• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN DANA PIHAK KETIGA growth of third Party fund

Dalam dokumen Annual Report BNI Syariah 2015 (Halaman 110-113)

Sumber dana murah (CASA) yang berasal dari tabungan mendominasi komposisi Dana Pihak Ketiga di nasabah mikro yakni 84,64% dan sisanya adalah deposito.

Source of CASA fund from saving dominated the composition of Third Party Fund in micro customers which accounted for 84.64% and the rest was time deposits.

15,36% 84,64%

Strategi utama bisnis mikro BNI Syariah di tahun 2015 adalah mengkolaborasikan serta mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada baik infrastruktur, produk, serta SDM agar tercipta sinergi dan arah dalam bisnis Mikro BNI Syariah. Adapun beberapa langkah teknis untuk menggapai hal tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Optimalisasi kinerja unit mikro yang ada.

2. Ekspansi pembiayaan baru dengan titik berat ke sektor generik.

3. Retensi untuk nasabah lancar berupa program undian yang dilaksanakan dalam 2 periode.

4. Optimalisasi collection melalui:

a. Recovery melalui balai lelang atau penjualan di bawah tangan.

b. Pengalihan fungsi Asisten Pemasaran menjadi

Account Officer (AO). 5. Penyempurnaan model bisnis.

Main strategy of BNI Syariah’s micro business in 2015 was collaborating and optimizing the entire resources namely infrastructures, products, and human resources to create synergy and direction in the micro business of BNI Syariah. As for some technical measures to achieve these things were as follows:

1. Optimization of existing micro unit performance. 2. New financing expansion focusing on generic sector.

3. Retention program for well-performing customers in the form of lottery program which held in 2 periods. 4. Optimization of collection through:

a. Recovery through auction and unofficial sales.

b. Function transfer from Marketing Assistant to Account Officer (AO).

pencapaian target bisnis.

2. Mengikuti berbagai event pameran yang bersinergi dengan cabang reguler.

3. Menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas usaha.

STRATEGI 2016

strategy 2016

Strategi utama bisnis mikro BNI Syariah di tahun 2016 dalam mengembangkan bisnis mikro adalah melalui:

1. Pelaksanaan strategi profit oriented untuk Unit yang sudah mature.

Bisnis mikro BNI Syariah memandang ada batas tertentu kapasitas pasar dalam menyerap penjualan sehingga akan tiba suatu saat sebuah unit mencapai kondisi

mature. Pada masa itu unit tersebut harus mampu mengoptimalkan profit dari berbagai fasilitas produk dalam kondisi zero growth pembiayaan.

2. Pengaturan plafond pembiayaan untuk area di mana terdapat Cabang Reguler dan Cabang Mikro sehingga tidak terjadi overlapping plafond pembiayaan.

Strategi-Strategi bisnis Mikro dalam Menghadapi Masyarakat ekonomi aSean (Mea)

Bank adalah lembaga keuangan yang berkontribusi sebesar 95% dari lembaga keuangan Indonesia. Adanya tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015 ini mengacu masyarakat untuk terus berinovasi agar dapat mengikuti tren pasar yang berkembang. Multi cultural yang menjadi tantangan lewat dibukanya pasar bebas ASEAN juga memberikan peluang baru untuk terus melakukan inovasi produk dan layanan.

Guna mendukung lancarnya kegiatan produksi UMKM maka perbankan juga harus meningkatkan akses finansial, dalam hal ini adalah kredit UMKM. Peran perbankan atau lembaga-lembaga perkreditan lainnya sangat berperan penting untuk memberikan permodalan kepada pelaku-pelaku usaha. Apabila permodalan mudah untuk didapatkan maka akan berdampak pada tingkat produktivitas produk-produk UMKM yang semakin lancar dan meningkat. Dengan meningkatnya produktivitas maka suatu industri juga akan meningkatkan permintaan akan tenaga kerja yang lebih banyak lagi. Pengangguran akan berkurang karena banyak tenaga kerja yang terserap pada sektor UMKM. Langkah- langkah tersebut memang harus dipersiapkan untuk menghadapi MEA 2015 yang tidak lama lagi, terutama dalam sektor UMKM.

business target.

2. Attended various exhibition events in synergy with regular branches.

3. Established cooperation with entrepreneur communities.

Main strategy of BNI Syariah’s micro business in 2016 in developing micro business is through:

1. Implementation of profit-oriented strategy for matured units.

Micro business of BNI Syariah regards that there is a certain limit of market capacity to absorb sales so there will be a time when a unit reach mature condition. In that condition, unit should optimize profit from various product facilities in the financing condition of zero growth.

2. Setting the financing limit for areas where there is Regular and Micro Branch plafond so there is no overlapping of financing limit.

Business Micro Strategies in Facing ASEAN Economic Community (AEC)

Bank is financial institution which contributes 95% of Indonesian financial institutions. The challenge of ASEAN Economic Community in the end of 2015 has driven the society to keep innovating to follow the development of market trend. Multi cultural which serves as the challenge due to the enactment of ASEAN free trade also provides new opportunity to innovate products and services.

To support the UMKM production activities, the bank should also improve financial access, in this case is UMKM loans. The role of banks or other lending institutions is very important to provide capital to business actors. If the capital is easy to obtain it will have an impact on the increasing level of UMKM productivity. With the increase in the productivity, it will also increase the demand for employment. Unemployment will be reduced because many workers absorbed in the UMKM sector. Such measures must be prepared to face the upcoming AEC 2015, especially in the UMKM sector.

menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN maka terdapat beberapa strategi:

1. Memberikan pengetahuan dan wawasan pada UKM melalui gathering

Dalam menghadapi MEA pemerintah dan didukung oleh perbankan harus mendorong para pelaku usaha kecil dan menengah dalam memberi wawasan dan pengetahuan yang mumpuni tentang bisnis karena ini lebih penting, agar para pelaku usaha mikro dapat dengan mudah menggerakkan bisnisnya sendiri. Para pelaku usaha mikro bisa bertukar wawasan dan pengetahuan dengan banyak mengikuti acara pelatihan dan pagelaran yang mewadahi para UMKM. Dan UMKM dapat mengikuti pameran yang diselenggarakan pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UMKM, untuk mengetahui peluang dan tantangan. Bisnis waralaba sebagai salah satu upaya untuk memperluas pasar produk koperasi dan UKM. 2. Inovasi produk dan pemasaran

Persiapan dalam menghadapi MEA yang harus disiapkan adalah dengan inovasi produk dan pemasaran. Hal ini demi mempersiapkan para pelaku UKM untuk memproteksi agar tidak terjadi produksi dan pemasaran yang stagnan. Sebabnya para pelaku UKM ini harus bersaing dengan produk-produk dari negara ASEAN lainnya.

3. Sosialisasi melalui media

Tidak sebatas dengan memberi pengetahuan dan inovasi produk saja, melainkan dengan

mensosialisasikan melalui media baik itu media website, cetak, maupun elektronik agar produk-produk yang dipromosikan dapat dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat global dan UKM Indonesia bisa berkompetitif di pangsa pasar internasional. 4. Membangun kemitraan

Membangun kemitraan dan menggandeng para pebisnis dan pengusaha besar nasional pelaku bisnis dan pengusaha besar nasional diharapkan membangun kemitraan dengan menggandeng pelaku UKM dalam negeri, khususnya pelaku industri kreatif, sehingga akan menjadi solusi terhadap masalah pemberdayaan UKM saat ini, terkait dengan akses permodalan dan pembiayaan serta pengembangannya, termasuk teknologi tepat guna dan penguatan pemasaran.

ASEAN Economic Community then there are several strategies:

1. Provide insight and knowledge to SME via gathering

In facing the AEC, government shall supported by the banks to encourage small and medium business entrepreneurs in providing sufficient insight and knowledge about the business. This is more important so that the micro business could easily drive their own businesses. The entrepreneurs of micro business could exchange insights and knowledges by attending many trainings events and exhibitions that embodies the UMKM. Also, UMKM could participate in the exhibition organized by the government through the Ministry of Cooperatives and SME, to find opportunities and challenges. Business franchising is an effort to expand the product market of cooperatives and UMKM.

2. Product and marketing innovation

Preparation in facing AEC could be made through product and marketing innovation. This is to prepare the UMKM entrepreneurs to avoid stagnant production and marketing. This shoud be carried out since UMKM entrepreneurs have to compete with products from other ASEAN countries.

3. Socialization through media

Not only by providing knowledge and product innovation alone, but also carry out socialization through website, printed, and electronic media so that the promoted products could be well-known by the people of Indonesia and even the global community and Indonesian UMKM could compete in the international market share.

4. Establish partnership

Indonesian entrepreneurs and business actors are expected to establish partnership with domestic SME entrepreneurs, particularly with entrepreneurs from creative industry. Thus, it would be a solution to the current problem of SME empowerment, regarding the access to capital and financing, development, including appropriate technologies utilization and marketing strengthening.

Dalam dokumen Annual Report BNI Syariah 2015 (Halaman 110-113)