• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

4

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja adalah suatu kondisi kerja yang terbebas dari ancaman bahaya yang menganggu proses aktivitas dan mengakibatkan cedera, penyakit, kerusakan harta benda serta gangguan lingkungan. Menurut Ridley (2004), Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, alat kerja, bahan, proses dan metode kerja, tempat kerja dan lingkungannya. Kinerja keselamatan kerja (safety performance) wajib diperhatikan dalam setiap aktivitas pekerjaan terutama dalam pekerjaan konstruksi dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi.

Safety performance menjadi fokus penting dalam dunia konstruksi karena mencakup berbagai aspek antara lain: aspek kemanusiaan, aspek produktivitas pelaksanaan proyek, aspek finansial proyek, aspek hukum serta citra organisasi dalam persaingan di dunia konstruksi. Untuk meningkatkan safety performance yang baik memang sulit dan kompleks, dibutuhkan banyak langkah-langkah dan kebijakan yang akan diterapkan agar dapat tercapai keselamatan tersebut. Untuk dapat meningkatkan safety performance dibutuhkan dukungan dari beberapa faktor diantaranya faktor manajemen, teknikal proyek, perilaku pekerja, iklim keselamatan, budaya keselamatan kerja, motivasi dan pengetahuan, kepemimpinan dan sebagainya.

Penelitian ini terbatas hanya meneliti 2 faktor yaitu faktor manajemen (safety management) dan faktor kepemimpinan (safety leadership) yang dapat mempengaruhi safety performance. Hal ini diadopsi oleh penelitian Khadair et al (2011) tentang peningkatan safety performance dengan memperhatikan hubungan antara 2 faktor utama dalam organisasi yaitu safety management dan safety leadership dan didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa dari safety management dan safety leadership lebih berpengaruh terhadap safety performance dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya.

Dalam penelitian Muniz et al (2007) tentang analisis model hubungan antara komitmen manajer, keterlibatan pekerja dan safety management terhadap

(2)

5

Universitas Kristen Petra

safety performance dibuktikan bahwa safety management memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan faktor keterlibatan pekerja. Selain itu peran safety management dalam mempengaruhi safety performance menduduki peringkat pertama dibuktikan dalam penelitian Lee & Jaafar (2012). Sedangkan untuk pengaruh safety leadership terhadap safety performance didasarkan pada penelitian Wu et al (2007), mengungkapkan bahwa faktor kepemimpinan dalam hal keselamatan kerja (safety leadership) berpengaruh secara signifikan terhadap safety performance jika dibandingkan dengan faktor iklim keselamatan (safety climate). Penelitian Skeepers & Mbohwa (2015) tentang hubungan safety leadership dan safety communication terhadap safety performance pada proyek konstruksi di Afrika Utara menyatakan bahwa safety leadership berpengaruh signifikan dan dapat meningkatkan safety performance. Penelitian lainnya tentang hubungan antara budaya organisasi keselamatan kerja dan safety leadership terhadap safety performance (Yang et al, 2010) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil analisa model yang dilakukan safety leadership merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan safety performance.

2.2 Safety Management

Definisi manajemen secara luas adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Safety management dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk mencapai tujuan keselamatan kerja dimulai dari proses perencanaan, pengkoordinasian serta pengontrolan pekerja serta lingkungan kerja. Safety management dapat memberikan dampak positif dan langsung pada tingkat kecelakaan perusahaan.

Safety management akan mengurangi cedera pekerja serta kerusakan material, selain itu dapat mengurangi berkurangnya waktu akibat gangguan dalam proses produksi, mengurangi absensi pekerja serta meningkatkan kepuasan dan motivasi dalam bekerja (Muniz et al, 2007). Selain mengurangi tingkat kecelakaan kerja, safety management berpengaruh terhadap kinerja daya saing perusahaan (citra

(3)

6

Universitas Kristen Petra

positif perusahaan, reputasi, produktifitas dan inovasi perusahaan serta) dan finansial perusahaan (Muniz et al, 2009).

Safety management yang dirancang dengan baik oleh perusahaan akan dapat memberikan kontribusi untuk keberhasilan tujuan keselamatan kerja di tempat kerja. Safety management dapat berupa kebijakan dan praktik yang membantu mengurangi bahaya yang mungkin terjadi pada sebuah proyek, sistem kontrol untuk menetapkan proses perencanaan dan keputusan untuk memastikan lingkungan kerja yang aman.

2.3 Variabel Safety Management

Gallagher (1997) dalam penelitiannya mengidentifikasi faktor-faktor praktik manajemen dalam meningkatkan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja antara lain, komitmen top management, tanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja, keterlibatan supervisor, keterlibatan aktif dari perwakilan kesehatan dan keselamatan yang memiliki peran yang luas, komite kesehatan dan keselamatan yang efektif serta identifikasi risiko bahaya dan pendekatan yang komprehensif dalam inspeksi dan investigasi.

Menurut Tam dan Fung (1998), strategi manajemen keselamatan kerja yang efektif dalam mengurangi kecelakaan antara lain: investigasi pasca- kecelakaan, penghargaan, pelatihan keselamatan kerja serta penggunaan tenaga kerja yang siap dipekerjakan. Sedangkan Vredenburgh (2002) dalam penelitiannya menemukan bahwa praktik manajemen yang efektif dalam mengurangi tingkat kecelakaan kerja yaitu, dukungan manajemen, penghargaan, pelatihan, perekrutan, komunikasi dan partisipasi pekerja.

Berdasarkan penelitian Dorji dan Hadikusumo (2006), manajemen keselamatan kerja yang digunakan dalam penelitian adalah kebijakan keselamatan kerja, pengorganisasian, serta perencanaan dan implementasi. Namun peneliti merekomendasikan beberapa variabel dari manajemen keselamatan yang dapat diteliti selanjutnya adalah peraturan perundang-undangan keselamatan kerja dan peraturan sesuai, kesadaran akan keselamatan kerja, insentif serta catatan keselamatan kerja.

(4)

7

Universitas Kristen Petra

Berdasarkan penelitian Muniz et al (2009), terdapat beberapa aspek kritis dari manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat mengurangi kecelakaan kerja antara lain, pengembangan kebijakan keselamatan kerja, insentif untuk partisipasi karyawan, pelatihan dan pengembangan kompetensi karyawan, komunikasi dan transfer informasi tentang tempat kerja; perencanaan meliputi perencanaan pencegahan dan perencanaan dalam keadaan darurat dan pengendalian dan review kegiatan yang dilakukan dalam organisasi.

Menurut Khdair et al (2011), terdapat tiga dimensi yang menjadi kunci dari manajemen keselamatan kerja yang dapat meningkatkan kinerja keselamatan kerja antara lain:

1. Pelatihan keselamatan kerja berperan penting dalam menjelaskan praktek manajemen untuk meningkatkan kinerja keselamatan kerja;

2. Penghargaan dan insentif dapat memotivasi pekerja untuk mencegah dari bahaya di tempat kerja;

3. Komitmen manajemen dapat membantu organisasi dalam menciptakan budaya keselamatan kerja.

Menurut Vinodkumar dan Bhasi (2011) bagian dari manajemen keselamatan kerja antara lain, komitmen manajemen, pelatihan keselamatan kerja, keterlibatan pekerja, komunikasi, peraturan dan prosedur keselamatan kerja, kebijakan promosi keselamatan kerja serta perilaku keselamatan kerja.

Berdasarkan penelitian Cheng et al (2012) tentang pengaruh manajemen keselamatan pada kinerja proyek konstruksi, indikator manajemen keselamatan yang digunakan dalam penelitian antara lain, kebijakan keamanan tertulis, investigasi kecelakaan dan laporan, catatan keselamatan kerja, panduan keselamatan kerja, checklist keselamatan kerja, analisis statistik kecelakaan, struktur organisasi keamanan resmi, inspeksi aman, skema keamanan, praktek kerja yang aman, rapat keselamatan kerja, audit keselamatan kerja, promosi keselamatan kerja, komite keselamatan di tingkat proyek / lapangan serta komite keselamatan di tingkat perusahaan.

Dalam penelitian ini digunakan 8 indikator yang dapat menjelaskan variabel safety management yang digabungkan dari beberapa penelitian terdahulu.

(5)

8

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.1 menunjukkan indikator safety management yang digunakan dalam penelitian ini :

Tabel 2.1 Indikator Safety Management

No Indikator Sumber

1 Kebijakan keselamatan kerja 1,2,6,9

2 Penghargaan dan insentif 1,2,3,4,5,6,8

3 Pelatihan keselamatan kerja 1,2,3,4,5,8

4 Komunikasi dalam hal keselamatan kerja 1,2,3,5 5 Perencanaan pencegahan dalam hal keselamatan kerja 2,9 6 Perencanaan darurat dalam hal keselamatan kerja 2,9 7 Pengawasan interal perusahaan dalam hal keselamatan kerja 2,9 8 Mengevaluasi kegiatan keselamatan kerja 2,9

Keterangan:

1. Muniz et al (2007).

2. Muniz et al (2009).

3. Vredenburgh, Alison G (2002).

4. Khdair et al (2011)

5. Bhasi & Vinodkumar (2011).

6. Dorji, Kin dan Hadikusumo, Bonaventura (2006) 7. Gallagher (1997)

8. Tam dan Fung (1998) 9. Cheng et al (2012)

2.3.1 Kebijakan Keselamatan Kerja

Kebijakan, dalam arti luas, mengacu pada niat umum, pendekatan dan tujuan dari organisasi dengan kriteria dan prinsip-prinsip. Kebijakan yang efektif adalah dengan menetapkan arah yang jelas bagi sebuah organisasi serta memberikan kontribusi untuk semua aspek organisasi sebagai bagian dari komitmen nyata untuk perbaikan secara terus-menerus.

(6)

9

Universitas Kristen Petra

Tanggung jawab manajemen terhadap keselamatan kerja yang baik dapat dinyatakan dengan menetapkan kebijakan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat bagi karyawannya. Kebijakan keselamatan kerja merupakan pernyataan tertulis dari prinsip-prinsip dan tujuan yang mewujudkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan kerja serta integrasinya dengan kebijakan perusahaan yang lain. Hal ini menunjukkan bagaimana komitmen top management untuk memastikan metode kerja yang aman dan lingkungan yang aman di lokasi konstruksi (Dorji dan Hadikusumo, 2006). Biasanya kebijakan seperti itu berasal dari atasan perusahaan atau dapat berasal dari manager perusahaan.

Dalam penelitian Muniz et al (2007), kebijakan keselamatan kerja dideskripsikan sebagai berikut:

a. Perusahaan mengkoordinasikan kebijakan kesehatan dan keselamatan dengan kebijakan SDM lainnya untuk memastikan komitmen dan kesejahteraan pekerja;

b. Pernyataan tertulis tersedia untuk semua pekerja yang mencerminkan kepedulian manajemen untuk keselamatan kerja, prinsip-prinsip dari tindakan dan tujuan untuk dicapai;

c. Manajemen menulis fungsi komitmen dan partisipasi dan tanggung jawab dalam pertanyaan keamanan bagi semua anggota organisasi;

d. Kebijakan keselamatan kerja berisi komitmen untuk perbaikan terus-menerus untuk meningkatkan tujuan.

2.3.2 Penghargaan dan Insentif

Program penghargaan dan insentif keselamatan kerja mengukur sejauh mana perusahaan mendorong pekerja untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan keselamatan mereka (Muniz et al, 2007). Motivasi pekerja untuk berperilaku dengan cara yang menimbulkan konsekuensi yang diinginkan, pekerja akan memodifikasi perilaku agar sesuai dengan suatu budaya jika hal itu dirasakan bahwa perilaku tersebut akan menyebabkan hasil yang diinginkan.

Bresnen dan Marshall (2000) mengatakan bahwa program insentif efektif mempengaruhi perilaku individu mengingat kompleksitas struktur sosial dan

(7)

10

Universitas Kristen Petra

organisasi yang timbul di lokasi konstruksi. Penggunaan insentif, penghargaan dan pengakuan untuk memotivasi karyawan untuk melakukan pekerjaan aman adalah fitur yang diterima dari kedua manajemen perilaku organisasi dan model manajemen kualitas total (Vinodkumar dan Bhasi, 2011). Dengan adanya insentif maka pekerja dapat menambah minat dalam program pengendalian bahaya dan meningkatkan tindakan perlindungan diri pada proyek kosntruksi. Menurut Khdair et al (2011), penghargaan atau program insentif harus satu set paket yang berjalan sejajar dengan pendidikan keselamatan dan pelatihan. Struktur organisasi harus mencakup pencegahan kecelakaan, bukan hukuman setelah kecelakaan terjadi.

Keselamatan kerja tidak akan meningkatkan kecuali ada permintaan atau insentif yang diberikan kepada kontraktor, dimana perhatian utama dari kontraktor adalah bagaimana untuk menyimpan uang dan mengurangi biaya. Inisiatif untuk meningkatkan keselamatan harus datang dari klien. Klien harus berusaha keras untuk memiliki langkah-langkah keamanan di kondisi untuk ketentuan keselamatan dalam dokumen kontrak proyek (Dorji dan Hadikusumo, 2006).

2.3.3 Pelatihan Keselamatan Kerja

Pelatihan keselamatan kerja berperan penting dalam suksesnya program keselamatan kerja, dengan adanya pelatihan dapat meningkatkan keterampilan terkait dengan pengetahuan maupun sikap pekerja serta dapat memprediksi kecelakaan kerja (Vinodkumar and Bhasi, 2010). Perusahaan dengan tingkat kecelakaan lebih rendah ditandai dengan pelatihan keselamatan kerja yang baik bagi karyawan.

Pelatihan keselamatan kerja wajib diberikan bagi pekerja baru dan untuk supervisor diberikan pelatihan keselamatan kerja khusus. Dalam kenyataannya pelatihan keselamatan kerja hampir tidak pernah dilakukan untuk para pekerjanya.

Hal inilah yang memicu terjadinya tindakan tidak aman dan kecelakaan kerja karena minimnya pengetahuan pekerja akan keselamatan kerja. Pelatihan keselamatan kerja tidak mudah dilakukan dan membutuhkan dana yang tidak sedikit dalam pelaksanaannya selain itu pelatihan kerja tidak serta merta menampakkan hasil bagi kelangsungan kerja di lapangan.

(8)

11

Universitas Kristen Petra

2.3.4 Komunikasi

Berdasarkan penelitian Vredenburgh (2002), menunjukkan bahwa kinerja keselamatan kerja dipengaruhi oleh tingkat komunikasi dalam suatu organisasi.

Keterbukaan komunikasi antara top management, middle level dan bottom level dapat mengefektifkan laporan dan respon terhadap kondisi yang tidak aman (Fang et al, 2004; Abudayyeh et al, 2006).

Menurut Vinodhkumar dan Bhasi (2010), komunikasi yang teratur tentang masalah keselamatan antara manajemen, pengawasan dan pekerja merupakan praktek manajemen yang efektif untuk meningkatkan keselamatan di tempat kerja.

Laporan tindakan tidak aman dan lingkungan yang berbahaya dapat menjadi perhatian manajemen jika jalur komunikasi antara manajemen dan pekerja lebih terbuka. Sebaliknya manajemen dapat berkomunikasi mengenai prioritas keselamatan untuk meningkatkan kepatuhan dan kesadaran pekerja mengenai keselamatan kerja.

2.3.5 Perencanaan

Variabel ini diukur dengan menggunakan dua aspek yaitu perencanaan pencegahan dan perencanaan darurat (Muniz et al, 2007). Pertama perencanaan pencegahan dapat diuraikan dalam beberapa hal antara lain:

1. Menggunakan sistem untuk mengevaluasi risiko;

2. Membuat langkah-langkah keselamatan yang diperlukan untuk menghindari kecelakaan;

3. Menentukan orang yang bertanggungjawab untuk melaksanakan tindakan;

4. Standar prosedur tindakan atau kerja diuraikan atas dasar evaluasi risiko;

5. Rencana perencanaan pencegahan ini diberikan kepada seluruh pekerja;

6. Rencana pencegahan secara berkala harus diperbarui.

Kedua yaitu perencanaan darurat dengan membuat suatu rencana yang secara sistematis apabila dalam keadaan darurat. Seluruh pekerja diberitahui tentang perencanaan darurat tersebut serta dilakukan simulasi secara berkala untuk mengecek apakah perencaan darurat tersebut efektif atau tidak.

(9)

12

Universitas Kristen Petra

2.3.6 Pengawasan

Supervisor harus mampu mengalokasikan pekerjaan yang sesuai dengan ketrampilan pekerja, mengidentifikasi kondisi bahaya dan membuat lingkungan proyek yang aman dengan mengkomunikasikan keselamatan kerja bagi para pekerja dengan baik. Selain itu supervisor wajib memastikan seluruh pekerja mengikuti aturan keselamatan kerja serta mencari solusi jika terjadi masalah mengenai keselamatan kerja di lapangan (Fang et al, 2004). Pemeriksaan berkala dilakukan pada pelaksanaan rencana pencegahan dan tingkat kepatuhan pada peraturan. Supervisor mengevaluasi rencana dengan tindakan di lapangan untuk mengidentifikasi tindakan perbaikan. Inspeksi sistematis yang dilakukan secara berkala untuk memastikan efektivitas fungsi keseluruhan sistem keselamatan kerja. Serta melaporkan, menyelidiki dan menganalisis kecelakaan maupun insiden di lapangan.

2.4 Safety Leadership

Leadership dalam arti umum adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.Menurut Wu et al (2008), safety leadership dapat didefinisikan sebagai proses interaksi antara pemimpin dan karyawan, di mana pemimpin dapat memberikan pengaruh terhadap karyawan untuk mencapai tujuan keselamatan organisasi.

Kepemimpinan yang efektif berperan penting dalam memastikan keberhasilan organisasi dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi sesuai dengan karakteristik proyek konstruksi. Perilaku kepemimpinan merupakan faktor penting dalam mencapai kinerja keselamatan kerja yang dalam organisasi. Adanya kepemimpinan dalam sebuah organisasi dapat membantu pekerja dan organisasi untuk mencapai tujuan keselamatan kerja perusahaan.

Dalam beberapa penelitian mengenai budaya keselamatan kerja mengungkapkan bahwa elemen penting dalam meningkatkan kinerja keselamatan kerja adalah usaha untuk mengubah perilaku dan memotivasi perilaku keselamatan kerja, hal ini tergolong dalam faktor yang berkaitan dengan perilaku.

Salah satu variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah leadership.

(10)

13

Universitas Kristen Petra

Penelitian O’dea dan Flin (2001) menggunakan 4 indikator safety leadership yaitu pemimpin terlihat di tempat kerja (visibility), hubungan antara pemimpin dan pekerja (relationship), pemimpin yang melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan (workforce involvement) dan pemimpin yang proaktif dalam keselamatan kerja (proactive management).

Penelitian Faridah et al. (2009) yang dapat menjelaskan leadership dalam hal keselamatan kerja antara lain: pemimpin mendukung dan membantu pekerja dalam kegiatan keselamatan kerja sehari-hari, pemimpin melibatkan pekerja dalam menetapkan tujuan keselamatan kerja, pemimpin terlihat di tempat kerja, pemimpin menjadi panutan bagi pekerja dalam hal keselamatan kerja, pemimpin mendorong bawahan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan mengenai keselamatan kerja, pemimpin menunjukan jiwa kepemimpinan dalam kegiatan keselamatan kerja, serta pemimpin memiliki tanggung jawab untuk keselamatan kerja sub-kontraktor.

Dalam penelitian ini digunakan 7 indikator yang dapat menjelaskan variabel safety leadership berdasarkan penelitian Faridah et al dan didukung oleh beberapa penelitian terdahulu. Tabel 2.2 menunjukkan indikator safety leadership yang digunakan dalam penelitian ini :

Tabel 2.2 Indikator Safety Leadership

No Indikator Sumber

1 Pemimpin mendukung dan membantu pekerja dalam kegiatan

keselamatan kerja sehari-hari 1,2,3

2 Pemimpin melibatkan pekerja dalam menetapkan tujuan keselamatan

kerja 1,2

3 Pemimpin terlihat di tempat kerja 1,2

4 Pemimpin menjadi panutan bagi pekerja dalam hal keselamatan kerja 2,3 5 Pemimpin mendorong bawahan untuk berpartisipasi dalam

pengambilan keputusan mengenai keselamatan kerja 1,2,3 6 Pemimpin menunjukan jiwa kepemimpinan dalam kegiatan

keselamatan kerja 2,3

7 Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk keselamatan kerja sub-

kontraktor 2,3

Keterangan:

1. O’dea dan Flin (2001)

(11)

14

Universitas Kristen Petra

2. Faridah et al (2009) 3. Wu et al (2015)

2.5 Safety Performance

Safety performance digunakan untuk mengevaluasi manajemen keselamatan kerja pada proyek konstruksi. Ukuran safety performance harus memberikan indikasi seberapa baik usaha sebuah proyek konstruksi dalam bidang keselamatan kerja. Dalam beberapa kasus, sebuah proyek mungkin merancang ukuran unik atau memanfaatkan ukuran kinerja keselamatan kerja dengan cara yang tidak khas.

Hinze dan Godfrey (2003) melakukan evaluasi terhadap safety performance terhadap berkurangnya hari kerja bagi pekerja tersebut karena kecelakaan kerja atau pembatasan aktivitas karena kecelakaan kerja, laporan cedera dengan penanganan dokter (major injuries), laporan cedera tanpa penanganan dokter (minor injuries), kejadian dimana tidak ada cedera yang terjadi tetapi berpotensi untuk terjadi cedera (near misses), inspeksi keselamatan kerja di lapangan, observasi pekerja berdasarkan perilaku pekerja, dan survei persepsi pekerja tentang keselamatan kerja.

Fang (2004) melakukan evaluasi terhadap safety performance di lapangan terhadap jumlah kecelakaan kerja kepuasaan pekerja di lapangan dan inspeksi keselamatan kerja di lapangan yang terdiri dari tindakan tidak aman pekerja, perlengkapan pelindung diri, dan housekeeping.

Tabel 2.3 menunjukkan indikator yang dapat mengukur safety performance yang digunakan dalam penelitian, antara lain:

(12)

15

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.3 Indikator Safety Performance

No Indikator Sumber

1 Berkurangnya hari kerja karena kecelakaan kerja 1,2 2 Kecelakaan kerja dengan penanganan dokter (recordable injuries) 1,2 3 Kecelakaan kerja tanpa penanganan dokter (first aid injuries) 1,2 4 Kejadian dimana tidak ada cedera yang terjadi tetapi berpotensi untuk

terjadi cedera (near misses) 1,2

5 Inspeksi keselamatan kerja di lapangan 1,3

6 Observasi pekerja berdasarkan perilaku pekerja 1 7 Survei persepsi pekerja tentang keselamatan kerja 1

Keterangan:

1. Hinze dan Godfrey (2003) 2. Ng et al (2005)

3. Fang (2004)

2.5.1 Berkurangnya Hari Kerja karena Kecelakaan Kerja

Berkurangnya hari kerja karena kecelakaan kerja terdiri dari cedera di mana pekerja terluka tidak dapat kembali bekerja pada hari kerja berikutnya atau pekerja tidak dapat kembali ke tugas yang sama yang dilakukan sebelum kecelakaan tersebut.

2.5.2 Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja konstruksi sering tidak mendapat perhatian yang serius dan dianggap sebagai akibat dari keteledoran pekerja. Kecelakaan kerja dapat berdampak buruk juga terhadap image perusahaan tersebut. Kecelakaan kerja yang terjadi hanya dilaporkan secara lisan bagi perusahaan namun tidak dicatat dan disimpan sebagai dokumen perusahaan. Rata-rata kecelakaan kerja untuk perusahaan yang memiliki catatan dan dokumen tentang kecelakaan kerja yang pernah terjadi lebih kecil secara signifikan dibandingkan perusahaan konstruksi yang tidak memilikinya.

Kecelakaan kerja yang dicatat terdiri dari kecelakaan kerja berat yang memerlukan bantuan medis (major injuries), keelakaan kerja ringan yang tidak

(13)

16

Universitas Kristen Petra

memerlukan bantuan medis (minor injuries), dan insiden di mana tidak ada cedera yang terjadi, namun memiliki potensi cedera (near misses).

1. Kecelakaan kerja dengan penanganan dokter (recordable injuries)

Kecelakaan ini merupakan kecelakaan yang dialami pekerja dan harus dirawat oleh dokter medis. Jika pekerja tersebut dibawa ke dokter dan di rontgen tapi tidak ada perawatan yang diperlukan maka tidak termasuk dalam recordable injuries.

2. Kecelakaan kerja tanpa penanganan dokter (first aid injuries)

Cedera dengan luka ringan yang dapat diobati tanpa membutuhkan dokter medis. Dalam kebanyakan kasus jenis cedera ini dilakukan pengobatan atau perawatan langsung dilapangan diperlakukan di lapangan dan pekerja diharapkan untuk kembali bekerja.

3. Kejadian dimana tidak ada cedera yang terjadi tetapi berpotensi untuk terjadi cedera (near misses)

Near misses diartikan sebagai suatu peristiwa yang tidak direncanakan yang tidak mengakibatkan cedera, sakit, atau kerusakan - tetapi memiliki potensi untuk terjadi.

2.5.3 Inspeksi Keselamatan Kerja di Lapangan

Inspeksi dilakukan di lapangan untuk menilai kondisi kerja fisik dan juga untuk mengevaluasi perilaku aman pekerja. Sifat dari data yang dikumpulkan akan bervariasi dari proyek ke proyek. Inspeksi dapat dilakukan oleh pengawas lapangan atau personil perusahaan lain. Data dari inspeksi mungkin dalam bentuk deskripsi narasi atau mungkin diukur melalui penggunaan checklist untuk kelengkapan alat keselamatan kerja pekerja dan housekeeping di lapangan.

Checklist menilai berbagai aspek kondisi fisik pada proyek dan kualitas perilaku pekerja yang aman.

2.5.4 Observasi Pekerja Berdasarkan Perilaku Pekerja

Pengamatan kepada pekerja dapat diimplementasikan dalam berbagai cara.

Yang paling umum adalah untuk pekerja berfungsi sebagai pengamat dari pekerja lain. Pengamatan dapat mengambil beberapa menit atau bisa mengambil beberapa

(14)

17

Universitas Kristen Petra

jam. Pengamatan ini dilakukan untuk mengapresiasi pekerja pada tugas-tugas yang dilakukan dengan aman sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang berlaku pada perusahaan tersebut. Pengamat dan pekerja kemudian membahas cara-cara bahwa tugas-tugas tertentu dapat dilakukan lebih aman. Pekerja yang berfungsi pengamat umumnya diberikan beberapa jam pelatihan. Pelatihan ini menekankan pentingnya menjadi konstruktif mengenai pembahasan tugas-tugas yang dilakukan dengan cara yang tidak aman. Pengamatan pekerja berdasarkan perilaku adalah pendekatan yang relatif baru untuk meningkatkan kinerja keselamatan di lapangan.

2.5.5 Survei Persepsi Pekerja tentang Keselamatan Kerja

Salah satu mekanisme untuk memperoleh data tentang kondisi keamanan di lapangan melalui penggunaan survei persepsi keselamatan kerja pekerja.

Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui bagaimana perasaan pekerja pada proyek. Pekerja mungkin diminta untuk menjelaskan apakah pekerja merasa aman di lapangan, seberapa besar komitmen manajemen adalah untuk mempromosikan keselamatan, seberapa besar komitmen pemimpin adalah untuk mempromosikan keselamatan, dll Survei persepsi keselamatan kerja pekerja diimplementasikan hanya pada beberapa proyek saat ini, tetapi penggunaannya tumbuh sebagai sarana meningkatkan keselamatan kerja di lapangan.

2.6 Alur Berpikir Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanatori yaitu penelitian yang menyoroti hubungan kausal antara variable- variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya.

Sedangkan karakteristik penelitian ini bersifat replikasi, sehingga hasil uji hipotesis harus didukung oleh penelitian-penelitian sebelumnya, yang diulang dengan kondisi lain yang kurang lebih sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor safety management, faktor-faktor safety leadership dan indikator safety performance pada proyek konstruksi pada proyek konstruksi di Surabaya.

(15)

18

Universitas Kristen Petra

Model dalam penelitian ini diadopsi dari penelitian Khdair et al (2011), dalam penelitian tersebut dibuat sebuah model hubungan antara manajemen keselamatan kerja dan perilaku kepemimpinan untuk meningkatkan kinerja keselamatan kerja pada industri minyak dan gas di Iraq. Model menurut Khdair et al dapat ditunjukkan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Model Khdair et al, 2011

Selain itu, digunakan penelitian Muniz et al (2007) dan Muniz et al 2009) sebagai acuan untuk menguatkan hipotesa yaitu adanya hubungan antara safety management dengan safety performance. Sedangkan untuk pengaruh safety leadership terhadap safety performance menggunakan penelitian dari Wu et al (2008).

Penelitian ini merupakan analisis kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari sampel populasi penelitian yang dikumpulkan dengan bantuan kuesioner kemudian dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan kemudian diinterprestasikan. Penelitian menggunakan bantuan program structural equation model (SEM) yaitu AMOS untuk menganalisis dan menguji model hipotesis.

Dalam analisis ini, indikator dari tiap variabel didapatkan dari penelitian- penelitian terdahulu. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H1 : Diduga ada pengaruh antara safety management terhadap safety performance pada proyek konstruksi.

H2 : Diduga ada pengaruh antara safety leadership terhadap safety performance pada proyek konstruksi.

Selanjutnya, alur berpikir penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.2 sebagai berikut:

Safety management

Safety Leadership

Safety Performance

(16)

19

Universitas Kristen Petra

19Universitas Kristen Petra

Gambar 2.2. Model Pengaruh Safety Management dan Safety Leadership terhadap Safety Performance

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Djojowirono (1984), rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan

Bagi pihak investor, pemecahan saham diyakini dapat memberikan abnormal return setelah pemecahan saham, karena para investor pada umumnya mengindikasikan bahwa perusahaan

Berdasarkan pada ilustrasi gambar di atas, diketahui bahwa melalui physical Facilities, yaitu kondisi fisik, meliputi: store location, store layout, design dan melalui

Beban preloading diberikan sebesar beban rencana atau lebih besar yang akan diberikan diatas tanah lunak tersebut dengan tujuan untuk mempercepat terjadinya penurunan rencana..

Seluruh manufacturing cost adalah product cost (Shim & Siegel, 1992). Period cost adalah semua biaya yang tidak langsung penting atau berhubungan dengan produksi. Contohnya

Tujuan dari K3 adalah menciptakan suatu lingkungan kerja yang sehat, aman, teratur dan sejahtera, sehingga hal ini dapat membuat suasana lingkungan kerja menjadi

Perencanaan sebuah sistem serta metode kerja bekisting menjadi sesuatu yang sepenuhnya perlu dipertimbangkan baik - baik. Sehingga segala resiko dalam pekerjaan tersebut

Lalu definisi berikutnya yang dapat menyatukan pandangan yang paling luar sekalipun mengenai efektifitas yang juga dikemukakan oleh Steers, Ungson dan Mowday adalah