• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI SMK DENGAN KEBUTUHAN DUNIA KERJA

Sunardi, M. Ihwanudin, Ferry Dwi Fitrianto

Mahasiswa Pendidikan Kejuruan, Pascasarjana Universitas Negeri Malang E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan kajian tentang: (1) konsep pembelajaran berbasis proyek; (2) teori belajar yang melandasi pembelajaran berbasis proyek; (3) tahapan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek; dan (4) pembelajaran kompetensi produktif berbasis proyek di SMK. Berdasarkan hasil kajian, maka ditarik kesimpulan: (1) pembelajaran kolaboratif berbasis proyek merupakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan cara membuat karya atau proyek yang terkait dengan dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh siswa. PjBL dapat membantu membekali siswa untuk persiapan memasuki dunia kerja, hal ini dikarenakan siswa belajar bukan hanya secara teori melainkan praktek di lapangan; (2) PjBL merupakan model pembelajaran yang didukung atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik; (3) tahapan pelaksanaan PjBL terdiri dari: (a) penentuan pertanyaan mendasar; (b) mendesain perencanaan proyek; (c) menyusun jadwal; (d) memonitor peserta didik dan kemajuan; (e) menguji hasil; dan (f) mengevaluasi pengalaman; dan (4) PjBL dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep

“Pendidikan Berbasis Kompetensi dan Produksi” yang dikembangkan di SMK. Melalui PjBL peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja. Sehingga dengan demikian model pembelajaran yang tepat untuk SMK pada kompetensi produktif adalah PjBL.

Kata kunci: kolaboratif berbasis proyek, kompetensi produktif, SMK

PENDAHULUAN

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang teknologi dan rekayasa diharapkan dapat mencetak lulusan yang memiliki kompetensi yang sinergis antara hard skill dan soft skill. Untuk mencapai sinergitas keduanya maka dibutuhkan inovasi yang tepat dalam pelaksanaan pembelajarannya. Selain itu, inovasi pembelajaran di SMK juga harus terus dilakukan agar kualitas lulusannya sesuai tuntutan kompetensi yang ditetapkan dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Tantangan penyelenggaraan SMK lebih ditekankan pada proses mengintegrasikan pengetahuan, keterampil-an dan sikap sebagai proses pembentukan kompetensi (Munadi, 2008).

Abad pengetahuan saat ini, menginginkan paradigma belajar yang berorientasi pada proyek, masalah, inquiry, discovery dan penciptaan (Ardhana, 2000). Hal ini berarti memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengarungi seluruh ranah pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotor), serta

141

mengembangkan seluruh kecerdasannya (emosional, spiritual, sosial, dan sebagainya).

Kegiatan pembelajaran yang interaktif diharapkan dapat memberi kesempatan untuk mengembangkan seluruh ranah pembelajaran dan seluruh kecerdasan bagi pencapaian hard skill dan soft skill peserta didik dari setiap kompetensi yang diinginkan. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa agar memiliki kreativitas, pemecahan masalah, dan interaksi serta membantu dalam penyelidikan yang mengarah pada penyelesaian masalah nyata adalah project-based learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek (Thomas, 2000).

PjBL cukup potensial untuk memenuhi tuntutan belajar. Model pembelajaran berbasis proyek membantu siswa dalam belajar: (1) pengetahuan dan keterampilan yang bermakna dibangun melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang otentik; (2) memperluas pengetahuan melalui keautentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open-ended dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh perspektif tertentu; dan (3) dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi kognitif antar personal yang berlangsung di dalam suasana kerja kolaboratif (Sumiran 2009).

PjBL dilakukan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dengan cara membuat karya atau proyek terkait dengan kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh siswa. Menurut Sani (2014), beberapa keutamaan yang diperoleh dengan menerapkan PjBL adalah: (1) melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata yang kompleks dan membuat siswa memahami permasalahan yang harus dicarikan solusinya; (2) melibatkan siswa dalam belajar menerapkan pengetahuan dan keterampilan dengan konteks yang bervariasi; (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja; (4) memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan melatih keterampilan interpersonal dalam kelompok; dan (5) mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman.

142

PjBL bertujuan membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuan pada lingkungan yang berbasis pengetahuan dan teknologi, menyiapkan peserta didik untuk dapat menghadapi tantangan dunia hari ini, dan memecahkan masalah yang kompleks yang memungkinkan peserta didik memiliki kemampuan dasar (Division, 2006). PjBL adalah salah satu model atau pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peningkatan kemampuan analytical and critical thinking siswa, explorative, team work and communication skills menjadi landasan untuk berkembangnya kedua skill tersebut. Skill juga menjadi landasan siswa sebagai long live learners (Widodo, 2015).

PjBL menarik dan penting untuk diterapkan, hal ini ditunjukkan oleh beberapa hasil penelitian. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Koch, Chlosta, & Klandt (dalam Rais, 2010), menunjukkan bahwa 90% peserta didik yang mengikuti proses belajar dengan implementasi project-based learning yakin dan optimis dapat mengimplementasikan project-based learning dalam dunia kerja serta dapat meningkatkan prestasi akademiknya. Selain itu hasil penelitian survei dari Lasonen, Johanna,Vesterinen, & Pirkko (dalam Rais, 2010) menunjukkan 78 % peserta didik mengatakan bahwa pembelajaran yang berbasis project-based learning dapat membantu membekali peserta didik untuk persiapan memasuki dunia kerja, karena peserta didik belajar bukan hanya secara teori melainkan praktek di lapangan.

Model PjBL merupakan suatu model pembelajaran yang menyangkut pemusatan pertanyaan dan masalah yang bermakna, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, proses pencarian berbagai sumber, pemberian kesempatan kepada anggota untuk bekerja secara kolaborasi, dan menutup dengan presentasi produk nyata (Thomas, 2000). Pembelajaran berbasis proyek tidak hanya mengkaji hubungan antara informasi teoritis dan praktek, tetapi juga memotivasi siswa untuk merefleksi apa yang dipelajari dalam pembelajaran dalam sebuah proyek nyata. Siswa dapat bekerja secara nyata, seolah-olah ada di dunia nyata yang dapat menghasilkan produk secara realistis. Dikarenakan hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut seharusnya ditujukkan untuk semua tim.

Domblesky (2009) mengungkapkan bahwa pada PjBL siswa belajar lebih baik dan lebih aktif bertindak dalam pembelajaran. Instruktur bekerja di belakang

143

siswa yang mengerjakan proyek-proyek. Hal tersebut menjadikan siswa aktif menyelesaikan masalah dalam proyek, bukan penerima pasif pengetahuan. Thomas (2000) menyatakan bahwa dampak positif dari pembelajaran berbasis proyek bagi siswa adalah pengembangan sikap positif terhadap proses belajar, rutinitas pekerjaan, kemampuan pemecahan masalah, dan harga diri. Demikian pula Panitz (2000) mencatat bahwa siswa menyelesaikan proyek dan melakukan refleksi proses berdasarkan pengalamannya dalam pembelajaran.

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka tulisan ini bertujuan untuk memaparkan kajian tentang: (1) konsep pembelajaran berbasis proyek; (2) teori belajar yang melandasi pembelajaran berbasis proyek; (3) tahapan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek; dan (4) pembelajaran kompetensi produktif berbasis proyek di SMK.

PEMBAHASAN

Konsep Pembelajaran Berbasis Proyek

PjBL adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. PjBL merupakan pendekatan yang menggunakan masalah sebagai langkah awal mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya (Kemendikbud, 2013).

PjBL adalah model komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar peserta didik melakukan riset terhadap permasalahan nyata (Grant, 2002). PjBL bersifat kontruktivis, juga bersifat multiple intelligence, karena peserta didik menggunakan berbagai intelegensi dalam melakukan proyek yang dilakukan seperti intelegensi matematis-logis, visual, kinestetik, interpersonal, linguistik, lingkungan, dan lain-lain (Yamin, 2004).

Karakteristik PjBL menurut Wena (2012) yaitu: (1) pembelajar membuat kerangka kerja dan keputusan; (2) ada permasalahan dan pemecahan yang belum ditentukan sebelumnya; (3) pembelajar merancang proses untuk menentukan hasil; (4) pembelajar bertanggung jawab dalam mengelola informasi yang didapat;

144

(5) ada evaluasi secara kontinu; (6) pembelajar secara teratur melihat kembali hasil pekerjaannya; dan (7) hasil akhir berupa produk yang diuji kualitasnya.

Model PjBL mendorong peserta didik mengkonstruk pengetahuan dan keterampilan secara personal, dengan adanya peluang untuk menyampaikan ide, mendengarkan ide-ide orang lain, dan mereflesikan ide sendiri pada ide-ide orang lain, maka akan membentuk pengalaman pemberdayaan pengetahuan (meaning making process). Selain itu, peserta didik juga akan mengalami tahap pembelajaran yang disebut sebagai interactive research cycle yang terdiri dari tahap pertanyaan, perencanaan, pengumpulan data, mensintesis pengetahuan, dan evaluasi (Sampurno, 2007).

Menurut Thomas (2000), pembelajaran berbasis proyek memiliki lima karakteristik yang dapat membedakannya dengan model pembelajaran lain, yaitu: (1) centrality, proyek sebagai pusat atau sentral; (2) driving question, project- based learning difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan dengan konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai; (3) conscrutive investigations, proyek harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik dan proyek yang dijalankan harus memberikan keterampilan dan pengetahuan baru bagi peserta didik; 4) autonomy, aktivitas peserta didik sangat penting, peserta didik sebagai pemberi keputusan dan pencari solusi (problem solver); dan (5) realisme, kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya atau dunia nyata.

Sementara itu, menurut Kemendikbud (2013), PjBL memiliki karakteristik, yaitu: (1) peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja; (2) adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik; (3) peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan; (4) peserta didik secara kolaboratif bertanggungjawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan; (5) proses evaluasi dijalankan secara kontinyu; (6) peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan; (7) produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif; dan (8) situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.

Perbedaan model PjBL dengan pendeketan pembelajaran tradisional terlihat dalam beberapa aspek, antara lain: (1) peranan guru dan peserta didik,

145

dalam pembelajaran berbasis proyek peserta didik dan guru bekerja sama, guru berperan sebagai partner atau fasilitator bagi peserta didik; (2) proses pembelajaran berbasis proyek, penekanannya bukan pada aktivitas peserta didik untuk berhasil menyelesaikan tes atau ujian, tetapi menyiapkan peserta didik pada dunia nyata dan memberikan kesempetan peserta didik untuk mengembangkan diri dan pengetahuannya (Waras, 2007:4).

Penggunaan model PjBL dapat memberikan keuntungan, diantaranya: (1) mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata; (2) meningkatkan motivasi peserta didik, dan mendorong kemampuan untuk melakukan pekerjaan penting; (3) menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan dunia nyata; (4) membentuk sikap kerja peserta didik; (5) meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosial; (6) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah; (7) meningkatkan keterampilan peserta didik untuk menggunakan informasi dengan disiplin ilmu yang dimiliki; (8) meningkatkan kepercayaan diri peserta didik; dan (9) meningkatkan kemampuan peserta didik menggunakan teknologi dalam belajar (Railsback, 2002).

Menurut Kemendikbud (2013), penerapan PjBL memiliki beberapa kelebihan, diantaranya adalah: (1) meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan untuk melakukan pekerjaan penting, dan perlu untuk dihargai; (2) meningkatkan kemampuan pemecahan masalah; (3) membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks; (4) meningkatkan kolaborasi; (5) mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi; (6) meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber; (7) memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas; (8) menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata; (9) melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata; dan (10) membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.

146 Teori Belajar yang Melandasi Pembelajaran Berbasis Proyek

Model pembelajaran berbasis proyek adalah salah satu metode yang didasarkan pada konstruktivisme yang mendukung keterlibatan siswa dalam situasi pemecahan masalah (Dopplet, 2003). Siswa terlibat langsung di kehidupan nyata dalam memecahkan masalah, sehingga pengetahuan yang diperoleh lebih permanen. Hal ini sekaligus menjadi jawaban atas kekhawatiran akan kemampuan lulusan, khususnya siswa SMK karena pendidikan teknik yang menonjol adalah keterampilan mekanis, meskipun penting juga menyadari bahwa globalisasi dan perkembangan teknologi memunculkan tuntutan baru jenis keterampilan kerja yang diperlukan.

PjBL merupakan model pembelajaran yang didukung atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang mengacu pada filosofis konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi kognitif melalui suatu aktivitas siswa, sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan bermakna melalui pengalaman yang nyata (Liu, 2007). Pengalaman nyata dan refleksi terhadap pengalaman langsung dari diri sendiri merupakan kunci untuk belajar bermakna pada pembelajaran produktif.

Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif, mengutamakan aktivitas siswa dari pada aktivitas guru, mengenai kegiatan laboratorium/bengkel, pengalaman lapangan, studi kasus, pemecahan masalah, diskusi, diskusi panel, brainstorming, dan simulasi (Waras, 2007). Beberapa dari strategi tersebut juga terdapat dalam pembelajaran berbasis proyek, yaitu (a) strategi belajar kolaboratif, (b) mengutamakan aktivitas siswa dari pada aktivitas guru, (c) mengenai kegiatan laboratorium/bengkel, (d) pengalaman lapangan, (e) dan pemecahan masalah.

Prinsip-prinsip PjBL juga dilandasi oleh teori belajar konstruktif. Menurut Myer & Boty (dalam Waras, 2007) belajar konstruktif harus dilakukan dengan menumbuhkan upaya siswa membangun representasi memori yang kompleks dan kaya, yang menunjukkan tingkat terhubungan yang kuat antara pengetahuan semantik, episodik, dan tindakan. Sebagai sebuah model pembelajaran, menurut Thomas (2000) pembelajaran berbasis proyek memiliki berbagai prinsip, yaitu (a) sentralistis (centrality), (b) pertanyaan pendorong atau penuntun (driving

147

question), (c) investigasi konstruktif (contructive investigation), (d) otonomi (autonomy), (e) realistis (realism).

PjBL juga didukung oleh teori belajar eksperiensial. Seperti dikatakan William James bahwa belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar, dan belajar yang efektif adalah holistik, dan interdisipliner (Moore, 2003:2). Tema proyek yang dipilih juga bersifat interdisipliner, karena mengandung unsur berbagai disiplin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek yang dikerjakan itu. Kerja proyek dapat dipandang sebagai proses belajar memantapkan pengalaman yang belum mantap, memperluas pengetahuan yang belum luas, dan memperhalus pengetahuan yang belum halus, belajar melalui pengalaman nyata.

Berdasarkan teori belajar konstruktivistik yang dirujuk di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: (1) otentik-kontekstual (goal-directed activities) yang akan memperkuat hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya; (2) mengedepankan otonomi siswa (self-regulation) dan guru/instruktur sebagai pembimbing dan partner belajar, yang akan mengembangkan kemampuan berpikir produktif; (3) belajar kolaboratif yang memberi peluang siswa saling membelajarkan yang akan meningkatkan pemahaman konseptual maupun kecakapan teknikal; (4) holistik dan interdisipliner; (5) realistik, berorientasi pada belajar aktif memecahkan masalah riil, yang memberi kontribusi pada pengembangan kecakapan pemecahan masalah; dan (6) memberikan reinforcement intrinsik (umpan balik internal) yang dapat menajamkan kecakapan berpikir produktif.

Mulai pada tahun 2000, di Indonesia diterapkan empat pendekatan pendidikan, yaitu: (1) pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skills); (2) kurikulum dan pembelajaran berbasis kompetensi; (3) pembelajaran berbasis produksi; dan (4) pendidikan berbasis luas (broadbased education). Orientasi baru pendidikan itu berkehendak menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga pendidikan kecakapan hidup, dengan pendidikan yang bertujuan mencapai kompetensi (selanjutnya disebut pembelajaran berbasis kompetensi), dengan proses pembelajaran yang otentik dan kontekstual yang dapat menghasilkan produk bernilai dan bermakna dan pemberian layanan pendidikan berbasis luas melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan yang fleksibel multi-entry-multiexit

148

(Depdiknas dalam Waras, 2007). Berdasarkan kajian teoritis dan empirik maka PjBL dapat mengakomodasi empat pendekatan pendidikan tersebut.

Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)

Menurut Kurzel dan Rath (2003:505), tahapan pembelajaran berbasis proyek terdiri dari tujuh fase, yaitu: (1) good description, fase dalam menampilkan masalah untuk dipecahkan dan menetapkan tujuan; (2) specify criteria, fase dalam menentukan kriteria memecahkan masalah solusi, dan menetukan fokus yang akan dicapai, dan kemampuan apa yang akan dicapai; (3) background knowledge, fase untuk menentukan pengetahuan atau konsep yang dibutuhkan, dan mencari informasi kepada ahlinya; (4) generate ideas, generalisasi konsep dan menyusun hipotesis; (5) implement solution, fase dalam mencari dan mengimplementasikan solusi serta membandingkannya dengan solusi lain; (6) reflect, mengevaluasi seluruh proses pembelajaran mulai dari proses, solusi, dan produk; dan (7) generalize, fase untuk menyusun konsep, mengeralisasi fakta dan pengetahuan menjadi teori.

Tahapan atau Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dapat dijelaskan pada gambar 1 berikut ini (Kemendikbud, 2013).

Gambar 1. Diagram Tahapan Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek Langkah-langkah pada pembelajaran berbasis proyek sebagai berikut: 1. Penentuan pertanyaan mendasar. Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan

esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia

149

nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.

2. Mendesain perencanaan proyek. Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa memiliki atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.

3. Menyusun Jadwal. Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (a) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (b) membuat deadline penyelesaian proyek, (c) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (d) membimbing peserta didik ketika membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (e) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.

4. Memonitor peserta didik dan kemajuan. Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

5. Menguji Hasil. Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.

6. Mengevaluasi Pengalaman. Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap evaluasi peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja

150

selama proses pembelajaran

Pembelajaran Produktif Berbasis Proyek di SMK

Mata Pelajaran Program Produktif adalah sekumpulan kompetensi kejuruan (baik Dasar Kejuruan maupun Kompetensi Kejuruan) dalam struktur kurikulum SMK yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi standar atau kemampuan produktif pada suatu pekerjaan atau keahlian tertentu yang relevan dengan tuntutan dan permintaan pasar kerja. Mata pelajaran produktif bersifat pengembangan keahlian dan keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai tuntutan dan kebutuhan pasar (industri).

Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran produktif dalam konteks spesifik, pada dasarnya merujuk kepada karakteristik pembelajaran dan mata pelajaran produktif. Karakteristik muatan 70% praktikum dan 30% teori; serta memberikan penekanan terhadap penguasaan kompetensi produktif, maka pelaksanaan pembelajarannya perlu menerapkan strategi yang berbentuk pengorganisasian, penyampaian, dan pengelolaan tertentu sehingga pembelajaran dapat berjalan optimal.

Penyelenggaraan pembelajaran mata pelajaran produktif SMK dalam prakteknya akan berkaitan dengan dua strategi spesifik, yaitu: (1) pembelajaran berbasis kompetensi (competency based); dan (2) pembelajaran berbasis produksi (production based) yang dilaksanakan di sekolah dan/atau di dunia usaha/industri. Pada pelaksanaannya, kedua strategi tersebut terintegrasi menjadi satu dalam bentuk pembelajaran keahlian produktif, yang dilaksanakan di sekolah dan/atau di dunia kerja/industri. Bentuk pembelajaran produktif ini adalah pelatihan keahlian yang mengarah pada pencapaian kompetensi lulusan standar tertentu, dengan memberikan pengalaman pada lini produksi bagi siswa, baik dalam praktek kerja industri. maupun pengembangan unit produksi sekolah.

Menurut Sudjimat (2014), PjBL sangat tepat diterapkan di SMK yang tidak hanya menerapkan pembelajaran berbasis kompetensi (competenci based training) tetapi juga pembelajaran berbasis produksi (production based training). Melalui pembelajaran kerja proyek, kreativitas dan motivasi peserta didik akan meningkat (Clegg, 2001; Clegg & Bearh, 2001).

151

Lebih lanjut Sudjimat (2014) mengungkapkan bahwa PjBL mengarahkan peserta didik pada prosedur kerja yang sistematis dan standar untuk membuat atau menyelesaikan suatu produk melalui proses produksi yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa PjBL sangat cocok digunakan untuk program pembelajaran di SMK, terutama yang berorientasi untuk menghasilkan produk. Sementara itu, Siswanto (2010) mengungkapkan bahwa teori-teori experiential learning, context teaching and learning, work-based learning, dan project based learning menjadi sangat relevan dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan.

Berdasarkan kajian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa PjBL merupakan model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan pada kompetensi produktif di SMK agar pencapaian kompetensi siswa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja karena PjBL memadukan antara pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran berbasis produksi yang muaranya lebih mendekatkan siswa pada kondisi dunia nyata.

PENUTUP

Berdasarkan uraian pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. PjBL merupakan pendekatan yang menggunakan masalah sebagai langkah awal mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Menerapkan PjBL adalah: (a) melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata yang kompleks; (b) melibatkan siswa dalam belajar menerapkan pengetahuan dan keterampilan dengan konteks yang bervariasi; (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja; (d) memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan melatih keterampilan interpersonal; dan (e) mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman.

2. PjBL merupakan model pembelajaran yang didukung oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Prinsip-prinsip PjBL juga dilandasi oleh teori belajar konstruktif dan teori belajar eksperiensial.

3. Tahapan pelaksanaan PjBL terdiri dari: (a) penentuan pertanyaan mendasar; (b) mendesain perencanaan proyek; (c) menyusun jadwal; (d) memonitor

152

peserta didik dan kemajuan; (e) menguji hasil; dan (f) mengevaluasi