi. Akhirnya terjadi deformasi, yakni terjadi perubahan struktur gerakan baru yang tidak mengarah pada penguatan formasi gerakan tetapi justru terjadi konflik internal, pembelahan elemen struktur gerakan dan akhirnya mengarah para perpecahan dalam tubuh organisasi gerakan petani tingkat wilayah provinsi dan bercerai-berainya
organisasi petani basis. Selain itu juga terjadi decoupling, yakni
terjadi suatu pemisahan antara persoalan substantif petani dengan kepentingan para elit aktor gerakan. Antara elemen petani dan non petani terpisah atau tidak menyatu lagi dalam satu kesatuan struktur gerakan. Masing-masing bergerak menurut arahnya sendiri sesuai dengan sifat-sifat strukturalnya masing-masing. Elemen petani bergerak mengarah pada sifat-sifat struktural (dalam sosiokultural) tradisional, sedangkan elemen non petani begerak mengarah pada sifat-sifat struktural (dalam sosio-kultural) moderen. Fenomena tersebut berpengaruh terhadap keberlanjutan gerakan karena entitas strukturnya menjadi terpecah dan bergerak sendiri-sendiri. Pada kondisi ini orientasi
P E R J U A N G A N P E T A N I K E L O M P O K P E N D U K U N G Reaksi spontan: Protes Kelompok Kepentingan Gerakan Tradisional Tidak ada dukungan Dukungan lemah Dukungan cukup kuat Dukungan cukup kuat Dukungan lemah Dukungan kuat Gerakan Sosio-Politik Formalisasi OGP OGP Pecahan
: nal ah ukup h n i an
masing-masing elemen aktor semakin tidak dapat disatukan lagi
dalam suatu struktur gerakan yang solid dan integrated seperti
yang terjadi sebelumnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sebab
dan konsekuensi terjadinya destrukturasi internal (disintegrated)
gerakan dan organisasi gerakan petani, paling tidak dapat dijelaskan dari dua aspek. Pertama, karena tindakan para elit aktor yang cenderung saling mempertajam kontradiksi dan saling menegasikan. Kondisi ini jelas berkonsekuensi pada kecil kemungkinan dapat dikembangkan unsur mediasi. Kedua, akibatnya adalah terjadi degradasi struktur sumberdaya mobilisasi dalam gerakan petani. Organisasi tani semakin kehilangan karakternya sebagai organisasi
gerakan yang legitimate dan credible dalam mengemban amanah
mengentaskan nasib petani miskin.