Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar – Bank secara Individual dimuat dalam Tabel 6.1.1, Tabel 6.1.2, Tabel 6.1.3, dan Tabel 6.1.7.
Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar – Bank secara Konsolidasi dimuat dalam Tabel 6.2.1, Tabel 6.2.2, Tabel 6.2.3, Tabel 6.2.6 dan Tabel 6.2.7.
2. Risiko Pasar
Sebagian besar Risiko Pasar Trading Book
bersumber dari aktivitas bisnis Tresuri, sementara Risiko Pasar Banking Book, khususnya Interest Rate Risk in Banking Book dan Posisi Devisa
Neto (PDN) bersumber dari seluruh aktivitas perusahaan. Bank senantiasa memantau dan mengelola risiko pasar secara kontinyu dan ketat.
Tata Kelola dan Organisasi
Dalam rangka pengelolaan risiko pasar yang efektif dan independen, aktivitas bisnis Tresuri dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu front ofice, middle
ofice, dan backofice.
Frontofice sebagai unit bisnis berupaya mencapai
target bisnis dengan melakukan aktivitas bisnis dan berhubungan dengan nasabah. Namun sebagai bagian dari sistem pengendalian internal,
frontofice juga berfungsi sebagai irst line of defense yang akan berupaya membatasi dan
mengantisipasi risiko pasar yang disebabkan perubahan nilai tukar dan suku bunga sesuai limit-limit yang telah ditetapkan. Dalam melakukan aktivitasnya, bisnis Tresuri dibatasi dengan Risk Appetite dan Risk Limit yang diusulkan oleh Divisi
Manajemen Risiko Bank ke Komite Risiko dan Kapital Bidang Manajemen Risiko. Limit transaksi Tresuri diusulkan oleh Divisi Tata Kelola Kebijakan melalui Komite Prosedur Perkreditan, sedangkan
counterparty limit ditetapkan oleh Unit Risiko
Bisnis.
Divisi Manajemen Risiko Bank sebagai second line of defense melakukan fungsi pemantauan risiko
pasar dan kepatuhan terhadap limit risiko baik limit risiko pasar, limit kewenangan maupun limit counterpart, melakukan validasi terhadap ixing price, memeriksa kewajaran harga atas transaksi
tresuri dan investigasi terjadinya off market dan
mereview penggunaan limit.
Fungsi back ofice berada di Divisi Operasional yaitu melakukan aktivitas konfirmasi, pembukuan dan settlement transaksi Tresuri.
Kebijakan dan Prosedur
Dalam rangka mendukung target bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, BNI telah memiliki Kebijakan dan Prosedur Bisnis Tresuri dan Internasional. Selain itu agar pengelolaan Risiko Pasar berjalan efektif, BNI berpedoman pada Pedoman Penerapan Manajemen Risiko Pasar.
Proses
Identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko pasar dilakukan oleh unit yang independen dari unit bisnis.
Identifikasi Risiko Pasar terutama dilakukan untuk setiap produk atau aktivitas baru.
BNI melakukan pengukuran Risiko Pasar dengan menggunakan Metode Standar dan Metode Internal. Metode Standar digunakan untuk menghitung Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) Risiko Pasar, sementara pengelolaan Risiko Pasar harian menggunakan Metode Internal (Value at Risk).
Cakupan portofolio yang dihitung dalam KPMM dengan menggunakan Metode Standar adalah portofolio trading book untuk risiko suku bunga dan portofolio trading book dan banking book
untuk risiko nilai tukar.
Eksposur risiko pasar bank secara individu dan konsolidasi dengan menggunakan metode standar dimuat dalam tabel 7.1.
158
BNI Laporan Tahunan 2014
Tinjauan
Fungsional
3% Risiko nilai tukar 97% Risiko suku bunga
Komposisi VaR
per 31 Desember 2014 (%)
Eksposur risiko pasar (Value at Risk) senantiasa dipantau secara harian dan disampaikan kepada manajemen secara mingguan dan bulanan. Kebijakan valuasi harga yang digunakan saat ini untuk instrumen yang aktif diperdagangkan adalah
mark-to-market sedangkan metode valuasi untuk instrumen yang kurang aktif diperdagangkan menggunakan harga wajar dari sumber yang independen.
Eksposur risiko pasar Bank secara individu dan konsolidasi dengan menggunakan model internal
(value at risk) dimuat dalam tabel 7.2.a.
Sebagai pelengkap model VaR, BNI melakukan
stress testing Risiko Pasar untuk menilai
ketahanan bank dalam menghadapi perubahan nilai tukar dan suku bunga yang ekstrem, dengan skenario mengacu pada ketentuan regulator dan skenario internal Bank. Hasil stress testing
tersebut dipergunakan untuk menyiapkan
contingency plan jika kondisi ekstrem terjadi.
Tingkat akurasi model pengukuran Value at Risk
diuji dengan validasi model secara periodik. Perkembangan risiko suku bunga dan nilai tukar pada banking book secara keseluruhan dipantau
ketat secara periodik sesuai metode pengukuran yang ditetapkan regulator dan disampaikan kepada manajemen melalui Forum Komite Risiko dan Kapital Bidang Asset & Liability.
Perangkat dan Metode
Untuk mendukung proses bisnis dan sejalan dengan pengelolaan risiko pasar, BNI telah memiliki market risk management tools.
Sedangkan untuk memperoleh data pasar diperoleh dari Reuters, Bloomberg dan sumber independen lainnya.
Untuk mengelola potensi kerugian Risiko Pasar telah ditetapkan limit-limit sebagai berikut: a. Value at Risk Limit (VaR Limit), yang
merupakan maksimum potensi kerugian yang mungkin terjadi pada waktu tertentu di masa datang dengan tingkat kepercayaan tertentu. b. Budget Loss limit yang dipergunakan untuk
membatasi realisasi kerugian aktivitas bisnis. c. Limit pembelian surat berharga yang digunakan
untuk membatasi konsentrasi pembelian surat berharga korporat berdasarkan rating dan jenis
mata uang surat berharga.
d. Limit asset dan liability repricing gap untuk
membatasi risiko suku bunga dalam banking book.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas berhubungan dengan adanya kemungkinan bank tidak mampu untuk memenuhi kewajiban jangka pendek terhadap deposan, investor dan kreditur, dan pemenuhan giro wajib minimum yang diantaranya
disebabkan keterbatasan akses pendanaan atau ketidakmampuan untuk melikuidasi aset yang dimiliki dengan harga yang wajar.
Pengelolaan risiko likuiditas ini bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan ketidakmampuan Bank dalam memperoleh sumber pendanaan arus kas, dan membangun kekuatan likuiditas struktural neraca bank untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkesinambungan.
Tata Kelola dan Organisasi
Manajemen Risiko Likuiditas dilakukan oleh Divisi Manajemen Risiko Bank (ERM) dan Divisi Tresuri (TRS). Kebijakan dan Prosedur Risiko Likuiditas disusun oleh Divisi ERM, selanjutnya dilaksanakan oleh Divisi TRS yang diwujudkan ke dalam manajemen strategi likuiditas. Divisi ERM juga melakukan monitoring terhadap pelaksanaan
manajemen likuiditas yang dilakukan oleh Divisi TRS tersebut.
Kebijakan dan Prosedur
Divisi ERM menyusun Kebijakan Risiko Likuiditas berupa Pedoman Penerapan Manajemen Risiko Likuiditas, yang lebih lanjut dijabarkan kedalam Prosedur Risiko Likuiditas yang berisi panduan pelaksanaan manajemen risiko likuiditas, antara lain berupa:
159
BNI Laporan Tahunan 2014
a. Ketersediaan Alat Likuid: Giro Wajib Minimum (GWM), Secondary Reserve, Indikator
Peringatan Dini, dan lain-lain
b. Pengukuran Risiko Likuiditas: Rasio Likuiditas, Proyeksi Arus Kas, Profil Maturitas, Stress Testing, dan lai-lain
c. Pemantauan d. Pengendalian
e. Penetapan Limit Likuiditas
Proses
Dalam mengelola likuiditas, selain primary reserve
BNI menjaga dan mempertahankan secondary reserve untuk memastikan likuiditas berada pada level yang aman. Sebagai cadangan secondary reserve, BNI menjaga dan mempertahankan
tertiaryreserve. Penetapan dan pemantauan limit, yaitu limitSecondaryReserveIdeal (SR Ideal) dan limit on-shore loan dilakukan secara berkala oleh Divisi ERM. Sedangkan ketersediaan atas keseluruhan reserve dipantau secara harian, mingguan, dan bulanan oleh Divisi TRS dan Divisi ERM.
Perangkat dan Metode
Dalam mengelola risiko likuiditas, BNI
menggunakan proyeksi arus kas harian dan profil maturitas bulanan, baik secara kontraktual maupun
behavioral, agar dapat menetapkan strategi yang sesuai dan akurat untuk mengantisipasi kondisi likuiditas bank di masa mendatang.
Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah dan Valas Bank secara individu dan konsolidasi dimuat dalam tabel 9.1.a dan b, tabel 9.2.a dan b.
Perhitungan profil maturitas tersebut sesuai dengan ketentuan regulator dan tidak termasuk profil maturitas perusahaan anak yang bergerak dalam bidang asuransi.
Salah satu kekuatan dari proses pemantauan risiko BNI adalah ketersediaan informasi profil likuiditas bank. Informasi tersebut tersedia di aplikasi Executive Information System (EIS), yang dapat menyajikan informasi perkembangan dana maupun pinjaman secara harian sehingga dapat pula dihasilkan profil arus kas harian dan profil maturitas bulanan yang dapat digunakan sebagai salah satu sistem pemantauan dan pengelolaan risiko likuiditas bank.