Selain empat pilar penerapan manajemen risiko tersebut di atas, faktor penting untuk mendukung efektivitas implementasi manajemen risiko adalah behavior/culture. Budaya risiko yang kuat (strong risk culture) merupakan
softvariable dan landasan penting bagi efektivitas implementasi manajemen risiko. Pendekatan untuk meningkatkan budaya risiko di BNI dilakukan melalui topdownapproach dan bottom up approach (contextual approach). Efektivitas implementasi manajemen risiko tidak hanya dilihat pada masing-masing aspek secara terpisah namun harus secara komprehensif.
Risk governance/structure/management approach merupakan risk driver atau faktor kontekstual yang
mempengaruhi terbentuknya riskbehavior, dan riskbehavior mempengaruhi terbentuknya tata nilai (value) atau budaya risiko.
149
BNI Laporan Tahunan 2014
Hubungan antara budaya risiko yang kuat, riskbehavior, risk driver/faktor kontekstual dan dimensi pembentuk
budaya risiko yang kuat di BNI dapat digambarkan dengan bagan berikut ini:
Strong Risk Culture
Strategi risiko (risk strategy) risk appetite
Tata kelola dan proses risiko (risk governance & process)
Kebijakan dan metodologi (policy & methodology)
Kompetensi risiko (risk competency): ketersediaan dan kualitas
Pengukuran kinerja (performance measurement)
Teknologi informasi (information technology)
1. Keselarasan tujuan, nilai dan etik (commonly purposes, value & ethic) 2. Setiap insan BNI bertanggungjawab dalam mengelola risiko (responsibility) 3. Manajemen risiko diterapkan secara universal (universal adoption & application) 4. Pembelajaran organisasi secara terus menerus (learning organization)
5. Komunikasi, koordinasi secara transparan dan sinergis (communication, coordination & transparency)
Corporate Culture & Value: Prinsip 46
Nilai dan etika (value & ethics)
Kepemimpinan (leadership): komitmen dan keteladanan Pemahaman (understanding):
bisnis, risiko dan kebijakan Kepemilikan dan akuntablitas (ownership & accountability) Komunikasi dan transparansi (communication & transparency): keterbukaan, eskalasi, sharing informasi
Hubungan (relationship): koordinasi di dalam dan antar unit
Keputusan berbasis risiko (risk decision)
Risk Behavior Risk Driver Risk Value Corporate Value
risiko utama dimaksud, dengan mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia dan berkiblat pada Ketentuan Basel II.
Penetapan kecukupan modal untuk meng-cover
risiko kredit menggunakan pendekatan Standar
(Standardized Approach) dalam perhitungan
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) risiko kredit, serta menggunakan metode Internal Rating System dalam proses pemberian kredit.
Penetapan ATMR risiko pasar BNI menggunakan pendekatan Standar, sedangkan untuk pengelolaan risiko internal Bank dalam day-to-day activities
serta penetapan limit risiko pasar digunakan pendekatan Internal (Internal Model).
Untuk perhitungan ATMR risiko operasional, BNI menggunakan metode Pendekatan Indikator Dasar
(Basic Indicator Approach). Namun demikian,
pengembangan metode yang lebih advance terus
dilakukan.
Permodalan
Kebijakan dan strategi terkait permodalan BNI mencakup struktur dan komposisi permodalan sesuai dengan rencana strategis Bank dan Kecukupan Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Bank.
1. BNI Secara Individual
Struktur permodalan BNI secara individu
didominasi oleh modal inti (95% dari total modal), terdiri dari modal disetor dan cadangan tambahan modal.
Realisasi modal BNI secara individu posisi Desember 2014 adalah Rp50,4 triliun, dengan rasio KPMM sebesar 16,2% memenuhi ketentuan minimal sesuai profil risiko sebesar 9,7%.
Memastikan bahwa modal yang dimiliki telah memenuhi kecukupan modal untuk menyerap potensi risiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional, BNI telah mengembangkan perhitungan kecukupan modal untuk ketiga
150
BNI Laporan Tahunan 2014
Tinjauan
Fungsional
Dengan memperhitungkan ATMR ketiga risiko utama dalam penetapan rasio KPMM BNI, serta dengan mempertimbangkan ketentuan minimal sesuai profil risiko, posisi permodalan BNI secara individu dikategorikan masih kuat dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis BNI, dengan penjelasan sebagai berikut: Komponen Modal per 31 Desember 2014 Bank Rp juta Konsolidasi Rp juta KOMPONEN MODAL A Modal Inti 47.618.199 49.070.292 B Modal Pelengkap 2.733.851 3.683.708
C Faktor Pengurang Modal Inti dan Modal Pelengkap - -
D Modal Pelengkap Tambahan yang Memenuhi Persyaratan (Tier 3) - -
E Modal Pelengkap Tambahan yang dialokasikan untuk mengantisipasi Risiko Pasar
- -
Total Modal Inti dan Modal Pelengkap (A+B+C) 50.352.050 52.754.000
Total Modal Inti, Modal Pelengkap, dan Modal Pelengkap Tambahan yang Dialokasikan untuk Mengantisipasi Risiko Pasar (A+B- C+D+E)
50.352.050 52.754.000
Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Kredit 268.430.052 279.099.534
Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Operasional 41.227.618 42.727.397
Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Pasar 827.732 1.303.404
Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum untuk Risiko Kredit, Risiko Operasional dan Risiko Pasar {III:(IV+V+VI)}
16,22% 16,33%
Kecukupan permodalan BNI selama 5 tahun mengacu pada regulasi mengenai minimum modal inti sebesar 6% (diimplementasikan di 2014) dapat digambarkan sebagai berikut:
2011 2010 16,63% Min. Modal Inti: 6% Min. CAR: 8% 15,88% 15,17% 14,17% 15,34% 18,63% 17,63% 16,67% 15,09% 16,22% 2012 2013 2014 Modal Inti CAR/KPMM
2. BNI Secara Konsolidasi
Struktur permodalan BNI secara konsolidasi juga didominasi oleh modal inti (±93% dari total modal BNI secara konsolidasi), terdiri dari modal disetor dan cadangan tambahan modal.
Penyertaan modal BNI pada Perusahaan Anak relatif tidak material sehingga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap permodalan BNI secara konsolidasi. Realisasi permodalan BNI secara konsolidasi posisi Desember 2014 sebesar Rp52,8 triliun dan rasio KPMM BNI secara
konsolidasi posisi Desember 2014 adalah 16,3% menunjukkan posisi permodalan BNI secara konsolidasi dikategorikan masih sangat kuat dan mampu mendukung pertumbuhan bisnis BNI secara Konsolidasi saat ini maupun masa yang akan datang.
Mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia mengenai penerapan manajemen risiko secara konsolidasi, implementasi manajemen risiko pada
151
BNI Laporan Tahunan 2014
perusahaan anak yang bergerak di bidang asuransi yakni BNI Life Insurance dikecualikan dalam perhitungan ATMR.
Pengungkapan Kuantitatif struktur permodalan Bank secara individu dan konsolidasi selengkapnya dalam tabel 1.a.
3. ICAAP dan Stress Testing
Internal Capital Adequacy Assessment Process
(ICAAP) merupakan penilaian kecukupan modal internal yang terintegrasi, saat ini sedang terus disempurnakan oleh BNI. Proses yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Penetapan Risk Appetite yang selaras dengan
sasaran dan strategi bisnis.
b. Alokasi modal kepada setiap Risk Taking Unit
(RTU) berdasarkan potensi risiko atas target bisnis yang telah ditetapkan.
c. Penetapan tingkat kecukupan modal minimum sesuai profil risiko dengan mempertimbangkan 8 (delapan) jenis risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan dan risiko reputasi.
d. Stress testing untuk risiko pasar dan risiko kredit dilakukan secara periodik atau dalam kondisi terjadi perubahan makro ekonomi. Pendekatan skenario stresstesting yang komprehensif dilakukan untuk menilai kecukupan modal sesuai tuntutan regulator dan macroeconomicstress.
Proses dan hasil penilaian kecukupan modal internal dituangkan dalam satu dokumen ICAAP.
Pengembangan Manajemen Risiko
Ke Depan
Untuk pengembangan kedepan, BNI telah
merencanakan beberapa inisiatif untuk meningkatkan kapabilitas dan kualitas penerapan manajemen risiko, antara lain:
1. Antisipasi Basel III
Ketentuan sesuai Basel III yang diakomodir dalam PBI No. 15/12/PBI/2013 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimun Bank Umum, yaitu selain kewajiban penyediaan modal minimum sesuai profil risiko, Bank juga diwajibkan untuk membentuk tambahan modal sebagai penyangga
(buffer), yang meliputi Capital Conservation Buffer, Countercyclical Buffer dan CapitalSurcharge untuk
DomesticSystematicallyImportantBank (D-SIB). Untuk mengantisipasi pemenuhan tersebut,
beberapa alternatif yang dilakukan oleh BNI antara lain: corporateaction untuk menambah modal, membatasi eksposur surat berharga AFS, memperbaiki peringkat profil risiko, dan memantau pertumbuhan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko. Selain itu, terkait antisipasi implementasi Basel III BNI juga telah merencanakan untuk melakukan penyempurnaan manajemen risiko likuiditas berupa penerapan LiquidityCoverage Ratio (LCR) pada tahun 2015 yang bertujuan untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas manajemen risiko likuiditas.
2. Keselarasan Risk Appetite, Capital Allocation, dan Risk Adjusted Performance Measurement Keselarasan antara risk appetite, alokasi modal
(capital allocation) sampai proses penilaian kinerja berbasis risiko (risk adjusted performance measurement), dimulai dari penetapan risk appetitebankwide berikut cascading-nya ke masing-masing risk taking unit, dilanjutkan dengan perhitungan Risk Weighted Asset dari target bisnis yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengalokasikan modal ke masing-masing risk taking unit. Besarnya total modal yang dialokasikan harus sesuai dengan kemampuan modal (risk capacity) BNI secara keseluruhan yang ditetapkan pada saat penyusunan rencana strategis bank dan dituangkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) BNI untuk satu tahun kedepan.
Selanjutnya, modal yang digunakan Risk Taking Unit digunakan sebagai dasar untuk penilaian Risk Adjusted Performance Measurement (RAPM) di masing-masing risk taking unit.
3. Peningkatan kapabilitas risiko operasional Aplikasi manajemen risiko operasional yang dimiliki BNI saat ini (PERISKOP) belum mencakup kapabilitas capital calculator, untuk itu pada tahun 2015 BNI berencana memperbaharui aplikasi yang dimiliki yang mencakup penambahan dan perluasan kapabilitas aplikasi sehingga menjadi solusi yang dapat meningkatkan pengelolaan risiko menjadi lebih baik. Selain itu BNI juga berencana untuk menyelesaikan penerapan Business Continuity Management (BCM) di 3 (tiga) cabang luar negeri, yaitu Cabang Tokyo, Cabang London dan Cabang New York.
4. Optimalisasi portofolio kredit
Dalam rangka memitigasi risiko distribusi dan konsentrasi penyediaan dana pada individu debitur, kelompok debitur, maupun sektor/ industri sebagaimana Pilar 2 Basel II dan sebagai upaya BNI dalam menetapkan komposisi
152
BNI Laporan Tahunan 2014
Tinjauan
Fungsional
portofolio terbaik, pada tahun 2015 BNI akan memperkuat manajemen portofolio kredit dengan mengimplementasikan model risiko konsentrasi dan optimalisasi portofolio kredit.
5. Selain beberapa inisiatif di atas, BNI juga akan terus meningkatkan risk awareness, melalui
peningkatan risk culture di jajaran manajemen
maupun kepada seluruh pegawai, yang dilakukan baik melalui pendekatan top down maupun bottom up sehingga tercipta strong risk culture.