• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. KERANGKA TEORI. 9 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. KERANGKA TEORI. 9 Universitas Kristen Petra"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

2. KERANGKA TEORI

2.1 Dasar Teori

2.1.1. Media Exposure (Terpaan Media)

Terpaan media berusaha untuk mencari data khalayak tentang penggunaan jenis media, frekuensi penggunaan (frequency), maupun durasi penggunaan (longevity ). Penggunaan jenis media dia ntaranya meliputi:

1. Media audio 2. Audiovisual 3. Media cetak

4. Kombinasi beberapa media.

Ardianto dan Komala (2007) memaparkan, frekuensi penggunaan media diperoleh dari pengumpulan data khalayak tentang berapa kali sehari seseorang menggunakan media dalam satu minggu (untuk program harian); berapa kali seminggu seorang menggunakan media dalam satu bulan (untuk program mingguan / tengah bulanan) ; serta berapa kali sebulan seorang menggunakan media dalam satu tahun (untuk program bulanan). Sedangkan untuk pengukuran variabel durasi penggunaan media, menghitung berapa lama khalayak mengikuti suatu program (p. 168).

Dalam mempengaruhi persepsi khalayak, terdapat faktor yang sangat dibutuhkan yaitu perhatian (attention). Kenneth E.Andersen (1972) memberikan definisi bahwa perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (dalam Rakhmat,2008, p. 52). Sifat yang menonjol yang menjadi penarik perhatian antara lain: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan dan perulangan. Emil Dofiat (1968), tokoh aliran publistik Jerman bahkan menyebut perulangan sebagai salah satu prinsip penting dalam menaklukan massa. Dengan demikian dapat

(2)

disimpulkan. untuk mengukur terpaan media adalah dengan melihat (dalam Ardianto dan Erdiyana, 2007, p. 164):

a. Frekuensi

Diukur berdasarkan berapa kali sehari seseorang menggunakan media dalam satu minggu.

b. Durasi

Durasi penggunaan media, berdasarkan berapa lama khalayak mengikuti suatu program.

c. Perhatian (Atensi)

Proses mental seseorang dalam menyimak suatu program. Meliputi menonton dengan melakukan kegiatan lain, menonton dengan tidak melakukan kegiatan lain, dan menonton dengan melakukan diskusi.

2.1.2. Cultivation Theory

Teori kultivasi pertama kali diperkenalkan oleh Profesor George Gerbner ketika ia menjadi dekan Anneberg School of Communication di Universitas Pennsylvania America Serikat (AS). Gerbner awalnya melakukan penelitian tentang “Indikator Budaya” di pertengahan tahun 60-an untuk mempelajari pengaruh menonton televisi. Artinya, ingin mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton televisi.

Teori kultivasi ini diawal perkembangannya lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya memfokuskan pada tema- tema kekerasan di televisi. Akan tetapi dalam perkembangannya, teori tersebut bisa digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya, seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamatan tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera ). Mereka yang tergolong pecandu opera sabun tersebut lebih cenderung melakukan affairs (menyeleweng, bercerai, dan menggugurkan kandungan) daripada mereka yang bukan pecandu opera sabun.

Program acara sinetron yang diputar televisi swasta Indonesia saat ini nyaris seragam. Kebanyakan membahas mengenai konflik orang tua dengan anak

(3)

masyarakat sekarang banyak terjadi gejala hamil di luar nikah karena televisi selalu menceritakan kasus tersebut. Para pecandu sinetron sangat percaya bahwa apa yang terjadi pada masayrakat seperti yang dicerminkan dalam sinetron- sinetron.

Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Dengan kata lain, media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya. Jadi, para pecandu televisi memiliki kecenderungan sikap yang sama satu sama lain (Nurudin, 2007).

“Teori kultivasi berpendapat bahwa pecandu berat televisi membentuk suatu citra realitas yang tidak konsisten dengan kenyataan dan seringkali mempunyai sikap stereotip tentang peran ataupun hal-hal yang lain yang sering muncul di televisi.” (Ardianto, Erdiyana, 2007, p.65).

Berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, pemilihan teori kultivasi ini untuk menjelaskan bahwa ada pengaruh antara terpaan program di televisi berupa menonton dengan konsep berpikir, sikap serta perilaku dari penonton.

2.1.3. Televisi

Dari semua media massa yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Pada dasarnya, fungsi televisi sama dengan media massa lainnya (surat kabar dan radio siaran), yakni memberi informasi, mendidik, menghibur, dan membujuk (Ardianto, Komala, 2007). Media televisi sebagai salah satu bentuk media massa memiliki ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. Media televisi sesuai dengan sifatnya yang dapat diikuti secara audio dan visual (suara dan gambar) secara bersamaan, oleh semua lapisan masyarakat (Morissan, 2008).

Pesan yang disampaikan melalui media televisi, memerlukan pertimbangan agar pesan tersebut dapat diterima masyarakat sesuai sasaran.

Faktor yang perlu diperhatikan antara lain ( dalam Ardianto dan Komala, 2007, p.

140):

(4)

1. Pemirsa

Dalam komunikasi melalui media eletronik, khususnya televisi, faktor pemirsa perlu mendapat perhatian lebih. Dalam hal ini televisi sebagai komunikator harus memahami kebiasaan dan minat pemirsa berdasarkan kategorinya. Kebiasaan dan minat tiap kategori biasanya dapat diketahui melalui survei, baik yang dilakukan ole h stasiun televisi yang bersangkutan, maupun yang dilakukan oleh lembaga lain.

2. Waktu

Setelah komunikator mengetahui minat dan kebiasaan tiap kategori pemirsa, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan waktu penayangan dengan minat dan kebiasaan pemirsa.

3. Durasi

Durasi yang dimaksud yakni jumlah menit dalam setiap tayangan acara. Durasi masing-masing acara disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan skrip atau naskah. Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat atau terlalu lama.

4. Metode Penyajian

Metode pengemasan pesan sedemikian rupa, menggunakan metode penyajian tertentu dimana pesan-pesan bersifat non-hiburan dapat mengundang unsur hiburan.

2.1.4. Reality show

Reality show merupakan sebuah program yang menyajikan suatu situasi seperti konflik, persaingan, atau hubungan berdasarkan realitas yang sebenarnya.

Program ini berusaha menyajikan suatu keadaan yang riil tanpa suatu rekayasa dengan cara yang sealamiah mungkin. Tingkat realitas yang disajikan dalam reality show bermacam-macam, beberapa diantaranya hidden camera, competition show, relationship show, Fly on the wall, juga mistis (Morrisan, 2008).

(5)

2.1.5. Sikap

Sikap pada dasarnya adalah tendensi kita terhadap sesuatu. Sikap adalah rasa suka/ tidak suka kita atas sesuatu. Berikut adalah contoh-contoh sikap:

Seorang pria lebih menyukai satu di antara beberapa kandidat presiden. Seorang wanita menantang aborsi. Seorang remaja menggandrungi grup musik rock U2.

Sikap penting sekali karena ia mempengaruhi tindakan. Perilaku orang sering ditentukan oleh sikap mereka. Seorang pria yang bersikap mendukung salah satu kandidat presiden mungkin akan memilih kandidat tersebut. Seorang wanita yang menentang aborsi tidak mungkin melakukan aborsi. Sikap sering dianggap memiliki tiga komponen, komponen afektif , yaitu kesukaan atau perasaan terhadap sebuah objek. Komponen kognitif yaitu keyakinan terhadap sebuah objek. Dan komponen perilaku (konatif) yaitu tindakan terhadap objek. (Severin, 2009).

Konsep sikap yang telah dideskripsikan ole h Gordon Allport (1954)

“mungkin adalah yang paling istimewa atau penting dalam psikologi sosial Amerika kontemporer” (hlm 43). Allport menyebutkan bahwa istilah itu muncul untuk menggantikan istilah-istilah samara dalam psikologi seperti naluri, adat- istiadat, tekanan sosial, dan sentiment. Beberapa definisi penting sikap adalah sebagai berikut:

− Sikap pada dasarnya adalah suatu cara pandang terhadap sesuatu, dalam Murphy, Murphy, dan Newcomb (1957).

− Kesiapan mental dan system syaraf, yang diorganisasikan melalui pengalaman, menimbulkan pengaruh langsung atau dinamis pada respons -respons seseorang terhadap semua objek dan situasi terkait, dalam Allport (1954).

− Sebuah kecenderungan yang bertahan lama, dipelajari untuk berperilaku dengan konsisten terhadap sekelompok objek.

− Sebuah sistem evaluasi positif atau negatif yang awet, perasaan- perasaan emosional dan tendensi tindakan pro atau kontra terhadap sebuah objek sosial, dalam Krech, Crutchfield, dan Ballachey (1962).

(6)

Berdasarkan beberapa definisi diatas pe neliti menyimpulkan bahwa sikap merupakan kecenderungan berperilaku seseorang terhadap pengaruh objek/situasi terkait , baik positif maupun negatif. Sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif (dalam James dan Warner, 2005, p.177).

1. Kognitif

Berisi kepercayaan dan keyakinan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Selain itu indikator ini juga tersusun atas dasar pengetahuan yang dimiliki individu tentang objek sikapnya.

Pengetahuan ini kemudian akan memberikan keyakinan tertentu dalam diri individu terhadap objek sikap (Azwar,2009).

2. Afektif

Menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Indikator ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi sering kali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Pada umumnya reaksi emosional yang merupakan dimensi afektif banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai benar dan berperilaku bagi objek termaksud. Menurut Thurstone, indikator afektif yaitu persaan positif atau negatif yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu objek (Azwar, 2009).

3. Konatif

Indikator konatif dalam struktur sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku.

Kecenderungan berperilaku konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual (Azwar 2009).

(7)

Walaupun pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidaklah kecil artinya (Azwar,2002). Jadi pada penelitian ini, alat ukur untuk mengetahui pengaruh sebuah program televisi pada sikap seseorang, digunakan tiga variabel yaitu kognitif, afektif, dan konatif.

2.1.6. Audience

Audience yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam.

Masing-masing audience berbeda satu sama lain, diantaranya dalam hal berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya (Nurudin, 2007). Marshall McLuhan menjabarkan audience sebagai sentral komunikasi massa yang secara konstan dibombardir oleh media.

Media mendistribusikan informasi yang merasuk pada masing-masing individu.

(dalam Ardianto, 2007,p. 40).

Menurut Hiebert dan kawan-kawan, audience dalam komunikasi massa setidak-tidaknya mempunyai lima karakteristik sebagai berikut(dalam Nurudin, 2007,p. 105):

1. Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial di antara mereka.

Mereka memilih produk media yang mere ka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran

2. Audience cenderung besar. Besar yang dimaksud tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. Namun tidak ada ukuran pasti tentang luasnya audience, baik ribuan maupun jutaan tetap bisa disebut audience.

3. Audience cenderung heterogen. Berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. Beberapa media tertentu mempunyai sasaran, tetapi heterogenitasnya juga tetap ada.

4. Audience cenderung anonim, tidak mengenal satu sama lain.

5. Audience secara fisik dipisa hkan dari komunikator. Dapat juga dikatakan dipisahkan oleh ruang dan waktu.

(8)

2.1.7. Perceraian

Pengertian dari perceraian adalah akumulasi dari penyesuaian pernikahan yang buruk, dan terjadi bila antara suami dan istri sudah tidak mampu lagi mencari cara penyelesaian masalah yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Banyak pernikahan yang diakhiri dengan perpisahan dan pembatalan secara hukum maupun dengan diam-diam dan ada juga yang salah satu (suami/istri) meninggalkan keluarga (Hurlock, 1997). Terputusnya sistem peranan keluarga menimbulkan kekacauan dalam keluarga, pengalaman tersebut terkadang dramatis, menyangkut pilihan moral dan penyesuaian-penyesuaian pribadi yang dilematis. Kekacauan keluarga ditafsirkan sebagai pecahnya suatu unit keluarga, ter putusnya atau retaknya struktur peran sosial jika satu atau beberapa anggota gagal menjalankan kewajiban peran mereka secukupnya. Salah satu jenis kekacauan keluarga adalah perceraian. Terputusnya hubungan keluarga di sini disebabkan karena salah satu atau kedua pasangan itu memutuskan untuk saling meninggalkan dan dengan demikian berhenti melaksanakan kewajiban perannya.

“Analisa mengapa pasangan bercerai, hal-hal perceraian terjadi disebabkan nilai-nilai dan kecenderungan pasangan itu, timbangan yang relatif mengenai kepuasan, tekanan sosial dari sanak dan teman-teman, faktor ketergesaan (menikah di usia muda). Beberapa pasangan merasa tidak puas hampir di segala bidang, dimana mereka saling berhubungan” (Goode, 1985, p.194).

2.1.7.1. Faktor-Faktor Penye bab Perceraian

Berdasarkan teori yang ada (dalam Goode,1985), faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian antara lain:

a. Timbangan yang relatif mengenai kepuasan dalam segala bidang, diantaranya ketidak puasan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, dan juga pemenuhan kebutuhan secara biologis

b. Tekanan sosial termasuk desakan dari sanak (orang tua maupun saudara terdekat), juga dari kawan.

c. Faktor ketergesaan, yang dimaksudkan adalah menikah diusia

(9)

Sedangkan disebutkan dalam UU Perkawinan No. 1 thn 1974 pasal 19 bahwa perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan (dalam UU Perkawinan tentang Perceraian, 2007) :

a. Salah satu pihak berbuat jinah atau menjadi pemabok; pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah karena hal lain di luar kemampuannya;

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;

f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.

2.2. Nisbah Antar Konsep

Teori terpaan media berusaha untuk mencari data khalayak tentang frekuensi penggunaan (frequency), durasi penggunaan (longevity), juga perhatian saat menyaksikan sebuah program. Teori terpaan media dikaitkan dengan teori kultivasi, yang menyatakan bahwa pengulangan sebuah program dapat mempengaruhi sikap pecandu programnya. Sikap yang dimaksud memiliki tiga komponen, yakni komponen kognitif, komponen afektif juga komponen konatif.

Komponen kognitif berisi kepercayaan dan keyakinan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap, kompenen afektif terkait dengan masalah emosional subjektif seseorang, suka atau tidak suka terhadap suatu objek, sedangkan dan komponen konatif terkait dengan kecenderungan

(10)

individu untuk berperilaku yang didasari oleh kepercayaan dan perasaan individu terhadap objek.

Dengan menggunakan teori yang ada, peneliti tertarik untuk melihat pengaruh yang ditimbulkan dari terpaan program reality show “Masihkah Kau Mencintaiku” bagi sikap masyarakat Surabaya tentang faktor-faktor yang menyebabkan masalah perceraian. Program reality show ini merupakan program reality show yang cukup digemari saat ini, dengan rata -rata jumlah penonton 520 ribu orang. Hal ini menarik mengingat program acara reality show semacam ini jarang untuk dipertontonkan, namun saat penayangannya program ini cukup digemari oleh masyarakat

(11)

2.3. Kerangka Pemikiran

Melihat pengaruh terpaan media massa bagi sikap masyarakat menggunakan teori kultivasi

Terpaan Program Reality show

“Masihkah Kau Mencintaiku” di RCTI Mengangkat tema perceraian keluarga dan diprediksi berpengaruh terhadap sikap masyarakat

Terpaan Media: Pengaruh Sikap:

- Frekuensi - Kognitif

- Durasi - Afektif

- Atensi - Konatif

Ada atau tidak ada, pengaruh terpaan program reality show “Masihkah Kau Mencintaiku”

terhadap sikap masyarakat Surabaya

tentang faktor-faktor yang menyebabkan perceraian

(12)

2.4. Hipotesis

Hipotesis awal dari penelitian ini:

Ho : Tidak ada pengaruh terpaan program reality show “Masihkah Kau Mencintaiku”, terhadap sikap masyarakat Surabaya tentang faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian.

H1 : Ada pengaruh terpaan program reality show “Masihkah Kau Mencintaiku”, terhadap sikap masyarakat Surabaya tentang faktor -faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian.

Referensi

Dokumen terkait

Media komunikasi internal adalah media yang digunakan untuk mengkomunikasikan suatu informasi kepada pendengar atau pembaca, baik cetak ataupun elektronik, sebagai media

Sementara itu, Wolf (2006) menyatakan bahwa “makanan dan minuman adalah komponen yang sering diabaikan dari sebuah pengalaman perjalanan, dan saya yakin makanan

Dilihat dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa objek wisata atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang memilki daya tarik,

Sebuah sampel yang berubah-ubah termasuk kelas i dengan probabilitas si/s, dimana s adalah jumlah dari sampel-sampel dalam kumpulan S.. Sj berisi sij

Sistem informasi akuntansi dalam siklus produksi digunakan untuk meyakinkan bahwa semua produksi dan penerimaan aktiva tetap diotorisasi dengan benar, bahwa barang

Hasil dari penelitian, interaksi sosial merupakan perwujudan dari dimensi struktural modal sosial dan kepercayaan merupakan perwujudan dari dimensi relasional,

Dalam pembuatan animasi 3D digunakan gerakan kamera yang dapat memuat gambar dari keseluruhan objek dengan menggunakan bantuan cahaya.. Saat ini terdapat banyak sekali

Pendekatan uses and gratification mempersoalkan apa yang dilakukan orang pada media, yakni menggunakan media untuk pemuas kebutuhannya. Umumnya kita lebih tertarik bukan pada apa