• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemahan Puitis Aqsam al-Qur’ân

Dalam dokumen Bilmauidhah Puitisasi Terjemahan Al Qur'an.bak (Halaman 160-178)

ANALISIS APLIKASI TERJEMAH PUITIS MAHJIDDIN

F. Terjemahan Puitis Aqsam al-Qur’ân

Perubahan terakhir yang disampaikan oleh tim penyunting adalah mengenai sumpah.123 Di dalam al-Qur’an Allah sering bersumpah, dengan nama atau diri-Nya sendiri, ada pula dengan makhluknya. Dalam beberapa ayat, Allah mengawali sumpahnya dengan kata la yang secara harfiah berarti tidak. Jumlah sumpah yang dimulai dengan kata la ini ada delapan buah yaitu: al-Waqi’ah ayat 75, al-Haqqah ayat 38, al-Ma’arij ayat 4, al-Qiyamah ayat 1 dan 2, al-Takwir ayat 15, al-Insyiqaq ayat 16 dan al-Balad ayat 1. Pada umumnya kitab tafsir menganggap kata-kata la yang berarti tidak ini hanyalah sebagai tambahan, tidak mempunyai fungsi apa-apa. Jadi dianggap sebagai tidak ada saja.

Surat al-Waqi’ah ayat 75 dalam kitab al-Qur’an dan Terjemahannya diterjemahkan dengan: Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Di dalam kitab tafsir, pembahasan dan diskusi tentang sumpah yang diawali dengan kata la ini, apakah harus diartikan atau dianggap tidak ada, selalu diberikan. Biasanya surat al-Waqi’ah ayat 75 tadi, karena itulah merupakan sumpah pertama yang diawali dengan kata la. Sebagian ulama berpendapat bahwa kata la tersebut harus diartikan, tidak boleh dianggap tidak ada. Untuk hal ini berbagai alasan dan argumen telah dikemukakan. Jassin menerjemahkannya dengan Aku bersumpah demi jatuhnya bintang-bintang.124

       122

Lihat al-Zamakhsyarî, Al-Kasysyâf, juz I, hal. 16-17. Lihat pula Ibn Katsîr, Tafsir al-Qur’an al-Azîm, juz I, hal. 68.

123

Mannâ’ al-Qaththân, Mabâhist fî ‘Ulûm al-Qur’ân, hal. Kata sumpah berasal dari bahasa Arab ُﻢَﺴَﻘﻟْا (al-qasamu) yang bermakna ُﻦﻴِﻤَﻴﻟْا (al-yamiin) yaitu menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan menggunakan huruf-huruf (sebagai perangkat sumpah) seperti و , ب dan huruf lainnya. Berhubung sumpah itu banyak digunakan orang untuk menguatkan sesuatu, maka kata kerja sumpah dihilangkan sehingga yang dipakai hanya huruf ب -nya saja. Kemudian huruf بdiganti dengan huruf و.

124

Mahjiddin Yusuf memilih kecendrungan bahwa kata la tersebut harus diartikan, tidak boleh dianggap tidak ada. Karena itu, ayat 75 ia artikan dengan : 75. Han Lonmeusumpah ngon teumpat bintang

Teumpat-teumpat nyan di langet luah Meusumpah ngon nyan meu na tateupue 76. Keubit atra nyoe raya sileupah

Kedelapan kata sumpah yang diawali dengan kata la seperti disebutkan di atas ia terjemahkan dengan Han Lonmeusumpah. Masalah ini merupakan topik diskusi tim penyunting yang terakhir dengan Mahjiddin pada Ramadhan 1414 atau Februari 1994. Karena tidak selesai, tim berjanji akan meneruskan diskusi sesudah bulan Ramadhan usai. Tetapi Allah menentukan lain, diskusi tersebut tidak dapat dilanjutkan, karena pada malam Hari Raya Fitrah 1414 H Mahjiddin berpulang ke rahmatullah.

Akhirnya melalui diskusi sesama tim penyunting, diputuskan untuk mengikuti kecendrungan umum kebanyakan kitab tafsir, dan karena itu mengubah arti kedelapan sumpah yang diawali dengan kata la menjadi Ulon meusumpah. Dengan demikian terjemahan surat al-Waqi’ah menjadi:

75. Ulon meusumpah ngon teumpat bintang

Teumpat-teumpat nyan di langet luah Meusumpah ngon nyan meu na tateupue 76. Keubit atra nyoe raya sileupah

Dalam al-Qur’an ada tiga macam term yang biasa diterjemahkan sebagai sumpah secara umum. Ketiga term tersebut adalah al-Qasam, al-Halif dan al-Yamîn. Secara leksikal, term-term ini mempunyai makna-makna yang sama dan masing-masing term dapat diartikan dengan lainnya. Term al-Qasam dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 33 kali; 22 kali di antaranya bermakna sumpah, yaitu 6 kali dalam bentuk aqsamu, 8 kali dalam bentuk la uqsimu, 1 kali dalam bentuk la tiqsimu. 2 kali yuqsimani, 1 kali bentuk qasamahuma, sekali bentuk taqasau, dan dua kali dalam bentuk al-Qasam.125 Sedangkan al-Halif

       125

Muhammad Fuad ‘Abd al-Bâqî, al-Mu’jam al Mufahras li Alfâzh wa al-Qur’an, cet. II, (t.t.: Dar al-Fikr, 1981), hal. 544-545. Lihat juga Muhammad Ismail Ibrahim, Mu’jam al-Alfazh wa al-A’lam al-Qur’aniyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, t.th.), hal. 425-426

ditemukan sebanyak 13 kali, 10 kali dalam bentuk yahlifuna, dan masing-masing sekali dalam bentuk halaftum, yahlifanna dan halaf.126

Term la-Yamin digunakan sebanyak 71 kali dalam berbagai pengertian.127

Sebanyak 23 kali di antaranya dalam pengertian sumpah. Dapat disimpulkan bahwa dari tiga term sumpah yang telah disebutkan, hanya term al-Qasam saja yang dapat disandarkan kepada Allah.128 Dua term lainnya hanya bisa disandarkan kepada sumpah-sumpah manusia.

Sumpah-sumpah Allah dalam al-Qur’an yang menggunakan kata kerja yang nampak (zhahir), semuanya menggunakan kata kerja yang berasal dari al-Qasam, yaitu uqsimu. Namun ada hal menarik yang terdapat pada ayat-ayat yang menggunakan kata kerja tersebut. Kata kerja uqsimu selalu dihubungkan dengan huruf lâ, sehingga menjadi lâ uqsimu. Di dalam al-Qur’an kata kerja seperti itu ditemukan sebanyak delapan kali, dua kali di awal surat dan enam lainnya di tengah-tengah surah.

Ada berbagai macam komentar yang disampaikan oleh para ulama mengenai pada frase tersebut dan apa fungsinya. Di antaranya ada yang berpendapat bahwa frase lâ uqsimu sebenarnya berasal dari lauqsimu (sungguh saya bersumpah) yang menggunakan huruf lâm al-Qasam.129 Huruf lâm dibaca panjang menjadi lâ, mengikuti kebiasaan yang terjadi dalam syair ketika berhenti pada suatu lafal.130

       126

Muhammad Fuad Abd al-Bâqî, al-Mu’jam al Mufahras, hal. 215. Muhammad Ismail Ibrahim, Mu’jam al-Alfazh wa al-A’lam al-Qur’aniyyat, hal. 133.

127

Dalam kamus al-Qur’an disebutkan bahwa makna-makna al-Yamin adalah kekuatan, sumpah, janji, tangan kanan, raja, agama, raja, sebelah kanan sesuatu dan arah. Lihat al-Husain Ibn Muhammad al-Damaghaniy, Qâmus al-Qur’an wa Isthilah al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar al Ilm al-Malayin, 1980), cet. III, hal. 505-506

128

Sedangkan menurut Louis Ma’luf, dalam konteks bangsa arab, sumpah yang diucapkan oleh orang Arab itu biasanya menggunakan nama Allah atau selain-Nya. Pada intinya sumpah itu menggunakan sesuatu yang diagungkan seperti nama Tuhan atau sesuatu yang disucikan. Louis Ma’luf, al-Munjid, (Beirut: al-Mathba’ah al-Kathaliqiyyah, 1956), hal. 664

129

Lihat al-Shâbûni, Rawâi’ al-Bayân: Tafsîr Âyât al-Ahkâm min al-Qur’an, (td), juz II, hal. 505. Fakhr al-Din ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), Jilid XV, Juz. XXX, hal. 106

130

al-Shâbûni, Rawâi’ al-Bayân, hal. 505. Mannâ’ al-Qattân, Mabâhits fî ‘Ulûm al-Qur’ân, hal. 234

Adapula yang berpendapat bahwa asalnya adalah falanâ uqsimu (maka saya bersumpah). Lam di sini adalah lâm al-Ibtida’.131

Pendapat ini didasarkan pada Qira’at atau bacaan al-Qur’an dari al-Hasan yang membaca frase lâ uqsimu dengan fal uqsimu. al-Zamaksyarî berpendapat bahwa tidak mungkin lâm yang terdapat dalam lâ uqsimu itu adalah lâm al-Qasam dengan dua alasan: pertama, bahwa seandainya lam Qasam, maka seharusnya juga diikuti oleh nun al-Taukid. Kedua, kata kerja sumpah itu harus merujuk perbuatan sekarang tidak boleh pada perbuatan yang akan datang.

Ada pertanyaan yang menarik yang dilontarkan oleh Zarkasyî dan al-Suyûtî. Apa gunanya sumpah dalam al-Qur’an bagi orang beriman, yang pasti percaya firman Tuhan. Atau sebaliknya, percuma saja kalimat sumpah dalam al-Qur’an yang ditujukan kepada orang kafir. Bagaimanapun juga mereka tidak percaya kebenaran al-Qur’an. Al-Suyûtî132 berargumentasi bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sedangkan kebiasaan bangsa Arab (ketika itu) menggunakan al-Qasam ketika menguatkan atau menyakinkan suatu persoalan.

Sedangkan Abû al-Qasim al-Qusyairî berpendapat al-Qasam dalam al-Qur’an

untuk menyempumakan dan menguatkan argumentasi (hujjah). Dia beralasan

untuk memperkuat argumentasi itu bisa dengan kesaksian (syahadah) dan sumpah (al-Qasam). Sehingga tidak ada lagi yang bisa membantah argumentasi tersebut.133

Ada yang berpendapat bahwa la pada frase tersebut adalah la zâ’idat yang berfungsi untuk mempertegas. La ini tidak perlu diterjemahkan dengan ‘tidak’, karena ia diletakkan untuk menguatkan kandungan pebicaraan, maka cukup menggambarkan penekanan dalam terjemahannya, seperti menyisipkan kata ‘benar-benar’, sehingga la uqsimu bisa diterjemahkan dengan ‘saya benar-benar bersumpah’.134

       131

al-Zamaksyarî, Tafsîr al-Kasysyâf, jilid IV, hal. 456 132al-Suyûtî. al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur‘ân, hal. 322 133

al-Suyûtî. al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur‘ân, hal. lihat. QS.3:18 dan QS.1O:53. 134

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), hal. 785

Sumpah atau al-Qasam merupakan suatu hal atau kebiasaan bangsa Arab dalam berkomunikasi untuk menyakinkan lawan bicaranya. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh bangsa Arab merupakan suatu hal yang oleh al-Qur’an direkonstruksi bahkan ada yang didekonstruksi nilai dan maknanya. Oleh karena itu, al-Qur’an diturunkan di lingkungan bangsa Arab dan juga dalam bahasa Arab, maka Allah juga menggunakan sumpah dalam mengkomunikasikan kalam-Nya.135

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa terjemahan dalam bentuk puisi tidak akan merubah akurasi makna dan pemahaman teks al-Qur’an. Dan metode ini menjadi instrument penting dalam membantu proses pemahaman teks.

       135

Muchatab Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif,(Yogyakarta: Gama Media. 2003), hal. 207

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Tesis ini menyatakan bahwa penerjemahan al-Qur’an secara puitis menjadi instrument dalam mengungkap keindahan teks al-Qur’an. Puisi merupakan salah satu bagian dari aspek kajian sastra, yang memiliki nilai estetik tinggi.

Kesimpulan tesis ini menjawab keresahan akdemik penulis bahwa Penerjemahan al-Qur’an secara bersajak ini lebih ditujukan untuk mendekatkan al-Qur’an dengan kondisi sosio-kultural masyarakat Aceh, juga agar lebih mudah dipahami masyarakat dengan cita rasa bahasanya sendiri. Pesan-pesan dakwah tentu akan lebih mudah menyentuh relung jiwa jika disampaikan dengan bahasa yang indah.

Hadirnya terjemahan ini juga dilatarbelakangi oleh tidak semua elemen masyarakat memahami al-Qur’an dalam bahasa aslinya yakni bahasa Arab. Sebagai kitab panduan, al-Qur’an harunya dimengerti maksud dan kandungan isisnya oleh umat Islam. Terjemahan bahasa Aceh ini sangat membantu masyarakat untuk memahami pengertian dan makna al-Qur’an.

Keunikan dari terjemahan Mahjiddin, di samping bahasa terjemahan menggunakan bahasa Aceh, juga mencoba untuk memadukan unsure-unsur qur’ani dengan nuansa cultural. Hal ini dapat dilihat dalam sisitematikan penerjemahan yang memadukan antara bahasa asli dengan bahasa daerah. Bahasa daerah juga ditampilkan unik dengan nazam atau hikayat.

Tesis ini juga membuktikan pertama, terjemah Mahjiddin sangat memperhatikan cara penulisan, pilihan kata, keteraturan susunan, irama serta bunyi sesuai dengan aturan-aturan puisi. Untuk menimbulkan kesan estetis, Mahjiddin menggunakan irama dan bunyi di ujung baris. Untuk menciptakan keserasian bunyi dan irama tersebut, ia menggunakan kata-kata berakhiran ah, an, at atau bunyi-bunyi bergaung lainnya. Kedua, terjemahan dalam bentuk atau gaya puisi tidak akan merubah akurasi makna dan pemahaman teks al-Qur’an.

B. REKOMENDASI

Dalam perkembangannya, kajian terjemahan puitis terhadap al-Qur’an jarang mendapatkan perhatian. Terlihat dari sedikitnya kajian relevan lainnya yang tekait dengan bahasan tersebut. Penulis berusaha melakukan Penelitian yang mengkaji tentang puitisasi al-Qur’an terutama metode yang digunakan oleh Mahjiddin Jusuf terhadap penafsiran al-Qur’an. Namun penulis menyadari bahwa hasil dari penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, sebagai karakter manusia yang memiliki sifat kekurangan, hasil yang digagas tentang puitisasi al-Qur’an ini perlu untuk dilanjutkan dan dibuktikan dengan penelitian lainnya guna menyempurnakan penelitian singkat di atas. Semoga penelitian ini menjadi kontribusi penulis bagi kebesaran peradaban Islam, khususnya di Indonesia.

Terbatasnya penggunaan terjemahan tersebut hanya dalam lingkup daerah Aceh mendesak penulis memberi saran kepada para pemerhati kajian al-Qur’an agar karya ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar karya monumental ini tidak hanya dikonsumsi oleh orang Aceh saja namun juga seluruh kalangan dalam lingkup nasional maupun internasional.

   

Abbas, Siradjuddin, Sorotan atas Terjemahan al-Qur’an HB. Jassin, Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1979

Abdullah, Taufiq dan Nurchalis Madjid (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam,

Jakarta: Ichtiar Baroe Van Hoeve: 2002

Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta, 2004

Abdul Ghafur, Waryono, Studi Al-Qur’an Kontemporer Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002

Abdul Hadi, WM., dkk., Adab dan Adat: Refleksi Sastra Nusantara, Jakarta: Pusat Bahasa: 2003

---, Penulis Aceh dan Estetika Islam: Dari Sastra Melayu ke Sastra Indonesia,

2007

Ahar, Sastra dan Kritik Sastra, Horison, edisi no. 3 Maret 1974

Abied Shah, Muhammad Aunul, Islam Garda Depan Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah, Bandung: Mizan, 2001

Abu Deeb, Al-Jurjani’s Theory of Poetic Imagery, Warminster, Wilts: Aris & Philips Ltd.: 1979

Abû Hayyan, Muhammad Ibn Yusuf, Al-Tafsîr al-Kabîr al-Musamma bi Al-Bahr al-Muhîth, juz I,Riyadh: Maktabah wa Muthaba’ al-Nasyr al-Hadîts, tt. Abû Zaid, Nasr Hâmid, Mafhûm al-Nass: Dirâsat fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut:

Markaz al-Tsaqâfah al-‘Arabî: 1998

---,Rethinking the Qur’an: Towards a Humanistic Hermeneutics, Amsterdam: Humanistics University Press: 2004

al-Akk, ‘Abd al-Rahmân, Usûl al-Tafsîr wa Qawa’iduhu, Beirut: Dâr al-Nafâis, 1986

Alî, Abdullah Yusuf, The Holy Qur’ân: Text, translation and Commentary, Maryland: Amana Corp. Brent wood, 1989

1989

---,The Ulama in Acehnese Society: A Preliminary, Observation, Banda Aceh: Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Aceh, 1975

---,Perang di Jalan Allah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan: 1987

Anonim, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme, Yogyakarta: LidS. 1996 Arikunto, Suharsini, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, cet. 12,

Jakarta: Reneka Cipta, 2002

Arkoun, Mohammed, Kajian Kontemporer Al-Qur’an, Terj. Hidayatullah Bandung: Penerbit Pustaka, 1982

Asyik, Abdul Gani, Atjehnese Morphology, 1972.

A.,Teeuw, Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta: Pustaka Jaya: 1994

Atmazaki, Ilmu Sastra, Teori dan Terapan, cet. X, Padang: Angkasa Raya, 1990 al-Attas, M. Naquib, Prelimanary Statement in a General Theory of Islamization

of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka: 1969

---,The Oldest Known alay Manuscript: A 16 th Century Malay Translation of the ‘Aqaid of al-Nasafi, 1988

---,al-Qur’ân min al-Tafsîr al-Mawruts ila Tahlil al-Khithab al-Dini, ()

Baidan, Nasharuddin, Perkembangan Tafsir al-Qur’an di Indonesia, Solo: Tiga Serangkai, 2002

al-Baihaqi, Sunan al-Kubrâ, Heiderabad: t.tp. 1344-1355, Vol. X

Bakry, Oemar, Polemik H. Oemar Bakry dengan H.B. Jassin tentang al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia, Jakarta: Mutiara, 1979

Baljon, J.M.S., Modern Muslim Koram Interpretation, Leiden: Brill: 1968

al-Bâqî, Muhammad Fuad ‘Abd, al-Mu’jam al Mufahras li Alfâzh wa al-Qur’an,

Kairo, 1962

Beeston, A.F.L, T.M Johnstone, R.B Serjeant & G.R Smith (Eds.) Arabic Literature to the End o the Umayyad Perod Cambridge: Cambridge University Press, 1983

al-Baqilanî, I’jâz al-Qur’an, Kairo: Dar al-Salam, tt.,

Braginsky, V. I., Tasawuf dan Sastera Melayu: Kajian dan Teks-teks, Jakarta: RUL: 1993

Corford, J.C., Nazâriyyah Lughawiyyah li al-Tarjamat, Terj. ‘Abd al-Bâqi, Basrah: Dâr al-Kutub, 1964

al-Damaghaniy, Husain Ibn Muhammad, Qâmus al-Qur’an wa Isthilah al-Wujuh wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim, cet. III,Beirut: Dar al Ilm al-Malayin, 1980.

Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahannya, Madinah Munawwarah: Mujamma’ Khadim Haramain Syarifain li Tiba’at al-Mushaf al-Syarîf, 1990

Departemen Agama Republik Indonesia. al-Quran dan Terjemahnya. Surabaya: Mekar Surabaya, 2004

Diltey, Wihem, Poetry and Experience, Princeton University Press, 1985

Diponegoro, Muhammad, Pekabaran Puitisasi Terjemahan Juz ‘Amma, Jakarta: Kiblat

Djojosuroto, Kinayati dan M.L.A. Sumaryati, Prinsip-prinsip dalam Penelitian Bahasa dan Sastra, cet. 2, Bandung: Penerbit Nuansa, 2004

Dubbs, Patrick J., dan Daniel D Whitney, Cultural Context, Making anthropology Personal, London: Allyn & Bacon Inc, 1938

al-Dzahabî, Muhammad Husein, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, juz I, T.tp.: Mus’ab bin ‘Umair: 2004

Eagleton, Terry, Literary Theory: An Introduction, Massachusetts: Blackwell Publishers, 1996

Esack, Farid, Qur’an Liberation and Pluralism: An Islamic Perspektif of Interreligious Solidarity Againts Opression, Oxford: Oneworld, 1997

---,Contemporary Religious Thought in South Africa and The Emergence of Qur’anic Hereneutical Nations, ICMR, Vol. 2, No. 2, Desember: 1991 Esten, Mursal, Kesusastraan Pengantar Teori dan Sejarah, cet. V, Bandung:

Angkasa, 1990

Fanani , Zainuddin, Telaah Sastra, cet. II, Surakarta: Muhamadiyyah University Press, 2001

al-Farmawî, ‘Abd al-Hayy, al-Bidâyat fî al-Tafsîr al-Maudu’î, Mesir: al-Hadârah al-‘Arabiyyah, 1977

Faudah, Mahmud Basuni, Tafsir-tafsir al-Qur’ân: Perkenalahn dengan Metodologi Tafsir (al-Tafsîr wa Manâhijuh), terj. Mochtar Zoerni dan Abdul Qadir Hamid, Bandung: Penerbit Pustaka, 1987

Federspiel, Howard M., Kajian al-Quran di Indonesia, terj. Tajul Arifin, Bandung: Mizan, 1996

Goldziher, Ignaz, Madzâhib al-Tafsîr al-Islâmi, terj. ‘Abd Halîm al-Najjâr, Kairo: Maktabat al-Khanijî, 1955

Gunawan, Hendra, M. Natsir dan Darul Islam, Studi Kasus Aceh dan Sulawesi Selatan Tahun 1953-1958, Media Dakwah: Jakarta, 2000

Gusmian, Ishlah, Khazanah Tafsir Indonesia; Dari Hermeneutika hingga Idiologi,

Jakarta: Teraju, 2003

Hamzah, Muchatab, Studi Al-Qur’an Komprehensif, Yogyakarta: Gama Media. 2003

Haryono, M. Yudhie R., Bahasa Politik al-Quran, Bekasi: Gugus Press, 2002 Hassan, Ahmad, al-Furqan: Tafsir al-Qur’an, Jakarta: Dewan Dakwah

Islamiyyah, 1956

Hasyimi, Ali, Hikayat Prang Sabi Menjiwai Perang Aceh Melawan Belanda,

Banda Aceh: Firma Pustaka Farabi, 1971

---,Mau Kemana Bahasa dan Sastra Aceh yang Dahulu Pernah Menyatu dengan Dakwah Islamiah, Makalah Dewan Kesenian Aceh, 1985

Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang: 1976

---,Sumbangan Kesusastraan Aceh dalam Pembinaan Kesusastraan Indonesia,

Jakarta: Bulan Bintang, 1977

Hoed, Benny Hoedoro, Penerjemahan dan Kebudayaan, Bandung: Pustaka Jaya, 2006

Hornby, Mary Snell, Translation Studies: An Integrated Approach, Amsterdam: John Benjamin Publishing Company, 1998

Ibnu Katsîr, Abû Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhim, cet. 1,Kairo: Isa Babi al-Halabi

Ibnu Nurdin, M. Hermawan, Kiprah dan Jejak Politik Masyhumi, Majalah SAKSI, Edisi Oktober, 2005

Ibrahim, Muhammad Ismail, Mu’jam al-Alfazh wa al-A’lam al-Qur’aniyah,

Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabiy, t.th.

Ichwan, Moch Nur, Literatur Tafsir al-Qur’an Melayu-Jawi Indonesia: Relasi Kuasa, Pergeseran dan Kematian, dalam Visi Islam Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, Volume 1, Nomor 1, Januari: 2002

Ihromi, TO., (ed), pokok-pokok antropologi Budaya, Cet. 7, Jakarta: PT Gramedia 1994

Iswanto, Penelitian Sastra dalam perspektif Strukturalisme Genetik, dalam

Metodologi Penelitian Sastra, ed. Jabrohim, Yogyakarta: PT. Hanindita, 2001

Iyazî, Muhammad ‘Alî, al-Mufassirûn; Hayâtuhum wa Manâhajuhum, Teheran: Muassasah al-Tibâ’at wa al-Nasyr al-Saqafâh al-Irsyâd al-Islâmi, 1414 H Izutsu, Toshihiko, Ethico Religious Concept in the Qur’an, Montreal: Mc Gill

University Press

---, God and Man in the Koran: a Semantical Analysis of the Koranic Weltanschaung Tokyo: Keio University Press, 1964

Jacobi, AK., Aceh Daerah Modal, Jakarta: Pelita Persatuan, 1992

Jansen, J.J.G., The Interpretation of the Qur’an in Modern Egypt, Leiden: E.J. Brill, 1974

al-Jârim, ‘Ali dan Mustafâ Amîn, al-Balâghah al-Wâdihah. Terj. Mujiyo Nurkholis, dkk. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1993

---al-Balâghah al-Wâdihah, cet. 13,Cairo: Dâr al-Ma‘ârif

Jassin, HB, (ed.), Kontroversi al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia, Jakarta: Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, 2000

---,al-Qur’an al Karim Bacaan Mulia, (Jakarta: Djambatan, 1991) cet. 3. ---,Kontroversi al-Qur’an Berwajah Puisi, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti,

1995

Johns, Anthony, ” The Qur’ân in the Malay World: Reflection on ‘Abd Rauf al-Singkili (1615-1693)”, Journal of Islamic Studies, Volume 9, Nomor 2, 1998

Junus, Mahmud, Tafsir Quran Karim, Djakarta: Al-Hidajah, 1971

Jusuf, Mahjiddin, Al-Qur’ân al-Karim Terjemah Bebas Bersajak dalam Bahasa Aceh, Banda Aceh: Pusat penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI) Aceh, 2007

al-Juwainî, Mustafâ al-Shâwî, Manâhîj fi al-Tafsîr, Iskandariyyah: Mansya’at al-Ma’ârif, t.th.

Kartodirjo, Sartono Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993

Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007 Khalafallah, Muhammad Ahmad, al-Fann al-Qasas fî al-Qur’ân al-Karîm, Kairo:

Maktabah al-Mishriyyah, 1950-1951

al-Khûlî, Amîn, Manâhij al Tajdîd fî al Nahw wa al Balâghah wa al Tafsîr wa al- Adâb, Kairo: Dâr al Ma’rifah, 1976

---,Metode Tafsir Kesusastraan atas al-Qur’ân, Terj. Ruslani, Yogyakarta: Bina Media, 2005

al-Khursyid, Ibrahim Zaki, al-Tarjamah wa Musykilatuha, Mesir: Dâr al Kutûb, 1985

Kountour, Romy, Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, Jakarta:

Dalam dokumen Bilmauidhah Puitisasi Terjemahan Al Qur'an.bak (Halaman 160-178)