BAB II KAJIAN PUSTAKA,PENELITIAN TERDAHULU DAN RERANGKA PEMIKIRAN..Sub bab tersebut masing-masing akan diuraiakan sebagai berikut.

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA,PENELITIAN TERDAHULU DAN RERANGKA PEMIKIRAN

Bab ini akan membahas landasan teori yang digunakan dalam penelitian, Penelitian terdahulu, dan Kerangka pemikiran dari penelitian .Sub bab tersebut masing-masing akan diuraiakan sebagai berikut.

A. Kajian Pustaka

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Pengertian Manajemen Keuangan, Manfaat Manajemen Keuangan, Pengukuran Kinerja Pemerintah Daerah, Laporan Keuangan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Analisis Laporan Keuangan, Manfaat Analisis Laporan Keuangan. Masing-masing landasan teori akan dipaparkan sebagai berikut.

1. Pengertian Manajemen Keuangan

Perkembangan manajemen keuangan dimulai sekitar awal abad 19. Sekitar tahun 1990-an istilah manajemen keuangan mulai muncul sebagai suatu bidang ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lainnya. Pada awal munculnya, manajemen keuangan menekankan diri pada aspek-aspek hukum yang biasanya muncul diperusahaan. Aspek hukum tersebut misalnya tentang masalah merger, akuisisi, perluasan perusahaan, pembentukan perusahaan baru, tata cara go publik dan penjualan surat-surat berharga. Manajemen Keuangan adalah

(2)

merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengendalikan pencairan dana dengan biaya yang serendah-rendahnya dan menggunakan secara efektif dan efisien untuk kegiatan operasi organisasi. Tujuannya adalah untuk memaksimumkan kekayaan organisasi, khususnya organisasi perusahaan atau organisasi bisnis. Untuk merencana, mengelola, dan mengendalikan keuangan dikelola oleh bagian akunting, yang disajikan dalam bentuk laporan akunting atau laporan keuangan (Agus Harjito dan Martono, 2011). Untuk mengukur Kinerja perusahaan dapat di ukur dari laporan keuangan yang diterbitkan. Tetapi membaca laporan keuangan saja belum dapat menggambarkan kinerja perusahaan yang lebih terinci. Untuk mengetahui lebih rinci kondisi perusahaan atau kinerja keuangan perusahaan dapat dilakukan dengan membandingkan antara elemen-elemen yang ada di dalam laporan keuangan, baik antara elemen-elemen aktiva dan pasiva (di neraca) ataupun antara elemen di Neraca dan elemen di Laporan Rugi Laba. Perbandingan elemen-elemen laporan keuangan tersebut biasa juga disebut dengan Rasio Keuangan.

2. Manfaat Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan sebagai aktivitas memperoleh dana, menggunakan dana dan mengelola aset secara efisien membutuhkan beberapa tujuan atau sasaran (Agus Harjito dan Martono, 2011).

(3)

1. Sudut pandang organisasi fungsi manajemen keuangan menyajikan sumber dan penggunaan dana;

2. Hubungannya dengan ilmu ekonomi fungsi manajemen keuangan menyajikan penggunaan dana secara efisien dan output yang optimum;

3. Hubungannya dengan akuntansi fungsi manajemen keuangan menganalisis laporan keuangan akuntansi dari berbagai sudut pandang;

4. Aktivitas-aktivitas kunci manajer keuangan, menyajikan analisis keuangan dan perecanaan, membuat keputusan-keputusan investasi, dan membuat keputusan-keputusan-keputusan-keputusan pembiayaan;

5. Peranan manajer keuangan dalam manajemen kualitas total dengan menyediakan informasi keuangan bagi manajemen untuk mengambil keputusan dalam hal perbaikan kualitas secara terus-menerus.

3. Pengukuran Kinerja Pemerintah Daerah a. Pengertian Pengukuran Kinerja

Pengukuran kinerja sangat penting dilakukan untuk menilai akuntabilitas organisasi dan manajer dalam menghasilkan pelayanan kepada publik yang lebih baik (Abdul Halim, 2007). Akuntabilitas menunjukkan bagaimana uang publik dibelanjakan secara ekonomis, efisien dan efektif. Pusat pertanggungjawaban berperan penting

(4)

untuk menciptakan indikator kinerja sebagai dasar untuk menilai kinerja. Pengukuran kinerja adalah salah satu cara untuk mempertahankan prestasi berbagai pekerjaan dan pelayanan yang dilakukan pemerintah. Pengukuran kinerja membantu pejabat Pemerintah Daerah untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan. Tidak hanya itu, pengukuran kinerja juga membantu untuk mengevaluasi apakah tingkat pelayanan pemerintah setara dengan uang yang mereka keluarkan untuk pelayanan-pelayanan tersebut.

b. Manfaat Pengukuran Kinerja

Tujuan sistem pengukuran kinerja menurut (Ihyahul Ulum, 2009), antara lain adalah sebagai berikut:

1) Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen;

2) Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang telah ditetapkan;

3) Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja dan membandingkan dengan target kinerja serta melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja; 4) Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan

hukuman (reward & punishment) secara Objektif atas pencapaian prestasi yang diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja yang telah disepakati;

(5)

5) Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi;

6) Membantu mengidentifikasi apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi;

7) Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah;

8) Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara Objektif.

4. Laporan Keuangan

a. Pengertian Laporan Keuangan

Salah satu alat penting dalam menjalankan dan melaksanakan fungsi analisis laporan keuangan adalah laporan keuangan. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 1 Revisi Tahun 2009, laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan.

Menurut Yani (2009:347), keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Komponen laporan keuangan yang

(6)

lengkap berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 1 Revisi Tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1) Neraca atau Laporan posisi keuangan pada akhir periode.Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut:

a) Aset tetap;

b) Properti investasi; c) Aset tidak berwujud;

d) Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e), (h) dan (i));

e) Investasi dengan menggunakan metode ekuitas; f) Aset biolojik;

g) Persediaan;

h) Piutang dagang dan piutang lainnya; i) Kas dan setara kas;

j) Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual; k) Utang dagang dan terutang lainnya;

l) Kewajiban diestimasi;

m) Laibilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l));

(7)

o) Laibilitas dan aset pajak tangguhan;

p) Laibilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual; q) Kepentingan non-pengendali, disajikan sebagai bagian dari

ekuitas; dan

r) Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

2) Laporan laba rugi komprehensif Entitas menyajikan seluruh pos pendapatan dan beban yang diakui dalam satu periode:

a) Dalam bentuk satu laporan laba rugi komprehensif, atau b) Dalam bentuk dua laporan:

i) Laporan yang menunjukkan komponen laba rugi (laporan laba rugi terpisah); dan

ii) Laporan yang dimulai dengan laba rugi dan menunjukkan komponen pendapatan komprehensif lain (laporan pendapatan komprehensif). Laporan laba rugi komprehensif, sekurang-kurangnya mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut selama suatu periode:

a) Pendapatan; b) Biaya keuangan;

c) Bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; d) Beban pajak;

(8)

e) Suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari;

i) Laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; ii) Keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui

dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan; f) Laba rugi;

g) Setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifatnya (selain jumlah dalam huruf (h));

h) Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas; dan

i) Total laba rugi komprehensif.

3) Laporan perubahan ekuitas. Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:

a) Total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-pengendali;

b) Untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif;

(9)

c) Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul dari: i) Laba rugi;

ii) Masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan iii) Transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai

pemilik, yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.

4) Laporan arus kas Informasi arus kas memberikan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan kebutuhan entitas dalam menggunakan arus kas tersebut.

5) Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendapatan komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Struktur catatan atas laporan keuangan adalah sebagai berikut: a) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan

keuangan dan kebijakan akuntansi tertentu;

b) Mengungkapkan informasi yang disyaratkan SAK yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan; dan

(10)

c) Memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

6) Laporan posisi keuangan awal periode komparatif sajian akibat penerapan retrospektif, penyajian kembali, atau reklasifikasi pospos laporan keuangan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, komponen pokok laporan keuangan Pemerintah Pusat/ Daerah terdiri dari:

1) Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh Pemerintah Pusat/Daerah, yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.

2) Neraca

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.

3) Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan, dan transaksi non anggaran yang

(11)

menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas Pemerintah Pusat/Daerah selama periode tertentu.

4) Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus Kas.

b. Peranan Pelaporan Keuangan

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, laporan keuangan disusun untuk memberikan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan transaksi selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan digunakan untuk membandingkan realisasi pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan dengan anggaran yang telah ditetapkan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi entitas pelaporan, dan membantu menentukan ketaatan terhadap perundang-undangan. Suatu entitas pelaporan wajib melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang telah dicapai pada suatu periode pelaporan untuk kepentingan: 1) Akuntabilitas

(12)

Pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik.

2) Manajemen

Membantu mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan.

3) Transparansi

Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat.

4) Keseimbangan Antargenerasi (intergenerational equity)

Membantu mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut.

c. Tujuan Pelaporan Keuangan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, pelaporan keuangan pemerintah seharusnya menyajikan pemanfaatan bagi para pengguna dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik ekonomi, sosial, maupun politik dengan: 1) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode

berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran;

(13)

sumber daya keuangan;

3) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan serta hasil yang telah dicapai;

4) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya;

5) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan, apakah mengalami kenaikan atau penurunan, akibat dari kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. 5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

a. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah daftar yang memuat rincian penerimaan daerah dan pengeluaran/belanja daerah selama satu tahun Menurut Halim (2007:20). APBD adalah suatu anggaran daerah. APBD memiliki unsur-unsur sebagai berikut : 1. Rencana kegiatan suatu daerah, beserta uraiannya secara rinci; 2. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal

untuk menutupi biaya terkait aktivitas tersebut, dan adanya biaya yang merupakan batas maksimal pengeluaran yang akan dilaksanakan;

3. Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka; 4. Periode anggaran, biasanya satu tahun. Struktur APBD terdiri

(14)

a. Pendapatan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan, dan pendapatan lain-lain daerah yang sah.

b. Belanja dibagi ke dalam empat bagian, yaitu belanja aparatur daerah, belanja pelayanan publik, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. Belanja aparatur dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, dan belanja modal/pembangunan. Belanja pelayanan publik dikelompokkan menjadi tiga, yaitu belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan, dan belanja modal.

c. Pembiayaan Pos pembiayaan merupakan alokasi surplus atau sumber penutupan defisit anggaran. Pembiayaan dikelompokkan menurut sumber-sumber pembiayaan, yaitu sumber penerimaan dan pengeluaran daerah. Untuk bisa menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsi yang dimilikinya pemerintah daerah dilengkapi dengan seperangkat kemampuan pembiayaan dimana menurut pasal 55 UU. No. 5 / tahun 1974, sumber pembiayaan pemerintah daerah terdiri dari tiga komponen besar yaitu;

1). Pendapatan asli daerah yang meliputi:

(15)

b. Retribusi daerah, termasuk hasil dari pelayanan Badan Layanan Umum (BLU) Daerah;

c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;

d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah

2). Pendapatan yang berasal dari pusat meliputi:

a. Sumbangan dari pemerintah;

b.Sumbangan-sumbangan lain yang diatur dengan peraturan perundang-undangan;

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah diantara ketiga komponen sumber pendapatan tersebut, komponen kedua yaitu pendapatan yang berasal dari pusat merupakan cerminan atau indikator dari ketergantungan pendanaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Di samping itu besarnya dana dari pusat tersebut juga membawa konsekuensi kebijakan proyek pemerintah pusat yang secara fisik implementasinya itu berada di daerah. Sehingga ada beberapa proyek pemerintah pusat melalui APBN tetapi dana itu juga masuk di dalam anggaran pemerintah daerah (APBD).

(16)

b. Prinsip dan Kebijakan Penyusunan APBD

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2015, prinsip dan kebijakan penyusunan APBD antara lain:

1) Prinsip Penyusunan APBD

Penyusunan APBD didasarkan prinsip sebagai berikut: a) Sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan

daerah berdasarkan urusan dan kewenangannya;

b) Tepat waktu, sesuai dengan tahapan dan jadwal yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;

c) Transparan, untuk memudahkan masyarakat mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang APBD; d) Partisipatif, dengan melibatkan masyarakat;

e) Memperhatikan asas keadilan dan kepatutan;

f) Tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi dan peraturan daerah lainnya.

2) Kebijakan Penyusunan APBD

Kebijakan penyusunan APBD terkait dengan Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah adalah sebagai berikut: a) Pendapatan Daerah

(17)

Pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional dan memiliki kepastian serta dasar hukum penerimaannya.

a) Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Penganggaran Pendapatan Daerah yang bersumber dari PAD memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i) Penganggaran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; ii) Penganggaran Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah; iii) Penganggaran Lain-lain PAD Yang Sah.

b) Dana Perimbangan

Penganggaran pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i) Penganggaran Dana Bagi Hasil (DBH); ii) Penganggaran Dana Alokasi Umum (DAU); iii) Penganggaran Dana Alokasi Khusus (DAK). c) Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Penganggaran pendapatan daerah yang bersumber dari Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i) Penganggaran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS);

ii) Penganggaran Tunjangan Profesi Guru (TPG); iii) Penganggaran Dana Otonomi Khusus;

(18)

iv) Penganggaran Dana Insentif Daerah (DID);

v) Pendapatan yang diperuntukan bagi desa dan desa adat yang bersumber dari APBN dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan;

vi) Penganggaran Dana Transfer lainnya;

vii) Penganggaran pendapatan kabupaten/kota yang

bersumber dari Bagi Hasil Pajak Daerah yang diterima dari pemerintah provinsi didasarkan pada alokasi belanja Bagi Hasil Pajak Daerah dari pemerintah provinsi;

viii) Pendapatan daerah yang bersumber dari bantuan keuangan, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus yang diterima dari pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota lainnya dianggarkan dalam APBD penerima bantuan, sepanjang sudah dianggarkan dalam APBD pemberi bantuan;

ix) Penganggaran pendapatan hibah yang bersumber dari pemerintah, Pemerintah Daerah lainnya atau pihak ketiga, baik dari badan, lembaga, organisasi swasta dalam negeri/luar negeri, kelompok masyarakat maupun perorangan yang tidak mengikat dan tidak mempunyai konsekuensi pengeluaran atau pengurangan

(19)

kewajiban pihak ketiga atau pemberi hibah, dianggarkan dalam APBD setelah adanya kepastian pendapatan dimaksud;

x) Penganggaran pendapatan yang bersumber dari sumbangan pihak ketiga, baik dari badan, lembaga, organisasi swasta dalam negeri, kelompok masyarakat maupun perorangan yang tidak mengikat dan tidak mempunyai konsekuensi pengeluaran atau pengurangan kewajiban pihak ketiga atau pemberi sumbangan, dianggarkan dalam APBD setelah adanya kepastian pendapatan dimaksud;

xi) Dalam hal Pemerintah Daerah memperoleh dana darurat dari pemerintah dianggarkan pada akun pendapatan, kelompok Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah, dan diuraikan ke dalam jenis, Objek dan rincian Objek pendapatan Dana Darurat.

2) Belanja Daerah

Pemerintah Daerah menetapkan target pencapaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan kegiatan. Tujuannya untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjelas efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran. a) Belanja Langsung

(20)

Penganggaran belanja langsung dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan Pemerintah Daerah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i) Belanja Pegawai

Belanja Pegawai merupakan belanja untuk honorarium/ upah dalam melaksanakan program dan kegiatan Pemerintah Daerah.

ii) Belanja Barang dan Jasa

Belanja Barang dan Jasa merupakan belanja untuk pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan Pemerintah Daerah, mencakup belanja barang habis pakai, bahan/material, jasa kantor, premi asuransi, perawatan kendaraan bermotor, cetak/ penggandaan, sewa rumah/gedung/gudang/parkir, sewa sarana mobilitas, sewa alat berat, sewa perlengkapan dan atributnya, pakaian kerja, pakaian khusus dan hari-hari tertentu, perjalanan dinas, perjalanan dinas pindah tugas, dan pemulangan pegawai.

iii) Belanja Modal

Belanja Modal merupakan belanja untuk pembelian/ pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk

(21)

digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.

b) Belanja Tidak Langsung

Penganggaran belanja tidak langsung memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

i) Belanja Pegawai

Belanja Pegawai merupakan belanja kompensasi dalam bentuk gaji dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

ii) Belanja Bunga

Belanja Bunga merupakan belanja untuk pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (Principal Outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

iii) Belanja Subsidi

Belanja Subsidi merupakan belanja untuk bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

(22)

Belanja Hibah merupakan belanja untuk pemberian hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada Pemerintah atau Pemerintah Daerah lainnya, dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Belanja Bantuan Sosial merupakan belanja untuk pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

v) Belanja Bagi Hasil Pajak

Belanja Bagi Hasil Pajak merupakan belanja untuk dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada Pemerintah Desa atau pendapatan Pemerintah Daerah tertentu kepada Pemerintah Daerah lainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

vi) Belanja Bantuan Keuangan.

Belanja Bantuan Keuangan merupakan belanja untuk bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, Pemerintah Desa, dan kepada Pemerintah Daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan. vii) Belanja Tidak Terduga.

(23)

Belanja Tidak Terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.

3) Surplus/Defisit APBD.

a) Penerimaan Pembiayaan, semua penerimaan yang ditujukan untuk menutup defisit APBD:

i) Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA);

ii) Pencairan dana cadangan;

iii) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan; iv) Penerimaan pinjaman daerah;

v) Penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan vi) Penerimaan piutang daerah.

b) Pengeluaran Pembiayaan, semua pengeluaran yang ditujukan untuk memanfaatkan surplus APBD:

i) Pembentukan dana cadangan;

ii) Penerimaan modal (investasi) Pemerintah Daerah; iii) Pembayaran pokok utang; dan

(24)

6. Analisis Laporan Keuangan

Setelah laporan keuangan disusun berdasarkan data yang relevan, serta dilakukan dengan prosedur akutansi dan penelitian yang benar, akan terlihat kondisi keuangan yang sesungguhnya. Kondisi keuangan yang dimaksud adalah diketahuinya jumlah pendapatan yang diterima dan jumlah biaya yang dikeluarkan selama periode tertentu. Agar laporan keuangan menjadi lebih berarti sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh berbagai pihak, perlu dilakukan analisis laporan keuangan. Menurut Mahmudi (2009) perlunya analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah: “Fungsi utama dari laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk memberikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan tersebut yang akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial, dan politik”. Analisis laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu bagaimana cara memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka-angka dalam laporan keuangan, bagaimana mengevaluasi laporan keuangan, dan bagimana menggunakan informasi keuangan untuk pengembalian keputusan (Mahmudi, 2009, 8-9).

Untuk membantu mengatasi ketidak mampuan memahami dan menginterpretasikan laporan keuangan, maka perlu dibantu dengan Analisis Laporan Keuangan. Menganalisis laporan keuangan berarti menggali lebih banyak informasi yang dikandung suatu laporan keuangan.

(25)

Salah satu teknik untuk melakukan Analisis Laporan Keuangan, yaitu dengan melakukan perhitungan Analisis Rasio Keuangan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Rasio keuangan ini hanya menyederharnakan informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos lainnya. Dengan penyederhanaan ini kita dapat menilai secara cepat hubungan antara pos tadi dan dapat membandingkannya dengan rasio lain sehingga kita dapat memperoleh informasi dan memberikan penilaian.

1) Analisis Kinerja Keuangan Daerah

Analisis Kinerja Keuangan adalah usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia. Mahmudi (2009:142) menyatakan, ada beberapa rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dari APBD:

a. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah

Rasio Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang dikeluarkan daerah. Selain itu, tingkat kemandirian keuangan daerah juga menunjukkan tingkat ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksternal (terutama pemerintah pusat dan provinsi).

(26)

Rasio kemandirian keuangan daerah dihitung dengan cara membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi dengan jumlah pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan propinsi serta pinjaman daerah. Semakin tinggi angka rasio ini menunjukkan pemerintah daerah semakin tinggi kemadirian keuangan daerah nya.

Rasio ini juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi.

Semakin tinggi rasio kemandirian daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak eksternal maka semakin rendah ketergantungan daerah terhadap bantuan eksternal, dan sebaliknya jika semakin rendah rasio kemandirian daerah, tingkat ketergantungan terhadap bantuan pihak eksternal maka semakin tinggi ketergantungan daerah terhadap bantuan eksternal.

Secara umum, nilai tingkat kemandirian dan kemampuan keuangan daerah dapat dikategorikan sebagai berikut :

(Mahmudi,2009:142) Rasio Kemandirian =

Pendapatan Asli Daerah Bantuan Pusat dan Pinjaman

(27)

Tabel 2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah Kemampuan

Keuangan

Rasio Kemandirian

( % ) Pola Hubungan Keterangan

Rendah sekali 0 – 25 Instruktif Dimana peranan Pemerintah Pusat lebih dominan dari pada kemandirian Pemerintah daerah

Rendah > 25 – 50 Konsultatif Dimana campur tanganPemerintah Pusat sudah mulai berkurang Sedang > 50 – 75 Partisipatif Dimana peranan Pemerintah Pusat

Semakin berkurang mengingat daerah yang bersangkutan tingkat

kemandiriannya mendekati mampu melaksanankan otonomi daerah

Tinggi > 75 – 100 Delegatif Dimana campur tanganPemerintah Pusat sudah tidak ada karena daerah telah benar-benar mandiri dalam melaksanakan otonomi daerah

Sumber : Mahsun, 2006

b. Rasio Efektifitas dan Efisiensi Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Rasio efektifitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan penerimaan PAD yang direncanakan dibandingkan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah. Kemampuan daerah dalam menjalankan tugas dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen. Semakin tinggi rasio efektivitas menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

Rasio efektifitas PAD menunjukan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD sesuai dengan yang

(Mahmudi, 2009:143) Realisasi Penerimaan PAD

Target Penerimaan PAD

(28)

ditargetkan. Secara umum, nilai efektifitas PAD dapat dikategorikan sebagai berikut :

Tabel 2.2 Kriteria Efektifitas Kinerja Keuangan Kemampuan Keuangan Rasio Efektifitas

( % ) Sangat efektif > 100% Efektif 100% Cukup efektif 90% - 99% Kurang efektif 75% - 89% Tidak efektif < 75% Sumber : Mahsun, 2006

Untuk memperoleh ukuran yang lebih baik, rasio efektifitas perlu dibandingkan dengan rasio efisiensi yang dicapai pemerintah. Rasio efisiensi menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Kinerja pemerintah daerah dikatakan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau dibawah l00 persen. Semakin kecil rasio efisiensi menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik.

Semakin kecil nilai rasio ini maka semakin efisien kinerja pemerintah daerah dalam melakukan pemungutan Pendapatan Asli Rasio Efisiensi=

(Mahmudi, 2009:143) Biaya Pemerolehan PAD

Realisasi Penerimaan PAD

(29)

Daerah. Secara umum, nilai efisiensi PAD dapat di kategorikan sebagai berikut :

Tabel 2.3 Kriteria Efisiensi Kinerja Keuangan Kemampuan Keuangan Rasio Efisiensi

( % ) Sangat efisien < 10% Efisien 10% - 20% Cukup efisien 21% - 30% Kurang efisien 31% - 40% Tidak efisien > 40% Sumber : Mahsun, 2006

c. Rasio Aktivitas (Keserasian)

Secara umum aktivitas pemerintah daerah dapat dinilai dari alokasi (rasio) belanja yang muncul dalam anggaran, baik untuk belanja rutin, maupun untuk belanja pembangunan (Gideon dan Hariadi 2007:5). Rasio ini menggambarkan bagaimana pemerintahan daerah memprioritaskan alokasi dananya pada belanja rutin dan belanja pembangunan secara optimal. Semakin tinggi presentase dana yang dialokasikan untuk belanja rutin berarti presentase belanja investasi (belanja pembangunan) yang digunakan untuk sarana prasarana ekonomi masyarakat cenderung semakin kecil.

Rasio Belanja Rutin terhadap APBD =

Total Belanja Rutin Total APBD

Rasio Belanja Pembangunan terhadap APBD =

(Mahmudi,2009:164) Total Belanja Pembangunan

Total APBD

X100%

(30)

Belum ada patokan yang pasti berapa besarnya rasio belanja rutin maupun pembangunan terhadap APBD yang ideal, karena sangat dipengaruhi oleh dinamisasi kegiatan pembangunan dan besarnya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan yang ditargetkan.

Rasio pengelolaan belanja menunjukkan bahwa kegiatan belanja yang dilakukan oleh pemerintah daerah memiliki equitas antara periode yang positif, yaitu belanja yang dilakukan tidak lebih besar dari total pendapatan yang diterima pemerintah daerah. Rasio ini menunjukkan adanya surplus dan defisit anggaran. Surplus atau defisit yaitu selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode laporan.

Rasio Pengelolaan Belanja =

d. Rasio Pertumbuhan

Analisis pertumbuhan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kinerja keuangan serta kecenderungan baik berupa kenaikan atau penurunan kinerja selama kurun waktu tertentu. Rasio pertumbuhan mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya. Dengan diketahuinya pertumbuhan untuk masing-masing komponen sumber pendapatan dan pengeluaran, dapat digunakan untuk mengevaluasi

Total Pendapatan

Total Belanja X100%

(31)

potensi-potensi mana yang perlu mendapat perhatian (Halim, 2007:241). Semakin tinggi persentase pertumbuhan setiap komponen pendapatan dan pengeluaran, maka semakin besar kamampuan Pemerintah Daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan yang dicapai dari setiap periode.

Rasio Pertumbuhan PAD =

Rasio Pertumbuhan total pendapatan =

Rasio Pertumbuhan Belanja Rutin Daerah =

Rasio Pertumbuhan Belanja Pembangunan =

Keterangan :

dimana: p0 = Tahun yang dihitung p-1 = Tahun sebelumnya 2) Analisis Kemampuan Keuangan Daerah

a) Perhitungan dan Analisis Share dan Growth

Diawali dengan perhitungan dan Analisis Kinerja PAD melalui ukuran Share dan Growth kemudian mengklasifikasikan

Pendapatan tahun p0 - Pendapatan tahun p-1 Pendapatan tahun p-1

Belanja Rutin tahun p0 –Belanja Rutin tahun p-1 Belanja Rutin tahun p-1 X100%

Belanja Pembangunan tahun p0 – Belanja Pembangunan tahun p-1 Belanja Pembangunan tahun p-1 X100%

(Mahmudi,2009:96) PAD tahun p0 – PAD tahun p-1

PAD tahun p-1

(32)

dengan Pemetaan Kemampuan Keuangan Daerah berdasarkan Metode Kuadran.

Gambar 2.1 Peta Kemampuan Keuangan Berdasarkan Metode Kuadran

Sumber : Bappenas, 2003

Klasifikasi Status Kemampuan Keuangan Daerah Berdasarkan Metode Kuadran di artikan sebagai berikut :

Tabel 2.4 Klafikasi Status Kemampuan Keuangan Daerah Berdasarkan Metode Kuadran

KUADRAN KONDISI

I Kondisi paling ideal. PAD mengambil peran besar dalam Total Belanja dan daerah mempunyai kemampuan mengembangkan potensi lokal. Kondisi ini ditunjukkan dengan besarnya nilai share dan growth yang tinggi.

II Kondisi ini belum ideal, tetapi daerah mempunyai pegembangan potensi lokal, sehingga PAD berpeluang memiliki peran besar dalam Total Belanja. Sumbangan PAD terhadap Total Belanja masih rendah namun Rata-rata Kuadran II Share : Rendah Growth : Tinggi Kuadran I Share : Tinggi Growth : Tinggi Kuadran IV Share : Rendah Growth : Rendah Kuadran III Share : Tinggi Growth : Rendah SHARE (%)

(33)

pertumbuhan (growth) PAD tinggi.

III Kondisi ini juga belum ideal. Peran PAD yang besar dalam Total Belanja mempunyai peluang yang kecil karena pertumbuhan PADnya kecil. Sumbangan PAD terhadap Total Belanja tinggi, namun pertumbuhan PAD rendah.

IV Kondisi ini paling buruk. Peran PAD belum mengambil peran yang besar dalam Total Belanja, dan daerah belum mempunyai kemampuan mengembangkan potensi lokal. Sumbangan PAD terhadap Total Belanja dan pertumbuhan PAD terhadap Total Belanja dan pertumbuhan PAD rendah.

Sumber : Bappenas, 2003

Keterangan:

PADi = Pendapatan Asli Daerah periode i PADi-1 = Pendapatan Asli Daerah periode i-1

PAD Total Belanja Share = X100% Growth = PADi PADi-1 X100%

(34)

b) Menghitung Indeks Kemampuan Keuangan (IKK)

Menghitung Indeks Kemampuan Keuangan kemudian mengklasifikasikan dengan metode Indeks Kemampuan Keuangan. Metode Indeks Kemampuan Keuangan merupakan rata-rata hitung dari Indeks Pertumbuhan (Growth), Indeks Elastisitas dan Indeks Share. Untuk menyusun indeks ketiga komponen tersebut, ditetapkan nilai maksimum dan minimum dari masing-masing komponen. Menyusun indeks untuk setiap komponen IKK dilakukan dengan menggunakan persamaan umum:

Berdasarkan persamaan di atas, maka persamaan IKK dapat ditulis sebagai berikut:

Keterangan:

XG= Indeks Pertumbuhan (PAD)

XE= Indeks Elastisitas (Belanja Langsung Terhadap PAD)

XS= Indeks Share (PAD terhadap APBD)

Indeks X = (Nilai X Hasil Pengukuran) – (Nilai X Kondisi Minimum) (Nilai X Kondisi Maksimum) – (Nilai X Kondisi Minimum)

lKK = XG + XE + XS 3

(35)

Tabel 2.5 Kriteria Tingkat Kemampuan Keuangan Daerah

Sumber: Bappenas, 2003

7. Manfaat Analisis Laporan Keuangan

Kegiatan dalam analisis laporan keuangan dapat dilakukan dengan cara menentukan dan mengukur antara pos-pos yang ada dalam satu laporan keuangan. Kemudian, analisis laporan keuangan juga dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan yang dimiliki dalam satu periode. Di samping itu, analisis laporan keuangan dapat dilakukan pula antara beberapa periode (Kasmir, 2012).

Ada beberapa manfaat bagi berbagai pihak dengan adanya analisis laporan keuangan. Secara umum dikatakan bahwa manfaat analisis laporan keuangan adalah (Kasmir, 2012:67) :

1. untuk mengetahui posisi keuangan dalam satu periode tertentu; 2. untuk mengetahui kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi

kekurangan pemerintah daerah;

3. untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang dimiliki;

4. untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan saat ini;

Indeks Kemampuan Keuangan Klasifikasi

0,00-0,33 Rendah

0.34-0,43 Sedang

(36)

5. untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal;

6. dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan pemerintah daerah tentang hasil yang mereka capai.

B. Penelitian Terdahulu

Berbagai penelitian mengenai analisis kinerja keuangan Badan Pertanahan Kota Tangerang belum pernah ada sebelumnya. Namun, ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan analisis kinerja keuangan sektor publik, antara lain:

1. Damanhuri (2011) meneliti tentang Analisa Kinerja Keuangan Pemerintah Kota di Jawa Timur Tahun Anggaran 2007-2011. Dalam penelitian ini ada beberapa indikator yang digunakan sebagai alat analisis seperti rasio kemandirian daerah, rasio efektivitas dan efisiensi, dan rasio pertumbuhan. Untuk menguji variabel-variabel tersebut dengan menggunakan metode penelitian analisis deskriptif secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Berdasarkan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah, pola hubungan kemandirian daerah Pemerintah Kota di Jawa Timur dalam lima tahun terakhir masih menunjukkan pola hubungan instruktif dimana peranan pemerintah pusat lebih dominan dari pada

(37)

kemandirian pemerintah daerah dengan rasio kemandirian daerah rata-rata mencapai 22,72%. Terkecuali pada Pemerintah Kota Surabaya yang memiliki rasio rata-rata 56,56% (Pola Hubungan Partisipatif), bahkan pada tahun 2011 Pemerintah Kota Surabaya mencapai nilai rasio 100,75% (Pola Hubungan Delegatif). Berdasarkan Rasio Efektivitas Keuangan Daerah, pengelolaan keuangan daerah pemerintah kota di Jawa Timur dapat dikatakan Efektif. Berdasarkan Rasio Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah, pada tahun 2011 terlihat peningkatan pertumbuhan dari semua kota yang ada, peningkatan ini sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah di mana daerah sudah mulai berusaha untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerahnya. 2. Febriyanti (2012) tentang Analisis Kinerja Keuangan

Pemerintah Daerah Kota Malang Tahun Anggaran 2007-2011. Variabel yang diteliti adalah rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efisiensi dan efektivitas, rasio belanja rutin terhadap APBD, rasio pertumbuhan, dan analisis aspek pembiayaan. Metode analisis untuk menguji variabel-variabel tersebut dengan analisis deskriptif secara kuantitatif. Hasil dari penelitian ini bahwa rata-rata kinerja pengelolaan keuangan berdasarkan analisis rasio keuangan adalah baik.

(38)

Sedangkan pola hubungan kemandirian berdasarkan rasio kemandirian masih tergolong rendah.

3. Machmud, et al (2014) meneliti tentang Analisis Kinerja Keuangan Daerah Di Provinsi Sulawesi Utara Tahun 2007-2012. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa rasio keuangan, seperti rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektivitas, dan rasio pertumbuhan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan berdasarkan Berdasarkan hasil penelitian, dapat digambarkan bahwa kinerja keuangan pemerintah daerah di Provinsi Sulawesi Utara masih menunjukkan rata-rata kinerja keuangan daerah yang masih belum stabil atau belum begitu baik. Dimana hasil perhitungan di setiap tahun masih mengalami angka yang naik turun sehingga beberapa rasio keuangan masih menunjukkan trend positif dan trend negatif. Untuk rasio kemandirian keuangan daerah pada tahun 2007-2012 di Provinsi Sulawesi Utara secara keseluruhan persentase perhitungan rasio kemandirian keuangan daerah masih kurang stabil karena masih mengalami naik turun terhadap hasil perhitungan persentasenya. Untuk rasio efektifitas, kemampuan daerah di Sulawesi Utara didalam menjalankan tugasnya kurang stabil karena masih mengalami rasio yang naik turun. Kinerja Pemerintah daerah di Provinsi Sulawesi Utara belum efektif

(39)

karena efektifnya belum mencapai 1 (satu) atau 100 persen, kecuali untuk tahun 2012. Rasio pertumbuhan kinerja di Provinsi Sulawesi Utara juga kemampuan daerah didalam menjalankan tugasnya kurang stabil karena mengalami rasio yang naik turun.

4. Afriyanto, (2011) meneliti tentang Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa analisis rasio untuk mengukur indikator kinerja keuangan daerah, seperti rasio kemandirian keuangan daerah, rasio efektifitas dan efisiensi pendapatan asli daerah, rasio aktivitas dan rasio pertumbuhan. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif Kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah Kabupaten Rokan Hulu masih sangat rendah. Rasio efektifitas Kabupaten Rokan Hulu menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Rokan Hulu dalam merealisasikan sumber pendapatan asli daerah pada tahun 2007 tidak efektif dan pada tahun 2008 cukup efektif. Pada tahun 2009 dan 2010 sangat efektif, sementara pada tahun 2011 sudah efektif. Rasio efisiensi pemerintah daerah Kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2007 tahun 2011dengan mengeluarkan biaya yang relatif sedikit,

(40)

pemerintah daerah dapat menghasilkan output (hasil) yang optimal dan memberikan penggambaran kinerja pemerintahan daerah yang sangat baik.

5. Pauwah, et al (2014) meneliti tentang Analisa Kinerja Keuangan Daerah Pada PEMDA Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara. Dalam penelitian ini ada beberapa indikator yang digunakan sebagai alat analisis seperti rasio kemandirian daerah, rasio efektivitas, rasio aktivitas, rasio pengelolan belanja dan rasio pertumbuhan. Untuk menguji variabel-variabel tersebut dengan menggunakan metode penelitian analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Berdasarkan Kinerja pengelolaan keuangan Kabupaten Kepulauan Sula berdasarkan rasio kemandirian dapat di kategorikan baik. Tetapi Ada beberapa aspek yang perlu diperbaiki oleh pemerintah Kabupaten Sula seperti kemandirian keuangan yang masih rendah dan aktifitas pemerintah dalam membelanjakan dana yang sebagian besar untuk belanja rutin. Kinerja pengelolaan keuangan masih cukup efektif karena pemerintah mampu meningkatkan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

(41)

C. Rerangka Pemikiran

Kemampuan Pemerintah Daerah dalam mengelola keuangan termuat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menggambarkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai kegiatan pelaksanaan tugas pembangunan. Dalam pelaksanaan pembangunan daerah dibutuhkan anggaran biaya lebih untuk memperoleh hasil yang lebih. Setiap tahun Badan Pertanahan kota Tangerang melakukan perubahan-perubahan untuk memperbaiki kinerja keuangan setiap tahunnya. Besar kecilnya rasio Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dari tahun ke tahun dijadikan pembuktian apakah kinerja Pemerintah Daerah sudah sesuai atau belum, dilihat dari perkembangan daerah tersebut. Jalan keluar dari permasalahan tersebut adalah Pemerintah Daerah mampu untuk mengidentifikasi perkembangan kinerjanya dari tahun ke tahun. Salah satu alat untuk menganalisis kinerja Pemerintah Daerah dalam mengelola keuangan daerahnya adalah dengan melakukan analisis rasio keuangan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Analisis rasio tersebut dapat dijadikan tolok ukur apakah kinerja Pemerintah Daerah meningkat dari tahun ke tahunnya, sehingga dapat dikatakan sebagai daerah yang berkembang. Terlebih lagi banyak sekali masyarakat yang belum mengetahui secara transparan mengenai besarnya dana yang dikeluarkan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, serta pengaruhnya terhadap ukuran kinerja Pemerintah Daerah. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan Laporan Keuangan Anggaran

(42)

Pendapatan dan Belanja Daerah Badan Pertanahan Nasional kota Tangerang Tahun Anggaran 2010-2014 dan akan dianalisis menggunakan Rasio Kemandirian, Rasio Efektivitas dan Rasio Efisiensi, Rasio Aktivitas (Keserasian Belanja), Rasio Pertumbuhan, Share dan Growth APBD, Peta Kemampuan Keuangan Daerah, dan Indeks Kemampuan Keuangan (IKK). Di mana perhitungan analisis ini akan digunakan untuk mengukur kinerja Badan Pertanahan Nasional kota Tangerang. Yang kemudian akan disimpulkan dengan cara melihat grafik perbandingan rasio-rasio dari setiap periode selama 5 (lima) tahun.

(43)

Rasio Kemandirian

Rasio Aktivitas

Rasio Pertumbuhan

Gambar 2.2 Rerangka Pemikiran Rasio Efektifitas &Efisiensi

LAPORAN KEUANGAN

ANGGARAN 2010-2014

ANALISIS KINERJA

KEUANGAN

PERKEMBANGAN

KINERJA KEUANGAN

ANALISIS KEMAMPUAN

KEUANGAN DAERAH

Share dan Growth APBD Peta Kemampuan Keuangan Daerah Indeks Kemampuan Keuangan (IKK)

Badan Pertanahan Kota

Tangerang

Figur

Tabel 2.1 Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah  Kemampuan

Tabel 2.1

Pola Hubungan dan Tingkat Kemandirian Daerah Kemampuan p.27
Tabel 2.2 Kriteria Efektifitas Kinerja Keuangan  Kemampuan Keuangan  Rasio Efektifitas

Tabel 2.2

Kriteria Efektifitas Kinerja Keuangan Kemampuan Keuangan Rasio Efektifitas p.28
Tabel 2.3 Kriteria Efisiensi Kinerja Keuangan  Kemampuan Keuangan  Rasio Efisiensi

Tabel 2.3

Kriteria Efisiensi Kinerja Keuangan Kemampuan Keuangan Rasio Efisiensi p.29
Tabel 2.4 Klafikasi Status Kemampuan Keuangan    Daerah Berdasarkan Metode Kuadran

Tabel 2.4

Klafikasi Status Kemampuan Keuangan Daerah Berdasarkan Metode Kuadran p.32
Gambar 2.1 Peta Kemampuan Keuangan Berdasarkan  Metode Kuadran

Gambar 2.1

Peta Kemampuan Keuangan Berdasarkan Metode Kuadran p.32
Tabel 2.5 Kriteria Tingkat Kemampuan Keuangan Daerah

Tabel 2.5

Kriteria Tingkat Kemampuan Keuangan Daerah p.35
Gambar 2.2 Rerangka Pemikiran Rasio Efektifitas &amp;Efisiensi

Gambar 2.2

Rerangka Pemikiran Rasio Efektifitas &amp;Efisiensi p.43

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :