• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. PENDAHULUAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang tengah dilanda krisis ekonomi menyebabkan persaingan usaha menjadi semakin ketat. Setiap perusahaan akan berusaha untuk bertahan dengan menjaga efisiensi dan efektivitas dari kegiatan operasional perusahaan, serta mempertimbangkan strategi perusahaan. Kegiatan tersebut dilakukan semata-mata untuk mempertahankan kinerja perusahaan dan memaksimalkan keuntungan ditengah lesunya kegiatan ekonomi saat ini. Namun di sisi lain manajemen perusahaan masih memiliki kewajiban untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham (shareholder). Demi terpenuhnya tujuan tersebut, maka diperlukan keputusan yang tepat dari pimpinan perusahaan baik keputusan investasi, keputusan pendanaan dan keputusan dividen.

Salah satu keputusan penting yang dihadapi pimpinan perusahaan berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan operasional perusahaan adalah keputusan pendanaan. Keputusan pendanaan yang baik tercermin dari struktur modal suatu perusahaan, yaitu keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi utang, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang, saham preferen, dan saham biasa yang akan digunakan oleh perusahaan (Margaretha & Ramadhan, 2010). Kondisi perekonomian saat ini yang sedang megalami perlambatan, mendorong perusahaan untuk memilki keputusan pendanaan yang tepat agar mampu bertahan dan bertumbuh. Inilah di mana peran top eksekutif sangat dibutuhkan dalam menentukan struktur modal dengan mempertimbangkan biaya modal atau cost of capital yang akan timbul. Sumber pendanaan melalui utang akan menimbulkan imbalan berupa biaya bunga yang harus dibayar kepada kreditor dan pendanaan melalui modal saham akan menimbulkan imbalan yang harus dibayar kepada pemegang saham berupa dividen. Struktur modal yang optimal adalah suatu kondisi di mana sebuah perusahaan dapat mengkombinasikan utang dan ekuitas secara ideal dan mampu meminimalkan biaya modal yang harus ditanggung oleh perusahaan.

(2)

Setiap perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar pajak sebagai kontribuasi wajib yang harus dibayarkan kepada negara. Sehingga keputusan pendanaan yang diambil oleh pemimpin perusahaan harus mempertimbangkan sisi perpajakan. Ketentuan perpajakan memberi perlakuan yang berbeda antara pembiayaan dengan utang (debt financing) dan pembiayaan dengan modal saham (equity financing). Dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, Pasal 6 dan Pasal 9 menyebutkan tentang biaya yang boleh menjadi pengurang penghasilan kena pajak (deductible expense) dan biaya yang tidak boleh jadi pengurang penghasilan kena pajak (non deductible expense) sebagai dasar perhitungan pajak terutang. Pembayaran imbalan berupa bunga dari pembiayaan dengan utang dapat menjadi pengurang dalam menghitung pajak terutang (deductible expense), sedangkan pembiayaan dengan modal saham imbalan investasi yang berupa deviden tidak dapat dikurangkan dalam menghitung pajak terutang karena bukan merupakan bagian dari biaya. Hal ini tentu saja menjadi pertimbangan karena pajak merupakan biaya yang signifikan dalam perusahaan, sehingga untuk mencapai laba yang optimal setiap upaya akan dilakukan untuk meminimalkan biaya tersebut. Sehingga bagi perusahaan pengeluaran biaya tetap untuk bunga pinjaman lebih menguntungkan daripada pengeluaran untuk membayar dividen karena bisa dipakai untuk pengurangan pajak (Astuti, 2004).

Pengambilan kebijakan dan keputusan pendanaan oleh top eksekutif perusahaan tidak lepas dari pola pikir dan cara pandang masing-masing individu terhadap risiko, karena setiap keputusan pendanaan mengandung risiko yang berbeda-beda. Pola pikir dan cara pandang top eksekutif perusahaan yang berani mengambil risiko biasanya akan melakukan pendanaan yang banyak melalui utang walaupun memiliki risiko tinggi terjadinya financial distress dan kebangkrutan, karakteristik ini disebut dengan sifat risk taking (Lewellen, 2006). Ditinjau dari sisi perpajakan karakteristik ini akan cenderung melakukan penghindaran pajak (tax avoidance), dengan memanfaatkan biaya bunga utang yang tinggi. Sebaliknya top eksekutif yang cenderung tidak berani untuk mengambil risiko tersebut dan memilih untuk membatasi pendanaan melalui utang dan memperbanyak pendanaan dengan modal saham, menghasilkan karakter yang bersifat risk averse (Low, 2009).

Tingkat penghindaran pajak (tax avoiadance) yang dilakukan oleh karakter ini pun

(3)

lebih rendah, karena perusahaan akan membatasi pendanaan melalui utang dengan tingkat suku bunga yang tinggi.

Dyreng, Hanlon, dan Maydew (2008) mendefinisikan tax avoidance sebagai kemampuan untuk membayar pajak relatif lebih rendah dari pada pajak pengasilan perusahaan dalam laporan keuangan. Menurut Hutagaol (2007) tax avoidance adalah upaya penghindaran pajak secara legal yang tidak melanggar peraturan perpajakan. Tax avoidance merupakan salah satu strategi dari tax planning (Mangoting, 1999). Tindakan ini dilakukan oleh wajib pajak dengan tujuan untuk memaksimalkan laba dan meningkatkan likuiditas perusahaan.

Pemerintah bukannya tidak menyadari akan adanya pemanfaatan peraturan yang mengatur tentang pembiayaan bunga pinjaman ini, sudah ada peraturan yang mengatur mengenai biaya pinjaman yang boleh dibiayakan yang tertuang dalam Peraturan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1002/KMK.04/1984 tentang Penentuan Perbandingan antara Utang dan Modal Sendiri Untuk Keperluan Pengenaan Pajak Penghasilan. Namun setelah enam bulan penerapaanya Radius Prawiro yang merupakan Menteri Keuangan di era itu membekukan ketentuan tersebut karena dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan dunia usaha.

Sebagai payung hukumnya, diterbitkan KMK Nomor 254/KMK.04/1985 tentang Penundaan Pelaksanaan KMK Nomor 1002/KMK.04/1984 tentang Penentuan Perbandingan antara Utang dan Modal Sendiri untuk Keperluan Pengenaan Pajak Penghasilan. Setelah 31 tahun berselang, pada tanggal 9 September 2015 diundangkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.010/2015 tentang Penentuan Besarnya Perbandingan antara Utang dan Modal Perusahaan untuk Keperluan Perhitungan Pajak Penghasilan yang akan mulai berlaku untuk tahun pajak 2016. Dengan terbitnya peraturan ini mengakibatkan tidak semua biaya pinjaman dapat dibiayakan, ruang perusahaan dalam memanfaatkan celah ini sebagai tindakan tax avoidance akan semakin terbatas. Masalah tax avoidance ini merupakan hal yang kompleks dan unik. Seperti dua sisi mata koin, di satu sisi tax avoidance tidak melanggar hukum, namun di sisi lain praktek ini tidak diinginkan oleh pemerintah karena pada akhirnya akan berdampak pada berkurangnya penerimaan negara dari sektor pajak. Sedangkan dari sisi wajib pajak tax avoidance

(4)

sering dilakukan karena selain menguntungkan bagi dirinya, tindakan tersebut juga masih berada dalam batasan hukum.

Tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan tentu tidak lepas dari kebijakan yang diambil oleh top eksekutif selaku pengambil keputusan yang akan menentukan seberapa besar tingkat agresifitas perusahaan dalam melakukan tax avoidance, di mana akan tercermin dari besar kecilnya risiko perusahaan (Budiman

& Setiyono, 2012). Hal ini didukung oleh Dyreng, Hanlon, dan Maydew (2010), menyatakan bahwa individu top eksekutif memiliki pengaruh terhadap penghindaran pajak perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sehingga dalam menciptakan struktur modal yang optimal, top eksekutif harus mempertimbangkan pengunaan utang sebagai sumber pendanaan yang memiliki keuntungan dari tindakan tax avoidance dan kerugian yang dapat ditimbulkan karena adanya potensi kebangkrutan dan financial distress yang akan dihadapi oleh perusahaan yang memiliki bunga utang yang tinggi.

Penggunaan utang sebagai sumber pendanaan dapat diukur dengan menggunakan leverage. Menurut Astuti (2004) leverage merupakan suatu ukuran yang menunjukkan sampai sejauh mana utang digunakan dalam struktur modal perusahaan. Utang yang dimaksud dalam pengukuran ini adalah utang jangka panjang, karena lebih relevan dengan pembiayaan bunga dan kegiatan pendaaan.

Variabel leverage diukur dengan membagi total utang jangka panjang dengan total asset perusahaan (Badertscher, Katz, & Rego, 2009). Semakin besar leverage menunjukan penggunakan utang yang besar sebagai sumber pendanaan perusahaan, sehingga beban bunga yang dibiayakan dan risiko perusahaan juga semakin tinggi.

Oleh sebab itu adanya dugaan bahwa karakteristik eksekutif akan mempengaruhi tingkat leverage dan secara tidak langsung mengindikasikan bahwa perusaaan melakukan tax avoidance melalui pembiayaan bunga utang.

Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tax avoidance telah banyak dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh Swingly dan Sukartha (2015) ditujukan untuk menguji apakah karakteristik eksekutif, komite audit, ukuran perusahaan, leverage, dan sales growth berpengaruh pada tax avoidance. Dengan mengambil sampel 41 Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011- 2013 diperoleh hasil bahwa karakteristik eksekutif dan ukuran perusahaan

(5)

berpengaruh positif pada tax avoidance, sedangkan leverage berpengaruh negatif pada tax avoidance dan komite audit dan sales growth tidak berpengaruh pada tax avoidance. Namun penelitian yang dilakukan oleh Kurniasih dan Sari (2013) yang berjudul “Pengaruh Return on Assets, Leverage, Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Kompensasi Rugi Fiskal pada Tax Avoidance” menunjukkan bahwa RoA, ukuran perusahaan dan kompensasi rugi berpengaruh signifikan secara parsial terhadap tax avoidance, sedangkan leverage dan corporate governance tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap tax avoidance. Penelitian yang dilakukan oleh Maharani dan Suardana (2014) yang berjudul “Pengaruh Corporate Governance, Profitabilitas dan Karakteristik Eksekutif pada Tax Avoidance Perusahaan Manufaktur” menunjukkan bahwa proporsi dewan komisaris, kualitas audit, komite audit yang merupakan proksi dari corporate governance dan profitabilitas berpengaruh negatif terhadap tax avoidance, karakteristik eksekutif berpengaruh positif terhadap tax avoidance, sedangkan kepemilikan insitusional yang merupakan proksi dari corporate governance tidak berpengaruh terhadap tindakan tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.

Penelitian yang menguji menggunakan variabel Return on Assets, leverage, corporate governance, ukuran, profabilitas perusahaan, dewan komisaris dan komite audit telah banyak dilakukan, seperti yang dilakukan oleh Utami (2013), Annisa dan Kurniasih (2012), Reza (2012), Prakosa (2014), Marfu’ah (2015), Prima (2014), Ardyansah dan Zulaikha (2014), Primordia (2015). Sedangkan penelitian dengan variabel karakteristik eksekutif masih jarang digunakan, oleh karena itu penulis tertarik untuk menguji apakah terdapat pengaruh karakteristik eksekutif terhadap agresifitas perusahaan dalam melakukan tax avoidance dengan menambahkan leverage sebagai variabel intervening. Penulis menggunakan variabel karakteristik eksekutif yang tercermin dari keputusan investasi yang diambil oleh top eksekutif untuk mengukur tax avoidance yang dilakukan oleh perusahaan dengan memanfaatan biaya bunga sebagai pengurang penghasilan. Leverage digunakan dalam penelitian ini untuk membuktikan adanya pengaruh terhadap tax avoidance. Pengujian dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2014. Perusahaan manufaktur dipilih sebagai sampel dalam penelitian

(6)

ini karena perusahaan manufaktur memiliki aktivitas produksi yang berkesinambungan sehingga membutuhkan pendanaan yang baik untuk membiayai aktiva perusahaan, salah satunya dengan pendanaan eksternal perusahaan dari utang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini terfokus pada:

1. Apakah karakteristik eksekutif memiliki pengaruh terhadap tax avoidance?

2. Apakah karakteristik eksekutif memiliki pengaruh terhadap tax avoidance perusahaan dengan leverage sebagai variabel intervening?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan mengetahui:

1. Pengaruh karakteristik eksekutif terhadap tax avoidance.

2. Pengaruh karakteristik eksekutif terhadap tax avoidance dengan leverage sebagai variabel intervening.

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian maka diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat penelitian:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teori berupa bukti empiris mengenai pengaruh karakeristik eksekutif terhadap tax avoidance dengan leverage sebagai variabel intervening.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi, wawasan, dan referensi dilingkungan akademis sehingga bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dibidang ekonomi dan perpajakan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi dan wawasan bagi perusahaan mengenai kebijkan pendanaan, tax avoidance, dan karakteristik eksekutif.

(7)

Menjadi bahan referensi dalam pengambilan kebijiakan dan keputusan bagi pemilik perusahaan, eksekutif, regulator dan investor.

1.5. Batasan Penelitian

Dalam Penelitian ini terdapat batasan penelitian yaitu penelitian ini hanya menguji pengaruh karakeristik eksekutif terhadap tax avoidance dengan leverage sebagai variabel intervening pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011-2014.

1.6. Sistematika Penelitian

Untuk memudahkan pembahasan masalah yang ada, maka penulisan skripsi ini dibagi dalam 5 (lima) bab dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Pendahuluan

Bab ini berisi penjelasan tentang pendahuluan dari penelitian yang mencakup latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, dan sistematika penelitian secara keseluruhan.

1.1. Latar Belakang Masalah 1.2. Rumusan Masalah 1.3. Batasan Penelitian 1.4. Tujuan Penelitian 1.5. Manfaat Penelitian 1.6. Sistematika Penulisan 2. Landasan Teori

Bab ini menjelaskan mengenai teori dasar dan konsep-konsep yang dipakai penulis dalam melakukan penelitian, kajian penelitian terdahulu dan hipotesis.

2.1. Teori Dasar

2.1.1. Karakteristik Eksekutif

2.1.2. Karakteristik Eksekutif dan Risiko Perusahaan 2.1.3. Leverage

2.1.4. Karakteristik Eksekutif dan Leverage 2.1.5. Tax Avoidance

2.1.6. Leverage dan Tax Avoidance

(8)

2.1.7. Karakteristik Eksekutif dan Tax Avoidance 2.7. Kajian Penelitian Terdahulu

2.8. Hipotesis

3. Metodologi Penelitian

Bab ini berisi tentang metode penelitian yang memuat model analisis, definisi operasional variabel, metode pengumpulan data, jenis dan sumber data, populasi, sampel dan teknik sampling, unit analisis, serta teknik analisis data.

3.1. Model Analisis

3.2. Definisi Operasional Variabel 3.3. Skala Pengukuran

3.4. Jenis dan Sumber Data

3.5. Instrumen dan Pengumpulan Data 3.6. Populasi

3.7. Sampel dan Teknik Sampling 3.8. Unit Analisis

3.9. Teknik Analisis Data 4. Hasil Penelitian dan Analisis

Bab ini berisi tentang hasil penelitian yang berupa hasil statistik deskriptif, pengujian hipotesis dan kemudian analisis terhadap temuan dan interpretasi serta kaitan temuan dengan teori.

5. Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi tentang kesimpulan akhir dari hasil penelitian yang diperoleh peneliti dan saran yang dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi pembaca, serta mengemukakan tentang keterbatasan dari penelitian yang dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa penelitian yang meneliti hubungan Cash Conversion Cycle dengan profitabilitas, ukuran perusahaan dan manajemen modal kerja, antara lain Bhutto et al (2011)

Kepribadian Openness memiliki hasil yang tidak optimal dikarenakan kepribadian ini memiliki keingintahuan yang tinggi dan menyukai berbagai macam pengalaman sehingga

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah struktur kepemilikan

Untuk memperoleh hasil yang optimal, maka dalam melakukan pengukuran waktu kerja harus mempertimbangkan banyak faktor, dengan demikian akan diperoleh suatu waktu standard

Dengan melihat fakta-fakta struktur geografis Indonesia, dimana wilayah laut Indonesia lebih luas dari wilayah daratannya, seharusnya transportasi laut merupakan

Untuk menciptakan suatu ruang/gedung pertunjukan yang baik, dan dapat menghasilkan kualitas suara yang optimal, maka sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan-persyaratan,

Cahaya Abadi Indah sebagai perusahaan yang bergerak di industri plastik juga memerlukan struktur organisasi yang tepat untuk mampu bersaing dengan industri plastik

Yaitu teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamat terhadap gejala-gejala subjek yang diselidiki dengan perantara sebuah alat, baik alat yang sudah ada (yang