• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

A. Hasil Penelitian

1. Tokoh dan Karakter Tokoh dalam Novel

Sesuai dengan rumusan masalah, yaitu bagaimana karakter tokoh dalam novel Tabularasa karya Ratih Kumala diidentifikasikan penggunaan tokoh antara lain Galih, Raras, Krasnaya, Violeta, dan Gale. Meskipun masih ada beberapa tokoh lain dalam novel, tetapi yang dideskripsikan karakternya hanya tokoh-tokoh tersebut di atas.Tokoh utama dalam novel ini adalah Galih dan Raras sedangkan tokoh lain bukan sebagai tokoh utama tetapi tetap ditampilkan dengan pertimbangan bahwa tokoh lain tersebut memiliki volume pemunculannya sering dan turut mempertajam peran perwatakan tokoh utama.

a. Galih

Galih adalah tokoh utama laki-laki yang memiliki pemikiran dan pola hidup yang sangat maju. Sebagai pemuda yang memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas. Ia memanfaatkan banyak waktunya untuk berbagai kegiatan yang bersifat positif ilmiah. Galih adalah sosok pemuda yang tampan, cerdas, memiliki status ekonomi yang tinggi, dan ramah kepada siapapun. Sifat-sifat positif inilah yang menjadikan dia sangat dekat dan akrab dengan siapapun. Sebagai pemuda yang memiliki kecerdasan yang tinggi ia mampu mengikuti pendidikan di luar negri yaitu di Moskow State University tanpa kesulitan sedikitpun. Kebaikan sikapnya sangat menunjang Galih dalam pergaulan, setelah

masih kuliah di Mosko sampai menjadi dosen di UGM Yogyakarta. Kemantapan dan kesetiaan hatinya pada gadis Rusia yang dicintainya menggerakkan hatinya untuk kembali ke Rusia setelah meredanya keributan di pemerintahan Rusia akibat munculnya kembali paham komunisme pada awal dekade 90-an. Perbedaan Kultural, ideologi, dan agama tidak dapat menjadi penghalang kisah cintanya.

Secara psikologis, Galih digambarkan sebagai seorang laki-laki yang hidup dan dewasa pada zaman yang sudah menerima adanya pemikiran modern. Ia memilki pribadi yang baik, jelas dan terarah. Saat itu pemerintahan Indonesia di bawah pimpinan Presiden Suharto mulai membuka diri dengan negara lain, dengan menempatan kedutaan Indonesia di negara Rusia. Negara yang memiliki paham komunisme. Ayahnya sebagai salah satu pejabat dalam keduataan Indonesia di tuntut untuk mematuhi dimanapun surat tugas ditempatkan bersama keluarganya. Kecerdasan Galih sangat mendukung dalam penyelesaian studinya hingga mampu menjadi seorang dosen di UGM, meskipun dalam perjalanan menempuh pendidikannya harus sering berpindah-pindah negara uintuk mengikuti kemanapun ayahnya ditugaskan.

Sebagai anggota keluarga dari orang kedutaan, maka dengan mudah aku bisa masuk ke Moscow State University. Hanya saja aku harus menyesuaikan kredit yang sempat aku tempuh di Universitas Indonesia (Tabularasa.2004.hal: 5).

Kemampuan penyesuaian diri membuat Galih memiliki banyak teman, bukan hanya ditempat perkuliahan atau ditempat ia bekerja tetapi juga mempu mengakrabkan diri dengan lingkungan dimana ia berada. Hal ini di dukung oleh sifat-sifatnya yang baik dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

”would you like to be my frend? (maukah kamu berteman denganku?) lanjutnya, Krasnaya melihat dengan curiga. Kelihatannya sifat tidak gampang percaya pada orang asing memang mendarah daging pada orang di negri ini.

”Please, I don’t mean anyting bad, I just want to make friend with you.” (ku mohon, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin berteman denganmu). Dia mendengarkan ragu. Please...

”Okay, you seem nice.” (Baiklah kamu kelihatannya bukan orang jahat). Aku tersenyum memanggil Diaz dan berkenalan dengan krasnaya. Aku beruntung ternyata bahasa inggrisnya lumayan bagus. (Tabularasa.2004.hal: 17)

...Usia Anatoli jauh lebih tua dari Walla,mungkin dia sekitar 50-an,sedangkan Walla baru sekitar 30-an. Mereka belum punya anak. Anatoli adalah seorang ahli kimia, tentu saja ia bekerja untuk pemerintah. Dia juga mengajar di Moscow State University. Saat dia tahu aku juga melanjutkan kuliah di universitas itu, kami jadi makin akrab. Karena dia seorang ilmuwan maka, katanya, dia beruntung sering diikutkan seminar ke luar negri. Menurutnya jarang orang Rusia yang berkesempatan ke luar negri kecuali kalau dia berada di kursi pemerintahan. (Tabularasa.2004.hal: 21) Galih dan Anatoli bertemu di kolam es Gorky Park tanpa sengaja. Setelah beberapa lama mereka berpisah, mereka melepas rindu. Salah satu ingin sekali bercerita yang satunya ingin mendengarkan, kemudian bertanya tentang kabar, tentang Krasnaya tentang profesi Annatoli sebagai ilmuwan, tentang cita-cita dan pekerjaan, dan tentang Rusia yang semakin terpuruk. Keduanya memiliki perbedaan usia yang banyak tetapi keduanya bisa saling mengimbangi arah setiap pembicaraan.

Bak teman lama, mereka lalu berbagi. Dua orang laki-laki berbeda usia mencoba menyamakan pendapat dalam pembicaraan. Keduanya menghilangkan topik Krasnaya dan perbincangan. Tetapi sebenarnya gambaran Krasnaya selalu ada dalam pikiran. Yang satu inggin bercerita yang lainnya inggin mendengar dan bertanya.... (Tabularasa.2004.hal: 58) Galih pemuda yang terlahir dari keluarga yang memiliki status kehidupan sosial yang tinggi dan berpendidikan. Anak seorang diplomat kedutaan Indonesia yang ditempatkan di negara Rusia. Galih dengan latar belakang demikian lebih memilih tinggal bersama neneknya di Yogyakarta. Menurutnya merasa lebih

tenang tinggal dengan orang tua yang selalu memberi pengarahan dan nasehat-nasehat agar tetap dapat berjalan di jalan yang semestinya.

...Di sini aku tinggal di daerah Notoprajan bersama eyang putri yang masih kuat kemana-mana sendirian. Entah kenapa, kok rasanya aku lebih tenang di sini, bersama orang-orang tua yang benar-benar sepuh. Mungkin orang lain tidak akan tahan berada diposisiku, lebih memilih untuk tinggal dengan orang tua yang cerewet dan kebanyakan nasihat. (Tabularasa.2004.hal: 24) Dari pandangan dimensi fisiologis Galih digambarkan sebagai laki-laki yang memiliki wajah tampan, raut wajah tenang, santai, dan cenderung nyentrik.

Gadis itu sudah lama memperhatikan gaya dandan dosen yang satu ini, ia ingin memenuhi penasarannya.

’Bapak nggak pernah pake celana bahan, ya? perasaan pake jins terus. Eh sorry, saya usil tanya.” Lalu awanya terdengar renyah disambung tawa dosennya. Ia tidak keberatan.

”Ah, nggak pa-pa. Memang saya males pake celana bahan. Lebih nyaman pake celana jins. Mereka tertawa lagi. Dan, pada saat yang sama Raras berpikir bahwa Pak Galih adalah dosen yang paling nyentrik (hal 28).

Pandangan segi psikologis memandang Galih sebagai laki-laki yang memilki segi kehidupan yang jelas. Di tempat ia menyelesaikan kuliah bertemu dengan gadis bernama Krasnaya yang akhirnya jatuh cinta padanya. Kecintaannya yang sangat besar menjadikan dirinya tak akan pernah berpikir untuk membuka pintunya untuk orang lain. Ia beranggapan tak bisa menemukan cinta yang lain seperti cintanya pada Krasnaya.

Kami semua menganggukkan kepala tanda setuju dan cari tempat yang tidak terlalu padat. Dari tempat ini kami melihat jam raksasa dengan jarak yang lebih jauh dari tempat tadi. Orang-orang yang berkerumun juga jadi lebih jelas, jumlahnya mirip semut. Eh...siapa itu, kok perasaan pernah lihat? Oh...itu kan gadis yang tempo hari melukis di Red Square. Dia nggak sendirian, seorang nenek dan lelaki setengah baya bersama dia, mungkin ayahnya. Berkali-kali aku coba untuk ke arah jam raksasa, berkali-kali pula mataku kearahnya lagi.

”Di...Diaz...,” tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu, aku mencoba menarik perhatian Diaz tuh...

” Apaan?”

” Lihat deh, itu tuh..” ”Lihat apaan?”.

”Cewek itu tuh keren ya...?”lalu aku lihat Diaz mencoba mencari gadis yang aku maksud.

” Eh, iya lho...kok kamu bisa nemu sih?.”

” Kalau kamu penasaran, biasanya yang suka ngelukis di sini pasti balik lagi kalau lukisannya belum selesai.” Spontan aku langsung nenggok ke Diaz. ”Ah beneran nih?”

” Iya ...,”kata Diaz sambil mangut-mangut. Ah kamu pasti mau nyari dia kan?” Tebak Diaz setengah mengoda. Aku Cuma nyengir tanda mengiyakan. Saat pesonanya seperti magnet, menuntun kepalaku untuk berputar melihat arahnya lagi, dia sudah tidak ada lagi disana. Hilang lagi. Ah...keluhku dalam hati (Tabularasa.2004.hal:12)

Gambaran kecemasan hati Galih ujud cinta dan rasa tanggung jawab cinta yang tinggi dan dalam kepada Krasnaya. Sejak peristiwa pergolakan pemerintahan Rusia, Galih kembali ke Jakarta bersama seluruh keluarga Krasnaya. Setelah kerusuhan di pemerintahan Rusia reda, Galih kembali menemui Krasnaya di Rusia.

”Krasnaya! Krasnaya! Open the door!” Ada yang aneh, kenapa kalau aku teriak-teriak orang-orang di flat sebelah tidak protes, bahkan tidak membuka pintu.

”Galih....,” aku langsung menoleh sumber suara . Zdenka.

” Gje Krasnaya?” (Dimana krasnaya?) tanyaku setengah panik. Ku guncang-guncang tubuh Zdenka, tapi dia diam saja tidak marah. ”Where is she? Skazice mye pozaluista!” (Mana Krasnaya? Tolong katakan padaku!)

” Voijice pozaluista. ”Silahkan masuk, katanya sambil membuka lebar pintu flatnya agar aku masuk.

Ruangan di dalamnya berbentuk hampir sama dengan bagian dalam flat Krasnaya, hanya barang-barangnya yang berbeda. Aku melihat lukisan Krasnaya di salah satu sofa. Lukisan Kremlin yang seharusnya untukku. ”Zdenka, skazice mye pozaluista. Agje Krasnaya? Skazal Krasnoj,cjo ya budu vosvrashatsya. Ona ne ponimayet?”(Zdenka, tolong bilang, mana Krasnaya? Aku kan sudah berjanji bahwa aku akan kembali. Tidakkah dia mengerti?).

”Da ana skazalla mnye.”(Ya. Dia telah mengatakannya padaku.)Lalu zdenka diam, dari ujung matanya keluar setetes air. Membuat aku tambah panik. Bahasa inggris Zdenka tidak begitu bagus, tapi ia berusaha menjelaskan setelah menyuguhi segelas kopi.

b. Raras

Tokoh utama perempuan Raras adalah perempuan yang mempunyai pemikiran dan gaya hidup yang modern. Sebagai seorang perempuan yang memiliki intelektual yang cukup tinggi dengan status sebagai mahasiswa Satra UGM Yogyakarta, Raras mampu menghadapi berbagai masalah hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Keingginan untuk memelihara, melindungi, dan memperbaiki diri sendiri dan memperbaiki orang lain tumbuh dari dirinya sendiri hingga menjadi perempuan yang kuat. Pola hidupnya sangat modern cenderung terlepas dari budaya tradisi.

Raras memiliki kepedulian perhatian terutama pada penderitaan teman dekatnya yang sangat berlebih yaitu kepada Violet. Kepeduliannya melebihi kepeduliannya kepada diri sendiri, rasa kekagumannya menumbuhkan perasaan cinta yang dipaksa untuk tetap berada dalam hati dan pikirannya saja tak pernah diungkapkan kepada Violet. Orang pertama yang ia percaya akan segala yang ada dalam pikiran dan benaknya adalah Galih, laki-laki pertama dalam hidupnya yang ia cintai setelah sekian lama hatinya hanya mampu mencintai Violet teman sejenisnya. Namun dalam perjalanan hidupnya Galih tidak mampu mengembalikan dirinya sebagai perempuan sejati. Orang kedua adalah Argus yang tahu banyak tentang Raras bahkan di akhir cerita ia mampu mempengaruhi dan menumbuhkan kembali kesadaran akan identitas dirinya sebagai lesbi atau heterosex.

Ditinjau dari dimensi psikologis Raras adalah perempuan yang menarik, lembut dan mandiri. Akan tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk menyatakan

cinta pada Violet dan takut akan perasaan dirinya yang berbeda dengan perempuan pada umumnya.

”How do tou feel about her now?”

”I... I’m sorry for my self for not being honest, I’m sorry Violet never knows that.” (Aku... menyesal tidak memberitahunya dulu. Violet tidak pernah tahu bahwa aku mencintainya) Setitik menetes dari ujung matanya. Argus mendekati Raras dan membelai rambutnya (Tabularasa.2004.hal:153)

Cinta yang terpendam tanpa dapat dungkapkan akan dapat meledak-ledak dalam dada. Raras yang tidak dapat mengngkapkan cinta pada Violeta secara langsung hanya dapat menyimpannya dalam hati dan membayangkan seseorang yang dicintai pada saat malam hari yang sepi mulai merasakan kerinduan untuk bertemu. Obat rindunya hanyalah memandang foto Violet yang selalu menemani dengan setia untuk menyalurkan hasrat kerinduannya.

Pukul 23: 45 WIB Kututup pintu kamar, kuncinya berputar 2 kali. Kutanggalkan baju dari tubuhku satu-satu, dan ku lepas anting-anting kecil serta gelang kaki di pergelangan kaki kiriku. Parfum ’Kenzo Flower’ ku semprotkan di pergelanggan tanganku, di belakang kuping dan diantara kedua buah dadaku. Lalu ku usapkan sedikit ke kertas merah berbentuk hati, lilin, peniti. Aku tidak mengunakan cermin, sebuah foto Violet bersama ku gunakan sebagai fokus. (Tabularasa.2004.hal: 126)

”Ku panggil kau, kasih untuk mencintaiku melebihi siapapun. Ku tusuk hatimu tujuh kali dengan panah gaib cubid”, dan satu peniti kutusukan kehati.

Lalu ku ucapkan lagi ” ku tusuk hatimu tujuh kali dengan panah gaib cubid” ,sambil satu peniti lagi kutusukan ke hati, begitu terus hingga tujuh kali.

” Ku ikat hati dan jiwamu dengan diriku. Sampai ku putuskan untuk melepasmu. Ku kirim mantra ini untuk menghubungimu. Dan kutaburi dengan kemaunanku” (Tabularasa.2004.hal: 127)

Kelembutan hati telah membuatnya mampu menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungannya itu dengan respon emosi yang baik. Bahkan konflik

dengan orang lain mampu ia hindari. Menyadari keadaan dirinya yang tinggal dengan Argus seorang Gay, tidak merasa terhina ketika tetangga mencibirnya dengan senyum sinis melarang anaknya dekat-dekat dengan kaum homoseksual.

Ia tidak membolehkan anaknya untuk tersenyum pada Raras, lalu dengan bahasa yang tidak ia mengerti mungkin bahasa India si Ibu menyuruh anaknya untuk cepat masuk. Lho... kenapa? Did I say something wrong? Ah, ya sudah....( Tabularasa.2004.hal: 157).

Dilihat dari segi fisiologis Raras di gambarkan sebagai perempuan berambut panjang yang menarik, cantik, dan mengagumkan. Galih selalu merasa penasaran melihat sosok Raras yang bisa membuat ia ingat Krasnaya.

Perempuan itu menyerit rambut Raras yang panjang sepundak. Mulutnya berlagu tanpa syair dengan nada tertentu, bermaksud nembang ‘Dandang Gula’, tembang yang biasa dilagukan sinden-sinden saat resepsi pernikahan sebagai penghibur sekaligus nasihat untuk mempelai. Sudah lama Raras sebenarnya ingin memotong rambutnya, tetapi selalu ia kembali diingatkan bahwa rambut adalah mahkota perempuan (Tabularasa.2004.hal: 108). Pesona diri Raras mampu membuat laki-laki bernama Galih luluh hatinya dan bertekuk lutut di hadapannya. Galih merasakan ada daya tarik yang mampu menarik dirinya sehingga ia selalu tidak mengalami kesulitan untuk menemukan dan bertemu dengan Raras.

Kamu seperti menara. Selalu dapat kulihat walau jauh dan di kerumun orang. Ada sinergi di dalammu, karisma yang dulu sempat kunikmati dari dekat dan dalam jarak. Adalah pesona yang membuat pria bertekuk dan mencium ujung-ujung jarimu. Hanya sanggup menunduk dan memandang kukumu yang tidak berkuteks, mungkin juga hidungnya mencari odor tubuhmu yang akan selalu dikenang dan selalu dikenalnya di kemudian hari pada setiap orang yang menyemprotkan parfum berbau sama denganmu ke tubuh-tubuh mereka (Tabularasa.2004.hal: 3).

Hal pokok yang membuat menarik diri Raras di mata Galih adalah kemiripan fisik dan psikis Raras dengan Krasnya. Rasa cinta Galih tumbuh setelah beberapa waktu memperhatikan Raras. Semakin tertarik dan akhirnya jatuh cinta

lagi. Sebagai laki-laki normal akan cepat merasa tertarik begitu melihat tipe gadis yang di idam-idamkan.

Tahukah kamu dari jauh selalu kunikmati gerakmu. Aku tak pernah yakin dengan perasaan ini (apakah aku pria yang sedang jatuh cinta?), atau aku hanya kembali terlena dengan adanya gambaran dirinya pada bahasa tubuhmu, caramu berdandan, dan keras kepalamu. Belum pernah kuungkapkan, tapi aku tahu itu semua ada pada dirimu. Kamu mengingatkanku akan kehilangan yang sangat mendalam. Sungguh aku minta maaf jika terlalu lancang berani mencoba menggapaimu seperti bintang, mengangkatmu seperti dewi dan menjatuhkanmu kembali ke bumi nyata, terlempar di lautnya, cair pasrah pada benda bermolekul padat yang menjadi wadah. Mengikuti bentuk. Bukan sebagai gas yang bebas beterbangan di ruang dan tak beruang sekalipun. Bahwa aku menginginkanmu karena ada gambaran dirinya dalam dirimu. Tuhan mungkin tengah kehabisan ide saat menciptakanmu, pokokmu begitu mirip orang yang pernah aku miliki. Bangunkan kelaki-lakianku hingga tumbuh hasrat bercampur deru (Tabularasa.2004.hal: 4).

c. Krasnaya

Tokoh perempuan yang selama sepuluh tahun selalu membayangi kehidupan Galih sebagai tokoh utama laki-laki adalah Krasnaya. Sosok perempuan dengan kelincahan hidup, kemampuan kemandirian, dan kreatifitas yang tinggi sebagai seorang perempuan. Pesona dirinya membuat Galih tak bisa tertarik apalagi mencintai orang lain, meskipun Krasnaya sudah meninggal tetapi masih terasa hidup dekat di hatinya. Krasnaya gadis Rusia yag mengalami permasalahan dari imbas pemerintahan Rusia yang sedang goncang. Hubungannya dengan Galih pemuda Indonesia yang pada dasarnya berseberangan ideologi dengan pemerintahan Rusia. Gadis Rusia yang berhubungan erat dengan pemuda Indonesia mengalami banyak kendala seperti adanya larangan atas dasar kecurigaan pemerintahan Rusia terhadap pemuda yang bukan warga negaranya. Sikap pemerintahan Rusia terhadap warga negara asing dirasakan oleh Galih dan

Krasnaya. . Sebagai perempuan yang hidup pada jaman modern di tengah-tengah negara Rusia yang besar waktu itu masih mengalami keterbatasan dalam gerak, pilihan, dan berkomunikasi dengan orang lain.

Secara psikologis Krasnaya adalah perempuan yang memilki sifat yang lembut, baik hati, perhatian, selalu menepati janji, mandiri, dan sangat menghargai orang lain.

”Galih harus pulang ke Indonesia sebab di sini berbahaya,” katanya. ”Tapi dia berjanji akan kembali. Lukisanku belum sempat kuberi untuknya, aku sudah berjanji”.

” Kau bisa memberinya nanti kalau sudah kembali”, kataku.

” Tidak, papa bilang hari ini juga kami harus pergi ke St Petersburg. Terlalu berbahaya di Moskow, dan di St Petersburg nenek sendirian. Lagi pula mungkin di sana lebih aman daripada di Moskwa”.

Maka, ia menitipkan lukisannya padaku.

” Tolong berikan ini untuk Galih jika ia kembali,” katanya. ”Baik, berhati-hatilah,” kataku (Tabularasa.2004.hal: 51)

Perwatakan Krasnaya yang sangat disukai Galih adalh memiliki sifat terbuka, tidak menutup diri untuk orang lain. Setelah pertemuan perkenalan yang pertama, ia melanjutkan dengan kencan tidak resminya di tempat ia bekerja sebuah pusat perbelanjaan buku. Kepeduliannya pada seseorang yang sangat membutuhkan bantuan sebagi petunjuk jalan di negaranya sangat ia terima dengan senyum tanpa ada penolakan. Galih semakin merasa bahagia meskipun hanyalah ditemani untuk berkeliling tempat-tempat yang ia ingginkan di negara Rusia yang masih terasa asing itu.

”Do you free after work? I mean...Ineed you to be my inter-preter to show this it.” Apa kamu ada acaraa setelah pulang kerja? Maksudmu...aku butuh seorang guide untuk tur keliling kota). Senyum Krasnaya bertambah lebar, ”Okey, ” katanya singkat, ia benar-benar dapat membacaku. Aku sedikit lega dengan tanggapannya. ”Give me your phone number, I’ll call you latter” (tulis nomor telponmu, aku akan hubungi kamu nanti) katanya

sambil menyerahkan pena dan secarik kertas untukku. Aku menulis nomor telepon flatku.

”can I have yours?” (Boleh aku minta nomor telepon mu?) tanyaku. Ia lalu menuliskan nomor teleponnya ddan menyerahkannya padaku (Tabularasa.2004.hal: 25)

Dimensi fisiologis mengambarkan Krasnaya sebagai sosok perempuan menarik yang manis dan menyenangkan. Senyum tidak pernah ia tahan, Wajahnya yang manis selalu berhiaskan senyum menandakan keramahan yang sangat tulus. Kecantikan wajah Krasnaya bukan dari polesan make up tapi dari dalam diri Krasnaya sendiri, ramah, senyumnya manis, polos, cantik , dan menawan. Hari-hari luang disela-sela waktu bekerja ia sempatkan untuk pergi ke Kremlin tempat di mana orang-orang dengan tenangnya menuangkan inspirasi dalam jiwanya ke dalam bentuk lukisannya. Krasnaya dengan akrab sekali bergulat dengan lukisannya.

d. Violet

Violeta adalah seorang perempuan keturunan cina, kedudukannya dalam cerita novel Tabularasa bukan sebagai tokoh utama. Bahkan hadir hanya sebagai sisipan cerita, akan tetapi kehadirannya sangat mewarnai kehidupan pribadi tokoh utama perempuan. Sebagai kekasih gelap Raras, sebenarnya Violeta tidak mengetahui bahwa Raras sahabatnya memiliki rasa cinta padanya, layaknya cinta seorang laki-laki pada perempuan. Violet sebelumnya telah memiliki kekasih, Burhan namanya. Ia meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Hal itu mengakibatkan adanya gonjangan dalam diri Violeta dan berakibat semakin akrabnya dengan dunia miorfin.

Dimensi psikologis menggambarkan bahwa Violeta adalah sosok perempuan sejati dengan keadaan jiwa yang rapuh sehingga ia lebih yang memilki rasa ketergantungan yang tinggi, mudah terpengaruh, dan mudah percaya pada orang lain dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Burhan laki-laki yang telah memperkenalkan dan mempengaruhi Violet pada Morfin sangat ia cintai dan percayai.Apapun ia turuti termasuk bergulat dengan obat-obat terlarang.

Aku sudah tidak tahan lagi! Seminggu sudah dia tidak telepon setelah dua minggu sebelumnya Burhan memperkenalkanku pada suntikan olahan candu mentah alias morfin yang merupakan alkaloid utama opium.Dia menusukkan tajamnya pada lenganku. Kini, aku gemetar, mulai dingin ada yang aneh pada tubuhku (Tabularasa.2004.hal: 78).

Kekasihnya adalah orang yang telah mengajak Violeta akrab dengan kehidupan narkoba hingga ia jadi pecandu. Setiap kali membutuhkan narkoba Burhanlah orang pertama yang ia cari dan membawakannya apa yang ia butuhkan. Tetapi pada saat dalam keadaan sakau Ratih dan kedua orang tua Violeta membawanya ketempat rehabilitasi bukan Burhan.

Waktu itu satu minggu Violet masuk. Burhan datang menengoknya dan membawa oleh-oleh itu diam-diam ke kamar, dan hari itu seharian dia tidak keluar kamar, bergumul dengan bong ,oleh-oleh burhan.Tiba- tiba pintu kamarnya terbuka, lelaki kecil berkaca mata berdiri di sana. Violet tersentak