• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
212
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT SALING PERCAYA (MUTUAL TRUST) ETNIS TAMIL TERHADAP ETNIS TIONGHOA, JAWA,

MANDAILING DAN MINANG DI KELURAHAN PETISAH TENGAH KECAMATAN MEDAN PETISAH

SKRIPSI

Disusun Oleh:

RINI NAIBAHO 150901043

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

(2)

TINGKAT SALING PERCAYA (MUTUAL TRUST) ETNIS TAMIL TERHADAP ETNIS TIONGHOA, JAWA,

MANDAILING DAN MINANG DI KELURAHAN PETISAH TENGAH KECAMATAN MEDAN PETISAH

SKRIPSI

Disusun Oleh:

RINI NAIBAHO 150901043

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2020

(3)
(4)
(5)

i

(6)

i ABSTRAK

Kehadiran masyarakat Tamil di Sumatera Utara telah terekam dalam prasasti bertarikh 1010 Saka atau 1088 M tentang perkumpulan pedagang Tamil di Barus yang ditemukan di Lobu Tua (Barus) pada tahun 1873 yaitu sebuah kota purba di pinggir pantai Samudera Hindia. Bermata pencaharian sebagai pedagang dan kuli perkebunan telah mewarnai kedatangan bangsa India ke Nusantara. Namun belum ada organiasasi yang dapat menghimpun masyarakat Etnis Tamil, mereka akan lebih terikat dengan satu kesatuan dengan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sudah sejauh mana tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat Etnis Tamil pada masyarakat etnis lain di Kampung Madras dan sekitaran Kuil Shri Mariamman. Penelitian ini juga diharapkan mampu bermanfaat di bidang akademis maupun praktis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Responden penelitian ditentukan dengan accidental sampling kemudian dilanjutkan dengan cara bergulir (snow ball sampling) sebanyak 69 responden. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan SPSS dan menggunakan analisis distribusi frekuensi hingga diperoleh kesimpulan dan rekomendasi penelitian. Berdasarkan teori kepercayaan (trust) dapat diketahui bahwa rasa saling percaya masyarakat akan etnis lain dapat diidentifikasi berdasarkan tingkatan tertentu. Melalui hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkat saling percaya masyarakat di Kampung Madras dan sekitaran Kuil Shri Mariamman dikategorikan pada tingkat rasa saling percaya dan solidaritas serta jarak sosial antar-etnis. Bentuk rasa saling percaya dan solidaritas diantaranya tidak khawatir saat berhubungan dengan etnis yang berbeda, membantu dan melindungi diri dari gangguan orang jahat. Jarak sosial antar-etnis menentukan keterlibatan masyarakat dalam memilih etnis yang berbeda berdasarkan kategori:

sosial, ekonomi, politik dan pendidikan. Masyarakat etnis Tamil diberikan kesempatan yang luas untuk menentukan rasa saling percaya dan solidaritas serta jarak sosial dengan etnis yang berbeda. Namun harus diakui tingkat saling percaya masyarakat belum maksimal. Kerjasama yang lebih berkesimbambungan dan mendukung rasa saling percaya masih perlu ditingkatkan.

Kata kunci : Etnis Tamil, Saling Percaya dan solidaritas, Jarak Sosial, Pengalaman dengan Etnis berbeda

(7)

ii ABSTRACT

The presence of the Tamil community in North Sumatra has been recorded in the inscription dated 1010 Saka or 1088 AD about the Tamil merchant association in Barus which was found in Lobu Tua (Barus) in 1873, an ancient city on the coast of the Indian Ocean. Eyed livelihood as traders and plantation coolies has colored the arrival of Indians to the archipelago. But there is no organization that can bring together the Tamil Ethnic community, they will be more attached to one unit with them. This study aims to describe the extent of mutual trust of the ethnic Tamil community in other ethnic communities in Madras Village and around the Shri Mariamman Temple. This research is also expected to be useful in both the academic and practical fields. This research is quantitative descriptive. Research respondents determined by accidental sampling then proceed by rolling (snow ball sampling) as many as 69 respondents. Data collection using questionnaires, interviews and documentation. Data processing techniques using SPSS and using frequency distribution analysis to obtain conclusions and research recommendations. Based on the theory of trust (trust) can be known that mutual trust among other ethnists can be identified at a certain level. Through on the results of the study it can be seen that the level of mutual trust in Madras Village and the surrounding Shri Mariamman Temple is categorized at the level of mutual trust and solidarity and inter-ethnic social distance. Forms of mutual trust and solidarity include not worrying when dealing with different ethnicities, helping and protecting themselves from the interference of bad people. Inter-ethnic social distance determines community involvement in choosing different ethnicities based on categories: social, economic, political and educational. The ethnic Tamil community is given ample opportunity to determine mutual trust and solidarity and social distance with different ethnicities. However, it must be acknowledged that the level of mutual trust among the community is not yet maximal. More sustainable cooperation and supporting mutual trust still need to be improved.

Keywords : Tamil Ethnicity, Mutual Trust and Solidarity, Social Distance, Experience with Different Ethnicities

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan bimbinganNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Tingkat Saling Percaya (Mutual Trust) Etnis Tamil Terhadap Etnis Tionghoa, Jawa, Mandailing, dan Minang di Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sosial (S. Sos) pada program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa tanpa dukungan banyak pihak skripsi ini tidak akan selesai. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu dengan sepenuh hati, baik berupa ide, semangat, doa, bantuan moril sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Dalam penulisan skripsi ini, penulis juga tak lupa mengucapkan terima kasih banyak untuk kesempatan, waktu dan pikiran yang diluangkan oleh pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, yaitu kepada:

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S. Sos, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara atas segala fasilitas dan dukungan yang diberikan selama penulis mengenyam pendidikan di FISIP USU.

2. Ibu Dr. Harmona Daulay, S.Sos, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi FISIP USU atas dukungan, motivasi, semangat dan fasilitas yang diberikan selama penulis mengenyam pendidikan di Program Studi Sosiologi.

(9)

iv

3. Bapak Drs. T. Ilham Saladin, MSP selaku sekretaris Program Studi Sosiologi FISIP USU atas dukungan fasilitas pendidikan yang diberikan sekaligus Dosen Ketua Penguji terimakasih atas saran dan arahan pada saat ujian meja hijau.

4. Bapak Drs. Muba Simanihuruk, M.Si selaku dosen pembimbing saya yang tanpa henti memberikan motivasi, dukungan, kritik dan saran dalam proses penulisan dan penyusunan skripsi ini. Terimakasih juga saya sampaikan atas pembelajaran yang sangat begitu berharga, memanfaatkan waktu dengan baik, selalu mau berusaha dan mau untuk memiliki wawasan yang luas.

5. Ibu Dra. Linda Elida, M.Si selaku dosen anggota penguji yang telah banyak memberikan arahan kepada penulis untuk menganalisis permasalahan penelitian secara sosiologis. Serta ucapan terima kasih atas dukungan, motivasi dan fasilitas yang diberikan selama penulis mengenyam pendidikan di Program Studi Sosiologi.

6. Kepada seluruh dosen Sosiologi FISIP USU yang telah memberikan perhatian dan ilmu selama proses belajar di kelas maupun di luar kelas.

Tidak lupa juga staf pegawai Program Studi Sosiologi, Bang Abel dan Kak Ernita yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi surat menyurat.

7. Kepada ibu Dra. Rtya Tambunan, M.Si selaku dosen di Antropologi Sosial yang telah memberikan banyak wawasan kepada peneliti terkait penelitian skripsi, yang juga memberikan berbagai sumber refrensi mengenai masyarakat etnis Tamil.

(10)

v

8. Kepada kedua orang tua saya, Bapak Sahat Parsauran Naibaho dan Ibu Dortina Saragih atas segala jerih payah, dukungan doa dan materi yang tiada hentinya sejak penulis lahir hingga saat ini. Semoga doa dan dukungan kalian dapat menghantarkan anakmu untuk mencapai harapan dan cita-cita di kemudian hari. Meskipun nama bapak dan mamak saya buat diurutan yang ke 8, namun bagiku kalian selalu yang terbaik dan terutama. Terimakasih untuk kasih kalian yang setiap hari dapat ku rasakan serta mampu mengalahkan keluhan dan rasa menyerahku.

9. Yang tersayang kedua adikku, Carles Naibaho dan Serli Naibaho yang selalu menjadi harapanku untuk menggapai harapan mamak dan bamak.

Pernah mamak dan bapak berkata bahwa jika anak pertama berhasil dalam pendidikan maka adik-adiknya juga akan berhasil. Terimakasih untuk kehadiran kalian di hidup ku yang selalu membuat ku semangat dan berusaha menjadi contoh dalam menggapai cita, agar kelak kalian juga bisa mencapai lebih dari yang ku gapai. Terimakasih juga buat doa dan dukungan yang tidak ada hentinya kalian berikan kepada ku, aku mengasihi kalian.

10. Yang terkasih laki-laki tampan, berkulit hitam manis, berkumis tipis dan pemilik sedikit lukisan hitam sebagai tanda lahir di hidung serta tidak jarang memiliki sikap sok cuek, terimakasih untuk kesabaran dan teladan yang selalu diberikan. Terimakasih juga telah bersama penulis jauh sebelum penyusunan dan penulisan skripsi ini. Yang tidak hentinya membantu dan memberikan penulis semangat serta membawa penulis

(11)

vi

dalam doa. Terimakasih telah menjadi junior stambuk, teman terbaik hingga akhirnya saling mengasihi yang penulis sebut hasian.

11. Terimakasih kepada staf pegawai di Kelurahan Petisah Tengah khusunya bapak Darwin Dalimunte selaku kasi pemerintahan dan kepada bapak Halim Madona, SE selaku kepala lingkungan di Kampung Madras.

Terimakasih telah membantu penulis dalam mendapatkan data terkait skripsi ini di sekitar Kuil Shri Mariamman dan Kampung Madras.

12. Terimakasih kepada pengurus di Kuil Shri Mariamman, bapak Candra Bose selaku ketua pengurus dan kepada bapak Dharma selaku Pandita di Kuil Shri Mariamman. Terimakasih telah mendukung peneliti dalam menyusun skripsi ini dan terimakasih telah membantu penulis dalam mendapatkan data serta lebih dalam mengenai masyarakat etnis Tamil.

13. Terimakasih kepada bapak Bram, salah seorang warga di Kampung Madras yang telah membantu penulis dalam mendapatkan data serta juga memberikan wawasan terkait budaya dalam masyarakat etnis Tamil.

14. Kepada Ira Maya Sofa teman yang setiap malam menelpon untuk ingatkan agar semangat dalam mengerjakan skripsi, juga sampaikan tidak apa-apa untuk egois dari teman lainnya dalam mengerjakan skripsi serta jika masih bisa berusaha silahkan dikerjakan. Kepada Nanda Verawati Sirait teman yang hobby mencari diskon, berkaca mata dan berbadan lebih kurus dari ku dan teman ku Putri Ananda yang memiliki hobby akan produk Korea, berharap Sehun menjadi pasangan hidupnya, dan selalu ceria. Terimakasih untuk kesan dan kenangan manis saat bersama kalian. Dengan senang mendukung penulis dalam penyusunan skripsi ini, menghibur penulis dan

(12)

vii

bisa mengekspresikan diri apa adanya serta bisa tertawa mekipun hanya jarum peniti jatuh ke lantai serta tidak memberikan kesempatan untuk merasakan kesedihan hanya sendiri. Terimakasih untuk semangatnya dalam penulisan skripsi ini.

15. Kepada teman yang selalu sabar dan setia mendengar kalimat penulis setiap pagi dan siang bahkan malam. Yuyun Hartati Purba, Mas Rizal Saggala, Diana Sidabutar, Melda Lubis, Martin Simorangkir, dan Sefreyenni Asrina. Terimakasih untuk setiap doa dan dukungan semangat dari kalian, terimakasih untuk setiap kesan yang tak terlupakan. Bahkan kalian mampu memberikan kasih sebagai saudara bukan hanya sebatas teman. Terimakasih telah mendorong penulis dan memberikan masukan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini dan mengoreskan kenangan di ruang literasi USU.

16. Terimakasih kepada abang dan kakak Sosiologi 14, rekan-rekan Sosiologi 2015, teman-teman Sosiologi 2016, dan adik-adik Sosiologi 2017, 2018, serta 2019 yang tidak bisa penulis sebut namanya satu per satu yang telah memberikan kesan selama perjalanan dalam kehidupan perkuliahan.

17. Terimakasih kepada teman-teman Permata, adik-adik KAKR dan para orang tua di sektor Nazaret GBKP Rg. Namo Mbelin, terimakasih untuk dukungan dan setiap doa yang sepenuh hati dipanjatkan untuk penulis dalam penyusunan skripsi ini.

18. Terimkasih kepada keluarga di Pramuka SMA Negeri 1 Delitua dan Resimen Mahasiswa Batalyon-A USU yang pada prosesnya ikut ambil

(13)

viii

bagian dalam membentuk penulis memiliki jiwa yang tangguh dan semangat dalam berbagai hal salah satunya dalam penyusunan skripsi ini.

19. Terimakasih juga pada pihak-pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu telah memberikan semangat dan doa pada penulis serta membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan kalian semua.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan baik dari aspek metode, analisis, sistematika penyusunan dan penggunaan bahasa. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan apresiasi dari para pembaca berupa saran dan kritik untuk pembelajaran. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi orang yang membacanya. Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi dan melimpahkan berkatNya kepada kita semua.

Medan, Januari 2020 Penulis

Rini Naibaho NIM: 150901043

(14)

ix DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GRAFIK ... xiii

DAFTAR BAGAN... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

1.4.1. Manfaat Teoritis ... 7

1.4.2. Manfaat Praktis ... 7

1.5. Definisi Konsep ... 8

1.6. Operasional Variabel ... 13

BAB II KERANGKA TEORI ... 20

2.1 Modal Sosial... 20

2.2. Saling Percaya ... 24

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 31

3.1 Jenis Penlitian... 31

3.2 Lokasi Penelitian ... 31

3.3 Populasi dan Sampel ... 32

3.3.1 Populasi ... 32

3.3.2 Sampel dan Teknik Sampel ... 33

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.4.1. Data Primer ... 34

3.4.2. Data Sekunder ... 38

3.5. Instrumen dan Aspek Pengukuran ... 38

3.5.1 Instrumen... 38

3.5.2. Aspek Pengukuran ... 39

3.6 Pengolahan Data... 39

(15)

x

3.7. Teknik Analisa Data ... 41

3.7.1. Analisis Distribusi Frekuensi ... 41

3.7.2 Tabulasi Silang ... 41

3.8. Uji Reliabilitas ... 42

3.9. Keterbatasan Penelitian ... 42

BAB IV HASIL DAN ANALISA PENELITIAN ... 43

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 43

4.1.1 Letak dan lokasi Kelurahan Petisah Tengah ... 43

4.1.2 Sarana dan Prasarana Kelurahan ... 44

4.1.3 Sejarah Kelurahan Medan Petisah Tengah ... 45

4.1.4 Sejarah Kedatangan Bangsa India ke Nusantara ... 47

4.1.5 Sejarah Kuil Shri Mariamaan ... 70

4.1.6 Kebudayaan Masyarakat Etnis Tamil ... 72

4.1.7 Kependudukan... 88

4.1.8 Keadaan Sosial ... 88

4.2 Kondisi Pemerintahan ... 95

4.2.1 Visi dan Misi Kelurahan ... 95

4.2.2 Tugas Pokok Kelurahan ... 95

4.2.3 Pembagian Wilayah Kelurahan ... 98

4.2.4. Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan ... 103

4.3 Karakteristik Responden ... 104

4.3.1 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin ... 104

4.3.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 105

4.3.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 106

4.3.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 107

4.3.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan per Bulan ... 108

4.3.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengeluaran per Bulan ... 109

4.4 Analisis Rasa Saling Percaya dan Solidaritas ... 110

4.4.1 Rasa Saling Percaya dan Solidaritas Masyarakat etnisTamil terhadap Tetangga ... 110

4.5 Jarak Sosial Masyarakat Etnis Tamil dalam Antar-Etnis ... 128

4.4.1 Jarak Sosial Masyarakat Etnis Tamil dalam Antar-Etnis di Kelurahan Petisah Tengah ... 128

4.6 Tabulasi Silang ... 142

4.6.1 Pengaruh Usia Terhadap Rasa Saling Percaya dan Solidaritas ... 143

(16)

xi

4.6. 2 Pengaruh Pendidikan Terhadap Rasa Saling Percaya dan Solidaritas

... 144

4.6.3 Pengaruh Pekerjaan Jarak Sosial Antar-Etnis ... 145

4.7 Pengalaman Hubungan Etnis Tamil dengan Antar Etnis di Kelurahan Petisah Tengah ... 146

4.7.1 Pengalaman Hubungan Menyenangkan Etnis Tamil dengan Antar Etnis di Kelurahan Petisah Tengah ... 146

4.7.2 Pengalaman Hubungan Menyakitkan Etnis Tamil dengan Antar Etnis di Kelurahan Petisah Tengah ... 152

4.8 Uji Realibilitas ... 155

BAB V156 KESIMPULAN DAN SARAN ... 156

5.1 Kesimpulan ... 156

5.2 Saran ... 163

DAFTAR PUSTAKA ... 164

LAMPIRAN ... 170

.

(17)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Populasi Penduduk ... 32

Tabel 3. 2 Populasi Penduduk ... 33

Tabel 3. 3 Skala penilaian Likert ... 39

Tabel 4. 1 Sarana Kesehatan ... 44

Tabel 4. 2 Sarana Pendidikan ... 45

Tabel 4. 3 Jumlah Masyarakat Asal India ... 62

Tabel 4. 4 Kuil untuk Masyarakat Tamil ... 72

Tabel 4. 5 Data Penduduk Kelurahan Petisah Tengah berdasarkan Agama ... 89

Tabel 4. 6 Data Penduduk Kelurahan Petisah Tengah ... 92

Tabel 4. 7 Data Penduduk Kelurahan Petisah Tengah ... 94

Tabel 4. 8 Pengaruh Usia Terhadap Rasa Saling Percaya dan Solidaritas ... 143

Tabel 4. 9 Pengaruh Pendidikan Terhdap Rasa Saling Percaya... 144

Tabel 4. 10 Pengaruh Pekerjaan Terhadap Jarak Sosial Antar-Etnis ... 145

Tabel 4. 11 Uji Realibilitas ... 155

.

(18)

xiii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4. 1 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis Kelamin... 104

Grafik 4. 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... 105

Grafik 4. 3 Komposisi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 106

Grafik 4. 4 Komposisi Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 107

Grafik 4. 5 Komposisi Responden Berdasarkan Pendapatan per Bulan ... 108

Grafik 4. 6 Komposisi Responden Berdasarkan Pengeluaran per Bulan ... 109

Grafik 4. 7 Tanggapan Responden ... 113

Grafik 4. 8 Tanggapan Responden ... 114

Grafik 4. 9 Tanggapan Responden ... 117

Grafik 4. 10 Tanggapan Responden ... 119

Grafik 4. 11 Tanggapan Responden ... 122

Grafik 4. 12 Hubungan Antara Responden dengan Tetangga Beda Etnis dalam Melindungi diri dari Gangguan Orang Jahat ... 126

Grafik 4. 13 Tanggapan Responden ... 127

Grafik 4. 14 Tanggapan Responden ... 129

Grafik 4. 15 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Suami atau Istri ... 130

Grafik 4. 16 Tanggapan Responden ... 130

Grafik 4. 17 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Presiden ... 131

Grafik 4. 18 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Kepala Sekolah Tempat Anak Saya Sekolah ... 132

(19)

xiv

Grafik 4. 19 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Guru Sekolah Anak Saya... 133 Grafik 4. 20 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Teman Bermain Anak Saya di Sekolah ... 133 Grafik 4. 21 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Pembeli Barang (mis rumah) Saya ... 134 Grafik 4. 22 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Menyewa Barang (mis tanah/kereta) saya ... 135 Grafik 4. 23 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Tempat Membeli Kebutuhan Sehari-hari ... 136 Grafik 4. 24 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Tetangga Sebelah Rumah ... 137 Grafik 4. 25 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Warga Satu Kelurahan ... 138 Grafik 4. 26 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Tamu di Rumah ... 138 Grafik 4. 27 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Membantu di Saat Sulit ... 139 Grafik 4. 28 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Meminjamkan Uang ... 140 Grafik 4. 29 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Teman dalam Organisasi ... 140 Grafik 4. 30 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Bawahan dalam Organisasi ... 141

(20)

xv

Grafik 4. 31 Tanggapan Responden dalam Menjadikan atau Memilih Seseorang Sebagai Pemilik Yayasan Tempat Anak Sekolah (SD-SMA) ... 142

(21)

xvi

DAFTAR BAGAN

Bagan 4. 1 Struktur Organisasi Pemerintahan Kelurahan Petisah Tengah ... .104

(22)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Elemen Pokok Modal Sosial ... 26 Gambar 4. 1 Peta Lokasi Kelurahan Petisah Tengah...44 Gambar 1 Salah Satu Responden di Kuil Shri Mariamman...170 Gambar 2 Beberapa Responden di Kuil Shri Mariamman... 170 Gambar 3 Salah Satu Responden di Kuil Shri Mariamman ... 170 Gambar 4 Beberapa Responden di Kuil Shri Mariamman... 171 Gambar 5 Foto Ketika Responden Mengisi Kuesioner... 171 Gambar 6 Foto Ketika Responden Mengisi Kuesioner... 171 Gambar 7 Foto Ketika Wawancara dengan Pak Rajen di Kuil Shri Mariamman172 Gambar 8 Foto Ketika Wawancara dengan Informan di Kampung Madras ... 172 Gambar 9 Foto Ketika Wawancara dengan Beberapa Informan di Kampung Madras ... 172 Gambar 10 Suasana di Kampung Madras ... 173 Gambar 11 Suasana di Kampung Madras ... 173 Gambar 12 Suasana di Kampung Madras ... 173

(23)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan suatu negara yang kaya dan meiliki budaya yang begitu beragam. Keberhasilan komunikasi antarbudaya juga merupakan suatu kunci yang sangat penting untuk di perhatikan bagi masyarakat yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia. Kota Medan merupakan tempat yang didiami oleh masyarakat dengan berbagai latar belakang budaya yang berbeda.

Kesalahpahaman antarbudaya bisa saja terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat di kota-kota besar jika anggota masyarakat tidak dapat melakukan keberhasilan komunikasi dan tidak dapat memahami antara satu dengan lain mengenai budaya kelompok lain.

Kelurahan Petisah Tengah merupakan salah satu Kelurahan yang terletak di Wilayah Kecamatan Medan Petisah dengan tanah dataran jauh dari tepi pantai (laut). Kelurahan Petisah Tengah adalah sebuah kelurahan yang secara administratif dibagi menjadi 16 lingkungan, yaitu lingkungan I sampai dengan lingkungan XVI. Tiap-tiap lingkungan dikepalai oleh seorang Kepala Lingkungan atau biasa disebut Kepling dan luas wilayah yang dimiliki yaitu sebesar ± 127 hektar. Kelurahan ini lumayan padat karena didiami oleh jumlah penduduk yang banyak dengan jumlah 14.814 penduduk dengan berbagai jenis kelamin, agama, serta pekerjaan atau mata pencaharian, yakni sebagai berikut:

(24)

2

Tabel 1. 1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah/Orang %

1 Laki-laki 7201 47,4

2 Perempuan 7613 52,6

Jumlah 14.814 100

Sumber : Kantor Kelurahan Petisah Tengah, 2016, data diolah kembali penulis Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Kelurahan Petisah Tengah, jumlah penduduk Kelurahan Petisah Tengah pada data kantor kelurahan terakhir Februari 2016 adalah 14.814 penduduk yang terdiri atas 7.201 orang laki-laki dan 7.613 orang perempuan dengan memiliki selisih sekitar 412 orang.

Tabel 1. 2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama

No Agama Jumlah / Orang

1 Islam 4.569

2 Katolik 749

3 Protestan 1.993

4 Buddha 7.816

5 Hindu 447

Jumlah 14.814

Sumber : Kantor Kelurahan Petisah Tengah, 2016.

Dari tabel di atas maka dapat diberikan penjelasan bahwa penduduk yang beragama Buddha merupakan kaum mayoritas yang berada di Kelurahan Petisah Tengah dan tidak sedikit penduduknya yang beretnis Tionghoa. Selanjutnya disusul penduduk yang beragama Katolik, Protestan, dan Hindu. Mereka yang beragama Hindu kebanyakan merupakan pendatang dari India yang juga banyak menghuni daerah Kecamatan Petisah, termasuk Kelurahan Petisah Tengah.

(25)

3

Tabel 1. 3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan / Mata Pencaharian No Pekerjaan / Mata Pencaharian Jumlah / Orang

1 Karyawan Pemerintah dan ABRI 73

2 Pedagang / Pengusaha 2.043

3 Nelayan -

4 Buruh dan Tani 1.154

5 Karyawan Swasta diluar Tani 1.733

6 Pensiunan Pegawai Negeri 1.733

7 Pegawai Negeri Sipil (PNS) 115

8 Pengangguran 197

9 Fakir Miskin 25

10 Lain-lain 9.884

Jumlah 14.814 orang

Sumber : Kantor Kelurahan Petisah Tengah, 2016.

Berdasarkan komposisi penduduk sesuai tabel di atas, maka sejalan dengan beranekaragamnya agama yang dianut oleh masyarakat Kelurahan Petisah Tengah maka terdapat pula rumah-rumah peribadahan dari seluruh agama yang ada yaitu: delapan Mesjid dan dua Musholla bagi umat Islam, empat Gereja bagi umat Kristen dan Katolik, lima Vihara bagi umat Buddha, dan dua Kuil bagi umat Hindu yang kesemuanya terpencar di berbagai wilayah di Kelurahan Petisah Tengah. Adapun kuil yang berada di Kelurahan Medan Petisah Tengah tersebut yaitu Kuil Shir Mariamman untuk mereka yang beretnis Tamiil dan Sikh Gurdwaka Sri Guru Nanak Dev Ji untuk yang beretnis Punjabi (Kelurahan Medan Petisah Tengah, 2016).

Kuil Shri Mariamman merupakan kuil tertua di Sumatera Utara Kuil ini berusia sekitar 134 tahun sejak pertama kali dibangun pada tahun 1884. Kuil Shri Mariamman ini terletak di Kampung Madras yang dulunya dikenal sebagai Kampung Keling karena mayoritas wilayah tersebut ditempati oleh masyarakat dari India dan berkulit hitam. Karena sebagian besar pendatang yang berasal dari India dan berdomisili di Kelurahan Petisah Tengah menganut kepercayaan Hindu

(26)

4

maka dibangunlah kuil ini sebagai fasilitas untuk mereka beribadah di Kelurahan Medan Petisah Tengah (Gobatak, 2018).

Kota Medan tercatat memiliki 3 suku asli yaitu suku Batak Karo, Melayu dan Simalungun. Selain suku asli, juga terdapat Etnis pendatang lainnya, yaitu seperti Etnis Minang, Jawa, Aceh, Bugis, Banten dan beberapa Etnis lainnya.

Tidak hanya etnis itu saja, Kota Medan juga di isi oleh beragam etnis dunia pendatang seperti etnis Tionghoa, Arab, India serta etnis lainnya. Di kelurahan Medan Petisah Tengah terdir dari beberapa etnis atau suku bangsa yaitu: Batak Toba, Melayu, Minang, Jawa, Mandailing, Karo, Aceh, Nias, Cina (Tionghoa), Tamil dan Punjabi. Di Kelurahan tersebut etnis yang merpuakan etnis dominan yaitu Etnis Tionghoa, Jawa, Minang dan Mandailing (Zulkifli, 2005).

Etnis merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan, terutama bahasa. Dengan kata lain etnis adalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa. Etnis tamil merupakan etnis yang sebagaian besar masyarakatnya merupakan Hindu, dan etnis Tamil merupakan penganut Hindu tertua di kota Medan serta mereka berasal dari India bagian utara.

Selain berasal dari India bagian utara terdapat juga etnis yang berasal dari India bagian selatan yang berdomisili di Kelurahan Petisah Tengah yaitu etnis Punjabi (Zulkifli, 2005). Menurut sejarahnya, mereka merupakan pendatang yang awalnya bekerja sebagai kuli di perkebunan Deli. Mereka pertama kali dibawa masuk ke Indonesia oleh pemerintah Belanda pada abad ke 19, mereka umumnya dibawa sebagai pekerja pada sejumlah perkebunan di Kota Medan. Etnis Tamil yang masuk ke Indonesia kebanyakan dipekerjakan di perusahaan perkebunan

(27)

5

Belanda yang bernama Deli Maatschappij atau dalam bahasa indonesia dikenal dengan Tembakau Deli. Anggota kelompok etnis tamil yang datang ke kota Medan pada sekarang ini umumnya memang memiliki jenis mata pencaharian hidup sebagai pedagang. Ada yang menjadi pedagang tekstil, dan pedagang rempah-rempah di pusat-pusat pasar di kota Medan, selain menjadi pedagang etnis tamil juga bekerja dengan menyewakan alat-alat pesta, menjual makanan seperti martabak keliling dan menjual rempah-rempah (Zulkifli, 2005).

Komunitas Tamil dan Punjabi di Kota Medan selain merupakan pekerja kontrak di perkebunan, orang-orang India yang lain juga banyak datang ke Medan untuk berpartisipasi memajukan berbagai sektor usaha yang sedang tumbuh di kota Medan, seperti: kaum Chettiars atau Chettis (yang berprofesi sebagai pembunga uang, pedagang, dan pengusaha kecil); kaum Vellalars dan Mudaliars (kasta petani yang juga terlibat dalam usaha dagang); kaum Sikh dan orang-orang Uttar Pradesh. Selain itu terdapat juga orang-orang Sindi, Telegu, Bamen, Gujarati, Maratti (Maharasthra). Tetapi orang-orang Indonesia pada umumnya tak mengenali perbedaan mereka dan secara sederhana menyebutnya sebagai orang Keling dan orang Benggali saja (Akhindra, 2016).

Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut mempengaruhi gaya komunikasi di tengah-tengah masyarakat sehingga perbedaan budaya dapat menjadi sebuah rintangan dalam membangun jaringan sosial antara satu sama lain. Kebudayaan yang berbeda tersebut dapat menjadi rintangan dalam membangun jaringan sosial yaitu perbedaan norma, kebiasaan, dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi komunikasi (Ramstedt, 2008). Zulkifli (2005) menyatakan sejauh ini tidak ada organisasi yang dapat

(28)

6

menghimpun masyarakat etnis tamil dalam satu kesatuan. Mereka pada umumnya lebih terikat oleh kesatuan berdasarkan kesamaan agama, terutama di kalangan penganut Hindu dan Budha. Pada umumnya mereka yang merupakan etnis Tamil lebih terikat dan lebih dekat dengan yang memang merupakan satu kesatuan dengan mereka.

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui bagaimana tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat etnis Tamil terhadap etnis lain. Seperti yang telah disinggung oleh Zulkifli B. Lubis bahwa, tidak ada organiasasi yang dapat menghimpun masyarakat etnis Tamil, serta pada umumnya mereka akan lebih terikat dengan satu kesatuan dengan mereka. Maka dari itu peneliti ingin meneliti bagaimana tingkat saling percaya masyarakat etnis Tamil terhadap masyarakat di luar etnis mereka. Karena menurut pandangan Fukuyama (2002), trust atau kepercayaan adalah sikap saling mempercayai di masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial dan ekonomi.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yaitu pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian yang berkaitan dengan topik atau judul penelitian. Rumusan masalah akan mengarahkan peneliti agar terfokus dan tidak lari dari jalur yang telah ditetapkan.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Bagaimana tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat etnis Tamil terhadap etnis Tionghoa, Jawa, Minang dan Mandailing?

(29)

7 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengatahui:

Untuk mengetahui dan menginterpretasi tingkat saling percaya (mutual truust) masyarakat etnis Tamil terhadap etnis Tionghoa, Jawa, Minang dan Mandailing.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki 2 manfaat yaitu:

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini memiliki manfaat secara teoritis yaitu untuk memperkaya penelitian-penelitian sejenis yang telah ada yang dapat dijadikan perbandingan dengan penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat dijadikan sebagai refrensi terkait dengan penelitian-penelitian serupa yaitu tentang tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat etnis Tamil di Kota Medan terhadap masyarakat di luar etnis mereka yaitu Tionghoa, Jawa, Mandailing dan Minang.

1.4.2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini berguna untuk:

1. Menambah wawasan penulis mengenai tingkat saling percaya etnis Tamil terhadap etnis Tionghoa, Jawa, Mandailing dan Minang di Keluahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah, untuk selanjutnya dijadikan sebagai acuan dalam bersikap dan berperilaku dengan etnis Tamil.

(30)

8

2. Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas tingkat saling percaya etnis Tamil terhadap etnis lainnya di Keluahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah.

3. Menambah khazanah keilmuan tentang nilai-nilai tingkat saling percaya etnis Tamil etnis Tionghoa, Jawa, Mandailing dan Minang di Keluahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah.

4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti berikutnya yang ingin meneliti dan mengkaji lebih dalam tentang penelitian sebelumnya mengenai tingkat saling percaya (mutual trust) masyarakat etnis Tamil terhadap etnis lain.

1.5. Definisi Konsep

Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena yang sama (Bungin, 2005). Konsep adalah defenisi abstrak mengenai gejala atau realita atau suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Suyanto dan Sutinah, 2005: 49). Konsep yang ada kemudian akan menjadi panduan dan acuan bagi peneliti ketika pada saat melakukan penelitian agar tidak terjadi kerancuan. Serta konsep merupakan suatu proses dan upaya guna menegaskan dan membatasi makna konsep dalam suatu penelitian untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian, oleh sebab itu maka peneliti harus membuat pembatasan dan penegasan makna konsep yang diteliti.

Adapun konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(31)

9 1. Rasa Saling Percaya dan Solidaritas

Kepercayaan (trust) adalah suatu bentuk keinginan untuk mengambil resiko dalam hubungan sosialnya yang didasari oleh rasa percaya bahwa yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, paling tidak yang lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya (Putnam, 1995). Menurut Fukuyama (2001), trust merupakan sikap saling mempercayai di masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial. Francois (2003) memandang trust sebagai komponen ekonomi yang relevan melekat pada kultur yang ada pada masyarakat yang akan membentuk kekayaan modal sosial. Menurut Pretty dan Ward (2000), terdapat dua macam kepercayaan: kepercayaan terhadap individu yang kita mengenalnya, dan kepercayaan terhadap orang yang kita tidak tahu, namun akan meningkat karena kenyamanan kita dalam pengetahuan struktur sosial. Sedangkan Solidaritas adalah suatu perasaan emosional dan moral yang terbentuk dalam hubungan antar individu atau kelompok yang didasarkan oleh rasa saling percaya, kesamaan tujuan dan cita-cita serta adanya kesetiakawanan dan rasa sepenanggungan.

Menurut Pretty dan Ward (2001), sikap saling percaya merupakan unsur pelumas yang sangat penting untuk kerja sama, atau dalam istilah Putnam (1999) sikap saling percaya melincinkan kehidupan sosial (trust lubricates social life) . Menurut Putnam dalam kajiannya di Italia menemukan bahwa para warga negara di negara bagian Emilia-Roagna dan Tuscany misalnya banyak organisasi- organisasi komunitas yang aktif, dan mereka di tautkan oleh isu-isu public, bukan melalui pola patronase. Mereka percaya satu sama lain untuk berlaku fair dan

(32)

10

mematuhi hukum. Dalam komunitas-komunitas ini para pimpinan relative jujur dank omit terhadap kesetaraan, secara horizontal jaringan-jaringan sosial politik diorganisasikan, serta bukan hirarkikal. Menurut Putnam komunitas sipil seperti ini mampu menilai penting solidaritas, partisipasi warga (civic participation) dan integritas serta di dalam komunitas seperti ini demokrasi berjalan (democracy work). Sikap saling percaya itu terbangun karena adanya dua sumber yang saling terkait, yaitu norma-norma resiprositas (norms of reciprocity) dan jaringan keterlibatan (Naping, 2013).

Jika tidak ada rasa saling percaya di dalam lingkungan masyarakat, maka masyarakat akan lebih mudah menerima gagasan yang dikemukakan oleh pihak lain. Namun jika rasa saling percaya ada di lingkungan tersebut maka ketika ada hal-hal yang dirasa kurang tepat, maka mereka tidak sungkan untuk bertanya atau mempertanyakannya. Dengan kata lain suatu lingkungan yang penuh dengan rasa saling percaya adalah suatu lingkungan yang inovatif, dimana inovasi, kreativitas dan pembaharuan sangat dihargai serta terdapat kepedulian.

Saling percaya terhadap yang lain dalam sebuah komunitas memiliki harapan yang lebih untuk dapat berpartisipasi dalam memecahkan permasalahan lingkungan. Rasa saling percaya yang dimaksudkan didalam penelitian ini adalah rasa percaya dan solidaritas terhadap orang lain namun diluar kelompok sosial mereka atau pun diluar etnis mereka, yaitu diluar etnis masyarakat Tamil.

2. Jarak Sosial Antar Etnis

Jarak sosial merupakan perasaan tertentu yang memisahkan individu atau kelompok dari kelompok lain dan dengan suatu tingkat penerimaan tertentu pada suatu atribut-atribut yang melekat pada kelompok lain (Khadijah,2015). Apabila

(33)

11

jarak sosial pada seorang komunikator dari suatu etnis tertentu dengan komunikan dari etnis lain semakin sempit, maka komunikasi yang terjalin diantara mereka adalah semakin efektik. Dan sebaliknya, ketika semakin lebar jarak sosial yang terjalin antara komunikator dari suatu etnis dengan seorang komunikan dari etnis lain, maka komunikasi yang terjadi tidak akan efektif. Jarak sosial dapat dilihat dari perilaku seseorang pada yang menjauhi kelompok lain serta mereka sendiri.

Jarak sosial ialah orang yang berinteraksi yang masih dapat berbicara secara wajar namun tidak menyentuh. Dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis, kemungkinan besar jarak sosial yang terjadi karena terdapat beragam kelompok yang memiliki kepentingan dan fungsi yang berbeda. Jarak sosial dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kelompok primer.

Kelompok primer dalam jarak sosial merupakan suatu hubungan yaitu dimana anggotanya saling mengenal serta terdapat kerjasama yang erat.

3. Etnis dan Masyarakat Etnis Tamil

Etnis atau suku merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan, bahasa.

Dengan kata lain etnis adalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa (Koentjaraningrat, 1979).

Etnis merupakan ditentukan oleh adanya kesadaran kelompok, pengakuan atas kesatuan kebudayaan dan juga persamaan asal-usul. Adapun etnis-etnis asli yang ada di Sumatera Utara yaitu Melayu, Batak Karo, Batak Toba, Batak Mandailing/Angkola, Batak Pesiar, dan Simalungun.

(34)

12

Masyarakat Tamil merupakan masyarakat yang membawa kepercayaan Hindu masuk ke Sumatera Utara. Dari segi budaya, masyarakat Tamil tetap memelihara kebudayaan yang berasal dari India, seperti upacara kelahiran, perkawinan, kematian, bahasa dan aksara Tamil. Untuk melaksanakan kegiatan keagamannya, masyarakat Tamil mendirikan Perhimpunan Shri Mariamman Kuil sebagai kuil pertama di Kota Medan.

4. Pengalaman dengan Etnis Lain

Pengalaman dapat diartikan sebagai sesuatu yang pernah dialami, dijalani dan dirasakan, baik yang sudah lama serta yang baru saja terjadi (Mapp dalam Saparwati, 2012). Pengalaman merupakan pengamatan yang kombinasi dari pengelihatan, penciuman, pendengaran juga pengalaman masa lalu (Notomojo dalam Saparwati, 2012). Maka pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami, dijalani serta yang dirasakan dan selanjutnya disimpan dalam suatu ingatan.

Sedangkan etnis adalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa (Koentjaraningrat, 2007).

Etnis dapat ditentukan berdasarkan persamaan asal-usul yang merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan suatu ikatan.

Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda walaupan pada saat melihat suatu obyek yang sama. Pengalaman setiap orang pada suatu obyek dapat berbeda-beda karena pengalaman memiliki sifat subyektif. Apapun yang memasuki indera dan diperhatikan akan disimpan di dalam memorinya.

Pengalaman dalam penelitian ini akan digunakan untuk mengetahui tanggapan yang terjadi pada responden masyarakat etnis Tamil terhadap etnis lainnya, baik itu pengalaman yang menyenangkan juga pengalaman yang menyakitkan.

(35)

13 1.6. Operasional Variabel

Operasional variabel adalah suatu batasan yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau mempersepsikan kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.

Operasional variabel digunakan untuk melihat variabel-variabel yang menjadi kajian penelitian. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Saling Percaya dan Solidaritas, sedangkan yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini yaitu Jarak Sosial Antar Etnis.

1. Variabel Bebas (X)

Adapun yang menjadi indikator Saling Percaya dan Solidaritas dalam penelitian ini,yaitu:

1. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil Ketika Berhubungan dengan Etnis Lain

Pada Tahap ini bermaksud untuk melihat sejauh mana kesadaraan masyarakat etnis Tamil dalam memberikan penilaian pada etnis lain. Tidak jarang orang lain akan memberikan penilaian kurang percaya dan sehingga harus waspada/hati-hati ketika berhubungan dengan etnis lain daripada memberikan penilaian bahwa sebagian orang yang berbeda etnis dapat dipercaya. Tanggapan keputusan masyarakat etnis Tamil pada tahap ini akan berlanjut pada tahap selanjutnya..

2. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil akan Rasa Percaya Pada Tetangga Etnis Lain di Lingkungan

Percaya adalah tindakan yang menyatakan bahwa sesuatu benar dan nyata.

Pada Tahap ini memiliki maksud untuk melihat sejauh mana penilaian

(36)

14

masyarakat etnis Tamil pada pernyataan bahwa sebagian besar orang yang berbeda etnis di tempat tinggal atau tetangga mereka dapat dipercaya.

3. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil dalam Hal Mengambil Keuntungan Tetangga Etnis Lain di Lingkungan

Mengambil keuntungan adalah suatu tindakan menarik atau mengambil keuntungan dari sesuatu untuk menjadi untung. Pada tahap ini dilakukan untuk melihat bagaimana persetujuan masyarakat etnis Tamil akan etnis lain. Pada tahap ini akan dilihat bagaimana tanggapan masyarakat etnis Tamil pada tetangga atau orang yang berbeda etnis di Kelurahan Petisah Tengah. Apakah masyarakat akan hati-hati ketika berhubungan dengan etnis lain karena orang akan mengambil keuntungan dengan orang yang berbeda etnis di tempat tinggal/tetangga mereka atau tidak perlu hati-hati karena orang tidak akan mengambil keuntungan dengan etnis yang berbeda di Kelurahan itu.

4. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil dalam Hal Membantu Tetangga Etnis Lain di Lingkungan

Membantu adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk memberikan dan menghasilkan keuntungan terhadap pihak lain. Membantu dapat berupa seperti tenaga, waktu serta juga dana. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi orang dalam membantu yaitu dilatarbelakangi oleh faktor situasional dan faktor personal. Adapun faktor situasional yang mempengaruhi individu dalam membantu yaitu; Kehadiran orang lain, menolong orang yang disukai, pengorbanan yang harus dikeluarkan, atribusi terhadap korban, dan model. Serta faktor personal yang

(37)

15

mempengaruhi individu dalam membantu yaitu: Emosi positif atau negatif, jenis kelamin dan usia. Pada tahap ini akan digunakan untuk megetahui bagaimana tanggapan masyarakat etnis Tamil pada tetangga atau orang yang berbeda etnis di Kelurahan Petisah Tengah, apakah akan membantu mereka ketika mereka membutuhkan bantuan atau malah tidak memberikan bantuan. Karena salah satu elemen dalam rasa saling percaya adalah masyarakat mau saling membantu dan peduli.

5. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil dalam Hal Pinjam- Meminjam Uang Tetangga di Lingkungan

Percaya bahwa tetangga atau orang yang berbeda etnis akan membantu ketika memerlukan bantuan merupakan salah satu indikator dari rasa saling percaya. Membantu dapat berupa waktu, tenaga, dan dana yaitu seperti memberikan pinjaman berupa uang kepada tetangga atau orang yang berbeda etnis. Pada tahap ini akan dilakukan untuk mengetahui mengenai tanggapan penilaian masyarakat etnis Tamil pada tetangga atau orang yang berbeda etnis dalam membantu berupa dana yaitu pinjaman uang. Apakah orang yang berbeda etnis di Kelurahan Petisah Tengah akan saling percaya atau bahkan saling tidak percaya dalam hal pinjam- meminjamkan uang.

6. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil dalam Hal Melindungi Tetangga Etnis Lain di Lingkungan

Percaya bahwa tetangga adalah orang baik dan akan melindungi diri dari gangguan orang jahat juga merupakan salah satu indikator untuk melihat rasa saling percaya pada suatu wilayah. Pada tahap ini akan dilakukan

(38)

16

untuk mengetahui keterlibatan masyarakat Tamil dalam memberikan penilaian pada tetangga/orang yang berbeda etnis dengan mereka dalam hal peduli dan mau melindungi diri dari gangguan orang yang jahat.

7. Keterlibatan Tanggapan Masyarakat Etnis Tamil dalam Hal Khawatir Kehilangan Barang Tetangga Etnis Lain di Lingkungan

Percaya meninggalkan rumah, untuk berpergian ke luar kota, bahwa rumah yang ditinggalkan akan aman dan perasaan aman ketika orang yang berbeda etnis datang untuk bertamu juga merupakan salah satu indikator dari rasa saling percaya dan solidaritas. Di tahap ini akan digunakan untuk mengetahui mengenai keterlibatan masyrakat etnis Tamil dalam memberikan penilaian mengenai tamu yang berbeda etnis datang untuk bertamu ke rumah tetangga mereka. Akankan tetangga mereka di Kelurahan Petisah Tengah akan memiliki perasaan khawatir akan kehilangan barang ketika tamu yang berbeda etnis datang bertamu atau bahhkan tidak memiliki perasaan khawatir atau tidak aman.

2. Variabel Terikat (Y)

Adapun yang menjadi indikator jarak sosial antar etnis dalam penelitian ini,yaitu:

1. Keluarga

Keluarga merupakan sekumpulan orang yang di hubungkan oleh sebeb perkawinan, adopsi dan kelahiran yang memiliki tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari individu-individu yang ada di dalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling

(39)

17

ketergantungan untuk mencapai tujuan bersama (friedman, 1998).

Keluarga juga sebagai perkumpulan dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing- masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (Effendy, 1998). Maka keluarga merupakan suatu seperangkat bagian yang saling memiliki rasa saling tergantung antara satu sama lain juga memiliki perasaan berindentitas dan berbeda dari anggota lainnya. Keluarga disini dijelaskan sebagai ketersediaan responden dalam memilih atau menjadikan seseorang dari etnis yang berbeda sebagai Mertua atau Menantu, Suami atau Isteri dan lain sebagainya.

2. Ekonomi

Ekonomi adalah suatu aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa.Ekonomi pada peenelitian ini yaitu untuk menjelaskan ketersediaan responden dalam memilih seseorang dari etnis lain sebagai penyedia tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari, menyewa barang serta membeli barang seperti rumah.

3. Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu segala upaya dan usaha yang dilakukan guna membuat masyarakat memiliki kekuatan spiritual keagamana, pengendalian diri, memiliki kecerdasan serta memiliki keterampilan.

Pendidikan mampu membentuk individu mampu memiliki disiplin,

(40)

18

pantang menyerah, tidak sombong, kreatif, mandiri serta menghargai orang lain. Pendidikan dalam aspek ini digunakan untuk mengetahui penilaian masyarakat etnis Tamil terhadap etnis yang berbeda dalam memilih seseorang menjadi Guru sekolah bagi anggota keluarga mereka, memilih teman bermain juga serta dalam memilih yayasan tempat anggota keluarga mereka sekolah yaitu dari SD sampai SMA/SMK.

4. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu termasuk benda, kondisi, keadaan maupun pengaruh yang terdapat di sekitar lingkungan. Lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Pada tahap ini akan digunakan untuk mengetahui ketersediaan responden dalam memilih seseorang yang berbeda etnis untuk menjadi tetangga sebelah rumah dan warga satu kelurahan.

5. Komunitas

Komunitas adalah suatu kelompok sosial atau sekumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.

Komunitas dalam hal ini digunakan untuk menilai ketersediaan responden dalam memilih seseorang yang berbeda etnis untuk menjadi teman dalam organisasi serta bawahan dalam organisasi.

6. Solidaritas

Solidaritas merupakan suatu rasa yang bersifat kesetiakawanan dan berdasar pada persamaan moral dan kepercayaan di antara individu dan atau kelompok yang dianut secara berasama dan diperkuat oleh rasa emosional bersama. Solidaritas dalam hal ini digunakan untuk menilai

(41)

19

ketersediaan responden masyarakat etnis Tamil dalam memilih seseorang menjadi penolong di saat sulit dan meminjamkan uang.

(42)

20 BAB II

KERANGKA TEORI

2.1 Modal Sosial

Modal sosial merupakan suatu yang tertanam di dalam masyarakat meliputi lembaga, hubungan, sikap dan nilai-nilai yang mengatur interaksi di antara orang-orang dan yang mengarah pada ekonomi dan sosial. Modal sosial memiliki dua bentuk, yaitu modal sosial struktural dan kognitif. Apakah pada tingkat mikro, meso, atau makro, modal sosial memberikan pengaruhnya pada pembangunan sebagai hasil dari interaksi antara dua jenis modal sosial yang berbeda yaitu dimensi kognitif dan dimensi struktural.

Dimensi kognitif, berkaitan dengan nilai-nilai, sikap dan keyakinan yang mempengaruhi kepercayaan, solidaritas dan resiprositas yang mendorong ke arah terciptanya kerjasama di dalam masyarakat guna mencapai tujuan bersama. Modal sosial kognitif mengacu yakni pada norma, nilai, kepercayaan, sikap, dan keyakinan bersama. Oleh karena itu lebih subjektif dan konsep tidak berwujud. mengembangkan alat pengukur tingkat keberadaan modal sosial.

Dengan terpeliharanya nilai-nilai budaya sebagai modal sosial yang akan memungkinkan juga terpeliharanya hubungan yang harmonis, baik dalam sesama anggota kelompok secara internal maupun dengan orang-orang dari kelompok suku bangsa atau etnik yang berbeda. Namun ada kelompok etnik tertentu lebih menekankan pada nilai-nilai solidaritas dan kerjasama dalam kelompok sendiri dan secara tradisional tidak memiliki pedoman untuk berinteraksi secara baik dengan kelompok lain (Syahra, 2003).

(43)

21

Terdapat tiga unsur utama dalam modal sosial. Pertama, adanya jaringan sosial memungkinkan adanya koordinasi dan komunikasi yang dapat menumbuhkan rasa saling percaya di antara sesama anggota masyarakat. Kedua, kepercayaan (trust) memiliki implikasi positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini dibuktikan dengan suatu kenyataan bagaimana keterkaitan orang-orang yang memiliki rasa saling percaya (mutual trust) dalam suatu jaringan sosial memperkuat norma-norma mengenai keharusan untuk saling membantu. Ketiga berbagai keberhasilan yang dicapai melalui kerjasama pada waktu sebelumnya dalam jaringan ini akan mendorong bagi keberlangsungan kerjasama pada waktu selanjutnya. Lebih jauh Putnam mengatakan bahwa modal sosial bahkan dapat menjembatani jurang pemisah antara kelompok-kelompok yang berbeda ideologi dan memperkuat kesepakatan tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat.

Modal sosial struktural memfasilitasi pembagian informasi, dan aksi kolektif dan pengambilan keputusan melalui peran mapan, jejaring sosial dan lainnya. Dimensi ini dilengkapi dengan aturan, prosedur, dan preseden yang mendorong dan mendukung dalam terjadinya kegiatan-kegiatan kolektif yang memberi manfaat bagi seluruh masyarakat. masyarakat. Dimensi struktural ini sangat penting karena berbagai upaya pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan lebih berhasil bila dilakukan melalui kelembagaan sosial pada tingkat lokal (Syahra, 2003).

Putnam menyatakan bahwa modal sosial terdiri dari jejaring sosial dan norma sosial timbal balik serta kepercayaan yang muncul dari masyarakat tersebut.

Putnam juga mengklaim bahwa komunitas-komunitas dimana orang beribadah bersama merupakan repositori sosial yang paling penting di Amerika (Martin,

(44)

22

2008). Modal sosial yang disediakan oleh gereja-gereja Protestan di negara Amerika sangat berkhasiat, dan dengan modal sosial tersebut mereka saling"menjembatani" jaringan (Martin, 2008). Jaringan akan erat dengan modal sosial untuk kelangsungan ekonomi di pasar global, maka harus menanamkan sikap terbuka dan inklusif. Demikian pula dengan modal spriritual akan kondusif dalam aktivitas pasar, maka harus menciptakan jaringan sosial dan nilai-nilai sosial yang bekerja sama lebih dari melawan kepercayaan dan kolaborasi.

Menurut Putnam (2000) modal sosial adalah jaringan kerja dan norma asosiasi timbal balik yang memiliki nilai. Menurutnya modal sosial terdiri dari jejaring sosial, norma sosial timbal balik dan kepercayaan yang muncul dari mereka. Di dalam masyarakat sendiri tersimpan sejumlah potensi dan kekuatan, yang bila didayagunakan secara baik akan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan. Kelompok masyarakat akan kuat dan besar apabila bisa membangun tiga hal ini yaitu, (i) kepercayaan, (ii) norma yang berlaku dan ditaati bersama, dan (iii) jejaring yang kuat. Menurut Putnam (1996) bahwa:

“By social capital„ I mean features of social life – networks, norms and trust – that enable participants to act together more effectively to pursue shared objectives.”

Modal sosial adalah fitur-fitur di dalam kehidupan sosial, semisal jejaring, norma, dan kepercayaan, yang kesemuanya bisa digunakan oleh partisipan untuk berbuat bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama.

(45)

23

Namun Putnam (2000) melakukan riset tentang keterhubungan sosial di masyarakat Amerika dan kemudian mendefinisikan modal sosial sebagai berikut:

“The idea at the core of the theory of social capital is extremely simple:Social networks matter. Networks have value, ... We describe social networks and the associated norms of reciprocity as social capital, because like physical and human capital (tools and training), social networks create value, both individual and collective, and because we can invest in networking. Social networks are, however, not merely investment goods, for they often provide direct consumption value.”

Ide utama dari teori modal sosial adalah jaringan sosial. Jaringan memiliki nilai sosial dan norma-norma yang terkait resiprositas (saling memberi, saling merespon), jaringan sosial menciptakan nilai bagi dua pihak, individu dan kelompok. Jaringan sosial adalah tidak hanya investasi barang semata, namun lebih pada nilai-nilai sosial.

Menurut Fukuyama (2002), modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok di dalam masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka. Pendapat Fukuyama ini sejalan dengan pendapat Coleman (1988) bahwa modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk bekerja sama dengan mencapai tujuan bersama didalam berbagai kelompok dan organisasi.

Modal sosial merupakan serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal, seperti rasa saling percaya, saling pengertian, adanya jaringan, hubungan sosial, kesamaan nilai dan perilaku, yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka dan akhirnya mencapai tujuan bersama (Syahfitri 2015). Modal sosial yakni merupakan rasa memiliki, kerjasama

(46)

24

komunitas, keterlibatan masyarakat dan norma-norma kepercayaan dan timbal balik. Fokus di sini bukan di individunya, namun di komunitas di mana ia tertanam.

2.2. Saling Percaya

Saling percaya (mutual trust) merupakan sebagai suatu rasa kepercayaan terhadap suatu pihak untuk menjadi pasrah atau menerima tindakan dari pihak lain berdasarkan pengharapan bahwa pihak lain tersebut akan melakukan sesuatu tindakan tertentu yang penting bagi pihak yang memberikan kepercayaan, terhadap kemampuan memonitor dan mengendalian pihak lain. (Mayer, 1995).

Morgan dan Hunt (1994) berpendapat bahwa ketika suatu pihak mempunyai keyakinan bahwa pihak lain yang terlibat dalam pertukaran mempunyai reliabilitas dan integritas, maka dapat dikatakan ada kepercayaan Darsono dan Dharmmesta (2005). Lingkungan yang penuh dengan rasa saling percaya adalah suatu lingkungan yang inovatif, dimana inovasi, kreativitas, dan pembaharuan sangat dihargai. Lingkungan tersebut juga merupakan lingkungan yang penuh dengan kepedulian, yang artinya bahwa masyarakat dil lingkungan tersebut saling peduli terhadap kesejahteraan, masa depan dan keberhasilan orang lain.

Sikap saling percaya juga merupakan suatu dasar untuk membangun keinginan untuk membentuk jaringan sosial (networks) yang pada akhirnya akan diwujudkan dalam pranata(institution). Salng percaya meliputi beberapa aspek yaitu adanya kejujuran, kewajaran, sikap egaliter, toleransi dan kemurahan hati.

Elemen-elemen yang terdapat dalam modal sosial tersebut tidaklah sesuatu yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, namun harus di kreasikan dan

(47)

25

dikembangkan melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya didalam suatu unit sosial yaitu seperti keluarga, komunitas, lingkungan dan sebagainnya.

Sikap saling percaya (trust) merupakan salah satu elemen dari modal sosial yang merupakan sikap salah satu syarat bagi lahirnya sikap saling percaya dalam antar beberapa golongan komunitas dan merupakan dasar untuk membentuk jaringan sosial (networks). Rasa saling percaya (mutual trust) yang terdapat di antara masyarakat etnis Tamil terhadap masyarakat etnis Tionghoa, Jawa, Mandailing dan Minang adalah salah satu unsur kerja yang merupakan penting karena kondisi sosial ini menjadi prasyarat bagi berkembangnya sikap, motif dan niat untuk menjalin kerjasama yang efektif. Jika terdapat rasa saling percaya yang tinggi di suatu lingkungan, maka masyarakat di tempat tersebut akan lebih terbuka satu terhadap yang lain, baik dalam hal mengemukakan pendapat atapun gagasan mereka serta dalam kesedian mereka dalam mendengarkan dengan seksama dan memahami dengan baik apa yyang disampaikan pihak lain. Lingkungan yang penuh dengan rasa saling percaya merupakan lingkungan yang nyaman dan menggairahkan dimana masyarakat dapat di percaya dan akan mendorong masyarakat untuk saling berkomunikasi.

Modal sosial yang berintikan kepercayaan (trust) merupakan dimensi budaya dari kehidupan ekonomi yang sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan ekonomi. Hilangnya sikap saling percaya antar warga masyarakat, maupun antar warga dengan pemerintah, merupakan contoh hilangnya potensi modal sosial dalam kehidupan masyarakat. Koperasi, serikat tolong menolong , dan arisan, semuanya dapat terjadi karena adanya kepercayaan dalam suatu komunitas, yang kemudian melembaga menjadi pranata sosial resmi yang dimiliki

(48)

26

masyarakat. Kepercayaan inilah yang menjadi faktor utama dalam modal sosial, dimana kepercayaan dapat menjadi perekat bagi kerjasama dalam masyarakat.

Fukuyama (2002) berpendapat bahwa kepercayaan adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku normal, jujur, dan kooperatif berdasarkan norma-norma yang dimiliki besama, demi kepentingan anggota yang lain dari komunitas itu.

Gambar 2. 1 Elemen Pokok Modal Sosial

Sumber: Naping, 2013

Trust merupakan suatu produk yang sangat penting dalam mendukung terciptanya modal sosial. Fukuyama (2002), menyebutkan trust sebagai harapan- harapan terhadap keteraturan, kejujuran, perilaku kooperatif yang muncul dari dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama anggota komunitas-komunitas itu. Unsur kedua dari modal sosial yaitu reciprocal (timbal balik), dapat dijumpai dalam bentuk memberi, saling menerima dan saling membantu yang dapat muncul dari interaksi sosial (Soetomo, 2006, p.87). Unsur yang selanjutnya yakni jaringan sosial. Hubungan masyarakat yang lebih luas akan menyebakan masyarakat tersebut lebih memiliki rasa kepercayaan sosial lebih tinggi kepada kelompok lain.

(49)

27

Dasar perilaku manusia dalam membangun modal sosial adalah rasa percaya, melalui nilai moralitas yang tinggi. Maka masyarakat akan mudah berinteraksi satu sama lain, namun memerlukan aktivitas kerjasama dan koordinasi sosial yang diarahkan oleh tingkatan moralitas. Kasih sayang dalam keluarga dilandasi oleh rasa saling percaya antar individu, sedangkan rasa percaya menjadi alat untuk membangun hubungan. Rasa percaya merupakan sikap yang siap dalam menerima resiko dan ketidakpastian dalam berinteraksi. Kerjasama yang baik dimulai dari rasa percaya yang tinggi terhadap seseorang, semakin tebal rasa percaya yang terjalin terhadap orang lain akan semakin kuat pula jalinan kerjasama yang akan terbentuk. Kepercayaan sosial akan muncul dari interaksi yang didasari oleh adanya norma dan jaringan kerja pada pihak-pihak yang terlibat dalam interaksi tersebut. Aktivitas memantau perilaku orang lain agar sesuai norma yang dianut dan disepakati tidak akan diperlukan lagi bila sudah terbentuk rasa saling percaya.

Tingkat kepercayaan sosial rata-rata di seluruh negara, memprediksi tingkat kepercayaan sosial berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional dan sama kuatnya dengan modal finansial dan fisik. Ini juga terkait dengan banyak hasil non-ekonomi lainnya, seperti kepuasan hidup (positif) dan bunuh diri (negatif). Singkatnya, tidak menyenangkan tinggal di tempat sebagian besar orang tidak bisa dipercaya. Kepercayaan yang rendah menyiratkan masyarakat di mana harus mengawasi bahu; di mana transaksi membutuhkan pengacara alih-alih berjabat tangan; dan di mana mempekerjakan sepupu atau ipar untuk bekerja untuk pribadi daripada orang asing yang mungkin jauh lebih baik dalam pekerjaan itu (World Values Survey Data).

(50)

28

Menurut analisis World Valus Survey Data bahwa, Masyarakat Korea adalah orang yang mengesankan dan rajin, dan terkenal di seluruh dunia karena kinerja pendidikannya yang luar biasa. Mereka benar untuk berpikir tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan kepercayaan sosial yang jatuh serta kekuatan komunitas mereka. Kepercayaan sosial adalah indikator yang kuat dalam kesehatan masyarakat dan ekonomi kita. Itu membutuhkan lebih banyak perhatian daripada yang didapatnya.

Trust bermanfaat bagi pencipta ekonomi tunggal karena bisa diandalkan untuk mengurangi biaya (cost), hal ini melihat dimana dengan adanya trust tercipta kesediaan seseorang untuk menempatkan kepentingan kelompok diatas kepentingan individu. Adanya high-trust akan terciptanya solidaritas kuat yang mampu membuat masing-masing individu bersedia mengikuti aturan, sehingga ikut memperkuat rasa kebersamaan. Bagi masyarakat low-trust dianggap lebih inferior dalam perilaku ekonomi kolektifnya. Apabila low-trust terjadi di dalam suatu masyarakat, maka campur tangan negara perlu dilakukan guna memberikan bimbingan (Fukuyama, 2002, p.13).

Kepercayaan dalam modal sosial dapat diperoleh melalui hubungan vertikal dan horizontal. Hubungan vertikal dalam hal ini adalah bahwa pekerja migran menciptakan hubungan sosial yang baik dengan para pengusaha kecil konveksi ditempat mereka bekerja. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan rasa percaya diantara para pengusaha dan pekerja sehingga menciptakan kerjasama yang baik dan saling menguntungkan dikedua belah pihak. Sedangkan hubungan horizontal yaitu hubungan sosial dengan sesama pekerja migran dan masyarakat di sekitar mereka. Hubungan yang baik diantara sesama pekerja migran dalam

(51)

29

kelompoknya akan membangun rasa solidaritas yang tinggi dan menimbulkan kepercayaan (trust).

Lubis melalui penelitian yang dilakukan menyoroti bahwa bagaimana bekerjanya elemen modal sosial yakni kepercayaan dalam pengelolaan arisan, dia melihat bahwa kepercayaan antar anggota dengan pengurus arisan merupakan pengikat yang kuat untuk terjalinnya kerjasama yang lebih baik. Pengurus mampu dipercayai oleh anggota karena mereka jujur, bekerja dengan sunguh-sunguh untuk kepentingan anggota (bukan merupakan oleh karena kepentingan pribadi atau kelompok individu), serta menjaga kepercayaan itu baik sebagai pengurus atau anggota. Adapun beberapa dimensi modal sosial, salah satunya yaitu perasaan saling mempercayai dan rasa aman yakni sebagai berikut:

 Percaya meninggalkan rumah, untuk berpergian ke luar kota, bahwa rumah yang ditinggalkan akan aman.

 Percaya bahwa tetangga akan ikut mengawasi keamanan rumah yang kita tinggalkan.

 Percaya bahwa tetangga semuanya adalah orang yang baik.

 Perasaan aman berjalan sendiri di jalanan setelah malam hari.

 Persetujuan pada pendapat bahwa setiap orang dapat dipercaya.

 Reputasi aman di area tempat tinggal.

 Perasaan percaya pada pemerintah.

 Perasaan percaya pada anggota legislatif.

 Perasaan percaya pada pemimpin lokal.

 Perasaan percaya pada tokoh agama yang ada dalam komunitas dan yang berada di luar komunitas.

(52)

30

Bentuk kepercayaan (trust) yang dimiliki setiap orang tidak hanya terdapat dalam kesamaan religi saja melainkan sudah menyebar pada tingkatan yang lebih tinggi dan lebih luas lagi. Dengan demikian kepercayaan (trust) yang dimiliki oleh setiap individu masyarakat etnis Tamil di Kelurahan Petisah Tengah dalam komunitasnya akan memberikan kontribusi dalam strategi sosial dengan komunitas di luar etnis mereka.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemanfaatan modal sosial dalam pemberdayaan ekonomi lemah perempuan yang dibentuk Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) sehingga

Setelah menganalisis semua data pada kuesioner, selanjutnya digunakan uji hipotesis tata genjang (Rank Order Correlation Coefficient) oleh Spearman untuk menguji

Dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa masalah yaitu banyaknya masyarakat yang melanggar peraturan dan rambu – rambu yang telah ditetapkan, seperti adanya

Dalam penelitian tersebut, Fernando Anderson selaku peneliti menyimpulkan bahwa motif dalam penggunaan situs ceritamedan.com adalah sebagai sumber pencarian informasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Sinar Husni yang dilakukan dokter kepada pasien BPJS dan Non BPJS relatif sama tidak ada jarak

Sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap partai politik menghendaki agar suara elektoralnya dari waktu ke waktu meningkat dan berkembang bahkan memenangkan kontestasi pada

Penelitian ini berjudul “Analisis Framing Pemberitaan Kudeta Partai Demokrat di Kompas.com”. Ada beberapa tujuan dilakukannya penelitian ini. Pertama, penelitian ini

“…kalau kami lebih fokus pada program, proses penggalangan isu yang menjelaskan ke indonesiaan, kepemudaan dan etnisitas, maksud dari tadi yang saya jelaskan yang