• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rumusan Masalah

Dalam dokumen CINTA KASIH SEBAGAI BASIS PERKAWINAN: (Halaman 28-0)

BAB I. PENDAHULUAN

1.3. Rumusan Masalah

Dewasa ini permasalahan perkawinan dan keluarga sudah sangat sering dibicarakan. Masalah kesetiaan perkawinan, kecemburuan, kekerasan hingga perceraian terjadi dalam lingkup keluarga inti. Cinta kasih antara suami-isteri mulai luntur dan turut berimbas pada kehidupan keluarga termasuk anak-anak.

Perkawinan yang seharusnya didasari oleh cinta kasih mulai terkikis. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat berkembangnya cinta kasih serta memiliki tugas untuk memupuk dan mewartakan cinta kasih mengalami berbagai tantangan.

Maka rumusan masalahnya adalah:

1. Apa itu cinta kasih dan mengapa cinta kasih penting dalam perkawinan dan hidup berkeluarga?

2. Apa yang diajarkan oleh Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia berkaitan dengan cinta kasih?

3. Apa persamaan dan perbedaan dari ajaran cinta kasih dalam Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia?

11 1.4. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:

1. Menggali makna cinta kasih perkawinan dan keluarga serta menegaskan akan pentingnya cinta kasih dalam hidup perkawinan dalam keluarga Kristiani dengan menguraikan ajaran cinta kasih dalam Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia.

2. Melihat persamaan serta perbedaan dari ajaran cinta kasih yang terdapat dalam Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia

3. Tulisan ini juga bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister pada program Pasca Sarjana Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

1.5. Metodologi Penulisan

Penulis menggunakan studi kepustakaan dari berbagai macam sumber bacaan yang berkaitan dengan cinta kasih, keluarga dan perkawinan Katolik.

Sumber utama dari tesis ini adalah Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio (1981) dan Anjuran Apostolik Paus Fransiskus, Amoris Laetitia (2016). Metode yang penulis gunakan adalah dengan metode studi komparasi atau perbandingan antara kedua anjuran Apostolik tersebut.

Apa itu studi komparasi? Studi komparasi atau perbandingan adalah suatu metodologi dari dua atau lebih konsep yang memiliki hubungan logis. Tanpa adanya hubungan logis antarkonsep, tidak mungkin dapat membandingkannya.

Dalam tesis ini konsep yang ingin dikaji adalah konsep cinta kasih dalam

12

kaitannya dengan keluarga. Tugas pertama dari metode perbandingan ialah mengobservasi persamaan dan perbedaan. Kemudian tugas kedua ialah menanyakan mengapa terdapat persamaan ataupun perbedaan itu. Dan tugas ketiga ialah apa konsekuensi perbedaan yang di observasi itu.23

Maka studi komparasi Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia ini untuk melihat persamaan dan perbedaan mengenai ajaran Gereja secara khusus tentang cinta kasih dalam kaitannya dengan hidup perkawinan dan keluarga. Kemudian setelah melihat persamaan dan perbedaan, penulis mencoba merumuskan konsekuensi dari persamaan atau perbedaan tersebut. Lalu di bagian akhir, penulis member refleksi teologis, sumbangan Familiaris Consortio dan Amoris Laetitia serta catatan kritis.

BAB II

23 Bagong Suyanto dan Sutinah (Ed), Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan, (Jakarta: Penerbit Kencana, 2005), 267.

13

CINTA KASIH DALAM PERKAWINAN

2.1. Antropologi Perkawinan

Hidup berkeluarga atau hidup perkawinan pertama-tama merupakan realitas sosial dan antropologis. Hidup berkeluarga terjadi dan berlangsung pada semua komunitas masyarakat pada segala bangsa dan budaya. Setiap komunitas masyarakat atau suku bangsa menerima dan mengakui keberadaan perkawinan atau hidup berkeluarga serta mengenakan padanya seperangkat norma, aturan atau hukum. Dengan demikian perkawinan bukanlah lagi sekedar urusan seorang pria dan wanita, tetapi urusan bersama komunitas masyarakat. Dengan kata lain, pada setiap komunitas masyarakat, perkawinan atau keluarga dilembagakan dan karenanya diakui sebagai suatu lembaga.

2.1.1. Pengertian Perkawinan secara umum

Secara umum perkawinan ialah hubungan yang kurang lebih mantap dan stabil antara pria dan wanita, justru sebagai pria dan wanita, jadi hubungan seksual yang oleh masyarakat yang bersangkutan sedikit banyak diatur, diakui,

14

dilegalisasikan.24 Dalam setiap masyarakat adat, perkawinan yang diterima pada umumnya adalah antara pria dan wanita, dengan demikian tidak ditolerir perkawinan sejenis. Dan hanya melalui perkawinan, pria dan wanita memperoleh status baru dalam masyarakat itu. Maka upacara peresmian perkawinan merupakan suatu upacara inisiasi ke dalam suatu status dan peranan sosial yang baru.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perkawinan di definisikan sebagai perihal (urusan dan sebagainya) atau perkawinan yang sungguh-sungguh dilakukan sesuai dengan cita-cita hidup berumah tangga yang bahagia.25 Sedangkan kata dasarnya sendiri yakni kawin yang berarti membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau beristri. Definisi lain yakni melakukan hubungan seksual atau bersetubuh.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa perkawinan selalu terkait dengan keluarga, antara pria dan wanita dan terjadi hubungan seksual yang sah26 serta memiliki cita-cita hidup berumah tangga yang bahagia. Setiap perkawinan antara pria dan wanita dalam membentuk rumah tangga atau membangun keluarga tentu memiliki cita-cita yang sama yakni kebahagiaan.

2.1.2. Dasar Perkawinan

24 C. Groenen OFM, Perkawinan Sakramental: Antropologi dan Sejarah Teologi, Sistematik, Spiritualitas, Pastoral, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993), 19.

25 Bdk. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan-Balai Pustaka, Jakarta, 1988.

26 Hubungan seksual pria dan wanita yang tidak dalam perkawinan sah dan tidak diakui secara sosial sebagai perkawinan disebut “konkubinat”.

15

Perkawinan adalah persekutuan hidup antar manusia, pria dan wanita.

Karena itu perkawinan atau hidup berkeluarga itu khas manusia sebagai bagian integral dari keberadaannya sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial.

Perkawinan merupakan peristiwa manusiawi dan berlangsung sepanjang sejarah peradaban manusia. Antropologi budaya sosial melihat bahwa masyarakat menciptakan lembaga perkawinan terutama atas dasar dua pertimbangan berikut:27

 Institusional

Lembaga perkawinan mesti menjamin penerusan teratur seorang individu (biasanya laki-laki) sebagai anggota kelompok tertentu bersama kekayaan ekonomis dan kedudukan serta peranannya dalam masyarakat. Dalam dimensi institusional yang digaris-bawahi adalah segi sosial perkawinan dan seksualitas.

Perkawinan tidak hanya berkenaan dengan mereka yang kawin, tetapi juga dengan masyarakat (famili, marga, dan sebagainya) yang menjadi anggotanya.

 Personal

Sementara dalam segi personal menggaris-bawahi hal yang menyangkut subyeknya yakni mereka yang kawin dan seksualitasnya. Dalam pendekatan personal berperan apa yang dikatakan cinta (eros, amor) yang kemudian menjadi dasar perkawinan. Subyeknya yakni antara pria dan wanita yang saling mencintai.

Alasan inilah yang paling mendasar untuk menikah dimana pria dan wanita saling menyerahkan diri seutuhnya satu sama lain. Cinta tersebut kemudian disatukan/

27 C. Groenen OFM, Perkawinan Sakramental: Antropologi dan Sejarah Teologi, Sistematik, Spiritualitas, Pastoral, 28.

16

dilembagakan lewat ikatan perkawinan yang sah dan pemberian cinta diungkapkan secara khas dalam hubungan seksual.

2.2 Dasar Biblis Perkawinan

Dalam Kitab Suci dapat ditemukan teks-teks yang mendasari lembaga perkawinan baik dalam Kitab Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

2.2.1 Perkawinan dalam Perjanjian Lama 2.2.1.1. Perkawinan sebagai Panggilan Ilahi

Dalam Perjanjian Lama, pertama-tama dasar Allah mencipta yakni karena cinta. Allah yang menciptakan manusia karena cinta juga memanggil manusia untuk mencinta.28 Hal ini pertama-tama nampak dalam kisah penciptaan manusia.

Dalam Kejadian dikatakan Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya (Kej 1:27). Maka jika Allah adalah cinta (bdk. 1 Yoh 4:8,16), cinta pria dan wanita pun merupakan perwujudan dari hakekat kodrati manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu pria dan wanita diberkati oleh Allah agar berbuah dan menjadikan mereka mampu menguasai dunia: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan diatas segala binatang merayap di bumi” (Kej 1:29). Dengan kata lain panggilan untuk

28 P.D. Widharsana Pr, Menghayati Sakramen Perkawinan, 1.

17

mencintai sudah tertanam dalam hati manusia. Salah satu perwujudannya adalah cinta pria dan wanita dalam ikatan perkawinan.

Cinta pria dan wanita merupakan panggilan ilahi ditegaskan lebih lanjut dalam kisah penciptaan kedua (Kej 2:18-25). Pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Tuhan Allah memberikan manusia seorang penolong yang sepadan (Bdk Kej 2:18). Dan lebih lanjut seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga menjadi satu daging (Bdk Kej 2:24). Dengan ini ditegaskan bahwa cinta pria dan wanita yang tak terpisahkan dalam hidup mereka sebagai suami-isteri merupakan

“panggilan” Allah sejak awal mula dunia agar mereka saling melengkapi dan menyempurnakan.29

Realisasi keserupaan itu terutama dan pertama-tama terwujud dalam kasih (cinta kasih) karena Allah sendiri adalah kasih (1 Yoh.4:16). Jika seluruh eksistensi manusia bersumber pada Allah maka kasih merupakan dimensi esensial bagi hidup dan keberadaan manusia, mengingat manusia adalah “gambar dan rupa Allah”. Redemptor Hominis menegaskan hal itu: “Manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Tanpa cinta manusia tidak dapat memahami dirinya dan hidupnya akan kehilangan makna”30. Karena keserupaannya dengan Allah Pencipta maka mewujudkan kasih merupakan mandat dan panggilan dasar serta inheren pada

29 Ibid., 2.

30 Redemptor Hominis, art. 10.

18

setiap manusia yang mengalir dari dan bersumber pada keberadaannya sebagai

“gambar dan rupa Allah”31.

Karena panggilan untuk mengasihi itu termasuk dimensi fundamental dan integral dari keberadaan manusia, maka manusia tidak dapat tidak membentuk persekutuan dalam kasih. Mencintai atau mengasihi merupakan tindakan khas manusia, yang menghubungkan dan mempersatukan manusia atau pribadi-pribadi satu sama lain. Kekhasan manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan lain terletak dalam keserupaannya dengan Allah (gambar dan rupa) dan dalam hal mencinta. Martabat pribadi manusia terungkap dan terpenuhi dalam relasi cinta-kasih di mana tidak ada manipulasi serta eksploitasi yang memperalat partner cinta/sesama yang dicintai.

2.2.1.2. Perkawinan di bawah Pengaruh Dosa

Akibat dosa masuk dalam hidup manusia telah mengaburkan hakekat manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Manusia menjadi rapuh dan lemah.

Kemampuan dan kecenderungannya untuk mencintai orang lain dibayangi oleh kemampuan dan kecenderungan untuk mencintai diri sendiri. Oleh karena itu hubungan pria dan wanita ini sejak semula sudah terancam oleh keretakan,

31 “Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri: dengan memanggil manusia menjadi ada melalui cinta kasih, Ia sekaligus memanggil manusia untuk cinta kasih. Allah adalah cinta kasih dan di dalam diri-Nya Ia menghayati misteri persatuan pribadi yang penuh kasih. Dengan menciptakan manusia menurut citra-Nya sendiri dan dengan senantiasa melangsungkan adanya, Allah menuliskan dalam manusia pria dan manusia wanita panggilan, dan dengan demikian kemampuan dan tanggungjawab, untuk mengasihi dan bersatu. Maka dari itu, cinta kasih merupakan panggilan yang asasi danada sejak lahir pada setiap manusia”, Surat Apostolik Familiaris Consortio, Yohanes Paulus II, 1981, No.11.

19

semangat untuk saling menguasai/ mendominasi, ketidaksetiaan, kecemburuan dan macam-macam perselisihan yang menjurus pada kebencian dan perpecahan.32

Dalam ajaran iman Katolik, kecenderungan tersebut merupakan akibat dari masuknya dosa dalam hidup manusia. Retaknya hubungan manusia dengan Allah (dosa pertama) mengakibatkan retaknya hubungan kodrati pria dan wanita.

Hubungan mereka dikaburkan oleh sikap saling menyalahkan (Kej 3:12), demikian halnya ketertarikan mereka satu sama lain yang merupakan anugerah ilahi (Kej 2:22) dikaburkan oleh kecenderungan mereka untuk saling menguasai dan memuaskan nafsu (Kej 3:16), kesatuan kerja yang dipercayakan Tuhan kepada mereka hancur dan terpecah belah (Kej 3:16-19).

Untuk menyembuhkan itu, pria dan wanita membutuhkan bantuan dan rahmat Allah. Tanpa bantuan ilahi ini, pria dan wanita tidak dapat mewujudkan kesatuan hidup mereka yang telah diciptakan sejak semula. Itulah sebabnya sejak kejatuhan manusia yang pertama itu, Allah telah menjanjikan penebusan bagi manusia. Janji itu adalah “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya… (Bdk Kej 3:15). Dari pernyataan ini jelas bahwa berkat perkawinan yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia tidak hangus oleh dosa. Justru lewat perkawinan itulah orang belajar menjauhkan diri dari egoisme dan membuka hati bagi kepentingan orang lain.33

32 P.D. Widharsana Pr, Menghayati Sakramen Perkawinan, 7.

33 Ibid., 2.

20

Maka dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama sangat menjunjung martabat perkawinan. Kitab Ruth dan Tobit misalnya memberikan kesaksian mengenai martabat luhur perkawinan dengan menunjuk pada kesetiaan dan kelembutan cinta suami-isteri. Lebih jelas lagi dalam tulisan para nabi yang melihat perjanjian nikah suami-isteri merupakan tipologi dalam perjanjian Allah dengan Israel.

Ketidaksetiaan Israel disebut sebagai “perzinahan” terhadap Yahwe yang selalu setia (Yer 31:3).34

Sedangkan Kidung Agung merupakan kidung cinta manusiawi dalam dimensi keagamaan. Cinta itulah yang harus menjadi landasan kesatuan suami-isteri (dua kekasih) dalam perkawinan; perkawinan lantas menjadi medium untuk menyempurnakan cinta dan menggembirakan/membahagiakan keduanya.

Kesatuan cinta pria dan wanita menjadi simbol kesatuan Allah dengan Israel; sebagaimana Israel adalah milik Allah dan Allah adalah milik Israel, demikian juga suami dan isteri saling memiliki, tanpa saling memanipulasi karena kesatuan itu dilandasi kasih timbal balik.

Perkawinan menurut Kidung Agung merupakan kesatuan pria-wanita atas dasar kasih timbal balik, saling memiliki dan menggembirakan atau membahagiakan keduanya, karena dalam perkawinan itulah kesatuan cinta mereka menjadi sempurna.

34 Ibid., 3.

21 2.2.2 Perkawinan dalam Perjanjian Baru

2.2.2.1. Ajaran Yesus tentang Perkawinan

Ajaran Yesus tentang perkawinan paling jelas diungkapkan dalam sikapnya terhadap perceraian (Mrk 10:1-12; Mat 19:1-12).

Dalam perikop itu dikisahkan Yesus dihadapkan pada pertanyaan orang-orang Farisi yang mencobainya yakni apakah seorang-orang suami diperbolehkan menceraikan isterinya. Bila Yesus menjawab “boleh”, Ia bisa dituduh sebagai pengajar yang menganjurkan perceraian; namun bila Ia menjawab “tidak boleh”, Ia bisa dituduh melanggar hukum Taurat Musa (Bdk. Ul 24:1-4). Oleh karena itu jawaban Yesus bukan “boleh” atau “tidak boleh”, melainkan Yesus mengajak para pendengarnya untuk kembali kepada kehendak Allah sejak semula.35

Tentu Yesus juga melihat kelemahan manusia akibat dosa, sehingga nampaknya mustahil memenuhi kehendak itu. Akan tetapi kehadiranNya di tengah-tengah manusia memberikan jaminan akan terwujudnya manusia baru yang mendapatkan kekuatan baru untuk melaksanakan kembali kehendak Allah sejak semula itu. Dengan demikian perintah Yesus yang melarang perceraian itu dimengerti sebagai ungkapan Perjanjian Baru yang memungkinkan untuk mewujudkan makna terdalam dalam tata penciptaan dan penebusan, yang didasarkan pada cinta dan kesetiaan.36

35 Ibid., 4.

36 Ibid.

22

Perkawinan adalah lembaga yang ditetapkan Pencipta demi kebaikan manusia seperti halnya Sabath ditetapkan demi manusia dan bukan sebaliknya.

Larangan perceraian yang dikemukakan Yesus sejalan dengan kehendak Pencipta;

tidak dimaksudkan sebagai penentuan kebenaran hukum, sipil maupun gerejani.

Larangan perceraian adalah terutama melindungi wanita, yang tidak punya kekuatan hukum; perlindungan itu melampaui institusi legal, yang akhirnya memberikan kepada wanita hak menikah lagi. Jika larangan perceraian aslinya hanya tertuju kepada suami, maka Yesus berpihak pada isteri, yang tidak punya perlindungan hukum. Penafsiran Yesus yang ketat atas perkawinan kembali merupakan pernyataan yang melindungi wanita, yang tidak terlindungi dalam hukum perkawinan Yahudi.

2.2.2.2. Tulisan Paulus

Paulus menjabarkan lebih lanjut apa yang telah diajarkan Yesus itu.

Perkawinan mendapatkan wujud baru “dalam Kristus” lewat pembaptisan. Dalam keluargalah hidup Kristiani diuji, sebab disitulah perilaku pria dan wanita sehari-hari, cinta, kesetiaan, penyerahan diri, dan ketaatan kepada Kristus dibuktikan (Kol 3:18-19; 1 Tim 2:8-15; Tit 2:1-6; 1 Ptr 3:1-7). Penjelasan paling penting mengenai keluarga Kristiani terdapat dalam Surat Paulus kepada jemaat di Efesus.

Disitu digambarkan bahwa perjanjian pria dan wanita dalam perkawinan merupakan perwujudan dari perjanjian antara Kristus dan Gereja.37

37 Ibid., 5.

23

Memang di satu pihak tulisan tersebut menunjuk pada budaya patriarkal yang menempatkan wanita dibawah suami. Akan tetapi di pihak lain dengan jelas ditunjukkan pula pentingnya cinta dan penyerahan diri antara suami-isteri tanpa memperdulikan kedudukan masing-masing (Ef 5;33). Yang paling penting dari tulisan Paulus ini adalah cinta dan kesetiaan suami-isterilah yang merupakan tanda kehadiran cinta dan kesetiaan Kristus terhadap Gereja.

2.3 Ajaran Gereja mengenai Perkawinan

2.3.1 Arti Perkawinan

Dalam Kitab Hukum Kanonik Kanon 1055 yang merupakan kanon doktrinal mengartikan perkawinan sebagai sebuah perjanjian (foedus) antara seorang pria dan seorang wanita untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup.

Definisi ini mempunyai latar belakang pada dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes art 48 yang mengartikan perkawinan sebagai suatu foedus coniugi (perjanjian nikah) dan bukan lagi sebagai sebuah contractus (sebuah kontrak) seperti dalam KHK 1917.38

Pandangan ini mengalami pergeseran dari KHK 1917 yang menekankan institusional menuju pada dimensi personal perkawinan. Itulah sebabnya GS 48

38 Rumusan KHK 1917 memandang perkawinan sebagai suatu institusi yang sangat statis yaitu sebagai sebuah kontrak: persetujuan antara dua atau beberapa orang yang saling mewajibkan diri untuk memberikan, melakukan atau mengikrarkan sesuatu. Perkawinan merupakan kontrak karena memang merupakan persetujuan bilateral antara seorang pria dan seorang wanita.

24

mengesampingkan istilah kontrak dan mengangkat istilah kesepakatan perjanjian atau kesepakatan (foedus) untuk mendefinisikan perkawinan:

“Persekutuan mesra hidup perkawinan dan cinta itu….sudah jauh berakar di dalam janji perkawinan dengan kesepakatan pribadi yang tidak dapat ditarik kembali”.

Sementara arti perkawinan yang dirumuskan Gereja menurut Kitab Suci terutama surat Paulus kepada Efesus adalah perkawinan sebagai sakramen Gereja.

Dengan menyebut perkawinan sebagai sakramen Gereja menunjukkan bahwa perkawinan antara dua orang yang sudah dibaptis menghadirkan hubungan Kristus dengan Gereja, hubungan yang memberikan keselamatan bagi Gereja. Dengan kata lain perjanjian antara kedua mempelai menghadirkan perjanjian baru dan kekal antara Kristus dan Gereja yang ditandai dengan darah Kristus sendiri dan membawa keselamatan Gereja.

Seperti halnya sakramen lainnya, sakramen perkawinan membawa rahmat bagi mereka yang menjalaninya. Ada tiga hal yang bisa disebut sebagai rahmat perkawinan:39

- Pertama, lewat cinta dan kesetiaan mereka, kedua mempelai menghadirkan cinta dan kesetiaan Allah dalam Yesus Kristus

- Kedua, mereka ambil bagian dalam kehidupan ilahi; cinta perkawinan mereka dimasukkan dalam cinta ilahi dan diarahkan serta diperkaya oleh kuasa penebusan Kristus dan karya penyelamatan Gereja. Suami-isteri saling membantu

39 P.D. Widharsana Pr, Menghayati Sakramen Perkawinan, 7.

25

untuk mencapai kesucian dalam hidup perkawinan mereka dan dalam membesarkan anak-anak. Apa yang dilakukan suami-isteri bagi pembangunan keluarga diberkati oleh Kristus sendiri.

- Ketiga, perkawinan Kristiani mengingatkan kita akan perkawinan surgawi (eskatologis) yang merupakan sukacita dan pemenuhan segala sesuatu dalam kasih Tuhan (Mrk 2:19-20; Mat 22:1-14; 25:1-13). Dengan kata lain bila suami-isteri sungguh-sungguh menghayati nilai-nilai sakramen perkawinan diberkati dengan kebahagiaan ilahi.

2.3.2 Tujuan Perkawinan

“…dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta kelahiran dan pendidikan anak”.

Kanon 1055§1 ini dengan sederhana menunjukkan adanya 3 tujuan utama perkawinan yakni kesejateraan suami-isteri, prokreasi, dan pendidikan anak.40 Pada dasarnya hubungan cinta suami-isteri yang diwujudkan dalam hubungan seksual mengarah pada kelahiran anak. Anak tidak datang dari luar sebagai suatu tambahan terhadap cinta suami-isteri, melainkan muncul dari jantungnya cinta isteri. Anak merupakan perwujudan nyata dan pemenuhan cinta suami-isteri. Inilah berkat pertama yang diberikan Allah kepada manusia

“Berkembangbiaklah dan bertambah banyak” (Kej 1:28)

40 Bdk, R. Rubiyatmoko, Hukum Perkawinan Katolik, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2001), 4.

26

Akan tetapi cinta suami-isteri tidak terbatas pada kelahiran, melainkan berlanjut pada pendidikan anak. Orangtua adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka. Dalam arti inilah tugas utama suami-isteri dan keluarga adalah melayani kehidupan. Namun juga perlu disadari bahwa suami-isteri yang tidak dikaruniai anak tidak berarti kehilangan makna perkawinannya. Mereka tetap bisa menghayati hidup secara sungguh-sungguh manusiawi dan kristiani.41

2.3.3 Sifat Hakiki Perkawinan

Kanon 1056: Sifat-sifat hakiki perkawinan ialah monogam dan tak terceraikan, yang dalam perkawinan Kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen.

Yang disebut sifat hakiki ialah sifat-sifat esensial/ pokok yang pasti selalu ada dalam setiap perkawinan, termasuk perkawinan sakramen. Sifat-sifat hakiki yang menjadi ciri khas setiap perkawinan ini adalah monogam (unitas) dan tak terceraikan (indissolubilitas). Yang dimaksud dengan monogam atau unitas adalah bahwa perkawinan hanya sah jika dilaksanakan hanya antara seorang pria dan seorang wanita. Dengan demikian poligami atau poliandri tidak dibenarkan dan tidak diperbolehkan. 42 Kesatuan suami-isteri ini mempunyai akar dalam kodrat pria dan wanita yang saling melengkapi dan dikembangkan lewat saling berbagi seluruh kehidupan mereka.

41 P.D. Widharsana Pr, Menghayati Sakramen Perkawinan, 8.

42 Bdk, R. Rubiyatmoko, Hukum Perkawinan Katolik, 5.

27

Sedangkan yang dimaksudkan dengan “tak terceraikan” atau indissolubilitas adalah bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan secara sah menurut tuntutan hukum, mempunyai akibat tetap dan tidak bisa diceraikan atau diputuskan oleh kuasa manapun kecuali oleh kematian.43 Cinta suami-isteri menuntut kesetiaan sejati dari keduanya, bukan coba-coba atau bersifat sementara.

Yesus sendiri memberi perintah “apa yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia” (Mrk 10:9). Dasar dari kesetiaan seumur hidup ini terletak pada kesetiaan Allah sendiri pada perjanjianNya. Khususnya dalam kesetiaan Kristus yang tak pernah pudar terhadap Gereja. Kesetiaan inilah yang diungkapkan oleh suami-isteri dalam sakramen perkawinan.

2.4. Arti Cinta Kasih

2.4.1. Pengertian umum Cinta Kasih

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta berarti suka sekali atau sayang benar atau sangat terpikat.44 Kata cinta seringkali di definisikan dengan beragam sehingga tidak ada pengertian yang pasti dan seragam. Dalam bahasa Yunani, terdapat lima istilah dalam mendefinisikan cinta yakni eros, philia, agape, storge, dan xenia. Eros diartikan sebagai cinta pada taraf fisik atau seksual; philia diartikan sebagai cinta pada teman, keluarga atau komunitas;

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cinta berarti suka sekali atau sayang benar atau sangat terpikat.44 Kata cinta seringkali di definisikan dengan beragam sehingga tidak ada pengertian yang pasti dan seragam. Dalam bahasa Yunani, terdapat lima istilah dalam mendefinisikan cinta yakni eros, philia, agape, storge, dan xenia. Eros diartikan sebagai cinta pada taraf fisik atau seksual; philia diartikan sebagai cinta pada teman, keluarga atau komunitas;

Dalam dokumen CINTA KASIH SEBAGAI BASIS PERKAWINAN: (Halaman 28-0)