IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT
TERHADAP PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN
PERIODE JANUARI-JUNI 2017
SKRIPSI
OLEH : RIZKI AMALIA
NIM 121501026
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT
TERHADAP PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD Dr. PIRNGADI KOTA MEDAN
PERIODE JANUARI-JUNI 2017
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH : RIZKI AMALIA
NIM 121501026
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan karunia yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini, shalawat serta salam teruntuk Baginda Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, dengan judul Identifikasi Drug Related Problems (DRPs) pada Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut terhadap Pasien Anak di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari-Juni 2017.
Penulis menyadari tanpa bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan, penelitian sampai pada penyusunan skripsi, sulit rasanya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesar- besarnya kepada Ibu Yuandani, M.Si., Ph.D., Apt., selaku dosen pembimbing skripsi dan pembimbing akademik saya yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan bantuan serta saran-saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ibu Prof. Dra. Azizah Nasution, M.Sc., Ph. D., Apt., dan Ibu Marrianne, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Prof. Dr.
Masfria, M.S., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan fasilitas dan masukan selama masa pendidikan dan
penelitian. Bapak dan Ibu Staf Pengajar Fakultas Farmasi USU Medan yang telah mendidik saya selama perkuliahan.
Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih serta penghargaan yang tulus dan tak terhingga kepada orang tua tercinta Ayahanda Muhammad Yakub dan Ibunda Hayani atas doa dan dukungan baik moril maupun materiil semangat dan doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan untuk saya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Syafaruddin Panjaitan yang selalu mendukung dan menyediakan waktunya untuk membantu,dan penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Ida, Wan Nurul, Elis, Aini, Shafika, Della dan seluruh teman-teman Farmasi Klinis 2012, terimakasih telah meluangkan waktunya dalam membantu skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang farmasi.
Medan, Mei 2018 Penulis,
Rizki Amalia NIM 121501026
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Rizki Amalia
Nomor Induk Mahasiswa : 121501026
Program Studi : Sarjana Farmasi S-1 Reguler Farmasi
Judul Skripsi : Identifikasi Drug Related Problem (DRPs) pada Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Terhadap Anak di Instalasi Rawat Jalan Di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari-Juni 2017.
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat adalah hasil karya saya sendiri, bukan plagiat dan apabila dikemudian hari diketahui skripsi saya ini plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia menerima sanksi yang diberikan oleh Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Sumatera Utara. Saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut. Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dalam keadaan sehat.
Medan, Mei 2018
Yang Membuat Pernyataan,
Rizki Amalia NIM 121501026
IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs)PADA
PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT TERHADAP PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD Dr.PIRNGADI
KOTA MEDAN PERIODE JANUARI-JUNI 2017
ABSTRAK
Infeksi Saluran Pernapasan Akut merupakan infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah.
Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis angka kejadian DRPs pada penatalaksanaan pasien ISPA di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Pirngadi Medan.
Penelitian ini bersifat retrospektif dilakukan dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari rekam medis pasien ISPA di RSUD Dr.Pirngadi Medan periode Januari – Juni 2017 menggunakan metode deskriptif dan analisis dengan menggunakan klasifikasi DRPs menurut Pharmaceutical Care Practice : The Clinician’s Guide yang telah dimodifikasi yaitu indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, obat tidak efektif, dosis tinggi, dosis rendah, dan reaksi obat merugikan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24 pasien terdapat 10 pasien dengan persentase sebanyak 41,66% mengalami DRPs. DRPs yang terjadi adalah obat tanpa indikasi sebanyak 30,76%; dosis rendah sebanyak 15,35%, dan dosis tinggi sebanyak 53,92%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa telah terjadi Drug Related Problems pada pengobatan infeksi saluran pernapasan akut terhadap pasien anak di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Medan periode januari- juni 2017.
Kata kunci: Drug Related Problems, Infeksi Saluran Pernapasan Akut, Anak
IDENTIFICATION OF DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) ON THE MEDICATION OF ACUTE RESPIRATORY TRACT INFECTION TO
PEDIATRIC PATIENT IN DR. PIRNGADI HOSPITAL MEDAN PERIODE JANUARY-JUNE 2017
ABSTRACT
Acute respiratory infection (ARI) is an acute infection involving upper respiratory tract and lower respiratory tract. This infection is caused by viruses, fungi and bacteria. This research aims to analyze DRPs of ARI’S treatment ARI to pediatric patient in Dr. Pirngadi hospital Medan.
This research was using retrospective data collected from the medical records of ARI patient in Dr. Pirngadi Hospital Medan periode Jnuary- june 2017 with descriptive method and then analyzed by using DRPs classification according to Pharmaceutical Care Practice : The modified Clinician’s Guide is indication without drugs, medications without indication, ineffective drug, high doses, low doses, and adverse drug reactions.
The results showed that, there are 10 patients (41.66%) from 24 patient experienced DRPs. The most common DRPs occured : unnecessary drug therapy (30.76 %), needs additional drug therapy (15.35 %), and too high dosage (53.92
%). Thus it can be concluded that there has been a Drug Related Problems on the treatment of ARI disease to child patients in installation Dr. Pirngadi Hospital Medan.
Keywords: Drug Related Problems (DRPs) , Acute respiratory infection (ARI) of Child
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
SURAT PERNYATAAN ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Kerangka Pikir Penelitian ... 3
1.3 Perumusan Masalah ... 4
1.4 Hipotesis ... 4
1.5 Tujuan Penelitian ... 4
1.6 Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Drug Related Problems (DRPs) ... 6
2.1.1 Definisi ... 6
2.2 Infeksi Saluran Pernapasan Akut ... 11
2.2.1 Pengertian ISPA ... 12
2.2.2 Penyebab ISPA ... 12
2.2.3 Jenis ISPA ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 18
3.1 Jenis Penelitian... 18
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 18
3.2.1 Waktu Penelitian ... 18
3.2.2 Lokasi Penelitian ... 18
3.3 Populasi dan Sampel ... 18
3.3.1 Populasi ... 18
3.3.2 Sampel ... 19
3.4 Definisi Operasional ... 19
3.5 Instrumen Penelitian ... 20
3.5.1 Sumber Data ... 20
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 20
3.6 Bagan Alur Penelitian ... 20
3.7 Langkah Penelitian... 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 22
4.1 Demografi Pasien Infeksi Saluan Pernafasan Akut ... 22
4.2 Karakteristik Pasien ... 22
4.2.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit .. 22
4.2.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ... 23
4.2.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ... 24
4.3 Profil Penggunaan Obat ... 24
4.4 Jumlah Penggunaan Obat ... 24
4.5 Drug Related Problems (DRPs)... 26
4.5.1 DRPs Kategori Dosis Rendah ... 27
4.5.2 DRPs Kategori Dosis Tinggi ... 28
4.5.3 DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi ... 29
4.5.4 DRPs Kategori Indikasi Tanpa Obat ... 30
4.5.5 DRPs Kategori Interaksi Obat ... 30
4.5.6 DRPs Kategori Ketidaktepatan Pemilihan Obat ... 31
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 32
5.1 Kesimpulan ... 32
5.2 Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
LAMPIRAN ... 36
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Jenis DRPs Penyebab yang Mungkin Terjadi Menurut PCNE ... 10
4.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit ... 22
4.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia ... 23
4.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin ... 24
4.4 Profil Penggunaan Obat Infeksi Saluran Pernapasan Akut ... 25
4.5 Jumlah Penggunaan Obat ... 26
4.6 Kategori Drug Related Problems ... 27
4.7 Dosis Rendah ... 28
4.8 Dosis Tinggi... 29
4.9 Obat Tanpa Indikasi ... 30
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Skema Hubungan Variabel Bebas dan Variabel Terikat ... 3 2.1 Bagan Alur Penelitian ... 20 3.1 Persentase Kategori DRPs... 27
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Data Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut ... 37
2 Hasil Analisi DRPs Dosis Rendah dan Dosis Tinggi... 45
3 Hasil Analisis DRPs Kategori Obat Tanpa Indikasi ... 49
4 Surat Judul Penelitian ... 52
5 Surat Selesai Melakukan Penelitian di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan ... 53
6 Surat Komisi Etik Bidang Kesehatan ... 54
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, sebanyak 98% disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA merupakan salah satu penyebab utama rawat jalan atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan anak (WHO, 2007).
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk diperhatikan, karena merupakan penyakit akut dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada balita di berbagai negara berkembang termasuk negara Indonesia. Infeksi saluran pernapasan akut disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak (Depkes RI, 2013).
Salah satu faktor terjadinya ISPA adalah dapur yang terletak di dalam rumah bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain.
Terjadinya ISPA pada balita bila paparan polutan yang lebih lama sehingga dosis pencemaran semakin tinggi (Asriati, 2012).
Menurut data riset kesehatan dasar (Riskesdas, 2013) dinyatakan bahwa periode prevalensi nasional ISPA di Indonesia yaitu 25%. Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu sebesar 25,8 %. Sedangkan periode prevalensi ISPA pada anak usia 5-14 tahun adalah 15,4 % (Riskesdas, 2013) dan persentase ini meningkat jika dibandingkan dengan periode prevalensi ISPA pada tahun 2007 yaitu sebesar 9,2% (Depkes RI, 2013).
Periode prevalensi ISPA di provinsi Bangka Belitung pada pasien yang hanya terdiagnosis adalah 9,2 % dan pasien yang terdiagnosis serta menunjukkan gejala yaitu 23,4% (Depkes RI, 2013).
Drug Related Problems merupakan suatu kejadian yang tidak diharapkan dari pengalaman pasien atau diduga akibat terapi obat sehingga potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki (Cipolle, dkk., 1998).
Drug Related Problems dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori yaitu kurang dosis, dosis lebih, salah obat, obat tanpa indikasi, indikasi tanpa obat, interaksi obat, dan kepatuhan pasien (Cipolle, dkk., 2004).
Drug Related Problems merupakn bagian dari medication error atau kegagalan terapi. Penggunaan obat didalam pengobatan suatu penyakit bertujuan untuk menyembuhkan, mencegah timbulnya gejala serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Namum dalam proses maupun hasil terapi seringkali ditemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan obat (Arlinda, 2016).
Polifarmasi merupakan salah satu penyebab terjadinya drug related problem (DRPs) yang dapat mempengaruhi keberhasilan terapi pasien. DRPs
adalah kejadian tidak diinginkan yang dialami oleh pasien, akibat terapi obat, dan mengganggu pencapaian target terapi (Cipolle, dkk., 2004).
Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pada pengobatan pasien infeksi saluran pernapasan akut di instalasi rawat jalan di RSUD Dr.Pirngadi kota Medan terhadap kemungkinan terjadinya DRPs.
Penelitian ini bersifat retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien dari data rekam medik tersebut diidentifikasi kejadian DRPs pada pasien infeksi saluran pernapasan akut sehingga diharapkan dapat menjadi bahan petimbangan dalam meningkatkan kualitas pelayanan sehingga dapat dicapai terapi yang diharapkan.
1.2 Kerangka Pikir Penelitian
Penelitian ini mengkaji tentang identifikasi DRPs pada pasien anak infeksi saluran pernapasan akut di rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Juni 2017. Penelitian ini menggunakan metode Cipolle, terdapat 6 kategori DRPs yaitu : obat tanpa indikasi, indikasi tanpa obat, dosis rendah, dosis tinggi, interaksi obat, dan ketidaktepatan pemilihan obat. Adapun selengkapnya mengenai gambaran kerangka pikir penelitian adalah sebagai berikut:
Gambar 1.1.
Variabel bebas Variabel Terikat Parameter
CC ( Cipolle, dkk., 2004)
Gambar 1.1 Skema Hubungan variabel bebas dan variabel terikat.
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan beberapa hal yang telah dikemukakan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terjadi drug related problems pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di RSUD Dr. Pirngadi kota Medan periode Januari-Juni 2017?
1.4 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dinyatakan, maka hipotesis penelitian ini adalah: terjadi drug related problems pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di instalasi rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Juni 2017.
1.5 Tujuan Penelitian Karakteristik Pasien:
1. Umur
2. Jenis Kelamin 3. Diagnosa
Penggunaan obat- obat yang tercatat dalam rekam medis pasien infeksi saluran pernapasan akut
DRPs
1. Indikasi tanpa obat 2. Obat tanpa indikasi 3. Dosis rendah 4. Dosis tinggi 5. Ketidaktepatan
pemilihan obat 6. Interaksi obat
Penelitian ini memiliki berapa tujuan yakni untuk :
a. mengetahui adanya kejadian drug related probems pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di instalasi rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi kota Medan.
b. mengetahui seberapa besar tingkat kejadian drug related problems pada pasien infeksi saluran pernapasan akut di instalasi rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi kota Medan.
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini :
a. menambah pengetahuan peneliti tentang DRPs
b. hasil penelitian dapat digunakan untuk bahan evaluasi bagi pihak rumah sakit mengenai pelaksanaan pengobatan pasien anak infeksi saluran pernapasan akut di RSUD Dr. Pirngadi kota Medan.
c. meminimalkan kejadian DRPs sehingga memaksimalkan terapi.
d. sebagai bahan pertimbangan untuk peneliti selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Drug Related Problem 2.1.1 Definisi
Drug Related Problems adalah kejadian yang tidak diharapkan, berupa
pengalaman pasien yang melibatkan atau diduga melibatkan terapi obat yang potensial mengganggu keberhasilan penyembuhan yang diharapkan (Cipolle, dkk., 1998). Pharmaceutical Care Network Europe mendefinisikan masalah terkait obat (DRPs) adalah suatu peristiwa atau kejadian yang melibatkan terapi obat yang aktual atau berpotensi mengganggu outcome terapi (PCNE, 2010). Identifikasi DRPs menjadi fokus penilaian dan pengambilan keputusan terakhir dalam tahap proses patient care (Cipolle, dkk., 2004).
2.1.2 Klasifikasi Drug Related Problems
Menurut Cipolle, dkk., 1998, DRPs dikategorikan ke dalam 7 kelompok yaitu ketidaktepatan pemilihan obat, dosis rendah, dosis tinggi, butuh terapi tambahan (indikasi tanpa obat), terapi yang tidak perlu (obat tanpa indikasi), efek samping yang merugikan, serta kepatuhan pasien.
Adapun kasus masing-maasing kategori DRPs yang terjadi menurut Cipolle dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Ketidaktepatan pemilihan obat merupakan keadaan dimana pasien telah diresepkan obat yang tidak tepat. Pertama, terapi obat yang digunakan untuk mengobati kondisi medis pasien tidak efektif. Kedua, obat yang diterima pasien
bukan merupakan obat yang paling efektif. Ketiga, pasien mempunyai kontraindikasi atau menimbulkan alergi terhadap obat yang diterima. Keempat, pasien menerima kombinasi obat yang sama efektifnya dengan terapi obat tunggal. Kelima, pasien menerima obat yang lebih mahal bukan obat yang lebih murah dan memiliki efektivitas yang sama (Mahmoud, 2008).
b. Dosis Rendah
Dosis rendah dapat menyebabkan terjadinya DRPs, hal ini dikarenakan dosis tidak cukup atau terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan sehingga obat tersebut tidak memberikan efek yang seharusnya. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian dosis obat oleh apoteker klinis yang memperhitungkan semua obat yang tepat, penyakit dan informasi spesifik pasien dapat menurunkan jumlah masalah dosis pada pasien. Selain itu, parameter seperti usia dan berat badan sering dapat berguna untuk membantu dalam menentukan dosis obat yang optimal untuk pasien (Mahmoud, 2008).
c. Dosis Tinggi
Seperti yang dinyatakan oleh Cipolle, dkk., 1998, ketika seorang pasien menerima dosis obat yang terlalu tinggi dan mengalami efek toksik yang tergantung dosis atau konsentrasi menunjukkan pasien mengalami DRPs.
Penyebab terjadinya yaitu ketika dosis obat dinaikkan cepat, frekuensi pemberian, durasi terapi, cara pemberian obat pada pasien yang tidak tepat, dan konsentrasi obat diatas kisaran terapi (Cipolle, dkk., 1998).
d. Indikasi Tanpa Obat
Indikasi tanpa obat adalah terjadi ketika pasien mengalami gangguan medis baru yang memerlukan terapi obat, pasien menderita penyakit kronis lain sehingga membutuhkan terapi obat lanjutan, pasien membutuhkan kombinasi obat
untuk memperoleh efek sinergis, pasien berpotensi untuk mengalami resiko gangguan penyakit baru yang dapat dicegah dengan penggunaan terapi obat profilaksis atau premedikasi (Mahmoud, 2008).
e. Obat Tanpa Indikasi
Obat tanpa indikasi terjadi ketika seorang pasien mengambil terapi obat yang tidak perlu, yang indikasi klinisnya tidak ada pada saat itu. Ada beberapa penyebab obat tanpa indikasi (Mahmoud, 2008).
f. Reaksi Obat yang Merugikan
Reaksi obat yang merugikan merupakan efek negatif yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh obat-obatan yang tidak dapat diprediksi berdasarkan konsentrasi dosis atau tindakan farmakologis (Mahmoud, 2008)
Menurut WHO, reaksi obat yang merugikan (Adverse Drug Reactions/ADR) digambarkan sebagai respon terhadap obat yang tidak diinginkan
dan berbahaya, yang terjadi pada dosis yang biasanya digunakan untuk profilaksis, diagnosis atau terapi penyakit, atau untuk modifikasi fungsi fisiologis (Mahmoud, 2008).
Seorang pasien dapat mengalami ADR karena pemberian obat yang tidak aman, reaksi alergi, pemberian obat yang salah, interaksi obat, penurunan atau peningkatan dosis yang cepat atau efek yang tidak diinginkan dari obat yang tidak bisa diprediksi. Misalnya, pendarahan karena dosis yang lebih tinggi dari obat antikoagulan seperti warfarin atau heparin merupakan ADR (Mahmoud, 2008).
Interaksi obat salah satu masalah terkait obat (drug related problems) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau
farmakodinamika obat dalam tubuh berubah dengan adanya satu atau lebih zat yang
berinteraksi (Piscitelli, 2005). Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung, antikoagulan, dan obat- obat sitostatik (Setiawati, 2007).
g. Ketidakpatuhan Pasien
Ketidakpatuhan pasien dapat terjadi ketika pasien menggunakan obat tidak sesuai dengan aturan yang diberikan dan pasien memiliki kondisi ekonomi yang tidak mampu sehingga pasien tidak menebus obat yang telah diresepkan. Kasus ini perlu bantuan farmasis untuk memberikan informasi obat pada pasien sehingga tercapai efek terapi yang diinginkan. (Strand, dkk., 1990).
Menurut Strand, dkk., 1990 mengklasifikasikan DRPs menjadi 8 kategori besar:
a. Pasien mempunyai kondisi medis yang membutuhkan terapi obat pasien tidak mendapatkan obat untuk indikasi tersebut.
b. Pasien mempunyai kondisi medis dan menerima obat yang mempunyai indikasi medis valid.
c. Pasien mempunyai kondisi medis tetapi mendapatkan obat yang tidak aman, tidak paling efektif, dan kontraindikasi dengan pasien tersebut.
d. Pasien mempunyai kondisi medis dan mendapatkan obat yang benar tetapi dosis obat tersebut kurang
e. Pasien mempunyai kondisi medis dan mendapatkan obat yang benar tetapi
dosisobat tersebut lebih.
f. Pasien mempunyai kondisi medis akibat dari reaksi obat yang merugikan.
g. Pasien mempunyai kondisi medis akibat interaksi obat-obat, obat-makanan, obat-hasil laboratorium.
h. Pasien mempunyai kondisi medis tetapi tidak mendapatkan obat yang dibutuhkan (Strand, dkk., 1990).
Menurut PCNE Pada tahun 1999 oleh praktik farmasi konferensi kerja PCNE dalam upaya untuk mengembangkan sistem klasifikasi standar untuk masalah, penyebab, dan intervensi sebagai sistemklasifikasi PCNE. Drug related problems adalah suatu peristiwa atau keadaan melibatkan terapi obat
yang benar-benar atau berpotensi mengganggu hasil kesehatan yang diinginkan. Klasifikasi DRPs menurut Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) seperti pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis DRPs Penyebab yang Mungkin Terjadi Menurut PCNE Kode V7.0 Domain Primer
Masalah (Problems) P1 EfektivitasPengobatan
Ada (potensial) masalah dengan Berkurangnya efek dari farmakoterapi P2 Reaksi obat merugikan
Pasien mendapatkan efek samping, Dari kejadian obat merugikan
P3 Lain-lain
Penyebab (Causes) C1 Pemilihan obat
Penyebab DRP dapat berhubugan dengan pemilihan obat
C2 Bentuk sediaan obat
Penyebab DRP dapat berhubungan dengan pemilihanbentuk sediaan obat
C3 Pemilihan
Penyebab DRP yang berhubungan dengan jadwal pemberian dosis
C4 Durasi pengobatan
Penyebab DRP dapat berhubungan dengan durasi pengobatan
C5 Pemberian obat
Penyebab DRP dapat berhubungan dengan logistic resep dan proses pengeluaran
C6 Penggunaaan obat / proses
Penyebab DRP dapat berkaitan dengan cara pasien mendapatkan obat dari professional kesehatan atau perawat, tidak berhubungan dengan instruksi dosis yang tepat
C7 Pasien
Penyebab DRP dapat berhubungan dengan kepribadian dan tingkah laku pasien
C8 Lain-lain
Rencana intervensi (planned interventions)
10 Tidak ada intervensi 11 Pada tingkat peresepan 12 Pada tingkat pasien 13 Pada tingkat pengobatan
14 Lain-lain
Intervensi diterima (Intervention
Acceptance)
A1 Intervensi diterima A2 Intervensi tidak diterima
A3 Lain-lain
DRP Status (Status of the DRP)
O0 Status masalah tidak diketahui O1 Masalah diselesaikan
O2 Masalah sebagian diselesaikan O3 Masalah tidak diselesaikan
(PCNE, 2016) 2.2 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
2.2.1 Pengertian ISPA
Infeksi saluran pernapasan akut adalah infeksi saluran pernafasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung patogen penyebabnya dan faktor lingkungan (WHO, 2007).
(Lanjutan). Jenis DRPs Penyebab yang Mungkin Terjadi Menurut PCNE
Batasan istilah ISPA menurut Depkes RI, mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluran pernapasan dan akut. Pengertian masing-masing batasan adalah:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran pernapasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
3. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari ini diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat dinyatakan infeksi saluran pernapasan akut proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari (Suhandayani, 2007).
2.2.2 Penyebab ISPA
Secara umum penyebab dari infeksi saluran napas adalah berbagai mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri. Infeksi saluran napas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa infeksi lebih mudah terjadi pada musim hujan. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi saluran napas antara lain faktor lingkungan, perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan diri maupun publik, serta rendahnya gizi. Faktor lingkungan meliputi belum terpenuhinya sanitasi dasar seperti air bersih, pengelolaan sampah, limbah, pemukiman sehat hingga pencemaran air dan udara (Syamsudin, 2013).
2.2.3 Jenis ISPA
a. Otitis Media
Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah. Infeksi ini banyak menjadi problem pada bayi dan anak – anak. Otitis media mempunyai puncak insiden pada anak usia 6 bulan - 3 tahun dan diduga penyebabnya adalah obstruksi tuba Eustachius dan menurunnya imunokompetensi pada anak.
Beberapa anak yang memiliki kecenderungan otitis akan mengalami 3-4 kali episode otitis pertahun atau otitis media yang terus menerus selama > 3 bulan (Betz dan Showden, 2009).
Patogen yang paling umum menginfeksi pada anak usia 5 tahun adalah Streptococcus pneumoniae (35%), Haemophilus influenzae (25%), Moraxella catarrhalis (10%) dan sekitar 20-30% diduga etiologi oleh virus. Antimikroba
oral Amoksisilin menjadi pilihan pertama untuk mengatasi otitis media (Sukandar, 2009).
Terapi otitis media akut meliputi pemberian antibiotik oral dan tetes bila disertai pengeluaran sekret. Lama terapi adalah 5 hari bagi pasien risiko rendah (yaitu usia > 2 tahun serta tidak memiliki riwayat otitis ulangan ataupun otitis kronik) dan 10 hari bagi pasien risiko tinggi. Amoksisilin merupakan antibiotik pilihan pertama pada terapi otitis media. Pilihan kedua dapat digunakan amoksisilin-klavulanat, kotrimoksazol, sefuroksim, ceftriaxone, cefprozil dan Sefiksim (Dipiro, dkk., 2008).
b. Rhinitis
Rhinitis didefinisikan sebagai penyakit inflamasi membran mukosa dari nasal dan nasopharing. Sama halnya dengan sinusitis, rhinitis bisa berupa penyakit akut dan kronis yang kebanyakan disebabkan oleh virus dan alergi. Keluhan utama yang dirasakan pasien meliputi hidung berair. Rhinitis paling sering akan menyertai infeksi virus akut pada saluran pernapasan atas, yang sering dikenal dengan influenza (common cold). Virus disebarkan melalui droplet yang berasal dari bersin (Lumbanraja, 2008).
Patofisiologi rhinitis adalah terjadinya inflamasi dan pembengkakan mukosa hidung, sehingga menyebabkan edeme dan mengeluarkan sekret hidung.
Manifestasi klinis penyakit rhinitis ini meliputi bersin, batuk, hidung berair, demam ringan, sakit tenggorokan dan tidak enak badan (Lumbanraja, 2008).
c. Faringitis
Faringitis adalah peradangan pada mukosa faring dan sering meluas kejaringan sekitarnya. Faringitis banyak diderita anak-anak usia 5-15 tahun di daerah dengan iklim panas. Faringitis yang paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes yang merupakan Streptococci Grup A hemolitik.
Streptococci hemolitik Grup A hanya dijumpai pada 15-30% dari kasus faringitis pada anak-anak dan 5-10% pada faringitis dewasa (Walker, 2007).
Sejumlah antibiotik terbukti efektif pada terapi faringitis oleh Streptococci grup A, yaitu mulai dari Penicillin dan derivatnya, sefalosporin maupun makrolida. Penicillin tetap menjadi pilihan karena efektivitas dan keamanannya sudah terbukti, spektrum sempit serta harga yang terjangkau. Amoksisilin menempati tempat yang sama dengan penicilin, khususnya pada anak-anak dan
menunjukkan efektifitas yang setara. Lama terapi dengan antibiotik oral rata-rata selama 10 hari untuk memastikan eradikasi Streptococcus (Depkes RI, 2005).
d. Sinusitis
Sinusitis merupakan peradangan pada mukosa sinus pranasal. Peradangan ini banyak dijumpai pada anak dan dewasa. Sinusitis dibedakan menjadi sinusitis akut, sinusitis subakut, sinusitis kronik. Sinusitis akut yaitu infeksi pada sinus pranasal sampai dengan selama 30 hari baik dengan gejala yang menetap maupun berat. Gejala menetap yang dimaksud adalah gejala seperti adanya cairan dari hidung, batuk siang hari yang akan bertambah parah pada malam hari yang bertahan selama 10-14 hari, sedangkan yang dimaksud dengan gejala yang berat adalah disamping adanya sekret hidung yang purulen juga disertai demam (bisa sampai 39°C) selama 3-4 hari. Sinusitis kronik didiagnosis bila gejala sinusitis terus berlanjut hingga lebih dari 6 minggu. Bakteri yang paling umum menjadi penyebab sinusitis akut adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Patogen yang menginfeksi pada sinusitis
kronik sama seperti pada sinusitis akut dengan ditambah adanya keterlibatan bakteri anaerob dan Staphilococcus aureus (Depkes RI, 2005).
Terapi pokok sinusitis meliputi pemberian antibiotik dengan lama terapi 10-14 hari. Untuk gejala yang menetap setelah 10-14 hari maka antibiotik dapat diperpanjang hingga 10-14 hari lagi. Tujuan dari terapi sinusitis adalah mengurangi tanda dan gejala, mengurangi viskositas sekret dan mengeradikasi kuman (Dipiro, dkk., 2008).
e. Bronkhitis
Bronkhitis adalah kondisi peradangan pada daerah trakheobronkhial.
Peradangan tidak meluas sampai alveoli. Bronkhitis seringkali diklasifikasikan sebagai akut atau kronik. Bronkhitis akut umumnya terjadi pada musim dingin, hujan, kehadiran polutan yang mengiritasi seperti rhinovirus, influenza A dan B, coronavirus, parainfluenza dan respiratory synctial virus (Walker, 2007).
Bronkitis kronik adalah peradangan pada bronkus yang bertahan untuk jangka waktu yang panjang atau sering terjadi. Bronkitis kronik adalah bentuk dari PPOK. Merokok adalah penyebab utama bronkhitis. Perokok pasif juga dapat terkena bronkhitis kronik. Polusi udara, infeksi, dan alergi membuatnya lebih buruk, Pasien yang menderita bronkhitis kronik mengalami kelebihan produksi lendir yang mengiritasi bronkus menyebabkan pasien mengalami batuk produktif yang persisten (Kamienski, 2015).
Terapi antibiotik pada bronkhitis akut tidak dianjurkan kecuali bila disertai demam dan batuk yang menetap lebih dari 6 hari, karena dicurigai adanya keterlibatan bakteri saluran napas seperti S. pneumoniae, H. influenzae. Untuk batuk yang menetap >10 hari diduga adanya keterlibatan Mycobacterium pneumonia sehingga penggunaan antibiotik disarankan. Lama terapi dengan
antibiotik selama 5-14 hari (Dipiro, dkk., 2008).
f. Bronkhiolitis
Bronkhiolitis merupakan penyakit saluran pernapasan yang lazim, akibat dari obstruksi radang saluran pernapasan kecil. Disebabkan oleh Virus Sinsisium Respiratorik (VSR), Virus Para Influenzae, mikroplasma, dan Adenovirus.
Penyakit ini biasanya terjadi selama umur 2 tahun pertama, dengan insiden puncak sekitar umur 6 bulan (Behrman, 1999).
Bronkhiolitis didahului oleh infeksi saluran bagian atas disertai dengan batuk pilek beberapa hari, tanpa disertai kenaikan suhu, sesak napas, pernapasan dangkal dan cepat, batuk dan gelisah (Ngastiyah, 2005). Pengobatan yang dapat digunakan dengan Antivirus yaitu Ribavirin adalah obat antivirus bersifat virus statik. Ribavirin dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas penderita bronkiolitis dengan penyakit jantung jika diberikan sejak awal. Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol dengan dosis 20 mg/mL diberikan dalam 12-18 jam per hari selama 3-7 hari (WHO, 2005).
Pemberian Antibiotik tidak perlu karena sebagian besar kasus disebabkan oleh virus, kecuali bila dicurigai ada infeksi tambahan. Terapi antibiotik sering digunakan berlebihan karena khawatir terhadap infeksi bakteri yang tidak terdeteksi, padahal hal ini justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut; sehingga penggunaannya diusahakan hanya berdasarkan indikasi (Ralston, dkk., 2014).
g. Pneumonia
Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkial dan alveoli yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus. Pneumonia sering dimulai dengan infeksi pada saluran pernapasan atas. Gejala dapat timbul 2 hingga 3 hari setelah pilek atau sakit tenggorokan. Gejalanya meliputi demam, menggigil, batuk, napas cepat, mengi, dan atau bunyi napas mendengus, sesak napas, muntah, nyeri dada, nyeri perut, hilangnya nafsu makan, penurunan aktivitas, dan dalam kasus ekstrim munculnya tanda-tanda hipoksia (kadar oksigen rendah) (Thorp, 2008).
Mikroorganisme penyebab pneumonia meliputi: bakteri, virus, mycoplasma, chlamydia jamur. Pneumonia oleh karena virus banyak dijumpai
pada pasien immunocompromised, bayi, dan anak, seperti, influenza type A, parainfluenza, adenovirus (Depkes RI, 2005).
Penatalaksanaan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri sama seperti infeksi pada umumnya yaitu dengan pemberian antibiotik yang dimulai secara empiris dengan antibiotik spektrum luas sambil menunggu hasil kultur. Setelah bakteri patogen diketahui, antibiotik diubah menjadi antibiotik berspektrum sempit sesuai jenis patogennya (Kamienski, 2015).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif menggunakan desain pendekatan retrospektif, yaitu analisis dengan metode pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai subjek penelitian, yang diarahkan pada penyajian informasi mengenai data yang diperoleh melalui proses penelitian (Notoatmodjo, 2010).
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian
3.2.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari- Juni 2017.
3.2.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan diInstalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan. Jl.Prof. H.M Yamin S.H NO.47, Perintis, Medan Timur, Kota Medan.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data rekam medis pasien pengobatan infeksi saluran pernapasan akut terhadap pasien anak di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Medan periode Januari- Juni 2017.
3.3.2 Sampel
Sampel yang dipilih pada penelitian ini harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil menjadi sampel (Notoatmodjo, 2010).
Kriteria inklusi adalah:
a. Rekam medis pasien yang didiagnosa pada pasien pengobatan infeksi saluran pernapasan akut dengan atau tanpa penyakit penyerta lainnya..
b. Rekam medis yang memuat data lengkap.
Kriteria eksklusi adalah:
a. Rekam medis yang tidak memenuhi syarat kriteria inklusi.
b. Rekam medis dengan data yang hilang atau tidak lengkap (tidak memenuhi informasi dasar yang dibutuhkan).
3.4 Definisi Operasional
a. Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
b. Obat tidak efektif adalah DRPs dimana diberikan terapi obat yang tidak aman, tidak efektif, dan kontra indikasi dengan kondisi pasien serta tidak menimbulkan efek terapi yang diinginkan.
c. Dosis rendah adalah dosis dibawah nilai atau batas dosis yang lazim digunakan.
d. Dosis tinggi adalah pemakaian dosis diatas nilai batas dosis lazim.
e. Interaksi obat adalah situasi dimana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat, yaitu meningkatkan atau menurunkan efek, atau menghasilkan efek baru yang berbeda.
3.5 Instrumen Penelitian
3.5.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa rekam medis pasien penyakit infeksi saluran pernapasan akut pada anak periode Januari- Juni 2017.
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan rekam medis pasieninfeksi saluran pernafasan akut di instalasi rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan periode Januari-Juni 2017. Data yang dikumpulkan kemudian diolah berdasarkan karakteristik yang sama dari pasien, yaitu jenis kelamin, usia, diagnosa, dan penggunaan terapi obat pasien, lalu diidentifikasi masalah terapi obat yang terjadi pada pasien.
3.6 Bagan Alur Penelitian
Adapun rencana mengenai pelaksaan penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 3.1 Bagan alur penelitian
3.7 Langkah Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
a. meminta rekomendasi Dekan Fakultas Farmasi USU untuk dapat melakukan penelitian diInstalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
b. menghubungi Direktur Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan untuk mendapatkan izin melakukan penelitian dan pengambilan data, dengan membawa surat rekomendasi dari fakultas.
c. mengumpulkan data berupa rekam medis yang tersedia diInstalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan.
Pengumpulan data rekam medis pasien
Seleksi dan pengelompokan data berdasarkan criteria inklusi
Identifikasi DRPs, meliputi:
1. Indikasi tanpa obat 2. Obat tanpa indikasi 3. Obat tidak efektif
Analisis data
Penarikan kesimpulan
d. menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.
3.8 Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif. Tabel akan disajikan untuk menggambarkan data yang bersifat kuantitatif dan diuraikan untuk menggambarkan data yang bersifat kualitatif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Demografi Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Berdasarkan hasil penelitian dari seluruh data rekam medis pasien anak, di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2017– Juni 2017 diperoleh 28 pasien anak dengan diagnosa penyakit ISPA di Instalasi Rawat Jalan dan terdapat 24 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi adalah pasien anak pendrita ISPA pada instalasi Rawat Jalan di RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2017 – Juni 2017 dengan rekam medis lengkap dan terbaca.
4.2 Karakteristik Pasien
Demografi pasien adalah distribusi pasien yang dapat dilihat dari karakteristik pasien (diagnosa penyakit, usia dan jenis kelamin).
4.2.1 Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosa Penyakit
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular dan dapat menimbulkan berbagai macam spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan (WHO, 2007).
Tabel 4.1 Distribusi karakteristik pasien berdasarkan diagnosa penyakit Diagnosa Penyakit Jumlah Pasien Persentase % (N=24)
ISPA 20 83,33 %
Bronkhiolitis 4 16,66 %
Jumlah Total 24 100 %
Dapat disimpulkan bahwa pasien penderita yang didiagnosa penderita ISPA sebanyak 20 pasien dengan persentase 83,33 %, disebabkan karena rekam medik tidak jelas jenis penyakit ISPA apa yang diderita pasien, tidak bisa diklasifikasikan untuk dianalisis. Sedangkan penderita bronkhiolitis sebanyak 4 pasien dengan persentase 16,66 %.
4.2.2 Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia
Klasifikasi umur pasien pediatri menurut US FDA adalah neonatus (< 1 bulan ), bayi ( 1 bulan - 2 tahun ), anak-anak (2 - 12 tahun).
Tabel 4.2 Distribusi karakteristik pasien berdasarkan usia Kategori Umur Jumlah Pasien Persentase (%) (N=24)
<1 bln 0 0
1 bulan – 2 tahun 7 29,16
2 tahun – 12 tahun
17 70,83
Jumlah Total 24 100
Umur merupakan salah satu karakteristik individu yang penting dalam studi epidemiologi karena dapat memberikan gambaran faktor penyakit serta
menjadi faktor sekunder yang diperhitungkan dalam meneliti perbedaan frekuensi penyakit terhadap variabel lain. Selain itu umur juga menjadi karakteristik individu utama karena berhubungan erat dengan keterpaparan penyakit dan besarnya resiko terhadap penyakit tertentu. ISPA merupakan penyakit yang dapat menyerang semua jenis umur, namun lebih sering menyerang balita dan lansia (Fujiastuti, 2016 ).
Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa kasus pasien anak yang paling banyak menderita ISPA adalah kelompok umur anak-anak (2 tahun-12 tahun) dengan jumlah 17 pasien dengan hasil persentase sebesar 70,83%, kemudian terdapat kelompok umur bayi ( 1 bulan - 2 tahun ) dengan jumlah 7 pasien dengan persentase 29,16 %. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Istikomah tahun 2013 di salah satu rumah sakit di Surakarta, dimana dari hasil penelitian tersebut diperoleh data bahwa pasien yang paling banyak menderita ISPA adalah pasien dengan usia 2-5 tahun dengan persentase (82 % ).
4.2.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.3 Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Pasien Persentase (%)
(N=24)
Laki-laki 15 62,5
Perempuan 9 37,5
Jumlah Total 24 100
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa kasus pasien anak yang menderita ISPA paling banyak adalah laki-laki dengan jumlah 15 pasien dengan persentase (62,5 %) sedangkan perempuan terdapat 9 pasien dengan persentase (37,5 %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fujiastuti Tahun 2016 di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka diperoleh data bahwa penyakit ISPA paling banyak diderita oleh pasien yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 43 pasien (53,75%) sedangkan untuk perempuan 37 pasien (46,25%). Nelson dan Williams (2007) menyatakan bahwa laki-laki lebih beresiko menderita ISPA, namun faktor resiko tidak hanya perbedaan jenis kelamin, umur seseorang juga perlu dipertimbangkan.
4.3 Profil Penggunaan Obat
Berdasarkan hasil penelitian di peroleh data profil obat penggunaan obat pada pasien dimana obat yang paling banyak di gunakan adalah obat golongan mukolitik sebanyak 19 kali dengan persentase 24,8%; selanjutnya diikuti golongan antipiretik sebanyak 18 kali dengan persentase 23,42%; golongan antibiotik sebanyak 17 kali dengan persetase 22%; golongan bronkhodilator sebanyak 7 kali dengan persentase 9 %; golongan antihistamin sebanyak 10 kali dengan persentase 12,99 %, antidiare sebanyak 6 kali dengan persentase 7,79 %.
Tabel 4.4 Profil Penggunaan Obat Infeksi Saluran Pernapasan Akut
Kelas Terapi Jumlah Persentase (N=%)
Mukolitik 19 26,8
Antipiretik 18 25,36
Antibiotik 17 23,94
Bronkhodilator 7 9,9
Antihistamin 10 14
Jumlah Total 71 100,00
4.4 Jumlah Penggunaan Obat
Berdasarkan hasil penelitian di peroleh data bahwa frekuensi jumlah pengunaan obat yang paling banyak di terima oleh pasien adalah 1- 5 obat sebanyak 24 pasien dengan persentase (100 %) sedangkan pasien yang menerima 4-10 obat sebanyak 0 pasien (0 %) dan menerima > 10 obat sebanyak 0 pasien (0 %). Data distribusi persentase jumlah penggunaan obat pada pasien dapat di lihat pada tabel 3.5
Tabel 4.5 Jumlah Penggunaan Obat
Jumlah Pengunaan Obat Frekuensi Persentase (%)
1-5 obat 24 100
6-10 Obat 0 0
>10 obat 0 0
Jumlah Total 24 100
4.5 Drug Related Problems (DRP )
Kategori DRPs pada penelitian ini meliputi kategori ketidaktepatan pemberian obat, indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi, dosis rendah, dosis tinggi, dan interaksi obat. Berikut ini adalah grafik persentase distribusi jumlah kejadian DRPs pada pasien anak penderita ISPA di RSUD Dr.Pirngadi Medan.
Adapun angka kejadian DRPs adalah yang paling banyak terjadi pada pasien adalah DRPs kategori dosis tinggi sebanyak 7 kali dengan persentase
sebanyak (53,29%), kategori DRPs obat tanpa indikasi sebanyak 4 kali dengan persentase sebanyak (30,76%), kategori dosis rendah sebanyak 2 kali dengan persentase sebanyak (15,35%). Sedangkan untuk kategori indikasi tanpa obat, interaksi obat, dan ketidaktepatan pemilihan obat tidak ditemukan kejadian DRPs pada pasien anak penderita ISPA di Instalasi rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi.
Gambar 4.1 Persentase Kategori DRPs
Tabel 4.6 Kategori DRPs
No Kategori DRPs Jumlah Kasus Persentase
(%)
1 Obat tanpa indikasi 4 30,76
2 Indikasi tanpa obat 0 0
3 Dosis rendah 2 15,35
4 Dosis tinggi 7 53,92
15,35%
53,92%
0%
30,76%
0% 0%
Kategori DRPs
Dosis Rendah Dosis Tinggi Indikasi Tanpa Obat Obat Tanpa Indikasi Interaksi Obat
Ketidaktepatan Pemberian Obat
5 Ketidaktepatan pemberian obat
0 0
6 Interaksi obat 0 0
Total 13 100,00
4.5.1 Dosis Rendah
Menurut Cipolle dkk., 2004 penyebab tidak efektifnya terapi obat pada pasien antara lain pasien menerima obat dalam jumlah dosis kecil terapi dibanding dari dosis lazim yang meliputi besaran, frekuensi dan durasi.
Tabel 4.7 Dosis Rendah
Dosis Rendah Jumlah Kejadian Persentase (%)
Sefadroxil 1 7,69
Parasetamol 1 7,69
Berdasarkan hasil penelitian dari 24 kasus pasien ISPA diperoleh 2 jenis obat (sefadroxil, parasetamol) yang mengalami pemberian obat kurang dari dosis terapi. Jenis obat yang diberikan kurang dari dosis terapi pada penelitian ini adalah parasetamol 1 kasus,sefadroxil 1 kasus.
Pemberian Paracetamol tidak tepat karena beradasarkan literatur MIMS dosis paracetamol yang diberikan pada anak adalah 10-15 mg/kg BB/dosis 3-4 kali satu hari. Diikuti ketidaktepatan pemberian dosis cefadroxil karena berdasarkan literatur pemberian cefadroxil adalah 30 mg/kg BB/hari 2 kali sehari.
Suatu obat akan menghasilkan efek terapeutik jika kadar obat dalam darah atau
bioavailabilitas obat mencapai kadar terapi yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diharapkan. Oleh karena itu, penggunaan obat dengan dosis terapi yang sesuai sangat penting untuk menghasilkan efek terapeutik yang menandakan bahwa terapi yang diberikan telah berhasil (Yusshiammanti, 2015).
Pada dosis yang direkomendasikan, parasetamol tidak mengiritasi lambung, mempengaruhi koagulasi darah, atau mempengaruhi fungsi ginjal.
Namun dari semua kelebihan parasetamol obat ini juga memiliki beberapa kekurangan dan efek samping. Pada dosis yang besar (lebih dari 2000 mg per hari) dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan bagian atas. Selain itu, penggunaan parasetamol diatas rentang dosis terapi dapat menyebabkan gangguan hati (Marta, 2014).
Dosis sangat berpengaruh terhadap efek terapi obat. Pemberian dosis yang berlebihan akan sangat beresiko terhadap timbulnya efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin tercapainya kadar terapi yang diharapkan oleh suatu antibiotik (Kemenkes, 2011).
4.5.2 Dosis Tinggi
Dosis terlalu tinggi adalah dosis yang diberikan kepada pasien terlalu tinggi sehingga menimbulkan respon yang tidak diinginkan. Beberapa hal yang sering menyebabkan kejadian DRPs kategori dosis terlalu tinggi adalah dosis yang diberikan terlalu tinggi, frekuensi obat yang terlalu singkat, durasi obat terlalu lama, interaksi obat terjadi karena hasil reaksi toksik obat dan dosis obat yang diberikan terlalu cepat (Cipolle dkk., 2004).
Tabel 4.8 Dosis Tinggi
Dosis Tinggi Jumlah Kejadian Persentase (%)
Ambroxol 4 30,76
Amoxicillin 1 7,69
Eritromisin 1 7,69
Salbutamol 1 7,69
Berdasarkan hasil penelitian dari 24 kasus pasien ISPA diperoleh 4 jenis obat (Ambroxol, Amoxicillin, Eritromisin, dan Salbutamol) yang mengalami pemberian obat melebihi dari dosis terapi. Jenis obat yang paling sering pemberian melebihi dari dosis terapi pada penelitian ini adalah Ambroxol sebanyak 4 kasus dengan persentase (30,76 %), diikuti Amoxicillin sebanyak 1 kasus, Eritromisin sebanyak 1 kasus dan selanjutnya Salbutamol sebanyak 1 kasus dengan persentase (7,69%).
Pemberian Ambroxol melebihi dosis terapi karena berdasarkan literatur (MIMS) dosis yang diberikan <2 tahun 7,5 mg 2 x sehari, 2-5 tahun 7,5 mg 2-3 x sehari, 6-12 tahun 15 mg 2-3 x sehari. Diikuti ketidaktepatan pemberian dosis amoxicillin karena berdasarkan literatur (MIMS) >3 bulan (<40 kg) = 25 mg/kg/hari 2x sehari, (>40 kg) = 500 mg 2x sehari/ 250 mg 3 x sehari. literatur Salbutamol 2-6 Thn 0,1mg/kg BB, 3x/hari, dosis maks. Tidak lebih dari 2 mg 1x pakai. Selanjutnya ketidaktepatan pemberian dosis eritromisin karena berdasarkan literatur ringan-sedang = 30-50 mg/kg/hari 3-4 x sehari.
4.5.3 Obat Tanpa Indikasi
Table 4.9 Obat Tanpa Indikasi
Obat Tanpa Indikasi Jumlah Kejadian Persentase (%)
Eritromisin 4 30,77
Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat 4 pasien (30,77 %) yang mengalami DRPs kategori obat tanpa indikasi. Obat tanpa indikasi terjadi ketika pemberian obat tidak sesuai dengan diagnosa pasien. Hal ini dilakukan dengan melihat data rekam medis pasien kemudian dibandingkan dengan literatur.
Dari data hasil penelitian terdapat 4 pasien yang menerima obat tanpa indikasi. Pasien yang paling banyak mengalami DRPs kategori obat tanpa indikasi adalah pasien dengan diagnosa bronkhiolitis sebanyak 4 pasien yang masing- masing diberikan antibiotik eritromisin. Berdasarkan Clinical Practice Guideline dari American Academy Of Pediatri tahun 2014 menyatakan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien penderita bronkhiolitis tidak direkomendasikan karena penyebab utama bronkhiolitis adalah virus bukan bakteri, kecuali dicurigai ada infeksi tambahan.
Pemberian antibiotik pada pasien anak di instalasi rawat jalan RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan dapat dikatakan tidak tepat karena peneliti hanya melihat data yang tercantum di dalam rekam medis pasien kemudian dibandingkan dengan literatur dan peneliti tidak melakukan observasi keadaan pasien secara langsung untuk melihat gejala klinis pada pasien karena data penelitian ini bersifat retrospektif.
4.5.4 Indikasi Tanpa Obat
DRPs kategori indikasi tanpa obat pada penelitian ini terjadi apabila pasien menderita penyakit baru selain penyakit ISPA namun tidak mendapatkan terapi dan penanganan yang tepat. Dari hasil penelitian tidak terdapat DRPs kategori indikasi tanpa obat pada pasien anak penderita ISPA di Instalsi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Medan.
4.5.5 Interaksi Obat
Interaksi obat salah satu masalah terkait obat (drug related problems) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Sebuah interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau
farmakodinamika obat dalam tubuh berubah dengan adanya satu atau lebih zat yang berinteraksi (Piscitelli, 2005).
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa dari 24 pasien anak penderita ISPA di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan yang masuk kriteria inklusi tidak terdapat pasien yang mengalami drug related problems untuk kategori interaksi obat.
4.5.6 Ketidaktepatan Pemilihan Obat
Ketidaktepatan pemilihan obat merupakan keadaan dimana pasien telah diresepkan obat yg tidak efektif, pasien alergi atau kontraindikasi dengan obat yang diberikan, pasien menerima obat yang sama efektifnya dengan terapi tunggal (Fujiastuti, 2016).
Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa dari 24 pasien anak penderita ISPA di Instalsi Rawat Jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan yang masuk kriteria inklusi tidak terdapat pasien yang mengalami drug related problems untuk kategori ketidaktepatan pemilihan obat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dari 24 pasien terdapat 10 pasien yang mengalami DRPs di Instalasi Rawat jalan RSUD Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari- Juni 2017. Jenis DRPs yang paling banyak terjadi adalah dosis tinggi sebanyak 7 kali (53,92%).obat tanpa indikasi sebanyak 4 kali (30,76%), dosis rendah sebanyak 2 kali (15,35).
5.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan :
a. Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar meneliti kejadian DRPs kategori kepatuhan pasien.
b. Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar meneliti kejadian DRPs pada penyakit lain seperti pada penyakit diabetes mellitus.
DAFTAR PUSTAKA
Arlinda, Mukaddas, A., dan Faustine I. (2016). Identifikasi drug Related Problems (DRPs) pada Pasien Anak Gastroenteritis Akut Di Instalasi Rawat Inap RSU Anutapura Palu. Halaman 43-48.
Asriati, Zamrud M., dan Kalenggo D F. (2012). Analisis Faktor Risiko Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Anak Balita. Ilmu Kesehatan Masyarakat. FK Universitas Halo Oleo. Halaman 20-24
Behrman, R E. (1999). Nelson Ilmu kesehatan Anak.1(15). Jakarta: EGC.
Cipolle, R J, Strand, L M, dan Morley, P C. (1998). Pharmaceutical Care Practice. The McGraw Hill Co.
Cipolle, R.J., Strand, L.M., dan Morley, P.C. (1999).Pharmeutical Care Practice.
The Mc Graw Hills Compainies. New York.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2005). Pharmaceutical Care Untuk Infeksi Penyakit Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 dalam Laporan Nasional 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dipiro, J.T., Talbert, RL., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., Posey, L.M.
(2008). Phharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. Seventh Edition.
New york : Mc Graw-Hill. Halaman 1779-1788.
Fujiastuti G. (2016). Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Pasien Pediatri Di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Daerah Bangka. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Halaman 95-100.
Istikomah. (2013). Evaluasi Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Anak Infeksi Saluran Pernapasan Akut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2012. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta; Surakarta.
Kamienski, M., dan Keogh, J. (2015). Farmakologi Demystified. Yogyakarta:
Rapha Publishing. Halaman 288-291.
Kemenkes RI. (2011). Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Terapi antibiotik.
Jakarta: Direktorat bina Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Halaman 28.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Modul Penggunaan Obat Rasional, Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta, halaman 3-8.
Lumbanraja, P.L. (2008). Distribusi Alergen Pada Penderita Rhinitas Alergi di Departemen THT-KL USU/RSUP H.Adam Malik Medan. Tesis. Medan : Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Halaman 27-30.
Mahmoud, M.A. (2008). Drug Therapy Problems and Quality of Life in Patiens with Chronic Kidney Disease. Thesis. Halaman 18-20.
Marta J”Èwiak-B Benista (2013). Parasetamol: Cara Kerja, Aplikasi dan Concern Keselamatan. Departemen Farmakologi, Ketua Farmakologi dan Farmakologi Klinik di Universitas Kedokteran. Halaman 90-752
MIMS.(216). http://www.mims.com/indonesia diakses pada tanggal 28 oktober 2016.
Misnadiarly. (2008). Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia Pada Balita, Orang Dewasa, Usia Lanjut. Jakarta: Pustaka Obor Populer.
Muttaqin, A. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sisten Pernafasan. Jakarta: Salemba Medik.
Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Edisi Kedua. Jakarta: EGC.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Halaman 27-, 25, 41, 120.
Piscitelli, S. C., dan K. A, Ridvold. (2005). Drug Interaction in infection Disease.
Second Edition. Humana Press. New Jersey.
Ralston, S L. (2014). Clinical Practice Guideline: The Diagnosis, Management, And Prevention Of Bronchiolitis. American Academy Of Pediatrics. 134(5).
Halaman 502-1474.
Riskesdas. (2013). Hasil Riskesdas 2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 94.
Rovers, J.P. (2003). A Practial Guide To Pharmaceutical Care, Second Edition.
American Pharmaceutical Association Washington DC.
Strand, L. M. (1990). Drug Related Problems : Their Structure and Function.
Departemen of Pharmacy Practice Amerika Serikat.
Setiawati, A. (2007). Interaksi obat, dalam Farmakologi dan Terapi. Edisi Lima.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gaya Baru. Jakarta.
Syamsudin. (2013). Farmakoterapi Gangguan Saluran Pernapasan. Jakarta : Penerbit Salemba. Halaman 9.
Takemoto, C.K., Jane H.H., dan Donna M.K.(2003). Pediatric Dosage Handbook 9th Edition. Canada: Lexi Comp, Inc.
Walker, R., dan Whittlesea, C. (2007). Clinical Pharmacy and therapeutics. Fourth Edition. New York : Churchill Livingstone. Hal 496-501
Livingstone. Halaman 496-501.
Departemen Kesehatan RI. (2005). Pharmacetical Care Untuk Infeksi Penyakit Saluran Pernapasan. Direktorat Bina Komunitas dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian. Halaman 15-18.
WHO. (2005). Technical Updates Of The Guidelines On The Integrated Management Of Childhool Illness (IMCI). Evidence And Recommendations For Further Adaptations. WHO Press: Geneva.
WHO. (2007). Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
WHO. (2013). Pocket Book Of Hospital Care For Children: Guidelines For The Management Of Common Childhood Illnesses. 2nd Ed. WHO Press:
Geneva.
Lampiran 1. Data pasien
Keterangan : Jumlah Sampel 24 Pasien
No L
/ P
Usia BB
(kg) Tanggal Kunjungan
Diagnosa Penyakit
dan Penyakit Penyerta
Obat yang Diberikan
Nama
Generik KETERANGAN Rute Dosis
Obat Dosis Literatur
1 L 2,7 Thn 9,9
Kg
03-01-
2017 ISPA
Salbutamol Salbut
amol Bronkhodilator Oral 3x1 cth
2-6 Thn 0,1mg/kg BB, 3x/hari,dosis maks.
Tidak lebih dari 2 mg 1x pakai
Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1 cth
2-5 Thn 7,5 mg (2-3x sehari)
Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1 cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hari atau 5 ml 1x/ hari
2 P 3,8
Thn 16 kg
2-02-
20017 ISPA
Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1ct h
2-5 Thn 7,5 mg (2-3x sehari
Amoxicillin Amoxicillin Antibiotik Oral 3x1 cth
>3 bln - <40kg=
25mg/kg BB/hari (2x1)
Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1 cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hari atau 5 ml 1x/ hari
3, L 1,5 Thn
7,7 kg
13-06-
2017 ISPA
Amoxicillin Amoxicillin Antibiotik Oral 3x1 cth
>3 bln - <40kg=
25mg/kg BB/hari (2x1)
Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1
cth <2 thn 7,5mg bid (2x1) Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1
cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hariatau 5 ml 1x/ hari
4 L 1,11 Thn
8,9 kg
17-06-
2017 ISPA
Cefadroxil Cefadroxil Antibiotik Oral 3x1
cth 30mg/kg BB/hari (2x1) Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1
cth <2 thn 7,5mg bid (2x1) Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1
cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hari atau 5 ml 1x/ hari
5 P 2,6 Thn
11,5 kg
20-04-
2017 ISPA
Paracetamol Paracetamol Antipiretik Oral 3x1 cth
10-15mg/ kg BB/dosis (3-4x/hari)
Dosis maks tidak lebih dari 1000mg/1x pakai Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1
cth
2-5 Thn 7,5mg (2- 3x/hari)
Eritromisin Eritromisin Antibiotik Oral 4x1 30-50mg/kg/hari (3-4
cth kali/hari)
Zink zink Suplemen Oral 1x1
cth
6 bulan-5 tahun 1 cth/hari
6 L 5,6 Thn
17,5 kg
18-04-
2017 ISPA
Cefadroxil Cefadroxil Antibiotik Oral 2x1
cth 30 mg/kg BB/hari 2x1 Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x1
cth
6-12 thn 15 mg (2- 3x/hari)
Paracetamol Paracetamol Antipiretik Oral 3x ½ cth
10-15mg/ kg BB/dosis 3-4x/hari
7 L 2,3 Thn
9,8 kg
07-01-
2017 ISPA
Cefadroxil Cefadroxil Antibiotik Oral 2x1
cth 30 mg/kg BB/hari 2x1 Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x ½
cth
2-5 Thn 7,5mg (2- 3x/hari)
Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1 cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hari atau 5 ml 1x/ hari Paracetamol Paracetamol Antipiretik Oral 3x1
cth
10-15mg/ kg BB/dosis 3-4x/hari
8 L 3,10 Thn
13,3 kg
24-03-
2017 ISPA
Cetirizin Cetirizin Antihistamin Oral 1x1 cth
2-6 Thn 2,5 ml 1x /hariatau 5 ml 1x/ hari Ambroxol Ambroxol Mukolitik Oral 3x ½
cth
2-5 Thn 7,5mg (2- 3x/hari)
Paracetamol Paracetamol Antipiretik Oral 3x1 cth
10-15mg/ kg BB/dosis 3-4x/hari
9 P 3,9
Thn 13,3 04-04-
2017 ISPA
Cefadroxil Cefadroxil Antipiretik Oral 3x1
cth 30 mg/kg BB/hari 2x1 Salbutamol Salbutamol Bronkhodilator Oral 3x1
cth
2-6 Thn 0,1-mg /kg 3x1 tidak lebih dari 2