BAB II TANGGUNG JAWAB KURATOR DALAM PENGURUSAN
C. Tanggung Jawab Kurator Dalam Kepailitan
1. Tanggung Jawab Kurator Dalam Kapasitas Kurator
Kurator bertanggungjawab kepada kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Besarnya kewenangan yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kurator, seorang kurator harus independen dan tidak boleh berpihak kepada debitor maupun kreditor. Dalam prakteknya penetapan nama kurator yang ditunjuk itu diajukan oleh kreditor yang mengajukan permohonan pailit kepada debitor. Walaupun diajukan oleh kreditor kurator tersebut harus independen dikarenakan ia akan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, tanggung jawab dari kurator tersebut merupakan landasan hukum untuk mengawasi tindakan hukum yang dilakukan oleh kurator.110
Jerry Hoff mengungkapkan bahwa tanggung jawab kurator tersebut tidaklah lebih berat atau bahkan sama saja dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata yang mengatur tentang perbuatan melawan hukum. Menurut sifatnya kurator dapat melakukan perbuatan melawan hukum sehingga juga bertanggungjawab
110 M. Hadi Subhan, Hukum Kepailitan Prinsip, Norma, dan Praktik di Peradilan, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal. 108
secara pribadi terhadap kerugian yang di terima oleh pihak ketiga. Hal tersebut apabila disebabkan oleh tindakan yang dilakukan oleh kurator di luar kewenangannya, apabila tindakan kurator dilakukan sesuai dengan kewenangan yang diberikan kepadanya oleh undang-undang dan dilakukan dengan itikad baik. Namun ada hal hal yang diluar kuasa kurator dan ternyata mengakibatkan kerugian pada harta pailit, maka kurator tidak bertanggungjawab secara pribadi dan kerugian tersebut di bebankan kepada harta pailit.111
Tanggung jawab kurator dalam kapasitas sebagai kurator dibebankan pada harta pailit dan bukan pada kurator secara pribadi yang harus membayar kerugian.
Pihak yang menuntut mempunyai tagihan atas harta kepailitan, dan tagihannya adalah utang harta pailit, seperti:
a. Kurator lupa untuk memasukkan salah satu kreditor dalam rencana distribusi;
b. Kurator menjual asset debitor yang tidak termasuk dalam harta kepailitan;
c. Kurator menjual asset pihak ketiga;
d. Kurator berupaya menagih tagihan debitor yang pailit dan melakukan sita atas properti debitor, kemudian terbukti bahwa tuntutan debitor tersebut palsu;112
e. Kerugian yang timbul sebagai akibat dari tindakan kurator tersebut di atas tidaklah menjadi beban harta pribadi kurator melainkan menjadi beban harta pailit.113
Apabila hal tersebut terjadi, maka kurator tidak dapat dimintai pertanggungjawabannya secara pribadi jika kerugian tersebut diluar kuasa kurator dan
111 Imrang Nating, Peranan Dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 115
112 Jerry Hoff, Undang-Undang Kepailitan Di Indonesia (Indonesian Bankupcty Law), diterjemahkan oleh Kartini Mulja, (Jakarta: Tatanusa, 2000), hal. 72
113 Imran Nating, Op. Cit., hlm. 116.
65
ternyata mengakibatkan kerugian pada harta pailit. Dengan demikian, kurator tidak bertanggungjawab secara pribadi atas kerugian tersebut, melainkan di bebankan kepada harta pailit.
2. Tanggung Jawab Kurator Pribadi Kurator
Kerugian yang muncul akibat dari tindakan atau tidak bertindaknya kurator menjadi tanggung jawab kurator. Apabila kurator bertanggungjawab secara pribadi, kurator harus membayar sendiri kerugian yang ditimbulkannya. Tanggung jawab tersebut bisa terjadi apabila kurator menggelapkan harta kepailitan tersebut. Putu Supadmi menjelaskan bahwa segala kerugian yang timbul akibat kelalaian atau karena ketidakprofesionalan kurator menjadi tanggung jawab kurator. Oleh karena itu, kerugian tersebut tidak bisa dibebankan dalam harta pailit.114
Sebagai konsekuensi ketentuan yang ada dalam Pasal 72 dan 78 UU Kepailitan, kurator dapat digugat dan dapat wajib menganti kerugian apabila karena kesalahan dan kelalaiannya yang mengakibatkan menurunnya nilai harta pailit.
Namun mengenai gugatan terhadap kurator tersebut diajukan kepada pengadilan negeri atau pengadilan niaga tidak diatur lebih lanjut dalam UU Kepailitan.115
Kurator sendiri bertanggung jawab terhadap debitor pailit dan kreditor apabila tidak melaksanakan tugsanya sesuai dengan penetapan hakim. Kurator dalam menjalankan tugasnya sebaiknya dilindungi oleh asuransi. Apabila dalam menjalankan tugasnya kurator dihukum oleh pengadilan untuk membayar sebuah
114 Ibid., hal. 116-117.
115 Sutan Remy Sjahdeini, Op. Cit., hal. 229.
ganti rugi yang disebabkan karena kelalaiannya, maka pihak asurasi yang akan membayar ganti kerugian tersebut. Jenis asuransi disini adalah asuransi yang biasa dipakai untuk melindungi anggota direksi dan komisaris suatu perusahaan debitor sehubungan dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum untuk membayar ganti kerugian apabila karena kesalahanya atau kelalaiannya menyebabkan kerugian bagi perusahaan debitor.116
Berdasarkan Pasal 72 UU Kepailitan yang mengatur tentang tanggung jawab kurator tidak di atur lebih lanjut mengenai tolak ukur apa yang menentukan bahwa kurator tersebut telah melakukan kesalahan dan kelalaian dalam menjalankan tugasnya sebagai mana yang dimaksud oleh Pasal 72 UU Kepailitan tersebut. Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan bahwa kurator mempunyai dua kewajiban hukum dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, yang pertama adalah kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, dengan kata lain kurator mengemban Statutory duties yaitu kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh Undang-Undang. Kewajiban kedua adalah berupa fiduciary duties, kurtor mengemban fiduciary duties adalah kurator memiliki fiduciary relationship terhadap:
a. Pengadilan, yang dalam UUK-PKPU Indonesia diwakili oleh hakim pengawas;
b. Debitor;
c. Para kreditor, dan d. Para Pemegang Saham.117
116 Bernard Nainggolan, Peranan Kurator Dalam Pemberesan Boedel Pailit, (Bandung: PT Alumni, 2014), hal. 68.
117 Ibid, hal. 69.
67
Pengertian dari kurator memiliki fiduciary relationship di atas adalah kurator mengemban kepercayaan dari pengadilan, debitor, para kreditor dan para pemegang saham untuk melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya demi kepentingan para pihak tersebut. Menurut Andrew Keay, dalam hubungannya dengan para kreditor, kurator bukan bertanggung jawab kepada kreditor secara individual, akan tetapi kepada seluruh kreditor dalam kesatuan. Andrew Keay berpendapat:
“Kurator selain perwakilan pengadilan dan dapat di percayai dengan mempertaruhkan reputasi pengadilan untuk melaksanakan kewajibannya dengan tidak memihak.”118
Dengan dimikian jelas kurator bertanggung jawab secara pribadi dengan tanggung jawab yang sangat besar, kewenangan yang besar yang diberikan undang-undang menjadi beban tersendiri bagi kurator agar berhati hati dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu dalam menjalankan tugasnya, kurator wajib menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama sesuai ketetapan yang telah ada. Sebagai seorang profesional, kurator memikul tanggung jawab untuk mempertahankan tingkat kepercayaan publik terhadap kualitas jasa profesi yang diberikan oleh profesi Kurator.
Menurut Bapak Seven Rony Sianturi, sebagai seorang kurator di Medan mengungkapkan bahwa pembebanan tanggung jawab atas kerugian harta pailit kepada kurator akan membuat kurator tersebut tidak kreatif dalam dalam melaksanakan tugasnya, terutama dalam upaya untuk meningkatkan harta pailit. Oleh
118 Ibid, hal. 70.
karena itu perlu adanya pengaturan tentang tanggung jawab kurator ini di atur secara jelas kriteria yang seperti apa yang harus dibebankan kepada kurator ataupun harta pailit di dalam undang-undang. Tindakan seorang kurator haruslah senantiasa dilakukan dengan pemikiran yang matang dan berangkat dari dasar bahwa tindakannya demi kepentingan harta pailit.119
Berdasarkan perspektif hukum perjanjian, bertanggung jawab atas perbuatan dapat diartikan sebagai adanya keterikatan. Dengan demikian tanggung jawab hukum dapat dipahami sebagai keterikatan-keterikatan para pihak yang membuat perjanjian kerjasama, baik terhadap perjanjian itu sendiri maupun ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan demikian, tanggung jawab hukum kurator bertujuan agar setiap pelaksanaan kewajiban dan setiap penggunaan hak terkait dengan bentuk tanggung jawab kurator dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit disertai dengan pertanggungjawaban. Tanggung jawab tersebut yang dilakukan oleh kurator terhadap kreditor preferen yakni melakukan pembayaran piutang dari debitor. Kurator bertanggung jawab sesuai dengan penetapan Hakim. Apabila kurator melakukan diluar penetapan Hakim maka kurator dapat dimintai pertanggung jawaban pribadi.
119 Hasil wawancara dengan Bapak Seven Rony Sianturi selaku kurator di Medan, tanggal 21 Agustus 2019.
BAB III
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KURATOR DALAM HAL MELAKUKAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT
BERDASARKAN UU KEPAILITAN
A. Bentuk Kerugian Yang Dialami Kurator Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit
1. Kerugian Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit
Kurator dalam menjalankan tugasnya bukan berarti tanpa ada kerugian, bahkan tanggung jawab yang diberikan kepada kurator menjadikan tanggung jawab kurator itu sangat berat. Menurut Pasal 72 Undang-Undang Kepailitan menyebutkan bahwa kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Kurator dapat digugat dan wajib membayar ganti kerugian apabila karena kelalaiannya, terlebih lagi karena kesalahannya (dilakukan dengan sengaja) telah menyebabkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap harta pailit, terutama tentunya adalah para kreditor konkuren dirugikan. Kerugian itu terutama apabila harta pailit berkurangan nilainya sehingga para kreditor konkuren memperoleh nilai pelunasan tagihannya kurang dari yang seharusnya diterima dari hasil penjualan harta pailit seandainya nilai harta pailit tidak mengalami pengurangan sebagai akibat perbuatan kurator.120
120 Syamsudin M.Sinaga, Hukum Kepailitan Indonesia, (Jakarta: PT.Tatanusa, 2012), hal. 67.
Perbuatan hukum yang dilakukan oleh kurator menurut Sutan Remy Sjahdeini tidak serta merta dapat diterima begitu saja oleh kreditor atau panitia kreditor ataupun oleh debitor pailit apabila perbuatan hukum itu dirasakan merugikan.121 Setiap kreditor, panitia kreditor, dan debitor pailit dapat mengajukan surat keberatan kepada hakim pengawas terhadap perbuatan yang dilakukan oleh kurator atau memohon kepada hakim pengawas untuk mengeluarkan surat perintah agar kurator melakukan perbuatan tertentu atau tidak melakukan perbuatan yang sudah direncanakan. Sesuai Pasal 77 UU Kepailitan, hakim pengawas harus menyampaikan surat keberatan kepada kurator maksimal 3 (tiga) hari setelah surat keberatan diterima dan kurator harus memberikan tanggapan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari setelah menerima surat keberatan. Setelah itu hakim pengawas memberikan penetapan setelah menerima tanggapan surat keberatan dari kurator maksimal dalam jangka waktu 3 (tiga) hari.
Kurator bertanggungjawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit. Istilah kesalahan atau kelalaian disini hendaklah diberi pengertian yang jelas dan luas. Sebab bila tidak, tentu akan menimbulkan permasalahan bagi kurator dalam menjalankan tugasnya, dalam arti ia tidak akan dapat mengambil tindakan yang cepat karena dibayangi adanya kesalahan atau kelalaian. Untuk itu diperlukan standar penilaian yang dikeluarkan oleh sebuah asosiasi. Selain itu perlu ditekankan bahwa hendaknya tanggung jawab kurator baru
121 Sutan Remy Sjahdeini, Op-Cit., hal, 230
71
dapat timbul jika dalam kesalahan baik berupa kesengajaan ataupun kelalaian itu terdapat unsur kesengajaan atau adanya kecerobohan yang dilakukan tanpa pertimbangan yang jelas.122
Berdasarkan hasil wawanancara dengan ketiga narasumber, selaku Kurator menerangkan bahwa kendala yang dihadapi dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit antara lain:
a. Debitor pailit tidak kooperatif dalam memberikan informasi dan laporan harta atau boedel pailit, dan cenderung menyembunyikan harta/ boedel pailit bahkan berusaha mengalihkan harta pailit;
b. Debitor tetap menguasai dan mengurus harta atau boedel pailit, seolah-olah tidak terjadi kepailitan, dan menghalangi kurator dalam melakukan pengurusan harta atau boedel pailit;
c. Debitor sulit untuk memberikan penggantian tanda tangan tangan untuk segala transaksi keuangan yang berkenaan dengan harta pailit/ boedel pailit;
d. Debitor menggunakan bodyguard atau preman untuk menghalangi kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit;
e. Debitor menggugat kurator ke Pengadilan Negeri hanya untuk menghalangi dan mengulur waktu kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit yang pada akhirnya merugikan Debitor sendiri dan para Kreditor;
f. Debitor melaporkan kurator ke pihak kepolisian berkenaan dengan dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit, yang belum tentu laporan Polisi tersebut dapat ditindak lanjuti oleh Kepolisian.123
Kendala yang dihadapi kurator tersebut menyulitkan usaha kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Selain itu, dapat menyebabkan seorang kurator di pidana seperti berikut ini:124
122 Sunarmi, Hukum Kepailitan, (Jakarta: Softmedia, 2010), hal. 142
123 Hasil wawancara dengan Bapak Jamaslin James Purba, Bapak Seven Roni Sianturi dan Bapak Nurdin Sipayung selaku kurator.
124 Ibid
1) Tidak diizinkan oleh Debitor pailit atau dihalang-halangi untuk memasuki kantor atau tempat kediamannya serta diancam oleh Debitor atau kuasa hukumnya untuk dilaporkan secara pidana telah memasuki pekarangan secara melawan hukum (Pasal 167 KUHP);
2) Dilaporkan oleh Debitor ke Polisi atas dasar memasukan keterangan palsu karena menolak tagihan kreditor yang menurut Debitor merupakan kreditornya (Pasal 263 KUHP);
3) Dilaporkan oleh Debitor ke Polisi karena melakukan pencemaran nama baik atas pengumuman kepailitan yang dilakukan oleh Kurator (Psal 310 KUHP);
4) Dilaporkan oleh Debitor ke Polisi atas dasar penggelapan karena telah melakukan penjualan harta pailit tanpa persetujuannya (Pasal 372 KUHP).
Kendala-kendala diatas merupakan bentuk kerugian yang dapat diterima kurator karena UU Kepailitan tidak mengatur tentang perlindungan terhadap kurator.
Namun UU Kepailitan hanya menyatakan sanksi pidana dapat diberikan ketika kurator terbukti lalai atau tidak independen dalam menjalankan tugasnya.
2. Upaya-upaya Kurator Dalam Membela Diri
Kesalahan dan kelalalaian kurator secara implisit merupakan perbuatan melawan hukum karena tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Mengenai perbuatan melawan hukum dalam Pasal 1365 KUH Perdata disebutkan bahwa setiap perbuatan melawan hukum, yang dapat menimbulkan
73
kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang karena kesalahannya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut.
Kurator memiliki tugas dan kewenangan untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit. Bentuk kesalahan atau kelalaian kurator dalam melakukan tugas pengurusan dan pemberesan harta pailit secara implisit dapat dikatakan perbuatan melawan hukum. Kurator bertanggungjawab secara pribadi atas kesalahan atau kelalaiannya dalam pengurusan dan pemberesan harta pailit. Kurator dapat dikenai sanksi administrasi, perdata, maupun pidana, tergantung jenis kesalahannya.
Kerugian harta pailit yang ditimbulkan kurator juga dapat dimintakan penggantian kepada harta pribadi kurator.125
Tanggung jawab kurator dapat dikategorikan sebagai salah satu profesi yang harus mengandalkan prinsip kehati-hatian. Pada saat menjalankan profesinya, kurator harus diupayakan bekerja secara profesional. Ini berarti kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan tidak dapat bertindak sewenang-wenang.
Penanganan kasus kepailitan dewasa ini berakhir pada sikap saling lapor dan saling gugat antara debitor, kreditor dan kurator. Hal-hal semacam ini menjadi penyebab blundernya126 proses penegakan hukum di Indonesia. Meski dalam UU Kepailitan ada mencantumkan mengenai sanksi pidana, namun dengan tidak diaturnya aspek-aspek hukum pidana didalamnya berakibat tidak berlaku asas lex
125 Hasil wawancara Bapak Jamaslin James Purba selaku kurator yang berdomisili di Jakarta, tanggal 11 Aguatus 2019.
126 Blunder dalam KBBI adalah kesalahan besar
specialis derogate legi generalis127 dengan ketentuan yang ada dalam KUH Pidana.
Sehingga dalam menanggulangi tindak pidana terhadap para pelaku kepailitan, diberlakukanlah ketentuan-ketentuan umum dalam KUH Pidana.
Sehubungan dengan Pasal 50 KUH Pidana yang mengatakan bahwa: “Orang yang melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak boleh dipidana”, dihubungkan dengan pertanggungjawaban kurator, maka kurator harus membuktikan bahwa perbuatan pidana yang dituduhkan kepadanya merupakan perbuatan yang diperintahkan oleh undang-undang. Terkait penerapan Pasal 50 sebagai alasan penghapus pidana terhadap perbuatan pidana yang didakwakan kepada kurator dapat dipergunakan sepanjang perbuatan yang dilakukan tersebut telah dilaporkan kepada hakim pengawas, dan mendapat persetujuan dari hakim pengawas.
Sehingga tanggung jawab atas peristiwa yang terjadi telah mendapatkan pembenaran dan persetujuan dari hakim pengawas.
Walaupun sampai sekarang ini kurator tidak memiliki hak imunitas dan tidak adanya aturan dalam UU Kepailitan yang dengan tegas melindungi kurator dalam melaksanakan tugasnya, akan tetapi selama kurator tidak melanggar ketentuan dalam kode etik profesi kurator dimana kurator bersikap independen dalam menjalankan tugas profesinya, tidak berpihak kepada siapapun serta tidak dipengaruhi oleh siapapun dimana kurator saat menjalankan tugasnya melakukan pengurusan dan
127 Asas penafsiran hukum yang menyatakan bahwa hukum yang bersifat khusus (lex specialis) mengesampingkan hukum yang bersifat umum (lex generalis)
75
pemberesan harta pailit sesuai dengan UU yang berlaku maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.128
B. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KURATOR DALAM HAL MELAKUKAN PENGURUSAN DAN PEMBERESAN HARTA PAILIT 1. Perlindungan Hukum Terhadap Profesi Kurator Berdasarkan
Perundang-Undangan
Perlindungan hukum dapat berarti perlindungan yang diberikan terhadap hukum agar tidak ditafsirkan berbeda dan tidak dicederai oleh aparat penegak hukum dan juga dapat berarti perlindungan yang diberikan oleh hukum terhadap sesuatu.129 Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia, penegakan hukum harus memperhatikan 4 (empat) unsur perlindungan hukum:130
a. Kepastian hukum (Rechtssicherkeit) b. Kemanfaatan hukum (Zeweckmassigkeit) c. Keadilan hukum (Gerechtigkeit)
d. Jaminan hukum (Doelmatigkeit)
Bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh suatu Negara memiliki dua sifat, yaitu bersifat pencegahan (prohibited) dan bersifat hukuman (sanction).131 Prinsip perlindungan hukum di Indonesia adalah berlandaskan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara. Konsepsi perlindungan hukum bagi rakyat di Barat bersumber pada konsep-konsep Rechstaat dan Rule of The Law. Menggunakan konsepsi Barat sebagai kerangka berpikir dengan landasan pada Pancasila, prinsip
128 Hasil wawancara dengan Bapak Nurdin Sipayung selaku kurator di Medan, tanggal 21 Agustus 2019.
129 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, (Bandung: Citra Sditya Bakti, 2009), hal. 38
130 Ishaq, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 43
131 Rafael La Porta, Investor Protection and Corporate Governance, Jurnal Of Financial Economics, No.58, 1999, hal. 9
perlindungan hukum di Indonesia adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila.132
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa perlindungan hukum adalah segala bentuk upaya pengayoman terhadap harkat dan martabat manusia serta pengakuan terhadap hak asasi manusia di mata hukum. Prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia bersumber pada Pancasila dan konsep negara hukum, kedua sumber tersebut mengutamakan pengakuan serta penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia. Oleh karena itu, berdasarkan teori perlindungan hukum dimaksudkan agar kurator mendapatkan jaminan perlindungan hukum dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit.
Kurator dalam menjalankan tugasnya mempunyai tugas yang banyak, hal tersebut bisa menjadi rumit karena tidak jarang kurator menghadapi hambatan-hambatan yang dilakukan oleh para pihak yang tidak suka terhadap kepailitan yang terjadi. Hambatan tersebut dapat berbentuk secara fisik dengan menghalang-halangi kurator masuk ke perkarangan debitor pailit dan juga kekerasan, bisa juga secara mental dengan menggunakan ancaman kekerasan atau dengan ancaman pidana.133
Berdasarkan hasil wawancara Peneliti dengan Jamaslin James Purba, Kurator serta Ketua Umum AKPI, bahwa tanggung jawab Kurator dan perlindungan hukum terhadap kurator harus diperkuat dan jelas. Sejauh mana batasan kesalahan dan
132 Philipus M.Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987), hal. 38
133 Ida Bagus Adi, dan Ida Ayu Sukihana, “Perlindungan Hukum Terhadap Kurator Dalam Melaksanakan Tugas Pengurusan dan Pemberesan Harta Debitor Pailit”, Jurnal Hukum Universitas Udayana, (Bali: 2018), hal. 6
77
kelalaian kurator dalam melaksanakan tugas pengurusan atau pemberesan harta pailit.
Disamping kurator diberi tanggung jawab, juga harus ada perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas kurator. Dengan demikian perlu adannya revisi UU Kepailitan agar memberikan kepastian hukum bagi kurator dalam melaksanakan tugasnya khususnya dalam mengimplementasikan Putusan Mahkamah Konstitusi No 67 /PUU-XI/2013.
Dengan demikian, perlu adanya aturan khusus yang melindungi kurator dalam melaksanakan tugasnya, mengingat besarnya tanggung jawab dan tugas yang diemban oleh kurator. Namun hingga sekarang belum ada aturan yang melindungi kurator selayaknya advokat yang memiliki hak imunitas. Profesi advokat tidak hanya diberikan hak imunitas, selain itu apabila melakukan kesalahan atau kelalaian akan disidang oleh Dewan Kehormatan PERADI. Sementara Asosiasi Kurator (AKPI) memiliki dewan kehormatan tetapi tidak berjalan seperti Dewan Kehormatan PERADI.
Advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk pembelaan klien dalam sidang pengadilan yang tertulis dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat. Sedangkan kurator masih dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya. Oleh karena itu, sebaiknya ada perlindungan kurator karena bekerja demi melindungi hak kreditor dan debitor.
Namun begitu, menurut Bapak Rony sesuai dengan Pasal 72 UU Kepailitan, apabila kurator melaksanakan tugasnya berdasarkan penetapan Hakim maka akan
terlindungi. Tetapi apabila kurator bertindak sendiri tanpa ada atau tidak berdasarkan penetapan maka dia bertanggung jawab sendiri. Dengan demikian, segala sesuatu yang berdasarkan ketetapan kepada uu, maka tidak bertentangan dengan hukum.134
Sama seperti pendapat Bapak Jamaslin James bahwa kedudukan kurator sebagai perwakilan pengadilan yang menjalan kekuasaan kehakiman maka ketika Kurator menjalankan tugasnya dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan,135 ditambah lagi selama menjalankan tugasnya kurator tidak melanggar ketentuan dalam kode etik profesi kurator dengan bersikap independen dalam menjalankan tugas profesinya tidak berpihak kepada siapapun dan tidak dipengaruhi oleh siapapun.
2. Tidak Adanya Hak Imunitas Terhadap Profesi Kurator
Secara bahasa imunitas atau immunity berarti kekebalan.136 Imunitas dapat juga dijumpai dalam Kamus Hukum Indonesia, ialah hal atau keadaan tidak dapat diganggu gugat (kekebalan).137 R. subekti mendefinisikan imunitas sebagai kekebalan tidak tunduk kepada hukum yang berlaku di suatu negara.
Hingga saat ini belum ada aturan yang melindungi kurator selayaknya advokat
Hingga saat ini belum ada aturan yang melindungi kurator selayaknya advokat