1 Universitas Kristen Petra 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perusahaan, dalam rangka menciptakan hubungan yang efektif dan saling memuaskan dengan berbagai publik, memerlukan berbagai sasaran kegiatan PR, salah satunya yang terpenting adalah kegiatan PR dalam penciptaan identitas dan citra perusahaan (building corporate identity and
image) (Nova, 2009, p. 43). Pentingnya penciptaan favourable image terlihat
dari beberapa perusahaan besar yang pernah mengalami krisis seperti Cardbury, Sellafield (British Nuclear Fuels), National Audit Office, dan ICI (Business Week, 1979a; Kreitzman, 1986). Perusahaan-perusahaan ini mengetahui munculnya krisis menjadi tantangan untuk mengembalikan kepercayaan para pemangku kepentingan utama mereka demi memperbaiki citra perusahaan. Hal tersebut terbantu dengan bagaimana mereka mengatasi krisis dengan cepat, yaitu memberikan klarifikasi dihadapan media yang meliput informasi-informasi krisis perusahaan. Melalui klarifikasi & respon perusahaan terkait liputan media, berita buruk otomatis berubah menjadi liputan berita yang positif apabila cepat ditangani (Case Study of Francis, Abey. (n.d)).
Dalam penanganan krisis, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki satu kesamaan - kebutuhan yaitu untuk menciptakan favourable image atau identitas perusahaan yang disukai (Business Week, 1979a; Kreitzman, 1986). Menurut Seitel (1992, p. 193 dalam Soemirat & Ardianto, 2007, p. 111) banyak sekali perusahaan atau organisasi dan orang-orang yang mengelolanya sangat sensitif menghadapi publik-publik mereka yang kritis. Dalam satu penelitian terhadap seratus top eksekutif, lebih dari 50% menganggap “penting sekali untuk memelihara publik yang baik”. Sekarang ini banyak sekali perusahaan atau organisasi memahami sekali perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu citra yang menguntungkan bagi perusahaan tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap terbetuknya suatu kesan publik negatif. Mereka meyakini bahwa citra perusahaan yang positif adalah esensial, sukses yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang (Seitel, 1992, p. 193 dalam
2 Universitas Kristen Petra Soemirat & Ardianto, 2007, p. 111). Citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorang, suatu komite, atau suatu aktivitas. Setiap perusahaan mempunyai citra. Setiap perusahaan mempunyai citra sebanyak jumlah orang yang memandangnya (Soemirat & Ardianto, 2007, p. 113).
Menggunakan argumen yang diadopsi oleh Seitel (1992), 'image' mengacu pada bagaimana gambaran perusahaan di dalam benak publiknya. Berdasarkan perkiraan yang dikemukakan oleh The Economist (1989) menetapkan manajemen image atau waktu yang dihabiskan oleh departemen komunikasi korporat menunjukkan bahwa area media menghabiskan 10% waktunya, area karyawan 35%, investor 30%, dan pemerintah 25% (Kitchen, 1997, p. 29). Peneliti mengambil kesimpulan bahwa terdapat peran media yang memiliki pengaruh di dalam manajemen image. Citra adalah entitas yang sangat penting. Organisasi harus peduli dengan citra mereka karena pengaruhnya yang potensial pada keberhasilan atau kegagalan. Citra dapat memengaruhi pencapaian tujuan, dan karenanya, perlu di garis bawahi oleh perusahaan seberapa penting citra tersebut (Berner, 2004, pp. 2-3).
Berdasarkan dari kutipan buku Yaxley & Theaker (2013, p. 186) dikatakan bahwa insiden dan isu memiliki potensi untuk berubah menjadi krisis, tetapi insiden dan isu tersebut masih dapat ditangani (Yaxley & Theaker, 2013, p. 186). Kriyantono mengutip dan merangkum dari Galloway & Kwansah-Aidoo,2005; Grunig, 1979; Lattimore, Baskin, Heiman, & Toth, 2007; Kate Miller, 1999 bahwa isu adalah titik awal munculnya konflik jika tidak dikelola dengan baik ((Galloway & Kwansah-Aidoo,2005; Grunig, 1979; Lattimore, Baskin, Heiman, & Toth, 2007; Kate Miller, 1999) (dalam Kriyantono, 2012, pp. 151-153)). Krisis public relations adalah peristiwa, rumor, atau informasi yang membawa pengaruh butuk terhadap reputasi, citra, dan kredibilitas perusahaan. Banyak perusahaan berpikir bahwa krisis PR hanya akan menyerang perusahaan besar, padahal krisis dapat menyerang siapa saja, baik individu, organisasi, maupun perusahaan, kapan dan dimana saja (Kriyantono, 2012, pp. 153). Citra itu sendiri merupakan salah satu aset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi. Istilah lainnya adalah Favourable Opinion
3 Universitas Kristen Petra (Soemirat & Ardianto, 2007, p. 112). Opini publik merupakan suatu pengumpulan citra yang diciptakan oleh proses komunikasi. Opini menjadi penting bagi citra karena lewat opini, orang bisa mempunyai suatu persepsi yang kemudian berpengaruh pada citra (Puspita, 2011). Sebelum terbentuknya citra, publik akan memiliki opini dari realitas yang dialaminya. Opini publik tersebut dipengaruhi dari berbagai sumber referensi. Salah satu sumber referensi yang berpengaruh dalam masyarakat adalah media massa (Wilcox, Cameraon, Ault dan Agee, 2005).
Seringkali satu-satunya informasi yang diterima masyarakat selama krisis adalah melalui media (Nova, 2009, p. 216), dikarenakan media massa dapat membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang (Anzwar, 2010 dalam Nova, 2009, p. 216). Media massa mempunyai peran penting dalam kehidupan kita, karena memberikan informasi yang dapat membentuk opini. Melalui media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang, tempat yang tidak kita alami secara langsung. Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi. Untuk khalayak informasi tersebut dapat membentuk, mempertahankan atau mendefinisikan citra. Sebab itu, media pemberitaan menjadi perhatian utama bagi praktisi PR untuk mengetahui persepsi publik terhadap perusahaan, terutama saat perusahaan berada dalam situasi krisis (Novan, 2009, pp. 204-205).
Menurut Wilcox et al (2003), teori agenda setting menyatakan bahwa media menentukan dan mengarahkan apa yang dipikirkan oleh publik. Dengan memilih dan menentukan berita mana yang menjadi halaman utama media cetak, berita apa yang menjadi headline utama dalam program televisi, media mengarahkan topik utama yang menjadi bahan perbincangan masyarakat (dalam Theaker & Yaxley, 2013). Istilah agenda setting yang diungkapkan oleh Roessler tersebut menggambarkan bahwa persepsi publik sangat terkait dengan isu-isu penting yang diangkat oleh media (Wijaya, 2013). Salah satu teori awal, dipelopori oleh Max McCombs dan Don Shaw, berpendapat bahwa konten media menetapkan agenda untuk diskusi publik. Orang-orang cenderung berbicara tentang apa yang mereka lihat atau dengar di berita pada pukul 6 pagi atau membaca di halaman depan surat kabar. Media, melalui pemilihan cerita
4 Universitas Kristen Petra dan berita utama, memberi tahu publik apa yang harus dipikirkan (Siapera, 2012, p. 55).
Berbicara mengenai media dan berita, sekarang ada beberapa sumber isi konten, berkomunikasi satu sama lain, dan terlibat dalam apa yang tampaknya menjadi sebuah dialog daripada monolog sepihak yang khas dari era media massa (Siapera, 2012, p. 55). Straubhaar dan LaRose (2002: 14) mencatat bahwa adanya perubahan terminologi menyangkut media. Perubahan itu berkaitan dengan perkembangan teknologi, cakupan area, produksi massal (mass production), distribusi massal (mass distribution), sampai pada efek yang berbeda dengan apa yang ada di media massa. Adapun menurut John Vivian (2008: 262-264), keberadaan media baru seperti internet bisa melampaui pola penyebaran pesan media tradisional; sifat internet yang bisa berinteraksi mengaburkan batas geografis, kapasitas interaksi, dan yang terpenting bisa dilakukan secara real time (Nasrullah, 2014). Banyak penyebutan yang bisa disematkan untuk media siber (cyber-media) dalam literatur akademis, misalnya media online, digital media, media virtual, e-media, network media,
new media, dan media web. Oleh karena itu, melihat keberadaan media baru
yang mampu melampaui pola penyebaran media tradisional, perusahaan dapat pula ikut berevolusi dalam melihat gambaran citra melalui media baru seperti
media online (Nasrullah, 2014).
Jo Bardoel (2002) menganggap bahwa internet akan mengarah pada pengembangan jenis baru jurnalisme, jurnalisme online, yang akan membuat penggunaan atribut utama internet yang efektif, mengarah pada pembaharuan jurnalisme. Interaktivitas, multimediality, hyperlink dan sifat asinkron Berita dan informasi online, menawarkan kemungkinan-kemungkinan baru untuk jurnalisme. Selain itu, mereka memungkinkan jurnalisme untuk memperluas dalam waktu sebagai internet dapat beroperasi sebagai enourmous dan dapat diakses arsip. Jurnalisme perlu merangkul dan memanfaatkan sepenuhnya dari atribut media baru (Siapera, 2012, p. 131). Media baru di bidang diseminasi informasi yang bisa diakses untuk memperoleh berita karena internet biasanya melakukan pembaruan berita dalam hitungan menit ke menit atau jam ke jam, bukan lagi harian seperti surat kabar atau TV/radio (Barus, 2010, p. 55).
5 Universitas Kristen Petra Di antara pelopor utama sumber berita dot-com adalah AOL dan Yahoo; kemudian banyak sekali media tradisional yang memiliki tampilan di Internet seperti NBC, TV, CNN, USA Today, The New York Times, dan The Wall Street Journal, serta media player online baru seperti the Street.com dan Marketwatch.com. Di dalam buku yang berjudul “Public Relations: Profesi dan Praktik” oleh Lattimore et. al (2010), berita online sama dengan media sosial. Media sosial, yang terkadang diidentifikasi dengan Web 2.0 merupakan istilah payung yang mengacu pada media baru yang menggunakan teknologi dalam menciptakan interaksi sosial melalui kata-kata atau materi visual. Media sosial dapat tampil dalam banyak bentuk, seperti wiki, podcast, blog, dan forum di Internet atau forum diskusi. Teknologi seperti e-mail, pesan instan, VoIP, dan photosharing adalah alat yang sering digunakan. Isinya dapat berbentuk grafik, teks, foto, audio, dan video. Contoh media sosial termasuk YouTube (tempat berbagi video dan jaringan sosial), Facebook (jejaring sosial), Flickr (berbagi foto), Google (jaringan sosial dan mesin pencari), dan MySpace (jaringan sosial) (Lattimore et. al, 2010, pp. 207-208).
The Digital Future Project di Universitas South California dalam survei
terakhir mereka tentang Internet menemukan bahwa 83% dari pengguna internet mengatakan bahwa kebanyakan atau semua informasi di situs Web adalah akurat dan reliabel. Mereka juga melaporkan tingkat realibilitas dan akurasi yang tinggi (80%) terhadap halaman Web yang dibuat oleh media terkemuka seperti The New York Times atau CNN. Dengan kehadiran media baru, yaitu Internet, informasi menjadi kebutuhan masyarakat yang tidak hanya disadari oleh negara berkembang, melainkan terlebih juga bagi masyarakat negara maju sebagai upaya mempertahankan keunggulan serta memperkokoh pengaruh dan hegemoni di era persaingan global yang kian tajam (Lattimore et. al, 2010, p. 208).
Salah satu informasi yang diterima oleh masyarakat, khususnya di Indonesia adalah terkait pemberitaan kasus petisi pemboikotan iklan Shopee versi BLACKPINK “12.12 Birthday Sale”. Perusahaan e-commerce terdepan di Asia Tenggara dan Taiwan ini merupakan wadah yang secara khusus disesuaikan untuk kebutuhan pasar Asia Tenggara, yang menyediakan
6 Universitas Kristen Petra pengalaman belanja online yang mudah, aman dan fleksibel untuk para pelanggan melalui sistem pembayaran dan dukungan sistem logistik yang kuat. Shopee, bagian dari Sea Company, pertama kali diperkenalkan di Singapura pada tahun 2015 dan telah memperluas jangkauannya ke Malaysia, Thailand, Taiwan, Indonesia, Vietnam dan Filipina. Sea merupakan pemimpin di industri hiburan digital, e-commerce dan keuangan digital di Greater Southeast Asia (Murthado, 2018).
Melalui perspektif komunikasi, electronic commerce merupakan pengiriman informasi, produk/ layanan, atau pembayaran melalui saluran telepon, jaringan komputer, atau cara lain apa pun (Kalakota & Whinston, 1997, p. 3). E-commerce tampaknya masih menjadi daya tarik industri pasar digital di Indonesia. Biro Pusat Statistik mencatat ada 26,2 juta pelaku bisnis di
e-commerce yang beroperasi di Indonesia pada tahun 2016. Namun jumlah pelaku e-commerce yang tumbang pun tidak sedikit. Sebuah riset menyatakan, tingkat
kegagalan bisnis e-commerce bahkan menyentuh angka hingga Sembilan puluh persen, dan di dalam persaingan e-commerce sebuah brand harus memiliki karakter yang membuatnya lebih unggul dibandingkan dengan lainnya (Techinasia.com dalam Ebis, 2017).
Dalam memperkuat brand agar tetap menjadi perusahaan e-commerce terdepan di Asia Tenggara, Shopee merayakan ulang tahunnya yang ketiga dengan mengadakan program kampanye “Shopee 12.12 Birthday Sale”. Kemeriahan ini dimulai dengan pengumuman resmi Brand Ambassador
Regional pertamanya yaitu Blackpink. Shopee telah mengambil langkah besar
dalam satu tahun terakhir dan memperkuat posisinya sebagai platform
e-commerce terkemuka. Sebagai bagian dari kemeriahan ulang tahunnya, mereka
menyambut Blackpink girl group asal Korea yang memiliki reputasi yang kuat dalam kancah K-Pop dan musik internasional sebagai representasi yang sesuai dengan Shopee. Blackpink disebutkan oleh Billboard sebagai group girl-band Korea terbaik dalam sejarah dan telah menetapkan posisinya di industri musik sebagai pemecah rekor single dan album mereka (Murthado, 2018).
7 Universitas Kristen Petra Dalam penyambutannya sebagai brand ambassador regional Shopee, Indonesia memegang lebih dari 40% bisnis Shopee dan pengelolaan iklan Shopee. Tidak hanya itu, Indonesia menjadi tuan rumah iklan Shopee. Iklan tersebut mengambil tema dan latar belakang sama seperti video klip lagu Ddu Du Ddu Du dengan memakai atribut dan dekorasi khas dari Shopee yaitu warna jingga (Rafikasari, 2018). Dalam rangka menyambut kemeriahan “Shopee 12.12 Birthday Sale”, Brand Ambassador Regional Shopee, Blackpink juga memberikan special performance dalam acara “Shopee Road to 12.12 Birthday Sale” pada Senin, 19 November 2018, pukul 19.00-21.00 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat (Murthado, 2018). Bersamaan dengan penayangan “TV Commercial Shopee: 12.12 Birthday Sale” dengan Blackpink yang disiarkan di 11 stasiun TV Indonesia yaitu Trans TV, RCTI, RTV, MNC TV, Indosiar, TV One, ANTV, Trans7, GTV, Net, dan SCTV (Shelavie, 2018).
Gambar 1.1 Iklan Shopee versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” (Sumber: Andriyani, 2018. www.Tribunnews.com)
Setelah konser bersama Blackpink dalam rangka perayaan ulang tahun Shopee yang ke-3 itu menarik banyak perhatian anak muda dan iklan TV
Commercial: Shopee “12.12 Birthday Sale” ditayangkan di 11 stasiun TV
Indonesia, muncul sebuah petisi pada tanggal 7 Desember 2018 oleh Maimon Herawati dengan judul “Hentikan Iklan Blackpink Shopee” ditujukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Shopee. Petisi tersebut berisikan pernyataan bahwa iklan Shopee yang menggunakan Blackpink tersebut tidak
8 Universitas Kristen Petra layak diputar di layar TV dikarenakan pakaian yang minim, mengumbar aurat, pakaian yang dikenakan tidak menutupi bagian tubuh paha, serta menunjukkan gerakan dan ekspresi yang provokatif. Selain itu, Maimon juga menyatakan bahwa iklan Shopee tersebut menanamkan nilai buruk dan jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab. Sejak program “12.12 Birthday Sale”, Shopee bekerja sama dengan 11 stasiun televisi untuk memutar iklan mereka dengan BLACKPINK. Namun di dalam petisi Maimon dikatakan bahwa iklan tersebut sering diputar pada program anak-anak. Salah satu film anak-anak tersebut adalah Tayo di RTV. Tidak hanya mengkhawatirkan generasi penerus bangsa, Maimon mengungkapkan bahwa iklan menggunakan model wanita sama saja dengan objektifikasi tubuh perempuan yang di anggap sah-sah saja. Sehingga akhirnya Maimon menekan KPI untuk menghentikan/ memboikot iklan Shopee tersebut demi menjaga masa depan generasi selanjutnya (Change.org, 2018).
Gambar 1.2. Petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee” (Sumber: Change.org)
Sehingga peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa Shopee sedang mengalami krisis. Seperti yang dituliskan dalam buku “Crisis Public Relations: Bagaimana PR Menangani Krisis Perusahaan” oleh Firsan Nova, ada beberapa faktor penyebab krisis salah satunya ialah krisis karena persepsi publik. Krisis ini biasanya disebabkan karena perusahaan melakukan hal-hal yang
9 Universitas Kristen Petra bertentangan dengan norma yang ada di masyarakat atau yang bertentangan dengan keinginan dan kepentingan publik (Nova, 2009, p. 70). Hal ini terlihat dari jabaran petisi Maimon yang menyebutkan bahwa iklan Shopee versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” menanamkan nilai buruk dan jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab. Tidak berhenti sampai petisi saja, banyak sekali respon masyarakat yang merujuk pada komentar-komentar yang mendukung pemboikotan iklan Shopee tersebut (gambar 1.3).
Sejak munculnya petisi pemboikotan iklan Shopee, pemberitaan mengenai Shopee menjadi ramai dan menarik perhatian berbagai kalangan baik itu ibu-ibu, anak remaja, psikolog, profesional dan media. Peneliti memilih meneliti media online dikarenakan seringkali satu-satunya informasi yang diterima masyarakat selama krisis adalah melalui media. Sebab itu, media pemberitaan menjadi perhatian utama bagi praktisi PR untuk mengetahui persepsi publik terhadap perusahaan, terutama saat perusahaan berada dalam situasi krisis.
10 Universitas Kristen Petra Gambar 1.3. Respon publik terhadap petisi pemboikotan iklan Blackpink versi ”12.12 Birthday Sale” pada kolom komentar.
11 Universitas Kristen Petra
Media online yang dipilih berdasarkan Top 3 Sites in Indonesia,
urutannya yaitu Tribunnews.com, Detik.com dan Okezone.com (Alexa.com). Sesuai dengan gambar list (Alexa.com) peneliti mengambil kesimpulan bahwa Google dan Youtube bukan termasuk situs website/ portal berita, melainkan mesin pencarian dan social networking/ media sosial, sehingga peringkat diurutkan mulai dari Tribunnews.com, lalu Detik.com, dan Okezone.com. Media ini dipilih berdasarkan pertimbangan yaitu: a). Pengaruh media tersebut di masyarakat, yang bisa diukur lewat besarnya jumlah pembaca mereka; b). Konsistensi media tersebut dalam memberitakan permasalahan yang berkaitan dengan kasus pemboikotan iklan Shopee versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” (Suryana, 2017, p. 3).
Selain itu, media-media tersebut merupakan penerbitan umum, yang tidak mempublikasikan topik-topik tertentu dalam pemberitaannya, akan tetapi memuat berbagai macam isu yang menjadi perhatian masyarakat seperti seleb,
lifestyle, hukum, ekonomi, teknologi, dan lain-lain. Dari sisi segmen pembaca,
ketiga media ini merupakan media umum, yang mana menerbitkan berita yang menyasar segmen pembaca umum. Data menunjukkan bahwa pada 16 April 2019, jumlah pembaca Tribunnews mencapai 24,418,689 pembaca setiap harinya (Worth & Traffic Estimate of tribunnews.com, 2019). Jumlah pembaca Detik.com mencapai 10,824,774 pembaca setiap harinya (Worth & Traffic
12 Universitas Kristen Petra Estimate of detik.com, 2019). Sedangkan jumlah pembaca Okezone.com mencapai 4,495,317 (Worth & Traffic Estimate of okezone.com, 2019).
(Sumber: Alexa.com)
Peringkat berdasarkan kategori negara Indonesia ini dihitung menggunakan kombinasi rata-rata pengunjung harian ke situs website selama sebulan terakhir. Situs dengan kombinasi pengunjung dan tampilan halaman tertinggi diberi peringkat #1. Tribunnews.com menduduki peringkat satu dalam kategori portal berita, total pengunjung menyentuh angka 85%, dengan total
engagement pengunjung harian yang membaca 2,75%, dan total pengunjung
dari mesin pencarian menyentuh angka 64,40%. Sedangkan Detik.com menduduki peringkat kedua dalam kategori portal berita, total pengunjung menyentuh angka 94,8%, dengan total engagement pengunjung harian yang
13 Universitas Kristen Petra membaca 5,21 %, dan total pengunjung dari mesin pencarian menyentuh angka 22,10%. Lalu Okezone.com menduduki peringkat ketiga dalam kategori portal berita, total pengunjung menyentuh angka 76,2%, dengan total engagement pengunjung harian yang membaca 2,44%, dan total pengunjung dari mesin pencarian menyentuh angka 39,10% (Alexa, 2019). Sehingga peneliti mengambil kesimpulan, semakin besar jumlah masyarakat yang mengunjungi, mencari, dan membaca berita maka semakin besar peluang pemberitaan oleh media online diterima oleh publik. Pengaruh pemberitaan akan membentuk opini publik yang nantinya berdampak terhadap citra perusahaan.
Sebelumnya penelitian terdahulu mengenai citra perusahaan yang diamati melalui media massa dengan judul “Measuring Corporate Image in The
Print Media: An Application of Multidimensional Sealing and Content Analysis Methodologies” pada perusahaan ForestCo oleh Michelle Berner (1994) ini
dilakukan dengan menggunakan metode penelitian analisis isi. Unit analisa yang dipakai oleh Berner adalah dengan melihat serta menganalisa headline dari 813 artikel surat kabar dan majalah pada tahun 1977 – 1991. Dalam penelitiannya, ia mengkategorikan menjadi dua kategori yaitu jenis isu dan nada pemberitaan saja. Terdapat lima isu yang menjadi sorotan media saat itu, yaitu mengenai isu ligkungan, isu merger, akuisisi dan take over, isu yang terkait dengan pemerintahan, isu buruh dan isu mengenai kondisi bisnis ForestCo.
Media massa banyak memberikan pemberitaan negatif terhadap isu-isu tersebut, media mencatat adanya penurunan statistik keuangan, ForestCo menyebabkan terjadinya tingkat polusi yang meningkat akibat penebangan pohon secara liar, perubahan susunan kepemilikan perusahaan sehingga memunculkan isu buruh. Hingga akhirnya dalam penelitiannya Berner menyimpulkan terdapat penurunan citra perusahaan ForestCo sejak tahun 1977 hingga tahun 1991. Oleh karena itu ia menyarankan perusahaan untuk mengevaluasi citra sehingga perusahaan dapat mengambil langkah serta strategi baru untuk meningkatkan citra perusahaan.
Penelitian terdahulu berikutnya mengenai evaluasi citra perusahaan melalui media massa dengan judul “Citra Telkomsel, Indosat dan XL pada Jawa
14 Universitas Kristen Petra Pos, Surya dan Kompas pasca kasus pencurian pulsa” oleh Paulina Sigit (2011). Penelitian ini menggunakan metode yang sama yaitu metode analisis isi dengan pendekatan kuantitatif. Unit analisa yang dipakai oleh Paulina adalah dengan menganalisa setiap pernyataan yang dituliskan di dalam berita, dengan maksud untuk melihat citra perusahan yang digambarkan dalam media massa lebih detil. Dalam penelitiannya menggunakan kategori yang lebih kompleks yaitu berdasarkan teori citra dan memakai elemen-elemen citra dari Vos (2006).
Selain itu, ia juga mengkomparasikan tiga perusahaan operator yaitu Telkomsel, XL, dan Indosat terhadap satu permasalahan yaitu kasus pencurian pulsa. Proses pembentukan citra dan pemahaman persepsi serta opini publik menjadi tanggung jawab dari Public Relations dalam perusahaan. Paulina menjelaskan bahwa sejak tanggal 4 Oktober 2011, media massa memunculkan pemberitaan mengenai kasus pencurian pulsa yang dialami pengguna jasa operator telekomunikasi yang menjadi headline hingga tanggal 6 Oktober 2011. Dalam kasus pencurian tersebut, tiga perusahaan operator telekomunikasi yang paling banyak korbannya adalah Telkomsel, XL, dan Indosat. Hasilnya Telkomsel dicitrakan positif oleh Jawa Pos dan Surya namun dicitrakan negatif oleh Kompas. XL dicitrakan positif oleh Jawa Pos dan Surya namun dicitrakan negatif oleh Kompas. Lalu, Indosat dicitrakan positif oleh Jawa Pos, Surya, dan Kompas.
Apabila Berner berfokus pada dua kategori yaitu jenis isu dan nada pemberitaan dengan menganalisa headline dari pemberitaan media massa, dan Paulina yang mengkomparasikan tiga operator dengan menganalisa setiap pernyataan dalam berita di media massa agar pencarian penggambaran citra perusahaan oleh media massa menjadi lebih detil. Pada penelitian ini, peneliti ingin meneliti gambaran Citra Shopee Pasca Kasus Petisi Pemboikotan Iklan Versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” memilih seluruh pemberitaan dari tiga media online yaitu Tribunnews.com, Detik.com dan Okezone.com sebagai unit analisa. Penelitian ini akan menggunakan berita mengenai Shopee yang dikumpulkan dari tanggal 8 Desember 2018 hingga sampai pemberitaan mengenai pemboikotan iklan Shopee selesai, dengan hasil akhir melihat apa citra Shopee pasca kasus petisi pemboikotan pada media-media online.
15 Universitas Kristen Petra 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Apa Citra Shopee Pasca Kasus Petisi Pemboikotan Iklan Versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” di Media Online?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Citra Shopee Pasca Kasus Petisi Pemboikotan Iklan Versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” di
Media Online?
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan tambahan referensi kepustakaan mengenai penelitian citra perusahaan
e-commerce melalui media online, khususnya di bidang Ilmu Komunikasi. Selain
itu penulis berharap dengan adanya penelitian ini dapat menjadi referensi pembanding bagi rekan-rekan mahasiswa yang akan mengadakan penelitian mengenai citra perusahaan, khususnya industri bisnis E-Commerce di masa mendatang.
1.4.2. Manfaat Praktis
Melalui hasil penelitian ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat bagi perusahaan sebagai bahan evaluasi citra melalui media online.
1.5. Batasan Penelitian
16 Universitas Kristen Petra 1.5.1. Media yang dianalisis adalah media online. Situs berita yang dipilih
adalah Tribunnews.com, Detik.com dan Okezone.com.
1.5.2. Peneliti menetapkan bahwa yang akan dianalisis adalah artikel berita, baik hard news ataupun soft news dari ketiga situs berita. Artikel suara pembaca, opini dan advertorial tidak dianalisa, karena ketiga jenis artikel terebut tidak ditulis oleh media. Advetorial adalah salah satu bentuk iklan yang dikeluarkan oleh organisasi dalam bentuk forum untuk membahas sebuah isu dari sudut pandang organisasi (Newsom, Turk & Kruckeberg, 2003). Sedangkan surat pembaca, dan opini merupakan artikel yang ditulis oleh pembaca.
1.5.3. Berita yang diteliti adalah pemberitaan mengenai Shopee dengan
keyword pada mesin pencarian situs berita yaitu “Shopee”. Peneliti
menetapkan periode waktu mulai tanggal 8 Desember 2018 hingga pemberitaan mengenai petisi pemboikotan iklan Shopee versi Blackpink “12.12 Birthday Sale” selesai pada masing-masing media online yang dipilih yaitu 31 Januari 2019.
1.5.4. Penelitian ini tidak akan mempermasalahkan posisi peletakan artikel serta ukuran panjang artikel, karena yang akan diteliti merupakan situs berita online. Peneliti juga beranggapan bahwa di manapun berita itu ditempatkan dan ditulis dalam seberapa panjang, yang paling penting adalah pernyataan di dalamnya. Setiap kalimat dalam berita inilah yang nantinya akan dianalisa.
1.6. Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini diuraikan dalam 5 bab di mana masing-masing bab akan dijabarkan sebagai berikut:
BAB 1 Pendahuluan
Pada bab ini mengemukakan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dari penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.
17 Universitas Kristen Petra BAB 2 Landasan Teori
Pada bab ini berisi deskripsi dari landasan teori sebagai dasar pemikiran dari penelitian ini. Terdapat pula nisbah antar konsep, yang merupakan keterkaitan antar teori yang digunakan. Selain itu, dalam bab ini juga digambarkan kerangka penelitian yang akan dilakukan.
BAB 3 Metode Penelitian
Pada bab ini berisi penjelasan mengenai definisi konseptual, definisi operasional, jenis penelitian, metode penelitian, populasi, sampel, unit analisis, teknik pengumpulan data, analisis data, uji validitas dan uji reliabilitas.
BAB 4 Analisa Data
Pada bab ini berisi penjabaran data-data yang ditemukan peneliti serta hasil analisisnya dengan teori yang digunakan. Di samping itu, hasil analisis ini nantinya juga akan dilengkapi dengan data-data sekunder yang memperkaya hasil analisis dan temuan data peneliti.
BAB 5 Kesimpulan
Pada bab ini peneliti akan memberikan penarikan kesimpulan pada hasil penelitian. Selain itu, dalam bab ini akan berisi saran untuk penelitian berikutnya agar dapat digunakan untuk memperbarui penelitian yang peneliti lakukan.