BAB
V
KETERPADUAN
STRATEGI
PENGEMBANGAN
KABUPATEN KENDAL
Arahan RTRW Kabupaten Kendal
Arahan RPJMD Kabupaten Kendal
Arahan RP3KP Kabupaten Kendal
Arahan SSK Kabupaten Kendal
Arahan RISPAM Kabupaten Kendal
5.1 Arahan RTRW Kabupaten Kendal
Arahan RTRW Kabupaten Kendal meliputi fungsi dan peran wilayah Kabupaten Kendal, strategi
pengembangan kawasan, rencana pusat pelayanan, rencana jaringan prasarana, rencana pola ruang,
dan penetapan kawasan strategis.
5.1.1 Fungsi dan Peran Wilayah Kabupaten
Fungsi wilayah Kabupaten Kendal berkaitan dengan kedudukan kabupaten terhadap pelayanan
internal wilayahnya. Fungsi Wilayah Kabupaten Kendal adalah menyediakan infrastruktur dasar untuk
mendorong pengembangan potensi ekonomi lokal dengan mengalokasikan seluruh aktivitas pada ruang
wilayah secara optimal. Sedangkan peran wilayah Kabupaten kendal berkaitan dengan kedudukan
kabupaten dalam konstelasi regional. Dalam konstelasi regional, Wilayah Kabupaten Kendal sebagai
bagian dari kawasan strategis nasional (KSN) Kendal-Demak-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi
(Kedungsepur) memiliki peran sebagai wilayah pendukung pusat KSN yang berada di Kota Semarang
dalam hal penyediaan lahan pendukung untuk pengembangan aktivitas industri, transportasi,
permukiman, dan pertanian.
5.1.2 Strategi Pengembangan Kawasan
Strategi pengembangan kawasan mengacu pada kebijakan penataan ruang Kabupaten Kendal
yang tercantum dalam dokumen RTRW Kabupaten Kendal Tahun 2010-2030, antara lain:
1. Pengembangan dan pemantapan kawasan industri pesisir timur;
Laporan Akhir
3. Pengembangan kegiatan pertanian produktif dan prospektif di bagian utara;
4. Pengembangan agropolitan di bagian selatan;
5. Pengembangan minapolitan di bagian utara;
6. Pengembangan kawasan budidaya tanaman tahunan hasil non kayu;
7. Pengembangan kegiatan peternakan di bagian selatan;
8. Pengembangan pusat-pusat pelayanan secara berhierarki;
9. Pengembangan dan pemantapan sistem prasarana wilayah;
10. Pengembangan kelengkapan sarana prasarana permukiman di bagian tengah;
11. Pengendalian secara ketat terhadap kawasan lindung di bagian selatan; dan
12. Peningkatan fungsi kawasan pertahanan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara.
5.1.3 Rencana Pusat-Pusat Pelayanan
Rencana pusat-pusat pelayanan dalam struktur ruang wilayah Kabupaten Kendal adalah
sebagai berikut:
1. PKN (Pusat Kegiatan Nasional) ditetapkan di perkotaan Kendal, sesuai dengan penetapan di
RTRW Provinsi Jawa Tengah 2009 – 2029 dalam ruang lingkup Kedungsepur yang berfungsi sebagai pelayanan pusat kawasan ekonomi strategis dan industri.
2. PKL (Pusat Kegiatan Lokal) ditetapkan di perkotaan Kendal, Kaliwungu, Weleri, Sukorejo dan
Boja. Fungsi dari masing-masing perkotaan tersebut adalah:
Perkotaan Kendal dengan fungsi sebagai pusat pelayanan pemerintahan tingkat
kabupaten, pusat perdagangan regional, pendidikan;
Perkotaan Kaliwungu dengan fungsi pusat pelayanan sebagai pusat industri, kawasan
ekonomi strategis, perdagangan dan jasa;
Perkotaan Weleri dengan fungsi dengan fungsi pusat pelayanan sebagai pusat
perdagangan dan jasa;
Perkotaan Sukorejo dengan fungsi pusat agropolitan, pertanian, peternakan dan
konservasi;
Perkotaan Boja dengan fungsi pusat pelayanan sebagai pusat kegiatan pertanian
penyangga agropolitan, perdagangan dan jasa.
3. PPK (Pusat Pelayanan Kawasan) ditetapkan di perkotaan Pegandondengan fungsi sebagai
penyangga perkotaan Kendal dan difokuskan sebagai pusat pelayanan kawasan yang ada di
sekitarnya. Ditetapkan sebagai PPK, dengan alasan Kecamatan Pegandon merupakan wilayah
tengah Kabupaten Kendal. PPK Pegandon ini memiliki wilayah pelayanan, melliputi: Kecamatan
Gemuh, Kecamatan Ringinarum, dan Kecamatan Ngampel.
4. PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan), yaitu wilayah – wilayah yang belum tercakup di dalam poin 1 sampai 4 diatas. PPL merupakan pengembangan fasilitas perkotaan berupa perdagangan
dan jasa, pendidikan, kesehatan, olah raga, dan peribadatan. PPL ini meliputi wilayah
Kecamatan Cepiring, Patebon, Gemuh, Rowosari, Kangkung, Pageruyung, Patean, Singorojo,
Limbangan, Kaliwungu Selatan, Brangsong, Plantungan, Ringinarum, dan Ngampel.
5.1.4 Rencana Sistem Prasarana Wilayah
5.1.4.1 Rencana Sistem Jaringan Transportasi
Rencana sistem jaringan transportasi di Kabupaten Kendal meliputi:
Rencana pembangunan jalan tol Semarang-Jakarta, melewati Kecamatan Weleri, Kecamatan Ringinarum, Kecamatan Gemuh, Kecamatan Pegandon, Kecamatan Ngampel, Kecamatan
Brangsong, Kecamatan Kaliwungu Selatan, dan Kecamatan Kaliwungu.
Jalan arteri di wilayah Kabupaten Kendal ditinjau dari status jalannya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: jalan nasional dan jalan provinsi. Jalan arteri tersebut adalah :
1. Jl. Semarang – Batang
2. Jl. Lingkar Utara Weleri – Batas Kota Kendal 3. Jl. Lingkar Utara Kaliwungu
4. Jl. Soekarno – Hatta ( Jl. Lingkar Bodri, Jalan Raya Barat, Jalan Raya Kendal, Jalan Raya Timur, Jalan Batas Kota Semarang – Batas Kota Kendal )
5. Jl. Ketapang – Kebon Harjo 6. Jl. Pemuda
7. Jl. Ketapang – Patebon
Jalan Kolektor yang dikembangkan meliputi jaringan jalan yang melewati Kecamatan Weleri – Gemuh - Pegandon - Ngampel - Kaliwungu Selatan dengan peningkatan dimensi jalan 15 m
dengan sirkulasi 2 jalur dengan masing-masing jalur terdiri dari 2 lajur. Selain itu juga
direncanakan kegiatan peningkatan jaringan jalan Kaliwungu – Kaliwungu Selatan- Boja – Mijen dan Weleri – Parakan serta peningkatan jaringan jalan Bawang - Sukorejo – Patean – Singorojo
Laporan Akhir
Jalanlokal primer di wilayah Kabupaten Kendal diarahkan pada jalan yang menghubungkan kawasan perkotaan dengan PPK, PPL, dan kawasan fungsional seperti kawasan perdagangan,
industri, pariwisata, dan perkantoran. Pengembangan jaringan jalan lokal primer ini meliputi:
1. Ketapang – Sukodono, Karangsari – Bandengan, Banyutowo – Ganyayom, 2. Sijeruk – Jotang, Kendal – Ketapang, Candiroto – Sudipayung,
3. Kumpulrejo – Sukolilan 4. Kendal – Kebondalem, 5. Kebondalem – Dampal,
6. Balok – Wonosari, Kebonharjo , 7. Wonosari, Bugangin – Purwokerto, 8. Bugangin – Jetis, Jetis – Bojonggede, 9. Tunggulrejo – Trompo, Jalan Habiproyo, 10. Kendal - TPI Bandengan,
11. Kendal - Bandengan (Jl. Laut),
12. Ketapang – Kebonharjo,
13. Jalan Waluyo, Jalan Notomudigdo,
14. Jalan Pahlawan II (Barat),
15. Jalan Lingkungan Pasar Kendal,
16. Jalur Lambat Barat Kendal,
17. Lanngenharjo - Sijeruk
18. Pekauman – Balok, Kalibuntu – Sijeruk, Sebatang – Kebondalem, 19. Jalan Taat, Jalan Pekauman, Jalan Griya Praja Mukti
20. Dampal – Magangan 21. Cepiring – Gemuh 22. Patebon – Pegandon 23. Pegandon - Magangan
Jaringan Rel Kereta Api. Saat ini Kabupaten Kendal dilewati jaringan rel kereta api yang beroperasi di sepanjang Jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) yang menghubungkan Jakarta – Semarang – Surabaya. Stasiun pengawasan terdapat di Kaliwungu, Pegandon, dan Weleri. Fungsi stasiun pengawasan adalah mengawasi perjalanan kereta api, sedangkan stasiun distrik
terdapat di Pegandon dan Weleri dengan fungsi mengawasan peralatan perkeretaapian.
Rencana pengembangan sistem jaringan rel kereta api, meliputi:
1. Pengembangan jalur Semarang – Jakarta
3. Pengembangan jaringan rel komuter, meliputi Jalur Brumbung – Semarang – Kendal – Tegal – Slawi dengan stasiun kedatangan dan keberangkatan dari Kaliwungu, Gemuh dan Weleri. Selain itu juga direncanakan pengembangan stasiun Kaliwungu untuk
mengakomodir penyelenggaraan kereta api komuter.
4. Peningkatan stasiun eksisting, meliputi 3 stasiun distrik di Kecamatan Kaliwungu,
Pegandon dan Weleri
5. Pembangunan rel Mangkang – Kawasan Industri Kabupaten Kendal
Jaringan Transportasi Laut. Pelabuhan Kendal direncanakan untuk pelabuhan niaga dari statusnya pelabuhan penyeberangan (ASDP). Adapun rute angkutan pelayaran yang
memungkinkan untuk di pusatkan di Pelabuhan Kendal antara lain: Kendal – Kumai , Kendal – Pontianak, Kendal – Banjarmasin, Kendal – Sampit dan Kendal Kendawanga. Selain itu juga dikembangkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), meliputi: Tawang, Bandengan, Tanggul Malang,
Sendang dan Sikucing.
5.1.4.2 Rencana Sistem Jaringan Energi
Pengembangan sistem jaringan energi/kelistrikan di Kabupaten Kendal direncanakan:
Pembangunan pembangkit listrik, yaitu berupa Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di Kecamatan Limbangan.
Pembangunan jaringan pipa gas bumi, meliputi jaringan Semarang – Cirebon yang melalui Kecamatan Rowosari, Kangkung, Cepiring, Patebon, Kendal, Brangsong dan Kaliwungu.
Pembangunan jaringan transmisi listrik, meliputi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dengan kapasitas 500 KVA dengan jalur membentang dari perbatasan Jawa Barat – Brebes – Pemalang – Semarang – Grobogan – Blora – Perbatasan Jawa Timur.
Penambahan dan perbaikan sistem jaringan listrik pada daerah-daerah yang belum terlayani.
Meningkatkan dan mengoptimalkan pelayanan listrik sehingga terjadi pemerataan pelayanan diseluruh wilayah daerah, sehingga dapat diasumsikan bahwa setiap kepala keluarga (KK)
akan memperoleh layanan jaringan listrik, sehingga tidak ada masyarakat yang belum terlayani.
Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana energi lainnya meliputi:
1. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Kecamatan Singorojo;
2. Tersedianya SPPBE (stasiun pengisian dan pengangkutan bulk elpiji) minimal di setiap
PKL yang ada dan di kabupaten kendal.
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kecamatan Patebon
Laporan Akhir
Pengembangan panas bumi gunung Ungaran.
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) meliputi : 1. Kecamatan Plantungan.
2. Kecamatan Pageruyung.
3. Kecamatan Limbangan.
5.1.4.3 Rencana Sistem Jaringan Telekomunikasi
Perkembangan jaringan telekomunikasi di Kabupaten Kendal perlu diantisipasi mengingat
perkembangan jumlah menara yang cukup pesat dan terlihat tidak memperhatikan kaidah pemanfaatan
ruang kota dan estetika kota. Untuk mengantisipasi perkembangan jumlah menara seluler maka perlu
aturan untuk memanfaatkan menara seluler secara bersama antara beberapa operator seluler yang ada
di Kabupaten Kendal dengan merujuk pada Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Bersama
Menara Telekomunikasi.Selain direncanakan penambahan sambungan telepon di Kabupaten Kendal
juga direncanakan:
Pengembangan jaringan terestrial berupa penggelaran serat optik yang menghubungkan jaringan serat optik dari dari Kota Tegal - Kabupaten Tegal - Kabupaten Pemalang – Kota Pekalongan – Kabupaten Pekalongan – Kabupaten Batang – Kabupaten Kendal – Kota Semarang – Kabupaten Demak – Kabupaten Kudus – Kabupaten Pati – Kabupaten Rembang.
Pembangunan jaringan layanan internet pada fasilitas umum di ibu kota kabupaten.
Pengembangan menara telekomunikasi bersama diarahkan pada upaya bersama dalam rangka efisiensi ruang, sesuai rencana penataan menara bersama telekomunikasi yang ditetapkan
dengan Peraturan Bupati
peningkatan kapasitas sambungan telepon pada kawasan perdagangan dan jasa, industri, fasilitas umum dan sosial, terminal, permukiman dan kawasan yang baru dikembangkan
5.1.4.4 Rencana Sistem Jaringan Prasarana Bidang Cipta Karya
A. Identifikasi Kebutuhan Infrastruktur
Kebutuhan infrastruktur bidang PU Cipta Karya di Kabupaten Kendal meliputi:
a. Infrastruktur yang mendukung pengembangan kawasan permukiman
Infrastruktur yang mendukung pengembangan permukiman meliputi jaringan jalan poros/utama
dan jalan lingkungan permukiman beserta jaringan drainase pendukungnya pada kawasan
permukiman perkotaan dan kawasan permukiman perdesaan. Kawasan permukiman
perkotaan terdapat pada kawasan perumahan RSH, kawasan permukiman kumuh perkotaan.
merupakan kawasan KTP2D maupun kawasan agropolitan, serta kawasan permukiman pada
daerah rawan bencana. Selain itu, pengembangan kawasan permukiman juga membutuhkan
dokumen perencanaan yang menyeluruh dan terpadu sebagai suatu grand desain strategi
pengembangan permukiman khususnya permukiman perkotaan. Dokumen perencanaan
tersebut berupa Strategi Pembangunan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan (SPPIP) dan
Rencana Pembangunan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP).
b. Infrastruktur yang mendukung penataan bangunan dan lingkungan
Infrastruktur yang mendukung penataan bangunan dan lingkungan di wilayah Kabupaten
Kendal meliputi: PSD ruang terbuka hijau, PSD penanggulangan kebakaran, PSD revitalisasi
kawasan, dan PSD kawasan permukiman tradisional/bersejarah. Wujud fisik dari prasarana
sarana dasar (PSD) tersebut adalah bangunan, pedestrian, taman, dan jaringan jalan dan
drainase lingkungan. Selain itu, penataan bangunan dan lingkungan juga membutuhkan
dokumen perencanaan yang menyeluruh dan terpadu sebagai suatu grand desain strategi
peningkatan kualitas lingkungan perkotaan. Dokumen perencanaan tersebut berupa Rencana
Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) dan Rencana Tindak Penataan Kawasan.
c. Infrastruktur yang mendukung penyehatan lingkungan permukiman
Infrastruktur yang mendukung penyehatan lingkungan permukiman meliputi: jaringan drainase
primer, infrastruktur air limbah sistem terpusat, infrastruktur air limbah sistem komunal,
infrastruktur TPA Sampah, dan infrastruktur tempat pengolahan sampah terpadu/3R. Wujud
fisik dari infrastruktur tersebut adalah bangunan pengolah sampah, jaringan drainase, dan
bangunan pengolah air limbah. Selain itu, penyehatan lingkungan permukiman juga
membutuhkan dokumen perencanaan yang menyeluruh dan terpadu sebagai suatu grand
desain strategi penyehatan lingkungan permukiman khususnya permukiman perkotaan.
Dokumen perencanaan tersebut berupa Strategi Sanitasi Kota (SSK) dan Buku Putih Sanitasi.
d. Infrastruktur yang mendukung pengembangan air minum
Infrastruktur yang mendukung pengembangan air minum meliputi: jaringan sistem penyediaan
air minum di kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan. Wujud fisik dari jaringan tersebut
adalah bangunan pengolah air, jaringan perpipaan transmisi, dan jaringan perpipaan distribusi.
Kawasan yang membutuhkan infrastruktur air minum meliputi kawasan ibukota kecamatan,
kawasan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) baik yang berada di RUSUNAWA
maupun kawasan kumuh, kawasan desa rawan air, dan kawasan pelabuhan perikanan. Selain
itu, pengembangan air minum kawasan permukiman juga membutuhkan dokumen
perencanaan yang menyeluruh dan terpadu sebagai suatu grand desain strategi
Laporan Akhir
Penyediaan Air Minum (RI-SPAM) dan Detail Enginering Desain (DED) jaringan air minum
perpipaan.
B. Rencana Pengembangan Infrastruktur
a. Sistem Penyediaan Air Minum
Sumber air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi penduduk di Kabupaten Kendal.
Pengadaan penyediaan air bersih di Kabupaten Kendal saat ini sebagian dikelola oleh PDAM,
sedangkan beberapa dari penduduk di Kabupaten Kendal memenuhi kebutuhan akan air bersih
melalui sumur gali (terutama musim hujan) dan mengambil air dari beberapa sumber mata air.
Sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan penduduk di Kabupaten Kendal
sebagian besar sudah dikelola oleh PDAM cabang Kendal yang terdapat di Sukorejo,
Plantungan, Singorojo, Limbangan, Boja, Pageruyung dan Patean.
Pelayanan PDAM di Kabupaten Kendal sampai saat ini hanya terbatas pada baberapa
Kecamatan, yaitu Sukorejo, Plantungan, Patean, Boja, Kaliwungu, Brangsong, Weleri, Cepiring,
Patebon dan Kota Kendal. Kebutuhan air bersih diharapkan mampu memenuhi seluruh
penduduk di tiap kecamatan di Kabupaten Kendal, yaitu sebanyak 951.388 jiwa sebesar
5.761.532 M3.
Kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Kendal saat ini dipenuhi melalui jaringan
perpipaan dari PDAM dan sumber air tanah. Hal ini mengingat potensi sumber air yang ada di
wilayah Kabupaten Kendal terutama di bagian selatan. Salah satu upaya yang telah
dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dalam penyediaan kebutuhan air yang layak adalah
melalui jaringan PDAM di beberapa kota.
Rencana penyediaan air bersih Kabupaten Kendal hingga akhir tahun perencanaan mencapai
1.165.134.992 liter. Penyediaan air bersih hingga akhir tahun perencanaan ini bila dibandingkan
dengan kondisi pelayanan air bersih yang ada saat ini memang sangat jauh, hal ini disebabkan
pelayanan ai r bersih perpipaan yg terdata saat ini hanya pelayanan oleh PDAM. Kekurangan
penyediaan air bersih direncanakan dengan memanfaatkan mata air dengan sistem perpipaan
yang dikelola oleh warga masyarakat masing-masing. Sedangkan untuk pemanfaatan air tanah
dengan menggunakan sumur perlu dibatasi mengingat Kabupaten Kendal yang berada di
wilayah pesisir sangat rawan terjadi land subsidence yang salah satu penyebabnya karena
b. Sistem Pengelolaan Air Limbah
Sampai saat ini Kabupaten Kendal belum memiliki sistem jaringan penyaluran air limbah
perpipaan maupun instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Prasarana yang digunakan dalam
pengelolaan air limbah antara lain berupa jamban keluarga, MCK dan saluran terbuka. Air
limbah yang ditangani oleh masyarakat/rumah tangga terbatas pada pembuangan dari
WC/jamban keluarga dengan ditampung dalam tangki septik atau cubluk maupun pembuangan
langsung ke saluran atau sungai terdekat tanpa melalui tangki septik atau cubluk. Air bekas
dapur dan kamar mandi disalurkan ke saluran drainase, sungai atau dibuang ke lahan
kosong/persawahan.
Melihat kondisi tersebut, maka perlu adanya perbaikan dalam konstruksi tangki septik dan
cubluk yang ada. Pada tangki septik dibangun bidang resapan dan pipa udara sedang pada
dinding cubluk dibuat lapisan kerikil dan pasir yang dapat menyaring air rembesan sehingga
tidak mencemari sumur dangkal yang ada disekitar. Pembangunan tangki septik atau cubluk
harus berjarak minimal 10 meter dari sumur terdekat, hal ini untuk menghindari pencemaran
bibit penyakit terhadap sumur.
Bagi penduduk yang terbiasa membuang air limbahnya ke saluran drainase atau sungai, harus
ditiadakan secara perlahan dengan memberikan penyuluhan terus menerus mengenai adanya
bibit penyakit yang dapat ditularkan melalui air sehingga membahayakan kesehatan
masyarakat. Disamping itu melalui penyuluhan diharapkan penduduk yang belum memiliki
tangki septik atau cubluk dapt membangunnya untuk melengkapi jamban yang telah ada.
Dari hasil perhitungan proyeksi timbulan air limbah di Kabupaten Kendal hingga akhir tahun
perencanaan (2030) diperkirakan sebesar 125.150.304 liter. Timbulan air limbah ini perlu
diantisipasi dengan penyediaan saluran air limbah yang terkoneksi dari saluran tersier hingga
saluran primer. Sampai sekarang saluran air limbah di Kabupaten Kendal masih menyatu
dengan saluran drainase. Sedangkan untuk penanganan air limbah perlu direncanakan dengan
pembangunan IPAL dan IPAL komunal serta penerapan teknologi sehingga lebih efektif dan
efisien.
Sistem prasarana air limbah yang direncanakan diterapkan di Kabupaten Kendal adalah:
1. Sistem Setempat (On-site Sanitation) dengan menggunakan cubluk individual, cubluk
komunal (MCK) dan tangki septik yang dilengkapi bidang resapan, untuk :
Kepadatan penduduk < 200 jiwa/ha
Merupakan daerah dengan tingkat pendapatan rendah sampai menengah
Penyediaan air bersih sebagian dilayani oleh PDAM dan sumur dangkal
Laporan Akhir
Kedalaman muka air tanah antara 2 – 5 m dibawah permukaan tanah
Jumlah unit on-site yang diperlukan diperkirakan sesuai dengan jumlah rumah dan
pelayanan terhadap penduduk, dimana setiap rumah harus memiliki fasilitas tersebut.
Penduduk yang tidak mampu mengadakan fasilitas MCK, diatasi dengan menyediakan
fasilitas MCK bersama dan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) komunal/bersama.
2. Sistem Terpusat (Off-site Sanitation), pengolahan dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah. Diterapkan untuk :
Rumah-rumah yang sudah dilayani oleh PDAM
Kepadatan penduduk > 200 jiwa/ha
Tingkat pendapatan masayarakat sedang hingga tinggi
Kedalaman muka air tanah antara 2 – 5 meter dari permukaan tanah
Daya serap tanah (permeabilitas tanah) antara 60 – 120 L/m2/hari
Jenis sarana air limbah yang diperlukan ditentukan berdasarkan kepadatan penduduk,
sumber air yang digunakan penduduk, daya resap tanah, kedalaman muka air tanah,
kemiringan tanah, ketersediaan lahan dan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat
pemakai.
3. Pembangunan instalasi pengolahan limbah B3, terutama pada kawasan industri;
4. Penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas aparat pengelola air limbah;
5. Pengembangan alternatif pembiayaan.
c. Sistem Pengelolaan Sistem Drainase
Kondisi wilayah Kabupaten Kendal mempunyai topografi yang bervariasi mulai dari dataran
tinggi, perbukitan, dataran rendah dengan pola aliran air sejajar menuju ke pantai utara laut
jawa. Kondisi tersebut sangat rawan terhadap bahaya banjir, terutama pada wilayah daerah
cekungan disamping dengan daerah tangkapan air (catchment area). Selain itu, apabila banyak
dilakukan pembangunan dengan perkerasan yang semakin mengurangi daerah tangkapan
serta pendangkalan sungai akan semakin memperbesar kemungkinan terjadinya banjir di
wilayah ini. Jaringan drainase di Kabupaten Kendal direncanakan dikembangkan melalui dua
model, yaitu sistem konvensional dan sistem ekodrainase.
1. Sistem Konvensional
Jaringan drainase di Kabupaten Kendal secara konvensional direncanakan terdiri dari
jaringan drainase primer, sekunder dan tersier. Jaringan drainase primer direncanakan
dilakukan pada saluran-saluran tepi jalan utama dan beberapa saluran tepi jalan yang
dialirkan menuju ke saluran primer, sedangkan untuk saluran tersier dikembangkan pada
saluran-saluran dari rumah tangga menuju ke saluran tepi jalan.
Rencana perbaikan saluran drainase di Kabupaten Kendal perlu dikembangkan melalui
perkerasan, terutama pada saluran tepi jalan. Pola terasering pada penyusunan dan
pembangunan saluran drainase diperlukan mengingat Kabupaten Kendal memiliki kondisi
topografi berbukit-bukit dengan pola aliran air dan koefisien run off cukup tinggi.
2. Sistem Ekodrainase
Konsep pengembangan sistem ekodrainase dapat disebut sebagai konsep
pengembangan drainase ramah lingkungan yang didefinisikan sebagai upaya mengelola
air kelebihan dengan cara sebesar-besarnya diresapkan ke dalam tanah secara alamiah
atau mengalirkan ke sungai dengan tanpa melampaui kapasitas sungai sebelumnya.
Konsep drainase ramah lingkungan dilakukan agar air kelebihan pada musim hujan harus
dikelola sedemikian sehingga tidak mengalir secepatnya ke sungai, namun diusahakan
meresap ke dalam tanah, guna meningkatkan kandungan air tanah untuk cadangan pada
musim kemarau.
Tujuan dari penerapan sistem ekodrainase di Kabupaten Kendal dilakukan, sebagai upaya
untuk menanggulangi proses pembuangan air genangan secara cepat dari saluran tersier
ke saluran sekunder dan menuju ke saluran primer pada sistem drainase konvensional.
Pengaliran air secara cepat menuju ke saluran-saluran primer akan menyebabkan
penurunan kesempatan air untuk meresap ke dalam tanah. Hal ini akan berdampak pada
pengurangan cadangan air tanah, kekeringan pada musim kemarau, tanah longsor dan
penumpukan beban air pada daerah hilir (saluran primer) yang meyebabkan terjadinya
banjir terutama pada musim penghujan.
Rencana pengembangan drainase melalui konsep sistem ekodrainase di Kabupaten
Kendal dilakukan melalui pembuatan kolam konservasi, metode sumur resapan, metode
river side polder, dan metode pengembangan areal perlindungan air tanah (ground water
protection area).
3. Metode Kolam Konservasi
Metode kolam konservasi dilakukan dengan membuat kolam-kolam air, baik di daerah
perkotaan, permukiman, pertanian, atau perkebunan di Kabupaten Kendal. Kolam
konservasi dibuat untuk menampung air hujan terlebih dahulu, diresapkan dan sisanya
dapat dialirkan ke sungai secara perlahan-lahan. Kolam konservasi dapat dibuat dengan
Laporan Akhir
lainnya, atau secara ekstra dibuat dengan menggali suatu areal tertentu. Kolam konservasi
dapat berupa rawa, danau kecil, telaga, kolam dan sebagainya.
Rencana jaringan drainase dengan metode kolam konservasi dilakukan melalui proses
pemeliharaan dan pengalokasian kolam konservasi pada beberapa tempat tertentu.
Pengembangan konsep ekodrainase untuk areal pertanian dan perkebunan di Kabupaten
Kendal tentunya perlu direncanakan melalui pembuatan parit-parit (kolam) konservasi air
hujan. Parit ini sangat penting untuk cadangan air musim kemarau sekaligus meningkatkan
konservasi air hujan di daerah hulu, serta meningkatkan daya dukung ekologi daerah
setempat. Konstruksi parit cukup sederhana, berupa galian tanah memanjang atau
membujur di beberapa tempat tanpa pasangan. Pada parit tersebut sekaligus bisa
dijadikan tempat budidaya ikan dan lain-lain.
4. Metode Sumur Resapan
Pengembangan metode sumur resapan merupakan rencana praktis dengan cara membuat
sumur-sumur untuk mengalirkan air hujan yang jatuh pada atap perumahan atau kawasan
di Kabupaten Kendal. Sumur resapan dapat dikembangkan pada areal olahraga dan
wisata, sedangkan konstruksi dan kedalaman sumur resapan disesuaikan dengan kondisi
lapisan tanah setempat. Sumur resapan hanya dikhususkan untuk air hujan, sehingga
tidak diizinkan memasukkan air limbah rumah tangga ke dalam sumur resapan.
5. Metode River Side Polder
Rencana penerapan metode river side polder di Kabupaten Kendal dilakukan untuk
menahan aliran air dengan mengelola/menahan air kelebihan (hujan) di sepanjang
bantaran sungai. Pembuatan polder pinggir sungai-sungai di Kabupaten Kendal dilakukan
dengan memperlebar bantaran sungai di berbagai tempat secara selektif di sepanjang
sungai.
Lokasi polder perlu dicari, sejauh mungkin polder yang dikembangkan mendekati kondisi
alamiah, dalam arti bukan polder dengan pintu-pintu hidraulik teknis dan tanggul-tanggul
lingkar hidraulis yang mahal. Pada saat muka air naik (banjir), sebagian air akan mengalir
ke polder dan akan keluar jika banjir reda, sehingga banjir di bagian hilir dapat dikurangi
dan konservasi air terjaga.
6. Metode Areal Perlindungan Air Tanah
Metode areal perlindungan air tanah dilakukan dengan cara menetapkan kawasan lindung
untuk air tanah, dimana pada kawasan tersebut dikhususkan untuk meresapkan air hujan
ke dalam tanah. Di Kabupaten Kendal perlu sesegara mungkin dicari lokasi-lokasi yang
sekaligus sebagai bagian penting dari komponen drainase kawasan. Pengadaan tanaman
yang membantu penyerapan pada kawasan resapan air sangat diperlukan
keberadaannya. Pengembangan areal perlindungan air tanah dapat dilakukan dengan
memperhatikan rencana pengembangan dan kondisi eksisting kawasan lindung di
Kabupaten Kendal, khususnya kawasan lindung untuk resapan air dan kawasan sekitar
mata air.
Namun pengembangan konsep tersebut diatas memerlukan studi lebih lanjut mengenai
penentuan dan kelayakan lokasi, pemilihan metode yang relevan dengan kondisi eksisting,
dampak positif maupun negatif dari penerapan konsep tersebut, konstruksi, desain,
kebutuhan dana, persepsi dan preferensi masyarakat serta sistem manajemen dan
pengelolaan maupun operasional.
Perencanaan sistem drainase untuk Kabupaten Kendal adalah meliputi:
a. Pengembangan sistem pematusan pada jalan arteri dan kolektor primer yang terdapat
pada desa-desa pusat perkotaan dan pada pusat permukiman;
b. Perbaikan teknis prasarana drainase dengan cara normalisasi saluran, rehabilitasi
saluran, penambahan saluran baru, dan pembangunan bangunan-bangunan dan
bangunan penunjang prasarana drainase; dan
c.Peningkatan koordinasi pengelolaan saluran drainase pada saluran drainase permanen
di kawasan perkotaan, baik yang terbuka maupun yang tertutup.
d. Peningkatan pelibatan stakeholder dalam pengananan saluran drainase;
e. Pengembangan alternatif pembiayaan.
d. Sistem Persampahan
Jumlah TPA yang terdapat di Kabupaten Kendal berjumlah 4 buah, yaitu TPA Darupono
memiliki luas 0,90 Ha terletak di Desa Darupono Kecamatan Kaliwungu Selatan dengan
kapasitas 52.000 liter/hari yang saat ini sudah penuh, TPA Jatirejo memiliki luas 1,30 Ha
terletak di Desa Jatirejo Kecamatan Ngampel dengan kapasitas 54.000 liter/hari yang saat ini
juga sudah penuh, TPA Pager Gunung memiliki luas 1,80 Ha terletak Desa Pager Gunung
dengan kapasitas 34.000 liter/hari yang saat ini kondisi terisi sedang, dan TPA Pageruyung di
Desa Pageruyung Kecamatan Pageruyung. Ketiga TPA di Kabupaten Kendal dalam kondisi
sudah penuh. Penanganan sampah di lokasi TPA direncanakan ditingkatkan dengan
menggunakan metode sanitary landfill.
Proyeksi timbulan sampah hingga akhir tahun perencanaan (2030) sebanyak 2.182 m3 yang
Laporan Akhir
timbulan sampah hingga akhir tahun perencanaan memang masih mencukupi untuk ditampung
di 4 (empat) TPA di Kabupaten Kendal. Namun perlu diantisipasi sistem pengelolaan TPA yang
harus ditingkatkan dari open dumping menjadi sanitary landfill. Selain itu juga perlu pengelolaan
sampah berbasis masyarakat dengan memanfaatkan sampah organik maupun non organik
menjadi barang yang lebih bernilai ekonomis bagi masyarakat.
Perencanaan bidang persampahan di Kabupaten Kendal adalah:
Optimalisasi pemanfaatan TPA berada di Darupono,Jatirejo dan Pageruyung;
Penerapan sistem sanitary landfill beserta sarana dan prasarana penunjang di TPA yang
melayani Kabupaten Kendal;
Pembangunan bangunan pengolah sampah 3R (reuse, reduce, recycle) untuk
mengurangi masukan sampah ke TPA.
Peningkatan peranserta masyarakat dan swasta/dunia usaha dalam penyelenggaraan
pengembangan sistem pengelolaan persampahan; dan
Pengembangan alternatif pembiayaan
C. Indikasi Program Infrastruktur
Indikasi program infrastruktur mengacu pada dokumen RTRW Kabupaten Kendal Tahun
2010-2030. Indikasi program dimaksudkan untuk mewujudkan rencana struktur ruang wilayah kabupaten
khususnya pada rencana pengembangan sistem prasarana wilayah. Beberapa indikasi program yang
terkait dengan bidang keciptakaryaan adalah sebagai berikut.
a. Revisi Master Plan Penyediaan Air Minum Kabupaten Kendal
b. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Air limbah Kabupaten Kendal
c. Pembangunan IPAL dan IPAL komunal
d. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Sistem Drainase Kabupaten Kendal
e. Penyusunan Master Plan Sistem Persampahan Kabupaten Kendal
f. Pembangunan TPA
g. Peningkatan dan pembangunan sarana prasarana permukiman perkotaan (program
pengembangan perumahan & infrastruktur) di Kec. Ringinarum, Gemuh, Pegandon, Ngampel
h. Peningkatan sarana prasarana permukiman perdesaan (program pengembangan perumahan &
5.1.5 Rencana Pola Ruang Wilayah
5.1.5.1 Rencana Kawasan Lindung
Rencana kawasan lindung di Kabupaten Kendal meliputi:
1. Kawasan hutan lindung, Lokasi kawasan hutan lindung di Kabupaten Kendal adalah di
sebagian Kecamatan Limbangan, sebagian Kecamatan Plantungan, Singorojo dan sebagian
Kecamatan Sukorejo dengan luas kurang lebih 1.703 Ha.
2. Kawasan lindung yang dikelola oleh masyarakat, Lokasi kawasan hutan rakyat terdapat di
sebagian Kecamatan Limbangan, sebagian Kecamatan Plantungan, sebagai Kecamatan Boja,
dan sebagian Kecamatan Sukorejo.
3. Kawasan resapan air, lokasinya terdapat di Sekitar kawasan hutan lindung di wilayah
Kabupaten Kendal bagian selatan, yaitu sebagian Kecamatan Limbangan dan sebagian
Kecamatan Sukorejo dengan luas kurang lebih 17.876 Ha.
4. Kawasan Sempadan Pantai, lokasinya terdapat di sepanjang wilayah pesisir Kabupaten Kendal
yang meliputi: Kecamatan Kaliwungu, Brangsong, Kota Kendal, Patebon, Cepiring, Kangkung,
dan Rowosari dengan luas kurang lebih 802 Ha.
5. Kawasan Sempadan Sungai, lokasinya terdapat di kawasan sepanjang kanan dan kiri sungai
sekurang-kurangnya 50 m - 100 m dari tepi sungai, yaitu: sungai Bodri, sungai Aji/Slembang,
sungai Blukar, sungai Kuto, sungai Kendal, sungai Glodok, sungai Waridin, sungai Buntu, dan
sungai Bulawan/Pening dengan luasan kurang lebih 10.408 Ha.
6. Ruang Terbuka Hijau, berupa taman kota meliputi Alun-Alun Kota Kendal dan ruang terbuka
hijau di masing-masing kecamatan dengan luasan kurang lebih 30% dari luas perkotaan yaitu
luasnya kurang lebih 2.683 Ha.
7. Cagar Alam, Cagar alam Pager Wunung Darupono di Kecamatan Kaliwungu Selatan seluas
kurang lebih 33 Ha. Dan kawasan pantai berhutan mangrove yang berada di Kecamatan
Rowosari, Kecamatan Kangkung, Kecamatan Cepiring, Kecamatan Patebon, Kecamatan
Kendal, Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kaliwungu dengan luas kurang lebih 92 Ha.
8. Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan, lokasinya meliputi:
Cagar budaya dan ilmu pengetahuan berupa situs Batu Seloarjuno di Desa Kedungboto Kecamatan Limbangan dan Situs Gonoharjo di Kecamatan Sukorejo.
Cagar budaya candi Gunung Gentong
Cagar budaya gereja berupa Gereja Katholik di Kecamatan Sukorejo.
Laporan Akhir
9. Kawasan Lindung Geologi, kawasan lindung geologi yang ada di Kabupaten Kendal adalah
kawasan imbuhan air. Kawasan imbuhan air seluas 17.876 Ha meliputi: sebagian Kecamatan
Limbangan, sebagian Kecamatan Singorojo dan sebagian Kecamatan Boja.
10.Kawasan Rawan Bencana, meliputi:
Bencana Tanah Longsor, Kawasan rawan longsor terjadi di 10 (sepuluh) kecamatan di Kabupaten Kendal, yaitu: sebagian kecil Kecamatan Pageruyung (Desa Kebon
Gembong, Surokonto Wetan, dan Parakan Sebaran), sebagian kecil Kecamatan
Plantungan (Desa Mojoagung dan Tlogopayung), sebagian kecil Kecamatan Weleri
(Desa Sidomukti dan Nawangsari), sebagian Kecamatan Gemuh (Desa Gemuh Blanten,
Sedayu, Galih, Sojomerto, dan Triharjo), sebagian kecil Kecamatan Kangkung (Desa
Tanjungmojo dan Lebosari), sebagian kecil Kecamatan Sukorejo (Desa Tamanrejo dan
Gentinggunung), sebagian Kecamatan Kaliwungu (Desa Nolokerto, Limbangan,
Pagertoyo, Ngesrebalong, Gondang, Pagerwojo, Jawisari, Tabet, Peron, Tambahsari,
Pakis, dan Gonoharjo), sebagian kecil Kecamatan Kaliwungu Selatan (Desa
Kedungboto) sebagian kecil Kecamatan Cepiring (Desa Korowelangkulon), sebagian
kecil Kecamatan Patebon (Desa Lanji), sebagian kecil Kecamatan Singorojo (Desa
Cening, Sukodadi, Kaliputih, Getas), sebagian Kecamatan Limbangan, sebagian
Kecamatan Patean, dan sebagian Kecamatan Sukorejo. Kawasan rawan longsor ini
memiliki luas kurang lebih 26.620 Ha
Bencana Banjir, kawasan rawan banjir di Kabupaten Kendal terdapat di 11 (sebelas) kecamatan, yaitu: sebagian Kecamatan Kendal (Kelurahan Pegulon, Langenharjo,
Pekauman, Ngilir, Kalibuntun Wetan, Ketapang, Bugangin, Balok, Sukodono,
Patukangan, Candiroto, Karangsari, Kebondalem, Bandengan, dan Trompo), sebagian
Kecamatan Patebon (Desa Lanji, Purwosari, Pidodowetan, Margosari, Donosari,
Sukolilan, Bangunrejo, Kumpulrejo, Purwokerto, Tambakrejo, Bulugede, dan
Kebonharjo), sebagian Kecamatan Ngampel (Desa Banyu Urip, Ngampel Kulon,
Dempelrejo, dan Rejosari), sebagian Kecamatan Kaliwungu (Desa Sumberejo,
Nolokerto, Sarirejo, Karang Tengah, Kumpulrejo, Mororejo, Wonorejo, Krajan Kulon, dan
Kutoharjo), sebaian Kecamatan Brangsong (Desa Kebonadem, Brangson, Rejosari,
Purwokerto, dan Turunrejo), sebagian Kecamatan Cepiring (Desa Sidomulyo, Botomulyo,
Juwiring, Podosari, Kaliayu, dan Karandugede), sebagian Kecamatan Kangkung (Desa
Kangkung, Lebosari, Tanjungmojo, Kaliyoso, Sendang Dawuhan, Sendang Kulon, dan
Jungsemi), sebagian Kecamatan Rowosari (Desa Pojoksari, Randusari, Karangsari,
(Desa Kebon Gembong), sebagian Kecamatan Pegandon (Desa Karangmulyo dan
Penanggulan), dan sebagian Kecamatan Singorojo (Desa Taruman dan Kaliputih).
Kawasan rawan banjir ini memiliki luasan kurang lebih 16.539 Ha.
Bencana Abrasi, Abrasi terjadi di sepanjang pesisir pantai Kabupaten Kendal yang meliputi: Kecamatan Kaliwungu, Brangsong, Kendal, Patebon, Cepiring, Kangkung, dan
Rowosari.
11.Kawasan Lindung Plasma Nutfah, Kawasan perlindungan plasma nutfah di daratan terdapat
di Kecamatan Limbangan, Kecamatan Plantungan, Kecamatan Sukorejo, dan Kecamatan
Kaliwungu Selatan dengan luas kurang lebih 1.736 Ha. Kawasan perlindungan plasma nutfah
di lautan terdapat di wilayah pesisir Kabupaten Kendal meliputi: Kecamatan Rowosari,
Kecamatan Kangkung, Kecamatan Cepiring, Kecamatan Patebon, Kecamatan Kendal,
Kecamatan Brangsong dan Kecamatan Kaliwungu.
5.1.5.2 Rencana Kawasan Budidaya
Rencana kawasan budidaya di Kabupaten Kendal meliputi:
1. Kawasan hutan produksi, Lokasi hutan produksi terbatas terdapat di sebagian Kecamatan
Limbangan, sebagian Kecamatan Sukorejo, sebagian Kecamatan Plantungan, dan sebagian
kecil Kecamatan Singorojo dengan luas hutan sebaesar 1.181,8 Ha. Lokasi hutan produksi
tetap terdapat di Kecamatan Limbangan, Kecamatan Singorojo, Kecamatan Kaliwungu Selatan,
Kecamatan Ringinarum, sebagian kecil Kecamatan Boja, sebagian kecil Kecamatan
Pagerruyung, sebagian kecil Kecamatan Weleri, sebagian kecil Kecamatan Plantungan,
sebagian kecil Kecamatan Kaliwungu, dan sebagian kecil Kecamatan Sukorejo denga luas
hutan sebesar 15.225 Ha
2. Kawasan hutan rakyat, Lokasi hutan rakyat terdapat di sebagian Kecamatan Limbangan,
sebagian Kecamatan Singorojo, sebagian Kecamatan Kaliwungu Selatan, sebagian Kecamatan
Ringinarum, sebagian Kecamatan Boja, sebagian Kecamatan Pageruyung dan sebagian
Kecamatan Weleri, sebagian Kecamatan Plantungan, sebagian Kecamatan Kaliwungu,
sebagian Kecamatan Gemuh dan sebagian Kecamatan Sukorejo.
3. Kawasan Pertanian, lokasi lahan pertanian pangan berkelanjutan berada di Sebagian
Kecamatan Rowosari, Kangkung, Cepiring, Patebon, Kota Kendal, Brangsong, Kaliwungu,
Ngampel, Pegandon, Gemuh, Weleri, Sukorejo, Limbangan, Singorojo, Boja, Patean,
Plantungan dan Ringinarum. Kawasan pertanian lahan pangan ini memiliki luasan kurang lebih
22.600 Ha. Lokasi kawasan hortikultura berada di Sebagian Kecamatan Rowosari, Kangkung,
Laporan Akhir
Selatan, Gemuh, dan Pegandon dengan luas kurang lebih 5.723 Ha. Lokasi kawasan
perkebunan berada di sebagian Kecamatan Limbangan, Boja, Singorojo, Patean, Pagerruyung,
Plantungan, Sukorejo, dan Ngampel dengan luas kurang lebih 20.135 Ha. Lokasi kawasan
peternakan meliputi:
Sapi, kerbau dan kuda meliputi Kecamatan Sukorejo, Pageruyung, Plantungan, Patean, Singorojo, Limbangan, Boja, Kaliwungu Selatan, Gemuh, Pegandon, dan Patebon.
Kambing, domba dan ayam buras tersebar di seluruh kecamatan.
Kelinci meliputi Kecamatan Cepiring, Plantungan, Limbangan, Gemuh, Boja, Pageruyung, Kaliwungu Selatan dan Patean.
Ayam ras meliputi Kecamatan Pageruyung, Plantungan, Sukorejo, Patean, Singorojo, Kaliwungu Selatan, Limbangan, Boja, dan Pegandon.
Itik meliputi Kecamatan Rowosari, Kangkung, Cepiring, Patebon, Brangsong, Kaliwungu, Kendal dan Boja
Kawasan perikanan tangkap berada di sepanjang pantai, terutama daerah pantai yang
memiliki potensi kandungan ikan yang cukup banyak, yaitu: Kecamatan Rowosari, Kangkung,
Cepiring, Patebon, Kendal, Brangsong, dan Kaliwungu dengan luas kurang lebih 1.582 Ha dan
jarak kurang lebih 4 mil laut. Sedangkan kawasan perikanan budidaya tambak berada di
Kecamatan Rowosari, Kecamatan Kangkung, Kecamatan Cepiring, Kecamatan Patebon,
Kecamatan Kendal, Kecamatan Brangsong, dan Kecamatan Kaliwungu dengan luas kurang
lebih 3.531,542 Ha
4. Kawasan Pertambangan, Kawasan pertambangan mineral terdapat kawasan Pantai Muara
Kencan Desa Pidodo Kulon Kecamatan Patebon dan dikawasan Pantai Ngeboom desa
Mororejo Kecamatan Kaliwungu. Minyak bumi dengan skala kecil yang dimanfaatkan
masyarakat di Dusun Klantung Desa Sojomerto Kecamatan Gemuh, Desa Kalices Kecamatan
Patean, dan Desa Plantungan Kecamatan Plantungan. Panas bumi terletak di Kecamatan
Limbangan dan Kecamatan Kaliwungu. Sumur tua/ Marjinal di Desa Sojomerto Kecamatan
Gemuh sebanyak 19 buah, Desa Kalices Kecamatan Patean sebanyak 10 buah dan Desa
Plantungan Kecamatan Plantungan sebanyak 4 buah.
5. Kawasan Peruntukan Industri, Kawasan Industri direncanakan di Kecamatan Kaliwungu dengan
luas 2.260 Ha.
6. Kawasan Pariwisata, Peruntukan pariwisata budaya dan religi terdapat di Kecamatan
Kaliwungu Selatan (Makam Pangeran Jumirah dan Makam Sunan Katong), Kecamatan Boja
(Makam Nyai Dapu dan Makam Sunan Bromo), Kecamatan Limbangan (Situs Batu Seloarjuno
terdapat di Kecamatan Kangkung (Pantai Sendangkulon, Pantai Jungsemi, dan Panti
Tanjungmojo), Kecamatan Rowosari (Pantai Sendangsikucing), Kecamatan Ringinarum (Wana
Wisata), Kecamatan Plantungan (Curug Semawur, Tuk Air Hangat Tirtomoyo), Kecamatan
Patean (Curug Sewu), Kecamatan Singorojo (Goa Kiskendo dan Bendung Singorojo), dan
Kecamatan Limbangan (Air Panas Gonoharjo, Goa Jepang, Air Terjun Panglebur Gongso)
serta Kecamatan Cepiring (Pantai Muara Kencan). Peruntukan pariwisata buatan terdapat di
Kecamatan Patean (Plantera), Kecamatan Sukorejo (Agrowisata Ngadiwarno), Kecamatan
Patean (Agrowisata Ngebruk), Kecamatan Weleri (Wisata Kuliner Pemancingan), Kecamatan
Kaliwungu Selatan (Agrowisata Darupono, Kedungsuren, dan Jerukgiling), serta Kecamatan
Rowosari (Pantai Cahaya/Atraksi Lumba-lumba).
7. Kawasan permukiman, Kawasan permukiman kota meliputi batas fisik Kota Kendal dan Ibukota
Kecamatan (IKK) di Kabupaten Kendal, yaitu: IKK Kendal, IKK Kaliwungu, IKK Weleri, IKK Boja,
dan IKK Sukorejo dengan luas kurang lebih 8.734 Ha. Sedangkan kawasan permukiman
perdesaan meliputi batas fisik permukiman di luar perkotaan Kendal, di luar IKK Boja, Sukorejo,
Weleri dan Kaliwungu dengan luas kurang lebih 10.132 Ha.
5.1.6 Rencana Kawasan Strategis Kabupaten
Kawasan strategis yang berada di wilayah Kabupaten Kendal meliputi:
1. Kawasan Strategis Nasional, yaitu kawasan perkotaan kendal sebagai bagian dari kawasan
strategis nasional KEDUNGSEPUR. Peran dan fungsi kawasan KEDUNGSEPUR adalah pusat
pelayanan ekonomi strategis dan pengembangan industri.
2. Kawasan strategis provinsi, meliputi:
Wilayah Kabupaten Kendal sebagai kawasan strategis ekonomi dalam lingkup Provinsi Jawa Tengah. Peran dan fungsi wilayah kabupaten adalah pusat pelayanan ekonomi
strategis regional provinsi.
Kawasan Gunung Ungaran sebagai kawasan strategis pendayagunaan sumberdaya alam dan/atau teknologi tinggi. Peran dan fungsi kawasan tersebut adalah pusat
pengembangan dan eksplorasi sumber energi panas bumi.
3. Kawasan strategis kabupaten, meliputi:
Kawasan industri kaliwungu sebagai kawasan strategis pertumbuhan ekonomi.
Kecamatan Plantungan, Limbangan, Sukorejo, dan Boja, sebagai kawasan strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.
Laporan Akhir
5.2 Arahan RP3KP Kabupaten Kendal
5.2.1 Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Baru
Penyediaan kebutuhan perumahan dan permukiman merupakan kewajiban bagi pemerintah
daerah bagi masyarakatnya. Kondisi ini merupakan tantangan bagi pemerintah karena kebutuhan akan
perumahan dan permukiman akan selalu meningkat seiring dengan laju pertumbuhan dan
perkembangan penduduk yang berlangsung cepat. Salah satu hal pokok dalam penyediaan perumahan
adalah harus dapat diakses oleh semua golongan masyarakat, dalam artian harga jual dapat terjangkau
semua golongan.
Di wilayah Kabupaten Kendal perkembangan perumahan dan permukiman yang terjadi
disebabkan dari beberapa faktor, antara lain adalah pertumbuhan penduduk dan backlog, dimana dari
faktor-faktor ini menciptakan kebutuhan ruang akan perumahan dan permukiman yang tidak sedikit.
Salah satu program dalam mengefisiensikan kebutuhan lahan dan meningkatkan kualitas permukiman
kumuh adalah dengan rencana pembangunan rumah baru yang dilakukan oleh pengembang
(developer) dan pembangunan rumah yang dilakukan secara swadaya, pada lahan-lahan yang menurut
tata ruang direncanakan untuk kawasan permukiman.
5.2.1.1 Daya Tampung Penduduk dan Kebutuhan lahan
Untuk tahun perencanaan (2033) kebutuhan lahan perumahan dan permukiman di Kabupaten
Kendal masih dapat memaksimalkan lahan di kawasan perkotaan. Dimana berdasarkan analisis
proyeksi kebutuhan rumah pada tahun 2033 maksimal luas lahan permukimannya adalah 2735,68 Ha.
Dengan jumlah ini, masih bisa memaksimalkan lahan dalam wilayah pedesaannya. Kondisi ini juga
didukung dengan luas lahan Kabupaten Kendal yang sesuai dengan lahan terbangun, yaitu seluas
18.352,40 Ha, sehingga untuk tahun prediksi 2033 Kabupaten Kendal masih mencukupi kebutuhan
lahan untuk perumahan dan permukiman.
5.2.1.2 Penyediaan Rumah
Upaya penyediaan pembangunan dan pengembangan perumahan dan permukiman baru,
dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat, dan sebagian lagi oleh pemerintah dan swasta/
developer, berikut penjelasannya:
1. Pembangunan Rumah Oleh Swadaya Masyarakat
Aktivitas pembangunan oleh swadaya masyarakat diantaranya adalah: pengkaplingan lahan,
pengelolaannya. Aktivitas-aktivitas ini dilakukan dengan sistem gotong-royong dengan aturan
main yang disepakati secara kolektif.Peran pemerintah sebagai regulator sangat kecil dalam
rangkaian kerja pembangunan perumahan dan permukiman adat.
Aspek kolektifitas ini masih berlangsung hingga saat ini karena masyarakat masih
mempertahankan aspek kepercayaan/ social capital antara satu dengan yang lain. Begitu juga
dengan masyarakat Kabupaten Kendal, sebagian besar masyarakat pedesaaan memenuhi
kebutuhan rumah secara swadaya, yang dilakukan dengan sistem gotong-royong.
2. Penyediaan Rumah oleh Swasta dan Pemerintah
Penyediaan rumah oleh pihak swasta antara lain yang dilakukan oleh para developer
(pengembang perumahan). Pembangunan perumahan yang dilakukan oleh pihak pengembang
perumahan (developer), selain mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan
rumah yang layak, juga mempunyai misi profit oriented. Sehingga dalam pelaksanaanya lebih
didasari oleh proses kerja yang profesional, dengan tidak ada sama sekali sifat kegotong
royongan, hal ini yang membedakan dengan penyediaan rumah dengan sistem swadaya
masyarakat. Walaupun demikian, diharapkan ada misi sosial yaitu menyediakan rumah yang
layak yang dapat dijangkau oleh semua kalangan termasuk penduduk dengan penghasilan
rendah.Seperti pembangunan rumah sangat sederhana (RSS), rumah sederhana (RS). Oleh
karena itu, pemerintah telah menetapkan pola pengadaan perumahan 1:3:6, yang artinya setiap
pembangunan 1 unit rumah mewah harus juga dibangun 3 unit rumah sederhana dan 6 unit
rumah sangat sederhana.
Untuk Kabupaten Kendal telah menunjukkan hal positif dalam penyediaan rumah oleh swasta
yang ditunjukkan sudah adanya 8 (delapan) titik pengembangan perumahan baru seperti yang
tersebar di Kecamatan Boja, Kaliwungu, Cepiring, Patean, Kendal, Brangsong, Kaliwungu
Selatan, dan Weleri. Diharapkan hal ini akan berkembang yang berdampak positif bagi
Laporan Akhir
5.2.1.3 Rencana dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Baru
Strategi pengembangan kawasan permukiman baru di Kabupaten Kendal ini dibagi menjadi
dua wilayah, yaitu kawasan permukiman di wilayah perkotaan dan di kawasan permukiman di wilayah
yang bercirikan perdesaan.
A. Rencana dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Baru di Wilayah Perkotaan
Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perkotaan ini meliputi pengembangan yang
dilakukan baik oleh masyarakat secara swadaya secara legal maupun oleh developer atau
pengembang perumahan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi penduduk yang tinggal
di wilayah perkotaan. Wilayah perkotaan di setiap kecamatan memiliki kelemahan, yaitu keterbatasan
akan lahan terbangun, khususnya untuk permukiman. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengoptimalan
pembangunan kawasan permukiman dan pengembangan di wilayah perkotaan.Pengoptimalan
pembangunan dan pengembangan di atas keterbatasan lahan tersebut juga disertai dengan
pengaturan-pengaturan dalam rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dan dituangkan
dalam beberapa strategi. Strategi yang dapat diterapkan antara lain adalah: mencegah dan mengatur
pembangunan rumah yang memiliki tipe kapling besar, mengoptimalkan pembangunan di atas lahan di
wilayah dengan kepadatan sedang dan rendah, tetap mempertahankan kawasan resapan air,
mengkaitkan antara pusat-pusat kota dengan pusat-pusat pertumbuhan baru serta mengatur investasi
berbentuk rumah di Kabupaten Kendal.
Mencegah dan mengatur pembangunan rumah yang memiliki tipe kapling besar yang dimaksud
adalah kapling dengan luas > 200 m2.Apabila dilakukan pembangunan rumah dengan tipe kapling
tersebut, maka perlu menerapkan KDB dan KLB secara optimal, sempadan bangunan dan sempadan
jalan sesuai dengan kebijakan daerah yang berlaku.
Untuk daerah-daerah dengan kepadatan tinggi, rumah-rumah yang ada perlu dibangun secara
vertikal dalam bentuk rumah susun. Pembangunan secara vertikal yang dimaksud adalah
pembangunan rumah susun yang ditujukan bagi masyarakat dan para pendatang khususnya yang
memiliki penghasilan rendah di daerah-daerah padat huni, yang biasanya di daerah pusat kota. Disisi
lain, dilakukan pembangunan kawasan perumahan dan permukiman secara lebih optimal di atas lahan
yang berada di daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan huni sedang sampai rendah.
Selanjutnya untuk dapat meratakan penyebaran penduduk, supaya mereka tidak selalu memilih
untuk tinggal di pusat-pusat kota, maka perlu dilakukan pembangunan dan pengembangan sarana dan
prasarana wilayah, terutama jalan. Hal tersebut untuk mendukung aksesibilitas masing-masing
wilayah.Dengan mulai dibukanya suatu wilayah baru karena adanya jaringan jalan yang melewati
wilayah tersebut, maka menjadi nilai tambah bagi wilayah tersebut.Pada akhirnya, aktivitas di wilayah
perumahan dan permukiman.Dari kesemua usaha untuk mengoptimalkan pembangunan dan
pengembangan kawasan permukiman di atas lahan yang berada di wilayah yang memiliki tingkat
kepadatan dari rendah sampai tinggi, tetap harus memperhatikan keseimbangan alam dan ekosistem
dari lingkungan yang ada.
B. Rencana dan Strategi Pengembangan Kawasan Perumahan dan Permukiman Baru di
Kawasan Perdesaan
Pengembangan kawasan permukiman di kawasan perdesaan bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan penduduk yang tinggal di wilayah yang bercirikan perdesaan akan rumah tinggal.
Pemenuhan kebutuhan rumah tersebut dilakukan melalui pembangunan baru dengan tidak merusak
sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut.
Wilayah perdesaan, sebaiknya tidak semuanya dapat dibangun untuk perumahan dan
permukiman.Pengembangan ini harus dilakukan dengan memperhatikan fungsi lahan tersebut.Lokasi
untuk pembangunan baru diprioritaskan untuk desa yang memiliki tegalan.Hal ini disebabkan karena
salah satu syarat dari lahan yang dapat digunakan sebagai lahan yang difungsikan sebagai kawasan
perumahan dan permukiman adalah lahan tegalan. Selain merupakan lahan tegalan, syarat lain yang
harus dipenuhi adalah bukanlah merupakan daerah rawan bencana, memiliki kelerengan 0%-15%,
telah memiliki kelengkapan sarana dan prasarana dasar yang dibutuhkan dalam pengembangan
kawasan perumahan dan permukiman seperti jaringan jalan, listrik dan memiliki sumber air yang dapat
mencukupi aktivitas penduduk yang akan menempati wilayah tersebut serta lokasi tersebut memiliki
kesesuaian fungsi seperti dengan apa yang telah ditetapkan oleh RTRW Kabupaten Kendal.
Pendekatan pembangunan permukiman tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan pendekatan
Kasiba/ Lisiba.Selain itu juga perlu memperhatikan kawasan konservasi atau kawasan lindung.Hal
tersebut dimaksudkan supaya fungsi lindung dari konservasi tersebut tidak terganggu akibat aktivitas
permukiman yang ada. Pembangunan Kasiba/ Lisiba merupakan pembangunan suatu kawasan
permukiman skala besar dengan maksud untuk mengarahkan pertumbuhan kota dan membentuk
struktur lingkungan kota yang efektif dan efisien serta untuk mengendalikan harga lahan. Tujuan
pembangunan Kasiba/ Lisiba ini antara lain:
Merencanakan satu Kawasan Siap Bangun (Kasiba) yang terdiri dari beberapa Lingkungan Siap
Bangun (Lisiba) yang telah dilengkapi dengan jaringan prasarana lingkungan, baik primer maupun
sekunder, sarana lingkungan dan utilitas umum untuk pembangunan perumahan dan permukiman
sesuai dengan tata ruang wilayah.
Laporan Akhir
terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Untuk mengarahkan agar pertumbuhan kota membentuk struktur lingkungan kota yang efektif dan
efisien.
Pengendalian terhadap harga tanah.
Selain itu, untuk mengendalikan pembangunan di kawasan permukiman di wilayah yang
bercirikan perdesaan tersebut adalah dengan memberikan peraturan mengenai pembangunan kawasan
permukiman di wilayah tersebut.Hal tersebut dimaksudkan supaya lahan yang tersedia dipergunakan
seefektif mungkin, kemungkinan perkembangan dan pertumbuhan penduduk alami dan pendatang di
Kabupaten Kendal sangat mempengaruhi perkembangan kebutuhan perumahan dan permukiman.
Perkembangan tersebut, meskipun pada awalnya terjadi di wilayah perkotaan, maka sangat tidak
menutup kemungkinan perkembangan tersebut akan merembet di wilayah yang bercirikan perdesaan.
Itulah mengapa lahan-lahan potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan permukiman di wilayah
yang bercirikan perdesaan ini perlu dipergunakan seefektif mungkin.Selain itu, juga perlu diperhatikan
pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana, khususnya sarana dan prasarana dasar
permukiman.Hal tersebut dilakukan untuk menunjang aktivitas permukiman yang ada. Disamping itu,
diperlukan adanya pemeliharaan terhadap cadangan air tanah mengingat semakin tingginya permintaan
akan hunian.
5.2.1.4 Lokasi Pembangunan Perumahan Baru
Dalam penetapan suatu kawasan perumahan baru maka perlu dipertimbangkan beberapa hal
yang terkait dengan kondisi suatu lahan. Beberapa data yang perlu dipertimbangkan antara lain data
geologi lingkungan, jenis tanah, kemiringan lahan, topografi, hidrologi, tataguna lahan dan status lahan.
Beberapa persyaratan yang dapat menjadi arahan lokasi pembangunan perumahan baru adalah
sebagai berikut:
1. Tanah datar dengan kemiringan berkisar antara 0-15%.
2. Tanah dengan penggunaan sebagai lahan permukiman dan tegalan.
3. Tanah dengan status sebagai tanah desa, tanah milik, dan tanah negara.
4. Tanah yang bukan berada pada kawasan rawan bencana.
5. Tanah disekitar perkotaan yang mempunyai perkembangan sebagai pusat pertumbuhan.
6. Lokasinya mempunyai akses yang dapat dijangkau dengan mudah.
7. Tidak berlokasi pada kawasan konservasi.
8. Tidak berlokasi pada kawasan yang masih dalam sengketa.
jaringan pelayanan air bersih serta jaringan sanitasi dan pematusan berskala kota.
10. Terletak pada hamparan dengan luasan yang cukup, yang memungkinkan terselenggarakannya
pola hunian yang berimbang.
11. Tidak terganggu oleh kebisingan.
12. Memiliki pola permukiman yang kompak.
13. Memiliki kemudahan mencapai fasilitas umum.
Selain pertimbangan diatas, kriteria lain dalam hal penentuan lokasi perumahan yang dibutuhkan
oleh masyarakat berpenghasilan rendah, yaitu sebagai berikut:
1. Lokasi tidak terlalu jauh dari tempat-tempat yang dapat memberikan pekerjaan bagi buruh-buruh kasar atau tenaga tidak terampil.
2. Status kepemilikan lahan dan rumah jelas, sehingga tidak ada rasa ketakutan penghuni untuk digusur.
3. Bentuk dan kualitas bangunan tidak perlu terlalu baik, tetapi cukup memenuhi fungsi dasar yang
diperlukan penghuninya.
4. Harga atau biaya pembangunan rumah harus sesuai dengan tingkat pendapatan mereka.
Lokasi potensial pembangunan perumahan dan permukiman baru di wilayah Kabupaten Kendal
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel V-1
Lokasi Potensial Untuk Pembangunan Perumahan Baru (Developer) diKabupaten Kendal
No. Kecamatan Lokasi (Desa/Kelurahan)
1. Kaliwungu Sarirejo, Magelung, Plantaran, Nolokerto, Karangtengah
2. Kendal Kota Jetis, Langenharjo,
3. Boja Meteseh, Campurejo
Sumber :RP3KP, Tahun 2013
5.2.2 Rencana Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman
Permasalahan yang dihadapi di Kabupaten Kendal saat ini adalah adanya perumahan dan
permukiman yang terletak di atas lahan negara yang difungsikan sebagai kawasan perumahan dan
permukiman. Atau apabila dibangun rumah atau bangunan lain di atasnya harus memenuhi ketentuan
atau standar-standar teknis tertentu. Kawasan-kawasan tersebut antara lain adalah kawasan di
Laporan Akhir
daerah rawan bencana. Selain itu, permasalahan lain adalah adanya permukiman yang tidak memiliki
sarana dan prasarana dasar permukiman yang memadai khususnya sarana dan prasarana lingkungan
khususnya drainase, sanitasi dan persampahan. Selain itu kondisi fisik bangunan yang meliputi bahan
bangunan dan tingkat permanensi bangunan juga mengindikasikan suatu rumah dikatakan kumuh atau
tidak. Perumahan dan permukiman tersebut memerlukan penanganan-penanganan dalam upaya
meningkatkan keamanan, kenyamanan dan keindahan dalam kawasan tersebut.
5.2.2.1 Peningkatan Kualitas Permukiman di Kawasan Rawan Bencana
Daerah rawan bencana merupakan kawasan dengan fungsi lahan sebagai kawasan lindung,
dimana ini tidak layak dijadikan sebagai kawasan terbangun, khususnya permukiman.Berikut bentuk
kegiatan penanganan permukiman di Kabupaten Kendal di kawasan rawan bencana.
Tabel V-2
Rencana Lokasi Kegiatan Penanganan
Perbaikan/ Peningkatan Kualitas Perumahan dan Permukiman di Kawasan Rawan Bencana
No. Bentuk Kegiatan Penanganan Perumahan dan Permukiman di kawasan
lindung Lokasi Kegiatan
1 REDEFINISI
Rehabilitasi (Perbaikan)
a. Mengembalikan kondisi komponen-komponen fisik kawasan permukiman yang telah mengalami kemunduran kondisi atau degradasi kepada kondisi asalnya, sehingga dapat berfungsi kembali.
b. Konsep penanganan ini untuk memperbaiki sarana dan prasarana. c. Pengadaan sarana dan prasarana terutama diarahkan:
Untuk kawasan rawan bencana banjir di kawasan perumahan dan permukiman yang berada di kawasan sempadan sungai, jika masih memungkinkan tanpa harus melalui relokasi keluar kawasan, maka dapat dibangun tanggul pengaman, dengan syarat tetap diberlakukan sempadan bangunan dan syarat lainnya. Sedangkan untuk genangan sepanjang tahun, penanganan diarahkan pada normalisasi saluran, pengerukan hingga prokasih.
PERUMAHAN DAN
a. Mengembalikan kondisi kawasan perumahan dan permukiman pada kondisi asalnya yang sesuai dengan persyaratan perumahan dan permukiman yang layak huni, dengan menghilangkan tambahan-tambahan komponen yang timbul kemudian.
b. Memasang atau mengadakan kembali unsur-unsur perumahan dan permukiman yang telah hilang tanpa menambah unsur-unsur baru.
c. Pengadaan sarana dan prasarana
d. Untuk kawasan rawan abrasi, di perumahan dan permukiman sepanjang pantura yang berada pada kawasan sempadan pantai, bila memungkinkan tanpa harus dilakukan relokasi, maka perlu dibangun talud/ break water
PERUMAHAN DAN
a. Permukiman kumuh yang secara lokasi berada pada lahan ilegal (squatters) dan atau tidak memiliki potensi pemanfaatan lahan yang lebih baik dari fungsi
KAWASAN PERUMAHAN
DAN PERMUKIMAN YANG
No. Bentuk Kegiatan Penanganan Perumahan dan Permukiman di kawasan
lindung Lokasi Kegiatan
yang telah diterapkan, serta secara lingkungan memberikan dampak negatif yang lebih besar apabila tetap dipertahankan.
b. Perumahan dan permukiman yang berlokasi di atas lahan negara dengan peruntukan non pertanian (seperti di dalam kawasan bantaran sungai, lahan konservasi, dll)
c. Kawasan perumahan dan permukiman yang secara fisik sangat berbahaya sebagai tempat bermukim dan tidak dapat ditanggulangi secara teknis (seperti diatas lahan rawan bencana alam/ geologi, dll)
Bentuk penanganan ini dilakukan dengan perubahan total yang dikaitkan dengan pengembalian fungsi, kepada fungsi awal.Kawasan perumahan dan permukiman yang ada dilakukan pemindahan pada areal baru (pada kondisi lain).Jenis penanganan pengembalian fungsi adalah resettlement (pemukiman kembali).Pemantapan peraturan daerah yang melarang pembangunan baru dan tidak memberi ijin atau tidak pemberian sertifikat (untuk melegalkan lahan) bagi
5.2.2.2 Peningkatan Kualitas Permukiman di Kawasan Sempadan Sungai
Kawasan sempadan sungai adalah kawasan yang terletak di sepanjang kanan/ kiri sungai
termasuk sungai buatan atau saluran irigasi primer.Tumbuhnya kawasan permukiman di sempadan
sungai merupakan permasalahan klasik yang ada di hampir semua wilayah perkotaan yang ada
termasuk dalam hal ini adalah Kabupaten Kendal. Permasalahan yang kemudian muncul adalah
terganggunya kondisi fisik pinggir dan dasar sungai yang mengganggu aliran air sungai serta
tercemarnya kualitas air sungai akibat dari aktivitas masyarakat. Idealnya untuk setiap bangunan
khususnya rumah yang dibangun di atas lahan yang terletak di sepanjang atau sempadan sungai
tersebut harus memenuhi standar-standar teknis yang telah ditetapkan, yaitu 10 – 15 m digunakan sebagai jalan inspeksi.Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kemungkinan bahaya longsor dan
mengamankan aliran sungai. Selain itu juga perlu dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan
manusia yang tinggal di bangunan tersebut yang akhirnya dapat menganggu dan merusak kualitas air
sungai.
Namun untuk wilayah Kabupaten Kendal, masih terdapat rumah yang sudah dibangun di atas
lahan tersebut tanpa memperhatikan standar teknis yang sudah ditentukan.Untuk itu terdapat beberapa
strategi. Untuk strategi yang diterapkan untuk bangunan tanpa tanggul antara lain adalah anak sungai/
sungai kecil dengan kedalaman < 3 m garis sempadan bangunan adalah 10 m dari tepi sungai; sungai
dengan kedalaman 3-20 m garis sempadan bangunan diberi jarak 15 m dari tepi sungai; sungai dengan
kedalaman < 30 m diberi sempadan bangunan dengan jarak 30 m dari tepi sungai; dan untuk garis
sempadan bangunan di tepi jalan inspeksi minimal 7,5 m dari as jalan. Sedangkan untuk sempadan
Laporan Akhir
kecil dengan kedalaman < 3 m garis sempadan bangunan minimal 3 m dari batas tanggul dan sungai
dengan kedalaman > 3 m garis sempadan bangunan minimal 5 m dari batas tanggul.Selain dari
strategi-strategi tersebut, untuk kawasan sempadan sungai tersebut yang belum terbangun, dilakukan
pencegahan dan pengendalian pembangunan bangunan baru termasuk dalam hal ini adalah rumah.
Selanjutnya, untuk bentuk-bentuk penanganan yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan
program restrukturisasi yang terdiri atas:
Redevelopment - Relokasi, yaitu di lokasi yang membahayakan keselamatan penduduk dan terjadi
kenaikan volume air secara mendadak (banjir). Bentuk penanganan yang dapat dilakukan pada
kegiatan ini antara lain adalah perubahan struktural peruntukan lahan serta ketentuan-ketentuan
pembangunan lainnya yang mengatur pembangunan baru (KDB, KLB, GSB, dll) yang biasanya
terjadi; pembuatan peraturan daerah tentang larangan pembuatan bangunan diatas bantaran
sungai; serta sempadan dapat diwujudkan dalam bentuk jalan inspeksi.
Renewal (Peremajaan), yaitu pada kawasan tepi sungai yang tidak bertentangan dengan RUTR,
RDTR, RTRK dan bukan diperuntukan jalur hijau. Renewal ini merupakan bentuk kegiatan bersifat
mendasar dan menyeluruh, dengan melakukan pembongkaran sebagian atau seluruh komponen
perumahan dan permukiman dan kemudian melakukan perubahan secara struktural dengan
membangun kembali diatas lahan yang sama.
Tujuan dari kegiatan ini adalah mendapat kembali nilai pemanfaatan lahan secara optimal sesuai
dengan potensi lahannya.Bentuk teknis penanganan dapat berupa konsolidasi lahan, land
readjusment dan land sharing (pengkombinasian pemanfaatan lahan pemukiman dengan
komersial).
Selain itu juga dibuat peraturan daerah tentang larangan pembuatan bangunan di atas bantaran
sungai serta pembuatan sempadan dengan bentuk jalan inspeksi. Di Kabupaten Kendal terdapat
beberapa perumahan dan permukiman yang berada di sepanjang (sempadan) sungai dengan jarak
yang sangat dekat atau tidak sesuai dengan standar-standar yang ada, seperti yang dapat ditemui :
- Kecamatan Weleri (Penaruban, Karangdowo, Penyangkringan, dan Bumiayu)
- Kecamatan Kaliwungu
- Kecamatan Plantungan (Tlogopayung)
- Kecamatan Pegandon
- Kecamatan Kendal Kota