• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA SMA KELAS XI PADA MATERI HIDROLISIS GARAM SESUAI MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN DAN BERBASIS PROYEK.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA SMA KELAS XI PADA MATERI HIDROLISIS GARAM SESUAI MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN DAN BERBASIS PROYEK."

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA SMA KELAS XI PADA MATERI HIDROLISIS GARAM SESUAI MODEL

PEMBELAJARAN PENEMUAN DAN BERBASIS PROYEK

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Kimia

OLEH:

AHMAD FAUZI SYAHPUTRA YANI 8136142001

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

i ABSTRAK

AHMAD FAUZI SYAHPUTRA YANI. Pengembangan Penuntun Praktikum Kimia Sma Kelas XI Pada Materi Hidrolisis Garam Sesuai Model Pembelajaran Penemuan Dan Berbasis Proyek. Program Pascasarjana Universtitas Negeri Medan, 2015.

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan penuntun praktikum hidrolisis garam sesuai model pembelajaran penemuan dan berbasis proyek. Penuntun praktikum dikembangkan berdasarkan sintaks model pembelajaran penemuan dan berbasis proyek. Penuntun praktikum yang telah disusun divalidasi oleh dosen dan diujicobakan ke sekolah. Lokasi penelitian yaitu SMA Dharma Pancasila Medan dengan waktu penelitian pada bulan Februari sampai Maret 2015. Sampel penelitian diambil sebanyak dua kelas yaitu kelas eksperimen I yang diajar menggunakan penuntun praktikum sesuai model penemuan dan kelas eksperimen II yang diajar menggunakan penuntun praktikum sesuai model pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada dosen dan guru diketahui bahwa nilai rata-rata penuntun berbasis proyek lebih tinggi dibandingkan dengan penemuan. Hal ini bertolak belakang dengan peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar yang diajar dengan menggunakan penuntun penemuan yaitu sebesar 79,48% dan yang diajar dengan menggunakan penuntun berbasis proyek yaitu sebesar 60,33%. Hal ini terjadi karena umumnya siswa masih belum terbiasa mencari dan menyusun sendiri rancangan praktikum sebagaimana yang harus dilakukan pada kelas yang menerapkan model berbasis proyek.

(7)

ii ABSTRACT

AHMAD FAUZI SYAHPUTRA YANI. Development of Practical guide

Chemical Class XI In accordance Hydrolysis Content Model and Project-Based Learning discovery. Universtitas Graduate Program of Medan, 2015.

This research aims to develop practical guidance hydrolysis according to the model of project-based learning and discovery. Guidance lab developed based syntax-based models of learning and discovery projects. Guiding lab that had been developed and tested validated by lecturers to school. Location Dharma Pancasila research that high school field with a study in February and March 2015. The study sample was taken as much as two classes of experimental class I taught using practical guide appropriate experimental models of discovery and class II are taught using practical guide appropriate project-based learning model. Based on the results of a questionnaire given to lecturers and teachers in mind that the average value of project-based guide is higher than the discovery. This is contrary to improving student learning outcomes. Improved learning outcomes are taught using a guiding discovery is equal to 79.48% and are taught using a project-based guide that is equal to 60.33%. This happens because most students are still not accustomed to seeking and developing their own design practice as it should be done on a class that implements a project-based model.

(8)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan

hidayah-nya yang tak terhingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul

Pengembangan Penuntun Praktikum Kimia Sma Kelas Xi Pada Materi Hidrolisis

Garam Sesuai Model Pembelajaran Penemuan Dan Berbasis Proyek. Tesis

disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister

Pendidikan di Universitas Negeri Medan. Dan tak lupa pula sholawat beserta

salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW, semoga dengan memperbanyak

sholawat kepada beliau kita tergolong umatnya yang mendapat syafaat di yaumil

mahsyar kelak. Aamiin.

Ucapan dan penghargaan terutama penulis sampaikan kepada bapak Dr.

Zainuddin, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I dan bapak Prof. Dr. Ramlan

Silaban, M.Si. yang dengan segala kebesaran hati telah berkenan untuk

meluangkan waktu untuk memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis

dalam menyelesaikan tesis ini. Ucapan terima kasih kepada Bapak Prof Dr.

Albinus Silalahi, M.S., Bapak Dr. Mahmud, M.Si., dan Bapak Eddiyanto, Ph.D

selaku penguji yang telah memberikan saran-saran membangun sehingga

penelitian dalam tesis ini dapat berlangsung dengan baik. Ucapan terima kasih

kepada ibu Dr. Iis Siti Jahro, M.Si yang telah menjadi validator penuntun

praktikum yang dikembangkan. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada

Bapak dan Ibu Dosen Pascasarjana UNIMED yang telah mencurahkan pikiran dan

tenaga membimbing dan memberikan pengetahuan kapada mahasiswa. Ucapan

(9)

iii

Hermansyah, S.Pd. selaku guru kimia, dan Staf Pegawai, yang telah berkenan

memberikan bimbingan dan arahan kepada saya selama melakukan penelitian di

SMA Swasta Dharma Pancasila Medan, serta siswa siswi kelas XI yang

membantu kelancaran dalam penelitian. Penulis sampaikan terima kasih kepada

keluargaku tercinta, Ibunda Murni, S.Pd. Ayah Suyadi yang telah memberikan

banyak pengorbanan selama penulis menjalani perkuliahan di UNIMED, juga

adik-adik yang telah memberikan semangat. Ucapan terimakasih juga penulis

ucapkan kepada rekan-rekan seperjuangan, mahasiswa/i Prodi Pendidikan Kimia

Pascasarjana dan sahabat-sahabat penulis serta semua pihak yang tidak dapat

disebutkan satu persatu, terima kasih untuk semuanya.

Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian tesis ini,

namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata

bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun dari pembaca demi sempurnanya tesis ini. Kiranya isi tesis ini

bermanfaat dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan.

Medan, April 2015

Penulis

(10)

v DAFTAR ISI

ABSTRAK...Error! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR...Error! Bookmark not defined.

DAFTAR ISI...Error! Bookmark not defined.

DAFTAR TABEL...Error! Bookmark not defined.

DAFTAR GAMBAR………..ix

DAFTAR LAMPIRAN...Error! Bookmark not defined.

BABI.PENDAHULUAN...Error! Bookmark not defined.

1.1. Latar Belakang Masalah ...Error! Bookmark not defined.

1.2 Identifikasi Masalah...Error! Bookmark not defined.

1.3. Batasan Masalah ...Error! Bookmark not defined.

1.4. Rumusan Masalah...Error! Bookmark not defined.

1.5. Tujuan Penelitian...Error! Bookmark not defined.

1.6. Manfaat Penelitian ...Error! Bookmark not defined.

BAB II.KAJIAN TEORITIS...Error! Bookmark not defined.

2.1. Kerangka Teoritis ...Error! Bookmark not defined.

2.1.1. Hakikat Teori Pembelajaran...Error! Bookmark not defined.

2.1.2. Penuntun Praktikum Dalam Pembelajaran KimiaError! Bookmark not defined.

2.1.3. Praktikum Dalam Proses Belajar Mengajar KimiaError! Bookmark not defined.

2.1.4. Pendekatan Ilmiah/Saintifik ...Error! Bookmark not defined.

2.1.5. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Dengan Pendekatan Ilmiah/SaintifikError! Bookmark not defined.

2.1.6. Tujuan Pendekatan Ilmiah/Saintifik. ..Error! Bookmark not defined.

2.1.7. Pendekatan Saintifik/Ilmiah Dengan Model Pembelajaran Berbasis

Proyek (Project Based Learning). ...Error! Bookmark not defined.

2.1.8. Pendekatan Saintifik/Ilmiah Dengan Model Pembelajaran

Penemuan...Error! Bookmark not defined.

2.1.9. Ringkasan Hasil Penelusuran LiteraturError! Bookmark not defined.

2.2. Hidrolisis Garam ...Error! Bookmark not defined.

2.3. Hipotesis...Error! Bookmark not defined.

(11)

vi

2.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ...Error! Bookmark not defined.

2.2. Populasi dan Sampel ...Error! Bookmark not defined.

2.3. Analisis pembelajaran kimia di SMA Dharma Pancasila.Error! Bookmark not defined.

2.4. Desain Penelitian...Error! Bookmark not defined.

2.5. Prosedur Penelitian...Error! Bookmark not defined.

2.6. Teknik Pengumpulan Data...Error! Bookmark not defined.

2.7. Teknik Analisis Data ...Error! Bookmark not defined.

3.7.1. Uji Normalitas...Error! Bookmark not defined.

3.7.2. Uji Homogenitas ...Error! Bookmark not defined.

3.7.3. Uji Hipotesis ...Error! Bookmark not defined.

3.7.4. Uji Validitas Angket...Error! Bookmark not defined.

3.7.5. Peningkatan Hasil Belajar Siswa ...Error! Bookmark not defined.

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN...Error! Bookmark not defined.

4.1. Hasil Penelitian ...Error! Bookmark not defined.

4.1.1. Deskripsi Umum Penelitian ...Error! Bookmark not defined.

4.1.2. Pengembangan Penuntun Praktikum...Error! Bookmark not defined.

4.1.3. Standarisasi Penuntun Praktikum Hidrolisis GaramError! Bookmark not defined.

4.1.4. Analisis Penuntun Praktikum Kimia yang Telah DikembangkanError! Bookmark not defined.

4.1.4.1. Aspek Cakupan Praktikum ...Error! Bookmark not defined.

4.1.4.2. Aspek Sistematika Penyajian ...Error! Bookmark not defined.

4.1.4.3. Aspek Mengandung Wawasan PruduktifitasError! Bookmark not defined.

4.1.4.4. Aspek Merangsang KeingintahuanError! Bookmark not defined.

4.1.4.5. Aspek Mengembangkan Kecakapan Hidup (Life Skill)Error! Bookmark not defined.

4.1.4.6. Aspek Desain ...Error! Bookmark not defined.

4.1.4.7. Aspek Bahasa ...Error! Bookmark not defined.

4.1.5. Analisis Pembelajaran Praktikum Menggunakan Penuntun

Praktikum Hidrolisis Sesuai Model Pembelajaran Penemuan Dan

Model Berbasis Proyek...Error! Bookmark not defined.

4.1.5.1. Model Penemuan ...Error! Bookmark not defined.

(12)

vii

4.1.6. Aplikasi Penuntun Praktikum Kimia Berdasarkan Model

pembelajaran penemuan dan Tipe Project Based Learning

Terhadap Hasil Belajar Siswa ...Error! Bookmark not defined.

4.1.6.1. Uji Normalitas ...Error! Bookmark not defined.

4.1.6.2. Uji Homogenitas Data...Error! Bookmark not defined.

4.1.6.3. Uji Hipotesis ...Error! Bookmark not defined.

4.2. Pembahasan Hasil Penelitian ...Error! Bookmark not defined.

BAB V.KESIMPULAN DAN SARAN...Error! Bookmark not defined.

5.1. Kesimpulan ...Error! Bookmark not defined.

5.2. Saran ...Error! Bookmark not defined.

(13)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Penemuan dan Model

Pembelajaran Berbasis Proyek Berdasarkan Cakupan MateriError! Bookmark not defined.

Gambar 4.2. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Penemuan dan Model

Pembelajaran Berbasis Proyek Berdasarkan Sistematika PenyajianError! Bookmark not defined.

Gambar 4.3. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Discovery dan Model

pembelajaran berbasis proyek Berdasarkan Mengandung Wawasan

Pruduktifitas ...Error! Bookmark not defined.

Gambar 4.4. Uji kelayakan penuntun praktikum model penemuan dan model

pembelajaran berbasis proyek berdasarkan merangsang

keingintahuan ...Error! Bookmark not defined.

Gambar 4.5. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum ModelPenemuan dan Model

pembelajaran berbasis proyek Berdasarkan Mengembangkan

Kecakapan Hidup (Life Skill)...Error! Bookmark not defined.

Gambar 4.6. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Penemuan dan Model

Pembelajaran Berbasis Proyek Berdasarkan DesainError! Bookmark not defined.

Gambar 4.7. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Penemuan dan Model

(14)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Silabus ...Error! Bookmark not defined.

Lampiran 2. RPP Penemuan...Error! Bookmark not defined.

Lampiran 3. RPP Proyek... 90

Lampiran 4. Instrument Tes ……….94

Lampiran 5. Tingkat Kognitif Instrument Tes ………97

Lampiran 6 Angket Kelayakan Isi ……….101

Lampiran 7 Tabulasi Hasil Angket Dosen dan Guru ……….102

Lampiran 8. Hasil Belajar Siswa Menggunakan Penuntun Praktikum Sesuai Model Penemuan ………104

(15)

2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Ilmu kimia merupakan experimental science, tidak dapat dipelajari hanya

melalui membaca, menulis atau mendengarkan saja. Sebagian besar siswa

mengonggap pelajaran kimia sulit meskipun siswa mengakui telah berusaha

semaksimal mungkin untuk belajar namun masih saja mereka gagal dalam bidang

studi ini. Kesulitan dalam mempelajari kimia juga berhubungan dengan

karakteristik kimia yang bersifat absirak. Selain itu materi kimia yang diajarkan

sangat banyak, terkadang guru yang mengajarkan tidak mempertimbangkan

pemahaman siswa yang penting kurikulum terkejar.

Salah satu kendala siswa belajar kimia adalah kurangnya siswa diajak untuk

melatih kemampuan berpikir mengenai proses kimia yang dipelajari di materi

pelajaran. Hal ini didukung oleh Derlina (2013) yang menyatakan bahwa

rendahnya tingkat kemampuan berpikir siswa dapat disebabkan oleh kegiatan

pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru tidak memfasilitasi siswa untuk

berlatih mengembangkan kemampuan berpikir formalnya.

Materi pelajaran kimia di SMA/MA secara umum memiliki karakteristik

bersifat abstrak sehingga diperlukan kemampuan guru untuk menjadikan lebih

konkrit (Suharta dan Lynna, 2013). Pembelajaran yang abstrak cenderung

(16)

karena itu pembelajaran harus dirancang aplikatif dan dekat dengan kehidupan

sehari-hari.

Dalam pembelajaran ilmu kimia ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu

kimia sebagai produk temuan para ilmuwan berupa takta, konsep, prinsip, hukum, teori

dan kimia sebagai proses berupa kerja ilmiah (Jahro, 2009). Kegiatan praktikum tidak

dapat dipisahkan dari pembelajaran kimia. Hal ini senada dengan yang dikemukakan

Lunetta dan Hofstein (dalam Silawati, 2006) yang mengadopsi teori Bloom bahwa di

dalam pembelajaran ada tiga domain yang tidak boleh ditinggalkan yaitu pengetahuan

(cognitive, intelectual), keterampilan (psychomotor) dan afektif (attitudinal). Domain yang

pertama yaitu pengetahuan memberikan pengalaman dan pengenalan dalam hal

pengembangan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah. Domain kedua yaitu keterampilan,

bermanfaat bagi keterampilan motorik dalam hal ini keterampilan tangan yang

menumbuhkan sikap hati-hati, teliti dalam pengamatan, dan menumbuhkan rasa tanggung

jawab. Domain terakhir adalah tentang sikap dengan melaksanakan praktikum akan

menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa ingin tahu atau tertarik. Mengembangkan dan

melaksanakan aktivitas praktikum dapat mendukung tiga domain tersebut yang sangat

penting bagi perkembangan nalar siswa sebagaimana sering diungkapkan, saya

mendengar, saya lupa, saya melihat, saya ingat, saya mengerjakan, saya mengerti.

Praktikum kimia tanpa siswa mengetahui dan memahami yang dilakukan

dalam praktikum juga percuma. Setelah selesai praktikum siswa haruslah

memahami tujuan praktikum. Oleh karena itu pendekatan pembelajaran yang

(17)

diantaranya yaitu Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) dan

Penemuan (Discovery)

Discovery Learning merupakan model pengajaran yang menekankan pada

pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide-ide kunci suatu disiplin

ilmu, kebutuhan akan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, dan

keyakinan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui personal discovery

(penemuan pribadi). Ketika discoveryditerapkan di bidang sains dan ilmu social,

ia menekankan penalaran induktif dan proses penyelidikan yang menjadi karakter

khas metode ilmiah (Arends, 2007). Hal ini sesuai dengan konsep-konsep ilmu

kimia yang didapat melalui penyelidikan dan penemuan.

Pendekatan ilmiah yang disebutkan di atas adalah bagian dari pembelajaran

konstruktivis. Pendekatan pembelajaran yang dikembangkan oleh Plato dan

Aristoteles kemudian diikuti oleh John Dewey dan Lev Vygotsky pada abad

kedua puluh ini. Deryakulu, & Simsek (dalam Tuysuz C, 2010) mengemukakan

ide untuk menerapkan pendekatan pembelajaran konstruktivis telah diterima

hampir di seluruh dunia, metode yang menitikberatkan pembelajaran berpusat di

peserta didik ini telah memberikan kesempatan yang cukup baik bagi peserta

didik untuk membangun pengetahuan mereka sendiri. Kemampuan peserta didik

memunculkan kemampuan individu, kecerdasan dan berpikir kreatif hanya dapat

dicapai melalui metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik itu

sendiri.

Pada pembelajaran menggunakan pendekatan konstruktivis, peserta didik

(18)

dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. (Tatli, 2011). Menurut penelitian

yang dilakukan oleh Tatli dan Ayas (2012), pemanfaatan laboratorium

merupakan implementasi dari pendekatan konstruktivisme karena efektif

meningkatkan kemampuan mengembangkan pemahaman peserta didik melalui

interaksi dengan lingkungan sekitar mereka.

Laboratorium memainkan peran penting dalam pembelajaran kimia yang

efektif. Penambahan jam praktikum untuk pembelajaran kimia menjadi sangat

penting. Karena, sebagian besar isi pelajaran sains adalah topik abstrak, maka

untuk membuat peserta didik memahami topik-topik seperti itu perlu

menggunakan metode pembelajaran student centered berbasis konstruktivis.

Laboratorium sangat penting untuk memahami konsep-konsep kimia yang

abstrak karena dengan praktikum, maka konsep-konsep abstrak tersebut dapat

dipahami menjadi konsep yang konkret oleh peserta didik.

Banyak peneliti di bidang pendidikan sains mengakui bahwa studi

laboratorium meningkatkan minat dan kemampuan siswa untuk mata pelajaran

sains serta dapat mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik

peserta didik dalam mencapai tujuan praktikum.

Laboratorium memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran

pendidikan sains, dan tenaga pendidik sains disarankan untuk menerapkan

kegiatan praktikum dalam proses pembelajaran karena banyaknya manfaat yang

dapat diperoleh peserta didik dalam melakukan praktikum. Beach dan Stone

(1988) mengatakan bahwa pembelajaran kimia paling efektif dapat dilakukan

(19)

perumpamaan “orang yang belajar menggambar, namun tanpa cat dan kanvas

atau mencoba belajar bersepeda, tanpa menggunakan sepeda sama halnya dengan

belajar kimia, tanpa melakukan praktikum” (Tezcan dan Bligin, 2004).

Keinginan untuk membuat kegiatan belajar mengajar di kelas sangat ideal

dan menuntut sejumlah besar bahan yang harus dikuasai siswa, guru terkadang

kesulitan dalam menyusun praktikum berkualitas. Banyak kendala yang dialami

oleh guru dalam memaksimalkan kegiatan laboratorium siswa. Menurut

penelitian yang telah dilakukan (Tuysuz, 2010), ada kendala dalam implementasi

praktis di sekolah, termasuk tidak tersedianya modul laboratorium kimia yang

dapat menyebabkan siswa dalam melakukan praktikum tidak maksimal, guru juga

tidak memiliki panduan dalam menilai keterampilan proses sains dan sikap

ilmiah, selain itu bahan dan alat-alat yang mahal untuk laboratorium kimia juga

menjadi kendala dalam pelaksanaan laboratorium kimia sekolah.

Penelitian terkait efektifitas pemanfaatan laboratorium sudah banyak

dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Pemanfaatan laboratorium secara

signifikan meningkatkan minat dan pemahaman peserta didik dalam

pembelajaran kimia, namun terdapat beberapa hal yang menjadi kendala yaitu,

masih kurangnya penuntun praktikum yang disusun khusus untuk

mengembangkan keterampilan siswa. Selain itu pemanfaatan lingkungan sekitar

dalam proses praktikum masih belum maksimal.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti bermaksud untuk melakukan

pengembangan penuntun praktikum kimia SMA dalam bentuk sebuah penuntun

(20)

pembelajaran penemuan dan model pembelajaran berbasis proyek. Dengan

demikian, penulis/peneliti mencoba menulis tentang “Pengembangan Penuntun

Praktikum Kimia Sma Kelas XI Pada Materi Hidrolisis Garam Sesuai

Model Pembelajaran Penemuan Dan Berbasis Proyek”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka

dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:

1. Pengembangan penuntun praktikum untuk SMA berdasarkan model

pembelajaran penemuan dan berbasis proyek

2. Bentuk penuntun praktikum kimia pada pokok bahasan hidrolisis untuk

SMA kelas XI.

3. Efektifitas pembelajaran kimia dengan menggunakan penuntun praktikum

pada pokok bahasan hidrolisis untuk SMA kelas XI berdasarkan model

pembelajaran penemuan

4. Efektifitas pembelajaran kimia dengan menggunakan penuntun praktikum

pada pokok bahasan hidrolisis untuk SMA kelas XI berdasarkan model

pembelajaran berbasis proyek

1.3. Batasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah dalam identifikasi masalah diatas, maka

(21)

1. Pembelajaran dengan model yang digunakan pada penuntun praktikum

adalah model Pembelajaran Penemuan dan Berbasis Proyek

2. Efektifitas pembelajaran tersebut didasarkan pada hasil belajar peserta

didik.

3. Hasil belajar peserta didik yang akan diukur dibatasi pada ranah kognitif

dari taksonomi Bloom yang meliputi aspek pengetahuan (C1), pemahaman

(C2), penerapan (C3), analisis (C4) serta pada ranah afektif dan ranah

psikomotorik.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka

masalah yang diajukan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan sintak antara penuntun praktikum hidrolisis

garam sesuai model pembelajaran penemuan dan penuntun praktikum

hidrolisis garam sesuai model pembelajaran berbasis proyek?

2. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan

sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum sesuai model

pembelajaran penemuan?

3. Apakah terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan

sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum sesuai model

pembelajaran berbasis proyek?

4. Apakah terdapat perbedaan efektifitas proses pembelajaran antara yang

(22)

pembelajaran penemuan dengan yang diajarkan menggunakan penuntun

praktikum hidrolisis garam sesuai model pembelajaran berbasis proyek?

1.5. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

1. Mengembangkan penuntun praktikum sesuai model pembelajaran penemuan

dan penuntun praktikum sesuai model pembelajaran berbasis proyek.

2. Perbedaan peningkatan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan

sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum sesuai model

pembelajaran penemuan.

3. Perbedaan peningkatan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan

sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum sesuai model

pembelajaran berbasis proyek.

4. Efektifitas proses pembelajaran yang dibelajarkan dengan menggunakan

penuntun praktikum hidrolisis garam sesuai model pembelajaran penemuan

dan berbasis proyek.

1.6. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini yang diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

1. Untuk guru kimia, penambahan penuntun kimia pada materi hidrolisis

garam untuk mengajar.

2. Bagi siswa, hasil penelitian ini dapat membantu peserta didik dalam

(23)

mencapai keberhasilan yang maksimal.

3. Untuk para peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait

(24)
(25)

72

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

1.1.Simpulan

Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan

1. Penuntun praktikum sesuai model pembelajaran penemuan berbeda dengan

penuntun praktikum sesuai model pembelajaran berbasis proyek yaitu pada

sintaks yang diterapkan pada proses belajar mengajar.

2. Hasil belajar siswa yang diajar menggunakan penuntun praktikum sesuai

model pembelajaran penemuan diperoleh sig < 0,05 sehingga Ha diterima

yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar sebelum dan

sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum sesuai model

pembelajaran penemuan.

3. Hasil belajar siswa yang diajar menggunakan penuntun praktikum sesuai

model pembelajaran berbasis proyek diperoleh sig < 0,05 sehingga Ha

diterima yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar

sebelum dan sesudah diajarkan dengan menggunakan penuntun praktikum

sesuai model pembelajaran berbasis proyek.

4. Kelas eksperimen I memiliki rata-rata persen peningkatan hasil belajar

sebesar 79,48% dan kelas eksperimen II sebesar 60,33% yang artinya

efektifitas penggunaan penuntun praktikum sesuai model pembelajaran

penemuan lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan penuntun praktikum

(26)

73

5. Penuntun praktikum model berbasis proyek tidak lebih efektif daripada model

penemuan. Salah satu penyebabnya yaitu masih asingnya model berbasis pada

praktikum di sekolah sehingga kreatifitas siswa dalam menerapkan model

berbasis proyek belum maksimal.

1.2.Saran

Adapun saran dalam penelitian ini, yaitu

1. Guru tidak hanya mengajarkan teori kimia saja tapi haruslah diimbangi

dengan praktikum. Hal ini dilakukan untuk menanamkan bahwa kimia tidak

hanya kumpulan teori yang ada dalam buku saja tapi benar-benar terbukti.

Praktikum yang dilakukan haruslah membuat siswa paham mengenai konsep

dalam hal ini model penemuan membantu siswa untuk menemukan konsep

kimia berdasarkan data percobaan dan model berbasis proyek membantu

siswa mengaplikasikan konsep kimia dalam kehidupan sehari-hari.

2. Sebelum praktikum dengan model berbasis proyek siswa hendaknya terlebih

dahulu membaca literatur untuk mengetahui hal-hal yang diperlukan untuk

menyusun prosedur yang dibutuhkan saat praktikum sehingga pada saat

(27)

74

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I. 2007. Learning to Teach Buku 2 Edisi Ketujuh. Yogyakarta Pustaka

Pelajar.

Bagci, N., & Simsek, S. (1999). The influence of different teaching methods in

teaching physics subjects on student’s success, The Journal of Gazi

Education Faculty. 19(3), 7988 Situmorang (2009)

Bryant, R. J., & Edmunt, A. M. (1987). They like lab-centered science. The

Science Teacher, 54(8), 42-45.

Chang, R. 2004. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid 2 Edisi KetigaErlangga

Derlina. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis Model

Pembelajaran Konstruktivis Untuk meningkatkan Kemampuan Berpikir

Logis Siswa SMA. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lembaga Penelitian

Unimed Tahun 2013 Bidang Pendidikan.

Fitrian, S. 2014. Pengembangan Prodesur Praktikum Katalis terhadap Laju

reaksi Berbasis Green Chemistry. Lampung. Digilib UNILA.

Hake, R. 1999. Analyzing Chage/Gain Scores.

http://www.physics.indiana.edu/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf (Maret

2015)

Herdian. 2010. Metode Pembelajaran Discovery (Penemuan).

https://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/metode-pembelajaran-discovery-penemuan/ (diakses 15 Desember

2014)

Indarti, dkk. 2013. Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Kemampuan

(28)

75

Jahro, I.S. 2009. Desain Praktikum Alternatif sederhana (PAS) Wujud Kreativitas

Guru Dalam Pelaksanaan Kegiatan Praktikum Pada Pembelajaran

Kimia. Jurnal Pendidikan Kimia1(2): 44-47

Jubandi, A. (2010), Penerapan Problem Base Learning (PBL) Yang

Diintegrasikan dengan Media Berbasis Komputer pada Pembelajaran

Pokok Bahasan Struktur Atom, Skripsi, FMIPA UNIMED, Medan

Krisna1. 2009. Pengertian Dan Ciri-ciri Pembelajaran.

http://krisna1.blog.uns.ac.id/2009/10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/(diakses 14 Desember 2014)

Lagowsky. 2002. The Role Of The Laboratory In Chemical Education. Texas.

The University of Texas at Austin.

Masruroh, S. 2014. Implementasi Pendekatan Scientific pada Kurikulum 2013

untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Bidang Kompetensi

Teknologi Informasi dan Komunikasi. Prosiding Konvensi APTEKINDO

ke 7 FPTK UPI Bandung.

Sintawati, Reni. 2014. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum Kimia Sma

Berbasis Inkuiri Terbimbing Pada Materi Asam Basa. UIN Sunan

Kalijaga Yogyakarta.

Silawati, Tutisiana. 2006 Microscience Experience:Sebuah Alternatif Praktikum Bagi

Mahasiswa Pendidikan Tinggi Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Voume. 7, Nomor 2, September 2006, 113-120

Sinambela, Pardomuan. 2013. Kurikulum 2013 Dan Implementasinya Dalam

(29)

76

Situmorang, H., Situmorang, M., (2009), Keefektifan Media Komputer Dalam

Meningkatkan Penguasaan Kimia Siswa Sekolah Menengah Kejuruan

Pada Pengajaran Materi dan Perubahannya, Jurnal Pendidikan

Matematika dan Sains3(1):45-51

Situmorang, H. 2013. Efektivitas Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan

Hasil Belajar Siswa Sekolah Menengah kejuruan Pada pengajaran Sistem

Koloid. Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan Volume 19(1): 28-36

Situmorang, R. 2013. Pengaruh Metode Peta Pikiran terhadap Hasil belajar siswa pada

Materi Suhu dan Kalor di SMA Negeri 2 Tebing Tinggi.. Jurnal Penelitian Bidang

Pendidikan Volume 19(1): 19-27.

Sudjana, N., (2005), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung, PT

Remaja Rosdakarya

Suharta & Lynna P. 2013. Pengembangan Karakter Kejujuran dan Kemandirian

Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Berbasis

Masalah. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Lembaga Penelitian Unimed

Tahun 2013 Bidang Pendidikan.

Tatli Z. (2011). Development, Application and Evaluation of Virtual Chemistry

Laboratory Experiments for "Chemical Changes" Unit at Secondary

School 9th Grade Curriculum.PhD. Karadeniz Technical University.

Tatli, Z., & Ayas, A., (2012), Virtual Chemistry Laboratory : Effect of

constructivist Learning Environment, Turkish Online Journal of Distance

Education, 13: 1-12

Taufiq. A.K. 2010. Strategi Belajar Mengajar Pendidikan Luar Sekolah.

http://id.netlog.com/adekhaerudin/blog/blogid=25922 (diakses 12

(30)

77

Tezcan, H., & Bilgin, E. (2004). Affects of laboratory method and other factors

on the student success in the teaching of the solvation subject at the high

schools. J Gazi Educ Fac, 24:175-191.

Tuysuz, C. 2010. The Effect of the Virtual Laboratory on Students’ Achievement

and Attitude in Chemistry. IOJES 2(1):37-53

Tim Pascasarjana UNIMED, (2010), Pedoman Administrasi dan Penulisan

Tesis & Disertasi.Medan: Program Pascasarjana UNIMED

Wasonowati, RTR, dkk. 2014. Penerapan Model Problem Based Learning (Pbl)

Pada Pembelajaran Hukum - Hukum Dasar Kimia Ditinjau Dari Aktivitas

Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Ipa Sma Negeri 2 Surakarta Tahun

Pelajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 3 No. 3 Tahun

2014

Widyantini, Theresia. 2014. Penerapan Model Project Based Learning (Model

Pembelajaran Berbasis Proyek) dalam Materi Pola Bilangan Kelas VII.

PPPPTK Matematika

Wijayanto, Dedi dkk. 2013. Pengembangan Buku Petunjuk Praktikum Kimia Sma

(31)

Gambar

Gambar 4.1. Uji Kelayakan Penuntun Praktikum Model Penemuan dan Model

Referensi

Dokumen terkait

mengetahui apakah hasil belajar kognitif siswa pada materi praktikum hidrolisis garam “uji larutan garam dalam air” setelah melakukan kegiatan praktikum

Viandhika Ditama.PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ADOBE FLASH UNTUK PEMBELAJARAN KIMIA MATERI HIDROLISIS GARAM SMA KELAS XI. Skripsi, Fakultas

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan media pembelajaran di bidang pendidikan Kimia. Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengembangkan buku Penuntun Praktikum Kimia SMA

Langkah penelitian meliputi: (a) Analisis penuntun praktikum yang dipergunakan di kelas XI semester II; (b) Pengembangan penuntun praktikum IBM untuk materi kimia

Berdasarkan hasil angket yang disebarkan kepada 5 (lima) guru kimia yang mengajar di kelas X SMA menyatakan penuntun praktikum layak (81%), 2 (dua) orang Dosen Kimia

Sebelum dilakukan penelitian penuntun praktikum telah dinilai dengan presepsi oleh 20 guru kimia dan 2 dosen kimia dengan menggunakan angket BSNP Modifikasi

Berdasarkan hasil penilaian uji kelayakan buku penuntun praktikum kimia SMA kelas X semester II dapat diketahui bahwa hasil penilaian guru kimia SMA kelas X lebih rendah

i ABTSRAK Sriwahyuni Naibaho : Pengembangan Modul Pembelajaran Kimia Berbasis Problem Based Learning untuk Sekolah Penggerak fase F SMA/MA pada Materi Hidrolisis Garam Tujuan dari