• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN TERPADU TIPE IMMERSED UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR MENGACU KURIKULUM 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN TERPADU TIPE IMMERSED UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR MENGACU KURIKULUM 2013"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

I

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN TERPADU TIPE IMMERSED UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

MENGACU KURIKULUM 2013

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Candra Kartika Putri NIM : 131134139

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2018

(2)

II

(3)

III

(4)

IV

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

Allah SWT

Atas segala anugerah dan rahmat-Nya yang telah diberikan

Kedua orang tuaku, Bapak Gunawan T dan Ibu Tatik Indriyati yang selalu memberikan doa dan dukungan selama kuliah baik secara materi maupun moral

Seluruh keluarga yang telah mendoakanku supaya cepat menyelesaikan studiku

Yoshinta Woro, Maya Nurma, Amalia Nisaul H selaku sahabat-sahabat yang selalu membantu dan memotivasi peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

Kupersembahkan untuk almamaterku Universitas Sanata Dharma

(5)

V MOTTO

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat

Winston Chuchill

Jangan bersedih atas apa yang telah berlalu, kecuali jika itu bisa membuatmu bekerja lebih keras untuk apa yang akan datang

Umar bin Khattab

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu Q.S Az-Zumar:62

(6)

VI

(7)

VII

(8)

VIII ABSTRAK

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN TERPADU TIPE IMMERSED UNTUK SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR

MENGACU KURIKULUM 2013 Candra Kartika Putri

Universitas Sanata Dharma 2018

Pembelajaran terpadu tipe immersed merupakan salah satu tipe pembelajaran terpadu yang menggabungkan beberapa ide dari berbagai bidang studi yang akan menghasilkan pemikiran sesuai dengan minat siswa.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan yang menunjukkan guru membutuhkan contoh perangkat pembelajaran terpadu tipe immersed mengacu kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan modifikasi daari Borg & Gall dan Dick & Carey.

Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu produk yang telah dikembangkan berupa perangkat pembelajaran terpadu tipe Immersed mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar. Langkah-langkah pengembangan penelitian ini (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi produk, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, hingga menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran terpadu yang mengacu Kurikulum 2013 untuk kelas IV Sekolah Dasar.

Berdasarkan validasi dua Pakar Kurikulum Pembelajaran Terpadu menghasilkan skor 4,33 dan 3,67 dengan kategori “sangat baik” dan “baik”.

perangkat pembelajaran memperoleh rerata skor 4,0 dan termasuk dalam kategori

“ sangat baik”

Validasi dua guru kelas IV Sekolah Dasar menghasilkan skor 4.17 dan 4.96, perangkat pembelajaran memperoleh rerata skor 4.56 dan termasuk dalam kategori “sangat baik”. Hasil validasi tersebut berpedoman pada 12 aspek yaitu:

(1) identitas RPP, (2) perumusan indikator, (3) perumusan tujuan pembelajaran, (4) pemilihan materi ajar, (5) sumber belajar, (6) media pembelajaran, (7) metode pembelajaran, (8) scenario pembelajaran, (9) karakteristik pembelajaran terpadu tipe immersed, (10) penilaian, (11) Lembar Kerja Siswa (LKS), dan (12) bahasa.

Dengan demikian, perangkat pembelajaran tersebut layak untuk digunakan secara luas.

Kata Kunci: Kurikulum 2013, perangkat pembelajaran, pembelajaran terpadu tipe Immersed.

(9)

IX ABSTRACT

DEVELOPING OF SET INTEGRATED LEARNING IMMERSED TYPE BY FOURTH GRADERS ELEMENTARY SCHOOL REFER 2013

CURRICULUM

Candra Kartika Putri Sanata Dharma University

2018

Integrated learning immersed type is one of integrated learning type that collaborate some ideas from various field of study will produce right consideration by student interest.

This research did based necessary analysis that show teacher needed set integrated learning immersed type example that refers 2013 curriculum. This research used research method and modificate developing by Borg & Gall and Dick & Carey. This research purpose to produce a product that have developed form set integrated learning immersed type refer 2013 curriculum by fourth graders elementary school. Step to developing this research are 1) potential and problem, 2) Accumulation of date, 3) product design, 4) design validation, 5) product revision, 6) product trials, 7) product revision, till produce a product of set integrated learning that refer 2013 curriculum by fourth graders elementary school.

Based from both validation experts of integrated learning curriculum produce score 4.33 and 3.67 by categories “very good” and “good”. Set learning earn score average 4.0 and including in category “very good”

Validation of 2 teachers by fourth graders elementary school produce score 4.17 and 4.96, set learning earn average score 4.5 and including category

“very good”. That validation result guided in 12 aspects, there are : 1) RPP identity 2) indicator formulation 3) purpose learning formulation, 4) chosing learning material, 5) learning source, 6) learning media, 7) learning method, 8) learning scenario, 9) characteristic of integrated learning immersed type, 10) rating, 11) students worksheet, 12) language. So, this set learning reasonable to use by public.

KEYWORD : 2013 Curriculum , Set Learning , Integrated Learning Immersed Type.

(10)

X

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan berkah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed untuk Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Mengacu Kurikulum 2013 dapat penulis selesaika.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Maka pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapakan terimakasih kepada:

1. Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat kesehatan dan kelancaran dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini.

2. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

3. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

5. Drs. Puji Purnomo, M. Si. sebagai dosen pembimbing skripsi yang mendampingi dan memotivasi saya selama proses penelitian dan penulisan skripsi.

6. Albertus Hartana, S.J., M.Pd selaku validator Pakar Pembelajaran Terpadu yang telah memberikan bantuan dan penelitian ini dengan melakukan validasi produk penelitian.

7. Dra. Masichah Asy‟ari, M.Pd. selaku validator Pakar Pembelajaran Terpadu yang telah memberikan bantuan dan penelitian ini dengan melakukan validasi produk penelitian.

(11)

XI

(12)

XII DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... ….i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 6

1.3 Rumusan Masalah ... 7

1.4 Tujuan Penelitian ... 7

1.5 Manfaat Penelitian ... 8

1.6 Definisi Operasional... 8

1.7 Spesifikasi Produk Yang Dikembangkan... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

2.1 Kajian Pustaka ... 12

2.1.1 Pengertian Kurikulum SD 2013 ... 12

2.1.2 Karakteristik Kurikulum 2013 ... 13

2.1.4 Perangkat Pembelajaran... 16

2.1.5 Pembelajaran Terpadu ... 19

2.1.6 Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed ... 33

2.2 Penelitian yang Relevan ... 41

2.3 Kerangka Berpikir ... 44

2.4 Pertanyaan Penelitian ... 45

BAB III METODE PENELITIAN ... 46

3.1 Jenis Penelitian ... 46

3.2 Prosedur Pengembangan ... 55

3.3 Setting Penelitian ... 57

(13)

XIII

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 59

3.5 Instrumen Penelitian ... 61

3.6 Teknik Analisis Data ... 63

3.7 Jadwal Penelitian ... 68

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 69

4.1 Potensi dan Masalah ... 66

4.1.1. Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan ... 69

4.1.2. Pembahasan Hasil Wawancara dan Analisis Kebutuhan... 73

4.2 Deskripsi Produk Awal ... 74

4.2.1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Terpadu Tipe Immersed . 75 4.3 Data Validasi dan Revisi Produk ... 76

4.3.1 Data Validasi Pakar Pembelajaran Terpadu ... 76

4.3.2 Revisi Produk Berdasarkan Kritik dan Saran dari Pakar Pembelajaran Terpadu... 78

4.4 Uji Coba Terbatas ... 78

4.4.1 Data Validasi Guru kelas IV SD Sebagai Pelaksanan Kurikulum 2013 ... 83

4.4.2 Revisi Produk Berdasarkan Kritik dan Saran oleh Guru kelas IV SD Sebagai Pelaksanaan Kurikulum 2013... 83

4.5 Revisi Produk Akhir dan Pembahasan ... 87

4.5.1 Revisi Produk Akhir ... 88

4.5.2 Pembahasan ... 90

BAB V PENUTUP ... 95

5.1 Kesimpulan ... 95

5.2 Keterbatasan Masalah ... 96

5.3 Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 98

LAMPIRAN………101

(14)

XIV

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tahap Perkembangan Kognitif Piaget ... 24

Tabel 3.1 Pedoman Wawancara ... 62

Tabel 3.2 Pedoman Angket………... ..63

Tabel 3.3 Konversi Skala Lima ... 64

Tabel 3.4 Kriteria Skor Skala Lima ... 67

Tabel 3.4 Jadwal Kegiatan Penelitian ... 68

Tabel 4.1 Saran dan Perbaikan Pakar Pembelajaran Terpadu... 79

Tabel 4.2 Saran dan Perbaikan Guru SD Kelas IV Pelaksana Kurikulum 2013 dan Revisi ... 85

Tabel 4.3 Rekapitulasi Validasi Pakar Pembelajaran Terpadu dan Guru SD Kelas IV Pelaksana Kurikulum 2013 …...……….92

(15)

XV

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh Bagan peta Konsep Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

menurut Forgary ... 37

Gambar 2.2 Contoh Bagan Peta Konsep Tipe Immersed ... 38

Gambar 2.3 Literature Map ... 43

Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan dan Penelitian menurut Borg & Gall ... 47

Gambar 3.2 Prosedur Pengembangan Dick & Carey ... 50

Gambar 3.3 Prosedur Pengembangan Penelitian ... 55

(16)

XVI

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.1 Surat Izin Penelitian di SD N Babarsari ... 103

Lampiran 1.2 Surat Keterangan Melaksanakan Penelitian di SD N Babarsari .... 104

Lampiran 1.3 Pedomanan Wawancara ... 105

Lampiran 1.4 Hasil Wawancara Guru Kelas IV ... 106

Lampiran 1.5 Instrumen Validasi RPP... 108

Lampiran 1.6 Instrumen Validasi Uji Coba Produk... 111

Lampiran 1.7 Hasil Validasi Kuesioner Pakar-1... 114

Lampiran 1.8 Hasil Validasi Kuesioner Pakar-2... 120

Lampiran 1.9 Hasil Validasi Kuesioner Guru Kelas IV ke-1 ... 126

Lampiran 1.10 Hasil Validasi Kuesioner Guru Kelas IV ke-2 ... 133

Lampiran 1.11 Foto Uji Coba Produk……...140

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi ini pendidikan sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sudah banyak orang tua mulai sadar akan pentingnya pendidikan. Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988:204) menyatakan pengertian pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan: proses, cara, perbuatan mendidik. Adapun tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Proses pembelajaran pada hakekatnya adalah untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa, melalui berbagai interaksi dan berbagai

(18)

2

pengalaman belajar. Proses pembelajaran di kelas yang ideal melibatkan keaktifan siswa, dan guru memerankan diri sebagai fasilitator untuk menciptakan pembelajaran yang mengaktifkan dan menyenangkan bagi para siswa. Menurut Sudarsono, (Dalam Salma.2004:4) pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah pencapaiannya. Guru ditantang untuk mengemas materi ajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh pengalaman yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan yaitu adanya perubahan tingkah laku.

Kesinambungan materi ajar satu dengan yang lain, atau keterpaduan materi ajar dalam proses pembelajaran menjadi salah satu hal yang perlu dipikirkan bagi setiap guru dalam proses pembelajaran. Keterpaduan materi ajar dalam proses pembelajaran akan membantu siswa untuk menghubungkan materi ajar satu dengan yang lain, sehingga paras siswa memiliki pengalaman yang lebih utuh, daripada pengkotak-kotakan materi ajar dalam setiap pembelajaran.

Dalam konsep pembelajaran, ada dua istilah yang memiliki hubungan yang berkaitan satu sama lain. Konsep itu adalah kurikulum terpadu (integrated curriculum) dan pembelajaran terpadu (integrated learning). (Dalam Hermawan.2009:133) Wolfinger, menjelaskan bahwa kurikulum terpadu (integrated curriculum) adalah kurikulum yang menggabungkan sejumlah disiplin

ilmu melalui pemaduan isi, ketrampilan, dan sikap.

Berdasarkan konsep pembelajaran diatas rasionalitas pemaduan sejumlah disiplin ilmu ke dalam kurikulum terpadu adalah: (a) Pengalaman belajar bersifat interdisipliner sehingga diperlukan multi-skill; (b) Tuntutan interaksi kolaboratif;

(19)

3

(c) Memudahkan siswa membuat hubungan antar skemata; (d) Efisiensi; (e) Tuntutan keterlibatan siswa cukup tinggi dalam proses pembelajaran.

Sedangkan pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Bermakna artinya siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan mengbungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.

(Aminudin,1994), menjelaskan pengertian pembelajaran terpadu dapat dilihat sebagai: (a) Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai mata pelajaran yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling serta dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak; (b) Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara serempak (simultan);

(c) Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa mata pelajaran yang berbeda, dengan harapan siswa akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

(Dalam Ahmat.1989:9) Atkinson menjelaskan pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan bermakna bagi anak.

(Dalam Ahmad,1989:6) Collins dan Dixon menyatakan bahwa pembelajaran terpadu adalah integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum.

(20)

4

Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya siswa dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian. Anak belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama. Kegiatan aktif dapat meliputi mengamati, menanya, mencoba atau mengumpulkan data, mengasosiakan atau mengolah data, mengomunikasikan, dan dapat juga dilanjutkan dengan mencipta. Kegiatan aktif siswa tersebut dalam kurikulum 2013 sering disebut dengan pendekatan saintifik. Arah dari kegiatan aktif siswa tersebut adalah agar para siswa memiliki pengalaman yang semakin bermakna, holistik dalam keilmuan dan otentik, karena para siswa terlibat aktif secara nyata dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik.

Pelaksanaan pembelajaran terpadu pada dasarnya dimaksudkan agar setiap siswa memilik pengalaman yang nyata dan otentik sehingga selama proses pembelajaran siswa mendapatkan makna atas materi yang sudah dipelajari. Bahan ajar tidak diberikan secara terpisah-pisah selama proses pembelajaran, tetapi disajikan dalam satu kesatuan utuh tak terpisahkan sesuai dengan kebutuhan siswa. Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran yang didesain secara terpadu dan utuh.

(21)

5

Guru sebagai pendidik profesional harus bisa membuat perangkat pembelajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Perangkat pembelajaran merupakan salah satu wujud persiapan yang dilakukan dalam proses pembelajaran (Komalasari, 2011:179). Sedangkan menurut Suhadi (Suhadi, 2007:24) perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, pertunjukan, dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20 dituliskan bahwa perangkat pembelajaran adalah perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

Pada tanggal 15 April 2017, peneliti telah melakukan observasi di SD Negeri Babarsari Yogyakarta. Peneliti melakukan wawancara dengan guru kelas IV. Hasil wawancara dengan guru kelas IV adalah bahwa guru kelas IV, secara teoritis sudah pernah mengetahui tentang 10 model pembelajaran terpadu. Tetapi guru tersebut belum menguasai secara utuh tentang kesepuluh model pembelajaran terpadu. Guru tersebut hanya mengetahui pembelajaran terpadu melalui buku guru dalam kurikulum 2013.

Dalam pembuatan RPP, guru hanya menggunakan apa yang tercantum dalam buku guru kurikulum 2013. Guru tidak membuat RPP berdasarkan salah satu dari 10 model pembelajaran terpadu. Guru merasa kesulitan untuk membuat sendiri model pembelajaran terpadu dengan menggunakan salah satu model

(22)

6

pembelajaran terpadu. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam pembuatan model pembelajaran terpadu?

Guru hanya mengimplementasikan pembelajaran terpadu sesuai dengan langkah-langkah yang tertulis dalam buku guru kurikulum 2013. Guru juga mengalami kesulitan dalam melakukan evaluasi pembelajaran atau penilaian untuk para siswanya. Salah satu penyebab dari permasalahan pembuatan dan implementasi pembelajaran terpadu kurikulum 2013 adalah kurangnya sosialisasi dari pihak dinas atau kepala sekolah kepada para guru. Bahan sosialisasi pembelajaran terpadu kurang diikuti dengan pelatihan-pelatihan praktis bagaimana merancang dan mengimplementasikan pembelajaran terpadu di kelas.

Menurut penjelasan dari guru kelas IV, sosialisasi kurikulum 2013 dimana di dalamnya terdapat pembelajaran terpadu hanya dialami sekali saja. Akibatnya guru masih merasa kebingungan dan kesulitan untuk merancang dan mengimplementasikan pembelajaran terpadu di kelas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru di lapangan, dan permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk memberikan solusi dengan membuat penelitian pengembangan perangkat pembelajaran terpadu dengan menggunakan model pembelajaran terpadu tipe immersed. Yang dapat memadukan semua data yang diperoleh dari berbagai bidang studi dan akan menghasilkan pemikiran sesuai dengan minat siswa. Pengembangan perangkat pembelajaran terpadu tipe immersed ini bertitik pijak dari kurikulum 2013.

(23)

7 1.2 Identifikasi Masalah

Perangkat pembelajaran merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam proses kegiatan belajar mengajar, namun saat ini ketersediaan perangkat pembelajaran yang terpadu di kurikulum 2013 terutama di SD masih dirasa sangat minim dan memprihatikan. Berikut identifikasi masalah yang akan dikaji :

1.2.1 Perangkat pembelajaran terpadu berkurikulum 2013 masih sangat minim 1.2.2 Banyak guru yang sudah mengimplementasikan pembelajaran terpadu

2013 akan tetapi kurang memahami 10 model pembelajaran terpadu.

Mengingat luasnya lingkup penelitian, maka perlu adanya pembatasan masalah agar penelitian ini tepat menuju sasaran dan tidak menyimpang. Dalam penelitian ini peneliti membuat batasan sebagai berikut :

1.2.3 Perangkat pembelajaran terpadu ini hanya untuk kelas 4 SD

1.2.4 Peneliti hanya difokuskan pada pengembangan pembelajaran terpadu model immersed

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dijabarkan, peneliti merumuskan permasalahan untuk penelitian sebagai berikut :

1.3.1 Bagaimana kualitas produk berupa perangkat pembelajaran terpadu tipe Immersed mengacu kurikulum 2013 untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar?

(24)

8 1.4 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang ada, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.4.1 Untuk mengetahui kualitas produk perangkat pembelajaran terpadu tipe Immersed untuk siswa kelas IV Sekolah Dasar

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi peneliti

Penelitian ini memberikan pengalaman langsung dan pemikiran baru bagi mahasiswa bahwa pembelajaran terpadu kurikulum 2013 dapat dibuat dan dikembangkan di Indonesia.

1.5.2 Bagi guru

Dapat memberikan alternatif kepada guru dalam merancang perangkat pembelajaran terpadu kurikulum 2013.

1.5.3 Bagi Sekolah

Sebagai referensi bagi guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran terpadu kurikulum 2013.

1.5.4 Bagi Prodi PGSD

Sebagai referensi dan wawasan terkait penelitian tentang perangkat pembelajaran terpadu kurikulum 2013.

(25)

9 1.6 Definisi Operasional

1.6.1 Pembelajaran terpadu adalah suatu konsep yang merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

1.6.2 Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang berlaku pada pendidikan di Indonesia yang diterapkan oleh pemerintah untuk mengganti kurikulum 2006 (KTSP).

1.6.3 Perangkat Pembelajaran adalah adalah perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

1.6.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah rencana pelaksanaan pembelajaran suatu yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai sebuah kompetensi dasar yang ditetapkan dalam sebuah standar isi yang telah dijabarkan dalam silabus.

1.6.5 Model immersed merupakan model yang dirancang untuk membantu siswa menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungkan dengan medan pemanfaatan.

(26)

10 1.7 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan

1.7.1 KD dan Indikator disusun berdasarkan minat siswa yang akan diuntai dalam pembelajaran terpadu tipe Immersed, dengan menggunakan desain yang menarik

1.7.2 Produk ini disusun menggunakan kertas berukuran A4 dan Jenis huruf yang digunakan di dalam produk ini menggunakan Times New Roman dan menggunakan ukuran huruf 12, 14 dan 16. Produk ini disusun menggunakan kata pengantar untuk menjelaskan secara garis besar mengenai pembelajaran terpadu tipe Immersed serta berisi RPP beserta lampirannya secara lengkap.

1.7.3 Produk ini menggunakan hard cover yang didesain menarik dengan mencantumkan contoh bagan pembelajaran terpadu tipe Immersed. Di dalam cover ini meliputi 5 bagian, antara lain: (1) Logo Universitas Sanata Dharma, (2) Judul Produk, (3) Gambar Immersed, (4) Nama dan NIM, (5) Keterangan.

1.7.4 Komponen RPP disusun lengkap. Komponen RPP pada kurikulum 2013 terdiri atas 20 bagian, antara lain: satuan pendidikan (nama sekolah), kelas/semester, tema, tipe pembelajaran terpadu, muatan pembelajaran, alokasi waktu, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, pendekatan dan model/tipe serta metode, media dan sumber pembelajaran, kegiatan pembelajaran, teknik penilaian, lampiran materi, LKS dan refleksi akhir.

(27)

11

1.7.5 RPP mengandung karakteristik Kurikulum SD 2013 (terpadu antar konsep/muatan pelajaran, saintifik, autentik). Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik terpadu yaitu pendekatan yang mengintegrasikan berbagai berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pembelajaran saintifik dalam kurikulum 2013 tidak hanya mengandung hasil belajar sebagai muara akhir, namun proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu, pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. RPP memuat penilaian autentik yang jenis penilaiannya mengarahkan siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan dan situasi yang dijumpai dalam dunia nyata. Penilaian autentik ini berupa penilaian unjuk kerja yang berdasarkan pada penugasan pengetahuan yang telah dipelajari oleh siswa sebelumnya. Penilaian autentik terdiri dari beberapa jenis penilaian, yaitu:

penilaian kinerja, proyek, portofolio dan tes tulis. Penilaian kinerja ini digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang berupa penugasan.

penilaian proyek digunakan untuk menilai tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang ditentukan. Penilaian portofolio adalah kumpulan hasil kerja yang menunjukan hasil kerja siswa. Tes tertulis berbentuk esai atau uraian yang bersifat komperehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa.

1.7.6 Produk ini mengembangkan kemampuan berpikir siswa tingkat tinggi.

Perumusan indikator menggunakan kompetensi tingkat tinggi. Kompetensi

(28)

12

inti disusun menggunakan kata kerja operasional berdasarkan Taksonomi Bloom yang sudah di revisi. Berikut ini tingkatan Taksonomi Bloom oleh Anderson dan Krathwohl: C1.Mengingat, C2. Memahami, C3.Menerapkan, C4. Menganalisis, C5. Mengevaluasi, C6. Berkreasi.

1.7.7 Sesuai dengan karakteristik pembelajaran terpadu tipe Immersed antara lain:

1. Pembelajaran berfokus pada minat

2. Menggabungkan empat mata pelajaran yang berhubungan dengan minat 3. Semua materi pelajaran dari setiap mata pelajaran yang akan dipelajari

dibenamkan ke dalam minat siswa.

1.7.8 RPP disusun secara praktis dan fungsional. RPP disusun dengan jelas dan sistematis yang akan dilaksanakan oleh guru kelas IV sekolah dasar dengan megikuti langkah-langkah yang sudah tertera di dalam RPP.

1.7.9 RPP disusun menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

(29)

13

Gambar 1.1 Cover Produk

PRESENTASI

(30)

14 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Pengertian Kurikulum SD 2013

Kurikulum adalah program pendidikan yang berisi tentang berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan (Dakir, 2004:3).

Oemar Hamalik (2010:10) memaparkan kurikulum adalah program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi peserta didik.

Berdasarkan program pendidikan tersebut, peserta didik melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga mampu mendorong perkembangan dan pertumbuhan anak sesuai dengan tujuan pendidikan. Kurikulum tidak memiliki batas pada beberapa mata pelajaran, namun meliputi sesuatu yang mempengaruhi perkembangan peserta didik, seperti perpustakaan, bangunan sekolah karyawan tata usaha, halaman sekolah, dan lain-lain.

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan O emar Hamalik di atas, kegiatan kurikuler tidak memiliki batas di dalam ruang kelas, tetapi juga mencakup kegiatan yang berada di luar kelas.

(31)

15 2.1.2 Karakteristik Kurikulum SD 2013

Karakteristik pada Kurikulum 2013 ada lima yaitu : 2.1.2.1 Menggunakan Penilaian Otentik

Hosnan (2014: 387) mengungkapkan bahwa penelian otentik merupakan pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan dan pengetahuan. Penilaian ini bertujuan mengukur berbagai keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi dunia nyata dimana keterampilan tersebut digunakan.

2.1.2.2 Menggunakan Pembelajaran Terpadu

(Daryanto, Prastowo.2014:45) mengungkapkan bahwa pembelajaran tematik ialah suatu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yanikg merupakan system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual atau kelompok, aktif menggali dan menentukan konsep serta prinsip- prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan auntentik. (Daryanto, Prastowo.2014:42) berpendapat bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang mencoba memadukan beberapa pokok bahasa atau bidang studi atau berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran.

Pengembangan kurikulum 2013 dimulai dengan menentukan tema. Tema adalah wadah untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada siswa secara menyeluruh. Setelah tema disepakati, tema dikembangkan menjadi sub-tema dengan tetap memperlihatkan keterkaitan antar mata pelajaran lain. Setelah itu, Sub-tema dikembangkan berbagai aktifitas pembelajaran yang mendukung (Yani, 2014:118). Joni (dalam Prastowo, 2014: 59) memaparkan bahwa pembelajaran

(32)

16

terpadu akan terjadi apabila eksplorasi topik atau tema menjadi pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini menjelaskan bahwa kurikulum 2013 menggunakan pembelajaran tematik yang merupakan salah satu contoh pembelajaran terpadu.

2.1.2.3 Penguatan Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dalam Kuriulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran pada setiap bidang studi yang terdapat pada kurikulum. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap bidang studi perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dihubungkan dengan konteks kehidupan sehari- hari (Mulyasa, 2013:7)

Zubaedi (2011:18) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter anak secara terperici memiliki lima tujuan : 1) mengembangkan potensi nurani atau afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai bangsa, 2) mengembangkan kebiasaan dan perilaku terpuji, sejalan dengan nilai- nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious, 3) menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab kepada peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, 4) mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan, dan 5) mengembangkan

(33)

17

lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas, persahabatan, berkembangsaan tinggi dan penuh kekuatan.

2.1.2.4 Menggunakan Pendekatan Saintifik

Hosnan (2014:34) Mengungkapkan bahwa pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksikan konsep, hokum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hokum atau prinsip yang ditemukan.

2.1.2.5 Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi

BSNP (dalam Yani, 2014: 74) mengungkapkan bahwa pendidikan bukan hanya membuat siswa berpengetahuan, melainkan juga menganut sikap keilmuan yang ilmiah yaitu kritis, logis, inventif dan inovatif, serta konsisten dan adaptif.

Kuswana (2012; 109) berpendapat bahwa kemampuan berpikir yang baik dicapai melalui beberapa tahapan yang dapat dilihat dari teori berpikir kritis menurut taksonomi bloom yang sudah direvisi. Tahapan revisi taksonomi Bloom yaitu 1)mengingat, 2) memahami, 3) menerapkan, 4)menganalisis, 5) mengevaluasi, dan 6) menciptakan.

(34)

18 2.1.3 Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran merupukan hal yang harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Dalam KBBI (2007: 17), perangkat adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang belajar. Menurut Zuhdan, dkk (2011: 16) perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran.

Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar kelas. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain itu, erencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian, dan skenario pembelajaran.

2.1.3.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

UU No 65 Tahun 2013 mengungkapkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran dalam upaya mencapai kompetensi dasar (KD). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. Dengan demikian

(35)

19

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri dapat menjadi panduan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang disusun dalam skenario kegiatan. Jadi secara sederhana RPP merupakan penjabaran silabus dan akan dijadikan pedoman / skenario pembelajaran.

Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) harus jelas kompetensi dasar yang akan dimiliki oleh peserta didik, apa yang harus dipelajarinya serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi dasar tertentu. Aspek tersebut merupakan unsur utama yang secara minimal harus ada dalam setiap RPP sebagai pedoman guru dalam melaksanakan pembelajaran, dan membentuk kompetensi peserta didik. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) memiliki komponen komponen antara lain tujuan pembelajaran, langkah- langkah yang memuat pendekatan strategi, waktu, kegiatan pembelajaran, metode sajian, dan bahasa. Kegiatan pembelajaran mempunyai sub komponen yaitu :

1. Pendahuluan

Pada kegiatan pendahuluan mencakup beberapa kegiatan sebagai berikut:

a) Mempersiapkan peseta didik secara psikis atau fisik untuk mengikuti proses pembelajaran

b) Memberikan motivasi belajar secara konsktetual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional.

c) Mengajukan pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari

(36)

20

d) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai

e) Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uruain kegiatan sesuai silabus.

2. Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai KD. Kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran.

Kegiatan inti juga harus mampu mengembangkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan.

a) Sikap

Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas tersebut.

b) Pengetahuan

Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi hingga mencipta.

c) Keterampilan

(37)

21

Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. Seluruh isi materi materi pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong peserta didik untuk melakukan proses pengamatan hingga pencipta.

Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran berbasis discovery, inquiry kearning.

3. Penutup

Kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk bentuk rangkuman/

kesimpulan, penilian dan refleksi dan memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar, memberikan tidak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual ataupun kelompok dan menginformasiakn rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.

2.1.4 Pembelajaran Terpadu

2.1.4.1 Hakikat Pembelajaran Terpadu

Joni, T.R (1996: 3) memaparkan pembelajaran terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan otentik. Pembelajaran terpadu akan terjadi apabila eksplorasi topik menjadi pengendali di dalam kegiatan pembelajaran

(38)

22

Senada dengan pendapat Hadisubroto (2000:9) menyatakan pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lain, yang dilakukan secara spontan tau direncanakan , baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar anak, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Apabila dikaitkan dengan tingkat perkembangan anak , pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan dan menyesuaikan pemberian konsep sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. (Depdikbud, dalam Prabowo,2000)

Berdasarkan dari pendapat tersebut, pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang dapat membuat siswa berperan aktif dalam menemukan konsep baru melalui pembelajaran berbasis tema yang mengaitkan beberapa pokok bahasan, dan mengaitkan beberapa konsep yang saling berhubungan sehingga menciptakan pembelajaran yang bermakna.

(39)

23 2.1.4.2 Landasan Pembelajaran Terpadu

Beberapa teori dari filsafat yang melandasi pembelajaran terpadu di sekolah dasar. Landasan-landasan yang dimaksud sebagai berikut :

1. Teori Konstruktivis

(Matthews dalam Suparno,1997)menyatakan konstruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah konstruksi kita sendiri.

Sedangkan Suparno (1997:61)memaparkan bahwa, menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif mengkonstruksi arti yang berasal dari teks, dialog, pengalaman dan sebagainya. Belajar merupakan proses mengasimilasikan dan menghubugkan pengalaman yang sudah dimiliki seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan. Teori konstruktivis menyebutkan bahwa setiap orang harus menyusun pengetahuan sendiri dan pengalamannya. Ini merupakan kunci utama belajar makna. Jika hanya dengan mendengar ceramah atau membaca buku tentang pengalaman ornag lain yang sudah diabstraksikan belajar bermakna tidak akan pernah terwujud. (Resnick dan Klopfer dalam Khamdi 1997:1) menguraikan bahwa orang bukanlah perekam informasi, tetapi pembangun struktur pengetahuan.

Di dalam kelas berspektif konstruktivis, guru tak berhak lagi memasok pengetahuan kepada siswa. Pengetahuan tumbuh dan berkembang dari benih-benih yang disebut ‘Children Ideas’. Guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan,

(40)

24

memecahkan dan mengorganisasikan sendiri kenyataan dan pengalaman yang diperolehnya. Piaget (dalam Charbonneau dan Reider, (1995:27)) menyatakan bahwa melalui proses asimilasi dan akomodasi, setiap individu akan menyusun kenyataan yang dialaminya dengan memahami ide mengorganisasi pengetahuan yang bermakna sesuai dengan pengetahuannya.

Berdasarkan pendapat di atas jelas bahwa pengalaman siswa yang dialami secara langsung akan sangat bermanfaat dalam menyusun kembali pengetahuan yang siswa miliki baik secara lisan maupun tulisan.

Pengalaman langsung yang diperoleh siswa juga bermanfaat dalam pembelajaran lain selain saat pembelajaran terpadu berlangsung.

2. Teori Psikologi Gestalt

Pskologi Gestalt mengungkapkan bahwa segala pengindraan dan kesadaran merupakan suatu keseluruhan. Misalnya, sebuah lag bukan saja kumpulan berbagai nada, tapi keseluruhan itu tergantung pada sifat-sifat kedudukan yang khas dari tiap-tiap nada di dalamnya. Enskiklopedia Indonesia (1982: 6450) menguraikan bahwa keseluruhan itu pada hakikatnya lebih tinggi nilainya daripada jumlah bagian-bagiannya dan lebih dulu adanya daripada bagian masing-masing. Berdasarkan uraian di atas ini dijelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seseorang lebih dulu mengenal keseluruhan daripada bagian-bagian. Gestalt juga menjelaskan bahwa pengamatan dan pengenalan pertama terhadap sesuatu diawali dari pengamatan terhadap keseluruhan. Winkel (1991;53)

(41)

25

mengungkapkan bahwa melalui pengamatan siswa belajar memecahkan masalah. Dengan cara inilah siswa dihadapkan pada masalah yang harus dipecahkan melalui pengamatan denganteliti. Setelah berhasil mengenal dan memahami secara keseluruhan, timbulah keinginan siswa untuk melakukan analisis dan sistesis. Daya analisis dan sistesis merupakan daya untuk memotivasi keingintahuan siswa terhadap sesuatu. Teori Gestalt inimenganjurkan guru mengorganisasikan mata-mata pelajaran dengan cara memperlihatkan kepada siswa secara menyeluruh hubungan- hubungan di antara berbagai bagian. Demikian pula halnya dengan pembelajaran terpadu yang diawali dengan mengenal sesuatu secara menyeluruh, yakni melalui sebuah tema siswa akan mempelajari komponen-komponen yang melalui beberapa subtema. Misalnya melalui pembeljaran terpadu siswa dapat belajar Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan ilmu-ilmu lain yang mengkin dapat dipadukan.

3. Teori Perkembangan Kognitif

Piaget (dalam Anonimus, (2006a:3)) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungan. Pemahaman tentang obyek berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan obyek dengan peta konsep yang sudah ada dalam lingkungannya dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep- konsep dalam pikiran untuk menafsirkan obyek). Kedua obyek berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang, Dengan demikian, perilaku belajar

(42)

26

anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam diri dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan karena proses belajar anak terjadi dalam konsteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Tabel 2.1. Tahap perkembangan kognitif Piaget

Tahap Perkiraan Usia Kemampuan-kemampuan Utama Sensorimotor Lahir sampai 2

tahun

Terbentuknya konsep kepermanenan obyek dan kemajuan gradual dari perilaku reflektif ke perilaku yang mengarah ke tujuan

Pra-

operasional

2 – 7 tahun Perkembangan kemampuan dengan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan obyek dunia. Pemikiran masih egosentris dan sentrasi

Operasional Konkret

7 – 11 tahun Perbaikan dalam kemampuan untuk berfikir secara logis. Kemampuan-kemampuan baru termasuk penggunaan operasi yang dapat balik. Pemikiran tidak sentrasi tapi desentrasi dengan pemecahan masalah tidak begitu dibatasi oleh keegosentrisan

Operasi Formal

11 tahun – dewasa

Pemikiran abstrak dan murni simbolis mungkin dilakukan. Masalah-masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematis

Sumber: (Margunayasa, 2014: 10-11)

Dengan memperhatikan tahapan perkembangan berpikir di atas maka kecenderungan belajar anak usia Sekolah Dasar memiliki 3 ciri yaitu

a. Konkret

Mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yaitu yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diutak-aatik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar

(43)

27 b. Integratif

Di usia Sekolah Dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.

c. Hierarkis

Cara anak berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang kompleks. Dalam hal ini perlu memperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi dan cakupan keluasan serta kedalaman materi.

4. Filsafat Progresivisme

Menurut filsafat ini pendekatan yang tepat digunakan dalam kegiatan pembelajaran terpadu adalah pendekatan yang berpusat pada anak. Anak memperoleh kesempatan melakukan aktivitas belajar secara alami dan mengalami secara langsun, sehingga seluruh aktivitas belajar lebih bermakna dan hasil belajarnya akan bertahan lebih lama.

Kesempatan siswa untuk beraktivitas, berkreasi dan mengalami secara langsung sesuai dengan teori belajar yang dikemebangkan oleh Jhon Dewey yang dikenal dengan teori Learning by Doing (Charbonneaue dan Reider. 1995:28). Siswa diberikan kesempatan secara langsung mencoba, mencari dan menemukan masalah meskipun usaha itu menemui kegagalan, bagi mereka kegagalan merupakan cambuk untuk maju terus dan menambah self-esteem siswa.

(44)

28

Sejak awal pembelajaran, siswa berusaha menemukan tema atau subtema-subtema yang diminatinya untuk dibahas. Tema atau subtema- subtema yang ditemukannya biasanya sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki siswa. Melalui kegiatan brainstrorming, para siswa dalam menentukan sebuah tema dan selanjutnay memperluasnya sebuah tema menjadi subtema yang terkait. Dengan melihat adanya keterkaitan, terbentuknya sebuah jaringan webbing.

Berdasarkan filsafat ini, pembelajaran terpadu memberikan kesempatan kepada siswa berperan aktif dalam memperkaya pengetahuan mengenai dunia. Artinya siswa tidak begitu saja menerima informasi secara pasif. Mereka berperan aktif menafsirkan informasi yang mereka peroleh pengelaman dan mengadaptasikannya ke dalam pengetahuan yang mereka miliki sebelumnya.

2.1.4.3 Karakteristik Pembelajaran Terpadu

Daryanto (2014:87) menyatakan pembelajaran terpadu memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Pembelajaran berpusat pada anak.

Suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasan kepada siswa, baik secara individu maupun kelompok.

2. Menekankan pembentukan pemajaman dan kebermaknaan.

Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skema yang dimiliki

(45)

29

siswa, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari siswa.

3. Belajar melalui pengalaman langsung.

Siswa akan memahami hasil belajarnya sesuai dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar informasi dari gurunya.

Guru bertindak sebagai fasilitator dan katalisator sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta dan informasi untuk mengembangkan pengetahuannya.

4. Lebih memperhatikan proses dari pada hasil semata.

Pembelajaran terpadu mengembangkan pendekatan discovery inquiri yang melibatkan siswa secara aktif yang dilaksanakan dengan melihat hasrat, minat, dan kemampuan siswa, sehingga memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar.

5. Sarat dengan muatan keterkaitan

Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Ini memungkinkan siswa memahami suatu fenomena pembelajaran dari segala sisi.

(46)

30

Menurut Depdikbud (1996: 3 ), pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik yaitu :

1. Holistik

Fenomena yang menjadi perhatian dalam pembelajaran terpadu diamati dan dikaji dari beberapa bidang kajian sekaligus dan tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak

2. Bermakna

Terbentuknya jalinan antar konsep-konsep yang berhubungan yang disebut skemata yang akan berdampak pada kebermaknaan dari materi yang dipelajari. Keterkaitan konsep dengan konsep yang lain akan menambah kebermaknaan konsep yang akan dipelajari dan akan mengakibatkan pembelajaran yang fungsional

3. Otentik

Memungkinkan siswa memahami secara langsung prinsip dan konsep yang ingin dipelajari melalui kegiatan belajar mengajar.

Pengetahuan dan informasi bersifat otentik 4. Aktif

Menekankan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa termotivasi untuk terus belajar.

2.1.4.4 Keunggulan Pembelajaran Terpadu

Dalam pembelajaran terpadu pada dasarnya memiliki beberapa keunggulan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Dalam Trianto, 2010; 61) menyatakan bahwa pembelajaran terpadu memiliki keunggulan

(47)

31

1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.

2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak sehingga hasilnya dapat bertahan lama.

4. keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu

5. kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak

6. keterampilan social anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu antara lain : kerjasama, komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.

Daryanto (2014:92) menyatakan adanya beberapa sisi positif mengapa menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu atau pendekatan tematik.

Kelebihan tersebut didasari oleh beberapa alasan:

1. Materi pelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak, sehingga anak dengan mudah memahami sekaligus melakukannya.

2. Siswa juga dengan mudah dapat megaitkan hubungan materi pelajaran di mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lainnya.

3. Dengan bekerja dalam kelompok, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan belajarnya dalam aspek afektif dan psikomotorik, selain aspek kognitif.

4. Peembelajaran terpadu mengakomodir jenis kecerdasan siswa.

(48)

32

5. Dengan pendekatan pembelajaran terpadu guru dapat dengan mudah menggunakan belajar siswa aktif sebagai metode pembelajaran.

Di samping itu, pembelajaran terpadu menyajikan beberapa keterampilan dalam suatu proses pembelajaran. Selain mempunya sifat luwes, pembelajaran terpadu memberikan hasil yang dapat dikembangkan sesuai minat dan kebutuhan anak (Depdiknas,2000: 2)

2.1.4.5 Tipe-tipe Pembelajaran Terpadu Tipe-tipe pembelajaran terpadu yaitu :

1. Pembelajaran terpadu Tipe Connected

Fogarty(dalam Prabowo,2000), mengemukakan bahwa model terhubung (connected) merupakan model intergrasi interbidang studi.

Model ini secara nyata mengorganisasikan atau mengintegrasikan satu konsep, keterampilan, atau kemampuan yang ditumbuhkembangkan dalam suatu pokok bahasan yang dikaitkan dengan konsep, keterampilan atau kemampuan pada pokok bahasan atau sub pokok yang lain, dalam satu bidang studi.

2. Pembelajaran Terpadu tipe Webbed

Pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang dimulai dengan menentukan tema tertentu kemudian mengembangkan sub tema, dari sub tema dikembangkan aktifitas belajar yang harus dilakukan siswa.

(49)

33

3. Pembelajaran Terpadu Tipe Integrated

Tipe pembelajaran terpadu tipe Integrated ini adalah tipe pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antarbidang studi, menggabungkan bidang studi dengan cara menetaokan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan , konsep dan sikap saling tumpang tindih dalam beberapa bidang studi (Fogarty,(1991:76).

4. Pembelajaran Terpadu Model Nested

Pengintegrasian kurikulum di dalam satu disiplin ilmu secara khusus meletakkan focus pengintegrasian pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin dilatihkan oleh seorang guru kepada siswanya dalam suatu unit pembelajaran untuk ketercapaian materi pembelajaran (content). (Fogarty, 1991:23)

5. Pembelajaran Terpadu Tipe Sequence

Dalam pembelajaran terpadu tipe sequence ini menunjukkan persamaan-persamaan yang ada diajarkan secara bersamaan, meskipun termasuk ke dalam mata pelajaran yang berbeda. Dalam pembelajaran terpadu tipe Sequence ini memiliki kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan dari pembelajaran terpadu tipe Sequence ini yaitu dapat memfasilitasi transfer pembelajaran melintasi beberapa mata pelajaran.

Ada juga kelemahan dari pembelajaran Sequence ini yaitu membutuhkan kolaborasi yang terus menerus dan fleksibilitas yang tinggi karena guru memiliki lebih sedikit otonomi untuk mengurutkan kurikula.

(50)

34 6. Pembelajaran Terpadu Tipe Shared

Pembelajaran terpadu tipe ini merupakan perencanaan tim atau pengajaran yang melibatkan dua disiplindifokuskan pada konsep, keterampilan, dan sikap-sikap yang sama.

7. Pembelajaran Terpadu tipe Threaded

Pembelajaran terpadu tipe Threaded ini merupakan keterampilan- keterampilan social, berpikir, berbagai jenis kecerdasan dan keterampilan belajar „direntangkan‟ melalui berbagai disiplin.

8. Pembelajaran terpadu tipe Immersed

Pelajar memadukan apa yang dipelajari dengan cara memandang seluruh pengajaran melalui perspektif bidang yang disukai ( area of interest ). Dalam pembelajaran tipe Immersed ini terdapat kelebihan

dan kelemahan. Yang menjadi kelebihan dari pembelajaran terpadu tipe Immersed ini yaitu keterpaduan berlangsung di dalam pelajaran itu sendiri. Dan yang menjadi kelemahan dari tipe Immersed ini dapat mempersempit fokus pelajar tersebut.

9. Pembelajaran Terpadu Tipe Fragmented

Pembelajaran terpadu tipe fragmented merupakan kajian berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan saling terpisah. Pembelajaran tipe Fragmented ini mempunyai kelebihan dengan adanya kejelasan dan

pandangan yang terpisah dalam suatu mata pelajaran. Tipe Fragmented juga mempunyai kelemahan yaitu keterhubungan menjadi tidak jelas lebih sedikit transfer pembelajaran.

(51)

35

10. Pembelajaran Terpadu Tipe Networked

Dalam pembelajaran tipe ini pelajar melakukan proses pemaduan topic yang dipelajari melalui pemilihan jejaring pakar dan sumber daya.

Dalam pemebelajaran tipe Networked ini mempunyai kelebihan yang bersifat proaktif yang dimaksudkan disini pelajar terstimulasi oleh informasi, keterampilan, atau konsep-konsep baru

2.1.5 Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

2.1.5.1 Pengertian Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

Pembelajaran terpadu tipe Immersed merupakan suatu model pembelajaran yang memadukan semua data yang diperoleh dari berbagai bidang studi dan akan menghasilkan pemikiran yang sesuai dengan minat siswa. Pada pembelajaran terpadu tipe Immersed semua bidang studi merupakan sudut pandang keahlian siswa. Siswa menyaring seluruh konsep yang telah dipelajari dengan meleburkan diri mereka kedalam pengalaman melalui kegiatan pembelajaran yang dilakukan (Suprayekti, 2003:69) Model ini dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang dihubungkan dengan medan pemakaiannya melalui pengintegrasian semua data dari setiap bidang studi dan disiplin dengan mengaitkan gagasan-gagasan melalui minatnya (Margunayasa, 2009:82)

(52)

36

2.1.5.2 Karakteristik Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

Fogarty (2009: 103) memaparkan 3 karakteristik Pembelajaran terpadu tipe Immersed yaitu :

1. Pembelajaran berfokus pada minat

Para siswa menyaring sendiri seluruh konsep yang dipelajarinya menurut sudut pandang mereka sendiri dan meleburkan atau membenamkan diri mereka dalam pengalaman melalui kegiatan yang dijalaninya

2. Menggabungkan empat mata pelajaran yang berhubungan dengan minat.

Pembelajaran terpadu tipe immersed merupakan pembelajaran yang dirancang agar setiap individu dapat memadukan semua data dari beberapa bidang ilmu dan menghasilkan pemikiran sesuai bidang minatnya. Pembelajaran immersed ini memerlukan kemampuan berpikir yang tinggi pada anak.

3. Semua materi pelajaran dari setiap mata pelajaran yang akan dipelajari dibenamkan kedalam minat siswa.

Untuk mengetahui minat siswa, pertama-tama guru menyebar kuisioner yang berhubungan dengan minat siswa, setelah itu guru menganalisis minat siswa yang paling banyak pada minat dibidang apa dan guru mendapatkan hasil tentang minat siswa. Kemudian guru membuat langkah-langkah pembelajaran dan memilih materi dalam setiap mata pelajaran yang akan dipelajari siswa ini di pilih dengan mengedepankan minat siswa.

(53)

37

2.1.5.3 Langkah-langkah Pengembangan Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu tipe immersed mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap pembelajaran terpadu yang meliputi tiga tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Prabowo 2006:4)

1. Tahap perencanaan, terdiri dari (1) Menentukan jenis mata pelajaran yang dipadukan. (2) Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator. Langkah ini akan mengarahkan guru untuk menentukan sub-keterampilan dari masing-masing keterampilan dalam satu unit pelajaran.(3) Menentukan sub-keterampilan yang dipadukan. Secara umum, keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai meliputi keterampilan berpikir (thinking skill), keterampilan sosial (social skill), dan keterampilan mengorganisasi (organizing skill) yang masing-masing terdiri atas sub-sub keterampilan.(4)

Merumuskan indikator hasil belajar. Berdasarkan kompetensi dasar dan sub-keterampilan yang telah dipilih, dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan yang meliputi:

audience, behaviour, condition, dan degree. (5) Menentukan langkah-

langkah pembelajaran. Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk memadukan setiap sub-keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

(54)

38

2. Tahap Pelaksanaan dalam tahap ini meliputi skenario langkah-langkah pembelajaran. Samani (Lutfiana, 2006; 32) menyatakan tidak ada model pembelajaran tunggal yang cocok untuk satu topik dalam pembelajaran terpadu. Depdiknas (1996; 6) menerangkan prinsip- prinsip pelaksanaan pembelajaran terpadu ada : (1)Menentukan/

memilih jenis mata pelajaran yang dipadukan. (2) Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator. Langkah ini akan mengarahkan guru dalam menentukan sub-keterampilan dari masing-masing keterampilan dalam satu unit pelajaran. (3) Menentukan sub-keterampilan yang dipadukan. Secara umum, keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai meliputi keterampilan berpikir, keterampilan sosial, dan keterampilan mengorganisasi yang masing-masing terdiri atas sub-sub keterampilan. (4) Merumuskan indikator hasil belajar. Berdasarkan kompetensi dasar dan sub- keterampilan yang telah dipilih, dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan yang meliputi: audience, behaviour, condition, dan degree. (5) Menentukan langkah

pembelajaran. Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk memadukan setiap sub-keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

3. Tahap evaluasi dalam tahap ini dapat berupa evaluasi proses pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap

(55)

39

evaluasi sebagaimana termuat pada Depdiknas (Dalam Lutfiana, 2006:

32) hendaknya memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.

2.1.5.3 Bagan peta konsep tipe Immersed

Berikut merupakan bagan peta konsep dari tipe immersed menurut Fogarty (2009; 107) sebagai berikut.

Gambar 2.1

Bagan Peta Konsep Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed

(56)

40

Berdasarkan contoh bagan yang dijabarkan oleh forgarty penulis membuat contoh bagan pembelajaran tipe Immersed.

Gambar 2.2 Pemetaan KD Tipe Immersed

(57)

41

Gambar 2.3 Pemetaan Indikator Tipe Immersed

2.1.5.5 Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu Tipe Immersed Dalam pembelajaran terpadu tipe Immersed memiliki kelebihan dan kelemahan:

1. Berikut ini beberapa Kelebihan model pembelajaran Immersed yaitu (1)Dampak positif dari membenamkan ide–ide dari beberapa bidang studi adalah, siswa dapat memadukan semua data dari setiap bidang

(58)

42

ilmu dan menghasilkan pemikiran sesuai dengan minatnya. (2) Siswa mengembangkan konsep –konsep kunci secara terus menerus sehingga terjadi proses internalisasi. (3) Membenamkan ide–ide beberapa bidang studi memungkinkan siswa mengkaji, menkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide – ide secara terus menerus sehingga memudahkan terjadinya proses transfer ide – ide bidang studi tersebut.

2. Dan ada juga kelemahan dari Tipe Immersed yaitu (1) Penyaringan semua gagasan melalui cara pandang tunggal yang sempit dapat menimbulkan terlalu prematur atau terlalu tajamnya sebuah fokus. (2) Agar dimensi sudut pandang siswa menjadi lebih dalam, diperlukan pengalaman dan pengetahuan yang luas. Keadaan ini tentu cukup sulit dipenuhi oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar. (3) Model pembelajaran terpadu tipe Immersed, menekankan pada penggabungan pengetahuan pada beberapa bidang studi berbeda untuk membahas suatu masalah khusus. Keadaan ini berpotensi untuk mempersempit cakupan pemikiran siswa terhadap bidang studi tertentu

Gambar

Gambar 1.1 Cover Produk
Tabel 2.1. Tahap perkembangan kognitif Piaget
Gambar 2.2  Pemetaan KD Tipe Immersed
Gambar 2.3 Pemetaan Indikator Tipe Immersed
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk yakni perangkat pembelajaran yang mengacu pada Kurikulum SD 2013 dan menggunakan pendekatan tematik Integratif

Dapat memperoleh inspirasi terkait dengan pengembangan perangkat pembelajaran yang mengacu kurikulum SD 2013 pada sub tema aku bangga dengan daerah tempat tinggalku untuk

Penelitian ini dilakukan karena masih banyak guru yang membutuhkan contoh perangkat pembelajaran mengacu pada kurikulum SD 2013. Tujuan utama dari penelitian ini

Hasil kajian peran media audio dalam implementasi kurikulum 2013 melalui pembelajaran tema terpadu diantaranya adalah: (1) peng- gunaan media audio dalam pembelajaran tema

PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGACU KURIKULUM SD 2013 PADA SUBTEMA PEKERJAAN ORANG

PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI ABSTRAK PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN SUBTEMA KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN MENGACU KURIKULUM SD

Perangkat pembelajaran yang telah divalidasi oleh dua pakar Kurikulum SD 2013, dan dua guru pelaksana kurikulum SD 2013 kelas I dan kelas IV SD diperoleh skor rerata produk 4,32

KATA PENGANTAR Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kasih karunia-Nya, sehingga skripsi yang berjudul Pengembangan Perangkat