• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran LSM Dalam Konflik Sumberdaya Hutan

5 KONFLIK SUMBERDAYA HUTAN

5.6. Peran LSM Dalam Konflik Sumberdaya Hutan

Konflik sumberdaya hutan di TNGHS dan Hutan Sungai Utik bukan hanya melibatkan masyarakat adat dan negara yang saling berhadapan, tetapi juga melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berusaha membantu kedua belah pihak untuk dapat menyelesaikan konflik. Pada kasus TNGHS, LSM-LSM tersebut ada yang mendukung program BTNGHS, ada juga yang mendukung perjuangan Masyarakat Kasepuhan untuk memperoleh hak akses kelola hutan. Salah satu LSM yang mendukung program negara (BTNGHS) adalah JICA. JICA berusaha menjembatani kepentingan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Dengan konsep “model kampung konservasi (MKK)”, JICA mencoba membantu

TNGHS dalam mereboisasi kembali hutan yang gundul melalui konsep partisipasi masyarakat, dan melakukan pengembangan usaha ekonomi produktif untuk masyarakat di dalam kawasan.

Adapun LSM-LSM yang pernah datang dan mendukung perjuangan Masyarakat Kasepuhan adalah SABAKI, SKEPI, PERAN, PUSAKA, LATIN, RMI, AMAN, RESPEK. Namun yang secara kontinyu dan terus menerus melakukan pendampingan terhadap masayarakat adalah LSM SABAKI dan AMAN. LSM SABAKI merupakan organisasi paguyuban masyarakat adat Banten Kidul dimana seluruh Kasepuhan menjadi anggotanya. Melalui SABAKI inilah Masyarakat Kasepuhan bekerjasama dengan pemerintah daerah, bukan hanya Pemerintah Kabupaten Sukabumi, termasuk juga Pemerintah Kabupaten Lebak untuk melakukan negosiasi dengan Departemen Kehutanan Republik Indonesia terkait usulan revisi SK Menhut No. 175/Kpts-II/2003 tentang Perluasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Adapun AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) adalah organisasi yang memayungi masyarakat adat di seluruh nusantara. Masyarakat Kasepuhan selalu dilibatkan dalam kongres AMAN. Abah Asep turut hadir di beberapa kongres AMAN, antara lain tahun 2007 mengikuti rapat kerja (raker) AMAN di Sasana Langgeng Budaya TMII, tahun 2009 bulan Agustus abah juga hadir dalam

kongres AMAN di Halmahera. Networking Masyarakat Kasepuhan dengan

AMAN terbentuk karena kesamaan ideologi (pembelaan terhadap masyarakat

161 masalah yang sama terkait dengan konflik tenurial dengan negara. Keberadaan LSM AMAN bukan hanya membantu perjuangan masyarakat pada level kebijakan di tingkat pusat tapi juga berusaha menyelesaikan masalah di tingkat

grassroot. LSM juga pernah membantu Masyarakat Kasepuhan dalam

membuatkan naskah akademik mengenai “pengelolaan hutan oleh masyarakat

adat”. Bantuan tersebut berasal dari LSM PUSAKA dan PERAN. Konsep naskah

akademik tersebut sudah disampaikan kepada Bupati Kabupaten Sukabumi dan anggota DPR, namun belum ada tindak lanjutnya sampai sekarang.

Dalam kasus Hutan Sungai Utik, keberadaan LSM mendukung perjuangan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik untuk mendapatkan pengakuan hak atas hutan adat mereka. Perjuangan Masyarakat Sungai Utik lebih banyak disuarakan oleh para LSM yang mengaku mewakili dan atas nama masyarakat. LSM-LSM yang berkiprah di Sungai Utik antara lain AMAN dan LSM-LSM yang berada dibawah Yayasan Pancur Kasih.

Beberapa perjuangan yang dilakukan melalui LSM AMAN antara lain konsolidasi dan penguatan masyarakat adat, pemetaan partisipatif di wilayah kelola masyarakat adat, memperkuat organisasi masyarakat adat, termasuk kelembagaan adat, mendorong perubahan paradigma kebijakan-kebijakan yang belum berpihak kepada masyarakat adat, mendorong lahirnya UUPPHMA (undang undang pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat). Beberapa pendekatan multi pihak yang dijalankan oleh AMAN dengan melakukan MoU dengan negara, antara lain MoU AMAN-Kementerian Lingkungan Hidup, AMAN-Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM), AMAN-Badan Pertanahan Nasional (BPN).

MoU AMAN dan BPN meliputi beberapa hal: pertukaran informasi dan pengetahuan di kalangan badan pertanahan nasional dan aliansi masyarakat adat nusantara dalam rangka meningkatkan pemahaman visi, misi, peran dan tugas masing-masing; memformulasikan kebijakan untuk mengakomodasi hak-hak masyarakat adatnya dalam konteks pembaruan hukum dan peraturan perundang- undangan nkri; identifikasi dan inventarisasi keberadaan masyarakat adat dan wilayah adatnya sebagai landasan proses legalisasi menuju perlindungan hukum hubungannya antara wilayah adat dan masyarakat adatnya; merumuskan

162

mekanisme penanganan dan penyelesaian sengketa, konflik dan perkara pertanahan di wilayah masyarakat adat; pengembangan model-model reforma agraria di wilayah adat (sumber: AMAN, 2012).

Adapun LSM-LSM yang berkiprah di dusun Sungai Utik yang berada dalam

satu wadah “Yayasan Pancur Kasih” membina Masyarakat Dayak Iban Sungai

Utik dari berbagai aspek termasuk ekonomi dengan didirikannya cu pancur kasih

yang kemudian berubah menjadi CU Keling Kumang setelah mengalami merger

dengan yayasan lain. Salah satu peran penting lainnya yang dilakukan oleh LSM PPSDAK dalam mendampingi masyarakat tersebut adalah dengan melakukan pemetaan tata batas wilayah Sungai Utik, yaitu pemetaan partisipatif tahun 1998. Peta ini menjadi modal bagi masyarakat adat dalam klaim atas wilayah adatnya. Namun peta yang dibuat oleh masyarakat dan LSM tersebut belum diregistrasi, sehingga tidak ada pengakuan resmi dari pemerintah maupun pemerintah daerah mengenai klaim wilayah yang dilakukan oleh masyarakat. Selain itu, melalui LSM-LSM dibawah yayasan tersebut (LBBT), masyarakat juga mendapat pendidikan dan penyadaran hukum.

Sekarang ini, beberapa LSM mulai melakukan pembinaan bagaimana mereka dapat mengelola hutan, memanfaatkan hutan menjadi bernilai ekonomi dengan cara pemberian pengetahuan tentang permebelan, yaitu mengolah kayu yang selama ini dibakar di hutan garapan masyarakat untuk dimanfaatkan menjadi barang-barang mebeler. Namun pembinaan tersebut belum berjalan lancar. Pembinaan yang sedang berjalan adalah yang dilakukan oleh cu keling kumang yaitu menampung kerajinan masyarakat dari rotan baik berupa tikar maupun tembikar dan alat-alat pertanian lainnya yang menggunakan rotan. Rencananya kerajinan tersebut akan dijual ke luar negeri oleh cu keling kumang.

Selain bantuan LSM dalam bentuk peningkatan kapasitas Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik, bantuan LSM juga berada pada ranah konflik wacana untuk memperjuangkan hak kelola adat. Perjuangan ini dilakukan melalui arena seminar-seminar. Contoh kasus pada seminar dan lokakarya yang difasilitasi oleh LSM Lanting Borneo, dengan tema “Mendorong pendekatan multi pihak dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang menjamin wilayah kelola masyarakat adat,

163 di Deo Soli Kota Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu, pada tanggal 25-26 Mei 2012. Hasil yang diharapkan dari seminar tersebut adalah: adanya kesepahaman dan komitmen bersama guna membangun pendekatan multi pihak dalam pengelolaan hutan yang mengakui wilayah kelola masyarakat adat, serta mengedepankan prinsip pembangunan rendah emisi di Kabupaten Kapuas Hulu; dan terbentuknya forum multipihak yang menjadi wahana bagi para pemangku kepentingan untuk membangun kerangka kerjasama dalam pengelolaan sumberdaya hutan secara lestari dan berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip pembangunan rendah emisi di Kabupaten Kapuas Hulu. Dalam seminar tersebut, pembicaranya adalah dari pihak cendekiawan dan negara, adapun masyarakat adat hanya sebagai peserta. Kalaupun ada masyarakat adat yang berbicara (contoh Pak Kanyan) hanya satu orang dari 11 pembicara, namun walaupun satu orang tetapi

web of powernya adalah LSM (AMAN dan LSM yang berada dalam pembinaan Pancur Kasih serta LSM internasional).

Dukungan LSM nasional dan internasional ini memberikan pengaruh pada pergeseran pengetahuan lokal Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik. LSM-LSM tersebut mencoba memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai pengetahuan tentang hutan. Masyarakat digiring oleh LSM pada pemahaman tentang perdagangan karbon, redd maupun demontrative activity (DA). Ada pengalihan wacana dari pertarungan untuk mendapatkan “property right” bergeser

ke arah manfaat global bagi semua pihak, masyarakat, negara maupun dunia. Selanjutnya, pencapaian penting dari bantuan LSM terhadap Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik adalah memfasilitasi masyarakat adat untuk memperoleh sertifikat ekolabeling, yaitu penghargaan dari lembaga ekolabel Indonesia dengan Nomor Certificate 08/SCBFM/005 yang diberikan untuk pengelolaan hutan oleh rumah panjae menua Sungai Utik (forest management unit of rumah panjae menua Sungai Utik), dalam lingkup “sustainable community based forest management (SCBFM) unit with an area of 9.453,40 hectares”.

Melalui sertifikat ini memungkinkan LEI untuk melakukan uji lapangan dan memperbaharui standar pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat. Sertifikasi tersebut meliputi 9.453,40 ha. Sertifikasi dapat membantu masyarakat untuk mempertahankan kawasan hutan tersebut sebagai kawasan hutan lestari. Dengan

164

adanya sertifikat tersebut, setidaknya untuk sementara Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik merasa lega, namun kecemasan tetap ada. Sekalipun adanya Instruksi

Presiden No.10/2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru Dan

Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer Dan Lahan Gambut, atau yang lebih dikenal dengan nama “Inpres Moratorium”, yang mengintruksikan penundaan izin baru, namun ada pengecualiaan bagi izin yang sedang berjalan.

Berdasarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru Dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer Dan Lahan Gambut, disebutkan bahwa dalam rangka menyeimbangkan dan menselaraskan pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan serta upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang dilakukan melalui penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dengan ini menginstruksikan: kepada : 1. Menteri Kehutanan; 2. Menteri Dalam Negeri; 3. Menteri Lingkungan Hidup; 4. Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan Dan Pengendalian Pembangunan; 5. Kepala Badan Pertanahan Nasional; 6. Ketua Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional; 7. Ketua Badan Koordinasi Survey Dan Pemetaan Nasional; 8. Ketua Satuan Tugas Persiapan Pembentukan Kelembagaan Redd+ Atau Ketua Lembaga Yang Dibentuk Untuk Melaksanakan Tugas Khusus Dibidang Redd+; 9. Para Gubernur; 10. Para Bupati/Walikota untuk:

1. Pertama: mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk mendukung penundaan pemberian izin baru hutan alam primer dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi (hutan produksi terbatas, hutan produksi biasa/tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi) dan area penggunaan lain sebagaimana tercantum dalam peta indikatif penundaan izin baru yang menjadi lampiran instruksi presiden.

2. Kedua: penundaan pemberian izin baru sebagaimana dimaksud dalam diktum

pertama berlaku bagi penggunaan kawasan hutan alam primer dan lahan gambut, dengan pengecualian diberikan kepada:

a. Permohonan yang telah mendapat persetujuan prinsip dari Menteri

165 b. Pelaksanaan pembangunan nasional yang bersifat vital, yaitu: geothermal,

minyak dan gas bumi, ketenagalistrikan, lahan untuk padi dan tebu;

c. Perpanjangan izin pemanfaatan hutan dan/atau penggunaan kawasan hutan

yang telah ada sepanjang izin di bidang usahanya masih berlaku; dan d. Restorasi ekosistem.

3. Ketiga : khusus kepada: 1. Menteri Kehutanan, untuk:

a. Melakukan penundaan terhadap penerbitan izin baru hutan alam primer dan lahan gambut yang berada di hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi (hutan produksi terbatas, hutan produksi biasa/tetap, hutan produksi yang dapat dikonversi) berdasarkan peta indikatif penundaan izin baru.

b. Menyempurnakan kebijakan tata kelola bagi izin pinjam pakai dan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam.

Inpres tersebut memberikan pengecualian bagi perpanjangan izin pemanfaatan hutan dan/atau penggunaan kawasan hutan yang telah ada sepanjang izin di bidang usahanya masih berlaku. Hal ini memberi makna bahwa IUPHHK PT. BRW masih tetap berlaku sampai jangka waktu izin tersebut habis.