DOCRPIJM e5f72f705b BAB VIIBAB 7 KETERPADUAN STRATEGI PENGEMBANGAN KABUPATEN MADIUN

67 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB 7

KETERPADUAN STRATEGI

PENGEMBANGAN KABUPATEN MADIUN

7.1. Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Madiun

7.1.1. Penetapan Kawasan Strategis

Kawasan strategis wilayah kabupaten merupakan wilayah yang penataan ruangnya

diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap

ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan.

Kawasan strategis kabupaten berfungsi :

1. Mengembangkan, melestarikan, melindungi, dan/atau mengkoordinasikan keterpaduan

pembangunan nilai strategis kawasan yang bersangkutan dalam mendukung penataan ruang

wilayah kabupaten

2. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial-ekonomi masyarakat dan kegiatan

pelestarian lingkungan dalam wilayah kabupaten yang dinilai mempunyai pengaruh sangat

penting terhadap wilayah kabupaten

3. Untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi di dalam rencana

struktur dan rencana pola ruang

4. Sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama Rencana Tata Ruang

Wilayah (RTRW) Kabupaten Madiun

5. Sebagai dasar penyusunan rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten

Kawasan strategis wilayah kabupaten ditetapkan berdasarkan :

1. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten

2. Nilai strategis dari aspek-aspek eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi penanganan kawasan

3. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan terhadap tingkat

kestrategisan nilai elonomi, sosial budaya, dan lingkungan pada kawasan yang akan ditetapkan

4. Daya dukung dan daya tampung wilayah kabupaten

(2)

Kawasan strategis Wilayah Kabupaten ditetapkan dengan kriteria :

1. Memperhatikan faktor-faktor di dalam tatanan ruang wilayah kabupaten yang memiliki

kekhususan

2. Memperhatikan kawasan strategis nasional dan kawasan strategis wilayah provinsi yang ada di

wilayah kabupaten

3. Merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis ekonomi yang berpengaruh terhadap

pertumbuhan ekonomi kabupaten yaitu merupakan aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi,

yang memiliki :

a) Potensi ekonomi cepat tumbuh

b) Sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi

c) Potensi eksport

d) Dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi

e) Kegiatan ekonomi yang memanfatkan teknologi tinggi

f) Fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam mewujudkan ketahanan

pangan

g) Fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka

mewujudkan ketahanan energi

h) Kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal di dalam wilayah

kabupaten

4. Merupakan kawasan budidaya maupun kawasan lindung yang memiliki nilai strategis sosial

budaya di wilayah kabupaten, antara lain kawasan yang merupakan :

a) Tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya

b) Prioritas peningkatan kualitas sosial budaya

c) Aset yang harus dilindungi dan dilestarikan

d) Tempat perlindungan peninggalan budaya

e) Tempat yang memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya, atau

f) Tempat yang memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial

5. Merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup,

antara lain merupakan :

a) Tempat perlindungan keanekaragaman hayati

b) Kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem, flora dan/atau fauna

yang hampir punah yang harus dilindungi dan/atau dilestarikan

c) Kawasan yang memeberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap

(3)

d) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kesimbangan iklim mikro

e) Kawasan yang menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup

f) Kawasan rawan bencana alam

g) Kawasan yang sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai

dampakluas terhadap kelangsungan kehidupan

6. Merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan kepentingan

pembangunan spasial wilayah kabupaten termasuk yang diperuntukkan bagi basis militer,

daerah latihan militer, daerah pembuangan amunisi dan peralatan pertahanan lainnya, gudang

amunisi, daerah uji coba sistem persenjataan, dan/atau kawasan industri sistem pertahanan;

7. Untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi dalam rencana

struktur ruang dan rencana pola ruang

Berdasarkan kriteria tersebut, maka kawasan strategis yang ditetapkan di Kabupaten

Madiun adalah :

A. Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi

Kawasan tersebut berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan disekitarnya,

selain itu dapat mewujudkan pemerataan pemanfaatan ruang. Kawasan tersebut ditentukan

berdasarkan potensi yang ada, serta memiliki aglomerasi terhadap pusat permukiman perkotaan

dan kegiatan produksi dengan pertimbangan dapat memberikan dampak perkembangan pada

suatu wilayah.

1. Perkotaan Mejayan Sebagai Ibukota Kabupaten

Secara ekonomi, dengan ditetapkannya perkotaan Mejayan sebagai Ibukota Kabupaten

Madiun diharapkan akan menumbuhkan kegiatan perekonomian Kabupaten Madiun. Sebagai

pusat pertumbuhan baru dengan posisi yang cukup strategis berada pada jalur lintas regional

Surabaya – Ngawi – Jogjakarta. Perkotaan Mejayan diharapkan akan menjadi magnet

pertumbuhan baru bagi kegiatan perekonomian di Kabupaten Madiun. Untuk mengantisipasi

perkembangan kecamatan Mejayan sebagai ibukota kabupaten, status kecamatan Mejayan

ditingkatkan menjadi perkotaan Mejayan meliputi :

a) Kecamatan Mejayan meliputi 14 desa, yaitu kelurahan Krajan, kelurahan Pandean,

kelurahan Bangunsari, desa Mejayan, desa Ngampel, desa Kaligunting, desa Blabakan,

desa Wonorejo. desa Kebonagung, desa Darmorejo, desa Sidodadi, desa Kuncen, desa

Klecorejo, dan desa Kaliabu;

b) Kecamatan Wonoasri meliputi 3 desa, yaitu desa Purwoasri, desa Buduran, dan desa Klitik;

c) Kecamayan Pilangkenceng meliputi 3 desa, yaitu desa Wonoayu, desa Kedungrejo, dan

(4)

d) Kecamatan Saradan meliputi 4 desa, yaitu desa Bajulan, desa Ngepeh, dan desa

Bongsopotro; dan

e) Kecamatan Balerejo meliputi 2 desa, yaitu Bulakrejo dan desa Tapelan.

Arahan pengelolaanya :

a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang dibutuhkan untuk

pengembangan kawasan perkotaan skala kabupaten;

b) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis

kawasan;

c) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM);

d) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan ibukota kabupaten sebagai

pusat pertumbuhan ekonomi; dan

e) Mendukung kebijakan pengembangan kawasan melalui pemberian instrumen insentif

berupa keringanan pajak/retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan

sebagainya.

2. Kawasan Agropolitan, Ekowisata, Agroforestry, Dan Agrowisata

Konsep perencanaan kawasan agropolitan di Kabupaten Madiun berada di Kabupaten Madiun

sebelah selatan, yaitu di Kecamatan Geger, Dolopo, Dagangan dan Kebonsari yang selanjutnya

disebut sebagai Kawasan Agropolitan GEDANGSARI. Kawasan tersebut nantinya direncanakan

menjadi Kota Tani dengan pusat kegiatan di Perkotaan Dolopo. Produk unggulan yang

direncanakan akan dikembangkan di Kawasan Agropolitan Gedangsari antara lain kakao,

buah-buahan, tebu, sapi potong, dan ikan segar. Dengan ditetapkannya kawasan agropolitan

Gedangasari ini diharapkan akan menjadi magnet pertumbuhan bagi Kabupaten Madiun

bagian selatan sehingga aktivitas perekonomian di Kabupaten Madiun akan menjadi lebih

hidup karena basis perekonomian Kabupaten Madiun adalah pertanian.

Konsep perencanaan kawasan ekowisata di Kabupaten Madiun berada di Kecamatan Kare,

Gemarang, Saradan dan Wungu yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan KARANGDANGU.

Kawasan tersebut nantinya direncanakan menjadi pusat kegiatan ekowisata. Dengan

ditetapkannya kawasan ekowisata ini diharapkan akan menjadi magnet pertumbuhan bagi

Kabupaten Madiun bagian timur sehingga aktivitas wisata di Kabupaten Madiun akan menjadi

lebih hidup.

Konsep perencanaan kawasan agroforestry di Kabupaten Madiun berada di utara dan timur,

yaitu di Kecamatan Saradan, Kare, Wungu, Madiun, Pilangkenceng, Gemarang, dan Wonoasri.

Kawasan tersebut nantinya direncanakan menjadi kawasan pengembangan pertanian yang

(5)

agroforestry antara lain porang dan kakao. Dengan ditetapkannya kawasan agroforestry ini

diharapkan akan menjadi magnet pertumbuhan bagi Kabupaten Madiun di bagian utara dan

timur sehingga aktivitas perekonomian di Kabupaten Madiun akan menjadi lebih hidup.

Konsep perencanaan kawasan agrowisata di Kabupaten Madiun berada di Kecamatan Kare,

Wungu, Dagangan, dan Dolopo. Kawasan tersebut nantinya direncanakan terintegrasi dengan

kawasan agropolitan GEDANGSARI dan kawasan ekowisata KARANGDANGU. Dengan

ditetapkannya kawasan agrowisata ini diharapkan akan menjadi magnet pertumbuhan

kunjungan wisata di Kabupaten Madiun.

Arahan pengelolaanya :

a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur serta kelembagaan yang

dibutuhkan untuk pengembangan kawasan agropolitan, ekowisata, agroforestry, dan

agrowisata;

b) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan kawasan agropolitan,

ekowisata, agroforestry, dan agrowisata sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di

Kabupaten Madiun;

c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomi

kawasan;

d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM);

e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;

f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan pajak/

retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan;

g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang dapat

dikembangkan.

3. Kawasan Industri Dan Pergudangan

Konsep perencanaan kawasan agropolitan di Kabupaten Madiun berada di Kabupaten Madiun

sebelah selatan, yaitu di kecamatan Pilangkenceng, Saradan, Mejayan, Balerejo, Geger, dan

Dolopo yang selanjutnya disebut sebagai kawasan Gedangsari. Kawasan tersebut nantinya

direncanakan menjadi Kota

Tani dengan pusat kegiatan di perkotaan Dolopo. Produk unggulan yang direncanakan akan

dikembangkan di Kawasan Agropolitan Gedangsari antara lain kakao, buah-buahan, tebu, sapi

potong, dan ikan segar. Dengan ditetapkannya Kawasan Agropolitan Gedangasari ini

diharapkan akan menjadi magnet pertumbuhan bagi Kabupaten Madiun bagian selatan

sehingga aktivitas perekonomian di Kabupaten Madiun akan menjadi lebih hidup karena basis

(6)

Arahan pengelolaanya :

a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur serta kelembagaan yang

dibutuhkan untuk pengembangan kawasan agropolitan;

b) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan Kawasan Agropolitan

Gedangsari sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Madiun;

c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis

kawasan;

d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM);

e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;

f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan

pajak/retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan;

g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang dapat

dikembangkan.

4. Kawasan Perbatasan

Desa Muneng yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi merupakan kawasan strategis

karena pada kawasan tersebut berkembang kegiatan perdagangan dan jasa termasuk pasar

beras yang direncanakan dapat menampung hasil beras dari Kabupaten Ngawi dan Madiun

Kecamatan Madiun, Geger, dan Kecamatan Jiwan yang berbatasan dengan Kota Madiun

merupakan kawasan penyangga yang potensial untuk pengembangan kegiatan perdagangan

dan jasa maupun fasilitas umum.

Sedangkan Sidorejo, Pilangrejo, Munggut, Mojopurno, Mojorayung, Bantengan, Tempursari

dan Nglanduk (Kecamatan Wungu), Dempelan, Sendangrejo, Banjarsari, Nglames (Kecamatan

Madiun), Sidomulyo (Kecamatan Sawahan), Samberejo, Metesih dan Wayut (Kecamatan

Jiwan) merupakan wilayah limpahan dari Kota Madiun untuk pengembangan permukiman

Perkotaan (Ibukota Kecamatan) Pilangkenceng yang berbatasan dengan Kabupaten

Bojonegoro merupakan kawasan strategis mengingat pada kawasan tersebut berkembang

kegiatan perdagangan dan jasa yang sekaligus melayani penduduk Kecamatan Sekar

Kabupaten Bojonegoro

Arahan pengelolaanya :

a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang memadai di kawasan

perbatasan;

b) Menjalin kerjasama dengan investor dalam menumbuhkan kawasan perbatasan sebagai

(7)

c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomi

kawasan;

d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM);

e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;

f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan pajak/

retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan

g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang dapat

dikembangkan.

Kawasan strategis ini merupakan kawasan strategis kabupaten.

B. Kawasan Strategis Sosial Budaya

Sebagaimana disebutkan dalam penetapan kriteria di atas tentang kawasan strategis sosial

budaya, maka untuk Kabupaten Madiun, kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan strategis dari

sudut pandang sosial budaya adalah : Makam Kuncen. Situs Sewulan, Peninggalan Sejarah

Nglambangan.

1. Peninggalan Situs Nglambangan

Obyek wisata peninggalan sejarah Nglambangan ini merupakan situs peninggalan yang

berlokasi di Desa Nglambangan, kecamatan Wungu tepatnya 8 kilometer kearah Timur Kota

Madiun menuju Dungus. Obyek wisata ini seringkali digunakan sebagai tempat upacara ritual

pada saat bulan syura. Terdapat peninggalan jaman kerajaan Mojopahit berupa pura

Lambangsari, Pesiraman dan disekitar tempat tersebut terdapat beberapa tempat keramat

antara lain : Rumah Eyang Kromodiwiryo, Watu Dakon yang dulu digunakan untuk menyimpan

pusaka, punden Lambing kuning, Lumbung selayur, Sumur kuno dan Sendang Jambangan.

2. Makam Kuncen

Makam kuncen berada di Desa Kuncen, Kecamatan Majayan. Di tempat ini cikal bakal Kota

Madiun dan sekitarnya. Disini terdapt masjid tua tertua di wilayah Madiun. Namanya masjid

Kuncen, atau sekarang di beri nama Masjid Nur Hidayatullah. Di bagian belakang masjid ini

terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Patih Wonosari, bupati pertama dan

para sesepuh pendiri Kadipaten Madiun yang sekarang menjadi Kota Madiun. Pada tahun 2008

bagian depan masjid Kuncen di tambahkan bangunan Serambi untuk mengakomodasi jama'ah

masjid yang semakin banyak. Kawasan ini adalah salah satu kawasan cagar budaya yang

(8)

3. Situs Sewulan

Di dalam Situs Sewulan terdapat makam Ki Ageng Basyariah dan masjid yang sampai saat ini

banyak dikunjungi oleh masyarakat di luar Kabupaten Madiun. Makam dan Masjid ini terdapat

di Desa Sewulan Kecamatan Dagangan.

Adapun arahan pengelolaannya adalah :

a) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomi

kawasan, antara lain pemanfaatan sebagai aset wisata, penelitian dan pendidikan;

b) Mengendalikan perkembangan lahan terbangun di sekitar kawasan;

c) Melestarikan kawasan sekitar serta memberikan gambaran berupa relief atau sejarah

yang menerangkan obyek tersebut;

d) Membina masyarakat sekitar untuk ikut berperan dalam menjaga peninggalan sejarah;

e) Mengadakan kegiatan festival wisata atau gelar seni budaya;

f) Melesatarikan tradisi/kearifan masyarakat lokal; serta

g) Mengendalikan kawasan sekitar secara ketat.

C. Kawasan Strategis Pendayagunaan Sumberdaya Alam

Kawasan pendayagunaan sumberdaya alam merupakan kegiatan untuk memperoleh bahan

mineral yang dipergunakan untuk kelancaran kegiatan perekonomian dan mempertahankan

tingkat produksi sumber energi dalam rangka mewujudkan ketahanan energi. Pertambangan di

wilayah Kabupaten Madiun mencakup pertambangan mineral logam, mineral bukan logam,

batuan, dan minyak dan gas bumi. Sedangkan pemanfaatan panas bumi dalam rangka

mewujudkan ketahanan energi yang terbarukan.

Adapun arahan pengelolaannya adalah :

a) Memberikan batas yang jelas kawasan yang akan dieksplorasi dan/ atau dieksplotasi dan

ketentuan-ketentuan pengembangan lahan budidaya di sekitar kawasan;

b) Memberikan batasan yang jelas kawasan yang dapat dikembangkan untuk kegiatan terbangun

maupun kegiatan budidaya lainnya (radius pengembangan);

c) Menetapkan jalur hijau di sekeliling kawasan untuk memproteksi kegiatan eksploitasi sehingga

tidak mengganggu lingkungan sekitar;

d) Menetapkan penggunaan teknologi tinggi yang mendukung lingkungan hidup untuk setiap

kegiatan eksplorasi dan/ atau eksploitasi; dan

e) Menetapkan setiap kegiatan eksplorasi dan/atau eksploitasi harus disertai AMDAL.

(9)

D. Kawasan Strategis Penyelamatan Lingkungan Hidup

Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup, antara

lain adalah :

1. Kawasan Lindung :

Kawasan lindung yang dipandang sebagai kawasan strategis di Kabupaten Madiun berada di

Kecamatan Kare, Gemarang, Dagangan dan Saradan, dengan luas kurang lebih 5.314 ha.

2. Kawasan Hutan Produksi :

Kawasan hutan produksi dengan jenis tanaman jati merupakan salah satu kawasan strategis

bagi Kabupaten Madiun, mengingat luas kawasan hutan mencapai kurang lebih 40% dari luas

wilayah Kabupaten Madiun yang sekaligus berfungsi untuk resapan air di Kabupaten Madiun.

3. Kawasan Hutan Rakyat :

Kawasan hutan rakyat yang ada di Kabupaten Madiun mencapai kurang lebih 5% dari luas

Kabupaten Madiun. Pada umumnya kawasan hutan rakyat di Kabupaten Madiun ditumbuhi

oleh tanaman tahunan yang bisa diambil buahnya seperti durian, porang, jambu mente,

mangga, kopi, cengkeh, coklat dan sebagainya.

4. Kawasan Rawan Bencana :

Kawasan rawan bencana adalah kawasan yang rentan terhadap bencana alam dan merupakan

bagian dari kawasan lindung, adapun untuk bencana alam yang terjadinya karena gerakan

tanah dan longsor, dan banjir atau yang merupakan fenomena alam lainnya. Akibat yang

ditimbulkan oleh bencana alam ini sangat merugikan serta penderitaan bagi manusia karena

dapat mengurangi kesempatan masyarakat untuk terus menjalankan estafet pembangunan,

menanamkan investasi yang lebih besar, menciptakan kegiatan baru maupun melaksanakan

upaya pengembangan gagasan bagi perbaikan kehidupan masyarakat itu sendiri.

5. Kawasan Lindung Geologi :

Kawasan lindung geologi adalah kawasan yang ditetapkan mempunyai potensi bencana

geologi dan merupakan bagian dari kawasan lindung, adapun untuk bencana alam yang

terjadinya karena letusan gunung api, gempa bumi, aliran lahar, banjir atau yang merupakan

fenomena alam lainnya. Akibat yang ditimbulkanm oleh bencana alam ini sangat merugikan

serta penderitaan bagi manusia karena dapat mengurangi kesempatan masyarakat untuk terus

menjalankan estafet pembangunan, menanamkan investasi yang lebih besar, menciptakan

kegiatan baru maupun melaksanakan upaya pengembangan gagasan bagi perbaikan

(10)

Adapun arahan pengelolaannya adalah :

a) Membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang yang berpotensi mengurangi fungsi

perlindungan kawasan;

b) Melarang alih fungsi pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung;

c) Membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan yang

ditetapkan untuk fungsi lindung yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya;

d) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis

kawasan lindung melalui pemanfaatan untuk obyek wisata, pendidikan, dan penelitian

berbasis lingkungan hidup;

e) Mengembalikan kegiatan yang mendorong pengembangan fungsi lindung;

f) Meningkatkan keanekaragaman hayati kawasan lindung; dan

g) Mengendalikan kawasan sekitar secara ketat.

E. Kawasan Strategis Lainnya

Kawasan yang dikategorikan sebagai kawasan strategis lainnya di Kabupaten Madiun

antara lain :

1. Kawasan di sekitar simpang susun dan akses jalan bebas hambatan

Salah satu kawasan yang memiliki pertumbuhan yang cepat adalah kawasan sekitar simpang

susun jalan bebas hambatan. Adapun perkembangan kawasan tersebut biasanya berada pada

sekitar pintu jalan bebas hambatan yang merupakan kawasan yang memiliki potensi untuk

tumbuh dengan cepat baik, baik kawasan perumahan, kawasan perdagangan dan jasa maupun

industri dan pergudangan.

Berikut pengembangan kawasan sekitar simpang susun dan akses jalan bebas hambatan yang

ada di Kabupaten Madiun adalah :

a) Simpang susun di desa Kuwu dan akses jalan bebas hambatan di Desa Purworejo.

b)Simpang susun dan akses jalan bebas hambatan di Desa Bagi.

Kawasan sekitar simpang susun merupakan kawasan strategis sehingga perlu pengendalian

yang ketat dari pemerintah Kabupaten Madiun terkait dengan pengendalian bangunan dan

perlu kerjasama dengan pihak Jasa Marga dalam pengelolaannya.

2. Jalan tembus yang menghubungkan Kabupaten Madiun dengan Kabupaten Bojonegoro

maupun jalan tembus NGADIPONO (Kabupaten Nganjuk – Kabupaten Madiun – Kabupaten

Ponorogo). Jalan tembus tersebut melintasi areal Hutan Lindung dan Hutan Produksi yang

(11)

Kawasan strategis lainnya terhadapa kepentingan pertahanan dan keamanan, meliputi :

a) Kawasan peruntukkan bagi kepentingan pemeliharaan keamanan dan pertahanan negara

berdasarkan geostrategi nasional;

b) Kawasan peruntukkan bagi basis militer, daerah latihan militer, daerah uji coba sistem

persenjataan dan/ atau kawasan industri sistem persenjataan;

c) Kawasan peruntukkan meliputi Gudang Pusat Peralatan TNI AD di kecamatan Saradan

dan sebagian Lanud Iswahyudi TNI AU di kecamatan Jiwan.

Adapun arahan pengelolaannya adalah :

a) Mengendalikan pemanfaatan lahan dengan menetapkan jalur hijau di sekeliling kawasan

strategis lainnya;

b) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif dan disinsentif pada

pemanfaatan kawasan strategis lainnya; dan

c) Melakukan kerjasama pengawasan pemanfaatan lahan pada kawasan strategis lainnya

dengan pemerintah kabupaten/kota sekitar.

Kawasan strategis ini merupakan kawasan strategis Nasional, Provinsi dan Kabupaten.

7.1.2. Arah Pengembangan Struktur Ruang

Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti pengembangan

prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun

Agropolitan.

A. Pengembangan Prasarana Sarana Air Minum

1. Pengembangan Jaringan Air Baku Untuk Air Bersih

Pemenuhan kebutuhan air yang diperoleh dari sumbernya berasal dari sumber air bersih air

tanah dan air permukaan yang dimanfaatkan dengan mengambil langsung dari mata air,

sungai, maupun dengan pembuatan sumur gali dan sumur pompa. Kualitas air sumur yang

digunakan rata-rata berkualitas cukup baik dan tidak berbau, namun permasalahan muncul

pada aspek kuantitas air tersebut, dimana pada saat musim kemarau, sumur-sumur gali

menjadi kering. Arahan pengembangan dan pengelolaan jaringan air baku untuk air bersih

adalah sebagai berikut :

a) Air di badan-badan sungai yang berada di luar kawasan lindung dan merupakan sumber

utama dengan debit yang besar dan kualitas air yang sedang sampai baik, dapat

dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, perikanan, dan air baku bagi penyediaan air bersih

(12)

b) Air di badan-badan sungai yang termasuk kawasan lindung tidak boleh dimanfaatkan

untuk berbagai keperluan, kecuali untuk kondisi khusus atau telah mendapat ijin dari

instansi yang berwenang.

c) Air di sejumlah mata air di kawasan perbukitan yang kondisi tutupan lahannya terpelihara

dengan baik, dapat dimanfaatkan dengan tetap mempertimbangkan debit yang aman

bagi kelestarian mata air dan bagi kawasan di bawahnya.

d) Air tanah dangkal di kawasan permukiman dapat dimanfaatkan terutama untuk

pemenuhan kebutuhan air bersih domestik pada skala penggunaan individu (unit rumah

tangga) yang relatif kecil.

e) Air tanah dalam, jika potensinya mencukupi maka dapat dimanfaatkan dengan perijinan

dan pengawasan oleh instansi yang berwenang.

2. Pengembangan Jaringan Air Bersih Ke Kelompok Pengguna

Penyediaan dan pengelolaan air bersih di Kabupaten Madiun terbagi dalam 2 (dua) sistem,

yaitu sistem jaringan perpipaan yang dikelola oleh PDAM dan sistem air bersih yang

diusahakan secara mandiri oleh masyarakat (HIPPAM/swakelola).

a) Sistem Swakelola Masyarakat (HIPPAM)

Pelayanan air bersih dengan sistem ini umumnya merupakan sistem pemenuhan

kebutuhan air yang diperoleh langsung dari sumbernya yang dilakukan sendiri oleh

masyarakat. Sumber air bersih berasal dari air tanah dan air permukaan yang

dimanfaatkan dengan mengambil langsung dari mata air, sungai, maupun dengan

pembuatan sumur gali dan sumur pompa.

Arahan pengelolaan sistem air bersih oleh masyarakat yang umumnya berada di

perdesaan adalah :

 Pengembangan sistem pengelolaan jaringan air bersih perdesaan yang dikelola

sendiri oleh masyarakat memerlukan pembinaan teknis dan kelembagaan dari

instansi terkait.

 Masyarakat membentuk kelompok HIPPAM untuk melakukan kegiatan sistem

pengelolaan jaringan air bersih yang belum terlayani oleh PDAM di tingkat pedesaan.

b) Sistem Jaringan Perpipaan (PDAM)

Pelayanan dan pengelolaan sistem jaringan perpipaan air bersih di Kabupaten Madiun

dilakukan oleh PDAM Kabupaten Madiun. Distribusi air bersih dilakukan dengan

menggunakan sistem jaringan pipa transmisi dan distribusi yang berfungsi untuk

mengalirkan air dari sumber mata air ke instalasi pengolahan/penampungan yang

(13)

adalah sistem gravitasi (pengaliran) dan sistem pompa. Sistem gravitasi ini adalah sistem

yang mengalirkan air sesuai dengan topografi dan kemiringan tanah. Sedangkan sistem

pompa merupakan pengaliran air dari sumber air dengan bantuan alat (pompa).

Dasar penentuan kebutuhan air ini berasal dari proyeksi penduduk daerah pelayanan

PDAM Kabupaten Madiun selama periode waktu perencanaan, jumlah cakupan pelayanan

pada tahun terakhir, jumlah sambungan pelayanan (SR, HU/KU dan non domestik),

rata-rata unit konsumsi air yang digunakan oleh setiap sambungan pelayanan dan prosentase

kehilangan air yang terjadi pada tahun terakhir.

B. Persampahan

1. Jumlah Timbulan Sampah

Pola pembuangan sampah yang ada di Kabupaten Madiun dilaksanakan dengan sistem

individual dan komunal yang sudah dilayani oleh sistem pengelolaan sampah umum, mulai dari

pengumpulan, hingga pembuangan akhir, yang dikelola oleh Dinas Kebersihan dan

Pertamanan. Secara umum, sampah dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

a) Sampah organik, yaitu jenis sampah yang dapat diproses oleh alam (dapat didaur ulang

secara alami), misalnya makanan, daun-daunan dan lainnya

b) Sampah non-organik, yaitu jenis sampah yang tidak bisa didaur-ulang secara alami,

misalnya sampah plastik, besi, logam, porselin, dan lainnya.

Sedangkan untuk sumber sampah dapat berasal dari:

a) Sampah rumah tangga (domestik)

b) Sampah non rumah tangga (non domestik) yang terbagi atas: sampah pasar dan

pertokoan sampah jalan, sampah fasilitas umum/sosial (pendidikan, kesehatan,

perkantoran, dsb) sampah kawasan industri (pabrik, kerajinan, dsb)

c) Sumber sampah lainnya.

Perhitungan volume timbulan sampah didasarkan pada beberapa faktor, yaitu besarnya

peningkatan tingkat pelayanan tiap tahun dan peningkatan jumlah penduduk. Dominasi

komposisi sumber sampah untuk wilayah Kabupaten Madiun diperkirakan tidak akan berubah

terutama dalam waktu dekat, karena pola hidup masyarakat dalam mengurangi penggunaan

barang yang menghasilkan belum dapat dirubah dalam jangka pendek. Jadi dengan

bertambahnya jumlah penduduk akan terjadi penambahan volume sampah.

Jumlah timbulan sampah total (domestik + non domestik) per orang/hari diasumsikan sebesar

1,5 liter (Sumber Acuan : Standar Spesifikasi Timbulan Sampah di Indonesia, Dept. PU, LPMB,

Bandung, 1993). Selanjutnya untuk mengetahui jumlah timbulan sampah perharinya, maka

(14)

mengetahui berat timbulan sampah maka volume sampah (m3/hari) dikalikan dengan nilai

densitas sampah (kg/m3).

2. Daerah Pelayanan

Daerah pelayanan meliputi seluruh desa di Kabupaten Madiun. Dengan sistem manajemen

pengelolaan sampah, terutama untuk pengangkutan dari TPS menuju TPA yang dilakukan

secara terintegrasi oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Madiun.

3. Kebutuhan Peralatan Persampahan

Berdasarkan prediksi jumlah timbulan sampah Kabupaten Madiun, maka dapat ditentukan

jumlah kebutuhan peralatan persampahan yang harus dimiliki oleh Dinas Kebersihan dan

Pertamanan Kabupaten Madiun khususnya untuk pelayanan Kabupaten Madiun

4. Umur TPA

Berdasarkan data eksisting, TPA Kaliabu seluas 6 ha diperkirakan masih mampu menampung

kebutuhan sampah Kabupaten Madiun sampai Tahun 2023.

5. Arahan Pengembangan

Berdasarkan hasil prediksi dan permasalahan yang ada, maka arahan pengembangan

prasarana persampahan meliputi :

a) Umur TPA Kaliabu diperkirakan sampai Tahun 2023. Perlu adanya alternatif lokasi TPA

baru, mengingat lokai TPA Kaliabu berdekatan dengan penetapan Kawasan Perkotaan

Mejayan yang dipersiapkan menjadi Ibukota Kabupaten Madiun. Selain itu perlu juga

alternatif lokasi TPA baru untuk wilayah Kabupaten Madiun bagian selatan. Ada beberapa

alternatif lokasi pengembangan TPA baru namun perlu dilakukan studi lebih lanjut.

Alternatif lokasi TPA sebagai berikut : 1) Lokasi TPA di Sareng dan Bader sebagaimana

diungkapkan dalam RPJM Kawasan Agropolitan Kabupaten Madiun, 2) Banjarsari Wetan

yang merupakan aset pemerintah Kabupaten Madiun

b) Pemilihan lokasi baru untuk tempat pembuangan akhir harus sesuai dengan persyaratan

teknis dan daya dukung lingkungan.

c) Pengurangan masukan sampah ke TPA dengan konsep reduce-reuse-recycle di sekitar

wilayah sumber sampah.

d) Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah

teknis.

e) Rehabilitasi dan pengadaan sarana dan prasarana persampahan, bergerak dan tidak

bergerak.

f) Mengembangkan kemitraan dengan swasta dan kerjasama dengan kabupaten sekitarnya

(15)

C. Sanitasi Lingkungan

Tujuan rencana sistem sanitasi lingkungan adalah memenuhi kebutuhan akan sistem

prasarana yang berfungsi mengalirkan air limbah domestik (air limbah rumah tangga) yang berasal

dari perumahan dan permukiman, dalam mencapai ruang hidup yang sehat dan produktif

Air limbah domestik ini dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu :

1. Black Water : yaitu air limbah manusia (human waste) yang berasal dari toilet/jamban

2. Gray Water, yaitu buangan air limbah rumah tangga yang berasal dari kamar mandi, dapur dan

tempat cuci (sullage)

Jenis limbah yang ada di Kabupaten Madiun di bedakan menjadi dua, yaitu limbah domestik

(rumah tangga) dan limbah industri. Sedangkan berdasarkan sistem pembuangan limbahnya, di

Kabupaten Madiun menggunakan sistem setempat atau individual. Dalam jangka pendek,

pengembangan sistem publik air kotor tidak memungkinkan untuk dikembangkan mengingat

investasi yang cukup besar. Dengan demikian sampai dengan tahun 2029, penanganan air limbah

lebih ditekankan pada pengoptimalan sistem yang sudah ada, dan mengembangkan sistem

individual dan komunal yang sudah diarahkan pada sistem publik.

Arahan pengembangan pengelolaan sistem pembuangan air limbah di Kabupaten Madiun

adalah sebagai berikut :

1. Untuk Limbah Rumah Tangga

a) Berdasarkan standar, dengan kepadatan penduduk < 200 jiwa/ha, maka dipergunakan

sistem pembuangan on site sanitation. Pada sistem ini pengelolaan limbah dilakukan oleh

masing-masing rumah tangga/kegiatan.

b) Komunal, secara bersama-sama oleh beberapa keluarga, yang biasanya berupa jamban

jamak, MCK atau tangki septik komunal diterapkan pada wilayah-wilayah padat

penduduk.

c) Menerapkan sistem limbah cair bercampur yaitu dengan memanfaatkan saluran atau

selokan air hujan yang telah ada dengan cara merehabilitasi fungsi saluran atau

meredesain saluran yang ada.

d) Bagi kawasan baru dan perumahan atau real estate harus merehabilitasi saluran air

hujannya dengan menggunakan system tercampur atau mendesain bagi yang belum

terbangun.

e) Pengelolaan air limbah masih memungkinkan untuk diterapkan system on site dengan

(16)

2. Untuk Limbah Cair Rumah Sakit/Puskesmas

a) Harus mempunyai fasilitas dan peralatan pengolahan limbah cair dan melakukan

pengelolaan secara baik.

b) Harus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap limbah cairnya ke badan air.

c) Pengolahan limbah toksin seperti limbah cair sisa obat-obatan dan suntikan, harus

dipisahkan dari pengolahan limbah cair yang bersifat non toksin.

3. Untuk Limbah Cair Industri

a) Setiap industri harus mempunyai fasilitas dan peralatan pengolahan limbah cair dan

melakukan pengelolaan secara baik.

b) Perlunya monitoring dan pengawasan terhadap limbah cair yang di buang ke badan air

melalui inventarisasi jenis industri guna memudahkan monitoring dan pengawasan.

D. Drainase

Tujuan dari rencana sistem pengembangan saluran drainase di Kabupaten Madiun adalah

mengalirkan air permukaan ke badan air penerima atau bendungan resapan buatan, dalam

mencapai ruang hidup yang sehat dan produktif. Sistem drainase di Kabupaten Madiun masih

menggunakan sistem drainase gabungan, adalah sistem drainase yang mempunyai jaringan saluran

pembuangan yang sama baik untuk air permukaan maupun air limbah yang diolah. Penanganan

pada sistem drainase di Kabupaten Madiun adalah :

1. Saluran primer : melalui program kali bersih, normalisasi dan perawatan lainnya

2. Saluran sekunder, saluran tersier dengan berbagai dimensi yang mengikuti sistem jaringan

jalan

Selain itu, berdasarkan data kejadian banjir dapat dilihat bahwa pada areal dimana akan

dijadikan pengembangan Perkotaan Mejayan sebagai Ibukota Kabupaten Madiun sering terjadi

genangan akibat banjir yang datangnya dari Kali Jeroan. Luas genangan ini akan semakin

bertambah manakala lahan pertanian berubah menjadi lahan terbagun. Untuk mengatasi

terjadinya banjir di daerah ini dan di daerah lainnya perlu disusun sistem drainase yang memadai.

Pembangunan system drainase seyogyanya dilakukan secara terpadu dengan pembangunan

prasaran kota yang lain, yang mendukung rencana pengembangan wilayah sehingga system

drainase ini dapat berfungsi secara optimal.

E. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Pengertian Ruang Terbuka Hijau (RTH) menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007

adalah area memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat

terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja

(17)

merupakan RTH yang dimiliki oleh kota/kawasan perkotaan yang digunakan untuk kepentingan

masyarakat secara umum. Yang termasuk RTH publik adalah taman kota, taman pemakaman

umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai. Sedangkan yang termasuk RTH privat adalah kebun

atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Proporsi RTH kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten Madiun adalah paling sedikit 30 %

dari luas kawasan perkotaan, yang diisi oleh tanaman baik yang tumbuh secara alamiah maupun

yang sengaja di tanam. Pembagian RTH ini terdiri dari RTH publik paling sedikit 20 % dan RTH

privat 10 %. Distribusi RTH kawasan perkotaan disesuaikan dengan sebaran penduduk dan hirarki

pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang wilayah.

Proporsi 30 % merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem

kota/kawasan perkotaan, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun

sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang

diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota/ kawasan perkotaan.

Luas wilayah perkotaan di Kabupaten Madiun sebesar 4.605,82 ha yang tersebar di 15 kecamatan.

Dari luasan wilayah perkotaan tersebut yang termasuk ruang terbuka hijau kota adalah 30% yaitu

seluas 1.381,74 ha yang tersebar di 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Madiun.

Proporsi RTH publik seluas minimal 20 % dan privat 10 % yang disediakan dimaksudkan

agar proporsi RTH minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya, sehingga memungkinkan

pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi RTH

di kawasan perkotaan di wilayah Kabupaten Madiun, maka pemerintah, masyarakat, dan swasta

didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya.

7.1.3. Arah Pengembangan Pola Ruang

Arahan pengembangan pola ruang yaitu terkait dengan arahan pengembangan kawasan

lindung dan budidaya serta arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti

pengembangan RTH.

A. Arahan Pengembangan Kawasan Lindung

1. Kawasan Hutan Lindung

Arahan penanganan untuk kawasan hutan lindung di Kabupaten Madiun, sebagai berikut :

a) Perlu adanya upaya yang lebih konkret dan komprehensif dari Pemerintah Kabupaten

Madiun untuk mempertahankan fungsi hutan lindung sebagai daerah tangkapan air bagi

(18)

b) Perlu adanya tata batas yang jelas termasuk blok-blok pemanfaatannya untuk tetap

menjaga kelestarian hutan lindung baik dalam bentuk peta maupun tata batas di

lapangan;

c) Perlu adanya perencanan dan pengelolaan secara ketat terhadap keseimbangan

lingkungan fungsi kawasan hutan lindung selain berfungsi sebagai kawasan hijau

penyangga lingkungan juga dimanfaatkan sebagai kawasan wisata dan daya tarik Kabupaten Madiun dengan konsep “NATURAL CONSERVATION AND TOURISM” /

Konservasi Alam dan Pariwisata;

d) Melakukan rehabilitasi hutan (reboisasi, penghijauan, pemeliharaan) untuk memulihkan,

mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan lindung sehingga daya dukung,

produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap

terjaga;

e) Peningkatan pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian hutan lindung dengan

menerapkan program pengelolaan hutan bersama masyarakat;

f) Melarang adanya alih fungsi lahan hutan lindung menjadi kawasan budidaya, serta perlu

melakukan pengaturan berbagai usaha dan/atau kegiatan yang tetap dapat

mempertahankan fungsi lindung; serta pencegahan berkembangnya berbagai usaha

dan/atau kegiatan yang mengganggu fungsi lindung;

g) Penerapan ketentuan yang berlaku tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

(AMDAL) bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan yang sudah ada di kawasan lindung yang

mempunyai dampak besar dan penting bagi lingkungan hidup.

2. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Dibawahnya

Untuk arahan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan dibawahnya

meliputi kawasan resapan air di Kabupaten Madiun. Kawasan yang memberikan perlindungan

terhadap kawasan dibawahnya yaitu kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai

perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,

mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah. Tujuan penetapan kawasan ini adalah

untuk menjaga fungsi kawasan tersebut agar tetap berfungsi dengan optimal. Luasan kawasan

ini di Kabupaten Madiun adalah seluas kurang lebih 70.887 ha. Rencana perlindungan kawasan

resapan air di Kabupaten Madiun, meliputi :

a) mempertahankan fungsi hutan lindung, hutan produksi, hutan rakyat, dan perkebunan

tanaman keras sebagai daerah tangkapan air bagi;

b) melakukan konservasi kawasan hutan yang sekaligus berfungsi sebagai kawasan

(19)

c) melakukan perlindungan, penataan, dan/atau penanganan kawasan resapan air di

kawasan hilir sungai melalui penghijauan dan pembuatan sumur resapan di kawasan

hunian/permukiman yang sekaligus berfungsi pengendali banjir;

d) melakukan perlindungan, penataan, dan/atau pengaturan sumber-sumber air baku

permukaan dan sumber air baku tanah dalam melalui penataan wilayah tata air; dan

e) melakukan sosialisasi pentingnya fungsi hutan lindung, hutan produksi, hutan rakyat, dan

perkebunan tanaman keras sebagai daerah tangkapan air bagi Kabupaten Madiun kepada

seluruh lapisan masyarakat.

Adapun kawasan hutan lindung, hutan rakyat dan perkebunan tanaman keras di Kabupaten

Madiun yang menjadi kawasan resapan air tersebar di kecamatan Kare, Gemarang, Dagangan,

Dolopo, Wungu, Pilangkenceng, Saradan, Mejayan, Wonoasri, dan Madiun.

3. Kawasan Perlindungan Setempat

Untuk arahan kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan sungai, kawasan

sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar sumber mata air. Untuk lebih jelas mengenai

penjelasan diatas dapat dilihat dibawah ini.

a) Kawasan Sempadan Sungai

Kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kanan-kiri sungai, termasuk sungai

buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk melestarikan

fungsi sungai.

Tujuan ditetapkan kawasan sempadan sungai adalah melindungi sungai dari kegiatan

manusia yang dapat menggangu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan

dasar sungai, serta mengamankan aliran sungai. Adapun luasan kawasan sempadan

sungai yang ada di Kabupaten Madiun adalah kurang lebih 2.573 ha, meliputi Kali Madiun,

Kali Asin, Kali Jerohan, Kali Brangkal, Kali Catur, Kali Bunting, Kali Glonggong, Sungai

Klepek, Kali Sareng, Kali Batil, Sungai Gondang, Sungai Semawur, Kali Sono, Kali Piring,

Kali Bribis, Kali Blodro, Kali Kentar, Kali Kembang, Kali Abu, Kali Gondang, Kali Mundu,

Kali Sukoliman, Kali Uluh, Kali Sarangan, Kali Jumok, Kali Padas, Kali Lengkowo, Sungai

Kedungbrubus, Sungai Ngasinan, Sungai Notopuro, Sungai Gede, Sungai Tangkil, Sungai

Bruwok, Sungai Nampu, Sungai Sukorejo, Kali Palem, Sungai Sumber Agung, Kali Gendo,

Kali Ulomati, Kali Lemahbang, dan Sungai Saradan/ Blangambi. Adapun kriteria kawasan

sempadan sungai sekurang-kurangnya (atau sesuai peraturan yang berlaku):

i. Perlindungan pada sungai besar di luar kawasan permukiman ditetapkan minimum

(20)

ii. Perlindungan terhadap anak-anak sungai di luar permukiman ditetapkan minimum 50

meter.

iii. Pada sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman ditetapkan

minimum 15 meter. Kawasan ini hampir di setiap kecamatan, bahkan pada sekitar

aliran sungai ini banyak yang digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat

setempat.

Pemanfaatan sempadan sungai, adalah sebagai berikut:

i. Arahan kegiatan daerah hulu sungai:

 Pengaturan erositas dan pemeliharaan hutan; dan

 Pengaturan tanah pertanian, sehingga tidak merambah kawasan hutan lindung.

ii. Arahan kegiatan daerah sepanjang aliran sungai:

 Pengembangan dan peningkatan jaringan irigasi sebagai upaya menjamin

terjaganya daya dukung pangan;

 Pengembangan drainase; serta

 Pembangunan sarana dan prasarana pengembangan sumber daya air

(pengendalian banjir, pengendalian sedimen, pengembangan suplai air bersih

perkotaan, pencegahan pencemaran, peningkatan kualitas air baku).

iii. Arahan kegiatan muara sungai:

 Pengembangan perikanan /perikanan darat; dan

 Pengembangan pariwisata dengan tetap memperhatikan aspek ekologis.

Rencana penataan kawasan sungai-sungai di Kabupaten Madiun :

i. Pencegahan berkembangnya kegiatan budidaya disepanjang sungai yang dapat

menggangu atau merusak kualitas air, kondisi fisik dasar sungai serta alirannya;

ii. Pengendalian kegiatan yang telah ada di sekitar sungai;

iii. pemantauan terhadap kegiatan yang diperbolehkan berlokasi di sempadan sungai,

diantaranya jalan inspeksi dan bangunan pengolah air;

iv. Pengamanan daerah aliran sungai dari kegiatan terbangun dan mengfungsikannya

sebagai hutan lindung;

v. Pengerukan sedimentasi sungai dan muaranya;

vi. Pelebaran sungai untuk meningkatkan daya tampung/debit sungai;

vii. Normalisasi sungai;

viii. Pengaturan garis sempadan sungai;

ix. Bangunan sepanjang sempadan sungai yang tidak memiliki kaitan dengan pelestarian

(21)

x. Sungai yang melintasi kawasan permukiman ataupun kawasan perdesaan dan

perkotaan dilakukan re-orientasi pembangunan dengan menjadikan sungai sebagai

bagian dari latar depan jika masih memungkinkan;

xi. Sungai yang arusnya lemah dan bukan sungai yang menyebabkan timbulnya banjir

dapat digunakan untuk pariwisata; dan

xii. Sempadan sungai yang areanya masih luas dapat digunakan untuk pariwisata melalui

penataan kawasan tepian sungai.

b) Kawasan Sekitar Danau/Waduk

Penetapan sempadan danau atau waduk mempunyai manfaat penting untuk

mempertahankan kelestarian fungsi danau atau waduk sebagai potensi sumberdaya air

permukaan. sempadan waduk atau danau yang direncanakan di Kabupaten Madiun antara

lain :

i. Sempadan Waduk Widas

Waduk Widas terletak di Kecamatan Saradan, berjarak 40 km kearah Timur dari Kota

Madiun, luas waduk 860 Km2. Sempadan waduk ditetapkan 50 meter dari titik

pasang tertinggi kea arah darat

ii. Sempadan Waduk Saradan dan Notopuro

Obyek wisata waduk Saradan dan Notopuro berlokasi di kecamatan Saradan kearah

timur dari kota Madiun. Sedangkan waduk Notopuro berjarak 9 kilometer dari

kecamatan Pilangkenceng dan 14 kilometer dari kecamatan Mejayan. Sempadan

waduk ditetapkan 50 meter dari titik pasang tertinggi kea arah darat

iii. Waduk Dawuhan

Waduk Dawuhan berlokasi di Kecamatan Wonoasri kearah timur dari kota Madiun.

Sempadan waduk ditetapkan 50 meter dari titik pasang tertinggi kea arah darat

iv. Waduk Kedungbrubus

Waduk Kedungbrubus berlokasi di Kecamatan Pilangkenceng kearah utara dari Kota

Madiun. Sempadan waduk ditetapkan 50 meter dari titik pasang tertinggi ke arah

darat

Rencana pengembangan kawasan waduk di Kabupaten Madiun, sebagai berikut :

i. Pembuatan green belt baru dengan ketebalan 100 meter serta pengaturan garis

sempadan waduk

ii. Untuk mendukung fungsi lindung di kawasan sempadan danau/waduk, maka

disekeliling sempadan difungsikan sebagai kawasan penyangga. Penetapan kawasan

(22)

semapadan waduk/danau. Fungsi kawasan penyangga ini diantaranya sebagai daerah

tangkapan air hujan untuk disalurkan dan diendapkan di kolam penampung sebelum

disalurkan ke danau/waduk untuk menghindari terjadinya sedimentasi di

danau/waduk akibat terkikisnya tanah oleh air hujan

iii. Pembatasan dan pengendalian pengembangan kegiatan budidaya di kawasan

penyangga. Kegiatan yang diijinkan berkembang di kawasan penyangga ini hanya

berupa kegiatan rekreasi dan olah raga alam.

iv. Pencegahan dan pengendalian berkembangnya kegiatan budidaya di sempadan

danau/waduk agar tidak mengganggu fungsi danau/waduk terutama sebagai sumber

air dan energi listrik

v. Pengembangan kawasan hutan di sempadan waduk yang telah mengalami kerusakan

melalui program rehabilitasi, reboisasi dan konservasi

vi. Pengamanan daerah hulu dari erosi akibat terkikisnya lapisan tanah oleh air hujan,

sehingga dapat dicegah terjadinya sedimentasi di waduk, dengan cara menghindari

kegiatan pembukaan lahan (land clearing) pada musim hujan dan diupayakan

pembangunannya mengikuti kontur alam, mempertahankan tatanan yang telah ada,

menghindari aliran permukaan terbuka yang memotong kontur serta penghijauan

pada daerah-daerah gundul

vii. Pembuatan kolam retensi/embung-embung untuk menambah penyediaan air bersih

di Kabupaten Madiun.

c) Kawasan Sekitar Mata Air

Perlindungan di sekitar mata air ini dimaksudkan melindungi secara langsung dari

gangguan khususnya aktifitas manusia yang berakibat menurunnya kualitas mata air.

Perlindungan setempat ini difokuskan kepada badan air dari mata air, perlindungan

daerah tangkapan mata air atau recharge area ditekankan dalam perlindungan kawasan

resapan air. Untuk perlindungan setempat kawasan sekitar mata air ditetapkan minimal

radius 200 meter dari mata air. Kawasan dengan radius 15 meter dari mata air harus bebas

dari bangunan kecuali bangunan penyaluran air. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor

28 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, kriteria penetapan

kawasan sekitar mata air meliputi:

i. daratan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat untuk mempertahankan

fungsi mata air; dan

ii. wilayah dengan jarak paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari mata air.

(23)

i. Penetapan perlindungan pada sekitar mata air ini adalah minimum berjari-jari 200

meter dari sumber mata air tersebut jika di luar kawasan permukiman dan 100 meter

jika di dalam kawasan permukiman. Dengan demikian di sekitar kawasan sumber air

dapat ditanami dengan jenis tanaman yang dapat mengikat air, sehingga kawasan di

sekitar sumber air juga dapat digunakan sebagai daerah resapan;

ii. Perlindungan sekitar mata air untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung

dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air;

iii. Pembuatan sistem saluran bila sumber dimanfaatkan untuk air minum atau irigasi;

iv. Pengembangan tanaman perdu, tanaman tegakan tinggi, dan penutup tanah atau

ground cover untuk melindungi pencemaran dan erosi terhadap air;

v. Membatasi dan tidak boleh menggunakan lahan secara langsung untuk bangunan

yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air; serta

vi. Untuk mata air yang terletak pada kawasan lindung, maka perlindungan sekitarnya

tidak dilakukan secara khusus, sebab pada kawasan lindung tersebut sudah sekaligus

berfungsi sebagai perlindungan terhadap lingkungan dan air.

4. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam Dan Cagar Budaya

Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya adalah kawasan dimana lokasi

bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bantuan geologi alami yang telah

ada. Adapun tujuan perlindungan adalah melindungi kekayaan hasil budaya bangsa berupa

peninggalan sejarah, bangunan astrologi, monumen nasional, keragaman bentuk geologi yang

berguna untuk pengembangan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam

maupun bencana. Di Kabupaten Madiun terdapat cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang

dapat dikategorikan menjadi empat bagian yakni lingkungan non bangunan, lingkungan

bangunan non gedung, lingkungan bangunan gedung dan halamannya dan kebun raya.

Kawasan tersebut memiliki kriteria sebagai berikut:

a) Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan, satwa dan tipe

ekosistemnya.

b) Mewakili formasi biota tertentu dan unit-unit penyusun

c) Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan belum diganggu

manusia

d) Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dengan

daerah penyangga yang cukup luas

e) Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satu-satunya contoh di suatu daerah serta

(24)

Untuk Kabupaten Madiun, yang dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya dan ilmu

pengetahuan adalah ; Lingkungan Non Bangunan, Lingkungan Bangunan Non Gedung,

Lingkungan Bangunan Gedung Dan Halamannya.

Arahan pengelolaan pada kawasan cagar budaya dan ilmu pengatahuan alam yang ada di

kabupaten Madiun, sebagai berikut:

a) Penetapan batas lapangan yang jelas

b) Pada kawasan cagar budaya yang sekaligus berfungsi sebagai obyek wisata, maka

prasarana penunjang pariwisata harus ditempatkan diluar kawasan.

c) Lingkungan fisik di sekitar situs atau cagar budaya dan ilmu pengetahuan harus ditata

secara serasi untuk kepentingan sebagai obyek wisata.

Adapun arahan pengelolaan untuk masing-masing klasifikasi cagar budaya dan ilmu

pengetahuan alam di Kabupaten madiun, sebagai berikut :

a) Lingkungan Non Bangunan

Arahan pengelolaan kawasan tersebut antara lain :

i. Melestarikan kawasan sekitar serta memberikan gambaran berupa relief atau sejarah

yang menerangkan obyek/situs tersebut.

ii. Membina masyarakat sekitar serta ikut berperan dalam menjaga peninggalan

sejarah.

iii. Memanfaatkan kawasan tersebut sebagai obyek wisata sejarah. Tetap melestarikan

budaya sekitar.

b) Lingkungan Bangunan Non Gedung

Arahan pengelolaanya adalah sebagai berikut:

i. Meningkatkan pelestarian situs, candi dan artefak lain yang merupakan peninggalan

sejarah.

ii. Mengembangkan pencarian situs bersejarah terutama di Dusun Ngrawan, Desa

Dolopo Kecamatan Dolopo yang merupakan Madiun Lama

iii. Sebagai obyek daya tarik wisata sejarah.

c) Lingkungan Bangunan Gedung Dan Halamannya

Arahan pengelolaan terhadap bangunan kuno tersebut, adalah sebagai berikut :

i. Melestarikan bangunan kuno yang masih terdapat di berbagai desa/kelurahan yang

ada di Kabupaten Madiun

ii. Tidak merombak keaslian dari bangunan tersebut dengan modernisasi ke bentuk lain.

iii. Memfungsikan bangunan tersebut sehingga dapat terkontrol dan terawat

(25)

iv. Perlindungan terhadap bangunan peninggalan sejarah tersebut, ditetapkan dalam

peraturan yang terdapat di rencana tata ruang kabupaten/kota.

5. Kawasan Rawan Bencana Alam

a) Kawasan Rawan Banjir

Kawasan rawan banjir di Kabupaten Madiun sebagian besar berada di sekitar Kali Madiun

dan Kali Jeroan tepatnya di Kecamatan Balerejo, Wungu dan Madiun. Berdasarkan hasil

studi yang telah dilakukan, debit banjir yang pernah terjadi pada DAS Kali Jeroan

(diperoleh besarnya bakfull capacity Kali Jeroan) sebesar 279,72 m2/detik, sedangkan dari

hasil debit banjir rancangan diperoleh debit banjir dominan 2 tahunan adalah 282,21

m3/detik, sehingga terjadi limpasan pada Sungai Jeroan. Ini menunjukkan bahwa debit

banjir tahunan Sungai Jeroan adalah 282,21 m3/det, sedangkan kapasitas sungai Jeroan

hanya mampu melewatkan debit banjir sebesar 279,72 m3/det.

Kondisi DAS Kali Jeroan, khususnya pada sempadan kanan dan kiri Kali Jeroan yang

berupa permukiman penduduk, maka untuk perencanaan penanganan banjir di Kali

Jeroan menggunakan debit banjir rencana kala ulang 25 tahun. Besarnya debit banjir

rencana 25 tahun sebesar 534,69 m3/det.

Sedangkan kawasan tergenang meliputi Kecamatan Balerejo, Wungu, Madiun seluas

kurang lebih 13.345 ha.

Beberapa permasalahan utama pada Sungai Jeroan, sebagai berikut :

i. Kondisi DAS Kali Jeroan yang kritis

Hal ini disebabkan oleh kegiatan penggundulan hutan, sehingga saat ini daerah

tangkapan air banyak ditumbuhi oleh rerumputan. Dengan demikian rehabilitasi

hutan dan lahan di bagian hulu Kali Jeroan merupakan prioritas untuk segera

direalisasikan.

ii. Masalah Banjir

Penyebab lain meluapnya air banjir di alur Kali Jeroan yang mengakibatkan genangan

banjir hampir setiap tahun disertai erosi tebing sungai adalah : Kurangnya kapasitas

alur sungai oleh rumpun bambu dan sisa akar bambu yang longsor masuk badan

sungai. Hambatan arus air banjir akibat meander sungai yang cukup berat. Hambatan

arus air banjir akibat adanya penyempitan lebar alur sungai pada ruas tertentu dan

bekas pilar jembatan yang belum dibongkar.

iii. Pelanggaran Batas Sempadan Sungai

Pelanggaran batas sempadan sungai terutama untuk permukiman permanen dengan

(26)

bantaran dan semapadan sungai dengan mendirikan bangunan-bangunan permanen

akan mengakibatkan bahaya longsor.

iv. Penambangan Mineral Batuan

Kegiatan penambangan mineral batuan oleh penduduk setempat terutama

penggalian galian tanah dengan kondisi yang menghawatirkan terhadap bantaran

sungai pada ruas tertentu perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan

pengarahan secara persuasif agar supaya tidak melanggar ketentuan yang berlaku.

Pengendalian banjir pada Sungai jeroan dapat dilakukan dengan pendekatan secara

struktur dan non struktur, adalah sebagai berikut :

i. Pengendalian banjir dengan infrastruktur

Melakukan perbaikan sungai dasarnya adalah mengusahakan agar air banjir tidak

meluap dan sekaligus menghilangkan rintangan-rintangan di sungai yang dapat

mengakibatkan pembendungan. Termasuk di dalam perbaikan sungai antara lain:

 Membuat tanggul baru atau mempertinggi tanggul yang sudah ada.

 Normalisasi sungai.

 Membuat bangunan-bangunan proteksi tebing pada tempat yang rawan

longsor.

 Pemasangan pompa banjir pada muara anak sungai yang menuju Kali Jeroan.

ii. Pengendalian banjir dengan Non Struktur

Kegiatan non struktur bertujuan untuk menghindari dan juga menekan besarnya

masalah yang ditimbulkan oleh banjir, antara lain dengan cara mengatur

pembudidayaan lahan di dataran banjir dan DAS sedemikian rupa sehingga selaras

dengan kondisi dan fenomena lingkungan/alam termasuk kemungkinan terjadinya

banjir. Upaya tersebut dapat berupa :

 Konservasi tanah dan air di DPS hulu untuk menekan besarnya aliran permukaan

dan mengendalikan besarnya debit puncak banjir serta pengendalian erosi untuk

mengurangi pendangkalan/sedimentasi di dasar sungai. Kegiatan ini merupakan

gabungan antara rekayasa teknik sipil dan teknik agro, yang bertujuan untuk

mengendalikan aliran permukaan antara lain dengan terarsiring, bangunan

terjun, check-dam/dam penahan, dampengendalian sedimen, penghijauan dan

reboisasi serta pembuatan sumur resapan.

 Penataan ruang dan rekayasa di DPS hulu sehingga

pembudidayaan/pendayagunaan lahan tidak merusak kondisi hidrologi DAS dan

(27)

 Partisipasi masyarakat yang didukung adanya penegakan hukum antara lain

dalam mentaati ketentuan menyangkut tata ruang dan pola pembudidayaan

dataran banjir dan DAS hulu, menghindari terjadinya penyempitan dan

pendangkalan alur sungai akibat adanya sampah padat termasuk bangunan,

hunian liar dan tanaman di bantaran sungai.

 Penetapan sempadan sungai yang didukung oleh penegakan hukum.

 Penyuluhan dan pendidikan masyarakat lewat berbagai media menyangkut

berbagai aspek dalam rangka meningkatkan kepedulian dan partisipasinya.

b) Kawasan Rawan Kebakaran

Berdasarkan peta tutupan lahan, menunjukkan bahwa sebagian wilayah di Kabupaten

Madiun terutama di bagian selatan – timur dan utara merupakan kawasan dengan jenis

tanaman jati. Hutan jati cenderung menggugurkan daun pada saat musim kemarau.

Kondisi ini akan memicu terjadinya kebakaran di Kabupaten Madiun, khususnya di areal

hutan jati.

Strategi mitigasi dan pengurangan risiko bencana kebakaran hutan dan lahan meliputi:

i. Kampanye dan sosialisasi kebijakan pengendalian kebakaran lahan dan hutan.

ii. Peningkatan masyarakat peduli api (MPA).

iii. Peningkatan penegakan hukum

iv. Pembentukan pasukan pemadaman kebakaran khususnya untuk penanggulangan

kebakaran secara dini.

v. Pembuatan waduk (embung) di daerahnya untuk pemadaman api.

vi. Pembuatan sekat bakar, terutama antara lahan, perkebunan, pertanian dengan

hutan.

vii. Hindarkan pembukaan lahan dengan cara pembakaran.

viii. Hindarkan penanaman tanaman sejenis untuk daerah yang luas.

ix. Melakukan pengawasan pembakaran lahan untuk pembukaan lahan secara ketat.

x. Melakukan penanaman kembali daerah yang telah terbakar dengan tanaman yang

heterogen.

xi. Partisipasi aktif dalam pemadaman awal kebakaran di daerahnya.

xii. Pengembangan teknologi pembukaan lahan tanpa membakar (pembuatan kompos,

briket arang dll).

xiii. Kesatuan persepsi dalam pengendalian kebakaran lahan dan hutan.

xiv. Penyediaan dana tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran lahan dan hutan

(28)

xv. Perlu adanya kerjasama antar Dinas terkait yaitu Perum Perhutani, Dinas Kehutanan

dan Perkebunan serta masyarakat sekitar hutan

6. Kawasan Lindung Geologi

Kabupaten Madiun merupakan wilayah rawan bencana alam diantaranya, rawan letusan

gunung berapi, rawan gempa, dan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap air

tanah.

a) Kawasan Rawan Gerakan Tanah Dan Longsor

Strategi penanganan bencana Kawasan Rawan Gerakan Tanah Longsor dilakukan melalui:

i. Penataan ruang. Manajemen resiko kawasan rawan gerakan tanah melalui penataan

ruang dapat dilakukan dengan :

 Menghindari pembangunan rumah atau sarana lainnya pada daerah yang

mempunyai kemiringan lereng 25 – 45% dan > 45% dan mengarahkan

pembangunan pada tanah stabil

 Menghindari perencanaan pembangunan pada daerah yang mempunyai

kerentanan gerakan tanah tinggi, sedangkan pembangunan zona berkerentanan

menengah perlu dilakukan analisis kestabilan pada tiap lokasi tapak

 Menghutankan kembali tanah yang gundul (kritis) dengan pohon-pohon yang

mempunyai akar kuat dan dalam yng dapat berfungsi sebagai penguat tanah,

untuk mencegah terjadinya gerakan tanah.

 Perlu kewaspadaan pada daerah-daerah sekitar alur-alur sungai yang berpotensi

terlanda aliran bahan rombakan, terutama jika terjadi letusan gunung berapi atau

terjadi akumulasi material gerakan tanah pada bagian atas alur. Hindari

pembuatan permukiman pada daerah-daerah sekitar mulut alur dan kelokan

sungai.

 Mengidentifikasi lokasi-lokasi yang rawan gerakan tanah, area pegunungan

terutama yang memiliki kemiringan lereng yang curam, area dengan degradasi

lahan yang parah, area yang tertutup butir-butir pasir yang lembut, area dengan

curah hujan tinggi;

 Memanfaatkan wilayah rentan gerakan tanah sebagai terbuka hijau

ii. Rekayasa teknologi dapat dilakukan dengan:

 Penyelidikan geologi teknik, analisis kestabilan lereng dan daya dukung tanah.

Dengan pelaksanaan kegiatan ini, lebih lanjut zona-zona kritis (berpotensi terjadi

(29)

dapat diketahui, sehingga upaya antisipasi resiko dalam pemanfaatan ruang pada

kawasan tersebut dapat dilakukan.

 Sistem drainase yang tepat pada lereng. Tujuan pengaturan sistem drainase

adalah untuk menghindari air hujan banyak meresap masuk dan terkumpul pada

lereng yang rawan longsor/terjadi gerakan tanah. Dengan demikian perlu dibuat

drainase permukaan yang mengalirkan air limpasan hujan menjauh dari lereng

rawan bencana longsor, dan drainase bawah permukaan yang berfungsi untuk

menguras atau memgalirkan air hujan yang meresap masuk ke lereng.

 Sistem perkuatan lereng untuk menambah gaya penahan gerakan tanah pada

lereng. Perkuatan kestabilan lereng dapat dilakukan, dengan menggunakan salah

satu atau kombinasi dari beberapa konstruksi seperti tembok penahan, angkor,

bronjong, jaring kawat penahan dan lain-lain.

 Meminimalkan pembebanan pada lereng. Penetapan batas beban yang dapat

diterapkan dengan aman pada lereng perlu dilakukan dengan penyelidikan

struktur tanah/batuan pada lereng, sifat-sifat keteknikan serta melakukan analisis

kestabilan lereng dan daya dukungnya.

 Memperkecil kemiringan lereng. Upaya memperkecil kemiringan lereng dilakukan

untuk meminimalkan pengaruh gaya-gaya penggerak dan sekaligus

meningkatkan pengaruh gaya penahan gerakan pada lereng.

 Mengupas material gembur (yang tidak stabil pada lereng). Pengupasan material

dapat memperkecil beban pada lereng, yang berarti meminimalkan besarnya gaya

penggerak pada lereng, dan efektif diterapkan pada lereng yang lebih curam dari

40%.

 Mengosongkan lereng dari kegiatan manusia. Apabila gejala awal terjadinya

gerakan tanah/longsoran telah muncul, terutama pada saat hujan lebat atau hujan

tidak lebat tetapi berlangsung terus menerus, segera kosongkan lereng dari

kegiatan manusia.

 Penanaman vegetasi dengan jenis dan pola tanam yang tepat. Kawasan dengan

tingkat kerawanan tinggi dan mengalami penggundulan hutan, dapat diupayakan

untuk ditanami kembali, dengan jenis tanaman yang dapat bermanfaat bagi

masyarakat. Jenis tanaman yang disarankan oleh Bank Dunia pada kawasan

lindung atau kawasan rawan bencana longsor adalah akasia, pinus, mahoni, johar,

jati, kemiri dan damar. Khusus untuk daerah berlereng curam di lembah dapat

(30)

 Perlu diterapkan sistem terassiring dan drainase yang tepat pada lereng.

Pengaturan sistem terassiring bertujuan untuk melandaikan lereng, sedangkan

sistem drainase berfungsi untuk mengontrol agar tidak membuat jenuh massa

tanah pada lereng.

b) Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi

Kabupaten Madiun merupakan bagian dari Pegunungan Wilis. Wilayah Gunung Wilis

memiliki ketinggian 2.552 meter, serta puncaknya berada di perbatasan antara enam

kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek.

Gunung Wilis diidentifikasi sebagai gunung yang diperkirakan masih aktif.

Arahan pengelolaan kawasan rawan bencana gunung berapi dengan penetapan zona

bahaya dan zona aman sebagai dasar wilayah pemanfaatan baik untuk pariwisata maupun

budidaya yang lain. Pada zona bahaya tidak diarahkan untuk permukiman. Pengelolaan

kawasan rawan bencana gunung berapi juga menyangkut pelatihan kepada masyarakat di

sekitar kawasan rawan bencana untuk mengetahui tanda-tanda alam terjadinya letusan.

Strategi mitigasi yang dilakukan adalah perencanaan lokasi untuk menghindari daerah

yang dekat dengan lereng-lereng gunung berapi yang digunakan untuk aktifitas penting,

penghindaran terhadap kemungkinan kanal-kanal aliran lava, pengembangan bangunan

yang tahan api dan rekayasa bangunan untuk menahan beban tambahan endapan abu.

c) Kawasan Rawan Bencana Alam Gempa

Berdasarkan Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Kabupaten Madiun merupakan daerah

yang masuk dalam zona gempa dengan percepatan 0,05-0,15 g (gravitasi) yang setara

dengan skala V-VI pada skala MMI, dan merupakan daerah berkekuatan antara 5-6 skala

richter. Kawasan rawan gempa dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) IV – V,

meliputi sebagian Kecamatan Saradan dan Pilangkenceng; sedangkan skala Modified

Mercalli Intensity (MMI) V - VI, meliputi sebagian Kecamatan Saradan, Pilangkenceng,

Wonoasri, Mejayan, Balerejo, Madiun, Sawahan, Jiwan, Wungu, Geger, Kebonsari,

Dagangan, Dolopo, Kare, dan Gemarang.

Strategi Mitigasi bencana gempa bumi melalui penataan ruang berupa Manajemen resiko

gempa bumi (earthquake risk management) dapat dilakukan dengan :

i. Mengidentifikasi lokasi-lokasi yang aman dari gempa bumi, antara lain dengan

menganalisis tipe-tipe tanah dan struktur geologinya maupun patahan atau sesar di

suatu daerah merupakan salah satu sumber gempa bumi tektonik. Untuk itu perlu

dilakukan usaha memetakan arah patahan dengan lebih teliti, khususnya di suatu

Figur

Tabel 7.1.
Tabel 7 1 . View in document p.44
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7.2 – 1
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7 2 1 . View in document p.49
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7.3 – 2
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7 3 2 . View in document p.52
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7.4 – 3
Strategi dan Arah Kebijakan Misi Ke Tabel 7 4 3 . View in document p.57
Tabel 7.6 Matriks Identifikasi Rencana Pembangunan Bidang
Tabel 7 6 Matriks Identifikasi Rencana Pembangunan Bidang . View in document p.65

Referensi

Memperbarui...