5 KONFLIK SUMBERDAYA HUTAN
5.7. Proses Penyelesaian Konflik Sumberdaya Hutan
Dengan mengambil teladan kasus dari Masyarakat Kasepuhan dan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dapat dijelaskan bahwa konflik sumberdaya hutan yang melibatkan masyarakat adat dan negara termasuk perusahaan didalamnya, merupakan konflik pemaknaan, tenurial, otoritas dan konflik
livelihood. Adapun isu sentralnya adalah adanya perbedaan pemaknaan dan tumpang tindih klaim atas hak penguasaan sumberdaya hutan. Adapun karakteristik konflik dikedua lokasi dapat digambarkan, sebagai berikut:
166
Matrik 8. Karakteristik Konflik di Sungai Utik dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Taman Nasional Gunung Halimun
Salak Hutan Sungai Utik
Masyarakat Negara Masyarakat Negara
Penyebab Sistem nilai,
Status wilayah masyarakat, Ketidak jelasan tata batas
Pembatasan akses
Status tanah Sistem nilai, Status wilayah masyarakat Ketidak pastian
Status tanah
Proses
rekonsiliasi AliansiRegulasi lokal Pemetaan wilayah adat MoU Lokakarya Program kampung konservasi Ecotourism Transmigrasi Aliansi Regulasi lokal Pendokumentasian hukum adat Pemetaan wilayah adat Menghentikan kegiatan Membiarkan konflik mengambang Bentuk
konflik Laten- manifest; aliansi; konfrontasi
Sebetulnya dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan telah diatur adanya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Pada Bab X tentang Peran Serta Masyarakat, Pasal 68 menyebutkan bahwa: “(1) Masyarakat berhak menikmati kualitas lingkungan hidup yang dihasilkan hutan. (2) Selain hak sebagaimana dimaksud pada Ayat (1), masyarakat dapat: a. memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku; b. mengetahui rencana peruntukan hutan, pemanfaatan hasil hutan, dan informasi kehutanan; c. memberi informasi, saran, serta pertimbangan dalam pembangunan kehutanan; dan d. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pembangunan kehutanan baik langsung maupun tidak langsung. (3) Masyarakat di dalam dan di sekitar hutan berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya akses dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibat penetapan kawasan hutan, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Setiap orang berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan pasal tersebut diketahui bahwa masyarakat berhak memanfaatkan hutan dan hasil hutan, bahkan jika ada kelembagaan baru yang diterbitkan oleh negara atas hutan tersebut dimana
167 masyarakat ada di dalam dan di sekitar hutan tersebut, maka masyarakat berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya akses dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akibat penetapan kawasan hutan, maupun berhak memperoleh kompensasi karena hilangnya hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Persoalannya kemudian berkenaan dengan hak milik atas tanah. Semua masyarakat adat di Indonesia hidup atas keberadaan lingkungan alam disekitaranya termasuk hutan dan mereka tidak memiliki surat apapun yang menerangkan kepemilikan mereka atas tanah dan hutan yang selama ini dijaganya. Selama undang-undang dan peraturan pemerintah mensyaratkan keberadaan kepemilikan atas tanah untuk membenarkan masyarakat adat memperoleh hak akses untuk pemanfaatan hutan, maka selama itu pula konflik sumberdaya hutan tidak akan pernah diselesaikan.
Idealnya adalah baik negara maupun masyarakat dapat menjalankan fungsi dan peran sertanya masing-masing sesuai apa yang diamanatkan oleh Pasal 70 Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
bahwa; “masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang
kehutanan, sementara pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang berdaya guna dan berhasil
guna”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyelesaian konflik sumberdaya
alam tidaklah mudah, karena harus dapat menyelesaikan berbagai penyebab konflik dan mempertemukan kepentingan, penyelesaian tenurial maupun redistribusi otoritas.
168
Matrik 9. Resolusi Konflik Pada Kawasan TNGHS dan Hutan Sungai Utik
TNGHS Sungai Utik Kondisi
terkini Wilayah TNGHS diakui sebagai wilayah taman nasional, masyarakat masih
diperbolehkan menggarap lahan garapannya selama tidak menambah lokasi baru,
menanam pohon kayu dan tidak boleh memotong pohon kayu sekalipun berada di lahan garapannya.
Wilayah ini masih berstatus hutan
produksi (diatas kertas) namun tidak aktif. Secara nyata masih menjadi wilayah kelola adat Dayak Iban Sungai Utik dan dijalankan berdasarkan aturan adat. Masyarakat masih menggarap lahan pada miliknya dan boleh berpindah tempat (pertanian bergulir) dalam wilayah kuasa adat selama ada izin dari tuai rumah selaku ketua adat
Upaya
konsensus Ada upaya konsensus yang dilakukan melalui pertemuan-
pertemuan, kesepakatan-
kesepakatan, pembuatan peta tata batas bersama masyarakat, pelaksanaan program bersama “program kampung konservasi”
Ada upaya perjuangan untuk pencabutan izin IUPHHK dan IUP dan diterbitkannya keputusan bahwa hutan tersebut sebagai hutan kelola adat melalui mediasi yang dilakukan oleh LSM, namun Masyarakat Dayak Iban sendiri belum pernah bernegosiasi dengan pemerintah secara langsung.
Unsur kekuatan/ kelemahan
Tidak memiliki peta wilayah adat
Hukum adat bersifat lisan dan bertumpu pada peran abah Dalam proses kesepakatan (MoU belum tuntas) Memiliki dukungan dari pemerintah daerah
Mendapat dukungan dari LSM
Memiliki peta wilayah adat (belum diregistrasi); hukum adat yang dibukukan dan ditanda tangani oleh seluruh
Masyarakat Dayak Iban dan Dayak Embaloh; memiliki sertifikat ekolabel dari LEI; memiliki sertifikat sebagai
masyarakat teladan perduli hutan Mendapat dukungan dari LSM
Bertentangan dengan pemerintah daerah
Pada kasus TNGHS, dalam mencoba menyelesaikan konflik penguasaan sumberdaya hutan, Masyarakat Kasepuhan menempuh jalur negosiasi sejak awal. Sebenarnya upaya penyelesaian konflik antara BTNGHS dengan Masyarakat Kasepuhan sudah dilakukan sejak tahun 2006. Di tahun 2006 sudah dilakukan dua kali pertemuan untuk membahas masalah kawasan. Kedua pertemuan tersebut diadakan di Pelabuhanratu dan dihadiri oleh perwakilan desa, perwakilan Kasepuhan, perwakilan AMAN (aliansi masyarakat adat nusantara), pihak pemerintah daerah. Namun kedua pertemuan tersebut gagal membangun kesepakatan dan tidak membuahkan hasil. Selanjutnya, tahun 2008 pihak BTNGHS menginisiasi pertemuan sosialisasi rencana strategis pengelolaan kawasan lima tahun ke depan yang akan diterapkan mulai pada tahun 2009 yang diselenggarakan di Bogor. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah, perwakilan desa, perwakilan Kasepuhan, perwakilan AMAN, dan pihak BTNGHS. Salah satu yang menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah rancangan pembagian zonasi yang kemudian ditolak oleh pemerintah
169 daerah dan Masyarakat Kasepuhan karena dianggap tidak memberikan solusi terhadap sengketa kawasan antara masyarakat dengan pihak pengelola kawasan. Menurut keterangan yang diperoleh, warga sudah menyatakan perang jika Renstra 5 tahun TNGHS diterapkan. Hal senada juga sudah dikemukakan oleh perangkat Desa Sirna Resmi dan pimpinan Kasepuhan Sinar Resmi (lihat Rahmawati et al., 2008).
Kekalahan Masyarakat Kasepuhan dalam mendialogkan penyelesaian konflik di kawasan taman nasional telah membuat Masyarakat Kasepuhan
mengembangkan networking yang lebih luas baik dengan pihak LSM, pemerintah
daerah maupun elit-elit politik. Dasar dari networking tersebut ada yang bersifat aliansi politik ada juga yang disebabkan karena kesamaan ideologi. Melalui bantuan LSM dan pemerintah daerah tersebut, Masyarakat Kasepuhan berdialog kembali dengan BTNGHS untuk menegosiasikan beberapa hal yang masih belum dapat disetujui oleh Masyarakat Kasepuhan:
a. menegosiasikan ulang tentang hak akses masyarakat terhadap hutan dan lahan garapannya,
b. melakukan pemetaan ulang berdasarkan tata batas hutan adat menurut masyarakat kasepuhan,
c. menegosiasikan zonasi dalam kawasan taman nasional dengan memasukkan kawasan Masyarakat Kasepuhan sebagai zona khusus dan lahan garapan masuk kedalam zona pemanfaatan dengan pendefinisian baru yaitu memanfaatkan lahan untuk kepentingan livelihood masyarakatnya.
Menurut keterangan pegawai BTNGHS, telah dijalin berbagai pertemuan untuk memperoleh kata sepakat dengan Masyarakat Kasepuhan maupun masyarakat lokal lainnya. Bunyi kesepakatan tersebut tertuang dalam rencana pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang disusun melalui proses kolaborasi yang dikombinasikan dengan regulasi lokal, hasil rancangan rencana tata ruang kawasan (RTRK/ zonasi) TNGHS.
Isi kesepakatan tersebut antara lain mengenai penetapan zona inti dan rimba. Dasar dalam penetapan zona inti ini adalah peraturan perundang-undangan dan tradisi budaya/ kelembagaan masyarakat adat. Peraturan perundang-undangan negara digunakan untuk melihat hutan berdasarkan kajian ekosistem, dan habitat
170
spesies penting serta hutan yang masih tersisa, sementara kelembagaan lokal Masyarakat Kasepuhan digunakan untuk mengkatagorikan hutan inti berdasarkan daerah-daerah yang secara sosial budaya memiliki nilai serta pengaruhnya terhadap pengelolaan ekosistem yang bukan hanya melestarikan hutan tapi mensejahterakan masyarakatnya. Kesepakatan tersebut berusaha mencapai jalan tengah bertemunya dua kepentingan. Berdasarkan rencana pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (RPTNGHS) yang disusun melalui proses kolaborasi yang dikombinasikan dengan regulasi lokal, hasil rancangan rencana tata ruang kawasan TNGHS sebagai berikut:
A. Penetapan zona inti dan rimba
• Dasar penetapan melalui pendekatan ilmiah dengan mengkaji ekosistem dan habitat spesies penting.
• Daerah-daerah yang secara sosial budaya memiliki nilai serta pengaruhnya terhadap pengelolaan ekosistem TNGHS secara menyeluruh.
• Difokuskan pada hutan-hutan alam yang masih tersisa. B. Penetapan zona pemanfaatan
• Kawasan TNGHS yang akan dikembangkan untuk memenuhi fungsi-
fungsi pemanfaatan, antara lain untuk kegiatan wisata alam, pembangunan sarana prasarana pengunjung dan lokasi penelitian intensif, seperti areal stasiun penelitian cikaniki, cangkuang, gunung bunder dan lokasi lainnya.
• Khusus pada zona pemanfaatan yang masih dikelola perum perhutani dan
pemerintah daerah (Pemda) akan dikelola dengan landasan MoU sambil menunggu proses IPPA.
• Khusus zona pemanfaatan yang berupa jalur-jalur pendakian dan wilayah-
wilayah rawan terhadap keselamatan pengunjung tetap dikelola TNGHS. C. Penetapan zona rehabilitasi
• Kawasan yang merupakan ekosistem penting serta menjadi habitat spesies
penting yang telah terdegradasi, seperti areal bekas penambangan emas tanpa izin (PETI), Koridor Halimun - Salak.
• Zona rehabilitasi dapat dirubah penetapannya menjadi zona inti, rimba, pemanfaatan setelah kondisinya dinilai pulih kembali.
171
• Wilayah yang telah dikembangkan sebagai fungsi utama ekonomi wilayah
seperti sarana sutet, pembangkit listrik panas bumi (PT. Chevron), aktivitas pertambangan emas (PT. Aneka Tambang)
• Pemukiman dan garapan yang telah ada sebelum penunjukan TNGHS.
• Untuk mengatur akses pengelolaan masyarakat lokal dibutuhkan regulasi zona khusus berupa kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan masyarakat adat, non-adat dan pendatang perihal pengaturan akses, pemanfaatan, dan kontrol atas sumber-sumber agraria (tata ruang lokal dalam zona khusus) di dalam kawasan TNGHS.
E. Penyusunan regulasi zonasi, mencakup aktivitas-aktivitas :
• Membangun kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan komunitas adat
dalam akses pemanfaatan dan kontrol atas sumber-sumber agraria.
• Membangun kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan komunitas
masyarakat desa di dalam dan sekitar TNGHS dalam hal akses pemanfaatan dan kontrol atas sumber-sumber agraria.
• Membangun kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan masyarakat
yang bermukim di dalam kawasan TNGHS perihal kepadatan penduduk yang sesuai dengan daya dukung wilayah konservasi.
• Membangun kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan pihak
pengguna (wisata, tambang, dan lain-lain) perihal penggunaan lahan yang harus mementingkan aspek konservasi.
• Memantau penegakan kontrak sosial (MoU dan kesepakatan serta
memberi sanksi atas pelanggaran kesepakatan.
Kesepakatan Masyarakat Kasepuhan dan BTNGHS mengenai penetapan zona pemanfaatan. Dalam menetapkan zona pemanfaatan ini terkait dengan definisi pemanfaatan itu sendiri, dimana BTNGHS melihat fungsi-fungsi pemanfaatan, antara lain untuk kegiatan wisata alam, pembangunan sarana prasarana pengunjung dan lokasi penelitian intensif, seperti areal stasiun penelitian Cikaniki, Cangkuang, Gunung Bunder dan lokasi lainnya.
Dalam konsep tersebut sama sekali tidak ada ruang pemanfaatan untuk
livelihood masyarakat lokal yang basisnya adalah petani, sehingga tidak ada ruang lahan pertanian dalam konsep kehutanan, khususnnya taman nasional. Namun
172
demikian, BTNGHS masih menyisakan kesepakatan pada zona pemanfaatan yang masih dikelola Perum Perhutani dan pemerintah daerah akan dikelola dengan landasan MoU sambil menunggu proses IPPA (izin pengusahaan pariwisata alam). Model kesepakatan seperti ini menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat ternegasikan. Sama sekali tidak ada ruang zona pemanfaatan hutan TNGHS untuk lahan garapan dan pemukiman masyarakat, sekalipun dalam kenyataannya hal tersebut ada. Hal ini bisa jadi bermakna bahwa masyarakat harus keluar dari pemukiman dan lahan garapan yang selama ini digarap bersama Perum Perhutani maupun pemerintah daerah. Pada tataran negosiasi ini, kepentingan masyarakat betul-betul tersubordinasi bahkan tidak diberi ruang untuk ada, seakan-akan masyarakat dengan sistem pertaniannya menjadi penyebab dari semua kerusakan hutan yang ada di TNGHS.
Berdasarkan kesepakatan yang tertuang dalam rencana pengelolaan taman
nasional (RPTN) Gunung Halimun Salak 2007-2020 maka stop deforestasi
menurut RPTN tersebut harus terjadi pada tahun 2010. Melihat data penurunan tutupan hutan 1989-2008, stop deforestasi akan terwujud apabila semua pihak berperan aktif sesuai tugas dan fungsinya dalam menjalankan pengelolaan di TNGHS. Peran aktif dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci utama dalam menjaga dan mempertahankan kondisi hutan yang tersisa.
Sikap TNGHS yang sangat pro terhadap konservasi untuk penyelamatan habitat ini sangat kentara manakala merencanakan penetapan zona rehabilitasi, dimana tanah-tanah lahan kritis bekas garapan masyarakat akan direhabilitasi dan zona rehabilitasi dapat dirubah penetapannya menjadi zona inti, rimba, atau pemanfaatan setelah kondisinya dinilai pulih kembali. Isu yang diusung oleh BTNGHS untuk penyelamatan lingkungan di kawasan ini adalah biodiversity.
Selanjutnya isu biodiversity ini telah melibatkan LSM internasional dalam konflik antara BTNGHS dan Masyarakat Kasepuhan, yaitu JICA. JICA berusaha menjembatani kepentingan lingkungan dan kepentingan masyarakat. Dengan
konsep “model kampung konservasi (MKK)”, JICA mencoba membantu TNGHS
dalam mereboisasi kembali hutan yang gundul melalui konsep partisipasi masyarakat, dan melakukan pengembangan usaha ekonomi produktif untuk masyarakat di dalam kawasan. Melalui MKK, pengelola kawasan TNGHS
173 mencoba membina kelompok-kelompok masyarakat yang dihimpun melalui wadah MKK (model kampung konservasi) yang didukung oleh pendanaan dari JICA. Pilot project MKK tahun 2003-2007 ini dilakukan oleh JICA di empat kampung yaitu: Kampung Sukagalih, Kampung Cimapag, Kampung Cisalimar dan Kampung Sirnaresmi. Namun konsep ini belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat mengingat pelarangan akses terhadap sumberdaya hutan (menggarap lahan di ex Perhutani) tetap diberlakukan sehingga kecurigaan terhadap konsep JICA dalam upaya membodohi masyarakat disadari oleh beberapa masyarakat, sehingga dari 9 kelompok bentukan JICA di tahun 2004, yang masih terbentuk di tahun 2008 tinggal 3 kelompok.
Menyadari kesulitan untuk mengamankan hutan TNGHS, BTNGHS mulai mengembangkan konsep MKK di seluruh kawasan, baik di wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor maupun Kabupaten Sukabumi, dengan melibatkan berbagai instansi pemerintah terkait maupun pihak perusahaan swasta yang berada di kawasan dan sekitar kawasan taman nasional, antara lain melibatkan Dinas Kehutanan Provinsi Banten, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, PLN, ANTAM, CIFOR, TNGHS.
Di Kabupaten Lebak, kegiatan MKK dipusatkan di Resort Gunung Bedil, Resort Cisoka dan Resort Cibedug, dengan melibatkan pembinaan dan pendanaan dari JEES dan DIPA-TNGHS. Di kabupaten bogor, kegiatan MKK dipusatkan di Resort Gunung Talaga, terdiri atas: Resort Gunung Kencana, Resort Gunung Butak, Resort Gunung Botol, Resort Gunung Salak 1, dan Resort Gunung Salak 2. Kegiatan MKK di Kabupaten Bogor menggandeng pendanaan dan pembinaan dari CIFOR dan ANTAM. Di Kabupaten Sukabumi kegiatan MKK dipusatkan di Resort Gunung Kendeng, Resort Cimanjaya, Resort Gunung Bodas, dan Resort Kawaah Ratu. Kegiatan MKK di Kabupaten Sukabumi dilakukan oleh TNGHS- JICA dan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Total MKK di seluruh kawasan TNGHS sampai tahun 2012 adalah 39 buah.
Fakta berkembangnya program MKK dengan melibatkan kolaborasi antara instansi pemerintah dengan perusahaan swasta menunjukkan bahwa adanya afilisi antara negara dan perusahaan swasta. Dukungan pendanaan dari perusahaan swasta tersebut tidak semata-mata untuk kepentingan masyarakat lokal, melainkan
174
ada keuntungan ekonomi yang diperoleh perusahaan atas kebijakan pemerintah yang mengizinkan aktivitas perusahaan di kawasan TNGHS melalui penjanjian pinjam pakai. Afiliasi antara negara dan perusahaan swasta tersebut telah memantapkan otoritas negara selaku pemilik dan pengontrol sumberdaya hutan. Otoritas negara selaku pihak yang berkuasa telah memarginalkan otoritas masyarakat dan kepentingannya terhadap hutan. Berkembangnya konsep MKK tersebut menunjukkan kemenangan otoritas negara melawan otoritas Masyarakat Kasepuhan, dan menunjukkan adanya dominasi otoritas negara atas otoritas masyarakat lokal dimana masyarakat dipaksa untuk menerima konsep pengelolaan kawasan ala taman nasional untuk pelestarian lingkungan.
Sebetulnya ada peluang kesepakatan negara dan masyarakat adat yang dapat menjamin keberlangsungan hidup masyarakat adat bersama dengan hutannya, melalui penetapan zona khusus, yaitu zona pemukiman dan garapan yang telah ada sebelum penunjukan TNGHS. Untuk mengatur akses pengelolaan masyarakat lokal dibutuhkan regulasi zona khusus berupa kontrak sosial (MoU antara BTNGHS dengan masyarakat adat, non-adat dan pendatang perihal pengaturan akses, pemanfaatan, dan kontrol atas sumber-sumber agraria (tata ruang lokal dalam zona khusus) di dalam kawasan TNGHS.
Dalam penyusunan regulasi zonasi, ada beberapa aktivitas yang harus dilakukan antara masyarakat adat dan negara yaitu membangun kontrak sosial (MoU) antara BTNGHS dengan komunitas adat dalam hal akses pemanfaatan dan kontrol atas sumberdaya hutan dan kepadatan penduduk yang sesuai dengan daya dukung wilayah konservasi, membangun kontrak sosial (MoU) antara BTNGHS dengan pihak pengguna (wisata, tambang, dan lain-lain) perihal penggunaan lahan yang harus mementingkan aspek konservasi, memantau penegakan kontrak sosial dan kesepakatan serta memberi sanksi atas pelanggaran kesepakatan.
Proses kesepakatan (MoU) dengan Masyarakat Kasepuhan tersebut belum sepenuhnya terealisasi. Sampai saat ini, BTNGHS masih melakukan proses pemetaan untuk hutan adat menurut versi masyarakat yang akan disesuaikan dengan zonasi menurut taman nasional. Masih adanya tarik ulur kepentingan antara negara dan masyarakat, dimana kesepakatan tersebut masih dinilai kurang adil oleh masyarakat karena membatasi masyarakat pada zona khusus yang
175 merupakan wilayah pemukiman dan lahan garapan yang aktif pada saat ini, sementara dalam konsepsi masyarakat, lahan garapan juga termasuk lahan yang tidak dalam kondisi aktif, yaitu seperti ladang-ladang yang ditinggalkan sementara yang menurut TNGHS dikatagorikan sebagai lahan kritis.
Dalam persepsi mayarakat Kasepuhan, ada beberapa kesepakatan penting yang harus dibangun antara TNGHS dengan Masyarakat Kasepuhan sebagaimana dikemukakan oleh Abah Asep, sebagai berikut:
1. “pertama, perlu dilakukannya pemetaan tata batas hutan dalam konsep
zonasi masyarakat dan dalam konsep zonasi taman nasional. Adapun data yang ada dari taman nasional tumpang tindih dan tidak jelas serta tidak nyata. Ada perbedaan antara peta menurut badan koordinasi survei dan pemetaan nasional (BAKOSURTANAL) dan peta taman nasional.
2. Kedua, pendefinisian zona pemanfaatan harus selaras dengan zona garapan adat, pemukiman dan garapan masyarakat, karena masyarakat adat juga mengetahui bahwa hutan inti (leuweung hideung) tidak akan diganggu. 3. Ketiga, mengenai aturan enclave. Taman nasional hanya mengakui adanya
enclave perkebunan PT. Nirmala Agung, mengapa tidak mengakui adanya
enclave masyarakat adat, padahal keberadaan masyarakat adat di kawasan ini sudah sejak abad ke 14 sebelum adanya Belanda, masyarakat sudah tinggal disini, dekat Perkebunan Nirmala Agung yaitu Kampung Urug Kecamatan Jasinga. Dari sejak saat itu sampai sekarang sudah ada 10 keturunan. Bukti adanya keturunan pertama bisa dipertanggungjawabkan di Cipatat Urug, buktinya adalah adanya kuburan nenek moyang. Jika perkebunan bisa diberlakukan enclave, mestinya juga dapat diberikan
enclave untuk lahan garapan masyarakat, yang sebenarnya lahan garapan masyarakat di kawasan taman nasional ini sudah dibuka sejak tahun
1941.”
Ucapan Abah Asep tersebut merupakan harapan kesepakatan yang ingin dibangun oleh masyarakat dengan BTNGHS. Masyarakat Kasepuhan tidak ingin menguasai kawasan hutan secara keseluruhan, karena dalam konsep pengelolaan hutan Kasepuhan juga mengajarkan adanya beberapa kawasan yang harus tetap dijaga kelestariannya. Namun Kasepuhan menginginkan adanya hak akses pada
176
“hutan garapan” mereka sebagai sumber livelihood masyarakatnya. Oleh karena
itu memang perlu adanya pendefinisian ulang mengenai zona pemanfaatan TNGHS, sehingga memungkinkan zona pemanfaatan tersebut berada pada peta
“leuweung garapan” masyarakat.
Upaya penyelesaian konflik Sungai Utik relatif lebih sulit karena perjuangan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik relatif stagnan, karena sejak konflik pertama berlangsung di tahun 1984 sampai sekarang, tidak ada upaya yang nyata dari Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik untuk mengajukan kawasan Hutan Sungai Utik sebagai wilayah kawasan hutan kelola adat secara formal melalui surat formal, kajian naskah akademik maupun dengan dialog secara langsung. Bahkan peta sebagai bukti teritori wilayah kuasa Sungai Utik yang dimiliki oleh Sungai Utik sejak lama (tahun 1987) melalui bantuan dari PPSDAK (pembinaan pengelolaan sumberdaya alam kemasyarakatan) sampai sekarang belum pernah diajukan untuk dilegalisasi.
Usaha yang sudah dilakukan oleh Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik dalam rangka memperjuangkan Hutan Sungai Utik sebagai hutan adat, dapat dikemukakan, sebagai berikut:
(1) Pemetaan wilayah adat (difasilitasi oleh PPSDAK) yang bertujuan untuk mengetahui batas-batas wilayah berdasarkan sejarah asal-usul dan mencari alat untuk mempertahankan wilayah dalam bentuk peta;
(2) Penguatan institusi lokal, hukum adat dan budaya lokal yang bertujuan untuk mengembalikan kedaulatan orang iban dengan struktur yang mereka miliki dari dulu yaitu temenggung (istilah temenggung merupakan kooptasi dari pemerintah Belanda), pateh dan tuai rumah yang nyaris hilang sebagai akibat kooptasi pemerintah melalui UU No. 5/1979 (difasilitasi oleh LBBT);
(3) Inventarisasi hutan (difasilitasi oleh PPSDAK) untuk mengetahui potensi/ kekayaan hutan;
(4) Identifikasi hak ulayat yang bertujuan untuk mengetahui dan menyelesaikan