• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Manajemen Persediaan

Menurut Rangkuti (2004), persediaan merupakan suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode tertentu, atau persediaan barang-barang yang masih dalam proses produksi. Menurut Sumayang (2003), persediaan(inventory) merupakan simpanan material yang berupa bahan mentah, barang dalam proses (barang setengah jadi), dan barang jadi. Dari sudut pandang sebuah perusahaan, persediaan adalah sebuah investasi modal yang dibutuhkan untuk menyimpan material pada kondisi tertentu. Manajemen persediaan sangat berkaitan dengan sistem persediaan di dalam suatu perusahaan, yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi terhadap persediaan bahan baku. Secara konservatif, efisiensi yang dapat dihasilkan manajemen persediaan akan dapat menekan biaya produksi. Biaya produksi yang efisien akan dapat mendorong harga jual yang lebih bersaing dibandingkan persaingan lain yang tidak dapat menciptakan efisiensi biaya produksi (Tampubulon, 2004).

Manajemen persediaan atau pengendalian persediaan adalah aktivitas mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat yang dikehendaki. Pada produk barang, pengendalian persediaan ditekankan pada pengendalian material. Pada produk jasa, pengendalian diutamakan sedikit pada material dan banyak pada jasa pasokan karena konsumsi seringkali bersamaan dengan pengadaan jasa sehingga tidak memerlukan persediaan (Sumayang, 2003). Menurut Heizer dan Render (2008), ada empat fungsi persediaan yang dapat menambah fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut:

1. “Decouple” atau untuk memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Sebagai contoh, jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan dalam melakukan decouple proses produksi dari pemasok.

2. Untuk melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan

(2)

7

Universitas Kristen Petra

bagi pelanggan. Persediaan semacam ini digunakan secara umum pada bisnis eceran.

3. Untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang.

4. Untuk melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga.

Untuk mengakomodasi fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis persediaan (Heizer dan Render, 2008):

1. Persediaan bahan mentah adalah bahan yang biasanya dibeli tapi belum memasuki proses manufaktur.

2. Persediaan barang setengah jadi yaitu produk-produk atau komponen- komponen yang tidak lagi bahan mentah, tetapi belum menjadi barang jadi.

3. Persediaan pasokan pemeliharaan, perbaikan, operasi (maintance, repair, and operating material - MRO) adalah persediaan-persediaan yang disediakan untuk persediaan, pemeliharaan, perbaikan, dan operasi yang dibutuhkan untuk menjaga mesin-mesin dan proses-proses tetap produktif.

4. Persediaan barang jadi adalah barang yang sudah siap dijual tapi masih merupakan aset dalam pembukuan perusahaan.

2.2. Jenis Persediaan Menurut Permintaannya 1. Dependent Demand Inventory

adalah persediaan yang jumlahnya dipengaruhi oleh jumlah persediaan barang lainnya .

2. Independent Demand Inventory

adalah persediaan yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh jumlah persediaan barang lainnya. Ada dua model umum dalam manajemen persediaan untuk independent demand inventory, yaitu:

a. Fixed order quantity model

Pemesanan persediaan dilakukan apabila persediaan yang ada telah mencapai titik pemesanan kembali (reorder point).

b. Fixed time period model

(3)

8

Universitas Kristen Petra

Pemeriksaan posisi persediaan dilakukan dalam suatu jangka waktu tertentu. Misal, setiap minggu atau setiap bulan. Setelah jumlah stok persediaan diketahui, pemesanan barang dilakukan agar posisi persediaan kembali seperti jumlah yang diinginkan. Perbedaan antara fixed order quantity model dan fixed time period model dapat dilihat pada tabel 2.2.

Tabel 2.1. Perbedaan antara fixed order quantity model dan fixed time period model

Sumber: Aquilano dan Chase 1998:586

2.3. Faktor-faktor Penerapan Manajemen Persediaan

Ada dua (2) faktor yang harus diperhatikan dalam manajemen persediaan antara lain:

1. Biaya

Jenis Perbedaan fixed order quantity model

fixed time period model Jumlah barang yang

dipesan

Q-konstan (jumlah yang dipesan sama pada setiapwaktu pemesanan)

Q-variabel (jumlah yang dipesan

bervariasi pada setiap waktu pemesanan) Waktu menempatkan

pesanan

R-ketika persediaan sudah mencapai titik tingkat pemesanan kembali

P-ketika waktu untuk pemeriksaan ulang tiba

Pencatatan Setiap kali terjadi penarikkan atau penambahan persediaan

Dihitung hanya pada saat period

pemeriksaan ulang tiba

Ukuran persediaan Lebih kecil daripada fixed time period

Lebih besar daripada fixed order quantity

(4)

9

Universitas Kristen Petra

Menurut Rangkuti (2007), ada beberapa unsur biaya yang perlu diperhatikan dalam manajemen persediaan, antara lain:

a. Biaya penyimpanan (holding cost atau carrying cost) yaitu yang terdiri atas biaya-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan.

b. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering cost atau procurement cost).

c. Biaya penyiapan (manufacturing) atau set-up cost. Perusahaan menghadapi biaya penyiapan (set-up cost) untuk memproduksi komponen tertentu.

d. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs) adalah biaya yang timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan.

2. Pola Manajemen

Menurut Ristono (2008), pola manajemen merupakan cerminan dari kebijakan

manajemen perusahaan yang direalisasikan pada kebijakan pengiriman, cara pembayaran, pencatatan biaya, dan sebagainya. Ada beberapa hal pola manajemen yang berkaitan dengan penerapan manajemen persediaan antara lain:

a. Perhitungan data kebutuhan di masa yang akan datang.

b. Penjadwalan proyek.

c. Kebijakan menentukan stock dan buffer.

d. Menentukan penjadwalan dalam pemesanan barang.

e. Koordinasi antar divisi.

2.4. Supply Chain Management (SCM)

Menurut Pujawan (2010), SCM adalah jaringan perusahaan-perusahaan yang bekerja secara bersama-sama untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain:

supplier, pabrik, distributor, toko atau ritel, serta perusahaan-perushaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. Menurut Chopra dan Meindl (2001),

(5)

10

Universitas Kristen Petra

SCM mencakup manajemen atas aliran-aliran diantara tingkatan dalam suatu rantai pasok untuk memaksimumkan keuntungan total. Simchi-Levi (2002), berpendapat bahwa SCM adalah suatu kumpulan pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang diproduksi dan didistribusikan pada kuantitas, lokasi, dan waktu yang benar, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.

Menurut Handfield (1999), SCM merupakan integrasi atas kegiatan- kegiatan dalam suatu rantai pasok dengan hubungan yang diperbaiki, untuk mencapai suatu keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Council of Supply Chain Management Professionals (CSCMP) menyebutkan bahwa SCM tidak hanya fokus pada integrasi aliran material, tetapi juga terkait dengan kegiatan lain seperti inovasi dan pemasaran produk. Poin penting lainnya adalah pentingnya arus informasi sebagai supply chain yang terdiri dari arus fisik, arus informasi dan arus moneter. Hal ini dapat mengendalikan keseluruhan sistem dengan cara yang efisien dan efektif. Terdapat tiga aliran yang harus dikelola dalam SCM (Pujawan, 2010):

a. Aliran barang yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir (downstream).

Contohnya adalah bahan baku yang dikirim dari supplier ke pabrik.

Setelah produk selesai diproduksi, produk-produk tersebut dikirim ke distributor, lalu ke pengecer atau ritel, kemudian disalurkan ke pemakai akhir.

b. Aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu.

c. Aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun sebaliknya.

Menurut Pujawan (2010), terdapat beberapa macam Stakeholder SCM, antara

lain sebagai berikut:

a. Supplier

Supplier adalah pemasok berupa barang atau jasa atau penjual dengan skala besar (grosir). Selain itu, supplier juga dapat didefinisikan sebagai suatu perusahaan dan individu yang menyediakan sumber daya yang

(6)

11

Universitas Kristen Petra

dibutuhkan oleh perusahaan dan para pesaing untuk memproduksi barang dan jasa tertentu.

b. Pabrik

Pabrik adalah setiap tempat dimana faktor-faktor manusia, mesin dan peralatan, material, energi, modal, informasi sumber daya alam dan lain lain dikelola secara bersama dalam suatu sistem produksi guna menghasilkan suatu produk secara efektif, efisien dan aman. Berikut ini merupakan jenis-jenis pabrik:

 Pabrik Penghasil atau Produksi Bahan Baku

Aktivitas produksinya mengolah sumber daya alam guna menghasilkan bahan baku atau bahan tambahan lainnya yg dibutuhkan oleh industri lain. Contoh: Industri perminyakkan.

 Industri Manufaktur

Aktivitas produksinya merakit bahan baku guna dijadikan suatu produk tertentu. Contoh: Industri mobil.

 Industri Penyalur atau Distribusi

Aktivitasnya melaksanakan pelayanan jasa industri untuk didistribusikan ke konsumen lain. Contoh: Distributor Obat-Obatan.

c. Toko atau ritel

Ritel adalah kegiatan usaha menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk keperluan diri sendiri, keluarga atau rumah tangga.

d. Perusahaan jasa logistik (perusahaan pendukung)

Logistik merupakan aspek manajemen strategis yang bertanggung jawab mengelola akuisisi, pergerakan dan penyimpanan barang mentah, bahan setengah jadi dan informasi-informasi yang menyertainya dalam suatu organisasi dan saluran pemasaran untuk memenuhi harapan pelanggan sehingga dapat mencapai aspek keuntungan perusahaan.

e. Konsumen (pemakai akhir)

Konsumen adalah seseorang yang menggunakan produk dan jasa yang dipasarkan.

(7)

12

Universitas Kristen Petra

2.5. Cakupan SCM

Menurut Nyoman Pujawan (2010), mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan inti SCM ini juga tergolong ke dalam pemetaan SCOR (Supply Chain Operation Reference) yang terdiri dari source, plan, make, deliver, dan return. SCOR merupakan metode yang diterapkan pada SCM dalam menganalisis data untuk mengidentifikasi resiko yang mungkin terjadi dan konsekuensi jika terjadi.

Kegiatan-kegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi SCM adalah:

a. Kegiatan Merancang Produk Baru

Bagian ini sangat penting artinya bagi perusahaan-perusahaan yang ada pada kelompok industri inovatif. Pada industri inovatif, jumlah produk baru yang diluncurkan tiap tahun bisa cukup banyak. Siklus hidup produk pada industri ini biasanya sangat pendek. Bahkan industri-industri yang tadinya tidak terlalu mementingkan variasi juga banyak yang berubah menjadi lebih inovatif.

Menghasilkan sebuah rancangan produk bisa memakan waktu dan biaya yang sangat besar. Di sisi lain, perusahaan-perusahaan pada industri inovatif dituntut untuk bisa menghasilkan rancangan dalam waktu cepat dan dengan biaya yang lebih murah. Time to market, yang merupakan waktu antara rancangan mulai dibuat sampai produk siap diluncurkan ke pasar, menjadi salah satu ukuran penting bagi perusahaan-perusahaan di industri inovatif.

Dalam merancang produk baru, perusahaan harus mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, rancangan harus mencerminkan keinginan pelanggan. Oleh karena itu, dibutuhkan riset pasar yangt memadai. Kedua, produk yang dirancang harus mencerminkan ketersediaan dan sifat-sifat bahan baku. Ketiga, rancangan yang dibuat harus bisa diproduksi secara ekonomis dengan fasilitas produksi yang dimiliki atau yang akan dibangun. Jadi, dalam merancang produk baru, aspek manufacturability perlu dipertimbangkan. Keempat, produk harus dirancang sedemikian rupa sehingga kegiatan pengiriman mudah dilakukan dan tidak menimbulkan biaya-biaya persediaan yang berlebihan di sepanjang supply chain.

b. Kegiatan Mendapatkan Bahan Baku (Bagian Pembelian) - Source

Bagian ini punya potensi untuk menciptakan daya saing perusahaan ataupun supply chain, bukan hanya dari perannya dalam mendapatkan bahan baku dengan harga murah, tetapi juga dalam upaya meningkatkan time to market

(8)

13

Universitas Kristen Petra

(dalam perancangan produk baru), menngkatkan kualitas produk (dengan bekerjasama dengan supplier untuk menjalankan program-program kualitas), dan meningkatkan responsiveness (dengan memilih supplier-supplier yang bukan hanya murah, tetapi juga responsif).

Tentu untuk bisa berperan strategis seperti itu bagian pembelian tidak cukup hanya bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Mereka dituntut juga untuk memiliki keahlian bernegosiasi, memiliki kemampuan untuk menerjemahkan tujuan strategis perusahaan kedala sistem pemilihan dan evaluasi supplier, dan sebagainya. Di samping tugas-tugas rutinnya untuk melakukan pembelian bahan baku, komponen, jasa, dan sebagainya, bagian juga diharapkan bisa menciptakan kolaborasi jangka panjang dengan supplier-supplier yang relevan, melibatkan mereka dalam perancangan produk baru, mengevaluasi supply risk, dan sebagainya.

Kegiatan ini tergolong dalam pemetaan SCOR berupa source. Source yakni proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan. Proses yang tercakup meliputi penjadwalan pengiriman dari supplier, menerima, memeriksa, dan memberikan otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim supplier, memilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, dan lain-lain. Jadi proses bisa berbeda, tergantung pada apakah barang yang dibeli termasuk stoked, make-to-order, atau engineer-to-order products.

c. Kegiatan Merencanakan Produksi dan Persediaan (Perencanaan dan Pengendalian) - Plan

Bagian perencanaan dan pengendalian dalam supply chain ini yang banyak bertugas untuk menciptakan koordinasi taktis maupun operasional sehingga kegiatan produksi, pengadaan marterial, maupun pengiriman produk bisa dilakukan dengan efisien dan tepat waktu. Dewasa ini, kegiatan perencanaan juga harus dilakukan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak lain pada supply chain.

Misalnya, dalam menentukan berapa banyak suatu produk akan diproduksi, informasi tentang data penjualan terakhir di tingkat ritel serta berapa banyaknya stok produk yang masih mereka miliki sangat penting diketahui oleh pabrik.

Dewasa ini banyak perusahaan yang mempraktekkan modl vendor managed inventory (VMI) dimana supplier diberi tugas untuk mengelola

(9)

14

Universitas Kristen Petra

persediaan yang secara fisik tersimpan di fasilitasnya perusahaan pembeli, termasuk menentukan kapan dan berapa banyak pengiriman harus dilakukan untuk keperluan re-stocking. Agar sistem iniu dapat berjalan dengan baik tentunya diperlukan koordinasi yang baik antara supplier dengan perusahaan pembeli.

Perusahaan pembeli harus bisa memberikan informasi yang cepat dan akurat tentang data penjualan dari waktu ke waktu serta tingkat persediaan barang yang ada di fasilitas mereka.

Kegiatan ini tergolong dalam pemetaan SCOR berupa plan. Plan yakni proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Plan mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas, dan melakukan penyesuaian supply chain plan dengan financial plan.

d. Kegiatan Melakukan Produksi - Make

Bagian ini bertugas secara fisik melakukan transformasi dari bahan baku, bahan setengah jadi, atau komponen menjadi produk jadi. Dewasa ini, semakin banyak perusahaan yang melakukan outsourcing, yakni memindahkan kegiatan produksi ke pihak subkontraktor. Perusahaan kemudian berkonsentrasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memang menjadi core competency mereka.

Bahkan beberapa perusahaan tidak memiliki fasilitas produksi, namun hanya mengelola kegiatan-kegiatan tertentu dalam supply chain.

Konsep-konsep lean manufacturing yang mementingkan efisiensi dan agile manufacturing yang menekankan pada fleksibilitas dan ketangkasan merespon perubahan adalah dua hal yang penting dalam mengelola sistem produksi. Pilihan ke arah efisiensi atau ke arah fleksibilitas haruslah dibuat dengan pertimbangan tujuan strategis. Perusahaan yang bersaing di pasar atas dasar harga dan memproduksi produk dengan volume yang besar biasanya akan menaruh efisiensi di atas fleksibilitas.

Kegiatan ini tergolong dalam pemetan SCOR berupa make. Make yakni proses untuk mentransformasi bahan baku/ komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan. Kegiatan make atau produksi dapat dilakukan atas dasar

(10)

15

Universitas Kristen Petra

ramalan untuk memenuhi target stok (make-to-stock), atas dasar pesanan ( make- to-order ), atau engineer-to-order. Proses yang terlibat disini adalah penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi, memelihara fasilitas produksi, dan lain-lain.

e. Kegiatan Melakukan Pengiriman atau Distribusi - Deliver

Pada saat produk sudah selesai diproduksi, tugas berikutnya dalam lingkup supply chain adalah mengirim produk tersebut agar sampai di tangan pelanggan pada waktu dan tempat yang tepat. Pengiriman produk ke pelanggan atau pemakai akhir tentunya melibatkan kegiatan transportasi. Dewasa ini banyak perusahaan yang tidak melakukan sendiri kegiatan pengiriman produk ke distributor atau pelangan sehingga peluang perusahaan jasa transportasi untuk berkembang semakin besar. Perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa transportasi, pergudangan, dan sebagainya sering dinamakan dengan 3PL atau third party logistic service providers.

Dalam cakupan kegiatan distribusi, perusahaan harus bisa merancang jaringan distribusi yang tepat. Keputusan tentang perancangan jaringan distribusi harus mempertimbangkan trade off antara aspek biaya, aspek fleksibilitas, dan aspek kecepatan respon terhadap pelanggan. Perusahaan harus menetapkan tingkat service levelyang harus dicapai di masing-masing wilayah, menentukan jadwal maupun rute pengiriman, serta mencari cara-cara yang inovatif untuk mengurangi biaya serta meningkatkan service level ke pelanggan. Cara-cara inovatif seperti cross-docking, mixed-load, dan lain-lain memungkinkan distribusi barang bisa dilakukan dengan lebih efisien dan atau lebih cepat ke tangan pelanggan.

Kegiatan ini tergolong dalam pemetaan SCOR berupa deliver. Deliver yakni proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa. Biasanya meliputi order management, transportasi, dan distribusi. Proses yang terlibat diantaranya adalah menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi, dan mengirim tagihan ke pelanggan.

f. Kegiatan Pengelolaan Pengembalian Produk atau Barang - Return

Bagi banyak perusahaan, produk kembali dari hilir ke hulu bisa diakibatkan karena memang produk mengalami kecacatan atau tidak memenuhi

(11)

16

Universitas Kristen Petra

standar kualitas sehingga harus diganti atau diproses ulang. Di negara maju karena perusahaan biasanya memberikan keleluasaan yang lebih tinggi untuk melakukan pengembalian produk maka pengelolaan product return merupakan aktivitas yang sangat menentukan daya saing perusahaan. Di samping akibat produk cacat, proses pengembalian juga bisa terjadi karena mnemang proses bisnis perusahaan mengharuskan kemasan produk atau sisa produk untuk kembali ke hulu baik untuk digunakan pada produksi produk berikutnya (seperti botol pada industri minuman ringan, galon pada air mineral, atau tabung pada gas LPG) atau karena tekanan regulasi lingkungan (misalnya kemasan plastik untuk produk-produk tertentu yang harus dipungut dan nantinya kembali ke suatu tempat pengolahan agar tidak mencemari lingkungan).

Istilah reverse logistics atau closed-loop supply chain sering digunakan untuk merepresentasikan supply chain yang mengandung proses pengembalian produk. Berbagai penelitian dalam lingkup product return telah dilakukan.

Sebagai contoh, Xiao et al (2010) mengembangkan model buyback atau markdown contract untuk melakukan koordinasi pada supply chain. Closed-loop supply chain merupakan area penelitian yang sangat subur dewasa ini.

Kegiatan ini tergolong dalam pemetaan SCOR berupa return. Return yakni proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan. Kegiatan yang terlibat antara lain identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi pengembalian cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. Post-delivery-customer support juga merupakan bagian dari proses return.

2.6. Metode Economic Order Quantity (EOQ)

Menurut Heizer dan Render (2010) menerangkan bahwa EOQ merupakan sebuah teknik kontrol persediaan yang meminimalkan biaya total dari pemesanan dan penyimpanan. Metode EOQ diutarakan Slamet (2007) sebagai kuantitas bahan baku dan suku cadangnya yang dapat diperoleh melalui pembelian dengan mengeluarkan biaya minimal tetapi tidak berakibat pada kekurangan dan kelebihan bahan baku dan suku cadangnya. Menurut Riyanto (2011), EOQ adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang minimal atau

(12)

17

Universitas Kristen Petra

sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan EOQ adalah jumlah pembelian persediaan yang dilakukan dengan efisien agar biaya persediaan keseluruhan menjadi sekecil mungkin. EOQ dihitung dengan memperhatikan variabel biaya persediaan. Ada dua macam biaya yang digunakan sebagai dasar perhitungan EOQ, yaitu biaya pemesanan (ordering cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost).

2.7. Safety Stock (Buffer Stock)

Menurut Afianti (2017), Safety stock atau buffer stock merupakan persediaan minimum atau persediaan yang dicadangankan yang harus tersedia di perusahaan dan hanya dapat digunakan dalam keadaan yang bersifat urgent atau darurat. Dengan adanya safety stock maka perusahaan dapat meminimumkan resiko yang dapat ditimbulkan karena adanya ketidakpastian kedatangan bahan baku yang dapat menyebabkan bahan baku stock out atau shortage. Stock out atau persediaan habis disebabkan beberapa faktor yaitu:

a. Permintaan yang fluktuatif b. Ramalan yang tidak akurat c. Lead time yang bervariasi.

Perusahaan industri manufaktur harus memiliki jumlah bahan baku yang selalu tersedia dalam inventory perusahaan untuk menjamin kelangsungan proses produksi perusahaan atau usahanya. Safety stock dapat ditentukan dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut: safety stock = safety factor standar deviasi. Namun, perhitungan safety stock tidak bersifat baku. Artinya, meski memiliki rumus perhitungan dalam menentukan angka safety stock, setiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda dalam menetapkan safety stock, salah satunya berdasarkan estimasi jumlah stock level atau safety stock ditetapkan 2 hari stock atau 20% dari total stock. Sehingga jumlah safety stock dapat dilakukan pembaruan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Menurut Rangkuti (2007), Service level merupakan besarnya presentase dari permintaan pelanggan yang dapat terpenuhi dari persediaan. Siklus pemesanan dari tingkat pelayanan dapat dihitung sebagai probabilitas suatu permintaan yang tidak melebihi suplai selama masa tenggang, misalnya

(13)

18

Universitas Kristen Petra

persediaan harus dapat mencukupi untuk memenuhi besarnya permintaan. Maka dari itu, service level 90% artinya bahwa probabilitas 90% dari permintaan tersebut tidak melebihi dari permintaan selama masat tenggang. Dengan kata lain, permintaan akan terpenuhi dalam 90%. Resiko kehilangan biaya berkaitan dengan tingkat pelayanan. Tingkat pelayanan pelanggan sebesar 90% menunjukkan bahwa resiko kehabisan persediaan sebesar 10% secara umum: Tingkat pelayanan= 100% - resiko kehabisan stok.

2.8. Supply Chain Risk Management

Supply Chain Risk Management (SCRM) dapat didefinisikan sebagai bagian dari SCM, yang berisi semua strategi dan ukuran, semua pengetahuan, semua lembaga, semua proses dan semua teknologi, yang dapat digunakan dalam perusahaan (Kersten, 2006). Resiko dalam supply chain ada beberapa jenis yaitu:

a. Supply risks: Supply risks terkait dengan hubungan antara aktivitas pasokan dan pemasok, sehingga asalnya adalah pemasok dan pemasoknya pemasok (Christopher, 2011). Seperti ketergantungan kenaikkan pada pemasok individu, resiko dapat mengganggu pemasok dan dapat menyebar ke barang-barang lainnya. Dengan kata lain, supply risk dapat mempengaruhi aliran internal perusahaan dari semua jenis sumber daya untuk memungkinkan operasi berlangsung, yang disebut juga ‘input risk’

(George, 2003).

b. Demand risks: Demand risks terjadi oleh arus permintaan dan berhubungan dengan pelanggan (Christopher, 2011). Ada dua kondisi ketika demand risks terjadi: perkiraan tinggi tetapi permintaan sebenarnya rendah yang mungkin dapat meningkatkan biaya yang tidak perlu dalam hal membuang atau menyimpan surplus; perkiraan rendah tetapi permintaan sebenarnya tinggi yang dapat menyebabkan biaya peluang hilang dalam hal penjualan (Man M. 2005). Ini dapat digambarkan sebagai ketidakpastian dalam perubahan cepat pada permintaan pelanggan dan siklus hidup singkat dari produk yang menghasilkan permintaan berfluktuasi (Nurmaya, 2012).

(14)

19

Universitas Kristen Petra

c. Process risks: Process risks timbul sebagai akibat dari kecacatan produk atau perubahan dalam proses supply chain, misalnya, penanganan material, pengendali kapasitas atau pengendali kualitas (Christopher, 2011). Process risks juga dapat mempengaruhi sumber daya lainnya dengan cara misalnya, tahan banting dalam proses mulai dari bahan baku diproduksi sampai pada tangan pengguna akhir.

d. Control risks: Control risks disebabkan oleh perencanaan internal perusahaan, sistem kontrol dan peraturan untuk membuat keputusan (Christopher, 2011). Hal ini terkait dengan supply risks dan demand risks yang mempengaruhi metode perencanaan material dan ukuran safety stock (Jonsson, 2008).

e. Environmental risks: Environmental risks sebenarnya berasal eksternal perusahaan dalam supply chain; hal ini tidak dapat mempengaruhi kegiatan supply chain secara langsung tetapi dapat mempengaruhi supply chain dari aspek kebijakan atau sosial (Christopher, 2011).

2.9. Penelitian Terdahulu

No. Judul Masalah Hasil

1.

Supply Chain Risk

Management in Restaurant.

Peneliti: Liu Lu (2014)

- Dalam perspektif internal, komunikasi tidak efisien dapat menyebabkan stok berlebih yang disebabkan oleh bullwhip effect dalam proses manufaktur yang mungkin berdampak pada seluruh rantai pasokkan

- Dalam perspektif

Untuk mengurangi resiko pasokkan, sangat penting untuk memiliki hubungan yang baik dengan pemasok- pemasok agar komunikasi menjadi efisien. Selain itu, untuk kasus perusahaan tersebut, perusahaan perlu memiliki lebih banyak pemasok. Jadi, jika salah satu pemasok kekurangan barang, perusahaan dapat memesan dari pemasok lain

(15)

20

Universitas Kristen Petra

eksternal,

permintaan pasar yang tidak menentu dapat menyebabkan resiko operasi dalam rantai pasokkan.

Dari kedua masalah tersebut, muncullah resiko-resiko yang harus diidentifikasi.

2.

Analisis

Peramalan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan

Metode EOQ pada

Optimalisasi

Kayu di

Perusahaan Purezento.

Peneliti: Intan Maesti Gani (2015)

Selama ini Purezento melakukan pembelian atau pemesanan bahan baku berdasarkan perkiraan atau prediksi pemilik, sehingga seringkali mengalami penumpukan maupun kekurangan bahan baku.

Untuk menghindari adanya persediaan bahan baku yang terlalu besar atau terlalu kecil maka diperlukan adanya suatu peramalan dan persediaan pengaman terhadap pengadaan kebutuhan bahan baku pada proses produksi berikutnya.

1. Frekuensi pemesanan:

2 kali pembelian bahan baku dalam satu periode (1 tahun) tepatnya setiap 220 hari.

2. Total biaya persediaan

bahan baku

mengalami

penghematan bila menggunakan metode EOQ adalah sebesar Rp 6.887.451,73.

3. Pada Purezento diperlukan persediaan pengaman sebesar 44 papan kayu. 5.

Adanya titik

pemesanan kembali saat persediaan bahan baku berada pada

(16)

21

Universitas Kristen Petra

tingkat jumlah sebesar 70 papan kayu.

3.

Pengendalian Persediaan dan Penjadwalan Pasokan Bahan Baku Import dengan

Metode

Analisis ABC di PT Unilever Indonesia, Cikarang, Jawa Barat.

Peneliti:

Happy Fauzi Afianti (2017)

Nilai persediaan PT Unilever Indonesia ternyata telah melebihi target maksimum, sedangkan jumlah persediaan bahan baku impor di gudang tidak sesuai kebutuhan sehingga sering kali menumpuk dan mengakibatkan tingginya biaya persediaan. Selain itu, beberapa bahan baku impor juga mengalami stok kritis.

Keadaan ini sangat tidak efisien dan merugikan perusahan. Demikian pula bila perusahaan tidak memiliki persediaan yang

mencukupi, dapat

mengakibatkan hilangnya kesempatan meraih keuntungan akibat terjadinya kekurangaan bahan baku. Selain itu, pembelian bahan baku dari pemasok negara lain (impor) memiliki kebijakan yang berbeda dengan pembelian bahan baku lokal.

Proses pemesanan lebih

Penyebab ketidakefisienan stock dan value inventory adalah tidak dilakukannya

pengendalian dan

penjadwalan pasokan. Setelah penelitian dan dilakukan rescheduling maka resiko shortage dapat dikurangi sebanyak 26%, overstock dapat dikurangi sebesar 12%, dan secara total keseluruhan value over value inventory dapat diturunkan sebanyak 23%.

(17)

22

Universitas Kristen Petra

kompleks, seperti keharusan adanya dokumen lengkap pembelian yang merupakan syarat utama dalam melakukan pembelian impor serta harus mendapatkan izin dan persetujuan dari

pihak-pihak yang

bersangkutan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Pengendalian persediaan bahan baku impor memiliki resiko yang lebih tinggi ketika terjadi perubahan yang tidak sesuai dengan rencana.

(18)

23

Universitas Kristen Petra

2.10. Kerangkah Pemikiran

Pemetaan SCOR:

1. Plan 2. Source 3. Make 4. Deliver 5. Return

Resiko kontrol Permasalahan Supply Chain di Resto Qendi:

Bahan baku tidak diukur – tidak terencana – stok berlebih

Pemetaan SCOR:

1. Source 2. Make 3. Plan 4. Deliver 5. Return

Solusi:

1. Menghitung berapa persediaan bahan baku yang akan dipesan 2. Menentukan kapan bahan baku harus dipesan

3. Menekan biaya pemesanan seminimal mungkin

Referensi

Dokumen terkait

Suatu kampanye merupakan koordinasi dari berbagai perbedaan metode komunikasi yang memfokuskan perhatian pada permasalahan tertentu dan sekaligus cara pemecahannya

Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Penghindaran Pajak Penghindaran pajak dengan mengurangi beban pajak melibatkan ketidakpastian akan strategi perencanaan pajak

Dalam perspektif ini, perusahaan melakukan pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan baik manajer maupun karyawan untuk menciptakan suatu produk

Para pemimpin organisasi berusaha untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk internal perusahaan berguna bagi setiap karyawan dan pekerja untuk bisa percaya

Dalam metode ini biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan kos produksi per satuan produk yang dihasilkan untuk memenuhi pesanan tersebut dihitung dengan cara

Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang menunjukkan iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan peraturan perundang-undangan

Adalah staf penjualan yang bertugas di toko grosir maupun pengecer atau yang mengunjungi pelanggan untuk memberi kesempatan kepada calon pembeli untuk melihat cara kerja

Kualitas makanan sendiri juga dapat menciptakan nilai pengalaman tersendiri bagi konsumen, seperti apa yang diungkapkan oleh Lin & Chang (2010) bahwa kualitas