• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa SMK (studi deskriptif pada siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa SMK (studi deskriptif pada siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar)."

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik

Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar) Resa Kristina

Universitas Sanata Dharma 2015

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan mengidentifikasi butir instrumen yang tergolong rendah untuk dijadikan dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 108 siswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat efikasi diri dalam belajar siswa yang terdiri dari 34 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah kategorisasi yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah.

Hasil penelitan yang diperoleh adalah, (1) Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi berjumlah 5 siswa (5%), yang termasuk dalam kategori tinggi berjumlah 72 siswa (67%), yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 31 siswa (29%), dan tidak ada seorangpun siswa (0%) yang termasuk dalam kategori rendah maupun sangat rendah. (2) Berdasarkan analisis butir-butir efikasi diri dalam belajar siswa, diperoleh 2 butir item yang masuk dalam kategori rendah yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar yang implikatif untuk meningkatkan efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

(2)

ABSTRACT

THE LEVEL OF SELF-EFFICACY IN LEARNING OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STUDENTS

(A Descriptive Study on the Tenth Grade Students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 and its Implication of both

Personal-Social and Learning Guidance) Resa Kristina

Universitas Sanata Dharma 2015

This research is a descriptive research which aims to find out the description about the level of students self efficacy in learning of the tenth grade students of beauty class in SMKN 4 Yogyakarta academic year 2014/2015. It also aims to identify the low instrument points in order to be considered as the foundation in arranging personal-social and learning guidance topics.

The type of this research is qualitative research. The subjects are the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 which consists of 108 students. The research uses questionnaires as the research instrument. The questionnaire is formed to find out the level of students self-efficacy in learning. It consists of 34 items which are developed based on the Likert scale arrangement. The data analysis technique used is categorisation. There are 5 categories; very high, high, average, low, and very low.

The result shows that (1) The level of students self-efficacy in learning of the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 are the followings; 5 students (5%) are considered in very high category, 72 students (67%) are in considered high category, 31 students (29%) are considered in average category, and none of them (0%) is considered in low or very low category, and (2) Based on the analysis of students self-efficacy in learning items, there are 2 items included in low category. This is used as a basis in arranging both personal-social and learning guidance topics to improve students self-efficacy in learning for the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015.

(3)

TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik

Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Resa Kristina NIM: 111114049

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik

Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Resa Kristina NIM: 111114049

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)
(6)
(7)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu,

karena ada upah bagi usahamu!

(2 Tawarikh 15:7)

“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin

kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.”

(Evelyn Underhill)

Just Be’ Your Self

!!

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

(8)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan

dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 25 Agustus 2015 Penulis

(9)

LEMBAR PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Resa Kristina NIM : 111114049

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)

Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 25 Agustus 2015 Yang menyatakan

(10)

ABSTRAK

TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK

(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik

Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar) Resa Kristina

Universitas Sanata Dharma 2015

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan mengidentifikasi butir instrumen yang tergolong rendah untuk dijadikan dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 108 siswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat efikasi diri dalam belajar siswa yang terdiri dari 34 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah kategorisasi yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah.

Hasil penelitan yang diperoleh adalah, (1) Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi berjumlah 5 siswa (5%), yang termasuk dalam kategori tinggi berjumlah 72 siswa (67%), yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 31 siswa (29%), dan tidak ada seorangpun siswa (0%) yang termasuk dalam kategori rendah maupun sangat rendah. (2) Berdasarkan analisis butir-butir efikasi diri dalam belajar siswa, diperoleh 2 butir item yang masuk dalam kategori rendah yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar yang implikatif untuk meningkatkan efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

(11)

ABSTRACT

THE LEVEL OF SELF-EFFICACY IN LEARNING OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STUDENTS

(A Descriptive Study on the Tenth Grade Students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 and its Implication of both

Personal-Social and Learning Guidance) Resa Kristina

Universitas Sanata Dharma 2015

This research is a descriptive research which aims to find out the description about the level of students self efficacy in learning of the tenth grade students of beauty class in SMKN 4 Yogyakarta academic year 2014/2015. It also aims to identify the low instrument points in order to be considered as the foundation in arranging personal-social and learning guidance topics.

The type of this research is qualitative research. The subjects are the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 which consists of 108 students. The research uses questionnaires as the research instrument. The questionnaire is formed to find out the level of students self-efficacy in learning. It consists of 34 items which are developed based on the Likert scale arrangement. The data analysis technique used is categorisation. There are 5 categories; very high, high, average, low, and very low.

The result shows that (1) The level of students self-efficacy in learning of the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 are the followings; 5 students (5%) are considered in very high category, 72 students (67%) are in considered high category, 31 students (29%) are considered in average category, and none of them (0%) is considered in low or very low category, and (2) Based on the analysis of students self-efficacy in learning items, there are 2 items included in low category. This is used as a basis in arranging both personal-social and learning guidance topics to improve students self-efficacy in learning for the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015.

(12)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat,

perlindungan, pertolongan, serta penyertaanNya dalam proses penyelesaian skripsi

ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan

dan Ilmu Pendidikan.

Penulis menyadari bahwa terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas

dari dukungan, doa, bimbingan, dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu,

pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sangat tulus kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Kepala Program Studi Bimbingan

dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin

untuk penulisan skripsi ini.

2. Juster Donal Sinaga, M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing yang telah

menyediakan waktu, tenaga, pikiran, arahan, dan motivasi kepada

penulis dalam proses penilisan skripsi sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan.

3. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis

dengan berbagai ilmu pengetahuan selama ini, sehingga berguna bagi

penulis.

4. Bapak Drs. Sentot Hargiardi, M.M., selaku Kepala Sekolah SMKN 4

Yogyakarta yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk

(13)

5. Ibu Prashanti Ashtriyani, S.Pd, selaku guru Bimbingan dan Konseling

SMKN 4 Yogyakarta yang telah membantu penulis dalam proses

pengambilan data di sekolah terhadap para siswa kelas X Tata

Kecantikan.

6. Para siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun

Ajaran 2014/2015 atas kesediaannya mengisi kuesioner.

7. Kedua orangtuaku Bapak Jumari dan Ibu Sri Sugiyati yang telah

memberikan dukungan, doa, perhatian, kasih sayang, serta biaya yang

diberikan selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

8. Kakakku Fransiska Krisnaningtyas dan Adikku Putri Karunia

Krishutami yang selalu memberikan perhatian, doa, dan semangat.

9. Dendy Setyadi yang dengan tulus memberikan doa dan semangat.

10.Sahabat dan teman-teman BK 2011 B (Hannita, Fika, Cicil, Tari,

Ating, Nurul, Riska, Reta, Linggar, Frida, Adven, Desta, Metta, Irma,

Lilis, Sr. Kiki, Sr. Laura, Sr. Vero, Sulis, Ridam, Andri, Aji, Rino,

Bayu, Yosua, Piter, Noel, atas doa, motivasi yang diberikan kepada

penulis dalam proses penulisan skripsi ini.

11.Teman-teman satu bimbingan (Ating, Nurul, Grace, Tari, Sr.Kiki,

Danty, Sugeng, Kak Sandy, Hikmat, Andri) atas doa dan motivasinya.

12.Sahabat-sahabat alumni SMKN 6 Yogyakarta (Tyas, Indra, Diar, Dina,

(14)

13.Mas Moko, yang telah bersedia membantu penulis dalam mengurus

administrasi selama berproses dan belajar di Prodi Bimbingan dan

Konseling.

14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari

sempurna, oleh karena itu masukan, saran, dan kritik terhadap karya ini

dangat diperlukan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 25 Agustus 2015

(15)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GRAFIK ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 5

F. Manfaat Penelitian ... 5

G. Definisi Oprasional Variabel ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 8

A. Efikasi Diri ... 8

1. Pengertian Efikasi Diri ... 8

2. Sumber Efikasi Diri... 10

3. Proses Pembentukan Efikasi Diri ... 13

(16)

B. Konsep Belajar ... 18

1. Pengertian Belajar ... 18

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ... 19

3. Peran Efikasi Diri dalam Belajar... 20

C. Konsep Remaja ... 22

1. Pengertian Remaja ... 22

2. Tugas Perkembangan Remaja ... 22

3. Remaja dan Efikasi Dirinya dalam Belajar ... 30

D. Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar/Akademik ... 32

1. Bimbingan Pribadi-Sosial ... 32

2. Bimbingan Belajar ... 34

BAB III METODE PENELITIAN... 36

A. Jenis Penelitian ... 36

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36

C. Subjek Penelitian ... 37

D. Metode Pengumpulan Data ... 38

E. Validitas dan Reliabilitas ... 41

1. Validitas ... 41

2. Reliabilitas ... 45

F. Teknik Analisis Data... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Hasil Penelitian ... 51

B. Pembahasan ... 55

C. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar ... 60

BAB V PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Kelemahan ... 63

C. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(17)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ciri-ciri Individu yang Memiliki Efikasi Diri Tinggi dan Rendah ... 17

Tabel 2. Waktu Penelitian ... 37

Tabel 3. Subjek Peneitian ... 38

Tabel 4. Norma Skoring Inventori Efikasi Diri dalam Belajar Siswa... 39

Tabel 5. Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 (Sebelum Uji Coba) ... 40

Tabel 6. Rincian Intem yang Valid dan Tidak Valid ... 43

Tabel 7. Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 (Setelah Uji Coba) ... 44

Tabel 8. Kriteria Guilford ... 45

Tabel 9. Norma Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 47

Tabel 10. Norma Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 49

Tabel 11. Norma Kategorisasi Skor Item Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 50

Tabel 12. Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 51

Tabel 13. Kategorisasi Item Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 53

Tabel 14. Item-item Pernyataan yang Tegolong dalam Kategori Rendah ... 55

(18)

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan

SMKN 4 Yogyakarta ... 52 Grafik 2. Kategorisasi Item Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kisi-kisi Kuesioner Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 68

Lampiran 2. Kuesioner Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 73

Lampiran 3. Hasil Penelitian ... 79

Lampiran 4. Uji Validitas ... 89

Lampiran 5. Uji Reliabilitas ... 95

(20)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian,

manfaat penelitian, dan definisi operasional variabel penelitian.

A. Latar Belakang Masalah

Setiap individu mengalami perubahan dalam fase-fase

perkembangan, salah satunya adalah remaja. Remaja adalah individu yang

berada pada masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan

dewasa. Pada masa ini remaja dihadapkan pada berbagai perubahan yang

terjadi dalam fase perkembangannya.

Menurut Jahja (2011), salah satu perubahan yang terjadi pada masa

remaja yaitu munculnya sikap ambivalen dalam menghadapi perubahan

yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi

lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan

tersebut. Selain itu, masa remaja juga dihadapkan dengan banyak tuntutan

dan tekanan. Tuntutan terbesar yang biasanya dihadapi oleh remaja yaitu

tuntutan dari masalah akademik atau belajarnya. Masih banyak remaja

yang malas-malasan ketika dihadapkan oleh tugas-tugas sekolah,

mengeluh ketika guru memberikan tugas, merasa bahwa tugas yang sulit

(21)

yakin akan kemampuan mereka sendiri. Keyakinan akan dirinya sendiri

itulah yang disebut dengan efikasi diri.

Efikasi diri merupakan keyakinan tentang apa yang mampu

dilakukan oleh seseorang. Bandura (1997), menjelaskan self-efficacy merupakan kunci untuk meningkatkan perasaan sebagai seorang pelaku

dalam diri individu; perasaan bahwa ia dapat memenuhi hidup mereka

sendiri. Individu dengan efikasi diri tinggi akan memilih melakukan usaha

lebih besar dan pantang menyerah. Efikasi diri juga mempunyai peran

penting pada pengaturan motivasi seseorang, mereka yang percaya akan

kemampuannya akan memiliki motivasi tinggi dan berusaha untuk sukses.

Terkait dengan belajar, efikasi diri merupakan keyakinan seseorang

pada kemampuan dirinya dalam menyelesaikan dan mengatasi tugas-tugas

belajarnya. Remaja yang memiliki efikasi diri tinggi dalam belajar akan

lebih aktif, berani, serta giat dalam berusaha dan menetapkan tujuan yang

ingin mereka capai. Remaja yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan

lebih memiliki keberanian dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai

sehingga mempunyai prestasi akademik yang tinggi. Namun sebaliknya

remaja yang memiliki efikasi diri rendah dalam belajar bisa jadi mereka

menghindari tugas dan mudah menyerah ketika dihadapkan dengan tugas

yang sulit.

Berkaitan dengan efikasi diri dalam belajar, beberapa remaja/siswa

kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta diindikasikan belum

(22)

mengeluh ketika guru memberikan tugas, mereka mengatakan bahwa tugas

itu sulit bagi mereka sebelum mereka mengerjakannya, siswa juga mudah

menyerah dan bosan dalam menyelesaikan tugas, beberapa siswa juga

terlihat kurang antusias saat mengikuti proses belajar di kelas. Data ini

diperoleh peneliti dari wawancara guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Selain memperoleh data dari guru BK, peneliti juga melakukan

pengamatan saat melakukan bimbingan klasikal pada kelas X Tata

Kecantikan. Ketika peneliti meminta siswa untuk menuliskan refleksi,

beberapa siswa mengeluh tidak bisa menuliskan refleksi dan ada beberapa

dari mereka yang lebih memilih untuk diam. Selain itu, mereka juga

mengalihkannya dengan bermain HP dan mengobrol dengan temannya.

Kemungkinan hal di atas juga yang mempengaruhi prestasi belajar

beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan, karena pada saat melakukan

wawancara dengan guru BK, beliau juga menyinggung tentang prestasi

belajar siswa kelas X Tata Kecantikan. Di kelas tersebut ada beberapa

siswa yang memiliki prestasi belajar rendah. Untuk meningkatkan efikasi

diri dalam belajar siswa, diperlukan usaha dari masing-masing siswa.

Misalnya, siswa aktif di kelas saat pelajaran sekolah, memiliki semangat

saat belajar, menyukai dan menikmati semua pelajaran di sekolah. Jika hal

tersebut dilakukan oleh siswa, maka siswa tersebut akan memiliki efikasi

belajar yang tinggi. Penting bagi siswa untuk memiliki efikasi diri dalam

belajar, karena jika ia memiliki hal tersebut maka prestasi belajar siswa

(23)

cenderung memiliki prestasi belajar yang tinggi pula. Begitu juga

sebaliknya, siswa yang memiliki efikasi diri belajar yang rendah, prestasi

belajarnya juga rendah. Selain itu, efikasi diri dalam belajar penting bagi

siswa SMK, karena nantinya siswa akan menjadi tenaga yang siap kerja.

Jika tidak ditanamkan dari SMK maka saat memasuki dunia kerja nanti

akan berpengaruh bagi siswa.

Setelah melihat semua hal di atas, maka peneliti tertarik untuk

mengangkat judul “Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa SMK (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)”.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan tingkat

efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4

Yogyakarta dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut:

1. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta

teridentifikasi kurang memiliki efikasi diri dalam belajarnya.

2. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta

mengeluh ketika diberi tugas oleh guru.

3. Beberapa siswa terlihat kurang antusias saat mengikuti pelajaran proses

belajar di kelas.

4. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta

(24)

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab

masalah-masalah yang teridentifikasi di atas khususnya masalah mengenai

seberapa tinggi tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata

Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusah masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Seberapa tinggi tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata

Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta?

2. Item-item instrumen skala efikasi diri dalam belajar mana saja yang

capaian skornya teridentifikasi rendah sebagai dasar penyusunan

topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini yaitu:

1. Mendeskripsikan tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata

Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta.

2. Mengidentifikasi item-item instrumen skala efikasi diri dalam belajar

yang capaian skornya teridentifikasi rendah sebagai dasar penyusunan

topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.

F. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa

(25)

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan

sumbangan terhadap pengembangan pengetahuan mengenai efikasi diri

dalam belajar dan mampu mengidentifikasi kegiatan apa yang mampu

membuat anak memiliki efikasi diri yang tinggi terkait dengan

belajarnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

Hasil penelitian ini dapat menjadi tolak ukur yang dapat

digunakan oleh guru BK untuk melihat seberapa tinggi tingkat

efikasi diri siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta

terkait dengan belajarnya.

b. Bagi Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta

Siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta dapat

menggunakan hasil penelitian ini untuk melihat seberapa tinggi

tingkat efikasi diri dalam belajar mereka dan memikirkan kiat-kiat

untuk mengembangkannya.

G. Definisi Operasional Variabel

Adapun Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini yaitu:

1. Efikasi diri dalam belajar adalah keyakinan diri seseorang terhadap

kemampuan dirinya dalam menyelesaikan dan mengatasi tugas-tugas

(26)

Level (tingkat kesulitan tugas), Strength (kekuatan keyakinan), dan Generality (generalitas).

2. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan seseorang secara maksimal

untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu.

3. Remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak, yang bertumbuh

dan berkembang secara fisik, emosional, mental, dan sosial.

4. Siswa kelas X Tata Kecantikan SMK

Siswa kelas X Tata Kecantikan SMK adalah mereka yang terdaftar di

SMKN 4 Yogyakarta pada tahun ajaran 2014/2015 dan mengambil

jurusan khusus kecantikan (rambut dan kulit).

(27)

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini dipaparkan mengenai teori efikasi diri, teori konsep belajar,

teori konsep remaja, teori bimbingan pribadi-sosial, belajar.

A. Efikasi Diri

1. Pengertian Efikasi Diri

Efikasi diri merupakan salah satu model pembelajaran yang

dikembangkan oleh Albert Bandura. Efikasi diri mengacu pada

keyakinan-keyakinan seseorang tentang kemampuan dirinya untuk

belajar atau melakukan tindakan-tindakan pada level yang ditentukan

(Schunk, 2012). Efikasi diri adalah keyakinan tentang apa yang

mampu dilakukan oleh seseorang. Dalam mengukur efikasi diri,

seseorang menilai keterampilan-keterampilan mereka untuk

menerjemahkan keterampilan tersebut ke dalam tindakan-tindakan.

Bandura (Feist dan Feist 2010: 212), mendefinisikan efikasi

sebagai “keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan

suatu bentuk kontrol terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan

kejadian dalam lingkungan. Bandura beranggapan bahwa “keyakinan

atas efikasi seseorang adalah landasan dari agen manusia”. Manusia

yang yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang mempunyai

(28)

mungkin untuk bertindak dan lebih mungkin untuk menjadi sukses

daripada manusia yang mempunyai efikasi diri rendah.

Efikasi diri bukan merupakan ekspetasi dari hasil tindakan

kita. Bandura membedakan antara ekspetasi mengenai efikasi diri dan

ekspetasi mengenai hasil. Efikasi merujuk pada keyakinan diri

seseorang bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk

melakukan suatu perilaku, sementara ekspetasi hasil merujuk pada

prediksi dari kemungkinan mengenai konsekuensi perilaku tersebut.

Hasil tidak boleh digabungkan dengan keberhasilan dalam melakukan

perilaku tersebut; hasil merujuk pada konsekuensi dari perilaku, bukan

penyelesaian melakukan tindakan tersebut.

Sebagai contoh, seorang pelamar kerja harus mempunyai

kepercayaan diri bahwa dia dapat memberikan performa yang baik saat

melakukan wawancara kerja, mempunyai kemampuan untuk

menjawab berbagai kemungkinan pertanyaan, tetap santai dan

terkontrol, serta menunjukkan perilaku bersahabat dengan kadar yang

tepat. Oleh karena itu, dia mempunyai efikasi diri yang tinggi

mengenai wawancara kerja. Akan tetapi, walaupun mempunyai

ekspetasi efikasi yang tinggi, ia mungkin mempunyai ekspetasi atas

hasil yang rendah. Ekspetasi akan hasil yang rendah dapat terjadi

apabila ia yakin bahwa ia hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk

ditawarkan posisi tersebut. Penilaian ini mungkin terjadi akibat kodisi

(29)

penggangguran, depresi ekonomi, atau lawan yang lebih superior.

Selain itu faktor pribadi lainnya, seperti usia, jenis kelamin, tinggi

badan, berat badan, dan kesehatan fisik dapat memberikan dampak

negatif terhadap ekspetasi atas hasil.

2. Sumber Efikasi Diri

Menurut Bandura, (Feist dan Feist 2008: 416-418), efikasi diri

pribadi itu didapatkan, dikembangkan, atau diturunkan melalui satu

atau kombinasi dari empat sumber, yaitu pengalaman menyelesaikan

masalah (mastery experience), pengalaman orang lain (various experience), persuasi verbal, dan keadaan fisiologis dan emosional. a. Pengalaman Menyelesaikan Masalah (Mastery Experience)

Pengalaman menyelesaikan masalah adalah sumber yang

paling penting mempengaruhi efikasi diri seseorang. Mastery experience memberikan bukti yang paling akurat dari tindakan apa saja yang diambil untuk meraih suatu keberhasilan atau

kesuksesan, dan keberhasilan tersebut dibangun dari kepercayaan

yang kuat didalam keyakinan individu. Kegagalan akan

menentukan efikasi diri individu terutama bila perasaan

keyakinannya belum terbentuk dengan baik. Pernyataan umum ini

memiliki enam konsekuensi praktis.

Pertama, performa yang berhasil akan meningkatkan efikasi diri secara proporsional dengan kesulitan dari tugas

(30)

tinggi akan mengalami peningkatan efikasi diri yang sedikit saat

mengalahkan lawan yang jelas-jelas inferior, tetapi pemain tersebut

akan lebih mengalami peningkatan efikasi diri dengan

menunjukkan performa yang baik menghadapi lawan yang lebih

superior. Kedua, tugas yang diselesaikan dengan baik oleh diri sendiri akan lebih efektif daripada yang diselesaikan dengan

bantuan orangalain. Dalam olahraga, pencapaian dalam tim tidak

akan meningkatkan efikasi diri sebanyak pada pencapaian prestasi

secara individual. Ketiga, kegagalan tampaknya lebih banyak menurunkan efikasi diri, terutama jika kita sadar sudah

mengupayakan yang terbaik; sebaliknya, kegagalan karena tidak

berupaya maksimal tidak begitu menurunkan efikasi diri. Keempat, kegagalan di bawah kondisi emosi yang tinggi atau tingkatan stress

tinggi efikasi dirinya tidak selemah daripada kegagalan di bawah

kondisi maksimal. Kelima, kegagalan sebelum memperoleh pengalaman tentang penguasaan lebih merusak efikasi dirinya

daripada kegagalan sesudah memperolehnya. Keenam, kegagalan pekerjaan memiliki efek yang kecil saja bagi efikasi diri,

khususnya bagi mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan tinggi.

b. Pengalaman Orang Lain (Various Experience)

Pengalaman orang lain adalah pengalaman pengganti yang

disediakan untuk model sosial. Efikasi diri meningkat ketika

(31)

kompetensinya, tetapi menurun ketika melihat kegagalan seorang

rekan. Apabila orang lain tidak setara dengan kita, pemodelan

sosial hanya memberikan efek kecil saja bagi efikasi diri.

Misalnya, Keberhasilan seorang pemuda anggota sirkus yang aktif

dan pemberani berjalan di atas tali yang ditonton seorang manula

yang penakut hanya sedikit saja member pengaruh bagi efikasi diri

sang manula untuk meniru tindakan tersebut.

c. Persuasi Verbal

Persuasi verbal meningkatkan kepercayaan seseorang

mengenai hal-hal yang dimilikinya untuk berusaha lebih gigih

untuk mencapai tujuan dan keberhasilan atau kesuksesan. Persuasi

verbal mempunyai pengaruh yang kuat pada peningkatan efikasi

diri individu dan menunjukkan perilaku yang digunakan secara

efektif. Seseorang mendapat bujukan atau sugesti untuk percaya

bahwa dirinya dapat mengatasi masalah-masalah yang akan

dihadapinya. Persuasi verbal berhubungan dengan kondisi yang

tepat bagaimana dan kapan persuasi itu diberikan agar dapat

meningkatkan efikasi diri seseorang.

d. Keadaan Fisiologis dan Emosional

Gejolak emosi, goncangan, kegelisahan yang mendalam

dan keadaan fisiologis yang lemah yang dialami individu akan

dirasakan sebagai isyarat akan terjadi peristiwa yang tidak

(32)

cenderung dihindari. Penilaian seseorang terhadap efikasi diri

dipengaruhi oleh suasana hati. Suasana hati yang positif akan

meningkatkan efikasi diri sedangkan suasana hati yang buruk akan

melemahkan efikasi diri. Mengurangi reaksi cemas, takut dan

stress individu akan mengubah kecenderungan emosi negatif

dengan salah interpretasi terhadap keadaan fisik dirinya sehingga

akhirnya akan mempengaruhi efikasi diri yang positif terhadap diri

seseorang.

3. Proses Pembentukan Efikasi Diri

Bandura (1997: 116), terdapat empat proses psikologis dalam efikasi

diri, yaitu:

a. Proses Kognitif

Proses kognitif merupakan proses berfikir, didalamya

termasuk pemerolehan, pengorganisasian, dan penggunaan

informasi. Kebanyakan tindakan seseorang bermula dari sesuatu

yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang memiliki efikasi

diri yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.

Sebaliknya individu yang efikasi dirinya rendah lebih banyak

membayangkan kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat

tercapainya kesuksesan. Bentuk tujuan personal juga dipengaruhi

oleh penilaian akan kemampuan diri. Semakin seseorang

(33)

membentuk usaha-usaha dalam mencapai tujuannnya dan semakin

kuat komitmen individu terhadap tujuannya.

b. Proses Motivasi

Kebanyakan motivasi seseorang dibangkitkan melalui

kognitif. Individu memberi motivasi/dorongan bagi diri mereka

sendiri dan mengarahkan tindakan melalui tahap

pemikiran-pemikiran sebelumnya. Kepercayaan akan kemampuan diri dapat

mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yakni menentukan

tujuan yang telah ditentukan individu, seberapa besar usaha yang

dilakukan, seberapa tahan mereka dalam menghadapi

kesulitan-kesulitan dan ketahanan mereka dalam menghadapi kegagalan.

Menurut Bandura (1997: 122), terdapat tiga teori yang

menjelaskan tentang proses motivasi. Teori pertama adalah causal attributions (atribusi penyebab). Teori ini fokus pada sebab-sebab yang mempengaruhi motivasi, usaha, dan reaksi-reaksi individu.

Individu yang memiliki efikasi diri tinggi bila mengahadapi

kegagalan cenderung menganggap kegagalan tersebut diakibatkan

usaha-usaha yang tidak cukup memadai. Sebaliknya, individu

yang efikasi dirinya rendah, cenderung menganggap kegagalanya

diakibatkan karena kemampuan mereka yang terbatas. Teori kedua

yaitu, outcomes experience (harapan akan hasil), yang menyatakan bahwa motivasi dibentuk melalui harapan-harapan. Biasanya

(34)

apa yang dapat mereka lakukan. Teori ketiga, goal theory (teori tujuan), di mana dengan membentuk tujuan terlebih dahulu dapat

meningkatkan motivasi.

c. Proses Afektif

Proses afeksi merupakan proses pengaturan kondisi emosi

dan reaksi emosional. Keyakinan individu akan coping mereka turut mempengaruhi level stres dan depresi seseorang saat mereka

menghadapi situasi yang sulit. Persepsi efikasi diri tentang

kemampuannya mengontrol sumber stres memiliki peranan penting

dalam timbulnya kecemasaan. Individu yang percaya akan

kemampuannya untuk mengontrol situasi cenderung tidak

memikirkan hal-hal yang negatif. Individu yang merasa tidak

mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level kecemasan

yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang

lingkungan sekitar penuh dengan ancaman, membesar-besarkan

masalah kecil, dan terlalu cemas pada hal-hal kecil yang

sebenarnya jarang terjadi.

d. Proses Seleksi

Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi

tertentu turut mempengaruhi efek dari suatu kejadian. Individu

cenderung menghindari aktivitas dan situasi yang diluar batas

kemampuan mereka. Bila individu merasa yakin bahwa mereka

(35)

menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat,

individu kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat, dan

hubungan sosial mereka.

4. Aspek-aspek Efikasi Diri

a. Level (tingkat kesulitan tugas), yaitu masalah yang berkaitan dengan derajat kesulitan tugas individu. Komponen ini

berimplikasi pada pemilihan perilaku yang akan dicoba individu

berdasarkan ekspektasi efikasi pada tingkat kesulitan tugas.

Individu akan berupaya melakukan tugas tertentu yang ia

persepsikan dapat dilaksanakannya dan ia akan menghindari situasi

dan perilaku yang ia persepsikan di luar batas kemampuannya.

b. Strength (kekuatan keyakinan), yaitu aspek yang berkaitan dengan kekuatan keyakinan individu atas kemampuannya. Ada individu

yang memiliki keyakinan kuat bahwa mereka akan berhasil

walaupun dalam tugas yang berat, sebaliknya ada juga yang

memiliki keyakinan rendah apakah dapat melakukan tugas

tersebut. Individu dengan efikasi diri rendah akan mudah menyerah

apabila mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan,

sementara individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap

kemampuannya akan tekun berusaha menghadapi kesulitan dan

rintangan.

(36)

Keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya bergantung pada

pemahaman kemampuan dirinya, baik yang terbatas pada suatu

aktivitas dan situasi tertentu maupun pada serangkaian aktivitas

dan situasi yang lebih luas dan bervariasi.

5. Karaktristik Siswa yang Memiliki Efikasi Diri

Bandura (dalam Widodo, 2007) menyebutkan ciri-ciri individu

[image:36.595.102.520.254.691.2]

yang memiliki efikasi diri tinggi dan rendah sebagai berikut:

Tabel 1

Ciri-ciri Individu yang Memiliki Efikasi Diri Tinggi dan Rendah

Efikasi Diri Tinggi Efikasi Diri Rendah

Mendekati tugas-tugas yang sulit sebagai tantangan untuk

dimenangkan

Menjauhi tugas-tugas yang sulit

Menyusun tujuan-tujuan yang menantang dan memelihara komitmen

Berhenti dengan cepat jika menemui kesulitan

Mempunyai usaha yang tinggi/gigih

Memiliki cita-cita yang rendah dan komitmen buruk untuk tujuan yang dipilihnya

Berpikir strategis Berfokus pada kegagalan

Berpikir bahwa kegagalan yang dialami disebabkan karena usaha yang tidak cukup sehingga diperlukan usaha yang tinggi dalam menghadapi kesulitan Cepat memperbaiki keadaan setelah mengalami kegagalan

Mengurangi usaha karena lambat memperbaiki keadaan dari kegagalan yang dialami Yakin akan berhasil sehingga

dapat mengkontrol stress saat tujuan belum tercapai

(mengurangi stress)

(37)

B. Konsep Belajar

1. Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan

dalam kehidupan manusia pada umumnya dan pendidikan pada

khususnya baik sengaja maupun tidak sengaja. Menurut Winkle (1997)

belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam

interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam

pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap.

Cronbach (Djamarah, 2002: 12) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar diartikan sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan

tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Belajar adalah suatu tahapan perubahan tingkah laku individu

yang relalif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan

lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2008).

Dari pendapat-pendapat di atas dapat dipahami bahwa belajar

merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan oleh individu yang

di didalamnya terdapat perubahan tingkah laku, sikap, keterampilan,

dan pengetahuan. Proses perubahan ini terjadi karena adanya interaksi

individu dengan lingkungan di sekitarnya serta dari pengalaman yang

(38)

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Djamarah (2002: 14) terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil

belajar siswa, yaitu:

a. Faktor Internal, yaitu yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor

internal terdiri dari:

1) Faktor fisiologis, berupa penglihatan, pendengaran, penciuman,

struktur tubuh, cacat tubuh.

2) Faktor psikologis, terdiri dari faktor intelektual, berupa

intelegensi dan bakat khusus.

3) Faktor non-intelektual, berupa konsep diri, sikap, motivasi,

penyesuaian diri, kemandirian, dan lain-lain.

b. Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa.

Faktor eksternal terdiri dari:

1) Faktor lingkungan sosial, terdiri dari: keluarga, sekolah,

masyarakat dan kelompok.

2) Faktor lingkungan budaya, terdiri dari: adat istiadat, IPTEK,

dan kesenian.

3) Faktor lingkungan fisik, terdiri dari: fasilitas rumah, fasilitas

belajar, dan lain-lain.

(39)

3. Peran Efikasi Diri dalam Belajar

Menurut Bandura (Alwisol, 2009), efikasi diri belajar mengacu

pada keyakinan yang berkaitan dengan kemampuan dan kesanggupan

seorang siswa untuk mencapai dan menyelesaikan tugas-tugas studi

dengan hasil dan waktu yang telah ditentukan. Efikasi diri belajar

mengacu pada pertimbangan seberapa besar keyakinan seseorang

tentang kemampuannya melakukan sejumlah aktivitas belajar dan

kemampuannya menyelesaikan tugas-tugas belajar. Efikasi diri belajar

merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan menyelesaikan

tugas-tugas akademik yang didasarkan atas kesadaran diri tentang

pentingnya pendidikan, nilai dan harapan hasil yang akan dicapai

kegiatan belajar.

Sebelumnya, Bandura telah menyinggung empat sumber dari

efikasi diri yaitu; pengalaman menyelesaikan masalah (mastery experience), pengalaman orang lain (various experience), persuasi verbal, dan keadaan fisiologis dan emosional. Riset terbaru Nan Zhang

Hampton dan Emanuel Mason (Feist dan Feist 2008: 428), menyatakan

bahwa siswa-siswa dengan kemampuan belajar rendah dapat memiliki

self efficacay yang redah terutama karena akses menuju empat sumber kemampuan diri ini. Selain itu, kegagalan berulang-ulang dalam

pengalaman penguasaan akademik akan mengarah pada self efficacy yang rendah pada siswa dengan kemampuan belajar rendah. Di titik

(40)

mengendur dan kegagalan yang semakin banyak: persepsi semakin

diperkuat oleh pengalaman. Pemodelan sosial para siswa memiliki

kemampuan belajar rendah menjadi semakin rendah karena mereka

tidak berani menjadikan siswa-siswa pandai sebagai acuan identifikasi

dirinya.

Riset-riset mereka terdahulu mengenai korelasi self efficacy dan kemampuan belajar rendah sudah mengabaikan mekanisme yang

paling memungkinkan untuk menjelaskan hubungan kedua faktor ini.

Dengan memasukkan gender dan sumber efikasi diri, Hampton dan

Mason berharap dapat menjelaskan hubungan yang paling

memungkinkan antara pembelajaran dan kemampuan ini. Di titik ini,

efikasi diri akan bisa dilihat memberikan pengaruh paling besar bagi

peforma akademis.

Untuk mengetes model mereka, Hampton dan Mason (Feist

dan Feist 2008: 428) mengumpulkan data hampir 300 siswa SMA,

kira-kira separuhnya didiagnosis kemampuan belajar rendah. Hasil

menunjukkan bahwa, jika dbandingkan dengan siswa berkemampuan

tinggi, para siswa berkemampuan rendah kekurangan pengalaman

penguasaan, kekurangan peran model, hanya sedikit mendapat

penguatan positif dari orang lain, dan memiliki tingkat kecemasan

tinggi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa, pengaruh tidak

langsung kepercayaan terhadap sumber efikasi diri hanya melekat pada

(41)

lain, kemampuan belajar rendah tidak berasal langsung dari efikasi diri

melainkan lebih terkait dengan sumber-sumber efikasi diri yang

mempengaruhi performa akademis.

C. Konsep Remaja

1. Pengertian Remaja

Istilah remaja berasal dari bahasa Latin adolescence yang

berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”.

Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencangkup kematangan mental, emosional,

sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Jadi dapat dikatakan bahwa remaja

adalah individu yang sedang bertumbuh untuk mencapai kematangan

baik secara mental, emosional, sosial, dan fisik.

Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung antara

umur 12 sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai 22 tahun bagi

pria. Rentan usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu

usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia

17/18 tahun sampai 21/22 tahun adalah remaja akhir. Pada usia ini,

umumnya remaja sedang duduk di bangku sekolah menengah.

2. Tugas Perkembangan Remaja

Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya

meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha

(42)

Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Huvighurst

(Ali, 2009) adalah sebagai berikut:

a. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya

baik pria maupun wanita.

1) Hakikat tugas

Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak

laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa di antara orang dewasa,

dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain

2) Dasar biologis

Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu

laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa

remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang

dominan dalam kehidupan remaja. Hubungan sosial

dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.

3) Dasar psikologis

Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku

sebagaimana orang dewasa. Adapun dalam kelompok lain

jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja

putrid umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan

cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya

beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan

berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi.

(43)

membawa penyesuaian sosial yang lebih baik sepanjang

kehidupannya.

b. Mencapai peran sosial pria dan wanita

1) Hakikat tugas

Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya

sebagai pria atau wanita.

2) Dasar biologis

Ditinjau dari kekuatan fisik, remaja putri menjadi orang yang

lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja

putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan

fisik.

3) Dasar psikologis

Peranan pria dan wanita memang berbeda. Remaja putra perlu

menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putrid perlu

menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun

demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja puti,

kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya pada

karier, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta

ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang

(44)

c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif

1) Hakikat tugas

Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan

kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta

menggunakannya secara efektif.

2) Dasar biologis

Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan

seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila

dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk

mempelajari sebagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi

tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia

15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun

pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.

3) Dasar psikologis

Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan

perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka

memperhatikan perubahan bentuk tubuh yang sedang

dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan

berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah

(45)

d. Mencari kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang

dewasa lainnya.

1) Hakikat tugas

Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu

menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap

perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri

padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang

dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.

2) Dasar biologis

Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh

kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun

ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung

tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap

orang tua.

3) Dasar psikologis

Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap

orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia

dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan

semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang

tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang

menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja

sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah

(46)

dalam proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam

melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan

kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa

dengan teman sebaya.

e. Mencapai jaminan kebebasan ekonomi

1) Hakikat tugas

Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.

2) Dasar biologis

Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas

ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat

bermanfaat untuk mencapai tugas ini.

3) Dasar psikologis

Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.

f. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan

1) Hakikat tugas

Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta

mempersiapkan pekerjaan.

2) Dasar biologis

Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah

cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri

(47)

3) Dasar psikologis

Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja,

ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat

utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan

lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah,

tentang apa yang dicita-citakannya, ke mana akan melanjutkan

pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran

tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.

g. Persiapan untuk memasuki kehidupan keluarga

1) Hakikat tugas

Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan

berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya

kesiapan untuk mempunyai anak.

2) Dasar biologis

Kematangan seksual yang normal menumbuhkan ketertarikan

antar jenis kelamin.

3) Dasar psikologis

Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang

menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan

sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan

hidup.

h. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang

(48)

1) Hakikat tugas

Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab

dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung

nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.

2) Dasar biologis

Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini

berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu,

kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau

memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi

dari dorongan seksual.

3) Dasar psikologis

Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok

sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan. Sejak

kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik

dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok

sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk

kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu

mencapai fase remaja.

i. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan system etika sebagai

pedoman tingkah laku.

1) Hakikat tugas

Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga

(49)

nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya

dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan

suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.

2) Dasar psikologis

Banyak remaja menaruh perhatian pada problem filosofis dan

agama. Problem ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan

imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.

3. Remaja dan Efikasi Dirinya dalam Belajar.

Masa remaja memanglah masa yang mudah untuk diselesaikan

bagi sebagian orang, namun tidak semua remaja mampu menyeleaikan

masa tersebut karena berbagai faktor. Bagi sebagian orang yang

mampu menyelesaikan masa tersebut akan terbantu untuk menghadapi

dan menyelesaikan masa selanjutnya yang mempunyai dampak positif

terhadap keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya (efikasi diri).

Namun bagi sebagian lainya yang mengalami kesulitan dalam

menyelesaikan masa tersebut akan mengalami hambatan dan

perkembangannya termasuk dalam menjalani masa selanjutnya.

Kesulitan ini mempunyai dampak bagi perkembangan diri dalam

berbagai aspek kehidupan salah satunya dalam akademik siswa.

Remaja yang memiliki efikasi diri dalam belajar tinggi akan

lebih aktif, berani, serta giat dalam berusaha menetapkan tujuan yang

ingin mereka capai. Remaja yang memiliki efikasi dalam belajar tinggi

(50)

dicapai sehingga memiliki prestasi akademik yang tinggi. Namun

sebaliknya, remaja yang memiliki efikasi diri dalam belajar rendah

mereka lebih sering menghindari tugas dan mudah menyerah ketika

dihadapkan dengan tugas yang sulit. Rendahnya efikasi diri dalam

belajar mungkin terjadi karena lingkungan sosial yang kurang

mendukung; misalnya remaja tersebut tinggal dalam lingkungan yang

selalu memandang kekurangan seseorang, merendahkan kemampuan

seseorang, lingkungan yang tidak pernah memberikaan kesempatan

untuk menunjukkan kemampuan, serta lingkungan yang tidak pernah

member penghargan atau pujian atas prestasi yang diperoleh. Remaja

yang tinggal dalam situasi tersebut akan mengalami hambatan dalam

menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Apabila situasi

tersebut dibiarkan begitu saja dan tanpa ada bantuan dari orang lain,

tentu akan menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun

orang lain. Dampak negatif bagi diri sendiri adalah membentuk pribadi

yang minder, pasif, mudah menyerah, kurang proaktif, dan kurang

tanggap terhadap lingkungan. Sedangkan dampak negatif bagi orang

lain adalah munculnya sikap ketergantungan kepada orang lain yang

(51)

D. Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar/Akademik 1. Bimbingan Pribadi-Sosial

a. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial

Bimbingan pribadi-sosial dimaknai sebagai suatu bantuan dari

pembimbing kepada individu agar dapat mencapai tujuan dan tugas

perkembangan pribadi dalam mewujudkan pribadi yang mampu

bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara

baik.

Menurut Winkle & Sri Hastuti (2012: 118), bimbingan

pribadi-sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri

dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam

mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani,

pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya; serta

bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di

berbagai lingkungan.

b. Tujuan Bimbingan Pribadi-sosial

1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai

keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik

dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman

sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat

(52)

2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan

saling menghormati dan memelihara hak dan kewajiban

masing-masing.

3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersikap

fluktuatif antara yang menyenangkan (anugerah) dan yang tidak

menyenangkan (musibah), serta mampu meresponnya secara

positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.

4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan

konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun

kelemahan; baik fisik maupun psikis.

5) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan

orang lain.

6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.

7) Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau

menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga

dirinya.

8) Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk

komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.

9) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang diwujudkan

dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau

silahturahim dengan sesama manusia

10) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara

(53)

2. Bimbingan Belajar

a. Pengertian Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar adalah bimbingan dalam hal

menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi

yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan

dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu intuisi pendidikan

(Winkel dan Sri Hastuti, 2012: 115). Sebagian besar waktu dan

perhatian orang muda tercurahkan pada kepentingan belajar di

sekolah. Keberhasilan atau kegagalan dalam belajar akademik

berarti sekali bagi orang muda; seandainya dia sendiri tidak

mengambil pusing, paling sedikit keluarganya akan merasa

prihatin. Prosedur belajar yang salah mengakibatkan, bahwa materi

program studi terpilih tidak dikuasai dengan baik, sehingga dalam

mengikuti program studi lanjut akan timbul kesulitan.

b. Tujuan Bimbingan Belajar

1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar,

dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul

dalam proses belajar yang dialaminya.

2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti

kebiasaan membaca buku, disiplin belajar, mempunyai

perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua

kegiatan belajar yang diprogramkan.

(54)

4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti

keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, dan

mempersiapkan diri menghadapi ujian.

5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan

perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar,

mengerjakan tugas, memantapkan diri dalam memperdalam

pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang

berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang

lebih luas.

6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini dipaparkan mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu

penelitian, subjek penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas

kuesioner, dan teknik analisis data.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif

dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat

positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,

pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat

kuantitatif/stasistik (Sugiyono, 2012: 14). Data yang terkumpul selanjutnya

dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif sehingga

dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Sifat

deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran

tentang tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan

SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.

B. Tempat dan Waktu Penelitian.

Tempat penelitian di SMKN 4 Yogyakarta, berikut adalah waktu

(56)
[image:56.595.99.539.130.609.2]

Tabel 2 Waktu Penelitian

No Waktu Agenda Keterangan

1 Januari 2015 Observasi di sekolah Terlaksana

2 Februari-April 2015 Pembuatan kuesioner Terlaksana

3 20 Mei 2015 Menyebarkan kuesioner pada siswa

kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran

2014/2015

Terlaksana

4 Mei-Juni 2015 Mengolah data dan menguji validitas

Terlaksana

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Tata Kecantikan

SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini melibatkan

seluruh siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun

Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 110 dari 4 kelas. Dalam penelitian ini

peneliti mengambil semua siswa sebagai subjek penelitian, sehingga

penelitian ini penelitan populasi.

Menurut Sugiono (2012:117), populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas: objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

terterntu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian

ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini populasinya adalah semua

siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran

(57)

digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji terpakai. Berikut adalah

tabel jumlah masing-masing kelas X Tata Kecantikan SMKN 4

[image:57.595.104.516.190.560.2]

Yogyakarta:

Tabel 3 Subjek Peneitian

No Kelas Jumlah

1 X Tata Kecantikan 1 (Kecantikan Kulit) 30

2 X Tata Kecantikan 2 (Kecantikan Kulit) 25

3 X Tata Kecantikan 3 (Kecantikan Rambut) 28

4 X Tata Kecantikan 4 (Kecantikan Rambut) 27

Total 110

Pada saat dilakukan penyebaran kuesioner, siswa yang hadir hanya

berjumlah 108 orang, sedangkan siswa yang tidak hadir berjumlah 2 orang.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah kuesioner/angket. Kuesioner yang disusun peneliti mengacu pada

prinsip-prinsip skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang tentang fenomena

sosial (Sugiyono, 2012: 134).

Pernyataan yang terdapat dalam Inventori Efikasi Diri dalam Belajar

(58)

keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut/variabel yang diukur.

Sedangkan pernyataan negatif atau unfavorable yaitu konsep keperilakuan yang tidak sesuai/tidak mendukung atribut/variabel yang diukur.

Responden diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan yang

terdapat pada Kuesioner/Inventori Efikasi Diri dalam Belajar dengan memilih

salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan dengan cara memberi tanda centang (). Skoring dilakukan dengan cara menjumlahkan jawaban

responden pada masing-masing item. Dengan demikian dapat diketahui

tingkat Efikasi Diri dalam Belajar pada subjek penelitian ini. Semakin tinggi

jumlah skor yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat Efikasi Diri

dalam Belajar. Sebaliknya, semakin rendah jumlah skor yang diperoleh, maka

semakin rendah pula tingkat Efikasi Diri dalam Belajar.

Instrumen penelitian ini menyediakan 4 alternatif jawaban yaitu

Sangat Setuju (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai

(STS). Norma skoring yang dikenakan terhadap pengolahan data yang

[image:58.595.100.523.240.749.2]

dihasilkan instrumen ini ditentukan sebagai berikut:

Tabel 4

Norma Skoring Inventori Efikasi Diri dalam Belajar

Alternatif Jawaban Skor

Favourable

Skor

Unfovourable

Sangat Sesuai 4 1

Sesuai 3 2

Tidak Sesuai 2 3

(59)

Kuesioner dikonstruk berdasarkan aspek-aspek Efikasi Diri dalam

Belajar Siswa. Operasionalisasi objek penelitian ini dijabarkan lebih jauh

[image:59.595.104.517.194.618.2]

dalam konstruk instrumen sebagai berikut:

Tabel 5

Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar

Gambar

Grafik 2. Kategorisasi Item Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X
Tabel 1 Ciri-ciri Individu yang Memiliki Efikasi Diri Tinggi dan Rendah
Tabel 2 Waktu Penelitian
Tabel 3 Subjek Peneitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan secure attachment dengan orang tua dengan aktualisasi diri, hubungan antara efikasi diri

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat kematangan psikologis mahasiswa berpacaran Angkatan 2013 Program Studi

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan seberapa tinggi tingkat kreativitas siswa kelas V dan VI SD

Pemilihansubjekdalampenelitianini dilakukan dengan menggunakansimple random sampling.Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner penyesuaian diri

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kecerdasan intrapersonal para siswi yang tinggal di Asrama Putri Stella Duce

Deskripsi Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa Kelas X dan XI SMA Stella Duce Bantul Tahun Ajaran 2017/2018 Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabel 4.1, dapat

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan secara deskriptif tentang efikasi diri pada siswa, khususnya kelas VIII MAN Wonokromo Bantul.Metode penelitian yang

Hasil uji linearitas X 1 (Efikasi Diri) dengan Y (Prestasi belajar) sebesar 0,000 yang kurang dari signifikansi 0,05, maka dapat disimpulkan data X 1 (Efikasi Diri)