MERAJUT GAGASAN OMPU
D. Raja Singamangaraja dan Sahala Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam masyarakat Batak, khususnya Toba sangatlah berbeda dengan kepemimpinan sekuler selayaknya di pemerintahan, perusahaan, dsb. Demikian halnya dengan Singamangaraja yang ketika berbicara tentang kepemimpinannya maka ia tidak hanya tampil sebagai pemimpin sekuler, melainkan juga rohani. Maka dari itu dalam suatu rasionalisasi akan sebuah jabatan kepemimpinan, ia tidak dapat didefinisikan menurut fungsi dan tujuannya. Itu artinya kepemimpinannya tidak serta merta terikat di dalam suatu birokrasi, melainkan memiliki kharisma yang mempengaruhi pengikutnya.
Istilah kharisma jika dirujuk kepada Max Weber maka kepemimpinan kharismatik merupakan kuasa yang sangat besar yang menunjuk kepada pribadi seseorang. Pendapat Weber ini tidak mengarahkan kepemimpinan kepada kategori sebuah tujuan yang bermuara kepada baik ataupun buruk. Namun bagaimana sebuah hubungan pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi. Ia juga berpendapat bahwa kepemimpinan kharismatik tidak melekat kepada struktur birokrasi.Pandangannya ini ia landaskan kepada penggabungan antara sesuatu yang
Ompu i |73
tradisional dengan yang rasional, sehingga kharisma berhubungan dengan komunitas dan dengan mistis.54
Pandangan Weber ini menggambarkan fenomena atas kharisma yang tentunya pandangannya berangkat perspektif sosiologi dan psikologi sebagai latar belakang pendidikannya. Namun mengenai pandangan tentang kuasa dan personal Weber tidak melihatnya secara menyeluruh dan kebelakang. Seolah-olah adanya fenomena yang melampaui birokrasi dan memiliki pengaruh kepada pengikut disebut sebagai sesuatu yang berkharisma. Pembagian antara yang rasional dan tradisional justru yang menimbulkan kerancuan dalam memandang kekuasaan. 55
Dalam pandangan masyarakat Batak (baca: tradisional), Raja Singamangaraja dianggap memiliki sahala harajaon. Istilah sahala sering sekali diartikan sebagai kharisma atau wibawa. Memang dalam kamus Batak J. Warneck, istilah sahala berarti memiliki kemuliaan, hikmat, kharisma. Namun menurut Sitor Situmorang, dan saya pun sepakat dengannya, bahwa istilah sahala sangat berbeda dengan arti yang sebenarnya. Pergeseran ini ditandai dengan adanya pengrasionalisasian atas perbendaharaan kata di dalam bahasa dan budaya Batak sehingga pengartian dari suatu istilah hanya berdasarkan kepada fenomena sosialnya, selayaknya Weber mendefinisikannya.
54 George P. Hansen, The Trickster and the Paranormal (Philadelphia: Xlibris, 2001), hl.
103-104.
55 Dalam hal ini saya sepakat dengan Ben Anderson yang melihat kuasa tradisional dan
rasional dengan melihat kesamaan-kesamaannya, tanpa berusaha untuk membaginya. Menurut Ben adanya Kuasa justru akan melekatkan dirinya pada kepemimpinannya, bukan menyerahkan dirinya seperti dalam kekuasaan yang rasional, Lih. Benedict R. O’G. Anderson, Kuasa Kata: Jelajah Budaya Politik di Indonesia (Yogyakarta: Mata Bangsa, 2000), hl. 162-163.
Ompu i |74
Memang di dalam fenomenanya, sahala dapat mempengaruhi pengikut, namun makna sahala tidak dapat dilepaskan realitas pemakaian yang mengikutinya, yakni sahala yang disandang oleh Singamangaraja bukanlah hasil upaya manusia, melainkan sebagai karunia dari Mula Jadi Na Bolon. Hal ini juga seperti yang dikatakan Anicetus B. Sinaga seperti yang dikutip Ulber Silalahi:
“Mulajadi Na Bolon telah menganugerahkan karunia keadilan dan kerajaan kepada Sisingamangaraja, yakni “Singa (hakikat) hukum, hakikat kerajaan, hakikat sabda. Padanyalah satuan ukuran, hakikat kerajaan, ketentuan satuan segala ukuran, bajak pembelah tali (keadilan sempurna), hakikat satuan ukuran isi dan inti serta satuan timbangan. Yang berlebihan disisihkan, dan yang kurang digenapi”56 Dengan pandangan ini maka sahala adalah sesuatu yang diberikan (give) yang pada saat tertentu tidak terikat kepada individu atau personal.
Sitor Situmorang menggambarkan sahala lebih spesifik dari sebelumnya. Menurutnya sahala berarti “daya kesaktian yang diperoleh lewat wahyu untuk menjadi raja. Sahala yang melekat pada Singamangaraja adalah sahala yang sempurna dan berbeda pengertiannya dari sahala biasa. Sahala yang melekat pada Singamangaraja adalah satu-satunya, tak ada duanya ataupun tandingannya,
membawahi segala bentuk sahala lain.” Ia pun menyimpulkan: “Dalam paham itu,
Singamangaraja adalah penjelmaan sahala, bukan manusia biasa. Roh berwujud manusia, inkarnasi Batara Guru alias Dewa”. 57
56 Dr. Ulber Silalahi, MA, Op.Cit., hl. 253. 57 Sitor Situmorang, Op.Cit., hl. 62.
Ompu i |75
Pandangan Sitor Situmorang ini dalam menggambarkan sahala sesuai dengan realitas keyakinan masyarakat Batak Toba tradsional. Artinya, Singamangaraja menjadi raja dan diterima oleh masyarakat Batak Toba tradisional atas keyakinannya kepada Singamangaraja sebagai inkarnasi Batara Guru. Bahkan, ia menjadi sumber sahala bagi siapapun yang layak ia pilih. Batara Sangti juga menyimpulkan hal serupa bahwa Singamangaraja merupakan suatu
“perhinggapan” dari Debata Mula Jadi Na Bolon, sehingga dengan sahalanya ini,
ia menjadi “penjaga ladang yang tak memakai panah atau gembala yang tak
memakai cambuk” bagi para pengikutnya.58 Fenomena dari keyakinan ini adalah sebagai bentuk pengujian atas kesaktian dari seseorang untuk menjadi Raja Singamangaraja, baik berupa ritus mencabut piso gajah dompak, mendatangkan hujan, menghilangkan wabah penyakit, dsb.59
Dalam bentuk realitas-sekuler, kemunculan raja dipandang untuk mengatasi masalah sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat Batak Toba. Namun fenomena ini bukanlah sesuatu yang pragmatis sebagai suatu kemunculan raja. Munculnya Dinasti Singamangaraja tetap memandang adanya sahala sebagai sesuatu yang mistis sedangkan birokrasi atau struktur adalah pancaran dari sahala
58 Ucapan Batara Sangti ini sesuai dengan tonggo-tonggo (doa) dari kelompok Parbaringin
yang menghendaki adanya pemimpin di dalam masyarakat Batak Toba Tradisional: “Ya Debata Mula Jadi Nabolon! Engkau yang menjadikan Tuan Singa Mangaraja, Singa melampauiSinga yang tidak dapat di lampaui di Bangkara. Perhinggapan dari pada Batara Guru. Ya Allah Engkau telah memanggil kesisiMu Tuan Singa Mangaraja tunjukkanlah kiranya kepada kami, siapa yang menjadi tempat perhinggapanMu, agar supaya kami jangan kiranya seperti kerbau liar yang tidak
mempunyai gembala.” Lih. Batara Sangti, Sejarah Batak (Balige: Karl Sianipar, 1977), hl. 331.
59 Pada saat pengangkatan Raja Singamangaraja XII terlebih dahulu ditunjuk oleh
masyarakat adalah Raja Parlopuk namun dikarenakan Raja Parlopuk tidak dapat memenuhi syarat- syarat kesaktian maka Raja Singamangaraja jatuh ke tangan Raja Patuan Bosar. Lih.
https://tobadreams.wordpress.com/2008/12/21/wawancara-dengan-cucu-tertua-sisingamangaraja- xii/ Di akses pada 4 september 2016.
Ompu i |76
ini. Dengan pandangan ini maka sahala mengesahkan kewibawaan raja, sehingga raja-raja bius, horja dan huta melekat kepada Singamangaraja. Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu yang menjadi masalah dalam masyarakat Batak Toba adalah seringnya terjadi konflik wilayah, baik huta ataupun bius, sehingga keyakinan kepada raja adalah untuk mengatasi konflik sebagai suatu harapan sosial yang bersifat kolektif. Dengan kehadirannya, maka mediasi, solusi akan hadir tengah-tengah masyarakat. Namun harapan tersebut akan sirna seturut dengan hilangnya kepercayaan kepada raja dengan memandang tidak adanya sahala di dalam diri seseorang.
Dengan pandangan ini, saya tidak sepakat dengan beberapa pandangan Ulber Silalahi. Pertama, pandangannya mengenai pemisahan antara sahala dengan kepemimpinan kharismatik yang menyatakan munculnya kharisma melalui sahala.60 Pandangannya ini muncul untuk membedakan persona atau pribadi sebagai suatu karakterisik dengan manifestasi roh (sahala). Dalam pandangan ini, Silalahi justru terjebak di dalam kerancuan dan ambiguitas dualisme pandangan akibat menafsir dari fenomenologi yang dibangunnya. Bagi saya, sahala adalah kharisma itu sendiri, di mana masyarakat Batak Toba tradisional hanya meyakini kesaktian yang ada di personal sebagai inkarnasi dari Batara Guru, tanpa memandang personal karakter. Artinya, sahala adalah roh (tondi) yang menjadi manusia yang juga akan menentukan karakter personal. Kedua, pandangannya mengenai kekuasaan tradisional dengan rasional, di mana yang tradisional
Ompu i |77
mendahului yang rasional.61 Pandangannya ini, selayaknya Max Weber menafsirkannya, juga akan menimbulkan kerancuan. Padahal di dalam pengertiannya Singamangaraja, seperti dalam pandangan masyarakat Batak Toba tradisional, justru menjadi pondasi atau konstruksi (Singa) dari kekuasaan yang rasional, dalam hal ini bersandar kepada patik (larangan) dan uhum (hukum). Keduanya menjadi satu di dalam diri Raja Singamangaraja.
Pandangan-pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa kedudukan Raja Singamangaraja dapat disejajarkan dengan kedudukan Tuhan yang memiliki kuasa untuk mendatangkan kemuliaan, kemakmuran dan kesejahteraan (hasangapon, hamoraon dan hagabeon) atau berimplikasi kepada kehidupan masyarakat. Dari pandangan inilah kedudukan dari gelar Ompu i diberikan kepada Singamangaraja yang menurut Sitor Situmorang dapat diartikan sebagai adanya kolektivitas para leluhur di dalam diri Singamangaraja (baca: Dewa).62
E. Kesimpulan
Kehidupan masyarakat Batak Toba tradisional telah diatur di dalam tatanan hukum sekuler dan religi. Melalui Pustaha Laklak atau yang disebut Surat Agong dan Pustaha Tumbaga, kehidupan masyarakat Batak Toba memiliki kedaulatannya. Kedua Pustaha ini tidak dapat dipisahkan, melainkan saling melengkapi. Hadirnya
61Pandangan ini sesuai dengan pernyataannya yang mengatakan: “kekuasaan tradisional
dan kekuasaan kharismatik adalah landasan dari organisasi birokrasi pemerintahan tradisional masyarakat Toba, sedangkan kekuasaan legal-rasional adalah landasan dari birokrasi. Adat/patik dohot uhum yang menjadi milik rajamerupakan kekuasaan legal-rasional…” Lih. Dr. Ulber Silalahi, MA, Op.Cit., hl. 507.
Ompu i |78
Dinasti Singamangaraja sebagai perwujudan dari dua pustaha ini. Ia tidak hanya dipandang sebagai pemimpin di dalam bidang sekuler dalam bentuk birokrasi, melainkan menjadi pemimpin religius sebagai inkarnasi dari Batara Guru.
Gelar Ompu i berada di dalam kedudukan ini. Sebagai gelar yang dimiliki Singamangaraja, gelar tersebut menjadi penghormatan tertinggi bagi raja, di mana Tuhan hadir kepadanya. Tugas-tugas yang dilakukan sebagai Raja Singamangaraja meliputi urusan sekuler, yakni sosial, ekonomi, hukum, politik, dll; dan juga urusan religi. Untuk urusan religi ini, dengan sahalanya, Singamangaraja menjadi perantara antara manusia dengan Mula Jadi Na Bolon, sehingga ia memanjatkan doa kepada Mula Jadi Na Bolon dan masyarakat berdoa kepadanya. Tanpa disadari dengan kedua bidang ini kekuasaan Singamangaraja selayaknya menjadi suatu dinasti kerajaan yang justru tidak diamati oleh peneliti-peneliti dari luar, misalnya Anthony Reid yang hanya memandang kesatuan masyarakat Batak dari keterikatan klan atau marga.63
Kedua urusan diatas, sekuler dan religi, tidak dapat dipisahkan atau dibagi, namun menjadi kesatuan antara kehidupan beragama dan sosial. Hal ini juga yang dikatakan oleh misionaris, Johannes Warneck setelah melihat kehidupan sosial beragama masyarakat Batak tradisional.64 Singamangaraja menjadi raja yang dihormati di segala aspek. Dari tingkat huta hingga bius, Singamangaraja tetap di yakini menjadi pemersatu bagi masyarakat Batak Toba tradisional. Walaupun pada
63 Anthony Reid, Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra
(Jakarta: Sinar Harapan, 1987), hl. 23.
64 Joh. Warneck, The Living Forces of The Gospel: Experiences of A Missionary In
Ompu i |79
kenyataannya ada beberapa bius yang tidak mau meyakininya, namun pengaruh Singamangaraja sangatlah besar bagi perkembangan masyarakat Batak. Hal ini tidak lepas dari pengaruh kelompok Parbaringin yang bergerak dibidang keagamaan dan selalu aktif dalam mempersatukan masyarakat Batak Toba, serta mendukung eksistensi Raja Singamangaraja.
Ompu i |80