1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Permintaan dan kebutuhan pasar yang tinggi merupakan salah satu fokus para pelaku bisnis dalam mengembangkan usahanya. Hal ini semakin meningkatkan persaingan di antara pelaku usaha, baik dalam skala besar, menengah, maupun kecil. Agar mampu bersaing dalam dunia bisnis, para pelaku usaha berusaha bekerja secara lebih efisien dan fleksibel, sehingga dapat mengikuti setiap perubahan selera konsumen, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya produksi secara optimal.
Menurut Tjiptono (2008, p. 6), perusahaan yang ingin mendominasi pasar harus memerlukan tindakan di tiga posisi: 1) perusahaan harus menemukan cara untuk memperbesar total permintaan pasar; 2) perusahaan harus melindungi pangsa pasar sekarang melalui tindakan defensif dan ofensif yang tepat; dan 3) perusahaan dapat berusaha meningkatkan pangsa pasar lebih jauh, bahkan pasarnya tetap sama. Lebih lanjut, Tjiptono (2008, p. 12) menyatakan bahwa produsen harus lebih memberikan penawaran atas produk yang bisa digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan. Dengan kata lain, keberhasilan sebuah perusahaan dalam bisnisnya akan bermuara para kemampuannya menetapkan strategi bisnis yang tepat dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.
Tuntutan atas kebutuhan dan permintaan pasar yang tinggi tersebut juga dirasakan oleh Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (UMKM).Kemampuan produksi UKM untuk dapat bersaing di pasar global masih rendah, hal tersebut dapat dibuktikan pada industri kerajinan UKM di kabupaten Cirebon, Bandung, Garut, dan Tasikmalaya mayoritas tidak memperhatikan kreasi. Hanya sebagian kecil UKM yang melakukan inovasi, misalnya UKM kerajinan batik dan batu alam (Suryana, 2006). Contoh lain adalah Aneka Kerajinan Anyaman Sabut Kelapa (AKAS) dari Kebumen, Jawa Tengah yang menghasilkan produk berupa keset, sapu coconet/cocomes, cocopot dan cocofiber. UKM ini telah berhasil memasarkan produknya ke Italia, Amerika, dan China (http://suaramerdeka.com).
Kendala yang dihadapi UKM rata-rata berkaitan dengan sumber daya manusia (human resources), manajemen, funding access, informasi teknologi, dan market access, sehingga membuat para pengusaha UKM (umumnya) memosisikan diri untuk “apatis” dalam membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary (perantara). Hal ini terbukti dengan data menunjukkan bahwa hanya 31% pihak UKM yang menerima kucuran kredit, sisanya sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UKM tidak mengajukan kredit pembiayaan sama sekali dari pihak perbankan. Di lain pihak, perbankan merasa bahwa sebagian pelaku UKM yang mengajukan kredit juga belum memenuhi persyaratan yang dibutuhkan oleh perbankan. Selain permasalahan modal tersebut, permasalahan lain yang dihadapi UKM adalah masih banyak pelaku UKM yang terkendala, seperti promosi, jaringan bisnis dan sebagainya.
Salah satu UKM, yaitu usaha yang bergerak di bidang konveksi juga mengalami kendala yang hampir sama, kendala yang muncul dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kurangnya permodalan, sumber daya manusia yang terbatas, dan lemahnya jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar. Faktor eksternal mencakup iklim usaha yang belum kondusif, terbatasnya sarana dan prasarana, implikasi otonomi daerah, implikasi perdagangan bebas,sifat produk dengan lifetime pendek, dan terbatasnya akses pasar (Infokop, 2004).
Selain itu, salah satu ancaman terbesar usaha konveksi adalah maraknya pakaian impor dengan harga lebih murah dan kualitas yang baik dari negeri Cina, Hongkong, Thailand, dan Korea. Misalnya Cina, kekuatannya terletak pada mesin manufaktur dan sistem komunikasi serta teknologi yang lebih baik. Hasil dari semua ini, Cina mendapatkan investor asing yang mau menanamkan modalnya (Bisnis Konveksi Vs Pakaian Import, 10 April 2012).
Kasus lain pernah dialami oleh Usaha Konveksi Ibu Apong Kodariah di Bandung. Pada awalnya kendala yang dihadapi dalam mengembangkan usahanya adalah pemodalan. Lalu dilakukan pinjaman modal ke Bank Jabar sebanyak tiga kali untuk meningkatkan produksi. Namun, kembali lagi mengalami kendala akibat krisis ekonomi global, mengakibatkan menurunnya pesanan, yang biasanya dalam satu bulan bisa menerima order sebanyak 10.000 pcs turun menjadi 2.500
pcs atau turun 75%. Selain itu, terjadi pengurangan karyawan lima orang dan pembayaran menjadi terganggu karena banyak yang menggunakan sistem giro.
Walaupun demikian, kini usaha Ibu Apong semakin berkembang dengan omset sampai 20 juta per bulan. Strategi penjualan yang dilakukan sudah menggunakan sistem online selain sistem dari mulut ke mulut. Usaha yang dikembangkannya pun kini memiliki 17 karyawan dan 23 alat produksi (Purnamawati, 2011).
Sebenarnya keberhasilan pengembangan usaha konveksi tidak lepas dari upaya pelaku usaha dalam mengelola semua unsur yang terkait dengan usahanya.
Mengelola sebuah usaha konveksi adalah seni yang memadukan berbagai unsur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Secara umum, pengelolaan sebuah usaha selalu melibatkan beberapa unsur yang masing-masing saling terkait dan saling memengaruhi, yaitu: sumber daya manusia (SDM), produksi, keuangan, dan pemasaran. Di era komputerisasi saat ini, penggunaan teknologi dalam suatu usaha juga sangat dibutuhkan, sehingga sistem informasi juga harus dikelola dengan baik untuk semakin meningkatkan potensi sebuah usaha.
Setiap perusahaan mempunyai tujuan yang telah ditetapkan, karena tujuan itulah yang akan memberikan arah bagi kegiatan yang akan dilakukan serta digunakan untuk mengukur efektivitas kegiatannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengusaha harus pandai dalam mengelola semua unsur yang ada dalam perusahaannya. Sebagai contoh, jika suatu usaha memiliki produk yang banyak diminati tetapi tidak didukung oleh SDM yang mampu membuat produk dengan kualitas tinggi, maka bisa dipastikan usaha tersebut tidak bisa bertahan lama.
Sementara SDM yang bagus, produk yang berkualitas tinggi, dan keuangan yang memadai tetap membutuhkan pemasaran yang kreatif dan inovatif yang didukung oleh sistem informasi yang sesuai dengan perkembangan teknologi terkini.
Pengelolaan semua unsur usaha tersebut dapat dimaksimalkan melalui kinerja manajemen.
Kaitan dengan usaha konveksi, untuk sukses dalam pemasaran produknya maka harus lebih memperhatikan semua faktor dan kekuatan yang dimiliki perusahaan karena memegang peranan penentu di dalam industri pilihannya. Hal ini karena semakin banyaknya produsen konveksi atau garmen yang menawarkan berbagai macam atau jenis produknya, maka konsumen memiliki pilihan yang
semakin banyak. Dengan demikian kekuatan tawar-menawar konsumen semakin besar. Menurut Schnaars (dalam Tjiptono, 2008, p. 24), pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah menciptakan para pelanggan agar merasa puas. Terciptanya kepuasan pelanggan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara pelaku usaha dan pelanggan menjadi harmonis dan membentuk dasar yang baik bagi pembelian ulang serta terciptanya loyalitas pelanggan. Selain itu bisa membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan bagi pelaku usaha.
Intinya, untuk memenuhi kepuasan pelanggan tersebut, pelaku usaha harus memiliki kemampuan dalam menciptakan nilai tambah terhadap produk dari industrinya,dan jasa layanan yang diberikan kepada pelanggan (konsumen). Hal ini dapat dilakukan melalui pengelolaan dan pengembangan bisnis yang tepat dengan diadakan peningkatan kreativitas dan keinovasian dalam kewirausahaan.
Salah satu usaha konveksi yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah Modes Mbak Soem yang terletak di Jalan Jagiran Surabaya. Alasan dipilihnya Modes Mbak Soem adalah karena perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang dirintis dari kecil dengan omset minimum kini berkembang menjadi besar dengan omset yang semakin meningkat pula. Pelanggan Modes tersebut yang dulunya hanya dari kalangan orang-orang biasa, sekarang meningkat menjadi kalangan high class, sampai para pejabat. Berdasarkan hasil waawncara dengan pemilik, dikatakan perkembangan dunia menjahit atau bidang tata busana tiak dipengaruhi dengan makin banyak dan murahnya busana yang dipasarkan di Mall. Pelanggan banyak yang lebih senang dengan membuat pakaian melalui jasa jahitan terutama pesanan pakaian dinas dan kebaya.
Kebanyakan pelanggan beralasan karena bisa meminta sesuai pesanan (Wawancara, Mbak Soem, Mei 2012). Kemampuan Modes Mbak Soem dalam mengelola usahanya terlihat dari semakin banyaknya penerimaan order jahitan sehingga semakin bertambah besar pula penghasilan yang diperoleh.
Modes Mbak Soem sendiri merupakan modes yang tingkat produksi cukup tinggi. Terlihat dari banyaknya pesanan jahitan yang masuk. Namun, ketika dilakukan pengamatan awal, dalam lingkungan internal, Modes Mbak Soem mempunyai sistem pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth). Dalam hal
pengembangan produk, perubahan desain sudah bisa mengikuti tren (mode yang berlaku) namun peningkatan kualitas bahan dan jahitan masih belum optimal. Di bidang keuangan Modes Mbak Soem, harga yang ditetapkan disesuaikan dengan kondisi ekonomi masyarakat lapisan kelas menengah ke bawah. Dalam hal laporan keuangan pun masih disajikan secara manual, dengan ditulis dalam buku catatan laporan keuangan. adapun wilayah pemasaran hanya tingkat lokal dan saluran distribusi pada individu dan kelompok.
Di bidang produksi, proses produksi yang dilakukan adalah memotong, menjahit, mengobras, dan memasang kancing. Untuk bahan baku berupa kain, benang, dan kancing. Selain itu, teknologi yang dimiliki adalah untuk memotong kain dilakukan secara manual, dan untuk menjahit, mengobras, dan memasang kancing dilakukan secara otomatis menggunakan mesin. Adapun fasilitas dan mesin produksi yang dimiliki adalah mesin jahit 5 unit, mesin obras 2 unit, dan mesin lubang kancing 1 unit. Di bidang sumber daya manusia, Modes Mbak Soem memiliki 10 karyawan dengan tingkat pendidikan 6 SMU, 2 SMP, dan 2 D1.
Untuk yang lulusan SMU dan SMP di bagian produksi dan untuk D1 dibagian desain dan manajemen.
Selanjutnya, jika dilihat dari faktor lingkungan eksternal, Modes Mbak Soem berusaha untuk mengembangkan bisnis konveksinya. Jika dilihat dari peluang, ternyata jumlah penduduk semakin meningkat, banyaknya even atau acara organisasi atau perusahaan, yang semakin marak justru membuat permintaan barang-barang konveksi semakin meningkat. Selain itu, adanya peringatan hari-hari tertertentu, misalnya Hari Raya Idul Fitri, adanya kampanye, baik pemilu, pilpres, pilkada, dan lain-lain.
Namun, secara eksternal masih banyak kendala yang dihadapi Modes Mbak Soem, diantaranya: 1) mutu produksi tekstil dan pakaian jadi Indonesia umumnya belum bisa menembus pasar bebas yang konsumennya berselera tinggi, seperti Jepang. Kenyataan ini mengakibatkan harga per unit produk masih relatif rendah, 2) Industri konveksi masih tergantung pada komponen impor, terutama produk kualitas ekspor, 3) Industri pakaian jadi di Indonesia masih berpean sebagai “tukang jahit” bagi para pialang internasional, karena desain, pemilihan warna, potongan masih sederhana, 3) pengaturan tata niaga, terutama pembagian
kuota dinilai para produsen barang konveksi masih perlu belajar terus menerus karena mode terus berubah, keinginan apsar pun terus berganti. Untuk itu, diperlukan kreatifitas melakukan inovasi produk agar tidak ketinggalan jaman.
Dalam hal pemasaran, apra pesaing bisa mengiklankan jasa dan produksinya di koran-koran, blog, website, atau media promosi lainnya.
Dari uraian tersebut, Modes Mbak Soem, ternyata maka diperlukan formulasi strategi pengembangan bisnis yang efektif dalam bidang usaha yang digelutinya. Hal ini bertujuan agar muncul kompetensi inti yang dapat ditawarkan ke pelanggan dan memiliki daya saing yang kompetitif di bidang usaha konveksi.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang pengelolaan dan pengembangan usaha Modes Mbak Soem di Surabaya, ditinjau dari aspek sumber daya manusia (SDM), produksi, keuangan, pemasaran, dan sistem informasi. Penelitian ini akan dapat memberikan manfaat kepada perusahaan, yaitu Modes Mbak Soem, mengenai unsur-unsur yang menjadi keunggulan perusahaan, sehingga akan bisa menjadi bahan masukan dalam perumusan strategi yang tepat bagi perusahaan dalam mengembangkan usahanya.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengelolaan usaha Modes Mbak Soem ditinjau dari aspek pemasaran, produksi, keuangan, SDM, dan sistem informasi?
2. Bagaimana lingkungan internal dan eksternal mempengaruhi pengelolaan usaha Modes Mbak Soem?
3. Bagaimana rencana pengembangan usaha Modes Mbak Soem?
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan pengelolaan usaha Modes Mbak Soem ditinjau dari aspek pemasaran, produksi, keuangan, SDM, dan sistem informasi.
2. Menganalisis lingkungan internal dan eksternal yang mempengaruhi pengelolaan usaha Modes Mbak Soem.
3. Menyusun rencana pengembangan usaha Modes Mbak Soem.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai penerapan ilmu melalui teori- teori yang telah didapat dan dipelajari selama masa perkuliahan di Universitas Kristen Petra baik melalui dosen pengajar maupun literatur-literatur yang ada dalam praktek maupun kehidupan sehari-hari.Selain itu diharapkan agar pengusaha bisa menjadikan hasil ini sebagai masukan sehingga usaha yang dijalankan dapat semakin berkembang menjadi usaha yang besar. Terakhir adalah agar masyarakat sekitar bisa menambah wawasan dan pengetahuan dengan harapan dapat dipakai sebagai bahan acuan dan referensi bagi penelitian sejenis di masa mendatang.
1.5. Batasan Penelitian
Batasan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah terbatas pada usaha Modes Mbak Soem di Surabaya, Jawa Timur.