bang dan diharapkan dengan hal tersebut dapat memberikan
income yang baik.
Jika proses mengenal dan mempelajari bahasa dan sastra te- lah dilakukan selama bertahun-tahun seharusnya ada output yang minimal menunjukan minat membaca buku. Akan sangat di- harapkan juga dapat melahirkan karya yang mengagumkan. Da- lam pengajaran sastra ini, terdapat beberapa problematika yang harus segera diatasi oleh para guru bahasa dan sastra di sekolah. Hal ini kita pandang perlu karena problematika pengajaran sastra menyebabkan kurang optimalnya pengajaran sastra di sekolah. Akhirnya, para siswa pun kurang cerdas dalam hal bersastra.
Kita tidak hanya mengharapkan output dalam pembelajaan sastra. Lebih daripada itu, kita menginginkan outcome yang bagus. Se- benarnya ada apa dengan pembelajaran sastra di Indonesia? Di balik pertanyaan tersebut juga masih ada pertanyaan lain yang sangat berkaitan. Bagaimana caranya agar pembelajaran satra da- pat membuahkan hasil yang memuaskan?
Belajar sastra bukan sekedar menghafal seluk-beluknya dan memberi angka pada akhir sesinya. Namun, menyangkut proses untuk mengembangkan kepribadian, emosi, imajinasi, dan kreativitas.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa belajar di waktu muda sama halnya dengan mengukir di atas batu dan belajar di waktu tua seperti mengukir di atas air. Dengan demikian, jelas kesimpulannya bahwa menumbuhkan cinta satra kepada anak harus ditanamkan sejak si anak berusia belia. Ketika memasuki gerbang taman kanak-kanak dan sekolah dasar, anak-anak ber- ada pada masa-masa emas untuk memberikan modal awal dalam proses mempelajari sastra. Akan lebih mudah perjalanan proses belajar satra apabila siswa telah memiliki bekal cinta terhadap objek yang akan mereka geluti. Menurut Huck dkk. (1987: 704-- 707), pembelajaran sastra di sekolah dasar harus memberikan pengalaman pada siswa yang berkonstribusi pada empat tujuan, yakni : (1) mencari kesenangan pada buku (discovering delight in
book), (2) menginterpretasi bacaan sastra (interpreting literature), (3) mengembangkan kesadaran bersastra (literary awarness), dan (4) mengembangkan apresiasi (developing appreciation).
Salah satu tujuan utama pembelajaran sastra ialah memberi kesempatan kepada anak untuk memperoleh pengalaman dari bacaan sastra serta masuk dan terlibat dalam suatu buku. Pembel- ajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan karya sastra. Kegiatan mengapresiasi- kan sastra berkaitan dengan latihan mempertajam perasaan, penalaran, imajinasi, serta kepekaan sosial. Pengembangan ke- mampuan bersastra di sekolah dasar dilakukan dalam berbagai jenis dan bentuk melalui kegiatan membaca, menulis, mende- ngarkan, dan berbicara.
Dari kegiatan membaca sastra diharapkan siswa dapat mem- peroleh pengalaman dari orang lain yang dapat diambil hik- mahnya dan mendapatkan informasi baru dari ide maupun cita- cita penulis yang dituangkan dalam karyanya. Selain itu, siswa dapat mengidentifikasi watak tokoh yang diceritakan dalam suatu karya. Secara langsung maupun tidak langsung karya satra dapat menumbuhkan motivasi pembacanya untuk melakukan suatu tindakan yang positif. Lebih ironis lagi apabila ada per- aturan yang melarang siswanya untuk membaca buku-buku sas- tra seperti novel dengan alasan mengganggu konsentrasi belajar dan buku sastra berisi pelajaran yang kurang baik. Bagaimana kita bisa mengetahui kemampuan kita jika kita dilarang untuk membaca. Apa yang bisa dijadikan tolok ukur? Kegiatan memba- ca selain sebagai tolok ukur juga sebagai sumber wawasan dan gagasan baru. Ide yang muncul setelah kita membaca buku men- jadi modal yang dapat dikembangkan menjadi suatu karya yang imajinatif dan bermutu.
Kegiatan membaca belum dijadikan sumber inspirasi utama. Pengembangan daya imajinasi siswa masih banyak yang digali dari pengalaman pribadi siswa sehingga karya yang siswa hasil- kan belum berkembang karena strategi pembelajaran tidak di-
mulai dari karya-karya yang sudah ada. Mengembangkan ide dari karya yang sudah ada memerlukan daya baca yang lebih banyak sehingga pengalaman intelektual dan pengalaman batin siswa tidak hanya menjelajahi pengalaman dirinya sendiri, tetapi juga menjelajahi pengalaman yang sudah dilalui orang lain.
Diawali dengan kegiatan membaca dapat dilanjutkan de- ngan menulis. Menulis karya satra memang tidak semudah mem- balik telapak tangan, butuh proses dan waktu yang cukup untuk belajar dan mengembangkan potensi. Oleh karena itu, pelajaran bahasa dan satra dapat menjadi tempat berlatih bagi siswa untuk belajar menulis sastra. Puja (2008) mengungkapkan bahwa pela- tihan dapat dilakukan sejak dini adalah membiasakan anak untuk memiliki buku harian, pelatihan mengungkapkan gagasan secara tertulis, dan pencatatan hal-hal penting yang ditemukan. Dengan mengembangkan kebiasaan menulis diharapkan suatu hari kelak dapat memunculkan karya yang eksotis. Akhir-akhir ini telah muncul penulis spektakuler di Indonesia, hal ini harus tetap ber- lanjut ke anak cucu, generasi selanjutnya. Menunjukkan potensi dalam negeri ke luar negeri, hingga dikenal masyarakat dunia. Tujuan umum pembelajaran sastra merupakan bagian dari
tujuan penyelenggaraan pendidikan nasional, yaitu mewujudkan
suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spi- ritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, ma- syarakat, bangsa, dan negara.
Tujuan pembelajaran sastra di sekolah terkait pada tiga tuju- an khusus di bawah ini.
1. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan ke-
mampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
sosial;
2. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memper- luas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta mening- katkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;
3. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Pengajaran sastra membawa siswa pada ranah produktif
dan apresiatif. Sastra adalah sistem tanda karya seni yang ber-
mediakan bahasa. Penciptaan karya sastra merupakan keteram- pilan dan kecerdasan intelektual dan imajinatif. Kaya sastra hadir
untuk dibaca dan dinikmati, dimanfaatkan untuk mengembang-
kan wawasan kehidupan.
Kemajuan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik akan memperkuat pandangan seseorang terhadap orang lain bah- wa orang tersebut adalah orang Indonesia tulen. Tidak cukup dengan kemampuan berbahasa saja, Indonesia, khususnya Yog- yakarta, dikenal oleh warga asing dengan budi pekerti dan sopan santun yang luar biasa. Dengan menggandrungi sastra, lambat laun dapat mempengaruhi jiwa seseorang untuk mengikuti alur cerita yang dibicarakan dalam suatu karya.
Selama ini anggapan bahwa sastra adalah momok yang me- nakutkan sudah menggema di masyarakat. Membaca adalah ke- giatan yang membosankan dan hanya menghabiskan waktu saja. Anggapan itulah yang melatarbelakangi kurang berminatnya siswa terhadap sastra. Sebisa mungkin pendapat tersebut dihi- langkan. Mengingat tujuan pengajaran sastra yang sangat besar, peran seorang guru bahasa di sekolah sangat diharapkan. Mem- berikan lingkungan yang kondusif dan nyaman ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Menjaga komunikasi antara guru dan siswa sehingga siswa merasa dekat dengan guru yang se- dang mendampinginya. Seorang guru bahasa dapat menjadi mo- tivator bagi siswanya untuk selalu berkarya dalam bidang sastra. Menghilangkan mitos-mitos yang selama ini menghantui masya- rakat tentang seluk-beluk sastra.
Selama ini sastra dipandang sebelah mata. Pelajaran sastra kurang penting jika dibandingkan dengan pelajaran MIPA. Sis- wa-siswa memeras keringat hanya untuk mata pelajaran MIPA,
sedangkan memperlakukan sastra hanya sekedar menyapu ha- laman materi ketika akan diadakan ulangan. Jika pola seperti itu terus berlangsung, nasib sastra dapat semakin merana. Apa- bila kita melirik lebih jauh, belajar sastra sama baiknya apabila disandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Selama menge- nyam pembelajaran sastra akan timbul secara perlahan pemben- tukan karakter oleh karya-karya sastra yang dinikmati. Menye- imbangkan otak kanan dan kiri juga dapat dilakukan lewat pem- belajaran sastra.
Jika selama ini proses belajar mengajar hanya dilakukan di dalam ruangan tertutup, tidak dipungkiri siswa akan merasa bosan. Apalagi kondisi ruang kelas kurang dijaga kebersihan dan kerapiannya, akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Suasanya hati siswa akan turut mempenaruhi karya yang sedang digarap. Ketika guru menugasi siswa untuk membuat suatu karya yang bertemakan alam, lingkungan keberadaan saat itu tidak di ruangan terbuka, kemungkinan siswa akan mendapat kendala untuk menjalankan imajinasinya. Selain objek yang mendukung, adakalanya belajar di lingkungan terbuka hanya untuk menda- patkan udara segar yang dapat memperlancar aliran oksigen ke dalam otak sehingga proses berpikir akan lebih mudah. Alternatif tempat untuk belajar selain alam terbuka seperti taman atau pan- tai, ruangan dengan dekorasi yang berbeda dari biasanya dapat mendukung proses belajar. Tempat lain yang dapat menjadi pi- lihan ialah perpustakaan atau museum.
Selain menciptakan ruang belajar yang nyaman, pembel- ajaran sastra juga dapat dilakukan lewat kegiatan di luar jam belajar sekolah, seperti dalam suatu komunitas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Sebagai contoh diadakannya komunitas baca di lingkungan sekolah, ektrakurikuler teater, dan ekstrakuriku- ler lainnya yang mendukung pembelajaran sastra. Guru bahasa juga dapat mengajak siswa ikut dalam organisasi maupun komu- nitas sastra di luar sekolah dengan pengawasan yang kontinyu dan terarah. Dalam wadah seperti kegiatan-kegiatan di atas,
biasanya siswa akan lebih merasa terbuka dan berani untuk ber- ekspresi sesuai minat dan ide yang muncul dari dalam dirinya. Menyelami dunia sastra lebih jauh pasti tidak akan lepas dari pembahasan kebudayaan. Sebagian besar karya sastra di Indonesia mengambil tema sosial-budaya. Indonesia dikenal oleh dunia karena pesona alam dan budayanya. Akan sangat mengharumkan nama bangsa apabila karya anak negeri meng- ambil kebudayaan sendiri sebagai bahan wacana dalam karya yang diciptakan. Tidak perlu mengambil budaya lain. Sesungguh- nya kita mempunyai kebudayaan yang sarat akan nilai filosofi maupun histori. Pemanfaatan objek dalam negeri sebagai ide pembuatan karya akan sangat membantu pemerintah dalam mempromosikan budaya dan pariwisata dalam negeri kepada khalayak ramai. Cara seperti itu juga turut membantu dalam upaya melestarikan budaya kita dari ancaman pengakuan hak milik oleh negara asing, atau hilang karena tidak dikenal oleh generasi penerus bangsa.
Seorang guru sangat diharapkan selalu memberikan sun- tikan semangat kepada siswanya untuk berkarya walaupun ha- silnya belum mendekati layak tampil. Hal tersebut sudah terma- suk langkah dalam proses belajar. Memfasilitasi siswa untuk ber- usaha menciptakan karya kemudian memublikasikannya dalam media cetak dan elektronik. Siswa dapat berekspresi sesuai ide dan bakatnya dan menggoreskannya dalam bentuk puisi, prosa, cerpen, dan bentuk lainnya. Bersama guru bahasa pembimbing- nya siswa dapat dituntun ke arah sastra yang baik dan benar. Dengan niat dan usaha untuk mempertontonkan karya, guru akan memberikan kontribusi kepada siswa untuk selalu berani dan percaya diri untuk membuat suatu karya. Ketika rasa percaya diri telah digenggam oleh siswa, mereka tidak akan sungkan untuk selalu berusaha menciptakan karya. Hal itu akan lebih baik lagi apabila ada pihak yang dapat memberikan acungan jempol atas karya yang diciptakan dengan penghargaan atas kar- yanya. Dengan menjaga dan terus memacu semangat siswa untuk
mempelajari sastra, proses belajar mengajar sastra di sekolah bersama guru bahasanya akan berjalan lancar.
Jadi, menanamkan cinta terhadap sastra harus dimulai sejak usia muda agar siswa nantinya tetap memiliki semangat untuk mempelajari sastra lebih lanjut. Metode pengajaran di sekolah harus mendapat perhatian khusus untuk menghindari kurang optimalnya proses belajar mengajar. Seorang guru pasti akan selalu memberikan semangat kepada siswanya agar selalu berani berkarya. Suatu karya akan sangat menggembirakan apabila ber- temakan keadaan sosial budaya kita. Sisi baik permasalahan yang diangkat dapat dijadikan sebagai contoh untuk orang lain, se- dangkan sisi negatifnya bisa dijadikan komunikasi bersama un- tuk memeperbaikinya. Semakin meningkatnya pembelajaran sas- tra di sekolah diharapkan meningkatkan pula moral pelajar di Indonesia.
Jangan terburu-buru mengibaskan kipas, kita masih membu- tuhkan usaha yang besar untuk memaksimalkan pengajaran sas- tra di sekolah. Sehubungan dengan itu, kita perlu merangkul seluruh pihak demi kelancaran misi kita dan selalu menciptakan lingkungan sastra dalam kehidupan kita agar sastra selalu menge- na dan segera digandrungi masyarakat. Kita juga perlu mening- katkan intensitas dalam berkarya agar kemampuan selalu ter- asah menuju karya yang brilian dan menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bangsa berkarakter dan berbahasa.
BIODATA PENULIS
Deny Astiwi bersekolah di SMA Negeri 1, Wates, Kulon Progo. Deny lahir di Kulonprogo, 29 Desember 1994. Alamat rumah di Ringin Ardi, Karangsari, Pengasih, Kulonprogo, telepon 081904001120
Terdapat sebuah cerita yang lucu, tetapi ironis. Pada suatu siang di sebuah sekolah, seorang guru musik bertanya mengenai gamelan kepada salah satu siswa. Siswa tersebut dengan enteng menjawab, “Daripada kita belajar gamelan, mendingan belajar lagu Korea atau lagu Barat saja, gamelan kan kuno!”. Seluruh siswa di kelas tersebut langsung tertawa dan mengangguk setuju. Mungkin mereka beranggapan bahwa gamelan itu kuno meru- pakan hal yang biasa pada saat ini.
Kita seharusnya merasa prihatin melihat kenyataan terse- but. Sebuah warisan berharga yang merupakan ciri khas serta kebanggaan kita, dengan mudahnya tergantikan oleh musik dari luar dengan instrumen yang serba canggih, tetapi tidak selalu sesuai dengan kepribadian kita yang mengutamakan adat keti- muran. Kesenian gamelan hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian besar remaja, tanpa ada rasa bangga memiliknya. Pada- hal, kesenian tersebut adalah kebudayaan asli yang benar-benar sesuai dengan diri kita.
Memang tidak salah bila para remaja mengikuti perkem- bangan mengenai segala sesuatu yang saat ini mengetren. Bila kita tidak mengikuti perkembangan ini, tentu saja wawasan kita tidak akan bertambah. Akan tetapi, mengikuti tren bukan berarti melupakan kebudayaan sendiri, termasuk gamelan. Saat ini para