BAB II TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PENGURUSAN
A. Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit
3. Pihak-Pihak Yang Terlibat Dalam Pengurusan dan
Pada proses pengurusan dan pemberesan harta pailit yang terlibat tidak hanya kurator tetapi masih ada pihak lainnya. Pihak-pihak yang terkait dengan pengurusan harta pailit tersebut adalah:
a. Hakim pengawas
Kurator mempunyai tugas utama yaitu melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Kurator menjalankan tugasnya tersebut sesuai dengan aturan hak dan tidak sewenang-wenang, maka perlu ada bentuk pengawasan terhadap tindak-tindakan kurator. kDisinilah perlunya peranan hakim pengawas untuk mengawasi setiap tindakan kurator. Dalam putusan pernyataan pailit harus diangkat seorang hakim pengawas yang ditunjuk oleh hakim Pengadilan Niaga.
Tugas hakim pengawas ialah mengawasi pengurusan dan pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh kurator, dan sebelum memutuskan sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit, Pengadilan Niaga wajib mendengar nasihat terlebih dahulu dari hakim pengawas. Ketentuan mengenai hakim pengawas dalam kepailitan terletak pada bagian ketiga paragraf 1 Pasal 65-68 UU Kepailitan. Tugas-tugas dan kewenangan hakim pengawas adalah sebagai berikut:83
1) Memimpin rapat verifikasi;
2) Mengawasi tindakan dari kurator dalam melaksanakan tugasnya;
memberikan nasihat dan peringatan kepada kurator atas pelaksanaan tugas tersebut;
3) Menyetujui atau menolak daftar-daftar tagihan yang diajukan oleh para kreditor
4) Meneruskan tagihan-tagihan yang tidak dapat diselesaikannya dalam rapat verifikasi kepada hakim Pengadilan Niaga yang memutus perkaraitu;
5) Mendengar saksi-saksi dan para ahli atas segala hal yang berkaitan dengan kepailitan (misalnya: tentang keadaan budel, perilaku pailit dan sebagainya);
6) Memberikan izin atau menolak permohonan si pailit untuk berpergian (meninggalkan tempat) kediamannya.
b. Kurator
Kurator merupakan salah satu pihak yang cukup memegang peranan dalam suatu proses perkara pailit. Selain itu peranannya yang besar dan tugasnya yang berat, maka tidak sembarangan orang dapat menjadi kurator.84 Menurut Pasal 69 UU
83 Rahayu Hartini, Op.Cit., hal. 127.
84 Raymond Hutagaol, Kedudukan Kurator Dalam Kepailitan, diakses dari
http://www.hukumkepailitan.com/kurator-dalam-kepailitan/kedudukan-kurator-dalam-kepailitan/, diakses pada 30 Juni 2019.
47
Kepailitan disebutkan, tugas kurator adalah melakukan pengurusan dan atau pemberesan harta pailit. Oleh karena itu pula, maka persyaratan dan prosedur untuk dapat menjadi kurator ini oleh UU Kepailitan diatur secara relatif ketat. Sewaktu masih berlakunya peraturan kepailitan zaman Belanda, hanya Balai Harta Peninggalan (BHP) saja yang dapat menjadi kurator tersebut. Menurut Pasal 70 ayat (1) UU Kepailitan yang dapat bertindak menjadi kurator sekarang adalah sebagai berikut:
1) Balai Harta Peninggalan (BHP).
2) Kurator lainnya.
Untuk jenis kurator lainnya yaitu kurator yang bukan Balai Harta Peninggalan adalah mereka yang harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang terdapat dalam Pasal 70 ayat (2) yaitu:
a) Perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia, yang mempunyai keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan atau membereskan hartapailit.
b) Telah terdaftar pada kementerian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan penjelasan Pasal 70 ayat (2) huruf (a) UU Kepailitan disebutkan, yang dimaksud dengan keahlian khusus adalah mereka yang mengikuti dan lulus pendidikan kurator dan pengurus. Kemudian berdasarkan penjelasan Pasal 70 ayat (2) huruf (b) UU Kepailitan disebutkan, yang dimaksud dengan terdaftar adalah telah
memenuhi syarat-syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan anggota aktif organisasi profesi kurator dan pengurus.85
Terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit ditetapkan maka debitor pailit tidak lagi berhak melakukan pengurusan atas harta kekayaannya. Oleh karena itu, untuk melindungi kepentingan baik debitor pailit sendiri maupun pihak ketiga yang berhubungan hukum dengan debitor pailit sebelum pernyataan pailit dijatuhkan, UU Kepailitan telah menunjuk kurator sebagai satu-satunya pihak yang akan menangani seluruh kegiatan pengurusan dan pemberesan harta pailit, meskipun terhadap putusan kemudian diajukan kasasi atau peninjauan kembali.
Tugas kurator pengurus dapat dilihat pada job description dari kurator pengurus, karena setidaknya ada 3 jenis penugasan yang dapat diberikan kepada kurator pengurus dalam hal proses kepailitan, yaitu:86
(1) Sebagai kurator sementara
Kurator sementara ditunjuk dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan debitor melakukan tindakan yang mungkin dapat merugikan hartanya, selama jalannya proses beracara pada pengadilan sebelum debitor dinyatakan pailit. Tugas utama kurator sementara terdapt dalam Pasal 10 ayat (1) huruf b UU Kepailitan yaitu untuk mengawasi:
(a) pengelolaan usaha debitor; dan
85 Hasil wawancara dengan Bapak Seven Rony Sianturi selaku kurator yang berdomisili di Medan, tanggal 21 Agustus 2019.
86 Hasil wawancara dengan Bapak Seven Rony Sianturi selaku kurator yang berdomisili di Medan, tanggal 21 Agustus 2019.
49
(b) pembayaran kepada kreditor, pengalihan atau pengagunan kekayaan debitor yang dalam rangka kepailitan memerlukan kurator. Secara umum tugas kurator sementara tidak banyak berbeda dengan pengurus, namun karena pertimbangan keterbatasan kewenangan dan efektivitas yang ada pada kurator sementara, maka sampai saat ini sedikit sekali terjadi penunjukan kurator sementara.
(2) Sebagai pengurus
Dalam Pasal 225 ayat (2) dan ayat (3) UU Kepailitan, pengurus ditunjuk dalam hal adanya Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Tugas pengurus hanya sebatas menyelenggarakan pengadministrasian proses PKPU, seperti misalnya melakukan pengumuman, mengundang rapat-rapat kreditor, ditambah dengan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan usaha yang dilakukan oleh debitor dengan tujuan agar debitor tidak melakukan hal-hal yang mungkindapat merugikan hartanya.
Perlu diketahui bahwa dalam PKPU debitor masih memiliki kewenangan untuk mengurus hartanya sehingga kewenangan pengurus sebatas hanya mengawasi belaka.87
(3) Sebagai kurator
Kurator ditunjuk pada saat debitor dinyatakan pailit, sebagai akibat dari keadaan pailit, maka di dalam Pasal 24 ayat (1) UU Kepailitan, debitor kehilangan hak untuk mengurus harta kekayaannya, dan oleh karena itu kewenangan pengelolaan harta pailit jatuh ke tangan kurator. Dari berbagai jenis tugas bagi kurator dalam
87 Abi Jam’an Kurnia, “Tugas-Tugas Kurator dan Hakim Pengawas”, diakses dari
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl738/tugas-tugas-kurator-dan-hakim-pengawas/ , diakses pada 05 Agustus 2019.
melakukan pengurusan dan pemberesan, maka dapat disarikan bahwa kurator memiliki beberapa tugas utama, yaitu:
(a) Tugas administratif
Berdasarkan kapasitas administratifnya, kurator bertugas untuk mengadministrasikan proses-proses yang terjadi dalam kepailitan, misalnya melakukan pengumuman (Pasal 15 ayat (4) UU Kepailitan); mengundang rapat-rapat kreditor (Pasal 82 UU Kepailitan); mengamankan harta kekayaan debitor pailit (Pasal 98 UU Kepailitan); melakukan inventarisasi harta pailit (Pasal 100 ayat (1) UU Kepailitan); serta membuat laporan rutin kepada hakim pengawas (Pasal 74 ayat (1) UU Kepailitan). Dalam Pasal 99 ayat (1) UU Kepailitan, kurator dalam menjalankan kapasitas administratifnya memiliki kewenangan antara lain kewenangan untuk melakukan upaya paksa seperti paksa badan dan melakukan penyegelan (bila perlu).88
(b) Tugas mengurus/mengelola harta pailit
Berdasarkan Pasal 24 dan Pasal 69 UU Kepailitan, sejak putusan pailit diucapkan semua wewenang debitor untuk menguasai dan mengurus harta pailit termasuk memperoleh keterangan mengenai pembukuan, catatan, rekening bank, dan simpanan debitor dari bank yang bersangkutan beralih kepada kurator.
(c) Tugas melakukan penjualan dan pemberesan
Tugas yang paling utama bagi kurator adalah untuk melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan atas harta pailit sejak tanggal putusan pailit diucapkan meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan
88 Ibid
51
kembali. .Maksudnya pemberesan pada penjelasan Pasal 16 ayat (1) UU Kepailitan adalah penguangan aktiva untuk membayar atau melunasi utang.89
c. Panitia kreditor
Pada prinsipnya, suatu panitia kreditor adalah pihak yang mewakili pihak kreditor sehingga panitia kreditor tentu akan memperjuangkan segala kepentingan hukum dari pihak kreditor. Ada dua macam panitia kreditor yang diperkenalkan oleh UU Kepailitan yaitu:90
1) Panitia kreditor sementara
Dalam Pasal 79 UU Kepailitan, putusan pailit atau dengan penetapan kemudian, pengadilan dapat membentuk panitia kreditor (sementara) yang terdiri dari satu sampai tiga orang yang dipilih dari kreditor yang dikenal dengan maksud memberikan nasihat kepada kurator. Dimaksud dengan kreditor yang sudah dikenal adalah kreditor yang sudah mendaftarkan diri untuk diverifikasi.
2) Panitia kreditor tetap
Pada Pasal 80 UU Kepailitan, setelah pencocokan utang selesai dilakukan, hakim pengawas wajib menawarkan pada para kreditor untuk membentuk panitia kreditor tetap.
Berdasarkan penjelasan diatas, bahwa tidak hanya kurator yang berperan penting dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit. Adanya peranan hakim pengawas yang telah ditunjuk oleh Hakim Pengadilan Niaga untuk mengawasi dalam
89 Ibid
90 Maria Regina Fika, Penyelesaian Utang Debitor Terhadap Kreditor Melalui Kepailitan, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, (Semarang: 2007), hal. 39
hal pengurusan dan pemberesan harta pailit serta adanya peranan panitia kreditor sebagai pihak yang mewaikili pihak kreditor. Maka dari itu peranan ketiganya sama-sama penting didalam pengurusan dan pemberesan harta pailit.
B. Kewenangan Kurator dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit