233893573 Laporan Tutorial Skenario b Blok 1

40 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial yang berjudul “Laporan Tutorial Kasus Skenario B Blok I” sebagai tugas kompetensi kelompok. Shalawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.

Penulis menyadari bahwa laporan tutorial ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa mendatang.

Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada :

1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dengan sejuknya keimanan. 2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual. 3. Indri Ramayanti, S.SI. M.kes selaku tutor kelompok 6.

4. Teman-teman seperjuangan.

5. Semua pihak yang membantu penulis.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan kepada semua orang yang telah mendukung penulis dan semoga laporan tutorial ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Palembang, 2 Oktober 2013

(2)

DAFTAR ISI

Halaman cover……….. i

Kata Pengantar... ii

Daftar Isi... iii

BAB I : Pendahuluan 1.1 Latar Belakang... 3

1.2 Maksud dan Tujuan ... 3

BAB II : Pembahasan 2.1 Data Tutorial ... 4

2.2 Skenario... 4

2.3 Seven Jump Steps ... 4

2.3.1. Klarifikasi istilah... 4

2.3.2. Identifikasi Masalah... 5

2.3.3 Analisis Permasalahan dan jawaban... 5

2.3.4. Kesimpulan... 16

2.3.5. Kerangka Konsep... 16

2.3.6. Sintesis Masalah... 18

DAFTAR PUSTAKA... 38

(3)

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Blok Keterampilan Belajar dan Pengantar Metode Ilmiah adalah blok satu pada awal semester I dari Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.

Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus skenario B yang memaparkan kasus Zaskia yang mendapatkan nilai D pada ujian MCQ di tengah blok. ia menceritakan kepada PAnya bahwa ia tidak bisa belajar dengan baik pada diskusi tutorial Problem Based Learning. Ia tidak bisa berperan aktif selama diskusi tutorial dan tidak bisa menganalisis permasalahan kasus seperti teman-teman lainnya. Setelah tutorial pun, ia tidak mampu belajar mandiri. Selain itu, ia hanya membaca slide-slide yang diberikan dosen kepadanya dalam mempersiapkan ujian MCQ. Kemudian ia bertanya kepada PAnya kenapa dosen-dosen tidak memberikan saja apa yang harus ia pelajari sehingga ia bisa lulus pada ujian MCQ akhir blok nanti.

1.2. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari laporan tutorial studi kasus ini, yaitu :

1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang.

2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok.

3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial.

(4)

PEMBAHASAN

1.1. Data Tutorial

Tutor : Indri Ramayanti, S.SI. M.Kes Moderator : Desty Puspita S

Sekretaris papan : Reza Agustiantwo P Sekretaris meja : Ade Zulfiah

Waktu : Selasa, 24 September 2013

Pukul. 09.00 – 11.30 wib. Rule :

Menonaktifkan ponsel atau dalam keadaan diam.

Mengacungkan tangan saat akan mengajukan argumen

Izin saat akan keluar ruangan

Skenario Kasus

(5)

2.3 Seven Jump Steps 2.3.1 Klarifikasi Istilah

1. Blok : Pengelompokan atau deretan

2. Berkonsultasi : Melakukan pertukaran pikiran

3. Problem Based Learning : Suatu metode pembelajaran yang dilakukan secara diskusi kecil yang dipandu oleh tutor dengan menggunakan permasalahan sebagai pemicu

4. Menganalisis : Melakukan penelitian secara menyeluruh terhadap suatu hal atau peristiwa

5. Tutor : Dosen yang membimbing pembelajaran bagi sebagian mahasiswa 6. Slide : lembaran suatu bagian

7. Pembimbing Akademik : Seorang staf pengajar yang antusias motivasi dan komitmen tinggi terhadap mahasiswa

2.3.2 Identifikasi Masalah

1. Zaskia, mahasiswa blok 1 FK UMPberkonsultasi kepada Pembimbing Akademik (PA) karena mendapat nilai D pada MCQ tengah blok

2. Pada PA ia menceritakan bahwa ia tidak bias belajar dengan baik pada diskusi tutorial Problem Based Learning

3. Zaskia tidak bias berperan aktif, ia tidak mampu membuat pertanyaan- pertanyaan, tidak bias memberikan hubungan dan menganalisis masalah seperti yang diminta tutornya

4. Setelah sesi 1 tutorial, ia juga bingung karena tidak terbiasa belajar mandiri

(6)

2.3.3 Analisis Masalah dan jawaban

1. Zaskia, mahasiswa blok 1 FK UMP berkonsultasi kepada Pembimbing Akademik (PA) karena mendapat nilai D pada MCQ tengah blok.

a. Apa peran dan fungsi dosen Pembimbing Akademik ? Jawab:

Tugas dan Peranan Dosen Pembimbing Akademik

 Memfasilitasi informasi akademik yang sesuai untuk mahasiswanya.

 Memonitor perkembangan atau kemajuan akademik mahasiswa

 Merangsang motivasi belajar mahasiswa dan membimbing mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan belajarnya

 Mengindentifikasi dan berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi mahasiswa sedini mungkin

 Membimbing mahasiswa dalam menjalani kegiatan akademis, social, pribadi maupun karir

 Menciptakan suasana yang hangat dan baik dengan mahasiswa bimbingannya sehingga dapat menambah kegairahan proses pembelajaran mahasiswa

 Menanamkan nilai-nilai luhur etika kedokteran, norma keagamaan dan kaidah professional yang baik kepada mahasiswa dalam menjalankan profesinya sebagai dokter

` (Sumber: Modul Komunikasi Blok 1 FK UMP)

b. Apa sistem pembelajaran yang diterapkan di FK UMP ? Jawab:

Sistem pembelajaran di FK UMP menggunakan KBK ( Kurikulum berbasis kompetensi )

c. Bagaimana sistem pembelajaran KBK ? Jawab:

(7)

Jadi di sini, pengajar hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para mahasiswa/i bukan lagi objek, namun subjek. Dan setiap kegiatan mahasiswa/i ada nilainya.

Sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Berbasis_Kompetensi)

d. Apa yang dimaksud dengan Student Center Learning ? Jawab

Mahasiswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya, secara aktif terlibat di dalam mengelola pengetahuan, tidak hanya menekankan pada penguasaan materi tetapi juga dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life-long learning) dan Fungsi dosen sebagai fasilitator dan evaluasi dilakukan bersama dengan mahasiswa. Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan saling berkesinambungan dan terintegrasi serta Penekanan pada bagaimana cara mahasiswa dapat belajar dengan menggunakan berbagai bahan pelajaran, metode interdisipliner, penekanan pada problem based learning dan skill competency.

Sumber : http://forumkependidikan.unsri.ac.id/userfiles/Artikel%20Fauziah %20Nuraini%20Kurdi-UNSRI.pdf

2. Pada PA ia menceritakan bahwa ia tidak biasa belajar dengan baik pada diskusi tutorial Problem Based Learning.

a. Apa tujuan dan peran PBL ? Jawab:

Tujuan dan peran PBL adalah:

1) Mengembangkan kemampuan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang relevan yang menuntut ditindak lanjuti dalam diskusi-diskusi dan belajar mandiri.

2) Mengembangkan pemahaman sifat keterkaitan antara ilmu alam dasar, biomedik, kliinis dan humaniora yang harus ditelaah dalam setiap permasalahan.

(8)

emosional dan sosial, dalam konteks penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang efektif di dalam masyarakat.

4) Mengembangkan kemampuan pertimbangan klinis yang efektif dan kritis termasuk menganalisa suatu permasalahan, merumuskan hipotesis, dan pengambilan keputusan.

5) Menumbuhkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan agar mampu belajar mandiri, menyadari perlunya pembelajaran individual dan kelompok, dan memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran yang tersedia. 6) Berfungsi secara efektif sebagai peserta aktif dalam kelompok kecil dalam

pembelajaran dan pemecahan permasalahan kesehatan.

7) Dapat mengidentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan sikap dan perilaku yang dibutuhkan dalam profesi kedokteran.

(Sumber: Buku pedoman tutorial FK UMP)

b. Bagaimana penuntun sikap dan perilaku yang professional dalam tutorial ? Jawab:

Penuntun sikap dan perilaku yang professional dalam tutorial:

 Sikap saling menghormati

 Keterampilan dalam komunikasi

 Sikap bertanggung jawab

 Kesadaran akan kemampuan dan evaluasi diri sendiri (self awareness and self evaluation)

(Sumber: Buku pedoman tutorial FK UMP)

c. Apa saja persiapan yang harus dilakukan oleh seseorang sebelum memulai diskusi tutorial ?

Jawab:

Yang harus dilakukan sebelum memulai diskusi tutorial adalah : oMembaca materi atau buku teks yang dibutuhkan

oBuat skema pembelajaran

oKenali apa yang sudah maupun belum kamu ketahui tentang topic diskusi oKlarifikasi pandanganmu terhadap topic diskusi

oBuatlah beberapa pertanyaan tentang topic tersebut oPersiapan ruangan dan peralatan diskusi

(9)

3. Zaskia tidak bisa berperan aktif, ia tidak mampu membuat pertanyaan- pertanyaan, tidak bias memberikan hubungan dan menganalisis masalah seperti yang diminta tutornya

a. Apa peran peserta dalam tutorial ? Jawab :

Peran peserta dalam diskusi tutorial adalah :

Berpartisipasi aktif dalam proses diskusi

Menggali masalah berdasarkan scenario

Mendiskusikan masalah untuk mencari jawaban

Bekerjasama dengan anggota lain untuk menggali informasi dan sumber yang digunakan

Membaca skenario

(sumber : Modul Pedoman Tutorial FK UMP)

b. Mengapa seseorang tidak bias berperan aktif dalam diskusi tutorial ? Jawab :

karena seseorang tersebut belum bisa memahami dan mengerti dengan baik proses diskusi tutorial itu sendiri yang menggunakan metode Problem Based Learning (PBL), sebagaimana yang tertulis di dalam buku pedoman tutorial untuk mahasiswa Fakultas Kedokteran UMP Tahun 2013, Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan secara diskusi kelompok kecil (small group_discussion) yang dipandu oleh tutor dengan menggunakan permasalahan sebagai pemicu. PBL atau disebut tutorial bertujuan memfasilitasi mahasiswa untuk belajar aktif dan mandiri

c. Apa yang dimaksud dengan berpikir kritis dan sistematis ? Jawab:

Berdasarkan slide materi kuliah tentang Metode Berpikir Sistematis dan Kritis pada blok 1 tahun 2013 di FK UMP.

A. Critical thinking (berpikir kritis) is :

(10)

2) The intellectual disciplined process of actively and skillfully conceptualizing, applying, synthesizing, and or evaluating information gathered from, or generated by, observation, experience, reflection, reasoning or communication as a guide to belief and action

Dari pernyataan di atas dapat kami artikan bahwa berpikir kritis adalah 1) Berpikir ulang untuk suatu hal secara masuk akal dalam

memutuskan apa yang harus dilakukan atau yang harus dipercaya. 2) Proses disiplin intelektual aktif dan terampil dalam

mengkonseptualisasi, menerapkan, mensintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, observasi, pengalaman, refleksi, penalaran atau komunikasi sebagai panduan untuk meyakini dan menindaklanjuti suatu permasalahan.

B. Bepikir sistematis adalah pola berpikir secara teratur, berurutan menuju

pada satu tujuan tertentu.

d. Bagaimana cara melatih seseorang berpikir krtis dan sistematis ? Jawab:·

 Rajin dan tekun membaca, mencari sumber literatur sebagai bahan pembelajaran.

 Selalu mengambil hikmah (refleksi dari setiap pengetahuan/pengalaman)

(Sumber: Slide ppt berpikir kritis dan sistematis,2013 )

4. Setelah sesi 1 tutorial, ia juga bingung karena tidak terbiasa belajar mandiri a. Apa yang dimaksud dengan belajar mandiri ?

Jawab:

Proses seorang individu berinisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain dalam:

 Melakukan diagnosis kebutuhan pembelajarannya sendiri.

(11)

 Mengidentifikasi sumber pembelajaran.

 Memilih dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang sesuai.

 dan mengevaluasi tujuan pembelajarannya. Self-directed learning(Knowles,1975)

b. Apa manfaat dari belajar mandiri ?

Jawab :

 Meningkatkan kualitas pembelajaran:

 Mendorong suatu deep learning

 Mahasiswa dapat belajar dengan personal learning

 Meningkatkan kemampuan retention dan recall

 Mengembangkan critical thinking

 Mendorong pengembangan individu (rasa tanggung jawab)

 Mempersiapkan karakteristik dokter yang dibutuhkan :

 Memiliki rasa ingin tahu

 Mengasah kemampuan decision making

 Inovator

 Percaya diri

(Kaufmann, 2010) (Jenning, 2007) (Guglielmino, 2009) (Lea et al, 2003)

c. Apa karakteristik seorang belajar mandiri?

Jawab :

 SDL sebagai karakteristik personal

 Pembelajar yang terbuka terhadap peluang pembelajaran

(12)

 Inisiatif

 Bermotivasi internal

 Independen

 Senang belajar

 Kreatif

Goal oriented

[sumber : (Guglielmo et al, 2009) (zimmerman, 1990) (Song&Hill, 2007)]

d. Apa langkah-langkah seseorang dalam belajar mandiri?

Jawab :

1. Mengambil tindakan

2. Mengajukan pertanyaan

3. Membuat pilihan

4. Membangun kesadaran diri

5. Kerja sama

(Book&Brook, 1993 dalam Johnson, 2009).

e. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar mandiri?

Jawab :

Karakteristik Personal

1. Jenis kelamin

2. Usia

3. Motivasi

(13)

5. Pengalaman Pembelajaran Sebelumnya

6. Keterampilan Belajar

Proses Pembelajaran

1. Metode dan Strategis Pembelajaran

2. Sistem Evaluasi

3. Ketersediaan Sumber Belajar

5. Sebelum ujian MCQ ia hanaya belajar dari slide-slide yang diberikan dosen seperti saat ia belajar di bangku SMA

a. Apakah cara belajar Zaskia saat di SMA sudah tepat untuk diterapkan saat belajar di FK UMP ? Jelaskan mengapa!

Jawab:

Belum, karena zaskia masih menggunakan cara belajarnya saat masih di SMA. Sewaktu di SMA seorang siswa sering mengikuti temannya dalam menjalankan kegiatan dan menyelesaikan tugas dan belajar dari sumber yang hanya diberikan guru, sedangkan di perguruan tinggi itu cara belajarnya lebih mandiri. Kita dituntut menjadi seseorang yang mandiri yang tidak menggantungkan harapan kepada pihak lain maupun teman kuliah. Ketika di bangku kuliah dosen hanya berperan sebagai pengarah mahasiswa, karena itu sudah seharusnya mahasiswa mampu belajar mandiri di luar jadwal kuliah yang telah ditentukan.

(Sumber: kiat belajar di perguruan tinggi, Pengarang: Cipta Ginting )

b. Apa yang dimaksud dengan Adult Learning?

Jawab: Adult Learning Adalah suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup

Sumber: http://sumut.kemenag.go.id

(14)

c.Bagaimana ciri-ciri dan karakter seseorang Adult Learner? Jawab:

ciri-ciri Adult Learning

1. memiliki motivasi intrinsik

2. memahami tujuan belajar

3. mampu mempertahankan proses belajar hingga tujuan tercapai

4. menghagai waktu dengan baik

Karakter Adult Learning :

1. memiliki rasa ingin tahu

2. memiliki Helicopter vision

3. kemampuan mengola informasi

4. kemampuan mengola diri sendiri

5. memiliki keterampilan belajar

(Sumber : Slide ppt Nia ayu saraswati, dr;2013)

d. Apa saja langkah-langkah menjadi seseorang adult Learner? Jawab:

 Individu sudah memiliki kemampuan memikul tanggung jawab.

 Sanggup menghadapi kehidupan sendiri.

 Megnarahkan diri sendiri.

 Menghadapi situasi baru.

(15)

 Motivasi yang kuat untuk belajar dan mampu mengarahkan diri

 Mempelajari sesuatu dalam skala yang lebih luas.

 Memilih strategi belajar yang lebih baik, lebih efektif, dan terarah

(Sumber: file.upi.edu/FIP/andragogi.pdf)

e. Bagaimana prinsip-prinsip Adult Learning? Jawab:

1.berpikir keritis 2.belajar mandiri

3.umpan balik konstruktif 4.refleksi diri

(Sumber : Slide ppt ibu Nia saraswati, dr;2013)

f. Bagaimana pandangan islam tentang menuntut ilmu ? 1. Hadis-Hadis tentang kewajiban menuntut ilmu

ددححللللا ىللإد ددهحمللحا نلمد مللحعدلحا اوحببلبطحا

“Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”

“segala sesuatu yang ada jalannya dan jalan menuju surga adalah

ilmu”(hr.dailany)

“orang yang paling utama diantara manusia adalah orang mukmin yang

mempunyai ilmu,dimana kalau dibutuhkan(orang)dia membawa manfaat

/memberi petunjuk dan dikala sedang tidak dibutuhkan dia memperkaya

/menambah sendiri pengetahuannya”.(HR.baihaqi)

نديحصلدلابد وحللول مللحعدلحا اوحببلبطحا

"Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri cina".

(16)

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka

terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik

laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong

menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan.

Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan

jalan menanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu

terdapat dalam hadist Nabi Muhammad saw :

Artinya :

"Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun

perempuan". (HR. Ibn Abdulbari).

Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan

pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui

segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam,

dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh

umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan 'aqaid dan ibadat, baik yang

berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.

Nabi Muhammad saw. bersabda :

, ,

مدلحعدلحابد هديحللعلفل املهبدلارلأل نحملول مدلحعدلحابد هديحللعلفل ةلرلخدللا دلارلأل نحملول مدلحعدلحابد هديحللعلفل ايلنحدلبلا دلارلأل نحمل Artinya :

"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia,

wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan

(17)

barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu

kedua-duanya pula". (HR.Bukhari dan Muslim)

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat

dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan

kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap

muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat

membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang

diridhai Allah swt.

Rasulullah Saw., bersabda:

مملدسحمب للدكب ىللعل ةةضليحردفل مدلحعدلحا ببللطلمم

“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam” (Riwayat Ibnu

Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

2.3.4 Kesimpulan

(18)

2.3.5 Kerangka Konsep

Belum bisa menerapkan SCL ( Student Centre

Learning )

Belum menerapkan adult learning

Tidak dapat belajar dengan baik pada tutorial

Belum bisa berpikir kritis dan sistematis, serta tidak terbiasa belajar mandiri

(19)

2.3.7. Sintesis Masalah 1. Belajar Mandiri

1.1. Definisi Belajar Mandiri

Menurut Wedermeyer 1973:73 sebagaimana dikutip oleh Keegan, mendefinisikan belajar mandiri sebagai berikut;

Independent learning is that learning, that changed behaviour, that results from aktivities carried on by learner in space and time, learners whose environment is different from that of the school, learners who may be guided by teachers, but who are not dependent upon them, learners who accept degrees of freedom and responsibility in initialing and carrying out the activities that lead to learning.2

Dari kutipan di atas, yang disebut belajar mandiri adalah belajar yang mengubah hasil prilaku dari kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam waktu, tempat, dan lingkungan belajar yang berbeda dengan sekolah, siswa dibimbing oleh guru tetapi tidak tergantung (sepenuhnya) kepada mereka, siswa memperoleh kebebasan dan tanggung jawab dalam mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajar. Dalam belajar mandiri, siswa mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pelajaran yang diberikan guru. Siswa dapat mempelajari pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu dengan membaca modul cetak, buku atau melihat dan mendengarkan program media pembelajaran tanpa bantuan atau dengan bantuan terbatas dari orang lain. Sejalan dengan Keegan, Moore mengutip pendapat Wedermeyer (1971, p. 550), bahwa:

Independent study consists of various foms of teaching learning in which teachers and learners carry out the essential tasks and responsibilities apart from one another, communicating in a variety of ways for the purpose of freeing internal learners from inappropriate class pacings of patterns, of providing external learners with opportunities to continue learning in their own environments, and of developing in all learners capacity to carry on seif-directed learning

(20)

Dari kutipan ini jelas bahwa belajar mandiri tidak hanya berlaku pada pendidikan reguler (siswa on campus) yang tidak mampu mengikuti kecepatan belajar yang telah ditetapkan oleh institusi, namun juga bagi siswa di luar kampus yang bisa belajar di lingkungannya sendiri sesuai dengan kecepatan dan kapasitas (waktu, tempat, dan kemampuan) yang dimilikinya. Sementara itu, Dabbagh mengutip pendapat Hanson, et al., 1997, p. 9 bahwa,

” independent study... the program is more responsive to student needs and goals, and the student accepts a high degree of responsibility for the conduct of the learning programs”

Ini berarti belajar mandiri merupakan suatu program yang lebih responsif terhadap tujuan dan kebutuhan siswa dan siswa memperoleh tanggung jawab yang tinggi untuk melaksanakan program belajarnya.

1.2. Manfaat Belajar Mandiri

1. Meningkatkan kualitas pembelajaran:

 Mendorong suatu deep learning

 Mahasiswa dapat belajar dengan personal learning

 Meningkatkan kemampuan retention dan recall

 Mengembangkan critical thinking

 Mendorong pengembangan individu (rasa tanggung jawab)

2. Mempersiapkan karakteristik dokter yang dibutuhkan :

 Memiliki rasa ingin tahu

 Mengasah kemampuan decision making

 Inovator

 Percaya diri

1.3. Ciri-ciri seseorang yang belajar mandiri

(21)

sendiri. Untuk mengetahui apakah siswa itu mempunyai kemandirian belajar maka perlu diketahui

ciri-ciri kemandirian belajar. Anton Sukarno (1989:64) menyebutkan ciri-ciri kemandirian belajar sebagai berikut:

1. Siswa merencanakan dan memilih kegiatan belajar sendiri

2. Siswa berinisiatif dan memacu diri untuk belajar secara terus menerus 3. Siswa dituntut bertanggung jawab dalam belajar

4. Siswa belajar secara kritis, logis, dan penuh keterbukaan 5. Siswa belajar dengan penuh percaya diri

Menurut Sardiman sebagaimana dikutip oleh Ida Farida Achmad (2008:45) menyebutkan bahwa ciri-ciri kemandirian belajar yaitu meliputi:

1. Adanya kecenderungan untuk berpendapat, berperilaku dan bertindak atas kehendaknya sendiri

2. Memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai tujuan

3. Membuat perencanaan dan berusaha dengan ulet dan tekun untuk mewujudkan harapan

4. Mampu untuk berfikir dan bertindak secara kreatif, penuh inisiatif dan tidak sekedar meniru

5. Memiliki kecenderungan untuk mencapai kemajuan, yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar

6.Mampu menemukan sendiri tentang sesuatu yang harus dilakukan tanpa mengharapkan bimbingan dan tanpa pengarahan orang lain. Kesimpulan dari uraian diatas, bahwa kemandirian belajar adalah sikap mengarah pada kesadaran belajar sendiri dan segala keputusan, pertimbangan yang berhubungan dengan kegiatan belajar diusahakan sendiri sehingga bertanggung jawab sepenuhnya dalam proses belajar tersebut.

1.4. Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk belajar mandiri

Menurut Brockett & Hiemstra, (1991); Candy, (1991); Gibbons, (2002), beberapa karakteristik yang dihubungkan dengan kemandirian belajar pada siswa adalah:

a.Independence

Siswa yang belajar secara mandiri bertanggung jawab secara mandiri terhadap analisa, rencana, pelaksanaan dan mengevaluasi sendiri aktivitas pembelajarannya.

b. Self Management

(22)

c. Desire for learning

Untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengetahuan, siswa yang belajar secara mandiri harus memiliki motivasi yang kuat.

2. Adult Learner

2.1. Definisi Adult Learner

Ada beberapa asumsi mengenai perilaku belajar orang dewasa menurut Lindeman (Knowles,

1990), antara lain :

1. Orang dewasa selalu termotivasi untuk belajar sesuai dengan kebutuhan akan pengalaman dan minat bahwa belajar akan memuaskan. Oleh karena itu, hal ini merupakan salah satu cara untuk memulai mengorganisasikan aktivitas belajar orang dewasa.

2. Orientasi belajar orang dewasa orang dewasa adalah berpusat pada kehidupan. Oleh karena itu unit belajar yang tepat untuk mengorganisasikan adalah situasi nyata, bukan hal yang bersifat imaginatif.

3. Pengalaman merupakan sumber belaar yang paling kaya dalam belajar orang dewasa. Oleh karena itu, metode pendidikan untuk orang dewasa adalah analisis pengalaman.

4. Orang dewasa mempunyai kebutuhan yang mendalam untuk mengarahkan diri sendiri. Dengan demikian peran instruktur/trainer adalah menghubungkan proses eksplorasi yang seimbang dengan mereka daripada hanya sekedar mentransfer pengetahuan.

5. Perbedaan individu makin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Untuk itu, pembelajaran orang dewasa seharusnya memberikan perbedaan dalam gaya, waktu, tempat dan tahapan belajar.

2.2. Ciri-ciri Adult Learner

a. ciri-ciri Adult Learning 1. memiliki motivasi intrinsik

2. memahami tujuan belajar

3. mampu mempertahankan proses belajar hingga tujuan tercapai

4. menghagai waktu dengan baik

(23)

1. memiliki rasa ingin tahu orang dewasa belajar untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Menurut Pannen dan Malati (1994), proses belajar orang dewasa mempunyai beberapa tahapan, yaitu :

1. Kesadaran, yaitu pengenalan terhadap materi yang dipelajari

2. Pemahaman, mulai dapat memahami konsep atau prinsip bahan yang dipelajari 3. Keterampilan, bila di dalam proses pembelajaran diberikan kesempatan untuk

praktek, peserta akan dapat mencapai tahap penguasaan keterampilan 4. Penerapan pengetahuan dan keterampilan

5. Sikap, setelah menerapkan pengetahuan dan mempraktekkan peserta akan mempunyai sikap tertentu

Berdasarkan tahapan tersebut, ketika memulai proses pembelajaran orang dewasa tersebut harus menyadari betul kebutuhan belajarnya dan keterkaitan materi yang dipelajari terhadap kebutuhan tersebut. Kesadaran ini akan mendorong mereka untuk memahami pengetahuan dan menguasai keterampilan yang harus dipelajari. Selanjutnya menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari. Konsekuensi dari pengalaman setelah menerapkan tersebut, akan muncul sikap, baik positif maupun negatif. Tentu saja ketika orang dewasa mendapatkan manfaat dari hal yang dipelajari akan muncul sikap positif dan sebaliknya apabila mereka tidak mendapatkan manfaat apapun, muncul sikap negatif.

2.4. Prinsip-Prinsip Adult Learner

pembelajaran orang dewasa yang efektif dan efisien perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar bagi orang dewasa, yaitu :

1. Partisipasi Aktif. Orang dewasa akan dapat belajar dengan baik apabila secara penuh

mengambil bagian dalam aktivitas pembelajaran

2. Materinya Menarik. Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila materinya menarik bagi dia dan ada dalam kehidupan sehari-hari

3. Bermanfaat. Orang dewasa akan belajar dengan sebaik mungkin apabila apa yang dipelajari bermanfaat dan dapat diterapkan

(24)

5. Kesempatan Mengembangkan. Orang dewasa akan belajar sebaik mungkin apabila dia mempunyai kesempatan yang memadai untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya

6. Pengaruh Pengalaman. Proses belajar orang dewasa dipengaruhi oleh pengalamanpengalamannya yang lalu dan daya pikirnya

7. Saling Pengertian. Saling pengertian yang lebih baik akan membantu pencapaian tujuan pembelajaran

8. Belajar Situasi Nyata. Orang dewasa akan lebih banyak belajar dari situasi kehidupan nyata

9. Pemusatan Perhatian. Orang dewasa tidak dapat memusatkan perhatian untuk waktu yang lama kalau hanya mendengar saja

10.Kombinasi Audio dan Visual. Orang dewasa mencapai retensi (penyimpanan) tertinggi melalui kombinasi kata-kata dan visual

Pembelajaran orang dewasa telah menjadi bidang studi spesifik dan penelitian . Pelopor pembelajaran orang dewasa adalah Malcolm Knowles (tanggal ) . Ada beberapa prinsip pembelajaran orang dewasa, yaitu :

1. Orang dewasa otonom dan mandiri . Mereka ingin mengarahkan pembelajaran mereka sendiri , untuk terlibat secara aktif dalam belajar dan bekerja di sekitar kepentingan tertentu dan tujuan pribadi . Umumnya , mereka ingin mengambil peran kepemimpinan .

2. Dewasa berorientasi relevansi . Mahasiswa perlu melihat alasan untuk mempelajari sesuatu . Ketika mahasiswa melihat penerapan mereka juga melihat nilai dalam pengalaman. Teori perlu terkait dengan pengalaman praktis.

3. Dewasa praktis . Mereka ingin dapat menerapkan pengetahuan mereka . klinis pengaturan pendidikan adalah tempat yang ideal bagi mereka untuk melakukan hal ini , maka sebagian besar siswa hanya menyukai praktek .

4 . Pelajar dewasa ingin dihormati . Mereka membawa pengalaman hidup yang cukup untuk penempatan klinis mereka . Mereka ingin diperlakukan sebagai sama , untuk menyuarakan pendapat mereka sendiri dan memiliki peran dalam mengarahkan pembelajaran mereka sendiri .

2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adult learning

Proses dan perilaku belajar orang dewasa sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor Permasalahan-permasalahan yang terjadi ketika belajar, seringkali perlu dipahami dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Ada beberapa faktor fisik dan psikis yang mempengaruhi proses belajar pada orang dewasa. Faktor-faktor tersebut adalah :

(25)

1. Faktor penglihatan dan pendengaran

Seiring dengan bertambahnya usia, ketajaman penglihatan dan pendengaran mulai berkurang. Oleh karena itu sebaiknya peserta pembelajaran tidak terlalu banyak. Jumlah peserta diusahakan antara 15-25 orang, sehingga memungkinkan penataan kursi lebih dekat dengan sumber belajar. Media pembelajaran ditempatkan sedemikian rupa sehingga semua peserta dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas.

2. Faktor artikulasi

Bertambahnya usia juga memungkinkan struktur alat ucap sudah mengalami perubahan, seperti gigi tanggal, perubahan organ pita suara, bibir menurun dan sebagainya yang mempengaruhi pelafalan seseorang. Pelafalan ini tentu saja mempengaruhi makna bahasa. Instruktur sebaiknya dapat memahami hal ini dan mengupayakan pelafalan dengan tepat.

3. Faktor ketahanan tubuh dan penyakit

Selain faktor-faktor fisik di atas, fungsi organ pun mulai berkurang, bahkan muncul beberapa penyakit. Hal ini tentu saja mengurangi ketahanan fisik maupun psikis. Dengan demikian, hal yang perlu dipertimbangkan adalah untuk tidak menjadwalkan proses belajar sampai larut malam, latihan fisik yang berlebihan dan pengaturan menu makan yang bergizi.

Faktor-faktor Psikis

1. Harapan masa depan

Adanya harapan di masa depan dapat mempengaruhi semangat belajar. Semangat belajar akan muncul apabila materi yang dipelajari berkaitan dengan pengembangan karier di masa depan.

2. Latar belakang sosial

Lingkungan sosial peserta yang merupakan masyarakat belajar akan mempengaruhi belajar peserta. Kesempatan belajar akan dirasakan sebagai peluang berharga yang dapat meningkatkan kepercayaan diri serta statusnya di lingkungan sosialnya.

3. Keluarga

Latar belakang merupakan faktor yang dominan. Keluarga yang harmonis dan mendukung minat belajar akan memberikan dorongan besar untuk belajar. Keluarga dengan banyak anak dan dengan sedikit anak juga akan mempengaruhi sikap belajar.

(26)

Daya ingat untuk orang yang sudah beranjak dewasa akan semakin berkurang. Orang dewasa lebih mudah memahami sesuatu tetapi mudah melupakan. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran resume dan pengulangan materi sangat membantu.

3. Berpikir Kritis

3.1. Definisi Berpikir Kritis

Berpikir kritis (critical thinking) merupakan kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional, yang meliputi kemampuan untuk berpikir reflektif dan independen. Berpikir kritis memungkinkan diri memanfaatkan potensi melihat masalah, memecahkan masalah, menciptakan, dan menyadari diri

 Kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah (Chance,1986).

 Sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan (Mertes,1991)

 Proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan (Scriven & Paul, 1992)

Berpikir kritis berbeda dengan menghafal dan mengumpulkan informasi. Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang relevan untuk dirinya.

Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapat digunakan untuk menunjukkan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melkukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya.

3.2. Cara Melatih Berpikiri Kritis

Seperti halnya cara memahami subjek lainnya, mempelajari cara berpikir kritis meliputi dua fase:

(27)

(2) penerapan.

Fase internalisasi mencakup konstruksi ide-ide dasar, prinsip, dan teori-teori berpikir kritis di dalam pikiran pebelajar. Fase penerapan mencakup penggunaan ide-ide, prinsip, dan teori itu oleh pebelajar di dalam kehidupan sehari-hari. Dosen perlu memupuk dan menumbuhkan pemikiran kritis pada setiap stadium pembelajar-an, dimulai dari pembelajaran awal. Karena itu di dalam kurikulum pendidikan kedokteran, pengem-bangan pemikiran kritis sebaiknya dimulai sejak semester awal.

Terdapat sejumlah teknik untuk melatih ketrampilan berpikir kritis, antara lain sebagai berikut.

Analisis teks: Latihan ini memberikan kepada mahasiswa sebuah teks tentang suatu kejadian atau cerita. Mereka diminta untuk menjelaskan hubungan logis antara peristiwa-peristiwa di dalam cerita itu. Mereka juga diminta untuk memberikan saran judul teks tersebut, dan memberikan tambahan isi cerita. Kegiatan ini menuntut mahasiswa untuk berpikir logis dan memberikan alasan terhadap setiap kejadian yang berhubungan dengan cerita. Sebagai varian dari latihan ini, mahasiswa bisa diminta untuk memperluas cerita dengan menambahkan tokoh (karakter) atau peristiwa yang terkait dengan cerita semula.

Diskusi Socrates: Latihan ini mencakup pengaju-an pertanyaan-pertanyaan yang dapat mence-tuskan pemikiran kritis. Latihan ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada mahasiswa tentang isu-isu kompleks atau masalah-masalah hipotetik (perumpamaan). Mahasiswa diminta untuk menganalisis konsep, membedakan antara fakta dan asumsi, dan mengusulkan solusi yang tepat.

Berpikir dari kotak masalah (Think-out-of-the Box): Latihan ini memberikan teka-teki dan pertanyaan kepada mahasiswa untuk mendorong mereka berpikir kreatif yang dapat meningkatkan ketrampilan berpikir kritis. Sebagai contoh, maha-siswa bisa diminta untuk menggambar sejumlah titik, lalu mereka diminta untuk menghubungan titik-titik itu dengan seminimal mungkin jumlah garis-garis lurus. Permainan ini melatih kemampu-an mahasiswa untuk mengidentifikasi koneksi-koneksi yang kuat dari suatu keadaan yang kompleks, dan membedakannya dengan koneksi-koneksi yang lebih lemah, sehingga dapat melatih kemampuan untuk menemukan solusi yang lebih baik. Permainan berpikir kritis ini bisa dilanjutkan dengan memperkenalkan tititik-titik dengan pola yang berbeda.

(28)

1) Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat argumen

2) Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas

3) Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif

4) Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat

5) Membiasakan berpikiran terbuka

6) Mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada lainnya

3.4. Ciri-Ciri orang yang Berpikir Kritis

Nickerson (dalam Schfersman,1991) seorang ahli dalam berpikir kritis menyampaikan ciri-ciri orang yang berpikir kritis dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap, dan kebiasaan dalam bertindak sebagai berikut:

1. Menggunakan fakta-fakta secara mahir dan jujur.

2. Mengorganisasi pikiran dan mengartikulasikannya dengan jelas, logis atau masuk akal.

3. Membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid.

4. Mengidentifikasi kecukupan data.

5. Memahami perbedaan antara penalaran dan rasionalisasi.

6. Mencoba untuk mengantisipasi kemungkinan konsekuensi dari berbagai kegiatan. 7. Memahami ide sesuai dengan tingkat keyakinannya.

8. Melihat similiritas dan analogi secara tidak dangkal.

9. Dapat belajar secara independen dan mempunyai perhatian yang tak kunjung hilang dalam bekerjanya.

10. Menerapkan teknik problem solving dalam domain lain dari yang sudah dipelajarinya.

11. Dapat menyusun representasi masalah secara informal ke dalam cara formal seperti matematika dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah.

12. Dapat menyatakan suatu argumen verbal yang tidak relevan dan mengungkapkan argumen yang esensial.

13. Mempertanyakan suatu pandangan dan mempertanyakan implikasi dari suatu pandangan.

(29)

15. Menyadari bahwa fakta dan pemahaman seseorang selalu terbatas, banyak fakta yang harus dijelaskan dengan sikap non inquiri.

16. Mengenali kemungkinan keliru dari suatu pendapat, kemungkinan bias dalam pendapat, dan mengenali bahaya dari pembobotan fakta menurut pilihan pribadi.

4. Sistem Pembelajaran di FK UMP

4.1. Peran Pembimbing Akademik (PA)

Sayekti (1991 dalam Sugiaryo), mengemukakan dapat mengumpulkan pendapat dari beberapa ahli tentang tugas dan peran pembimbing akademik sebagai berikut: Mulyani dan A. Nurhadi menyebutkan bahwa peran pembimbing akademik meliputi:

(1) pembinaan dan penasehatan (2) pelayanan administratif (3) penyediaan konsultasi pribadi (4) layanan rekomendasi

Aryatmi Siswiharjono juga menyebutkan bahwa bimbingan akademik meliputi: (1) perencanaan studi

(2) pemilihan pekerjaan

(3) mengenal diri, minat dan bakat, kekuatan, kelemahan, kepribadian, hubungan dengan lingkungan

(4) memecahkan masalah (5) mengenal nilai - nilai hidup (6) hubungan sosial dengan temannya (7) motivasi belajar

(8) menggunakan fasilitas yang ada.

A. Badawi menyebutkan tugas pembimbing akademik adalah:

(1)menyusun program layanan kepenasehatan, baik secara perorangan maupun kelompok, secara berkala, terjadwal maupun sewaktu - waktu

(2) penyusunan program dan bahan belajar dan memilih mata kuliah (3) mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik

(4) pemecahan masalah yang dihadapi

(30)

Demikian pula dalam buku pedoman yang dikeluarklan oleh Depdikbud R.I. menyebutkan bahwa peran pembimbing akademik antara lain meliputi :

(1)mengusahakan agar setiap mahasiswa yang berada di Wilayah tanggung Jawabnya memperoleh pengarahan yang tepat dalam menyusun program dan beban belajarnya serta dalam memilih mata kuliah yang akan diambilnya.

(2)memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk membicarakan maslah maslah yang dialami khususnya yang berkenaan dengan pendidikan,

(3) membantu mahasiswa agar dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik

Fungsi PA pada dasarnya sebagai berikut:

(a) membantu mahasiswa dalam menyusun rencana studi (RS);

(b)membantu mahasiswa dalam mempertimbangkan mata kuliah yang akan diambil sesuai dengan beban sks yang dapat diambil dan memvalidasi RS; dan

(c) memonitor dan mengevaluasi perkembangan studi mahasiswa.

Oleh karena itu PA memiliki kewajiban untuk

(a) menguasai kurikulum program studi yang diikuti oleh mahasiswa; (b) mengenal situasi akademik jurusan/bagian yang terkait;

(c) mengetahui berbagai program kemahasiswaan;

(d) menetapkan dan mengumumkan jadwal pembimbingan; (e) melayani mahasiswa bimbingan dengan sebaik-baiknya;

(f) melapor kepada ketua atau sekretaris jurusan/bagian bila meninggalkan tugas; dan

(g) memiliki catatan hasil pemantauan mahasiswa bimbingan.

Selain beberapa kewajiban sebagaimana dikemukakan di atas dosen PA memiliki wewenang untuk

(a) memberi nasihat;

(b) memberi peringatan bila mahasiswa melakukan pelanggaran;

(c)membantu mengatasi masalah (masalah studi atau pribadi) yang menghambat kelancaran studi;

(d) membantu mengatasi kesukaran mahasiswa dalam studi

(e)meneruskan permasalahan mahasiswa yang bukan wewenangnya kepada yang berwenang untukmenangani masalah tersebut;

(f) memberi bimbingan bagi mahasiswa dalam memecahkan masalah studi atau masalah pribadi; dan

(31)

4.2. Definisi KBK

Secara umum kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Sedangkan Kurkikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai pebelajar, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas, 2002:3)

4.3. Prinsip-Prinsip Pengembangan KBK

 Keimanan, nilai, budi pekerti luhur

 Penguatan Integritas Nasional

 Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, Kinestetika

 Kesamaan memperoleh kesempatan

 Adaptasi terhadap abad pengetahuan dan teknologi informasi

 Mengembangkan keterampilan hidup

 Belajar sepanjang hayat

 Berpusat pada anak dengan penilaian berkelanjutan dan komprehensif

 Pendekatan menyeluruh dan kemitraan

4.4. Definisi SCL

Mahasiswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya, secara aktif terlibat di dalam mengelola pengetahuan, tidak hanya menekankan pada penguasaan materi tetapi juga dalam mengembangkan karakter mahasiswa (life-long learning) dan Fungsi dosen sebagai fasilitator dan evaluasi dilakukan bersama dengan mahasiswa. Proses pembelajaran dan penilaian dilakukan saling berkesinambungan dan terintegrasi serta Penekanan pada bagaimana cara mahasiswa dapat belajar dengan menggunakan berbagai bahan pelajaran, metode interdisipliner, penekanan pada problem based learning dan skill competency.

4.5. Model – Model Pembelajaran KBK

(32)

Based Learning (PjBL); dan (10) Problem Based Learning and Inquiry (PBL).

Diskusi adalah salah satu elemen belajar secara aktif dan merupakan bagian dari banyak model pembelajaran SCL yang lain, seperti CL, CbL, PBL, dan lain-lain. Mahasiswa peserta kuliah diminta membuat kelompok kecil (5 sampai 10 orang) untuk mendiskusikan bahan yang diberikan oleh dosen atau bahan yang diperoleh sendiri oleh anggota kelompok tersebut. Dengan aktivitas kelompok kecil, mahasiswa akan belajar: (a) Menjadi pendengar yang baik; (b) Bekerjasama untuk tugas bersama; (c) Memberikan dan menerima umpan balik yang konstruktif; (d) Menghormati perbedaan pendapat; (e) Mendukung pendapat dengan bukti; dan (f) Menghargai sudut pandang yang bervariasi (gender, budaya, dan lain-lain). Adapun aktivitas diskusi kelompok kecil dapat berupa: (a) Membangkitkan ide; (b) Menyimpulkan poin penting; (c) Mengases tingkat skill dan pengetahuan; (d) Mengkaji kembali topic di kelas sebelumnya; (e) Menelaah latihan, quiz, tugas menulis; (f) Memproses outcome pembelajaran pada akhir kelas; (g) Memberi komentar tentang jalannya kelas; (h) Membandingkan teori, isu, dan interpretasi; (i) Menyelesaikan masalah; dan (j) Brainstroming.

B. Simulasi/Demonstrasi

Simulasi adalah model yang membawa situasi yang mirip dengan sesungguhnya ke dalam kelas. Misalnya untuk mata kuliah aplikasi instrumentasi, mahasiswa diminta membuat perusahaan fiktif yang bergerak di bidang aplikasi instrumentasi, kemudian perusahaan tersebut diminta melakukan hal yang sebagaimana dilakukan oleh perusahaan sesungguhnya dalam memberikan jasa kepada kliennya, misalnya melakukan proses bidding, dan sebagainya. Simulasi dapat berbentuk: (a) Permainan peran (role playing). Dalam contoh di atas, setiap mahasiswa dapat diberi peran masing-masing, misalnya sebagai direktur, engineer, bagian pemasaran dan lain-lain; (b) Simulation exercices and simulation games; dan (c) Model komputer. Simulasi dapat mengubah cara pandang (mindset) mahasiswa, dengan jalan: (a) Mempraktekkan kemampuan umum (misal komunikasi verbal & nonverbal); (b) Mempraktekkan kemampuan khusus; (c) Mempraktekkan kemampuan tim; (d) Mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah (problem-solving);(e) Menggunakan kemampuan sintesis; dan (f) Mengembangkan kemampuan empati.

C. Discovery Learning (DL)

(33)

D. Self-Directed Learning (SDL)

SDL adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Sementara dosen hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan, dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut. Metode belajar ini bermanfaat untuk menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sendiri. Dengan kata lain, individu mahasiswa didorong untuk bertanggung jawab terhadap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya. Metode pembelajaran SDL dapat diterapkan apabila asumsi berikut sudah terpenuhi. Sebagai orang dewasa, kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri. Prinsip yang digunakan di dalam SDL adalah: (a) Pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat; (b) Kesiapan belajar merupakan tahap awal menjadi pembelajar mandiri; dan (c) Orang dewasa lebih tertarik belajar dari permasalahan daripada dari isi matakuliah Pengakuan, penghargaan, dan dukungan terhadap proses belajar orang dewasa perlu diciptakan dalam lingkungan belajar. Dalam hal ini, dosen dan mahasiswa harus memiliki semangat yang saling melengkapi dalam melakukan pencarian pengetahuan.

E. Cooperative Learning (CL)

CL adalah metode belajar berkelompok yang dirancang oleh dosen untuk memecahkan suatu masalah/kasus atau mengerjakan suatu tugas. Kelompok ini terdiri atas beberapa orang mahasiswa, yang memiliki kemampuan akademik yang beragam. Metode ini sangat terstruktur, karena pembentukan kelompok, materi yang dibahas, langkah-langkah diskusi serta produk akhir yang harus dihasilkan, semuanya ditentukan dan dikontrol oleh dosen. Mahasiswa dalam hal ini hanya mengikuti

prosedur diskusi yang dirancang oleh dosen. Pada dasarnya CL seperti ini merupakan perpaduan antara teacher-centered dan student-centered learning. CL bermanfaat untuk membantu menumbuhkan dan mengasah: (a) kebiasaan belajar aktif pada diri mahasiswa; (b) rasa tanggungjawab individu dan kelompok mahasiswa; (c) kemampuan dan keterampilan bekerjasama antar mahasiswa; dan (d) keterampilan sosial mahasiswa.

F. Collaborative Learning (CbL)

(34)

G. Contextual Instruction (CI)

CI adalah konsep belajar yang membantu dosen mengaitkan isi matakuliah dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan memotivasi mahasiswa untuk membuat keterhubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai anggota masyarakat, pelaku kerja profesional atau manajerial, entrepreneur, maupun investor. Sebagai contoh, apabila kompetensi yang dituntut matakuliah adalah mahasiswa dapat menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi proses transaksi jual beli, maka dalam pembelajarannya, selain konsep transaksi ini dibahas dalam kelas, juga diberikan contoh, dan mendiskusikannya. Mahasiswa juga diberi tugas dan kesempatan untuk terjun langsung di pusat-pusat perdagangan untuk mengamati secara langsung proses transaksi jual beli tersebut, atau bahkan terlibat langsung sebagai salah satu pelakunya, sebagai pembeli, misalnya. Pada saat itu, mahasiswa dapat melakukan pengamatan langsung, mengkajinya dengan berbagai teori yang ada, sampai ia dapat menganalis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya proses transaksi jual beli. Hasil keterlibatan, pengamatan dan kajiannya ini selanjutnya dipresentasikan di dalam kelas, untuk dibahas dan menampung saran dan masukan lain dari seluruh

anggota kelas. Pada intinya dengan CI, dosen dan mahasiswa memanfaatkan pengetahuan secara bersama-sama, untuk mencapai kompetensi yang dituntut oleh matakuliah, serta memberikan kesempatan pada semua orang yang terlibat dalam pembelajaran untuk belajar satu sama lain.

H. Project-Based Learning (PjBL)

PjBL adalah metode belajar yang sistematis, yang melibatkan mahasiswa dalam belajar pengetahuan dan keterampilan melalui proses pencarian/penggalian (inquiry) yang panjang dan terstruktur terhadap pertanyaan yang otentik dan kompleks serta tugas dan produk yang dirancang dengan sangat hati-hati.

I. Problem-Based Learning/Inquiry (PBL/I)

PBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut. Pada umumnya, terdapat empat langkah yang perlu dilakukan mahasiswa dalam PBL/I, yaitu: (a) Menerima masalah yang relevan dengan salah satu/beberapa kompetensi yang dituntut matakuliah, dari dosennya; (b) Melakukan pencarian data dan informasi yang relevan untuk memecahkan masalah; (c) Menata data dan mengaitkan data dengan masalah; dan (d) Menganalis strategi pemecahan masalahPBL/I adalah belajar dengan memanfaatkan masalah dan mahasiswa harus melakukan pencarian/penggalian informasi (inquiry) untuk dapat memecahkan masalah tersebut.

5. Pandangan Islam dalam menuntun ilmu

(35)

Sesungguhnya Islam adalah syarat keselamatan di sisi Allah. Islam tidak tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. Tidak ada cara dan jalan untuk mengenal Allah dan sampai kepada-Nya kecuali dengan ilmu. Allah lah yang telah menunjukan jalan yang paling dekat dan mudah untuk sampai kepada-Nya. Barangsiapa yang menempuh jalan tersebut, tidak akan menyimpang dari tujuan yang dicita-citakannya.

Jumhur ulama sepakat, tidak ada dalil yang lebih tepat selain wahyu pertama yang disampaikan Allah SWT kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad saw sebagai landasan utama perintah untuk menuntut ilmu.

Dijelaskannya pula sarana untuk mendapatkannya, disertai bagaimana nikmatnya memiliki ilmu, kemuliaannya, dan urgensinya dalam mengenal ke-Maha Agung-an Sang Khalik dan mengetahui rahasia penciptaan serta menunjukkan tentang hakikat ilmiah yang tetap. Sebagaimana firman-Nya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (baca tulis). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al ‘Alaq [96]: 1-5).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman : “…Katakanlah : “ Adakah sama orang-orang yang mengetahui (ilmu agama Islam) dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Q.S. Az Zumar [39]: 9).

Para mufasir menyimpulkan firman Allah di atas, bahwa : 1). Tidaklah sama antara hamba Allah yang memahami ilmu agama Allah, yaitu yang menyadari dirinya, memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mentaati segala perintah dan larangan-Nya, dengan orang-orang yang mendustakan nikmat-nikmat Allah, yang tidak mau mempelajari ilmu agama Allah; 2). Hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah.

(36)

Menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib (fardhu). Para ahli fiqih mengelompokannya dalam dua bagian, yaitu 1). Fardhu ‘ain; dan 2). Fardhu kifayah. 1). Fardhu ‘ain : adalah setiap ilmu yang harus dipelajari oleh setiap muslim tentang Ilmu Agama Islam, agar akidahnya selamat, ibadahnya benar, mu’amalahnya lurus dan sesuai dengan yang disyariatkan Allah Azza wa Jalla, yang tertuang dalam Al Qur’an dan Sunah Nabi-Nya yang sahih. Inilah yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya, “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) Melainkan Allah”. (Q.S. Muhammad [47]: 19). Juga yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya, “ Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. (H.R. Ibnu Majah).

Pengertian mencari ilmu di sini, adalah mencari ilmu agama Islam, hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan; 2). Fardhu kifayah : adalah ilmu yang memperdalam ilmu-ilmu syariat dengan mempelajari, menghafal, dan membahasnya. Misalnya spesialisasi dalam ilmu-ilmu yang dibutuhkan umat Islam, seperti sistem pemerintahan, hukum, kedokteran, perekonomian, dan lain-lain. Tapi jika sebagian dari mereka ada yang mengerjakannya, maka gugurlah kewajiban dari yang lainnya. Sedangkan jika tidak ada seorang pun yang melakukannya, maka semua menanggung resikonya.

Inilah yang diserukan Allah SWT dalam firman-Nya, “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (Q.S. At-Taubah [9]: 122).

Bahwa tidak ada jalan untuk mengenal Allah, meraih ridha-Nya serta menggapai keuntungan dan kedekatan dengan-Nya, kecuali dengan ilmu. Ilmu adalah cahaya yang dengannya Allah mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan dengannya pula memberi petunjuk dari kesesatan dan kebodohan. Dengan ilmu terungkaplah seluruh keraguan, khurafat dan kerancuan. (Q.S. Al Maidah [5]: 15-16) dan (Q.S. Al-A’raf [7] : 157).

(37)

(Q.S. An Nisa [4] : 59). Dan hadits nabi Saw. “ …Sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu bagimu, jikalau kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan sesat selamanya, (yaitu) Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya”. (H.R. Hakim; at-Targhib, 1 : 60).

Banyak jalan untuk menuntut ilmu agama. Antara lain mengikuti majelis taklim yang istiqomah mengkaji Al Qur’an dan As Sunnah sahih di berbagai tempat dan media. Ilmu agama ada di Qur’an , Tafsir Qur’an, juga hadis-hadis sahih, yang sudah diterjemahkan. Jika kita tidak memahami ilmu agama Islam, bagaimana kita bisa tahu mana perintah dan larangan Allah ? Bagaimana kita bisa tahu ibadah yang kita lakukan itu sah dan diterima Allah ? Tapi umat Islam juga jangan sembarangan menimba ilmu. Salah-salah memilih sumber ilmu, maka kelak ilmu yang dimiliki itu akan tersesat. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi diri kita dari berbagai kebatilan dan kemungkaran. Amin. Wallahu a’lam.

6. Problem Based Learning atau Tutorial

6.1. Sikap dan Perilaku ketika Tutorial

Penuntun sikap dan perilaku yang professional dalam tutorial:

 Sikap saling menghormati

 Keterampilan dalam komunikasi

 Sikap bertanggung jawab

 Kesadaran akan kemampuan dan evaluasi diri sendiri (self awareness and self evaluation)

6.2. Proses-Proses PBL atau Tutorial

Kelompok diskusi Kurang lebih 10 mahasiswa ,Lama tutorial adalah 2,5 jam . Dalam tutorial mahasiswa menelaah bersama skenario yang di berikan ,menyatukan pemahaman scenario dan terminologi -terminologi yang ada di dalam skenario ,mengidentifikasi permasalahan dan membahasnya.

Langkah-Langkah dalam tutorial

1.Bawa buku penuntun PBL,Kamus kedokteran dan kamus Bahasa Indonesia 2.Susunlah tempat duduk sehingga semua peserta dapat saling bertatap muka

a. Peran Moderator :

(38)

3. Bersama Tutor menyeimbangkan partisipasi para peserta tutorial 4.Menjaga efektivitas diskusi dan waktu dalam setiap langkah

b. Peran Pencatat diskusi (sekertaris) :

1. Mendengarkan dan mencatat ide dan konsep yang muncul 2. Menyusun catatn sesuai kategori ide dan konsep

3. Menyampaikan hasil catatan kepada kelompok untuk memastikan semua ide dan konsep telah terdokumentasi

4.Berpartisipasi aktif mengeluarkan pendapat tanpa melupakan tugas mencatat 5. menggaris bawahi ide dan konsep yang penting

c. Peran Peserta :

1. Berpartisipasi aktif dalam proses tutorial 2. Menggali masalah berdasarkan scenario

3. Mendiskusikan masalah untuk mencari jawaban

4. Berkerja sama dengan anggota lain untuk menggali informasi dan sumber yang di periukan

5. Membaca scenario

Langkah ke-1 Klarifikasi Istilah-Istilah

Pastikan semua peserta mencari persamaan ,pemahaman tantang istilah –istilah dalam skenario , Gunakanlah kamus kedokteran yang tersedia, Buat daftar istilah-istilah yang masih belum jelas maknanya .Bila terdapat istilah yang tidak dapat di klarifikasi ,maka peserta diskusi dan tutor membuat kesepakatan tentang arti istilah.

Langkah ke-2 Identifikasi Permasalahan

Diskusi selanjutnya adalah mengidentifikasi permasalahan –permasalahan yang ada di dalam skenario . Di sini hendaknya mahasiswa tidak hanya mengidentifikasi permasalahan kedokteran ,tetapi juga permasalahan-permasalahan lain seperti Etika,Hukum,Sosio-Ekonomi,Kultural dan lain-lain.

Langkah ke-3 Analisis Permasalahan

Langkah Ketiga bertujuan untuk menentukan pokok bahasandari permasalahandi awali dengan membuat sebanyak mungkin pertanyaan yang berhubungan permasalahan menggunakan 5W + 1H.

Langkah ke-4 Merumuskan Hipotesis

(39)

yang telah di tentukan dalam suatu curag pendapat , Semua mahasiswa hendaknya berpartisipasi menyumbangkan pikiran dan pengetahuannya untuk menjelaskan atau memecahkan permasalahan yang sudah di rinci ,meskipun tahap ini uraian tersebut belum sempurna .

Langkah ke-5 Merumuskan Kerangka Konsep

Peserta mengidentifikasi pokok bahasan yang sudah terjawab serta yang belum jelas atau belum lengkap untuk di catat sebagai Isu-isi pembelajaran, juga perlu di sepakati bagaimana mencari jawaban dari berbagai sumber pembelajaran.

Langkah ke-6 Belajar Mandiri

Mahasiswa secara mandiri mengumpulkan informasi yang relevan dengan learning issues yang telah di rumuskan ,informasi yang telah di rumuskan , informasi dicari dari berbagai sumber pembelajaran ,termasuk perpustakaan ,internet,dan pakar-pakar dalam bidang Terkait.

Langkah ke-7 Mensintesis dan Merangkum Hasil Belajar Mandiri

Pada tutorial tahap kedua ini, masing-masing mahasiswa memaparkan hasil dari proses belajar mandiri,mengoreksi konsep-konsep yang salah dan meninjau ulang Learning issues yang telah di rumudkan dan di uraikan dalam tutorial tahap 1 .

DISKUSI PLENO

(40)

DAFTAR PUSTAKA Modul Komunikasi Blok 1 FK UMP

http://forumkependidikan.unsri.ac.id/userfiles/Artikel%20Fauziah%20Nuraini %20Kurdi-UNSRI.pdf

http://www.asb.unsw.edu.au/learningandteaching/Documents/participating_in_tutorials. pdf

http://www.uin-alauddin.ac.id/download-01%20HUBUNGAN%20ANTARA %20BEAJAR%20MANDIRI.pdf

http://eprints.uny.ac.id/9567/2/bab%202%20-%20NIM%2008108247088.pdf http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30170/4/Chapter%20II.pdf

Slide ppt Nia ayu saraswati, dr:201

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp.pdf

http://www.qotfc.edu.au/resource/documents/reference_document_3_1.pdf http://fk.uns.ac.id/static/materi/Berpikir_Kritis-Prof_Bhisma_Murti.ppt

fk.uns.ac.id/static/file/criticalthinking.pdf

http://fk.uns.ac.id/static/materi/Berpikir_Kritis-Prof_Bhisma_Murti.ppt http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/tugas%20dosen%20PA_0.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/19510106197

6031-TATANG_MULYANA/File_24_Kemampuan_Berpikir_Kritis_dan_Kreatif_Matem atik.pdf.

http://staff.unila.ac.id/radengunawan/2011/10/10/pembimbing-akademik/

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/19490804197 7021-ERMAN_SUHERMAN/KBK_BPG.pdf

http://www.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/KBK-ISI.pdf

http://forumkependidikan.unsri.ac.id/userfiles/Artikel%20Fauziah%20Nuraini %20Kurdi-UNSRI.pdf

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...