• Tidak ada hasil yang ditemukan

KATA PENGANTAR KEPALA STASIUN METEOROLOGI KELAS I HANG NADIM BATAM. PARMIN,S.Si, M.M. NIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KATA PENGANTAR KEPALA STASIUN METEOROLOGI KELAS I HANG NADIM BATAM. PARMIN,S.Si, M.M. NIP"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] i

KATA PENGANTAR

Bumi adalah tempat kita berpijak, berbagai kebutuhan kita disediakan oleh bumi. Yang lahir dan hidup di bumi bukan hanya generasi saat ini, namun berkelanjutan untuk anak cucu di masa depan. Jika mengulas tentang bumi, begitu banyak aspek yang diperhatikan.Mulai dari aspeklingkungan, ekonomi, politik, sampai kegiatan manusia.Semua mempunyai kontribusi besar bagi keadaan bumi nantinya. Salah satu faktor terpenting adalah faktor meteorologi, yang berperan dalam mendorong berbagai program pembangunan di bumi. Dengan meninjau hal itu, serta mengkhususkan pada pembangunan di kawasan Barelang, Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam setiap bulannya menerbitkan BULETIN METEOROLOGI.

Buletin Meteorologi edisi Agustus 2017ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Juli 2017, prakiraan hujan serta prakiraan pasang surut bulan Agustus 2017. Buletin ini dibuat sebagai salah satu sarana penunjang penyampaian informasi meteorologi, baik kepada para pengguna jasa informasi meteorologi dan juga kepada masyarakat umum.

Kamimenyadari bahwa penulisan buletin ini masih belum sempurna, terdapat banyak kekurangan dan belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh pembaca.Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna peningkatan kualitas dari media informasi ini. Besar harapan kami agar buletin ini dapat terus berkembang dan berkesinambungan, serta dapat menjawab semua pertanyaan mengenai isu-isu meteorologi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

KEPALA STASIUN METEOROLOGI KELAS I HANG NADIM BATAM

PARMIN,S.Si, M.M. NIP. 19640218 199102 1 001

(2)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] ii

TIM REDAKSI

ANGGOTA TIM

ANGGOTA DUATI WARDANI, S.Si ANGGOTA YAYAN HERMAWAN ANGGOTA DUDI JUHANDINATA, S.Stat, MM ANGGOTA NIZAM MAWARDI, S.Tr ANGGOTA ADHITYA PRAKOSO, S.Tr ANGGOTA

ASRI PRATIWI, S.Si

ANGGOTA PANDE MADE RONY

KURNIAWAN, SST

ANGGOTA MOHAMMAD TAUFIQ, S.Si

PELINDUNG

PARMIN, S.Si, M.M.

KEPALA STASIUN METEOROLOGI KELAS I HANG NADIM BATAM

PENANGGUNG JAWAB

SURATMAN, S.KOM

KEPALA SEKSI DATA DAN INFORMASI

ANGGOTA DEBORA TRULY MARPAUNG, SST.

ANGGOTA HANA SOLIHAH, S.Si

ANGGOTA DEDI HARIANTO

(3)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] iii

DAFTAR ISI

Kata pengantar ... i

Tim Redaksi ... ii

Daftar Isi ... iii

I. RINGKASAN... 1

II. PENGERTIAN ... 1

III. ANALISA CUACA DAN IKLIM JULI 2017 ... 2

IV. PRAKIRAAN CUACA AGUSTUS 2017 ... 11

V. PRAKIRAAN PASANG SURUT AGUSTUS 2017 ... 16

VI. PRAKIRAAN TERBIT/ TERBENAM BULAN DAN MATAHARI AGUSTUS 2017 ... 19

(4)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 1

RINGKASAN

1. Berdasarkan data curah hujan bulan Juli 2017 yang diterima dari Stasiun Meteorologi Hang Nadim, maka evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan bulan Juli 2017adalah sebagai berikut:

a. Bahwa kejadian hujan di Pulau Batam secara umum berada pada kondisi di bawah normal terhadap rata – ratanya.Sedangkan kondisi angin dilaporkan dominan bertiup dari arah Tenggara hingga Selatandari dasarian I hingga dasarian III pada kecepatan rata – rata 10,4 km/jam.

b. Pada bulan Juli wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dengan sifat kuat pada awal bulan sehingga cukup mempengaruhi turunnya curah hujan di Indonesia. Kondisi perairan di Indonesia yang juga masih cukup hangat turut menambah uap air untuk pembentukan awan. Namun nilai IOD, SOI dan ENSO berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Kepulauan Riau.

II. Berdasarkan keluaran program HyBMG 2.0.7 dengan model prediksi ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) diperoleh prediksi curah hujan tiap dasarian mulai Agustus 2017 hingga Juli 2018. Data masukan yang digunakan adalah data series hujan dasarian Hang Nadim periode Agustus 1998 s.d Juli 2017. Dengan membandingkan prediksi hujan model ARIMA dengan normal hujan dasarian periode 1993-2012 diperoleh nilai korelasi 0.94455 dan RMSE (error) 7.3258 yang menunjukkan bahwa curah hujan di bulan Agustus 2017 pada dasarian I dan II berada dibawah normalnya ssedangkan dasarian III berada pada kisaran normalnya.

PENGERTIAN

A. SIFAT HUJAN

Sifat Hujan adalah Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan nilai rata-rata atau normal dari bulan tersebut di suatu tempat.

Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kriteria, yaitu:

1. Di atas normal ( A ), jika nilai perbandingannya lebih besar dari 115 %. 2. Normal ( N ), jika nilai perbandingannya antara 85 % - 115 %.

3. Di bawah normal ( B ), jika nilai perbandingannya kurang dari 85 %.

B. NORMAL CURAH HUJAN

1. RATA-RATA CURAH HUJAN BULANAN:

Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun. 2. NORMAL CURAH HUJAN BULANAN:

Nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun. 3. STANDARD NORMAL CURAH HUJAN BULANAN:

Nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun dimulai dari 1 September 1901 s/d 31 September 1930, 1 September 1931 s/d 31 September 1960, 1 September 1961 s/d 31 September 1990, dan seterusnya.

(5)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 2

C. INTENSITAS CURAH HUJAN (CH)

KRITERIA CH CH/hari CH/Jam

Sangat Lebat > 100 mm > 20 mm

Lebat 50 - 100 mm 10 - 20 mm

Sedang 20 - 50 mm 5 - 10 mm

Ringan 5 - 20 mm 1 - 5 mm

ANALISA CUACA DAN IKLIMJULI 2017

A. KERAGAMAN HUJAN

Kepulauan Riau merupakan wilayah negara Indonesia yang berbentuk kepulauan dan dilewati garis khatulistiwa. Wilayah negara Indonesia dilewati oleh garis katulistiwa serta dikelilingi oleh dua Samudra dan dua Benua. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah pertemuan sirkulasi meridional (Utara-Selatan) dikenal sebagai Sirkulasi Hadley dan sirkulasi zonal (Timur-Barat) dikenal sebagai Sirkulasi Walker, dua sirkulasi yang sangat mempengaruhi keragaman iklim di Indonesia. Pergerakan matahari yang berpindah dari 23.5o Lintang Utara ke 23.5o Lintang Selatan sepanjang tahun mengakibatkan timbulnya aktivitas monsun yang juga ikut berperan dalam mempengaruhi keragaman iklim. Pengaruh lokal terhadap keragaman iklim juga tidak dapat diabaikan, karena Kepri merupakan kepulauan dengan bentuk topografi sangat beragam menyebabkan sistem golakan lokal cukup dominan. Faktor lain yang diperkirakan ikut berpengaruh terhadap keragaman iklim ialah gangguan siklon tropis. Semua aktivitas dan sistem ini berlangsung secara bersamaan sepanjang tahun akan tetapi besar pengaruh dari masing-masing aktivitas atau sistem tersebut tidak sama dan dapat berubah dari tahun ke tahun.

El-Nino dan La-Nina merupakan salah satu akibat dari penyimpangan iklim. Fenomena ini akan menyebabkan penurunan dan peningkatan jumlah curah hujan untuk beberapa daerah di Indonesia. Pengaruh El-Nino kuat pada daerah yang berpola hujan monsun, lemah pada daerah berpola hujan equatorial dan tidak jelas pada daerah dengan pola hujan lokal, sedangkan IOD (Indian Ocean Dipole) hanya berpengaruh jelas pada daerah berpola hujan monsun.

Selain akibat pengaruh fluktuasi suhu permukaan laut di samudera pasifik (El Nino-Southern Oscillation / ENSO) dan Samudera Hindia (Indian Ocean Dipole / IOD), fenomena fase aktif osilasi intra-musiman yang dikenal sebagai MJO (Madden-Agustusan Oscillation) juga mempengaruhi keragaman hujan di Indonesia.Menurut Geerts and Wheeler (1998) MJO akan menyebabkan terjadinya variasipada pola angin, SML (Suhu Muka Laut), awan dan hujan. Fase aktif MJO bila bersamaan waktunya dengan monsun timur laut di Kepulauan Riau (Desember-April) dapat menyebabkan terjadinya peningkatan curah hujan sekitar 200%.

Pergerakan MJO ke timur dari samudra India menuju samudra Pasifik dibagi dalam 8 phase. Phase-1 di Afrika (210° BB - 60° BT), 2 di samudra India bagian barat (60° BT – 80° BT), phase-3 di samudra India bagian timar (80° BT – 100° BT) phase-4 & phase-5 di benua maritim Indonesia ( 100° BT – 140° BT), phase-6 di kawasan Pasifik barat (140°BT-160° BT), phase 7 di Pasifik tengah ( 160° BT – 180° BT) , dan phase-8 daerah konveksi di belahan bumi bagian barat ( 180° – 160° BB). Pada umumnya hujan tropis berasal dari awan konvektif dengan puncak awan sangat dingin (sedikit mengemisi radiasi gelombang panjang), oleh karenanya sangat baik memonitor MJO dengan memperhatikan variasi OLR(Outgoing Longwave Radiation) yang dipantau melalui sensor infra merah pada satelit.

(6)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 3

B. DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUTAN BULAN JULI 2017 1. Monsun

Pada bulan Juli matahari telah berada pada titik paling utara bumi yaitu 23.5°LU atau biasa disebut ‘summer soltice’ kemudian menuju equator dan mengalami pergerakan semu sejauh kurang lebih 9.3° yaitu dari 18.8°LU menuju 9.5°LU. Hal ini berdampak ke peningkatan suhu muka laut di daerah sekitar ekuator dan BBU yang memicu terbentuknya pola-pola tekanan udara rendah. Pada bulan Juli 2017 tercatat ada dua kejadian siklon tropis yaitu Siklon Tropis Noru dan Gorio.Dimana hal ini cukup berpengaruh terhadap bertambah maupun berkurangnya jumlah curah hujan di wilayah Kepulauan Riau.

Sumber: http://www.emc.ncep.noaa.gov/research/cmb/sst_analysis/images/monsstv2.png

Gambar 1. Peta Rata-rata Suhu Muka Laut Juli 2017

Sumber: http://www.emc.ncep.noaa.gov/research/cmb/sst_analysis/images/monanomv2.png

Gambar2. Peta Anomali Suhu Muka Laut BulanJuli 2017

Kondisi rata-rata suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia pada bulan Juli 2017 berkisar antara 28.00 - 32.00C(Gambar.1) dengan anomali -1.5-+1.50C (Gambar.2).Di wilayah Kepulauan Riau, anomali suhu muka laut berkisar antara -0.5-+0.50C yang menunjukkan suhu muka laut masih dalam kondisi yang cukup hangat sehingga memberi banyak pasokan uap air di udara. Suhu muka laut yang hangat serta anomali suhu muka laut yang positif sangat mendukung proses pertumbuhan awan-awan yang berpotensi menjadi hujan.

(7)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 4

Sumber: http://www.bom.gov.au/cgi-bin/climate/cmb.cgi?variable=mslp&area=rsmc&map=mean&time=latest Gambar 3. Rata-rata Tekanan Udara Permukaan Laut Bulan Juli 2017

Pada bulan Juli 2017, tekanan udara di BBS secara umum lebih tinggi dari pada BBU karena matahari berada di BBU. Hal ini menyebabkan adanya pergerakkan massa udaradari BBSmenuju BBUsehingga membentuk pola belokan angin (shearline) dan pola daerah pertemuan angin (konvergensi)di sekitar wilayah Kepulauan Riau. Pada daerah belokan angin terjadi perlambatan kecepatan angin yang menyebabkan penumpukkan massa udara sehingga terjadi pengangkatan massa udara, sedangkan pola konvergen menyebabkan daerah-daerah pertemuan massa udara sehingga keduanya menimbulkan potensi pembentukan awan–awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan.

Berdasarkan hasil analisis (Gambar.4), pada daerah Kepulauan Riau angin umumnya bertiup dari arah Tenggara hingga Barat Daya yang di dominasi dari arah Selatan dengan kecepatan 0 hingga 10 knot(Gambar.5). Kondisi angin cukup kuat sehingga kurang mendukung dalam proses pembentukan banyak awan.

Sumber: Bidang Meteorologi Publik BMKG

(8)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 5

Sumber:http://www.bom.gov.au/cgi-bin/climate/cmb.cgi?variable=850wind&area=rsmc&map=mean&time=latest Gambar 5. Pola Angin 850mb Bulan Juli 2017

2. ENSO(El Nino - Southern Oscillation)

ENSO berada pada kondisi netral yaitu antara −0.8 °C sampai +0.8 °C. Pada bulan Juli 2017, nilai anomali SST Nino 3.4 yaitu sebesar+0.23 dan nilai rata-rata harian SOI (Southern

Oscillation Index) selama bulan Juli sebesar+8.1 (Normal). Hal tersebut mengindikasikan tidak

adanya pengaruh terhadap penurunan maupun penambahan pasokan uap air sebagai pembentuk hujan di wilayah Indonesia termasuk di Kepulauan Riau.

Sumber :http://www.bom.gov.au/climate/enso/indices.shtml

(9)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 6

Sumber :http://www.bom.gov.au/climate/enso/monitoring/soi30.png

Gambar7. Grafik indeks ENSO / SOI

3. MJO(Madden-Agustusan Oscillation)

a.OLR (Outgoing Longwave Radiation)

Sumber:http://www.bom.gov.au/cgi-bin/climate/cmb.cgi?variable=olr&area=rsmc&map=mean&time=latest

Gambar 8. Rata-rata OLR Juli 2017

OLR merupakan suatu radiasi gelombang panjang yang dipancarkan oleh bumi ke luar angkasa.Namun, tidak semua radiasi gelombang panjang tersebut sampai ke luar angkasa.Awan-awan konvektif adalah salah satu faktor yang menghalangi perjalanan gelombang panjang tersebut.Suatu wilayah di permukaan bumi yang terdapat tutupan awan konvektif memiliki nilai OLR yang kecil/rendah. Pada bulan Juli 2017, nilai OLR terendah di wilayah Indonesia terdapat di wilayah Pulau Kalimantan bagian utara dan Pulau Papua bagian utara yaitu berkisar antara 180 – 200 W/m2, sementara untuk wilayah Kepulauan Riau, nilai OLR yang ditunjukkan oleh gambar 8 sekitar 220 - 240 W/m2.Hal ini mengindikasikan bahwa tutupan awan konvektif di wilayah Kepulauan Riau pada bulan Juli 2017 tidak cukup banyak.

(10)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 7 b. Fase MJO

MJO selama bulan Juli 2017 berada pada fase 2 sampai 7 dengan sifat lemah hingga kuat pada perambatannya.Wilayah Indonesia berada pada fase 3 sampai 5.Pada gambar (9) terlihat bahwa pada bulan Juli wilayah Indonesia terlewati oleh perambatan MJO dan memiliki sifat yang kuat pada awal bulan.Secara teori, kondisi MJO ini cukup memberikan pengaruh pada penambahan curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Indonesia bagian Barat, termasuk wilayah Kepulauan Riau.

Sumber: http://www.bom.gov.au/climate/mjo/ Gambar 9. Fase MJO

4. IOD(Indian Ocean Dipole)

Fenomena Dipole Mode di Samudera Hindia atau IOD (Indian Ocean Dipole)berada pada kisaran normal dengan kondisi netral (-0,4 s.d 0,4). Pada akhir bulan Juli 2017 nilai IOD berada pada kondisi positif yang bernilai +0.10. Sehingga dapat diketahui bahwa selama bulan Juli 2017, secara umum IOD tidak berpengaruh dalam menambah peluang pertumbuhan awan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk wilayah Kepulauan Riau.

Sumber: http://www.bom.gov.au/climate/enso/indices.shtml Gambar10. Grafik IOD

(11)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 8

C. ANALISIS HUJAN BULAN JULI2017

Berdasarkan data curah hujan bulan Juli 2017 yang diterima dari Stasiun Meteorologi Hang Nadimdi Pulau Batam yang mewakili daerah-daerah di sekitarnya, maka evaluasi jumlah curah hujan dan sifat hujan bulan Juli 2017 adalah sebagai berikut:

(12)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 9

D. ANALISIS UNSUR CUACA SIGNIFIKAN BULAN JULI 2017 a. Hujan

Sifat hujan bulan Juli 2017 di Barelang Bawah Normal (B) sampai dengan Normal (N) dengan curah hujan selama sebulan berkisar 35,0 mm - 227,8 mm atau antara 13,9 % - 90,4 %. Curah hujan terendah terjadi di Sengkuang dan tertinggi di Pagoda. Khusus di Hang Nadim dalam bulan Juli 2017 terdapat 8 hari hujan terukur dan 2 hari hujan tidak terukur (ttu) dengan total curah hujan sebesar 66,7 mm atau berkisar 26,5% dari rata-rata yang berarti sifat hujan Bawah Normal (B) . Pada dasarian I terjadi 4 hari hujan dengan jumlah curah hujan 29,9 mm, dasarian II terjadi 4 hari hujan dengan jumlah curah hujan 30,8 mm, dan dasarian III terjadi 3 hari dengan curah hujan 6 mm. Curah hujan tertinggi 19,3 mm terjadi pada tanggal 03 Juli 2017

(13)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 10

b. Suhu Udara

Suhu udara harian rata-rata berkisar antara 25,0°C - 29,1° C. Suhu udara terendah dalam bulan Juli 2017 adalah 22,8 ° C terjadi pada tanggal 03 Juli 2017 pagi hari dan suhu udara tertinggi 32.8°C terjadi pada tanggal 28 Juli 2017 siang hari.

Gambar12. Grafik Suhu Udara bulan Juli 2017di Hang Nadim

c. Kelembaban Udara

Kelembaban udara harian rata-rata berkisar antara 74 % - 93 %. Kelembaban udara terendah mutlak 52% terjadi pada tanggal 10 Juli 2017 siang hari, sedangkan kelembaban udara tertinggi 98% terjadi tanggal 12 Juli 2017 pagi hari. Dengan demikian kelembaban udara pada bulan Juli 2017 lebih kering dibandingkan bulan Juni 2017.

Gambar13.Grafik Kelembaban Udara Bulan Juli 2017di Hang Nadim

d. Angin Permukaan

Selama periode dasarian I – III Juli 2017 angin permukaan secara umum didominasi dari arah Tenggara sampai Selatan dengan kecepatan rata-rata 10,4 km/jam, arah dan kecepatan maximum dari Selatan dengan kecepatan 32,4 km/jam terjadi pada tanggal 16 dan 29 Juli 2017.

(14)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 11

PRAKIRAAN CUACA AGUSTUS 2017

A. DINAMIKA ATMOSFER 1. Tekanan Udara dan Angin

Pada bulan Agustus, posisi matahari dalam gerak semunya berada di BBU (Belahan Bumi Utara) paling ujung dan kembali menuju equator atau BBS (Bumi Bagian Selatan) dengan pergerakan semu sejauh kurang lebih 14.5° yaitu dari 9.5°LU menuju 5.0°LS (http://www.physicalgeography.net). Sehingga, dominasi pola-pola daerah bertekanan udara rendah pada bulan Agustus 2017 diprakirakan masih akan banyak berada di wilayah Bumi Bagian Utara (BBU) dan equator.

Prediksi Anomali Suhu Muka Laut periode Agustus – September–

Oktober 2017 Rata-rata Tekanan Udara pada Bulan Agustus 2017

Sumber: http://iridl.ldeo.columbia.edu/maproom/Global/Forecasts/SST.html?L=2.5 http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/realtime/clim/annual/monthly/monthly.12.slp.html

Gambar 14. Prediksi Anomali Suhu Muka Laut periode dan Rata-rata Tekanan Udara pada Bulan Agustus2017

Pola angin rata-rata bulan Agustus secara dominan akan bertiup dari Bumi Bagian Selatan (BBS) menuju Bumi Bagian Utara (BBU) dan membentuk belokan angin di sekitar ekuator. Berdasarkan gambar 16, terdapat daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Kepulauan Riau yang menyebabkan bertemunya massa udara yang mendukung dalam proses pertumbuhan awan-awan hujan.

Sumber: Meteo Publik, BMKG

(15)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 12

2. ENSO(EL-NinoSouthern Oscillation)

ENSO merupakan salah satu fenomena cuaca skala global yang mempengaruhi penambahan curah hujan (fase La-Nina) maupun pengurangan curah hujan (fase El-Nino) di wilayah Indonesia. Prediksi ENSO menurut institusi internasional yaitu BMKG, BOM/ POAMA (Predictive Ocean

Atmosphere Model for Australia) dan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology)

menyatakan bahwa pada bulan Agustus 2017 dalam kondisi Normal, sedangkan menurut dan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) ENSO dalam kondisi El-Nino. Secara umum, ENSO diprediksi kurang memberi pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau.

Sumber: Pusat Data Dokumen, BMKG

Gambar 16.Prediksi ENSO dari NOAA, JAMSTEC, POAMA dan BMKG

Salah satu parameter ENSO yaitu data SOI (Southern Oscillation Index) dari BoM (Bureau of

Meteorology Australia) hingga akhir Juli menunjukkan berada pada kondisi Normal dengan nilai SOI

sebesar +8.1,sehingga tidak memiliki pengaruh terhadap penambahan maupun pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia.

Sumber: http://www.bom.gov.au/climate/enso/monitoring/soi30.png

(16)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 13

3. MJO(Madden-Agustusan Oscillation)

Salah satu fenomena cuaca global yang juga mempengaruhi jumlah curah hujan di Indonesia, khususnya daerah dekat khatulistiwa adalah osilasi gugusan awan yang lazim disebut MJO. Menurut NOAA, diperkirakan MJO pada awal hingga pertengahan Agustus 2017 berada pada fase 6 hingga 8 dengan sifat lemah sehingga tidak mempengaruhi penambahan curah hujan di wilayah Indonesia (Gambar 19). Nilai anomali OLR bernilai positif berada di wilayah sebelah barat Indonesia (Gambar 20) pada awal bulan Agustus.Hal tersebut mengindikasikan tutupan awan konvektif di wilayah Indonesia bagian barat pada awal bulan Agustus tidak cukup banyak.

Sumber: http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/MJO/foregfs.shtml

Gambar 18.Grafik Fase MJO pada Bulan Juli 2017 dan prakiraan Bulan Agustus 2017

Sumber:http://www.cpc.ncep.noaa.gov/products/precip/CWlink/MJO/spatial_olrmap_CA_full.gif

Gambar 19.Anomali OLR sampai dengan 31Juli 2017 dan prakiraan 15 hari kedepan

4. Dipole Mode / IOD (Indian Ocean Dipole)

Fenomena cuaca global terakhir yang juga mempengaruhi peluang hujan di Indonesia, khususnya Indonesia Bagian Barat, adalah dipole mode. Menurut data dari BoM dan BMKG memprakirakan pada bulan Agustus DMI akan berada pada kondisi normal sehingga tidak mempengaruhi penambahan maupun pengurangan jumlah curah hujan di wilayah Indonesia.

(17)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 14

Sumber: http://www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/Klimatologi/Dinamika_Atmosfir.bmkg

Gambar 20.Prediksi Indeks Dipole Mode dari BoM dan BMKG

5. Tinjauan Klimatologis

Kondisi cuaca bulan Agustus di Batam berdasarkan data klimatologis selama 24 tahun (1993-2016) diketahui:

Secara klimatologis selama 16 tahun (1996 – 2011) jumlah curah hujan dibagi menjadi tiga bagian di Pulau Batam selama Bulan Agustus. Batam bagian Timur sekitar 200 – 300 mm, sedangkan Batam bagian Tengah sekitar 200 – 250 mm dan Batam bagian Barat dan Selatan jumlahnya sekitar 150 – 200 mm.

Kesimpulan:

Dari uraian di atas diketahui bahwa peluang pertumbuhan awan-awan hujan di Batam pada bulan Agustus 2017 lebih tinggi dibanding dengan bulan Juli 2017, sehingga peluang curah hujannya lebih tinggi juga bila dibanding dengan bulan Juli 2017.

B. PRAKIRAAN HUJANBULAN AGUSTUS 2017 1. PrakiraanHujan Dasarian

Berdasarkan keluaran program HyBMG 2.0.7dengan model prediksiARIMA(Autoregressive

Integrated Moving Average) diperoleh prediksi curah hujan tiap dasarian mulai Agustus 2017 hingga

Juli 2018.Data masukan yang digunakan adalah data serieshujandasarian Hang NadimperiodeAgustus1998 s.d Juli 2017.

Dengan membandingkan prediksi hujan model ARIMAdengan normal hujan dasarian periode 1993-2012 diperoleh nilai korelasi 0.94455 dan RMSE (error) 7.3258. Hasilnya menunjukkan bahwa curah hujan di bulan Agustus 2017 diprakirakan:

Minimum Rata-rata Maksimum

SUHU UDARA 22.8 27.1 33.5

KELEMBAPAN UDARA 45% 84% 100%

ANGIN 7 Km/jam 12 Km/jam 55 Km/jam

HARI HUJAN 10 18* 26

(18)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 15 Sesuai dengan kriteria sifat hujan dalam dasarian, prakiraan curah hujan pada dasarian I dan II berada di bawah normalnya sedangkan dasarian III berada pada kondisi normalnya.

2. PrakiraanHujan Bulanan

Berdasarkan data-data dan analisis model serta program HyBMG 2.0.7 dapat diperoleh hasil prakiraan curahhujan satu bulan pada bulanAgustus 2017 di wilayah Barelangsebagaiberikut:

Tabel : Prakiraan Curah Hujan Bulan Agustus 2017

danmembandingkandengan normal hujannyamakasifathujanbulan Agustus 2017 di Barelangdapatdiprakirakansebagaiberikut:

Tabel: Prakiraan Sifat Hujan Bulan Agustus 2017

(19)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 16

PRAKIRAAN PASANG SURUT (TIDAL)AGUSTUS 2017

A. Pendahuluan

Pasang surut air adalah gelombang yang mirip dengan gelombang air yang terjadi akibat tiupan angin.Pasang surut memiliki panjang gelombang yang panjang, seperti yang terdapat pada laut dalam namun terjadi untuk air dangkal, ini berarti pasang surut dibiaskan oleh keadaan topografi kedalaman bawah air.Periodenya pun cukup panjang, dalam orde jam. Pasang surut air terjadi disebabkan oleh gaya gravitasi dan gaya sentrifugal yang ditimbulkan oleh gerakan bumi, bulan, dan matahari.

B. Pola Pasang Surut

Di seluruh dunia pasang surut berbeda baik ketinggian paras air maupun waktu kejadiannya. Area pantai yang hanya punya satu pasang surut tertinggi dan terendah setiap hari disebut diurnal tide (air pasang harian). Wilayah yang mengalami dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari disebut mempunyai semi-diurnal tide. Jika semi-diurnal tide mempunyai ketinggian air pasang yang dicapai berbeda dan saat surut juga level air tidak sama disebut semi-diurnal mixed tide.

Pola pasang surut dapat dijelaskan secara gelombang dengan grafik yang menunjukkan paras air untuk sumbu vertikal dan sumbu horisontal menyatakan waktu hari. Pengamatan pasang surut dalam jangka waktu yang lama digunakan untuk menghitung rata-rata ketinggian pasang. Dengan nilai rata-rata ini dapat dihitung anomali pasang naik dan pasang surut air.

C. Paras Pasang Surut.

Ketinggian air tertinggi yang dicapai permukaan air setiap hari disebut HighWater (HT) / Higt Tide (Ht). Titik terendah dimana permukaan air surut disebut Low Water (LW) / Low Tide. Mengingat propinsi Kepulauan Riau sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan maka fenomena pasang surut air laut sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan yang berhubungan dengan kelautan seperti bongkar muat di Pelabuhan Laut, kegiatan para nelayan dan lain sebagainya. Untuk itu dalam buletin ini kami sajikan prediksi pasang surut di seluruh Propinsi Kepulauan Riau yang meliputi 6 (enam) Kabupaten Kota sebagai berikut :

1. KOTA BATAM

(20)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 17 2. KABUPATEN BINTAN

i. TANJUNG UBAN

3. KABUPATEN KARIMUN

i. TANJUNG BALAI KARIMUN

ii. TANJUNG PINANG

4. KABUPATEN LINGGA i. DABO SINGKEP

(21)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 18

5. KABUPATEN ANAMBAS

i. SELAT PENITING

6. KABUPATEN NATUNA

(22)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 19

PRAKIRAAN TERBIT/ TERBENAM

BULAN DAN MATAHARI AGUSTUS 2017

1. STASIUN METEOROLOGI HANG NADIM BATAM

Location : E104 07, N01 07, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm Hm hm hm 1 0605 1815 1309 0044 2 0605 1815 1355 0128 3 0605 1815 1442 0214 4 0605 1815 1530 0301 5 0605 1814 1618 0350 6 0605 1814 1707 0439 7 0605 1814 1756 0528 8 0604 1814 1844 0617 9 0604 1814 1932 0705 10 0604 1814 2019 0753 11 0604 1813 2106 0841 12 0604 1813 2154 0929 13 0604 1813 2244 1019 14 0604 1813 2335 1110 15 0603 1813 000 1203 16 0603 1812 0030 1259 17 0603 1812 0126 1357 18 0603 1812 0225 1457 19 0603 1812 0325 1557 20 0603 1811 0425 1655 21 0602 1811 0522 1751 22 0602 1811 0617 1844 23 0602 1810 0709 1934 24 0602 1810 0759 2022 25 0601 1810 0846 2108 26 0601 1810 0932 2153 27 0601 1809 1018 2238 28 0601 1809 1103 2323 29 0600 1809 1149 000 30 0600 1808 1235 0008 31 0600 1808 000 000 2. STASIUN METEOROLOGI TANJUNGPINANG

Location : E104 32, N00 55, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm Hm hm hm 1 0604 1813 1307 0042 2 0603 1813 1353 0127 3 0603 1813 1440 0213 4 0603 1813 1528 0300 5 0603 1812 1616 0348 6 0603 1812 1705 0437 7 0603 1812 1754 0526 8 0603 1812 1842 0615 9 0603 1812 1930 0704 10 0603 1812 2017 0752 11 0603 1812 2105 0840 12 0603 1811 2153 0928 13 0602 1811 2242 1017 14 0602 1811 2334 1108 15 0602 1811 000 1201 16 0602 1810 0028 1257 17 0602 1810 0125 1355 18 0601 1810 0224 1455 19 0601 1810 0324 1555 20 0601 1810 0423 1653 21 0601 1809 0521 1749 22 0601 1809 0615 1842 23 0600 1809 0707 1932 24 0600 1808 0757 2020 25 0600 1808 0844 2106 26 0600 1808 0930 2151 27 0559 1807 1016 2236 28 0559 1807 1101 2321 29 0559 1807 1147 000 30 0559 1806 1233 0007 31 000 000 000 000

(23)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 20

3. STASIUN METEOROLOGI RANAI

Location : E108 24, N03 55, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0544 1801 1254 0023 2 0544 1801 1341 0108 3 0544 1801 1428 0153 4 0544 1801 1516 0240 5 0544 1801 1604 0328 6 0544 1801 1653 0417 7 0544 1800 1741 0506 8 0544 1800 1829 0556 9 0544 1800 1916 0645 10 0544 1800 2003 0734 11 0544 1759 2049 0823 12 0544 1759 2136 0912 13 0544 1759 2224 1002 14 0544 1759 2315 1054 15 0544 1758 000 1148 16 0543 1758 0009 1245 17 0543 1758 0105 1343 18 0543 1757 0203 1443 19 0543 1757 0303 1543 20 0543 1757 0403 1641 21 0543 1756 0501 1736 22 0543 1756 0557 1828 23 0543 1756 0650 1917 24 0542 1755 0740 2004 25 0542 1755 0829 2049 26 0542 1755 0916 2133 27 0542 1754 1002 2218 28 0542 1754 1048 2302 29 0541 1753 1135 2347 30 0541 1753 1222 000 31 000 000 1309 0034 4. STASIUN METEOROLOGI TANJUNG BALAI KARIMUN

Location : E103 23, N01 03, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0608 1818 1312 0047 2 0608 1818 1358 0132 3 0608 1817 1445 0218 4 0608 1817 1532 0305 5 0608 1817 1621 0353 6 0608 1817 1710 0442 7 0608 1817 1759 0531 8 0607 1817 1847 0620 9 0607 1817 1935 0708 10 0607 1816 2022 0756 11 0607 1816 2109 0844 12 0607 1816 2157 0932 13 0607 1816 2247 1022 14 0607 1816 2338 1113 15 0606 1815 000 1206 16 0606 1815 0033 1302 17 0606 1815 0130 1400 18 0606 1815 0229 1500 19 0606 1814 0328 1600 20 0606 1814 0428 1658 21 0605 1814 0525 1754 22 0605 1814 0620 1847 23 0605 1813 0712 1937 24 0605 1813 0802 2025 25 0604 1813 0849 2111 26 0604 1812 0935 2156 27 0604 1812 1021 2241 28 0604 1812 1106 2326 29 0603 1811 1152 000 30 0603 1811 1238 0012 31 000 000 000 000

(24)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 21

5. STASIUN METEOROLOGI DABO SINGKEP

Location : E104 34, S00 28, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm hm 1 0604 1812 1306 0042 2 0604 1812 1352 0127 3 0604 1812 1439 0213 4 0604 1812 1527 0301 5 0604 1812 1615 0349 6 0604 1812 1704 0438 7 0604 1812 1753 0527 8 0603 1811 1842 0615 9 0603 1811 1929 0704 10 0603 1811 2017 0752 11 0603 1811 2104 0840 12 0603 1811 2153 0927 13 0603 1811 2242 1017 14 0603 1810 2334 1107 15 0602 1810 000 1200 16 0602 1810 0029 1256 17 0602 1810 0125 1355 18 0602 1809 0224 1454 19 0602 1809 0324 1554 20 0601 1809 0424 1652 21 0601 1809 0521 1748 22 0601 1808 0616 1841 23 0601 1808 0708 1932 24 0600 1808 0757 2020 25 0600 1808 0844 2106 26 0600 1807 0930 2151 27 0600 1807 1015 2236 28 0559 1807 1101 2322 29 0559 1806 1146 000 30 0559 1806 000 000 31 000 000 000 000 6. STASIUN METEOROLOGI TAREMPA

Location : E106 15, N03 12, July 2017 DATE

SUN MOON

Rise Set Rise Set

hm hm hm Hm 1 0546 1801 1254 0025 2 0546 1801 1340 0109 3 0546 1801 1427 0155 4 0546 1801 1515 0241 5 0546 1800 1604 0330 6 0546 1800 1653 0419 7 0546 1800 1741 0508 8 0546 1800 1829 0557 9 0545 1800 1916 0646 10 0545 1759 2003 0735 11 0545 1759 2049 0824 12 0545 1759 2137 0912 13 0545 1759 2226 1002 14 0545 1758 2316 1054 15 0545 1758 000 1148 16 0545 1758 0010 1245 17 0545 1758 0106 1343 18 0545 1757 0205 1443 19 0544 1757 0305 1543 20 0544 1757 0405 1641 21 0544 1756 0503 1736 22 0544 1756 0558 1828 23 0544 1756 0651 1917 24 0544 1755 0741 2005 25 0543 1755 0829 2050 26 0543 1755 0916 2135 27 0543 1754 1002 2219 28 0543 1754 1048 2303 29 0543 1753 1134 2349 30 0542 1753 1221 000 31 0542 1753 000 000

(25)

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam | BULETIN METEOROLOGI [Edisi.044] 22 DAFTAR ISTILAH

Anomali : Penyimpangan suatu variabel dari nilai rata-rata

Awan Konvektif : Awan tebal menjulang tinggi yang terbentuk dari proses pemanasan vertikal yang

membawa uap air. Awan ini mengakibatkan terjadinya hujan secara tiba-tiba, petir dan angin kencang.

Cold Surge : Aliran udara dingin dari daratan Asia yang menjalar memasuki wilayah Indonesia

bagian barat, cold surge biasa terjadi pada saat Asia memasuki musim dingin.

Cuaca : Kondisi fisis atmosfer pada suatu wilayah yang sempit pada waktu tertentu

Dasarian : Periode sepuluh harian

Dipole Mode /IOD (Indian Ocean Dipole)

: Tingkat ketersediaan uap air akibat perbedaan suhu muka laut antara Samudera Hindia dan Perairan Pantai Timur Afrika.

DMI

(Dipole Mode Index)

: Indeks yang menunjukkan perkembangan dan intensitas Dipole Mode. DMI yang bernilai negatif akan menambah kandungan uap air di sekitar wilayah Sumatera, sehingga curah hujannya secara umum meningkat. Sedangkan nilai positif tidak menambah kandungan uap air, sehingga curah hujan cenderung berkurang.

Divergensi : Beraian angin, yang mengindikasikan daerah cuaca baik

Eddy : Pusaran angin dengan durasi harian dan biasanya jika suatu daerah terdapat eddy,

maka cenderung banyak hujan.

El Nino : Fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik Timur sehingga secara

umum menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang. ENSO

(El Nino-Shouthern Oscillation)

: Fluktuasi musiman antara fase El Nino dan La Nina.

Gelombang : Pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan laut.

Iklim : Kondisi Rata-rata cuaca dalam jangka waktu yang lama dan wilayah yang luas

ITCZ(Intertropical

Convergence Zone) : Daerah pertemuan massa udara antar benua dengan cakupan yang luas. Umumnya daerah-daerah yang dilintasi ITCZ berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan

hujan lebat dan cukup lama (bisa lebih dari satu hari).

Konvergensi : Pumpunan angin, pola angin yang mengumpul

La Nina : Fenomena yang merupakan kebalikan dari El Nino. Secara umum menyebabkan

curah hujan di Indonesia meningkat. MJO(Madden-Novemberan

Oscillation)

: Fluktuasi musiman/osilasi/gelombang tekanan (pola tekanan tinggi-tekanan rendah) di kawasan tropik yang terkait dengan penambahan gugusan uap air yang menyuplai pembentukan awan hujan dengan periode lebih kurang 48 hari yang menjalar dari barat ke timur. Biasanya berawal di pantai timur Afrika kemudian menjalar ke timur dan menghilang di bagian tengah Pasifik. MJO ini berkaitan dengan OLR (Outgoing Longwave Radiation)

Monsun : Suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik pada suatu periode

(minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal dengan 2 istilah monsun yaitu monsun Asia dan Monsun Australia. Monsun Asia berkaitan dengan musim hujan di Indonesia, sedangkan Monsun Australia berkaitan dengan musim kemarau.

Normal : Nilai rata-rata suatu variabel selama 30 tahun, menggunakan periode waktu yang

tidak ditentukan (1971-2000, 1976-2005, 1978-2007, dsb) OLR(Outgoing Longwave

Radiation) : Radiasi gelombang panjang (infra merah) yang dipancarakan keluar dari bumi. OLR yang bernilai negatif menunjukkan tutupan awan konvektif yang banyak, sedangkan

nilai positif tutupan awan konvektifnya sedikit.

Rata-rata : Nilai rata-rata suatu variabel selama minimal periode 10 tahun (1971-1980,

1976-1985, 1993-2002, 1995-2010, dsb)

Shearline : Garis atau zona lintasan yang terdapat perubahan arah dan kecepatan angin secara

tiba-tiba.

SOI (Southern Oscillation Index) : Indeks yang menunjukkan perkembangan dan intensitas El Nino atau La Nina.

Standar Normal : Nilai rata-rata suatu variabel selama 30 tahun, menggunakan periode waktu yang

sudah ditentukan, dimulai tahun berakhiran 1 diakhiri tahun berakhiran 0 (1961-1990, 1971-2000, 1981-2010, dst)

Konveksi : Pergerakan molekul-molekul pada fluida (cairan atau gas)

Updraft : Pergerakan vertikal ke atas dari suatu kolom udara yang berhubungan dengan

Gambar

Gambar 1.  Peta Rata-rata Suhu Muka Laut Juli 2017
Gambar 3. Rata-rata Tekanan Udara Permukaan Laut Bulan Juli 2017
Gambar 5.  Pola Angin 850mb Bulan Juli 2017
Gambar 8.  Rata-rata OLR Juli 2017
+7

Referensi

Dokumen terkait

Buletin Meteorologi edisi September 2020 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Agustus 2020, prakiraan hujan serta

Secara umum berdasarkan data prakiraan yang didapat dari BMKG dan BoM, keduanya menunjukan bahwa IOD masih dalam kondisi normal sehingga diprakirakan pada bulan Juli 2015

Buletin Meteorologi edisi Februari 2016 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Januari 2016, prakiraan hujan

Menurut data dari BoM dan BMKG, bulan Maret 2021 DMI akan berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan dalam pengurangan maupun penambahan

Buletin Meteorologi edisi Juni 2016 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Mei 2016, prakiraan hujan dan

Buletin Meteorologi edisi September 2016 ini akan mengulas informasi hasil evaluasi cuaca dan iklim wilayah Kepulauan Riau pada bulan Agustus 2016, prakiraan hujan

Secara umum berdasarkan data prakiraan yang didapat dari BMKG menunjukan bahwa IOD pada bulan November menurut BMKG dan BoM diprakirakan bernilai positif (kuat) sehingga

Menurut data dari BoM dan BMKG (gambar 19) bulan November 2020 DMI akan berada pada kondisi netral sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan dalam