KEPADATAN POPULASI ULAT GRAYAK (
SPODOPTERA LITURA
FABR) PADA KEBUN TEMBAKAU (
NICOTIANA TOBBACO
L.)
DI JORONG SABORANG TOBEK KECAMATAN
SITUJUH LIMO NAGARI.
Abdul Jamil, Armein Lusi Zeswita, Meliya Wati
Program Studi Pendidikan Biologi
STKIP PGRI Sumatera Barat
[email protected]
ABSTRAK
Spodoptera litura
Fabr is one of primary pest which
tobacco
plants
S.
Litura
cause of hole in leaves not arrage until of photo synthesis proces cause of
tobacco
production down. The purpose of this research was to know density of
Spodoptera litura
compact and to know temperature and air moist on
tobacco
plant at Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh limo Nagari Kabupaten Limo
Puluh Kota. This research has done on January 2017 in Jorong Saborang tobek
Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota. This research by
using descriptive menthod. The sample have been taken in the morning until
afternoon by using purposive sampling. Weather factor wich measure include
temperature and air moist. Location of research undertaken is a
tobacco
plant area
400m
2. Result of reseach reash population density of S. litura was 1,61 on tobacco plant aged 30 days. Result of reseach reash population density of S. litura was 3,72 on tobaccoplant aged 50 days. Result of reseach reash population density of S. litura was 6,84 on
tobacco plant aged 75 days. The highest grayak caterpillar compact on tobacco plants
lifespan 75 days. Acreage temperature tobacco plants in the morning that is 220c on day 230c while on the afternoon 220c, where as air moist 80% on day 78% and on the afternoon 77% with the resul that situation still in the revolution tolerance S. litura
development. Pendahuluan
Tembakau merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di Indonesia. Tembakau merupakan salah satu tanaman yang tumbuh di Indonesia dan dijadikan barang komoditas untuk diekspor ke berbagai negara di dunia, karena kualitas daun tembakau di Indonesia merupakan salah satu yang terbaik. Tembakau mempunyai beberapa spesies yang umum dijumpai seperti
Nicotiana bigelovii, Nicotiana glauca,
Nicotiana plumbagifolia, Nicotiana
tabacum, dan lain-lain. Di Indonesia,
terdapat kurang lebih 100 spesies
tembakau yang tumbuh. Jenis-jenis tembakau yang tumbuh di Indonesia adalah tembakau Deli, tembakau temanggung, tembakau vortenlanden, tembakau madura, tembakau besuki, tembakau garut dan tembakau lombok timur (Paramatha, 2013).
Tembakau merupakan tanaman jenis herbal yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Limo Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2012 tembakau berjumlah 120 ton, pada tahun 2013 tembakau berjumlah 117 ton dan tahun
2014 tembakau menurun jauh sebanyak 92 ton.
Tembakau saat ini lebih ditekankan sebagai bahan baku untuk membuat rokok. Sebenarnya banyak sekali produk-produk unggulan yang dapat dihasilkan dengan cara memanfaatkan nikotin di dalam daun tembakau misalnya obat pencahar, dan bioinsektisida. Bioinsektisida dapat digunakan sebagai pembasmi serangga yang ramah lingkungan dari pada insektisida yang berbahan baku DDT
(Dichlorodophenyltrichloroethane).
Bioinsektisida dapat dijadikan alternatife oleh produsen insektisida. Disamping produsen insektisida, para petani juga dapat merasakan keuntungan dari pemanfaatan bioinsektisida, yaitu tanaman pertanian atau tanaman perkebunan terbesar dari hama serangga dan kualitas tanaman tidak berkurang sehingga tanaman yang telah ditanam mempunyai harga jual yang cukup tinggi (Paramatha, 2013).
Berdasarkan hasil observasi di lapangan dengan pemilik kebun tembakau ditemukan beberapa jenis hama yang mengganggu tanaman tembakau di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota bahwa ditemukan beberapa jenis hama yang mengganggu pada tanaman tembakau. Salah satu hama yang menganggu paling dominan adalah ulat grayak (Spodoptera
litura).
Jenis ulat ini membuat lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitan pada daun tembakau yang menyebabkan turunnya angka produksi. Hal ini menyebabkan turunnya kualitas produksi tembakau di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari, sementara itu tembakau salah satu tanaman yang berpotensi di daerah ini.
Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian tahun 2015 menjelaskan pada tumbuhan tembakau
terdapat dua jenis hama yaitu ulat pupus
(Helicoverpaarmigera hubner) dan ulat
grayak (Spodoptera litura Fabr). ulat grayak (Spodoptera litura Fabr) yang mengakibatkan daun tembakau berlobang sehingga dapat menurunkan produksi sampai 50% (Kementerian Pertanian, 2015).
Penelitian yang terkait dengan populasi ulat grayak yang telah banyak dilakukan diantaranya, Sasmi (2016) tentang kepadatan populasi Spodoptera
litura Farb. Pada Tanaman Cabai Merah
(Capsicum annum) di Rawang Gadang
Kecamatan Danau Kembar Kabupaten Solok hasil yang didapatkan hasil bahwa sangat tinggi kepadatan populasi
Spodoptera litura Fabr pada tanaman
cabai merah sangat tinggi.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka penulis telah melakukan penelitian dengan judul “Kepadatan Populasi Ulat Grayak
(Spodoptera litura Fabr) pada
Perkebunan Tembakau di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota”.
penelitian ini bertujuan
1. Untuk mengetahui kepadatan ulat grayak (Spodoptera litura) di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota.
2. Untuk mengetahui faktor lingkungan (suhu, kelembaban udara) di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota.
Metode penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari 2017 di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota.
Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif yaitu dengan cara koleksi langsung pada siang hari
0 2 4 6 8 umur 30 hari umur 50 hari umur 75 hari 1,61 6,84 3,72 Kepad atan ind/btg 0 2 4 6 8 umur 30 hari umur 50 hari umur 75 hari 1,61 6,84 3,72 k epadatan (indiv idu/batang )
terhadap S. Litura dengan luas kebun lebih kurang 400m² hektar. Pengambilan sampel di lapangan menggunakan metode purposive sampling yaitu dilakukan pada tanaman tembakau dengan rentang umur 30 dan 75 hari setelah ditanam dan tanaman yang sudah terserang hama S. litura. Tanaman yang jadi koleksi milik penduduk di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota.
Hasil dan pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada tanaman tembakau pada umur yang berbeda maka diperoleh data seperti yang disajikan pada Gambar di bawah ini.
Umur tanaman
Gambar : Kepadatan Populasi Ulat Grayak (Spodoptera litura
Fabr)
Berdasarkan Gambar dapat dilihat bahwa kepadatan ulat grayak S. litura tertinggi terdapat pada tembakau umur 75 hari yaitu 6,84 individu/batang dan kepadatan terendah pada tembakau berumur 30 hari yaitu 1,61 individu/ batang
Hasil pengukuran faktor lingkungan di lokasi pengambilan sampel terlihat pada Tabel.
Tabel . Suhu dan kelembaban udara pada lokasi pengambilan sampel S. litura pada tanaman tembakau di Jorong Sabarang Tobek Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota. Parameter Kisaran
Pagi Siang Sore Suhu 220C 230C 220C Kelembaban 80% 78% 77% Faktor lingkungan juga berperan terhadap kehidupan ulat grayak S. litura, dari Tabel 1 dapat dilihat kisaran suhu pada lokasi penelitian 22-230C, dan kelembaban udara berkisar dari 77-80%
Berdasarkan Gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa kepadatan ulat grayak S. litura pada tanaman tembakau umur 30 hari adalah 1,61 individu/ batang, pada tembakau umur 50 hari kepadatannya adalah 3,72 individu/ batang dan pada tembakau umur 75 hari kepadatannya adalah 6,84 individu/ batang. Kepadatan ulat grayak banyak terdapat pada tanamaan tembakau umur 75 hari. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Sasmi (2016) tentang kepadatan Spodoptera litura pada organ vegetatif dan organ generatif tanaman cabai di Kabupaten Solok dan kepadatan tertinggi ditemukan pada organ vegetatif yaitu daun. Hal ini diduga karena pakan ulat tersedia berupa daun cabe selama siklus hidupnya.
Tingginya kepadatan populasi ulat grayak pada tanaman tembakau umur 75 hari juga disebabkan oleh keserdian makanan yang dibutuhkan oleh ulat grayak (Spodoptera litura
Fabr) mulai mencukupi karena daun tembakau banyak yang terbentuk. Bagian tanaman daun tembakau yang banyak disukai oleh ulat grayak adalah daun yang masih muda yang sedang tumbuh sangat tinggi bila dibandingkan dengan yang sangat tua sehingga daun
yang muda sesuai bagi kebutuhan dan mudah dicerna oleh ulat grayak. Menurut Jumar (2000) bahwa makanan merupakan sumber gizi yang dipergunakan oleh serangga untuk hidup dan berkembang. Jika makanan tersedia dengan kualitas dan kuantitas yang cukup dan cocok, maka populasi serangga naik dengan cepat. Bila populasi tinggi, kerusakan berat pada daun sering terjadi, kerusakan yang disebabkan oleh hama ulat grayak mempunyai ciri-ciri yang khas. Adanya bercak-bercak gigitan berwarna putih dan juga ditandai adanya lubang-lubang pada daun.
Kepadatan populasi ulat grayak pada tanaman tembakau umur 30 hari lebih sedikit. Hal ini diduga karena ketersedian makanan yang kurang mencukupi sebab daun pada tanamaan tembakau umur 30 hari sangat sedikit yang terdiri dari 3-5 helai daun. Menurut Kalhsoven (1981) apabila makanan berkurang maka jumlah ulat daun sangat kecil, disebabkan terjadinya persaingan dalam mendapatkan makanan.
Stadium yang menimbulkan kerusakan dari ulat grayak adalah ulat yang sangat menentukan dalam menimbulkan kerugian. Dilihat dari populasi ulat grayak pada tiap pengambilan yaitu 2 individu/tanaman pada umur 30 hari, dan 4 individu/tanaman pada umur 50 hari sedangkan 7 individu/tanaman padaa umur 75 hari dan termasuk hama. Menurut Suriyanto (1994) hama adalah semua binatang atau serangga yang melebihi populasinya melebihi ambang kendali sehingga merugikan kepentingan manusia. Kepadatan populasi ulat grayak sudah melebihi ambang kendali sehingga status ekologi ulat dilapangan sudah termasuk hama karena sudah sangat merugikan manusia.
Faktor lain yang mempengaruhi kepadatan populasi S. litura adalah faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban udara. Suhu lokasi areal
tanaman tembakau selama melakukan penelitian pada pagi hari yaitu 220C pada siang hari 230C sedangkan pada sore hari 220C yang sudah mendekati suhu optimum. Kelembaban udara tanaman tembakau selama melakukan penelitian pada pagi hari 80% pada siang hari 78% sedangkan pada sore hari 77%. Mengacu pada jumar (2000) pada umumnya, kisaran suhu efektif adalah : suhu minimum 150C, suhu optimum 250C, dan suhu maksimum 450C sedangkan kelembaban yang sesuai biasanya lebih tahan terhadap terhadap suhu ekstrem.
Kesimpulan dan Saran
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan Di Jorong Saborang Tobek Kecamatan Situjuh Limo Nagari Kabupaten Limo Puluh Kota dapat disimpulkan bahwa kepadatan populasi
S. litura pada tanaman tembakau 6,84
individu/batang. Suhu areal tanaman tembakau pada pagi hari 220C, pada siang hari 230C dan pada sore hari 220C, kelembaban udara pada pagi hari 80%, pada siang hari 78% dan pada sore hari 77% sehingga keadaan masih dalam kisaran toleransi untuk perkembangan S. litura
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disini penulis harapkan dalam penelitian selanjutnya bagaimana cara memberantas hama Spodoptera
litura Fabr pada tanaman tembakau yang
terserang hama. Daftar pustaka
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Limo Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat. 2014
Jumar, 2000. Entomologi pertanian. Jakarta: RINEKA CIPTA (Anggota IKAPI)
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pets of Crops In Indonesia. Revised
And Translated by P.A. Van Derlaan. PT. Ictiar Baru. Van Hoeve. Jakarta
Kementrian pertanian. 2015. Pengenalan dan Pengendalian Ulat Daun Tembakau.
Paramatha, D & Lazuardi. 2013. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri,
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, vol.20,NO.2.Hlm.233-239. Sasmi.2016. kepadatan populasi
Spodoptera litura Fabr. Pada
tanaman cabai merah (Capsicum
annum). Skripsi. Padang.
Suyanto, A. 1994. Hama Sayur dan Buah. Penebar Swadaya: Jakarta