• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANJUNG REJO VILLAGE Karina Adelia 1 , Erni Jumilawaty 2 , Nursal

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2016 (Halaman 73-81)

1

Mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara 2

Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara

Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan, Sumatera Utara 20155 Email :[email protected]

Abstrak

Penelitian mengenai perkembangan anakan Kuntul Besar (Egretta alba)dan Cangak Abu (Ardea cinerea)di area tambak ikan desa Tanjug Rejo, Sumatera Utara telah selesai dilaksanakan pada Oktober 2014 sampai Januari 2015, dengan menggunakan metode pengamatan langsung. Penelitian menunjukan bahwa kedua spesies memiliki kemampuan survival yang rendah. 14 dari 17 telur Cangak Abu (82,35%) yang berhasil menetas, hanya 3 anakan (21,42%) yang survive, sedangkan dari 11 telur Kuntul Besar (100%) hanya 7 anakan (63,63%) yang survive. Anakan Cangak Abu yang seluruhnya bertahan hidup berasal dari sarang 1 dengan 3 anakan, sedangkan anakan Kuntul Besar yang seluruhnya bertahan hidup berasal dari sarang 3 dengan 2 anakan. Perkembangan tarsus merupakan yang paling pesat jika dibandingkan dengan perkebangan culmendan ulnar kedua jenis burung tersebut. Berat rata-rata anakan Cangak Abu yang telah meninggalkan sarang berkisar 300 sampai 400 g, sedangkan berat rata-rata anakan Kuntul Besar yang telah meninggalkan sarang berkisar 100 sampai 200 g.

Kata Kunci:Cangak Abu, Kuntul Besar, Anakan, Tanjung Rejo, Mangrove

PENDAHULUAN

Desa Tanjung Rejo merupakan salah satu desa yang memiliki luas areal pertambakan sekitar 147,12 Ha dari luas total 310,50 Ha tambak di Kecamatan Percut Sei Tuan. Tambak yang aktif dan tidak memiliki vegetasi mangrove didalamnya sekitar 50% dari jumlah tambak yang telah dibuka(BPS Deli Sedang, 2014).

Kehadiran burung air dapat dijadikan sebagai indikator keanekaragaman hayati pada kawasan hutan mangrove. Hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai yang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya pengikisan daerah pantai. Hutan ini juga berperan dalam mendukung kehidupan fauna di daerah pesisir dan lautan (Elfidasari & Junardi, 2008).

Kuntul Besar dan Cangak membangun sarangnya secara primitif. Sarang dangkal berbentuk datar dan tipis, hanya terdiri dari beberapa lapis ranting, sehingga telur dapat terlihat dari bagian bawah sarang. Umumnya menggunakan material sederhana seperti

lokasi berbiak dengan populasi yang banyak. Hal ini diduga akan mempengaruhi perkembangan anakan burung Kuntul Besar dan Cangak Abu, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk melihat keberhasilan perkembangan anakan Kuntul besar dan Cangak abu.

BAHAN DAN METODE

Berat anak ditimbang setiap dua hari sekali. Anak diturunkan dengan menggunakan kantong kain. Bagian tubuh yang diukur adalah panjang tarsus, panjang ulnar (sayap), dan panjang culmen (paruh) dengan menggunakan jangka sorong. Panjang culmen dihitung mulai dari ujung paruh bagian atas hingga ke pangkalnya (Rukmi, 2002).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari Data yang telah ditemukan anakan Cangak Abu yang berhasil hidup sampai dapat meninggalkan sarang adalah anakan pada sarang 1, sementara untuk anakan yang lain mati pada kisaran usia yang berbeda (Tabel. 1 dan 2). Jika dilihat dari Ukuran berat, anakan Cangak Abu lebih besar pada anak pertama dan diikuti oleh anakan selanjutnya, kecuali pada anakan Cangak Abu sarang 1 dimana anak ke-2 lebih besar dari anak pertama. Begitu juga yang terjadi pada anakan Kuntul Besar dimana anakan nomor 1 lebih menonjol dalam ukuran berat badan dan panjang anggota tubuh, kecuali anak ke-2 sarang nomor 2 yang lebih menonjol dibanding anakan pertama.

Tabel 1. Nilai Rata-Rata Pertumbuhan dan Perkembangan Anakan Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Sarang Anak Ukuran

Culmen (cm) Tarsus (cm) Ulnar (cm) Berat (g)

1 I 3,71 16,74 14,16 402,30 II 4,03 19,40 16,54 440,27 III 3,89 18,30 14,09 385,27 2 I 2,3 8,87 6,35 63,71 II 2,55 8,36 6,1 59,12 3 I 3,77 14,18 10,38 251,14 II 2,92 12,20 8,49 212,70 III 2,79 11,04 7,84 169,37 IV 2,69 8,72 6,09 157,84 4 I 2,76 11,24 7,37 154,45 II 2,63 10,47 7,28 146,13 III 2,68 9,95 7,18 110,49 5 I 1,80 6,94 4,82 83,28 II 1,67 6,44 3,89 71,12

Jika diamati selama penelitian, berat anak pertama dari masing-maing burung lebih berat jika dibandingkan dengan anak ke-2 dan seterusnya. Induk umumnya memberi makan anak pertama lebih banyak dari anak-anak lainnya. Menurut Kim dan Koo (2009), penetasan telur yang tidak serentak (Asynchronus hatcing) pada jenis Kuntul dan Cangak akan mengakibatkan anak yang pertama lahir lebih unggul dibandingkan dengan adik-adiknya dalam hal penanganan makanan, dan interaksi agresifitas menyebabkan terjadinya kompetisi

antara saudara yang dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah untuk adik- adiknya. Sedangkan menurut Perins & Birkhead (1983), dijelaskan bahwa penetasan Asynchronus adalah usaha induk dalam mengantisipasi ketersedian pangan yang berfluktuasi. Jika persediaan makanan cukup berlimpah induk dapat memelihara seluruh anakan sama baiknya, namun jika persediaan makanan tiba-tiba menjadi buruk diharapkan masih ada satu anakan yang dapat dibesarkan oleh induknya.

Tabel 2. Pertumbuhan dan Perkembangan Anakan Kuntul Besar Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Sarang Anak Ukuran

Culmen (cm) Tarsus (cm) Ulnar (cm) Berat (g)

1 I 3,46 17,72 14,13 226,63 II 2,05 10,06 6,53 69,804 III 1,24 5,06 3,35 23,62 2 I 2,51 12,77 9,62 166,43 II 2,79 14,34 10,46 132,58 III 1,45 6,73 4,70 34,03 3 I 3,42 18,52 15,14 237,04 II 3,32 16,47 14,64 204,21 4 I 2,29 10,83 8,14 113,6 II 2,16 10,5 7,11 67,5 5 I 2,39 12,45 9,54 125,57

Perbedaan berat badan kedua jenis burung tersebut dapat dikaitkan dengan ukuran tubuh dan kebutuhan asumsi makanan. Semakin besar burung maka semakin banyak makanan yang dibutuhkan. Menurut Rumeu (2007), adapun makanan Cangak dan Kuntul adalah sebagai berikut, Lepidoptera dan Hymenoptera dalam jumlah kecil, Oligochaeta (31,7% pada musim semi, dan 6, 3% pada musim dingin), Odonata, (85,1%), Pisces, Amfibi, Reptil, dan Mamalia.

Seleksi makanan tidak hanya terjadi pada sesama jenis, akan tetapi juga terjadi pada jenis burung yang berbeda. Menurut Young (1981), seleksi makanan tergantung pada spesies berdasarkan pola karakteristik pergerakan dan struktur, yang penggunaannya dapat bervariasi sesuai keadaan. Biasanya ada sedikit persaingan antar spesies terhadap hal makanan, bahkan ketika mereka tinggal berdekatan.

Pertumbuhan anakan Cangak Abu sarang 1 dan Kuntul Besar sarang 3 disajikan dalam bentuk grafik (Gambar. 1 sampai10). Grafik ditampilkan berdasarkan urutan anakan.

Gambar 1. Pertumbuhan Tarsus, Culmen dan Ulnar Anak Pertama Sarang Ke-1 Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 2. Pertumbuhan Berat Anak Pertama Sarang Ke-1 Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 3. Pertumbuhan Tarsus, Culmen dan Ulnar Anak Kedua Sarang Ke-1 Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 4. Pertumbuhan Berat Anak Kedua Sarang Ke-1 Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 5. Pertumbuhan Tarsus, Culmen dan Ulnar Anak Ketiga Sarang Ke-1 Cangak Abu Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 7. Pertumbuhan Tarsus, Culmen dan Ulnar Anak Pertama Sarang Ke-3 Kuntul Besar Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 8. Pertumbuhan Berat Anak Pertama Sarang Ke-3 Kuntul Besar Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 9. Pertumbuhan Tarsus, Culmen dan Ulnar Anak Kedua Sarang Ke-3 Kuntul Besar Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara

Gambar 10. Pertumbuhan Berat Anak Kedua Sarang Ke-3 Kuntul Besar Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara Dari gambar 1 sampai10 dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan tarsus dan ulnar merupakan pertumbuhan yang paling cepat dibandingkan dengan culmen, dikarenakan tarsus dan ulnar merupakan organ tubuh yang penting dalam pergerakan. Menurut Sulistiani (1991), pertumbuhan kaki (tarsus) dan sayap (ulnar) lebih cepat dibandingkan pertumbuhan paruh (culmen), hal ini berhubungan dengan fungsi kaki dan sayap yang sangat penting untuk mempertahankan diri dari predator. Sedangkan Menurut Rukmi (2002), ukuran panjang tarsus, culmen, ulnar meningkat secara serentak, hanya kemudian terjadi peningkatan yang lebih pesat pada bagian ulnar, diasumsikan berhubungan dengan kemampuan burung untuk terbang.

Dari Tabel. 1 dan 2, dijumpai beberapa anakan Kuntul Besar yang mati pada sarang satu, dua, empat, dan lima dan anakan Cangak Abu yang mati pada sarang dua, tiga, empat, dan lima. Diduga karena pada bulan Desember 2014 sering terjadi hujan sehingga menyebabkan anakan banyak yang mati. Diperkuat dari data BMKG (2014) yang menunjukan bahwa curah hujan tertinggi berada pada bulan Desember 2014 sebesar 427 mm, dan curah hujan terendah berada pada bulan Februari 2014 sebesar 44 mm.

KESIMPULAN

Perkembangan anakan Kuntul Besar dan Cangak Abu di Desa Tanjung rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan terbilang masih rendah. Dari 11 anakan Cangak Abu yang berhasil menetas, hanya 7 anakan (63,63%) yang bertahan hidup. Sementara dari 14 anakan Cangak Abu yang berhasil menetas, hanya 3 anakan (21,42%) yang bertahan hidup. Berat rata-rata anakan Cangak Abu lebih berat jika dibandingkan dengan berat anakan Kuntul Besar. Pertumbuhan tarsus keduanya lebih pesat jika diandingkan dengan pertumbuhan culmen dan ulnar.

UCAPAN TERIMAKASIH

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) dalam memberi dana Penelitian Hibah Fundamental 2015. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai Besar Wilayah I Medan yang telah memberikan data sekunder

DAFTAR PUSTAKA

BPS [Badan Pusat Statistik] Deli Serdang. 2014. Deli Serdang Dalam Angka 2014. ISBN: 0215.2347

Elfidasari, D., Junardi. 2006. Keragaman Burung Air Dikawasan Hutan Mangrove Peniti, Kabupaten Pontianak. Biodiversitas, 7(1):63-66

Govi, G. V., Pandav, B. 2011. Net Space Partitioning Among Colonial Nesting Waterbirds at Bhitarkanika Mangroves, India. World Journal ofZoology 6(1):61-71

Kim, J., Koo, T. H. 2009. Nest Site Characteristics and Reproductive Parameters of Grey Herons Ardea Cinerea in Korea. Zoological Studies, 48(5):657-664

Perrins, C. M., Birkhead, T. R. 1983. Avian Ecology. Blackie & Son: London

Rukmi, D. S. 2002. Perilaku dan kompetisi Interspesifik Kuntul Besar (Egretta alba Linnaeus 1766) dan Cangak Merah (Ardea purpurea Linnaeus 1766) di Suaka Margasatwa Pulau Rambut Jakarta. Institut Pertanian Bogor: Bogor. [Tesis]

Rumeu, B., Nogales, M., Rodriguez, A., Rodriguez, B. 2007. Seasonal Diet of the Grey Heron Ardea cinerea on an Oceanic Island (Tenerif, Canary Island): Indirect Interaction with Wild Seed Plants. Acta Ornithologica, 42(01)

Sulistiani, E. 1991. Beberapa Aspek Biologi Perkembang-biakan Kuntul Kecil (Egretta garzetta Linaeus 1766) Di Cagar Alam Pulau Rambut. [Skripsi]

JENIS JENIS IKAN DI SUNGAI ASAHAN

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Biologi USU 2016 (Halaman 73-81)