ABSTRAK
TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik
Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar) Resa Kristina
Universitas Sanata Dharma 2015
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan mengidentifikasi butir instrumen yang tergolong rendah untuk dijadikan dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 108 siswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat efikasi diri dalam belajar siswa yang terdiri dari 34 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah kategorisasi yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah.
Hasil penelitan yang diperoleh adalah, (1) Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi berjumlah 5 siswa (5%), yang termasuk dalam kategori tinggi berjumlah 72 siswa (67%), yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 31 siswa (29%), dan tidak ada seorangpun siswa (0%) yang termasuk dalam kategori rendah maupun sangat rendah. (2) Berdasarkan analisis butir-butir efikasi diri dalam belajar siswa, diperoleh 2 butir item yang masuk dalam kategori rendah yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar yang implikatif untuk meningkatkan efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.
ABSTRACT
THE LEVEL OF SELF-EFFICACY IN LEARNING OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STUDENTS
(A Descriptive Study on the Tenth Grade Students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 and its Implication of both
Personal-Social and Learning Guidance) Resa Kristina
Universitas Sanata Dharma 2015
This research is a descriptive research which aims to find out the description about the level of students self efficacy in learning of the tenth grade students of beauty class in SMKN 4 Yogyakarta academic year 2014/2015. It also aims to identify the low instrument points in order to be considered as the foundation in arranging personal-social and learning guidance topics.
The type of this research is qualitative research. The subjects are the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 which consists of 108 students. The research uses questionnaires as the research instrument. The questionnaire is formed to find out the level of students self-efficacy in learning. It consists of 34 items which are developed based on the Likert scale arrangement. The data analysis technique used is categorisation. There are 5 categories; very high, high, average, low, and very low.
The result shows that (1) The level of students self-efficacy in learning of the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 are the followings; 5 students (5%) are considered in very high category, 72 students (67%) are in considered high category, 31 students (29%) are considered in average category, and none of them (0%) is considered in low or very low category, and (2) Based on the analysis of students self-efficacy in learning items, there are 2 items included in low category. This is used as a basis in arranging both personal-social and learning guidance topics to improve students self-efficacy in learning for the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015.
TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik
Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh: Resa Kristina NIM: 111114049
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik
Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Disusun oleh: Resa Kristina NIM: 111114049
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu,
karena ada upah bagi usahamu!
(2 Tawarikh 15:7)
“Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil; kita baru yakin
kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.”
(Evelyn Underhill)
Just Be’ Your Self
!!
Skripsi ini saya persembahkan kepada:
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan
dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 25 Agustus 2015 Penulis
LEMBAR PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Resa Kristina NIM : 111114049
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)
Dengan demikian saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 25 Agustus 2015 Yang menyatakan
ABSTRAK
TINGKAT EFIKASI DIRI DALAM BELAJAR SISWA SMK
(Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-Topik
Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar) Resa Kristina
Universitas Sanata Dharma 2015
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan mengidentifikasi butir instrumen yang tergolong rendah untuk dijadikan dasar penyusunan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 108 siswa. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner tingkat efikasi diri dalam belajar siswa yang terdiri dari 34 item pernyataan yang dikembangkan berdasarkan penyusunan skala model Likert. Teknik analisis data yang digunakan adalah kategorisasi yang terdiri dari lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, sangat rendah.
Hasil penelitan yang diperoleh adalah, (1) Tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 yang termasuk dalam kategori sangat tinggi berjumlah 5 siswa (5%), yang termasuk dalam kategori tinggi berjumlah 72 siswa (67%), yang termasuk dalam kategori sedang berjumlah 31 siswa (29%), dan tidak ada seorangpun siswa (0%) yang termasuk dalam kategori rendah maupun sangat rendah. (2) Berdasarkan analisis butir-butir efikasi diri dalam belajar siswa, diperoleh 2 butir item yang masuk dalam kategori rendah yang digunakan sebagai dasar untuk merumuskan usulan topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar yang implikatif untuk meningkatkan efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.
ABSTRACT
THE LEVEL OF SELF-EFFICACY IN LEARNING OF VOCATIONAL HIGH SCHOOL STUDENTS
(A Descriptive Study on the Tenth Grade Students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 and its Implication of both
Personal-Social and Learning Guidance) Resa Kristina
Universitas Sanata Dharma 2015
This research is a descriptive research which aims to find out the description about the level of students self efficacy in learning of the tenth grade students of beauty class in SMKN 4 Yogyakarta academic year 2014/2015. It also aims to identify the low instrument points in order to be considered as the foundation in arranging personal-social and learning guidance topics.
The type of this research is qualitative research. The subjects are the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 which consists of 108 students. The research uses questionnaires as the research instrument. The questionnaire is formed to find out the level of students self-efficacy in learning. It consists of 34 items which are developed based on the Likert scale arrangement. The data analysis technique used is categorisation. There are 5 categories; very high, high, average, low, and very low.
The result shows that (1) The level of students self-efficacy in learning of the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015 are the followings; 5 students (5%) are considered in very high category, 72 students (67%) are in considered high category, 31 students (29%) are considered in average category, and none of them (0%) is considered in low or very low category, and (2) Based on the analysis of students self-efficacy in learning items, there are 2 items included in low category. This is used as a basis in arranging both personal-social and learning guidance topics to improve students self-efficacy in learning for the tenth grade students of Beauty Class in SMKN 4 Yogyakarta Academic Year 2014/2015.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas berkat,
perlindungan, pertolongan, serta penyertaanNya dalam proses penyelesaian skripsi
ini. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan.
Penulis menyadari bahwa terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas
dari dukungan, doa, bimbingan, dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sangat tulus kepada:
1. Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Kepala Program Studi Bimbingan
dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan ijin
untuk penulisan skripsi ini.
2. Juster Donal Sinaga, M.Pd., sebagai Dosen Pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, pikiran, arahan, dan motivasi kepada
penulis dalam proses penilisan skripsi sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
3. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis
dengan berbagai ilmu pengetahuan selama ini, sehingga berguna bagi
penulis.
4. Bapak Drs. Sentot Hargiardi, M.M., selaku Kepala Sekolah SMKN 4
Yogyakarta yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk
5. Ibu Prashanti Ashtriyani, S.Pd, selaku guru Bimbingan dan Konseling
SMKN 4 Yogyakarta yang telah membantu penulis dalam proses
pengambilan data di sekolah terhadap para siswa kelas X Tata
Kecantikan.
6. Para siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun
Ajaran 2014/2015 atas kesediaannya mengisi kuesioner.
7. Kedua orangtuaku Bapak Jumari dan Ibu Sri Sugiyati yang telah
memberikan dukungan, doa, perhatian, kasih sayang, serta biaya yang
diberikan selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.
8. Kakakku Fransiska Krisnaningtyas dan Adikku Putri Karunia
Krishutami yang selalu memberikan perhatian, doa, dan semangat.
9. Dendy Setyadi yang dengan tulus memberikan doa dan semangat.
10.Sahabat dan teman-teman BK 2011 B (Hannita, Fika, Cicil, Tari,
Ating, Nurul, Riska, Reta, Linggar, Frida, Adven, Desta, Metta, Irma,
Lilis, Sr. Kiki, Sr. Laura, Sr. Vero, Sulis, Ridam, Andri, Aji, Rino,
Bayu, Yosua, Piter, Noel, atas doa, motivasi yang diberikan kepada
penulis dalam proses penulisan skripsi ini.
11.Teman-teman satu bimbingan (Ating, Nurul, Grace, Tari, Sr.Kiki,
Danty, Sugeng, Kak Sandy, Hikmat, Andri) atas doa dan motivasinya.
12.Sahabat-sahabat alumni SMKN 6 Yogyakarta (Tyas, Indra, Diar, Dina,
13.Mas Moko, yang telah bersedia membantu penulis dalam mengurus
administrasi selama berproses dan belajar di Prodi Bimbingan dan
Konseling.
14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu masukan, saran, dan kritik terhadap karya ini
dangat diperlukan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 25 Agustus 2015
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
LEMBAR PERYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GRAFIK ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 4
C. Pembatasan Masalah ... 5
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Manfaat Penelitian ... 5
G. Definisi Oprasional Variabel ... 6
BAB II LANDASAN TEORI ... 8
A. Efikasi Diri ... 8
1. Pengertian Efikasi Diri ... 8
2. Sumber Efikasi Diri... 10
3. Proses Pembentukan Efikasi Diri ... 13
B. Konsep Belajar ... 18
1. Pengertian Belajar ... 18
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar ... 19
3. Peran Efikasi Diri dalam Belajar... 20
C. Konsep Remaja ... 22
1. Pengertian Remaja ... 22
2. Tugas Perkembangan Remaja ... 22
3. Remaja dan Efikasi Dirinya dalam Belajar ... 30
D. Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar/Akademik ... 32
1. Bimbingan Pribadi-Sosial ... 32
2. Bimbingan Belajar ... 34
BAB III METODE PENELITIAN... 36
A. Jenis Penelitian ... 36
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 36
C. Subjek Penelitian ... 37
D. Metode Pengumpulan Data ... 38
E. Validitas dan Reliabilitas ... 41
1. Validitas ... 41
2. Reliabilitas ... 45
F. Teknik Analisis Data... 46
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51
A. Hasil Penelitian ... 51
B. Pembahasan ... 55
C. Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar ... 60
BAB V PENUTUP ... 62
A. Kesimpulan ... 62
B. Kelemahan ... 63
C. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA ... 65
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Ciri-ciri Individu yang Memiliki Efikasi Diri Tinggi dan Rendah ... 17
Tabel 2. Waktu Penelitian ... 37
Tabel 3. Subjek Peneitian ... 38
Tabel 4. Norma Skoring Inventori Efikasi Diri dalam Belajar Siswa... 39
Tabel 5. Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 (Sebelum Uji Coba) ... 40
Tabel 6. Rincian Intem yang Valid dan Tidak Valid ... 43
Tabel 7. Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 (Setelah Uji Coba) ... 44
Tabel 8. Kriteria Guilford ... 45
Tabel 9. Norma Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 47
Tabel 10. Norma Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 49
Tabel 11. Norma Kategorisasi Skor Item Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 50
Tabel 12. Kategorisasi Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 51
Tabel 13. Kategorisasi Item Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta ... 53
Tabel 14. Item-item Pernyataan yang Tegolong dalam Kategori Rendah ... 55
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1. Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X Tata Kecantikan
SMKN 4 Yogyakarta ... 52 Grafik 2. Kategorisasi Item Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa Kelas X
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Kisi-kisi Kuesioner Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 68
Lampiran 2. Kuesioner Efikasi Diri dalam Belajar Siswa ... 73
Lampiran 3. Hasil Penelitian ... 79
Lampiran 4. Uji Validitas ... 89
Lampiran 5. Uji Reliabilitas ... 95
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, dan definisi operasional variabel penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Setiap individu mengalami perubahan dalam fase-fase
perkembangan, salah satunya adalah remaja. Remaja adalah individu yang
berada pada masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan
dewasa. Pada masa ini remaja dihadapkan pada berbagai perubahan yang
terjadi dalam fase perkembangannya.
Menurut Jahja (2011), salah satu perubahan yang terjadi pada masa
remaja yaitu munculnya sikap ambivalen dalam menghadapi perubahan
yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi
lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan
tersebut. Selain itu, masa remaja juga dihadapkan dengan banyak tuntutan
dan tekanan. Tuntutan terbesar yang biasanya dihadapi oleh remaja yaitu
tuntutan dari masalah akademik atau belajarnya. Masih banyak remaja
yang malas-malasan ketika dihadapkan oleh tugas-tugas sekolah,
mengeluh ketika guru memberikan tugas, merasa bahwa tugas yang sulit
yakin akan kemampuan mereka sendiri. Keyakinan akan dirinya sendiri
itulah yang disebut dengan efikasi diri.
Efikasi diri merupakan keyakinan tentang apa yang mampu
dilakukan oleh seseorang. Bandura (1997), menjelaskan self-efficacy merupakan kunci untuk meningkatkan perasaan sebagai seorang pelaku
dalam diri individu; perasaan bahwa ia dapat memenuhi hidup mereka
sendiri. Individu dengan efikasi diri tinggi akan memilih melakukan usaha
lebih besar dan pantang menyerah. Efikasi diri juga mempunyai peran
penting pada pengaturan motivasi seseorang, mereka yang percaya akan
kemampuannya akan memiliki motivasi tinggi dan berusaha untuk sukses.
Terkait dengan belajar, efikasi diri merupakan keyakinan seseorang
pada kemampuan dirinya dalam menyelesaikan dan mengatasi tugas-tugas
belajarnya. Remaja yang memiliki efikasi diri tinggi dalam belajar akan
lebih aktif, berani, serta giat dalam berusaha dan menetapkan tujuan yang
ingin mereka capai. Remaja yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan
lebih memiliki keberanian dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai
sehingga mempunyai prestasi akademik yang tinggi. Namun sebaliknya
remaja yang memiliki efikasi diri rendah dalam belajar bisa jadi mereka
menghindari tugas dan mudah menyerah ketika dihadapkan dengan tugas
yang sulit.
Berkaitan dengan efikasi diri dalam belajar, beberapa remaja/siswa
kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta diindikasikan belum
mengeluh ketika guru memberikan tugas, mereka mengatakan bahwa tugas
itu sulit bagi mereka sebelum mereka mengerjakannya, siswa juga mudah
menyerah dan bosan dalam menyelesaikan tugas, beberapa siswa juga
terlihat kurang antusias saat mengikuti proses belajar di kelas. Data ini
diperoleh peneliti dari wawancara guru Bimbingan dan Konseling (BK).
Selain memperoleh data dari guru BK, peneliti juga melakukan
pengamatan saat melakukan bimbingan klasikal pada kelas X Tata
Kecantikan. Ketika peneliti meminta siswa untuk menuliskan refleksi,
beberapa siswa mengeluh tidak bisa menuliskan refleksi dan ada beberapa
dari mereka yang lebih memilih untuk diam. Selain itu, mereka juga
mengalihkannya dengan bermain HP dan mengobrol dengan temannya.
Kemungkinan hal di atas juga yang mempengaruhi prestasi belajar
beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan, karena pada saat melakukan
wawancara dengan guru BK, beliau juga menyinggung tentang prestasi
belajar siswa kelas X Tata Kecantikan. Di kelas tersebut ada beberapa
siswa yang memiliki prestasi belajar rendah. Untuk meningkatkan efikasi
diri dalam belajar siswa, diperlukan usaha dari masing-masing siswa.
Misalnya, siswa aktif di kelas saat pelajaran sekolah, memiliki semangat
saat belajar, menyukai dan menikmati semua pelajaran di sekolah. Jika hal
tersebut dilakukan oleh siswa, maka siswa tersebut akan memiliki efikasi
belajar yang tinggi. Penting bagi siswa untuk memiliki efikasi diri dalam
belajar, karena jika ia memiliki hal tersebut maka prestasi belajar siswa
cenderung memiliki prestasi belajar yang tinggi pula. Begitu juga
sebaliknya, siswa yang memiliki efikasi diri belajar yang rendah, prestasi
belajarnya juga rendah. Selain itu, efikasi diri dalam belajar penting bagi
siswa SMK, karena nantinya siswa akan menjadi tenaga yang siap kerja.
Jika tidak ditanamkan dari SMK maka saat memasuki dunia kerja nanti
akan berpengaruh bagi siswa.
Setelah melihat semua hal di atas, maka peneliti tertarik untuk
mengangkat judul “Tingkat Efikasi Diri dalam Belajar Siswa SMK (Studi Deskriptif pada Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya terhadap Usulan Topik-topik Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar)”.
B. Identifikasi Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan tingkat
efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4
Yogyakarta dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut:
1. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta
teridentifikasi kurang memiliki efikasi diri dalam belajarnya.
2. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta
mengeluh ketika diberi tugas oleh guru.
3. Beberapa siswa terlihat kurang antusias saat mengikuti pelajaran proses
belajar di kelas.
4. Beberapa siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta
C. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab
masalah-masalah yang teridentifikasi di atas khususnya masalah mengenai
seberapa tinggi tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata
Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.
D. Rumusan Masalah
Adapun rumusah masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Seberapa tinggi tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata
Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta?
2. Item-item instrumen skala efikasi diri dalam belajar mana saja yang
capaian skornya teridentifikasi rendah sebagai dasar penyusunan
topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu:
1. Mendeskripsikan tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata
Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta.
2. Mengidentifikasi item-item instrumen skala efikasi diri dalam belajar
yang capaian skornya teridentifikasi rendah sebagai dasar penyusunan
topik-topik bimbingan pribadi-sosial dan belajar.
F. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan
sumbangan terhadap pengembangan pengetahuan mengenai efikasi diri
dalam belajar dan mampu mengidentifikasi kegiatan apa yang mampu
membuat anak memiliki efikasi diri yang tinggi terkait dengan
belajarnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
Hasil penelitian ini dapat menjadi tolak ukur yang dapat
digunakan oleh guru BK untuk melihat seberapa tinggi tingkat
efikasi diri siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta
terkait dengan belajarnya.
b. Bagi Siswa Kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta
Siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta dapat
menggunakan hasil penelitian ini untuk melihat seberapa tinggi
tingkat efikasi diri dalam belajar mereka dan memikirkan kiat-kiat
untuk mengembangkannya.
G. Definisi Operasional Variabel
Adapun Definisi Operasional Variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Efikasi diri dalam belajar adalah keyakinan diri seseorang terhadap
kemampuan dirinya dalam menyelesaikan dan mengatasi tugas-tugas
Level (tingkat kesulitan tugas), Strength (kekuatan keyakinan), dan Generality (generalitas).
2. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan seseorang secara maksimal
untuk dapat menguasai atau memperoleh sesuatu.
3. Remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak, yang bertumbuh
dan berkembang secara fisik, emosional, mental, dan sosial.
4. Siswa kelas X Tata Kecantikan SMK
Siswa kelas X Tata Kecantikan SMK adalah mereka yang terdaftar di
SMKN 4 Yogyakarta pada tahun ajaran 2014/2015 dan mengambil
jurusan khusus kecantikan (rambut dan kulit).
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini dipaparkan mengenai teori efikasi diri, teori konsep belajar,
teori konsep remaja, teori bimbingan pribadi-sosial, belajar.
A. Efikasi Diri
1. Pengertian Efikasi Diri
Efikasi diri merupakan salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan oleh Albert Bandura. Efikasi diri mengacu pada
keyakinan-keyakinan seseorang tentang kemampuan dirinya untuk
belajar atau melakukan tindakan-tindakan pada level yang ditentukan
(Schunk, 2012). Efikasi diri adalah keyakinan tentang apa yang
mampu dilakukan oleh seseorang. Dalam mengukur efikasi diri,
seseorang menilai keterampilan-keterampilan mereka untuk
menerjemahkan keterampilan tersebut ke dalam tindakan-tindakan.
Bandura (Feist dan Feist 2010: 212), mendefinisikan efikasi
sebagai “keyakinan seseorang dalam kemampuannya untuk melakukan
suatu bentuk kontrol terhadap keberfungsian orang itu sendiri dan
kejadian dalam lingkungan. Bandura beranggapan bahwa “keyakinan
atas efikasi seseorang adalah landasan dari agen manusia”. Manusia
yang yakin bahwa mereka dapat melakukan sesuatu yang mempunyai
mungkin untuk bertindak dan lebih mungkin untuk menjadi sukses
daripada manusia yang mempunyai efikasi diri rendah.
Efikasi diri bukan merupakan ekspetasi dari hasil tindakan
kita. Bandura membedakan antara ekspetasi mengenai efikasi diri dan
ekspetasi mengenai hasil. Efikasi merujuk pada keyakinan diri
seseorang bahwa orang tersebut memiliki kemampuan untuk
melakukan suatu perilaku, sementara ekspetasi hasil merujuk pada
prediksi dari kemungkinan mengenai konsekuensi perilaku tersebut.
Hasil tidak boleh digabungkan dengan keberhasilan dalam melakukan
perilaku tersebut; hasil merujuk pada konsekuensi dari perilaku, bukan
penyelesaian melakukan tindakan tersebut.
Sebagai contoh, seorang pelamar kerja harus mempunyai
kepercayaan diri bahwa dia dapat memberikan performa yang baik saat
melakukan wawancara kerja, mempunyai kemampuan untuk
menjawab berbagai kemungkinan pertanyaan, tetap santai dan
terkontrol, serta menunjukkan perilaku bersahabat dengan kadar yang
tepat. Oleh karena itu, dia mempunyai efikasi diri yang tinggi
mengenai wawancara kerja. Akan tetapi, walaupun mempunyai
ekspetasi efikasi yang tinggi, ia mungkin mempunyai ekspetasi atas
hasil yang rendah. Ekspetasi akan hasil yang rendah dapat terjadi
apabila ia yakin bahwa ia hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk
ditawarkan posisi tersebut. Penilaian ini mungkin terjadi akibat kodisi
penggangguran, depresi ekonomi, atau lawan yang lebih superior.
Selain itu faktor pribadi lainnya, seperti usia, jenis kelamin, tinggi
badan, berat badan, dan kesehatan fisik dapat memberikan dampak
negatif terhadap ekspetasi atas hasil.
2. Sumber Efikasi Diri
Menurut Bandura, (Feist dan Feist 2008: 416-418), efikasi diri
pribadi itu didapatkan, dikembangkan, atau diturunkan melalui satu
atau kombinasi dari empat sumber, yaitu pengalaman menyelesaikan
masalah (mastery experience), pengalaman orang lain (various experience), persuasi verbal, dan keadaan fisiologis dan emosional. a. Pengalaman Menyelesaikan Masalah (Mastery Experience)
Pengalaman menyelesaikan masalah adalah sumber yang
paling penting mempengaruhi efikasi diri seseorang. Mastery experience memberikan bukti yang paling akurat dari tindakan apa saja yang diambil untuk meraih suatu keberhasilan atau
kesuksesan, dan keberhasilan tersebut dibangun dari kepercayaan
yang kuat didalam keyakinan individu. Kegagalan akan
menentukan efikasi diri individu terutama bila perasaan
keyakinannya belum terbentuk dengan baik. Pernyataan umum ini
memiliki enam konsekuensi praktis.
Pertama, performa yang berhasil akan meningkatkan efikasi diri secara proporsional dengan kesulitan dari tugas
tinggi akan mengalami peningkatan efikasi diri yang sedikit saat
mengalahkan lawan yang jelas-jelas inferior, tetapi pemain tersebut
akan lebih mengalami peningkatan efikasi diri dengan
menunjukkan performa yang baik menghadapi lawan yang lebih
superior. Kedua, tugas yang diselesaikan dengan baik oleh diri sendiri akan lebih efektif daripada yang diselesaikan dengan
bantuan orangalain. Dalam olahraga, pencapaian dalam tim tidak
akan meningkatkan efikasi diri sebanyak pada pencapaian prestasi
secara individual. Ketiga, kegagalan tampaknya lebih banyak menurunkan efikasi diri, terutama jika kita sadar sudah
mengupayakan yang terbaik; sebaliknya, kegagalan karena tidak
berupaya maksimal tidak begitu menurunkan efikasi diri. Keempat, kegagalan di bawah kondisi emosi yang tinggi atau tingkatan stress
tinggi efikasi dirinya tidak selemah daripada kegagalan di bawah
kondisi maksimal. Kelima, kegagalan sebelum memperoleh pengalaman tentang penguasaan lebih merusak efikasi dirinya
daripada kegagalan sesudah memperolehnya. Keenam, kegagalan pekerjaan memiliki efek yang kecil saja bagi efikasi diri,
khususnya bagi mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan tinggi.
b. Pengalaman Orang Lain (Various Experience)
Pengalaman orang lain adalah pengalaman pengganti yang
disediakan untuk model sosial. Efikasi diri meningkat ketika
kompetensinya, tetapi menurun ketika melihat kegagalan seorang
rekan. Apabila orang lain tidak setara dengan kita, pemodelan
sosial hanya memberikan efek kecil saja bagi efikasi diri.
Misalnya, Keberhasilan seorang pemuda anggota sirkus yang aktif
dan pemberani berjalan di atas tali yang ditonton seorang manula
yang penakut hanya sedikit saja member pengaruh bagi efikasi diri
sang manula untuk meniru tindakan tersebut.
c. Persuasi Verbal
Persuasi verbal meningkatkan kepercayaan seseorang
mengenai hal-hal yang dimilikinya untuk berusaha lebih gigih
untuk mencapai tujuan dan keberhasilan atau kesuksesan. Persuasi
verbal mempunyai pengaruh yang kuat pada peningkatan efikasi
diri individu dan menunjukkan perilaku yang digunakan secara
efektif. Seseorang mendapat bujukan atau sugesti untuk percaya
bahwa dirinya dapat mengatasi masalah-masalah yang akan
dihadapinya. Persuasi verbal berhubungan dengan kondisi yang
tepat bagaimana dan kapan persuasi itu diberikan agar dapat
meningkatkan efikasi diri seseorang.
d. Keadaan Fisiologis dan Emosional
Gejolak emosi, goncangan, kegelisahan yang mendalam
dan keadaan fisiologis yang lemah yang dialami individu akan
dirasakan sebagai isyarat akan terjadi peristiwa yang tidak
cenderung dihindari. Penilaian seseorang terhadap efikasi diri
dipengaruhi oleh suasana hati. Suasana hati yang positif akan
meningkatkan efikasi diri sedangkan suasana hati yang buruk akan
melemahkan efikasi diri. Mengurangi reaksi cemas, takut dan
stress individu akan mengubah kecenderungan emosi negatif
dengan salah interpretasi terhadap keadaan fisik dirinya sehingga
akhirnya akan mempengaruhi efikasi diri yang positif terhadap diri
seseorang.
3. Proses Pembentukan Efikasi Diri
Bandura (1997: 116), terdapat empat proses psikologis dalam efikasi
diri, yaitu:
a. Proses Kognitif
Proses kognitif merupakan proses berfikir, didalamya
termasuk pemerolehan, pengorganisasian, dan penggunaan
informasi. Kebanyakan tindakan seseorang bermula dari sesuatu
yang dipikirkan terlebih dahulu. Individu yang memiliki efikasi
diri yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan.
Sebaliknya individu yang efikasi dirinya rendah lebih banyak
membayangkan kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat
tercapainya kesuksesan. Bentuk tujuan personal juga dipengaruhi
oleh penilaian akan kemampuan diri. Semakin seseorang
membentuk usaha-usaha dalam mencapai tujuannnya dan semakin
kuat komitmen individu terhadap tujuannya.
b. Proses Motivasi
Kebanyakan motivasi seseorang dibangkitkan melalui
kognitif. Individu memberi motivasi/dorongan bagi diri mereka
sendiri dan mengarahkan tindakan melalui tahap
pemikiran-pemikiran sebelumnya. Kepercayaan akan kemampuan diri dapat
mempengaruhi motivasi dalam beberapa hal, yakni menentukan
tujuan yang telah ditentukan individu, seberapa besar usaha yang
dilakukan, seberapa tahan mereka dalam menghadapi
kesulitan-kesulitan dan ketahanan mereka dalam menghadapi kegagalan.
Menurut Bandura (1997: 122), terdapat tiga teori yang
menjelaskan tentang proses motivasi. Teori pertama adalah causal attributions (atribusi penyebab). Teori ini fokus pada sebab-sebab yang mempengaruhi motivasi, usaha, dan reaksi-reaksi individu.
Individu yang memiliki efikasi diri tinggi bila mengahadapi
kegagalan cenderung menganggap kegagalan tersebut diakibatkan
usaha-usaha yang tidak cukup memadai. Sebaliknya, individu
yang efikasi dirinya rendah, cenderung menganggap kegagalanya
diakibatkan karena kemampuan mereka yang terbatas. Teori kedua
yaitu, outcomes experience (harapan akan hasil), yang menyatakan bahwa motivasi dibentuk melalui harapan-harapan. Biasanya
apa yang dapat mereka lakukan. Teori ketiga, goal theory (teori tujuan), di mana dengan membentuk tujuan terlebih dahulu dapat
meningkatkan motivasi.
c. Proses Afektif
Proses afeksi merupakan proses pengaturan kondisi emosi
dan reaksi emosional. Keyakinan individu akan coping mereka turut mempengaruhi level stres dan depresi seseorang saat mereka
menghadapi situasi yang sulit. Persepsi efikasi diri tentang
kemampuannya mengontrol sumber stres memiliki peranan penting
dalam timbulnya kecemasaan. Individu yang percaya akan
kemampuannya untuk mengontrol situasi cenderung tidak
memikirkan hal-hal yang negatif. Individu yang merasa tidak
mampu mengontrol situasi cenderung mengalami level kecemasan
yang tinggi, selalu memikirkan kekurangan mereka, memandang
lingkungan sekitar penuh dengan ancaman, membesar-besarkan
masalah kecil, dan terlalu cemas pada hal-hal kecil yang
sebenarnya jarang terjadi.
d. Proses Seleksi
Kemampuan individu untuk memilih aktivitas dan situasi
tertentu turut mempengaruhi efek dari suatu kejadian. Individu
cenderung menghindari aktivitas dan situasi yang diluar batas
kemampuan mereka. Bila individu merasa yakin bahwa mereka
menghindari situasi tersebut. Dengan adanya pilihan yang dibuat,
individu kemudian dapat meningkatkan kemampuan, minat, dan
hubungan sosial mereka.
4. Aspek-aspek Efikasi Diri
a. Level (tingkat kesulitan tugas), yaitu masalah yang berkaitan dengan derajat kesulitan tugas individu. Komponen ini
berimplikasi pada pemilihan perilaku yang akan dicoba individu
berdasarkan ekspektasi efikasi pada tingkat kesulitan tugas.
Individu akan berupaya melakukan tugas tertentu yang ia
persepsikan dapat dilaksanakannya dan ia akan menghindari situasi
dan perilaku yang ia persepsikan di luar batas kemampuannya.
b. Strength (kekuatan keyakinan), yaitu aspek yang berkaitan dengan kekuatan keyakinan individu atas kemampuannya. Ada individu
yang memiliki keyakinan kuat bahwa mereka akan berhasil
walaupun dalam tugas yang berat, sebaliknya ada juga yang
memiliki keyakinan rendah apakah dapat melakukan tugas
tersebut. Individu dengan efikasi diri rendah akan mudah menyerah
apabila mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan,
sementara individu yang memiliki keyakinan kuat terhadap
kemampuannya akan tekun berusaha menghadapi kesulitan dan
rintangan.
Keyakinan individu terhadap kemampuan dirinya bergantung pada
pemahaman kemampuan dirinya, baik yang terbatas pada suatu
aktivitas dan situasi tertentu maupun pada serangkaian aktivitas
dan situasi yang lebih luas dan bervariasi.
5. Karaktristik Siswa yang Memiliki Efikasi Diri
Bandura (dalam Widodo, 2007) menyebutkan ciri-ciri individu
[image:36.595.102.520.254.691.2]yang memiliki efikasi diri tinggi dan rendah sebagai berikut:
Tabel 1
Ciri-ciri Individu yang Memiliki Efikasi Diri Tinggi dan Rendah
Efikasi Diri Tinggi Efikasi Diri Rendah
Mendekati tugas-tugas yang sulit sebagai tantangan untuk
dimenangkan
Menjauhi tugas-tugas yang sulit
Menyusun tujuan-tujuan yang menantang dan memelihara komitmen
Berhenti dengan cepat jika menemui kesulitan
Mempunyai usaha yang tinggi/gigih
Memiliki cita-cita yang rendah dan komitmen buruk untuk tujuan yang dipilihnya
Berpikir strategis Berfokus pada kegagalan
Berpikir bahwa kegagalan yang dialami disebabkan karena usaha yang tidak cukup sehingga diperlukan usaha yang tinggi dalam menghadapi kesulitan Cepat memperbaiki keadaan setelah mengalami kegagalan
Mengurangi usaha karena lambat memperbaiki keadaan dari kegagalan yang dialami Yakin akan berhasil sehingga
dapat mengkontrol stress saat tujuan belum tercapai
(mengurangi stress)
B. Konsep Belajar
1. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan
dalam kehidupan manusia pada umumnya dan pendidikan pada
khususnya baik sengaja maupun tidak sengaja. Menurut Winkle (1997)
belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap.
Cronbach (Djamarah, 2002: 12) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience. Belajar diartikan sebagai suatu aktivitas yang ditunjukan oleh perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Belajar adalah suatu tahapan perubahan tingkah laku individu
yang relalif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2008).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat dipahami bahwa belajar
merupakan sebuah proses panjang yang dilakukan oleh individu yang
di didalamnya terdapat perubahan tingkah laku, sikap, keterampilan,
dan pengetahuan. Proses perubahan ini terjadi karena adanya interaksi
individu dengan lingkungan di sekitarnya serta dari pengalaman yang
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Djamarah (2002: 14) terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil
belajar siswa, yaitu:
a. Faktor Internal, yaitu yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor
internal terdiri dari:
1) Faktor fisiologis, berupa penglihatan, pendengaran, penciuman,
struktur tubuh, cacat tubuh.
2) Faktor psikologis, terdiri dari faktor intelektual, berupa
intelegensi dan bakat khusus.
3) Faktor non-intelektual, berupa konsep diri, sikap, motivasi,
penyesuaian diri, kemandirian, dan lain-lain.
b. Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa.
Faktor eksternal terdiri dari:
1) Faktor lingkungan sosial, terdiri dari: keluarga, sekolah,
masyarakat dan kelompok.
2) Faktor lingkungan budaya, terdiri dari: adat istiadat, IPTEK,
dan kesenian.
3) Faktor lingkungan fisik, terdiri dari: fasilitas rumah, fasilitas
belajar, dan lain-lain.
3. Peran Efikasi Diri dalam Belajar
Menurut Bandura (Alwisol, 2009), efikasi diri belajar mengacu
pada keyakinan yang berkaitan dengan kemampuan dan kesanggupan
seorang siswa untuk mencapai dan menyelesaikan tugas-tugas studi
dengan hasil dan waktu yang telah ditentukan. Efikasi diri belajar
mengacu pada pertimbangan seberapa besar keyakinan seseorang
tentang kemampuannya melakukan sejumlah aktivitas belajar dan
kemampuannya menyelesaikan tugas-tugas belajar. Efikasi diri belajar
merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan menyelesaikan
tugas-tugas akademik yang didasarkan atas kesadaran diri tentang
pentingnya pendidikan, nilai dan harapan hasil yang akan dicapai
kegiatan belajar.
Sebelumnya, Bandura telah menyinggung empat sumber dari
efikasi diri yaitu; pengalaman menyelesaikan masalah (mastery experience), pengalaman orang lain (various experience), persuasi verbal, dan keadaan fisiologis dan emosional. Riset terbaru Nan Zhang
Hampton dan Emanuel Mason (Feist dan Feist 2008: 428), menyatakan
bahwa siswa-siswa dengan kemampuan belajar rendah dapat memiliki
self efficacay yang redah terutama karena akses menuju empat sumber kemampuan diri ini. Selain itu, kegagalan berulang-ulang dalam
pengalaman penguasaan akademik akan mengarah pada self efficacy yang rendah pada siswa dengan kemampuan belajar rendah. Di titik
mengendur dan kegagalan yang semakin banyak: persepsi semakin
diperkuat oleh pengalaman. Pemodelan sosial para siswa memiliki
kemampuan belajar rendah menjadi semakin rendah karena mereka
tidak berani menjadikan siswa-siswa pandai sebagai acuan identifikasi
dirinya.
Riset-riset mereka terdahulu mengenai korelasi self efficacy dan kemampuan belajar rendah sudah mengabaikan mekanisme yang
paling memungkinkan untuk menjelaskan hubungan kedua faktor ini.
Dengan memasukkan gender dan sumber efikasi diri, Hampton dan
Mason berharap dapat menjelaskan hubungan yang paling
memungkinkan antara pembelajaran dan kemampuan ini. Di titik ini,
efikasi diri akan bisa dilihat memberikan pengaruh paling besar bagi
peforma akademis.
Untuk mengetes model mereka, Hampton dan Mason (Feist
dan Feist 2008: 428) mengumpulkan data hampir 300 siswa SMA,
kira-kira separuhnya didiagnosis kemampuan belajar rendah. Hasil
menunjukkan bahwa, jika dbandingkan dengan siswa berkemampuan
tinggi, para siswa berkemampuan rendah kekurangan pengalaman
penguasaan, kekurangan peran model, hanya sedikit mendapat
penguatan positif dari orang lain, dan memiliki tingkat kecemasan
tinggi. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa, pengaruh tidak
langsung kepercayaan terhadap sumber efikasi diri hanya melekat pada
lain, kemampuan belajar rendah tidak berasal langsung dari efikasi diri
melainkan lebih terkait dengan sumber-sumber efikasi diri yang
mempengaruhi performa akademis.
C. Konsep Remaja
1. Pengertian Remaja
Istilah remaja berasal dari bahasa Latin adolescence yang
berarti “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”.
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencangkup kematangan mental, emosional,
sosial, dan fisik (Hurlock, 1991). Jadi dapat dikatakan bahwa remaja
adalah individu yang sedang bertumbuh untuk mencapai kematangan
baik secara mental, emosional, sosial, dan fisik.
Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung antara
umur 12 sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai 22 tahun bagi
pria. Rentan usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu
usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia
17/18 tahun sampai 21/22 tahun adalah remaja akhir. Pada usia ini,
umumnya remaja sedang duduk di bangku sekolah menengah.
2. Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha
Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja, menurut Huvighurst
(Ali, 2009) adalah sebagai berikut:
a. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya
baik pria maupun wanita.
1) Hakikat tugas
Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak
laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa di antara orang dewasa,
dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain
2) Dasar biologis
Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu
laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa
remaja. Daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang
dominan dalam kehidupan remaja. Hubungan sosial
dipengaruhi oleh kematangan fisik yang telah dicapai.
3) Dasar psikologis
Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku
sebagaimana orang dewasa. Adapun dalam kelompok lain
jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja
putrid umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan
cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya
beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan
berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi.
membawa penyesuaian sosial yang lebih baik sepanjang
kehidupannya.
b. Mencapai peran sosial pria dan wanita
1) Hakikat tugas
Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya
sebagai pria atau wanita.
2) Dasar biologis
Ditinjau dari kekuatan fisik, remaja putri menjadi orang yang
lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja
putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan
fisik.
3) Dasar psikologis
Peranan pria dan wanita memang berbeda. Remaja putra perlu
menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putrid perlu
menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun
demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja puti,
kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya pada
karier, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta
ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif
1) Hakikat tugas
Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan
kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta
menggunakannya secara efektif.
2) Dasar biologis
Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan
seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila
dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk
mempelajari sebagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi
tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia
15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun
pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.
3) Dasar psikologis
Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan
perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka
memperhatikan perubahan bentuk tubuh yang sedang
dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan
berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah
d. Mencari kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang
dewasa lainnya.
1) Hakikat tugas
Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu
menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap
perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri
padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang
dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.
2) Dasar biologis
Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh
kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun
ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung
tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap
orang tua.
3) Dasar psikologis
Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen terhadap
orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia
dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan
semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang
tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang
menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja
sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah
dalam proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam
melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan
kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa
dengan teman sebaya.
e. Mencapai jaminan kebebasan ekonomi
1) Hakikat tugas
Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri.
2) Dasar biologis
Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas
ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat
bermanfaat untuk mencapai tugas ini.
3) Dasar psikologis
Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.
f. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan
1) Hakikat tugas
Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta
mempersiapkan pekerjaan.
2) Dasar biologis
Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah
cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri
3) Dasar psikologis
Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja,
ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat
utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan
lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah,
tentang apa yang dicita-citakannya, ke mana akan melanjutkan
pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran
tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.
g. Persiapan untuk memasuki kehidupan keluarga
1) Hakikat tugas
Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan
berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya
kesiapan untuk mempunyai anak.
2) Dasar biologis
Kematangan seksual yang normal menumbuhkan ketertarikan
antar jenis kelamin.
3) Dasar psikologis
Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang
menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan
sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan
hidup.
h. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang
1) Hakikat tugas
Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab
dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung
nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.
2) Dasar biologis
Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini
berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu,
kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau
memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi
dari dorongan seksual.
3) Dasar psikologis
Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok
sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan. Sejak
kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik
dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok
sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk
kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu
mencapai fase remaja.
i. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan system etika sebagai
pedoman tingkah laku.
1) Hakikat tugas
Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga
nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya
dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan
suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.
2) Dasar psikologis
Banyak remaja menaruh perhatian pada problem filosofis dan
agama. Problem ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan
imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.
3. Remaja dan Efikasi Dirinya dalam Belajar.
Masa remaja memanglah masa yang mudah untuk diselesaikan
bagi sebagian orang, namun tidak semua remaja mampu menyeleaikan
masa tersebut karena berbagai faktor. Bagi sebagian orang yang
mampu menyelesaikan masa tersebut akan terbantu untuk menghadapi
dan menyelesaikan masa selanjutnya yang mempunyai dampak positif
terhadap keyakinan akan kemampuan yang dimilikinya (efikasi diri).
Namun bagi sebagian lainya yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan masa tersebut akan mengalami hambatan dan
perkembangannya termasuk dalam menjalani masa selanjutnya.
Kesulitan ini mempunyai dampak bagi perkembangan diri dalam
berbagai aspek kehidupan salah satunya dalam akademik siswa.
Remaja yang memiliki efikasi diri dalam belajar tinggi akan
lebih aktif, berani, serta giat dalam berusaha menetapkan tujuan yang
ingin mereka capai. Remaja yang memiliki efikasi dalam belajar tinggi
dicapai sehingga memiliki prestasi akademik yang tinggi. Namun
sebaliknya, remaja yang memiliki efikasi diri dalam belajar rendah
mereka lebih sering menghindari tugas dan mudah menyerah ketika
dihadapkan dengan tugas yang sulit. Rendahnya efikasi diri dalam
belajar mungkin terjadi karena lingkungan sosial yang kurang
mendukung; misalnya remaja tersebut tinggal dalam lingkungan yang
selalu memandang kekurangan seseorang, merendahkan kemampuan
seseorang, lingkungan yang tidak pernah memberikaan kesempatan
untuk menunjukkan kemampuan, serta lingkungan yang tidak pernah
member penghargan atau pujian atas prestasi yang diperoleh. Remaja
yang tinggal dalam situasi tersebut akan mengalami hambatan dalam
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Apabila situasi
tersebut dibiarkan begitu saja dan tanpa ada bantuan dari orang lain,
tentu akan menimbulkan dampak negatif bagi diri sendiri maupun
orang lain. Dampak negatif bagi diri sendiri adalah membentuk pribadi
yang minder, pasif, mudah menyerah, kurang proaktif, dan kurang
tanggap terhadap lingkungan. Sedangkan dampak negatif bagi orang
lain adalah munculnya sikap ketergantungan kepada orang lain yang
D. Bimbingan Pribadi-Sosial dan Belajar/Akademik 1. Bimbingan Pribadi-Sosial
a. Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial
Bimbingan pribadi-sosial dimaknai sebagai suatu bantuan dari
pembimbing kepada individu agar dapat mencapai tujuan dan tugas
perkembangan pribadi dalam mewujudkan pribadi yang mampu
bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara
baik.
Menurut Winkle & Sri Hastuti (2012: 118), bimbingan
pribadi-sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri
dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinnya sendiri; dalam
mengatur diri sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani,
pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya; serta
bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di
berbagai lingkungan.
b. Tujuan Bimbingan Pribadi-sosial
1) Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik
dalam kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman
sebaya, Sekolah/Madrasah, tempat kerja, maupun masyarakat
2) Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan
saling menghormati dan memelihara hak dan kewajiban
masing-masing.
3) Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersikap
fluktuatif antara yang menyenangkan (anugerah) dan yang tidak
menyenangkan (musibah), serta mampu meresponnya secara
positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut.
4) Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan
konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun
kelemahan; baik fisik maupun psikis.
5) Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan
orang lain.
6) Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat.
7) Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau
menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga
dirinya.
8) Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk
komitmen terhadap tugas atau kewajibannya.
9) Memiliki kemampuan berinteraksi sosial, yang diwujudkan
dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau
silahturahim dengan sesama manusia
10) Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara
2. Bimbingan Belajar
a. Pengertian Bimbingan Belajar
Bimbingan belajar adalah bimbingan dalam hal
menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih program studi
yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan
dengan tuntutan-tuntutan belajar di suatu intuisi pendidikan
(Winkel dan Sri Hastuti, 2012: 115). Sebagian besar waktu dan
perhatian orang muda tercurahkan pada kepentingan belajar di
sekolah. Keberhasilan atau kegagalan dalam belajar akademik
berarti sekali bagi orang muda; seandainya dia sendiri tidak
mengambil pusing, paling sedikit keluarganya akan merasa
prihatin. Prosedur belajar yang salah mengakibatkan, bahwa materi
program studi terpilih tidak dikuasai dengan baik, sehingga dalam
mengikuti program studi lanjut akan timbul kesulitan.
b. Tujuan Bimbingan Belajar
1) Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar,
dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul
dalam proses belajar yang dialaminya.
2) Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti
kebiasaan membaca buku, disiplin belajar, mempunyai
perhatian terhadap semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua
kegiatan belajar yang diprogramkan.
4) Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti
keterampilan membaca buku, menggunakan kamus, dan
mempersiapkan diri menghadapi ujian.
5) Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan
perencanaan pendidikan, seperti membuat jadwal belajar,
mengerjakan tugas, memantapkan diri dalam memperdalam
pelajaran tertentu, dan berusaha memperoleh informasi tentang
berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang
lebih luas.
6) Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini dipaparkan mengenai jenis penelitian, tempat dan waktu
penelitian, subjek penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan reliabilitas
kuesioner, dan teknik analisis data.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif
dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/stasistik (Sugiyono, 2012: 14). Data yang terkumpul selanjutnya
dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif sehingga
dapat disimpulkan hipotesis yang dirumuskan terbukti atau tidak. Sifat
deskriptif dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran
tentang tingkat efikasi diri dalam belajar siswa kelas X Tata Kecantikan
SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.
B. Tempat dan Waktu Penelitian.
Tempat penelitian di SMKN 4 Yogyakarta, berikut adalah waktu
Tabel 2 Waktu Penelitian
No Waktu Agenda Keterangan
1 Januari 2015 Observasi di sekolah Terlaksana
2 Februari-April 2015 Pembuatan kuesioner Terlaksana
3 20 Mei 2015 Menyebarkan kuesioner pada siswa
kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun Ajaran
2014/2015
Terlaksana
4 Mei-Juni 2015 Mengolah data dan menguji validitas
Terlaksana
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Tata Kecantikan
SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini melibatkan
seluruh siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta Tahun
Ajaran 2014/2015 yang berjumlah 110 dari 4 kelas. Dalam penelitian ini
peneliti mengambil semua siswa sebagai subjek penelitian, sehingga
penelitian ini penelitan populasi.
Menurut Sugiono (2012:117), populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas: objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
terterntu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya. Dalam penelitian ini populasinya adalah semua
siswa kelas X Tata Kecantikan SMKN 4 Yogyakarta tahun ajaran
digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji terpakai. Berikut adalah
tabel jumlah masing-masing kelas X Tata Kecantikan SMKN 4
[image:57.595.104.516.190.560.2]Yogyakarta:
Tabel 3 Subjek Peneitian
No Kelas Jumlah
1 X Tata Kecantikan 1 (Kecantikan Kulit) 30
2 X Tata Kecantikan 2 (Kecantikan Kulit) 25
3 X Tata Kecantikan 3 (Kecantikan Rambut) 28
4 X Tata Kecantikan 4 (Kecantikan Rambut) 27
Total 110
Pada saat dilakukan penyebaran kuesioner, siswa yang hadir hanya
berjumlah 108 orang, sedangkan siswa yang tidak hadir berjumlah 2 orang.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuesioner/angket. Kuesioner yang disusun peneliti mengacu pada
prinsip-prinsip skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seorang atau sekelompok orang tentang fenomena
sosial (Sugiyono, 2012: 134).
Pernyataan yang terdapat dalam Inventori Efikasi Diri dalam Belajar
keperilakuan yang sesuai atau mendukung atribut/variabel yang diukur.
Sedangkan pernyataan negatif atau unfavorable yaitu konsep keperilakuan yang tidak sesuai/tidak mendukung atribut/variabel yang diukur.
Responden diminta untuk menjawab pernyataan-pernyataan yang
terdapat pada Kuesioner/Inventori Efikasi Diri dalam Belajar dengan memilih
salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan dengan cara memberi tanda centang (). Skoring dilakukan dengan cara menjumlahkan jawaban
responden pada masing-masing item. Dengan demikian dapat diketahui
tingkat Efikasi Diri dalam Belajar pada subjek penelitian ini. Semakin tinggi
jumlah skor yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat Efikasi Diri
dalam Belajar. Sebaliknya, semakin rendah jumlah skor yang diperoleh, maka
semakin rendah pula tingkat Efikasi Diri dalam Belajar.
Instrumen penelitian ini menyediakan 4 alternatif jawaban yaitu
Sangat Setuju (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai
(STS). Norma skoring yang dikenakan terhadap pengolahan data yang
[image:58.595.100.523.240.749.2]dihasilkan instrumen ini ditentukan sebagai berikut:
Tabel 4
Norma Skoring Inventori Efikasi Diri dalam Belajar
Alternatif Jawaban Skor
Favourable
Skor
Unfovourable
Sangat Sesuai 4 1
Sesuai 3 2
Tidak Sesuai 2 3
Kuesioner dikonstruk berdasarkan aspek-aspek Efikasi Diri dalam
Belajar Siswa. Operasionalisasi objek penelitian ini dijabarkan lebih jauh
[image:59.595.104.517.194.618.2]dalam konstruk instrumen sebagai berikut:
Tabel 5
Kisi-kisi Instrumen Efikasi Diri dalam Belajar