• Tidak ada hasil yang ditemukan

URIP Arlina Hapsar

Dalam dokumen MATAHARI SEGITIGA Antologi Esai dan Cerp (Halaman 135-153)

meninggalkanku. Badai sudah terlampau besar untuk kapal ka- yuku yang kian lama kian rapuh. Memang benar kata-kata yang tercucur begitu saja dari bibir merah merekah bak mawar yang sedang mekar itu. Bukan salahnya bila harus meninggalkan sese- orang yang akan membunuhnya secara perlahan.

Ah, dinginnya angin untuk yang kesekian kali menerjang wajahku yang telah kehilangan rupa rupawannya. Alis mataku yang hitam tebal telah rontok, ketiga puluh dua gigi putih rapiku hanya tinggal lima, itupun sudah menguning dan tidak kuat lagi untuk menggigit lezatnya daging. Tubuhku yang perkasa, ah, hanya tinggal tulang-belulang berlapis kulit yang berpenyakit. Sakit jantung kini bersarang di tubuhku setelah prostat meng- angkat kopernya. Puluhan kali sudah aku keluar masuk rumah sakit dan ribuan kali sudah aku meminta belas kasihan tetangga kanan-kiriku, mungkin sebentar lagi akan jadi berlipat-lipat kali. Sebulan lalu dokter bilang bahwa penyakitku sudah semakin akut, dan mereka minta agar aku dioperasi. Bukan main tergeli- tiknya perutku hingga suara tawa kerasku menggema di ruang- an itu. Mana mungkin mereka mau mengoperasiku sedang uang saja aku tak punya. Utang yang menggunung yang belum mampu kuselesaikan sedikit pun sih, ada, tetapi uang sepeser jangan harap aku punya. Menghinaku mereka nampaknya.

Mata melebar menatap deraian air yang kian merenggang. Barisan awan menari-nari riang di hamparan kertas putih yang semakin terang, menggandeng garis-garis warna yang memba- waku memoriku, sekali lagi, pada Sumiyati. Andaikan saja diriku ini dilahirkan bukan untuk menciptakan syair-syair indah musik keroncong, pasti saat ini tak kupakai lagi kaos putih, tipis, com- pang-camping yang melekat di badan kerempengku, pasti telah kutinggalkan gubuk beratap jerami yang lubangnya berhamburan di sana-sini, pastilah tidak budheg lagi kupingku mendengarkan tagihan utangku yang kian membengkak, dan pasti telah kuajak Sumiyati menari-nari di hamparan tanah surgawi yang elok nan memikat. Kenapa harus seorang Urip yang dijatuhi takdir ini?

Berkali-kali kutanyakan hal itu pada Yang Kuasa dalam setiap sujudku, tetapi secercah sinar pun belum kunjung kuraih. Aku bahagia saat aku memejamkan mataku, membuka telinga dan mulutku, dan menari-nari dalam khayalanku. Untaian syair-syair dan nada-nada bersatu, berkolaborasi, berputar-putar di sekitar- ku, membangun sendiri duniaku, membangun sebuah surga ke- nikmatan yang teramat sangat untuk diriku sendiri, hanya un- tukku sendiri tanpa ibu-bapakku, tanpa Sumiyati. Nyatanya di sini, di bumilah diriku sekarang. Akulah manusia manja yang selalu membutuhkan orang lain. Fatamorgana di padang pasir, kenapa hanya sekejap aku dapat menghirup segarnya udaramu. Saat harus bertarung kembali dengan kenyataan yang berdiri menghadang di depan mata, aku ini orang besar yang begitu kecil dan rapuh. Kudengar syairku diperdengarkan pada dunia, syairku berputar dari belahan bumi utara ke selatan, syairku berpesta, negeriku bangga, tetapi diriku hanya bisa tersenyum palsu menerima ribuan kertas dengan namaku terukir cantik di atasnya.

Kubuka lagi lipatan kertas yang kuambil dari saku celanaku. Tawaran yang benar-benar menarik-narik hasratku untuk me- nyanggupinya. Mereka memberiku jalan keluar akan segala masalahku, menjanjikanku sebuah dunia yang benar-benar ber- beda. Dunia yang tiap jiwa menaruh hati padaku, dunia yang tiap kepala menunduk saat menatapku, dan dunia dengan keba- hagiaan yang selalu menghamburiku, dunia yang kunantikan selama ini. Kutarik kedua ujung bibirku ke atas. Air sungai pegu- nungan serasa telah mengaliri lorong-lorong tubuhku yang buntu dan panas.

Uang. Aku sangat membutuhkan uang. Uang bagaikan nya- wa yang jika tak dimiliki, maka raga tak ada gunanya. Tak ada yang bisa kulakukan tanpa uang. Pencipta syairpun butuh makan, butuh minum, butuh pakaian, butuh tempat tinggal yang layak, dan butuh segalanya yang hanya bisa didapatkan dengan uang. Aku sudah tak tahan makan nasi aking, aku sudah tak tahan

tinggal di tempat sempit seperti penjara, dan aku sudah cukup malu mengenakan pakaian yang ini-ini terus. Ah, uang, satu pijak- an lagi akan kudapatkan surga dunia itu. Satu langkah lagi akan kugapai kenikmatan di usiaku yang telah uzur ini.

Seorang pria berpakaian rapi menundukkan kepalanya padaku. Kemudian, dibawanya aku masuk ke dalam sebuah ruang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ruang- ruang di gubuk reyotku. Rasa malu datang menyelubungi diriku. Pakaian tipis yang sudah terdapat beberapa lubang kecil di bebe- rapa titik ini adalah yang terbaik yang kumiliki, sepasang sandal yang sebenarnya putih tetapi telah berubah menjadi coklat ini adalah satu-satunya alas kaki yang ada padaku. Di tengah-tengah ruangan itu, mataku terpaku pada sebuah naskah yang dibingkai dengan apiknya. Bingkai terbaik yang ada di ruangan itu. Ber- lapis emas, dan satu-satunya bingkai yang dilapisi emas. Kukenali tulisan dalam bingkai itu sebagai tulisan tanganku dan kukenali untaian kata yang tertuang dalam kertas putih itu sebagai syair- syair buah tanganku. Bangga sekali diriku, melihat apa yang kukerjakan dinilai setinggi itu. Lambungan hatiku yang tak ter- bendung hampir saja membuka jalan bagi air mataku untuk mengalir, menunjukkan ketidakpercayaan dan keasinganku akan suatu penghargaan yang begitu besar.

“Jadi, apakah jumlah yang kami ajukan ini kurang?” tanya seorang pria bermata sipit sambil mengeluarkan secarik kertas bertuliskan jumlah uang yang nol-nya tidak karuan banyaknya. Tak bisa kubuka mulutku karena rasa haruku yang teramat sangat. Aku akan menjadi kaya raya. Aku akan sanggup membeli apapun yang aku inginkan. Semuanya, semuanya, tanpa terke- cuali. Mungkin, inilah yang disebut jalan Tuhan, mungkin inilah jawaban atas rintihan-rintihanku selama ini. Aku akan segera berganti rupa, bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah dengan sayap-sayap emas yang selalu mengembang di langit nan biru, membagikan kebahagiaan bagi semua insan. Aku akan

bahagia dan inilah yang kunanti selama ini. Aku menatap pria itu lekat-lekat.

“Jadi, artinya saya memberikan semua karya saya ini pada Anda?”

Yang diseberang tersenyum, kemudian mengangguk. Ia membenarkan pernyataanku.

“Anda bukan orang Indonesia, kan?” tanyaku yang masih melongo menatapnya.

“Bukan,” jawabnya dengan mimik wajah cemas.

“Kalau begitu saya merasa seperti seorang pengkhianat,” begitu saja kata-kata dari nurani terdalamku bercucuran ke udara.

Aku tak lagi menatap pria itu. Pena yang kugenggam ikut gemetar bersama kebimbangan diriku. Meterai enam ribu yang tertempel pada secarik kertas yang terhidang di hadapanku se- perti magnet yang menarik-narik tanganku untuk segera menco- rat-coretnya. Sialan! Meskipun rasa hati begitu berat untuk me- nyetujuinya, ragaku seperti kesetanan. Aku ingin semua itu. Aku tak peduli jika disebut pengkhianat, toh, selama ini aku tak di- anggap. Aku telah diperlakukan seperti sampah. Tinggal di tem- pat dua kali tiga meter. Wakil rakyat berpura-pura tak tahu. Dibiarkan menderita sampai aku hampir nekat bunuh diri. Pe- merintah lebih tak peduli lagi.

“Kami rasa bila anda setuju dengan saran kami ini, anda akan bisa memproduksi syair-syair indah lagi. Belakangan ini sepertinya anda mulai vakum.”

Kata-kata itu tak mampu kusahut. Rasanya aku baru saja terbangun dari tidur panjangku. Ya, aku telah jarang menelurkan kembali syair-syairku lima tahun belakangan ini. Pekerjaanku sebagai petani lebih kuutamakan. Setidaknya, hasil dari bertani lebih bisa mencukupi dari hasil mencipta lagu. Apalagi jaman sekarang, ah, generasi muda Indonesia mana yang mau tahu dengan karyaku? Menyukai musik keroncong membuat mereka

dihina, dikatai ketinggalan jaman, kuno, ndeso, dan hujatan-hu- jatan menyakitkan lainnya.

“Memang uang bukan segalanya, tetapi segalanya membu- tuhkan uang,” sambungnya kemudian.

Aku tersenyum, membenarkan pernyataannya. Bau wewa- ngian surga tiba-tiba menghampiri hidungku, menyusuri tero- wongan-terowongan gelap pernafasanku dengan cekatan. Bau- nya seperti bunga mawar di pagi hari yang basah karena embun. Sungguh menyejukkan jiwa di kala hati tengah risau. Tidak akan kulepas lagi wewangian ini. Inilah milikku, inilah kekayaanku yang seharusnya dapat terus kugenggam untuk mencapai keba- hagiaan duniawi, tetapi ada perasaan yang memberatkanku, na- sionalismeku. Aku berada dalam dilema. Aku rasa saat ini di dalam jiwaku ada dua kubu yang tengah bergejolak, “iya” dan “tidak”. Aku tidak tahu harus condong ke yang mana. Terkadang aku merasa “ya”, tetapi kemudian aku merasa “tidak”.

Aku meminta izin kepada Tuan Nakamoto untuk berpikir sejenak. Setelah ia mengizinkan, berjalanlah aku ke sudut ruang yang jendelanya besar. Aku duduk di kursi kayu di depan jen- dela itu. Pepohonan yang begitu rindang menyegarkan mata. Daun-daun melambai-lambai dihempas angin sepoi-sepoi. Di ujung sana kulihat Sumiyati yang tengah duduk di teras rumah berkebaya coklat sambil bersenandung indah, menantiku, seperti saat ia masih bersamaku.

“Aku harus bagaimana, Sum? Utangku banyak, tetapi aku tidak bisa memberikan naskah ini kepada orang lain,” bisikku pada Sumiyati yang tersenyum manis di seberang sana.

Di kantong bajuku kulihat segelintir pil yang seharusnya telah kuminum lima jam yang lalu. Aku sudah tidak selera lagi meminum pil yang rasanya luar biasa pahit itu. Dan lagi, untuk apa lagi pil itu? Untuk memperpanjang rasa sakitku, kah? Aku menghembuskan nafasku agak kencang sekadar untuk meringan- kan gejolak di dada yang kian menyakitkan. Sumiyati masih di sana, di teras rumah kami, ia menatapku dengan matanya yang

sayu. Bibirnya yang tipis terkatup. Tak diberinya aku sepatah katapun yang bisa membebaskanku dari dilema ini.

“Apa kau mau aku menandatanganinya?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca.

Sumiyati menundukkan kepalanya. Matanya menatap ke sudut kiri. Ia tengah menimbang sesuatu. Sesuatu yang berat karena matanya sempat terpejam beberapa saat. Kemudian, ia kembali lagi menatapku. Kini ia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca dan dengan jemari lentik yang menutupi bibir tipisnya. Air mata Sumiyati mengalir membasahi parasnya yang ayu. Kebingungan semakin terasa di dalam diriku. Sumiyati tidak setuju. Ia keberatan, tetapi diriku tak mampu sepenuhnya me- nuruti jawaban itu. Tangis Sumiyati terdengar semakin keras. Ia tak ingin lagi menatapku. Kekecewaan membuatnya berdiri dari duduknya, dan ia bergegas meninggalkanku.

“Sum, bawa saja aku bersamamu,” kataku ketika sosok Sumiyati kian menghilang, pergi menjauh bersama detakan jan- tungku.

***

BIODATA PENULIS

Arlina Hapsari lahir di 20 April 1993. Arlina kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UGM, Jalan Sosio Humaniora, Sleman, Yogyakarta. Alamat rumah di Jalan Ring-Road Utara No. 10 Gandok RT/RW 002/055, Condong- Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta, telepon 085640635505

Saya adalah seorang pengusaha sukses dan terkenal di ne- geri ini. Saya berharap anak saya satu-satunya akan menjadi penerus usaha saya. Akan Tetapi anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya tidak setuju dengan cita- citanya. Kami berdua tahu macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh melangkah, kami cepat-cepat mengajak berdiskusi dengan anak saya, Taksu.

“Kami dengar selentingan, kamu mau menjadi guru, Taksu. Betulkah?”

“Betul, Pak.”

“Gila, masak kamu mau jadi guru.” “Iya. Memang.”

Saya dan istri saya saling berpandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya dengan apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami menatap tajam mata Taksu yang nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui nasib menjadi seorang guru. Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut kalau kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu pergi begitu saja. Saya mulai bicara terus terang.

GURU

“Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali ini saja. Setelah itu terserah kamu. Menjadi guru itu bukan cita- cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Ini era milenium ketiga diwarnai dengan globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru itu asal tidak menganggur saja. Ngerti kamu. Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan mengambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri. Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu.”

“Tetapi saya mau jadi guru.”

“Kenapa? Apa nggak ada pekerjaaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa. Guru itu hanya hidupnya pas-pasan. Tugas seabrek-abrek, Tetapi gajinya sedikit. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar, tetapi dari bertani. Profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru. Itu cita-cita sepele banget, itu namanya meng- hina orang tua. Masak kamu tidak tahu. Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dolar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali, padahal kamu masih muda, otak kamu encer dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!”

“Sudah saya pikir masak-masak.”

Saya terkejut dan seakan suara saya tersedak di tenggo- rokan mendengar nada suara Taksu yang dingin dan tenang.

“Pikirkan sekali lagi. Bapak kasih waktu satu bulan!” Taksu menggeleng.

“Dikasih waktu satu bulan pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru.”

“Tidak. Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!”

Saya pun meninggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Saya yang dijadikan bulan-bulanan. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.

“Kau terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!”

Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi ma- can, berhadapan dengan istri, hancur.

Bukan hanya satu bulan, Tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kostnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa lap- top baru yang paling canggih sebagai kejutan.

Taksu senang sekali. Tetapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.

“Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak,” jawab Taksu sama sekali tanpa rasa berdosa.

Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Lang- sung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.

“Taksu! Kamu jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh sanjungan orang-orang pada guru itu, ya!” damprat istri saya, “mereka bilang, guru pahlawan yang berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu hanya bahasa pemerin- tah! Apa kamu pikir betul guru itu bisa memperoleh hasil gaji yang besar. Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang. Ah, menyebalkan.”

Taksu tidak menjawab.

“Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit Tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal,

karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba- lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak tahu?”

Taksu tetap tidak menjawab.

“Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji. Kamu sen- diri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materalistis. Siapa bilang materalistis itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit. Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna. Paham, kamu!”

Taksu mengangguk.

“Paham. Tetapi apa salahnya jadi guru?” jawab Taksu. Istri saya melotot tak percaya apa yang barusan dide- ngarnya.

Akhirnya dia menyembur, “Laptopnya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi. Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!”

Sebenarnya saya mau ikut bicara, tetapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya terus berbicara.

“Sudah waktunya merubahan pola pikir Taksu sebelum ia terjerumus terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu ia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang,

akal bulus. Yang dia kepingin bukan laptop tetapi mobil. Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!”

Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tetapi apa arti- nya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tetapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami dari perasaannya sendiri.

Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tetapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, Tetapi sebaliknya orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.

Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil sebuah mobil baru. Mungkin Taksu ingin punya mobil baru. Kalau memang dia mau mengubah cita- citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.

“Bagaimana Taksu,” kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu, “ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus mem- berikan hadiah buat Bapak.”

Taksu melihat kunci itu dengan dingin. “Hadiah apa, Pak?”

Saya tersenyum.

“Jadi guru. Kan sudah Taksu bilang berkali-kali?”

Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kem- bali.

“Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti! Kamu kami sekolahkan supaya meraih gelar kesarjanaan, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Su-

paya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk mera- wat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita- citalah yang bener. Mbok jadi presiden. Masak cuma guru. Gila. Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehing- ga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak, aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!”

Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depannya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.

“Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. De- ngan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian bapak.“ Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu diatas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.

“Saya ingin jadi guru. Maaf.”

Dalam dokumen MATAHARI SEGITIGA Antologi Esai dan Cerp (Halaman 135-153)