PENGARUH PENGGUNAAN AKUN INSTAGRAM FOLKATIVE TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI MAHASISWA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
MONICA DWI GITA 160904022 Public Relations
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Apabila di
kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Medan, Juli 2021
Monica Dwi Gita NIM. 160904022
KATA PENGANTAR
Puji Syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena berkat dan karunia-Nya lah peneliti dapat menyelesaikan Skripsi ini yang berjudul Pengaruh Penggunaan Akun Instagram Folkative terhadap pemenuhan Kebutuhan Informasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Penulisan Skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan skripsi ini tentu saja peneliti mengalami kendala yang cukup menyulitkan peneliti untuk menyelesaikan skripsi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya kurangnya pengalaman dan kemampuan peneliti yang terbatas. Namun, semua dapat teratasi dengan baik atas izin dan kuasa-Nya serta doa dan bantuan dari berbagai pihak yang bersedia membantu peneliti.
Selesainya skripsi ini tentunya tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah memberi dukungan moril dan masukan kepada peneliti. Peneliti mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orangtua peneliti yaitu Bapak Natigor Hutagalung dan Ibu Dra. Linda Batubara yang telah memberi dukungan yang begitu besar serta senantiasa selalu mendoakan peneliti sejak menjalani perkuliahan di Ilmu Komunikasi FISIP USU sampai dengan proses penulisan skripsi ini. Peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada:
1. Bapak Drs. Hendra Harahap, MSi., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi dan Ibu Emilia Ramadhani, M.A. selaku sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi atas segala bantuan yang berguna dan bermanfaat bagi peneliti.
3. Bapak Prof. Dr. Humaizi, M.A. selaku dosen pembimbing peneliti yang telah memberikan waktu, dukungan, serta pengetahuan- pengetahuan yang sangat mengedukasi peneliti serta selalu sabar
dalam membimbing, menyemangati dan memotivasi peneliti dalam pengerjaan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Syafruddin Pohan S.H, M.Si., Ph.D. sebagai dosen pembanding/penguji yang telah bersedia memberikan waktu, motivasi dan masukan, serta selalu sabar membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak Drs. Mukti Sitompul, M.Si. selaku dosen penasehat akademik peneliti selama masa perkuliahan kurang lebih empat tahun.
6. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah mengampu peneliti sejak semester awal, memberikan motivasi sehingga peneliti menjadi pribadi yang lebih berkembang setiap harinya.
7. Staf Program Studi Ilmu Komunikasi Kak Maya dan Kak Yanti yang dengan ramah dan sabar membantu peneliti sejak awal perkuliahan mengenai urusan administrasi.
8. Kakak saya, Beatrix Rizky Amelina Hutagalung, kedua adik saya Cindy Saima Putri Hutagalung, dan Lilyani Windy Tamara Hutagalung yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat kepada peneliti.
9. Teman-teman seperjuangan Manna, Ainun, Ayu, dan Widya yang telah bersedia berbagi suka dan duka, serta memberikan warna selama menjalankan perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun.
10. Kepada seluruh rekan-rekan Mahasiswa seangkatan 2016 yang telah berjuang bersama, memberikan banyak ide dan gagasan serta saran kepada penulis sampai skripsi ini dapat terselesaikan.
11. Kepada Lastone sahabat-sahabat peneliti sejak di bangku SMA sampai saat ini, terutama Sakinah yang sudah bersedia setiap waktu mendengarkan curhat dan segala keluh kesah peneliti.
12. Kepada IMKA organisasi yang setiap orang di dalamnya sudah peneliti anggap sebagai keluarga, yang selalu ada dan membantu memberikan warna baru dalam hari-hari peneliti selama menjalankan perkuliahan.
13. Kepada Pancake Mada yang sudah bersedia berbagi kebahagian dan pengalaman fangirling, we know that was the best days of our life girls.
14. Seluruh responden dari penelitian ini yang telah memberikan wakttu luang dan bersedia mengisi kuesioner dan memberikan saran-saran positif untuk melengkapi penelitian ini.
15. Kepada seluruh pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa peneliti sebut satu persatu yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, peneliti bersedia menerima saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Medan, 29 Juli 2021
Monica Dwi Gita NIM: 160904022
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Monica Dwi Gita NIM : 160904022 Program Studi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-Exclusive Royalty-Free Rights) atas karya ilmiah saya yang berjudul
PENGARUH PENGGUNAAN AKUN INSTAGRAM FOLKATIVE TERHADAP PEMENUHAN KEBUTUHAN INFORMASI MAHASISWA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Non- eksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/
format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa menerima izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada tanggal : Juli 2021
Monica Dwi Gita
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Pengaruh Penggunaan Akun Instagram Folkative Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Instagram saat ini merupakan media yang paling sering digunakan oleh mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara untuk mencari informasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Uses and Gratification, media baru dan pemenuhan kebutuhan informasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional yang bertujuan mencari hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis tabel tunggal, analisis tabel silang, dan uji hipotesis melalui rumus Koefisien Relasi Tata Genjang (Rank-Order) oleh Spearman yang didukung dengan menggunakan skala Guilford. Penarikan sampel pada penelitian ini menggunakan multi stage sampling, yaitu Proportional Stratified Sampling, Purposive Sampling dan Accidental Sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang terdiri dari 7 Program Studi yaitu, Antropologi, Ilmu Politik, Sosiologi, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis yang telah terpilih secara acak. Jumlah dari populasi penelitian ini ada sebanyak 2.203 mahasiswa, kemudian sampel penelitian diambil dengan menggunakan rumus Taro Yamane dan terdapat 96 responden. Teknik analisis tabel tunggal, tabel silang, dan uji hipotesis dengan menggunakan rumus Spearman’s Rho Rank-Order Correlation melalui SPSS For Windows 24.00 dan menggunakan skala Guilford atau koefisien korelasi. Hipotesis dari penelitian ini yang diterima Ha dan Ho ditolak. Hasil Uji Hipotesis menyatakan bahwa hubungan (korelasional) Penggunaan Akun Instagram Folkative terhadap Pemenuhan Kebutuhan Informasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. memiliki hubungan yang tinggi, kuat.
Kata kunci: Akun instagram Folkative, Uses and Gratification, Media Baru, Pemenuhan Kebutuhan Informasi.
ABSTRACT
The title of this research is “The Usage Influence of Folkative Instagram Account towards Information Needs Fulfillment of Social and Political Sciences Faculty’s student at University of Sumatera Utara. Instagram is the most frequenly social media used by student of Social and Political Sciences Faculty of University of Sumatera Utara to find the information. The theory used in this research is the theory of uses and gratification, new media and the fulfillment of information needs. The method used in this research is correlational which aims to find the relationship between one variable with another variable. Data analysis technique used is single table analysis, cross table analysis, and hypothesis test through Spearman Rank-Order Relation Coefficient formula supported by using Guilford scale. Sampling technique using multi stage sampling, namely Proportional Stratified Sampling, Purposive Sampling and Accidental Sampling. The population in this research is Faculty of Social and Political Sciences’s student at University of Sumatera Utara which consist of 7 department, namely Anthropologi, Political Science, Sociology, Social Welfare Science, State Administration Science, Communication Science, And Commerce and Business Administration Science who have been randomly selected. The total population of this research is 2.203 students, and the research sample was collected by using Taro Yamane formula and gathered 96 respondents. Single table analysis technique, cross table technique, and hypothesis test using Spearman's Rho Rank- Order Correlation formula through SPSS For Windows 24.00 and using Guilford scale or correlation coefficient. The hypothesis of this research is that Ha was accepted and Ho was rejected. Hypothesis Test Result stated that the correlation (correlational) of the influence between usage of Folkative instagram account to Information Needs Fulfillment of Social and Political Sciences Faculty’s student at University of Sumatera Utara has high, strong correlation.
Keywords: Folkative Instagram Account, Uses and Gratification, New Media, Fulfillment of Information Needs.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... viii
ABSTRAK ... ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II URAIAN TEORI ... 10
2.1 Kerangka Teori... 10
2.1.1 Komunikasi ... 11
2.1.2 Komunikasi Massa ... 12
2.1.3 Uses And Gratification ... 17
2.1.4 New Media ... 24
2.1.5 Instagram ... 25
2.1.6 Pemenuhan Kebutuhan Informasi ... 28
2.2 Kerangka Konsep ... 31
2.3 Variabel Penelitian ... 33
2.4 Defenisi Operasional ... 33
2.5 Hipotesis ... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 40
3.1 Metode Penelitian... 40
3.2 Lokasi Penelitian ... 40
3.2.1 Sejarah FISIP USU ... 40
3.2.2 Visi, Misi Dan Tujuan FISIP USU ... 44
3.3 Populasi Dan Sampel ... 46
3.3.1 Populasi ... 46
3.3.2 Sampel ... 47
3.3.3 Teknik Penarikan Sampel ... 48
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 49
3.5 Teknik Analisis Data ... 50
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian ... 53
4.1.1 Teknik Pengumpulan Data ... 53
4.2 Teknik Pengolahan Data ... 54
4.3 Analisis Data Tunggal ... 54
4.3.1 Karakteristik Responden ... 55
4.3.2 Variabel (X) Penggunaan Akun Instagram Folkative ... 58
4.3.3 Variabel (Y) Pemenuhan Kebutuhan Informasi ... 72
4.4 Analisis Tabel Silang ... 84
4.5 Uji Hipotesis ... 91
4.6 Pembahasan ... 94
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 99
5.1 Simpulan ... 99
5.2 Saran ... 100
5.2.1 Saran Dalam Kaitan Akademik ... 100
5.2.2 Saran Dalam Kaitan Praktis ... 100
5.2.3 Saran Teoritis ... 100
DAFTAR REFERENSI ... 102
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1.1 Logo Folkative Group dan Logo Akun Instagram Folkative 4
1.2 Tampilan Akun Instagram Folkative 6
2.1 Proses Komunikasi Massa Lasswell 15
2.2 Model Uses and Gratification 18
2.3 Model Teoritis 32
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Variabel Penelitian 33
2.2 Indikator Penelitian 35
3.1 Populasi Penelian 46
3.2 Jumlah Sampel Per Program Studi/Program Studi 48
4.1 Jenis Kelamin 55
4.2 Program Studi/Program Studi 56
4.3 Frekuensi Menggunakan Instagram dalam Sehari 57 4.4 Intensitas Menggunakan Akun Instagram Folkative 58
4.5 Frekuensi Menggunakan dalam Sehari 59
4.6 Meng-update Berita Terbaru 60
4.7 Sering Meng-update Informasi yang Ada 61
4.8 Sesuai dengan Kebutuhan Informasi yang Dicari 62 4.9 Sesuai dengan Kebutuhan Informasi yang Dibutuhkan 63 4.10 Penggunaan Bahasa Pada Akun Instagram Folkative 64 4.11 Bahasa yang Jelas dan Mudah Dimengerti 65 4.12 Digunakan untuk Memperoleh Informasi atau Pengetahuan 66 4.13 Informasi yang Disajikan Mudah Dipahami 67 4.14 Informasi yang Disajikan Lengkap dan Beragam 68 4.15 Informasi Sesuai Berdasarkan Fakta yang Ada 69
4.16 Tampilan Akun 70
4.17 Feed Layout yang Ditampilkan Akun 71
4.18 Kebutuhan Memperoleh Informasi 72
4.19 Kebutuhan Memecahkan Masalah 73
4.20 Merasa Puas Menggunakan Akun Instagram Folkative 74
4.21 Konten Informasi Akun Memuaskan 75
4.22 Kebutuhan Menghilangkan Kebosanan 76
4.23 Kebutuhan Sejenak Melepaskan Stress dan Beban Pikiran 77 4.24 Menceritakan Hal Positif Kepada Orang Lain 78 4.25 Bersedia Mereferensikan Kepada Orang-Orang Sekitar 79 4.26 Kebutuhan Memperoleh Hiburan dan Kesenangan 80 4.27 Merasa Senang karena Konten yang Menarik 81 4.28 Kebutuhan Berbagi Informasi atau Pengalaman 82 4.29 Kebutuhan Memperkuat Hubungan dengan Orang Lain 83 4.30 Menggunakan Akun Instagram Folkative untuk Memperoleh 84
Informasi/Pengetahuan dengan Informasi yang disajikan Memuaskan
4.31 Informasi yang Disajikan Sesuai Dengan Kebutuhan Informasi 87 yang Dibutuhkan dengan Merasa Puas Setelah
Menggunakan Akun Instagram Folkative
4.32 Intensitas Penggunaan Akun Instagram Folkative Dengan 89 Kebutuhan Memperoleh Referensi dalam Memecahkan masalah
4.33 Uji Hipotesis 91
DAFTAR LAMPIRAN
Kuesioner Penelitian
Foltron Cobol
Tabel Data SPSS
Lembar Catatan Bimbingan Skripsi
Biodata Peneliti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan manusia lain di dalam hidupnya, selain itu manusia juga, membutuhkan informasi untuk kelangsungan hidupnya.
Untuk memperoleh informasi, manusia perlu mencarinya dengan cara berkomunikasi. Informasi dapat diperoleh dengan cara berbicara dengan orang lain atau melalui media. Berbagai macam media dapat digunakan sebagai sarana untuk memperoleh dan menyebarkan informasi, karena begitu banyak hal dan peristiwa yang terjadi dalam satu menit saja di berbagai tempat di seluruh dunia yang ingin diketahui oleh manusia. Dengan keberadaan informasi tersebut manusia dapat berekspresi dengan mengakses, menyerap, menuangkan data untuk diapresiasikan kedalam berbagai segi aspek kehidupan mulai dari politik, sosial budaya, ekonomi, teknologi hingga hiburan. Menurut Shanon dan Weaver, komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal saja, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni dan teknologi (Cangara, 2010: 19).
Media massa merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi, pengaruh yang diberikan oleh media massa berbeda-beda terhadap setiap manusia. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pola pikir, perbedaan sifat yang berdampak pada pengambilan sikap, hubungan sosial sehari-hari, dan perbedaan budaya. Manusia sebagai khalayak yang menikmati media massa harus dapat memilih informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, harus lebih teliti untuk menerima informasi yang telah disajikan oleh media. Media massa berkembang dengan cepat dan berusaha menyampaikan informasi secara cepat dan akurat. Bentuk dari teknologi media massa saat ini adalah media baru atau yang sering disebut dengan new media. New media adalah teknologi komunikasi yang modern setelah mengalami perkembangan dari zaman ke zaman yang bertujuan untuk mempermudah akses mendapatkan informasi, yang saat ini bukti nyata dari perkembangan teknologi tersebut dapat dirasakan
oleh seluruh lapisan masyarakat. Istilah media baru telah digunakan sejak 1960-an dan telah mencakup seperangkat teknologi komunikasi terpaan yang semakin berkembang dan beragam. Media merupakan salah satu bentuk kebutuhan yang selalu dikonsumsi oleh setiap individu. Media digunakan dengan berbagai macam motif yang berbeda-beda. Menurut McQuail motif memiliki empat indikator, diantaranya adalah informasi, identitas pribadi, integrasi dan interaksi sosial serta motif hiburan. “Dapat ditambahkan bahwa semua hal dalam urusan tersebut (informasi, identitas pribadi, integrasi, dan interaksi sosial, hiburan) dapat dikatakan sama dengan pernyataan motif dan tujuan yang disadari”. Motif orang menggunakan media juga dipengaruhi oleh tingkat kepuasan dan kegunaan media yang digunakan. “Dengan demikian, “penyebab” penggunaan media terletak dalam lingkungan sosial atau psikologis yang dirasakan sebagai masalah dan media digunakan untuk menanggulangi masalah itu (pemuasan kebutuhan)”
(McQuail, 2011: 21)
Salah satu bentuk dari new media adalah internet, seluruh umat manusia mengakui bahwa internet merupakan teknologi komunikasi yang tercepat dalam hal pemenuhan informasi. Selain cepat, internet juga dapat dengan mudah untuk diakses kapan dan dimana saja. Hal ini sejalan dengan aktivitas manusia dengan mobilitas yang tinggi. New media terbukti dapat membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan akan informasi. Internet melahirkan media-media sosial yang saat ini sangat dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Media sosial merupakan suatu wadah bagi para komunikan dan komunikator untuk berinteraksi satu sama lain. Tetapi tidak dalam bentuk bertatap muka, melainkan melakukan komunikasi di dunia maya atau internet. Menurut Medinbergh (Rulli, 2017:11), media sosial adalah media yang mewadahi kerja sama antara pengguna yang menghasilkan konten (user-generated content).
Kemudahan penggunaan internet yang dapat diakses kapan saja melalui handphone, laptop, atau tablet dan dapat dibawa kemana saja, membuat media sosial tidak hanya sebagai sarana berkomunikasi, namun juga sebagai sarana pencarian informasi. Hal tersebut menyebabkan media konvensional seperti televisi, koran, radio, majalah dikesampingkan oleh masyarakat. Bahkan akses
telah tergantikan oleh media elektronik dan internet terlihat dari survei dari We Are Social dan hootsuite, mengatakan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu untuk mengakses media sosial selama 3 jam 23 menit per harinya. Menurut We Are Social dalam survei The Most Active Media Social Platforms, Instagram menempati posisi ke 3 sebagai jaringan sosial yang paling banyak digunakan. (tekno.kompas.com, 14 September 2018). Saat ini media sosial Instagram sangat banyak digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya mahasiswa. Instagram berasal dari kata “insta” yang berarti instan (foto instan), dan “gram” yang berarti telegram. Jadi secara etimologis dapat diartikan sebagai foto instan yang bisa dikirim dengan cepat seperti cara kerja telegram. Instagram merupakan aplikasi yang memiliki banyak fitur menarik seperti menyebarkan gambar, video, berkirim pesan atau yang sering disebut dengan direct messages.
Dan yang terbaru dari instagram adalah snapgram atau yang sering disebut juga dengan instastory yang saat ini dilengkapi dengan berbagai filter variatif yang bisa dilihat oleh para followers ataupun orang lain selama 24 jam dari snapgram itu dibuat. Tetapi jika ingin agar snapgram tersebut tetap bisa dilihat, hanya perlu untuk memasukkannya ke dalam highlight yang akan bisa langsung terlihat di profil suatu akun instagram. Instagram tidak hanya di gunakan oleh penggunanya untuk kebutuhan hiburan, tetapi belakangan ini dijadikan akun untuk berjualan (online shop), bahkan dijadikan akun yang sangat bermanfaat bagi semua penggunanya yaitu akun yang menyebarkan informasi atau berita terkini.
Media online Indonesia berlomba-lomba menjadi yang terdepan. Bak sebuah kompetisi liga sepakbola, tiap-tiap media meracik formasi terbaik, berburu ujung tombak paling tajam, produktif akan gol-gol indah; demi satu hal : memenangkan liga dan meraih predikat terbaik di kancah media online Indonesia.
Folkative dengan jeli melihat celah untuk memilih basis audiens pembacanya.
Mengusung pemberitaan tentang Creative Culture dan menyasar kalangan milenial, konten-konten budaya pop Indonesia seputar news, arts, culture dan brand yang sedang banyak digandrungi, menjadi senjata utama Folkative.
Folkative adalah platform media online yang berada di bawah naungan Folkative Group yang berfokus pada informasi dan berita, seni, budaya, dan merek lokal Indonesia. Didirikan pada tahun 2016 oleh seorang mahasiswa Universitas Pelita
Harapan Program Studi manajemen yang bernama Kenneth William yang sekarang dikenal sebagai founder dari Folkative Group itu sendiri. Folkative Group adalah perusahaan kolektif yang berfokus pada kaum muda, terutama kaum millenial. Folkative Group diciptakan untuk menginspirasi, menginformasikan dan mewakili suara budaya kreatif anak muda di Indonesia, dengan membuat konten online interaktif, acara, kampanye, dll. Dengan dedikasi yang kuat, folkative juga selalu menghadirkan berita mengenai trend fashion terkini di Indonesia. Dari streetwear hingga high-end dan dari berkembang menjadi terkenal, Folkative berusaha untuk memberikan kontribusi positif bagi budaya kreatif bangsa.
Gambar 1.1
Logo Folkative Group dan Logo Akun Instagram Folkative
Sumber : (www.google.com/logo folkative)
Berita harian Folkative ternyata mendapat respon yang cukup baik terutama dari kaum muda sejak kemunculannya. Dengan keberhasilan itu pula yang kemudian membuat folkative Group ingin menjajal media lainnya. Folkative Group pun memanfaatkan media sosial yang paling banyak digandrungi oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia apalagi kalau bukan Instagram. Sekarang ini banyak sekali akun instagram yang berisi konten informasi, namun akun instagram Folkative tetap menjadi pilihan dan sedang digandrungi oleh banyak kalangan terutama kaum muda dan mahasiswa. Akun ini selalu berusaha membuat konten yang berbeda dari akun lainnya. Selalu memberikan informasi berupa gambar atau video yang paling aktual tentang apapun yang sedang terjadi di
Indonesia maupun di dunia. Feed instagram dari akun ini juga sudah tidak perlu diragukan lagi, terlihat simpel namun elegan dan tertata dengan baik sehingga lebih menarik untuk dilihat dan tidak membosankan untuk dibaca yang membuat pesan yang ingin disampaikan pada setiap postingan dapat tersampaikan dengan baik. Didukung dengan caption pada setiap postingan yang dapat menambah pengetahuan atau terkadang sangat menghibur dan tidak jarang menggelitik di hati ketika sedang membaca setiap postingan dari akun Folkative ini. Akun ini juga sering kali menggunakan Bahasa Inggris untuk menulis caption pada postingannya sehingga terasa sangat modern dan dekat dengan kaum muda terutama millenial. Hal ini jugalah yang membedakan akun Folkative dengan akun-akun lain yang berbasis konten informasi juga.
Akun instagram Folkative tidak hanya membagikan berbagai macam informasi mengenai creative culture Indonesia, namun akun ini sesekali membagikan informasi atau berita yang sedang terjadi di Indonesia maupun di dunia, seperti bencana alam atau bahkan isu pemerintahan. Akun ini juga menerima endorsement atau semacam membantu kegiatan promosi berbagai brand local Indonesia. Seperti baru-baru ini, akun Folkative bekerja sama dengan salah satu brand local Indonesia yaitu HMNS Perfume untuk membuat produk parfum yang bisa dipakai oleh laki-laki dan perempuan yang tersedia dalam 2 varian yaitu Y? SERIES xy yang lebih maskulin dan Y? SERIES xx untuk yang lebih feminim. Walaupun tidak ada yang pernah tahu bagaimana cara akun ini kemudian dapat bekerja sama dengan brand-brand tersebut. Selain itu akun Folkative juga sering kali berbagi tips & trik tentang berbagai hal, mulai dari cara penggunaan suatu barang sampai cara melakukan suatu kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring dengan bertambahnya jumlah followers di instagram, karakter postingan Folkative sekarang mempunyai ciri khas. Hampir di setiap caption dari postingan selalu bertanya kepada followers dalam kata lain akun ini selalu berusaha melibatkan followers untuk memberikan tanggapan, pendapat atau bahkan memberikan rate atau penilaian terhadap setiap isu yang dibingkai dalam postingan akun ini. Akun folkative kemudian menjadi kuat karena respon yang bersifat real time, jauh lebih cepat daripada akun lain, media online atau pun televisi, serta tentunya menjalin hubungan yang erat dengan para followers.
Followers juga bisa memberikan pasokan informasi pada tim Folkative, dengan cara mengirim lewat direct messages atau langsung men-tag akun Folkative pada informasi yang akan mereka berikan tersebut.
Gambar 1.2
Tampilan Akun Instagram Folkative
Sumber : (Instagram.com/Folkative)
Sejak kemunculannya pada tahun 2016, akun instagram Folkative hingga kini selalu menghadirkan informasi dan berita terpilih dalam setiap postingannya yang dirancang untuk memuaskan mereka yang tertarik pada budaya kreatif, seni, musik, film, perkembangan mode, dan gaya hidup terkini. Salah satu yang menarik juga adalah founder dari akun ini sendiri ialah seorang mahasiswa, ini dapat menunjukkan bahwa seorang anak muda dapat memberikan kontribusi positif bagi budaya kreatif bangsa. Hal ini tentunya diharapkan dapat menginspirasi anak muda lain agar melakukan hal yang berguna dan memberikan kontribusi positif bagi Indonesia. Sesuai dengan slogan yang diberikan yaitu “ A one doorway to explore Indonesia’s creative culture.” Folkative selalu berusaha menginformasikan, menginspirasi dan mewakili suara kreatif anak muda Indonesia agar dapat memberikan kontribusi positif terutama bagi budaya kreatif bangsa. Walaupun demikian tidak ada yang pernah tahu siapakah dalang yang bekerja di balik akun ini atau yang bisa disebut sebagai para admin yang
menjalankan akun folkative, bagaimana cara akun ini mendapatkan sumber dana sehingga bisa tetap bertahan bahkan menjadi salah satu yang digandrungi di antara akun informasi sejenis lainnya. Hingga Maret 2018 pengikut akun instagram Folkative telah mencapai 622 ribu pengikut yang berasal dari berbagai kalangan, umur dan profesi. Bahkan tidak sedikit artis papan atas Indonesia mulai dari Chelsea Islan sampai Iqbaal Ramadhan yang juga menjadi pengikut akun ini.
Berbagai jenis informasi yang ditawarkan dalam media sosial instagram tentu akan mempermudah dalam mendapatkan informasi. Walaupun demikian, peneliti ingin mengetahui bagaimana penggunaan Instagram Folkative dapat membantu memberikan berbagai informasi yang dicari dan dibutuhkan oleh penggunanya. Penelitian ini penting dilakukan agar dapat memberikan sumbangan teoritis bagi perkembangan ilmu pengetahuan sosial khususnya Ilmu Komunikasi.
Serta dapat mengetahui bagaimana cara memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi yang efektif untuk sebuah kepentingan, dalam hal ini sebagai kepentingan pemenuhan kebutuhan informasi pengguna media sosial khususnya media Instagram. Penelitian yang meneliti penggunaan media sosial instagram memang sudah sering dilakukan, namun penelitian dengan menggunakan akun instagram Folkative merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan. Harapan kedepannya penelitian ini dapat menjadi acuan maupun tolak ukur dalam penelitian-penelitian Ilmu Komunikasi di kemudian hari. Berdasarkan pengamatan sederhana yang dilakukan oleh peneliti, pengikut akun instagram Folkative juga meliputi masyarakat yang berstatus mahasiswa khususnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Hal ini telah dirasakan sendiri oleh peneliti dimana teman-teman peneliti yaitu sesama mahasiswa tidak sedikit yang menjadi followers akun instagram Folkative atau hanya sekedar melihat postingannya di explore. Peneliti juga sering mengamati bagaimana teman-teman mahasiswa yang tertarik untuk membahas hal-hal yang diposting dalam akun ini. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah terdapat pengaruh penggunaan akun instagram Folkative terhadap pemenuhan kebutuhan informasi di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu dan Politik Universitas Sumatera Utara. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang tercatat masih aktif kuliah di
Universitas Sumatera Utara. Pemilihan Universitas Sumatera Utara sebagai lokasi penelitian yaitu karena unsur keterjangkauan lokasi penelitian oleh peneliti, baik dilihat dari segi tenaga, dana maupun dari segi efisiensi waktu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah akun instagram Folkative digunakan di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Apakah pemenuhan kebutuhan informasi yang diperoleh oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara dari menggunakan akun instagram Folkative.
3. Apakah terdapat pengaruh penggunaan akun instagram Folkative terhadap pemenuhan kebutuhan informasi di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penggunaan akun instagram Folkative di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Mengetahui pemenuhan kebutuhan informasi di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Mengetahui pengaruh penggunaan akun instagram Folkative terhadap pemenuhan kebutuhan informasi dikalangan masiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Akademis, penelitian ini dapat menambah dan memperkaya bahan penelitian, bahan referensi, serta sumber bacaan di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, khususnya Program Studi Ilmu Komunikasi.
2. Secara Teoritis, penelitian ini dapat menambah literatur berkaitan dengan kajian studi Ilmu Komunikasi, khususnya pemahaman mengenai media.
3. Secara Praktis, penelitian ini mampu memberikan sumbangan pikiran dan kontribusi kepada pembaca atau pihak manapun yang berkepentingan.
BAB II
URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori
Kerangka teori adalah hal yang sangat penting dalam sebuah tulisan ilmiah, karena dalam kerangka teori tersebut terdapat teori-teori yang relevan dalam menjelaskan masalah yang diteliti. Kerangka teori terdiri dari dua kata yaitu, kerangka dan teori. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara etimologi kerangka adalah rangka (tulang-tulang), garis besar, rancangan, sistem dari prinsip dasar. Sedangkan pengertian teori secara etimologi berarti pendapat yang didasarkan pada penelian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi, dan penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti. Teori adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam proses penelitian. Teori menuntun peneliti dalam menemukan masalah penelitian, menemukan hipotesis, konsep-konsep, metodologi, dan menemukan alat-alat analisis data.
Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok – pokok pikiran yang mengambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disoroti (Nawawi, 2007: 39). Pada suatu penelitian teori diperlukan sebagai landasan kerangka berpikir mendukung masalah secara sistematis. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang akan memuat pokok-pokok pikiran yang akan dapat menggambarkan dari sudut mana masalah peneliti akan dibahas. Teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Kriyantono, 2012: 43). Teori dalam suatu penelitian berfungsi untuk membantu peneliti menjelaskan fenomena sosial atau fenomena alami yang menjadi pusat perhatiannya. Dengan demikian, teori itu menerangkan bagaimana suatu peristiwa atau fenomena yang menjadi focus kajian itu muncul, karena
kemunculannya bukan serta merta, melainkan melalui produk dari interaksi antara beberapa unsur yang terlibat (Siagian, 2011: 56).
2.1.1 Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam Bahasa Inggris berasal dari Bahasa Latin yang berarti “sama”, communico, communicatio atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama communis paling sering digunakan sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang hampir mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, makna atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2007: 46).
Komunikasi dapat dikatakan efektif jika seseorang dapat mengubah sikap, pendapat atau perilaku orang lain melalui komunikasi itu sendiri. Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat melakukannya dengan efektif, maka dapat mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell.
Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik dalam menggambarkan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan berikut: “Who says what in which channel to whom with what effect?” atau “siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?” (Mulyana, 2007 : 69).
Paradigma Lasswell ini menunjukkan bahwa komunikasi terjadi melalui 5 unsur yang bergantung satu sama lain, yaitu komunikator (communicator, source, sender), pesan (message), media (channel, media), komunikan (communican, communicate, receiver, recipient), efek (effect, impact, influence). Jadi berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.
Menurut Gary Cronkhite (Ruslan, 2010: 86-87), ada empat pendekatan atau asumsi pokok untuk memahami tentang komunikasi, yaitu:
1. Komunikasi merupakan suatu proses.
2. Komunikasi adalah suatu pertukaran pesan.
3. Komunikasi merupakan informasi yang bersifat multi dimensi, yaitu berkaitan dengan dimensi dan karakter komunikator, pesan yang akan
disampaikan, media yang dipergunakan, komunikan yang akan menjadi sasarannya, dan dampak yang ditimbulkan.
4. Komunikasi merupakan interaksi yang mempunyai tujuan-tujuan atau maksud ganda.
Komunikasi akan terjadi atau berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai suatu percakapan. Kesamaan bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi belum tentu menimbulkan kesamaan makna. Percakapan oleh komunikator dan komunikan dapat dikatakan komunikatif apabila keduanya selain mengerti bahasa yang dipergunakan, juga mengerti makna dari bahan yang dipercakapkan. Komunikasi itu minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan tahu, tetapi juga persuasive, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau kegiatan, dan lain-lain. (Effendy, 2001: 9).
2.1.2 Komunikasi Massa
Defenisi komunikasi yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Rakhmat, 2012: 188), yakni: komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Dari defenisi ini dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa. Sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri ribuan bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan media massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio dan televisi (media elektronik), surat kabar dan maalah (media cetak), dan film di bioskop (Ardianto, 2017: 3).
Sedangkan defenisi yang lebih rinci dikemukakan oleh Gerbner (Rakhmat, 2012: 188) yaitu, komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Dari defenisi ini tergambar bahwa
komunikasi. Produk tersebut didistribusikan kepada khalayak luas secara terus- menerus dalam jarak waktu yang tetap (Ardianto, 20017: 3).
Sementara itu menurut Nurudin (2007: 19-32) adapun ciri-ciri dari komunikasi massa adalah sebagai berikut :
1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa tidak hanya satu orang, tetapi kumpulan orang. Artinya, gabungan antar berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud di sini adalah sebuah sistem. Sistem itu adalah “Sekelompok orang, pedoman, dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi”.
2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen
Untuk memetakan secara jelas mengapa komunikan dalam komunikasi massa itu heterogen bisa dimulai dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: siapa penonton televisi, siapa pembaca surat kabar, siapa pendengar radio, dan siapa pengguna internet. Nurudin (2007: 22) menggambarkan bagaimana yang dimaksud dengan komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen sebagai berikut: Anda minggu malam kebetulan menonton acara liga Italia serie A di Indosiar. Anda jangan membayangkan bahwa Anda sendirillah yang menonton pertandingan sepak bola serie A Italia tersebut. Mereka yang terjangkau radius siaran televisi itu dan mempunyai berkesempatan menonton mempunyai peluang yang sama untuk menonton. Hal demikian juga berlaku untuk khalayak media massa lain. Oleh karena itu, komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen/beragam. Artinya, penonton televisi beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi,
memiliki jabatan yang beragam, memiliki agama atau ketidakpercayaan yang sama pula.
3. Pesannya bersifat umum
Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditujukann kepada satu orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan- pesannya. ditujukan pada khalayak yang plural. Oleh karena itu, pesan- pesan yang dikemukakannya pun tidak boleh bersifat khusus.
4. Komunikasinya berlangsung satu arah
Menggambarkan secara singkat, bagaimana pengertian dari komunikasi yang berlangsung satu arah. Setelah menikmati secangkir teh sebelum berangkat kuliah atau kerja Anda sempatkan diri untuk mrmbaca koran.
Ada beberapa berita menarik yang menyita perhatian Anda. Dalam berita diberitakan konflik antara Rhoma Irama dengan Inul Daratista (Penyanyi dangdut asal Pasuruan, Jawa timur). Rhoma Irama tidak setuju kalau Inul bernyanyi dengan goyang “ngebor” seperti yang dikatakan Rhoma. Rhoma menganggap, Inul sudah kelewat batas, dan goyangannya banyak mudharatnya (dampak tidak baik). Bahkan Rhoma mengharamkan lagu- lagunya dinyanyikan Inul. Ketika anda membaca koran tersebut komunikasi yang berlangsung hanya satu arah, yakni dari media massa (koran itu) ke Anda dan tidak sebaliknya.
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Ini adalah salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya. Bahwa dalam komunikasi massa ada keserempakan dalam proses penyebaran pesan- pesannya. Serempak berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Bersamaan tentu juga relatif.
6. Komunikasi massa mengandalkan peralatan teknis
Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan
teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik (mekanik atau elektronik).
7. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper
Gatekeeper yang sering disebut penapis informasi/palang pintu/penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper itu berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami. Gatekeeper ini juga berfungsi untuk menginterpretasikan pesan, menganalisis, menambah data dan mengurangi pesan-pesannya. Intinya, gatekeeper merupakan pihak yang ikut menentukan pengemasan sebuah pesan dari media massa.
Semakin kompleks sistem media yang dimiliki, semakin banyak pula gatekeeping (pemalang pintu atau penapisan informasi) yang dilakukan.
Bahkan bisa dikatakan, gatekeeper sangat menentukan berkualitas tidaknya informasi yang akan disebarkan.
Proses Komunikasi Massa
Proses komunikasi dapat dipahami dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Siapa (Who), Berkata Apa (Says What), Melalui Saluran Apa (In Which Channel), Kepada Siapa (To Whom), dan Dengan Efek Apa (With What Effect).
Ungkapan dalam bentuk pertanyaan yang dikenal dengan formula Laswell ini, meskipun sederhana telah membantu mengorganisasikan dan memberikan struktur pada kajian komunikasi massa. Selain dapat menggambarkan komponen dalam proses komunikasi massa, Lasswell menggunakan formula ini untuk membedakan berbagai jenis penelitian komunikasi. Adapun penerapan formula Lasswell dalam komunikasi massa pada gambar:
Gambar 2.1
Proses Komunikasi Massa Lasswell
WHO SAYS WHAT IN WHICH
CHANNEL
TO WHOM WITH WHAT EFFECT
Siapa Berkata Apa Melalui Saluran Apa
Kepada Siapa Dengan Efek Apa
Komunikator Pesan Media Penerima Efek
Control Studies
Analisis Pesan
Analisis Media
Analisis Khalayak
Analisis Efek
Sumber: (Ardianto, 2017: 29)
Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat menurut Dominick (Ardianto, 2017:
14-17) adalah sebagai berikut:
1. Pengawasan (Surveillance)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk utama:
a. Pengawasan Peringatan (Warning or beware surveillance)
Fungsi pengawasan peringatan terjadi ketika media massa menginformasikan tentang ancaman dari angin topan, meletusnya gunung merapi, kondisi efek yang memprihatinkan, tayangan inflasi atau adanya serangan militer. Peringatan ini dengan serta merta dapat menjadi ancaman. Sebuah stasiun televisi mengelola program untuk menayangkan sebuah peringatan atau menayangkannya.
b. Pengawasan Instrumental (Instrumental surveillance)
Fungsi pengawasan instrumental adalah penyampaian atau penyebaran informasi yang memiliki kegunaan atau dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari. Berita tentang film apa yang sedang dimainkan di bioskop, bagaimana hargaharga saham di bursa efek, produk-produk baru, ide-ide tentang mode, resep masakan dan sebagainya, adalah contoh-contoh pengawasan instrumental.
2. Penafsiran (Interpretation)
Fungsi penafsiran hamper mirip dengan fungsi pengawasan. Media massa tidak hanya memasok fakta dan data, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan.
3. Pertalian (Linkage)
Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk pertalian berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
4. Penyebaran Nilai-Nilai (Transmission of values)
Fungsi penyebaran nilai tidak kentara.Fungsi ini juga disebut sebagai sosialisasi (socialization). Sosialisasi mengacu kepada cara, di mana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu di tonton, didengar dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang diharapkan mereka. Dengan perkataan lain, media mewakili kita dengan model peran yang kita amati dan harapan untuk menirunya.
5. Hiburan (Entertaiment)
Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak, karena dengan membaca berita ringan atau menayangkan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali.
2.1.3 Uses and Gratification
Penelitian yang sistematik tentang teori Uses and gratification dilakukan pada dekade 1960-1970-an. Penelitian yang berkaitan dengan penggunan teori ini lebih memfokuskan pada identifikasi variabel-variabel psikologis dan sosial yang diperkirakan sebagai penyebab dalam perbedaan pola konsumsi media massa.
Bukan saja di Amerika namun juga di negara lain seperti Jepang, Inggris, Jerman, Swedia, Finlandia dan lainnya (Humaizi, 2017: 3). Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan media pada diri seseorang, tetapi ia tertarik pada apa ya`ng dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya. Studi dalam bidang ini memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) media untuk mendapatkan kepuasan (gratification) atas kebutuhan seseorang (Ardianto, 2017: 74). Teori ini pertama kali digunakan oleh Elihu Katz (Rakhmat, 2012: 95) sebagai reaksi penolakan terhadap Bernard Berelson yang menyatakan bahwa penelitian komunikasi mengenai efek media massa sudah mati. Penelitian yang mulai hidup adalah tentang usaha untuk menjawab pertanyaan: “what do people do with media ?”
karena penggunaan media adalah salah satu cara untuk memperoleh pemenuhan kebutuhan, maka efek media sekarang didefinisikan sebagai situasi ketika pemuasan kebutuhan terjadi.
Teori Uses and Gratification pada awalnya muncul karena adanya kritikan terhadap teori bullet yang dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1930- an, yang menyatakan bahwa khalayak media dianggap sebagai khalayak pasif yang mudah dipengaruhi oleh media, sedangkan teori Uses and Gratification menyatakan jika khalayak media dipandang sebagai khalayak aktif dimana mereka menggunakan media dikarenakan berbagai kebutuhannya (Humaizi, 2017:
1). Model ini meneliti asal mula kebutuhan manusia secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massa atau sumber- sumber lain (atau keterlibatan pada kegitan lain) untuk memperoleh gratifikasi atau menimbulkan pemenuhan kebutuhan (Ardianto, 2017: 74).
Di dalam teori Uses and Gratification khalayak dilihat sebagai individu yang aktif dan memiliki tujuan, bertanggungjawab dalam pemilihan media yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Menurut teori ini, individu sadar akan kebutuhan dan bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Media hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan, individu bisa jadi menggunakan media atau tidak menggunakan media dan memlilih cara lain. Teori ini juga menyatakan bahwa penggunaan media diarahkan oleh motif tertentu. Motif merupakan sekumpulan kepentingan dari individu, oleh karena itu menggunakan media massa untuk memenuhi kepentingan tersebut. Teori Uses and Gratification mengasumsikan khalayak sebagai individu yang “pintar” dimana individu hanya mengkonsumsi media yang mampu memenuhi kepentingan-kepentingan yang dibawa. Teori ini melihat “ bagaimana dan seberapa besar media dapat memenuhi kebutuhan khalayak” bukan “bagaimana dan seberapa besar suatu media dapat mempengaruhi khalayak (Humaizi, 2017: 1-2).
Salah satu model Uses and Gratification yang sering digunakan dalam penelitian seperti gambar berikut ini:
Gambar 2.2
Model Uses and Gratification
Anteseden Motif Pengunaan media Efek
• Variable individual
• Variable lingkungan
• Kognitif
• Diversi
• Personal identity
• Hubungan
• Macam isi
• Hubungan dengan isi
• Kepuasan
• Pengetahuan
• Dependensi
Sumber: (Nurudin, 2007: 197)
Anteseden meliputi variabel individual yang terdiri dari data demografis seperti usia, jenis kelamin dan faktor-faktor psikologis komunikan, serta variabel lingkungan seperti organisasi, sistem sosial, dan struktur sosial. Motif dapat dioperasionalkan dengan berbagai cara: unfungsional (hasrat melarikan diri, kontak sosial, atau bermain), bifungsional (informasi-edukasi, fantasis tescapist, atau gratifikasi segera-tertangguhkan), empat fungsional (diversi, hubungan personal, identitas personal dan surveillance; atau surveillance (bentuk-bentuk pencarian informasi), korelasi, hiburan, transmisi budaya) dan multifungsional.
Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media jenis isi media yang dikonsumsi dan berbagai hubungan antara individu konsumen media dengan isi media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Efek media dapat dioperasionalkan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberikan kepuasan, sebagai depedensi media, dan sebagai pengetahuan.
Menurut Katz (Ardianto, 2017: 71) terdapat beberapa asumsi dasar dalam pendekatan uses and gratification, yaitu:
1. Khalayak dianggap aktif artinya sebagian penting dari penggunaan media masa diasumsikan mempunyai tujuan.
2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk mengaitkan pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota khalayak.
3. Media massa harus bersaing dengan sumber-sumber lain untuk memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah
bagian dari rentangan kebutuhan manusia yang lebih luas. Bagaimana kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat bergantung pada perilaku khalayak yang bersangkutan.
4. Banyak tujuan pemilihan media massa disimpulkan dari data yang diberikan anggota khalayak, artinya orang dianggap cukup mengerti untuk melaporkan kepentingan dan motif pada situasi-situasi tertentu.
5. Penilaian tentang arti kultural dari media massa harus ditangguhkan sebelum diteliti lebih dahulu orientasi khalayak.
Berdasarkan uraian Katz (Morissan: 2014) menyatakan bahwa situsi sosial dimana audiensi berasa turut serta terlibat dalam mendorong atau meningkatkan kebutuhan audiensi terhadap media melalui lima cara sebagai berikut:
1. Situasi sosial dapat menghasilkan ketegangan dan konflik yang mengakibatkan orang membutuhkan sesuatu yang dapat mengurangi ketegangan melalui penggunaan media.
2. Situasi sosial dapat menciptakan kesadaran adanya masalah yang menuntut perhatian. Media memberikan informasi yang membuat kita menyadari hal-hal yang menarik perhatian kita dan kita dapat mencari lebih banyak informasi yang menarik perhatian kita melalui media.
3. Situasi soial dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk dapat memuaskan kebutuhan tertentu dan media berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap. Dengan kata lain, terkadang situasi yang kita hadapi menjadikan media sebagai sumber terbaik atau mungkin satu-satunya yang tersedia. Pada situasi bencana alam, banyak orang yang tidak dapat pergi langsung ke lokasi bencana sehingga mereka sangat bergantung pada media untuk mengetahui keselamatan anggota keluarga mereka.
4. Situasi sosial terkadang menghasilkan nilai-nilai tertentu yang dipertegas dan diperkuat melalui konsumsi media. Orang terdidik akan memilih media yang dapat mempertegas atau memperkuat nilai-nilai yang menghargai akal sehat, kesadaran diri dan ilmu pengetahuan. Namun sebaliknya, media juga dapat mempertegas atau memperkuat nilai-nilai yang bertentangan dengan akal sehat.
5. Situasi sosial menuntut audiensi untuk akrab dengan media agar mereka tetap dapat diterima sebagai anggota kelompok tertentu. Dalam pergaulan sosial, seseorang yang serba tidak tahu mengenai isu-isu yang menjadi sorotan media akan dianggap sebagai orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman.
Berdasarkan asumsi dasar yang diajukan oleh Elihu Katz dapat dilihat bahwa, teori secara umum asumsi dasar dari teori Uses and Gratification itu adalah berfokus pada khalayak media. Di mana keputusan menggunakan media sepenuhnya berada di tangan khalayak hingga pada akhirnya mereka dapat memutuskan untuk menggunakan media atau tidak menggunakan sama sekali (Humaizi, 2017: 15). Menurut Rosengren maksud “kegunaan” memberikan pengertian bahwa khalayak tidak dianggap sebagai pasif tetapi adalah merupakan sebagian dari proses komunikasi yang aktif. Keterlibatan yang aktif ini pula seterusnya mendorong kepada pemilihan isi media yang sealiran dan yang dapat memenuhi keperluan serta minat khalayak. Keadaan ini akan disesuaikan dengan kegiatan khalayak dalam usaha untuk memenuhi keperluan dan minat tersebut.
Rosengren juga menambahkan, perkataan “kepuasan” merujuk kepada pengalaman tentang ganjaran atau nikmat yang diperoleh dengan menggunakan isi atau jenis media. Kepuasan ini memainkan peranan penting dalam membentuk tabiat (kebiasaan) terhadap pemilihan isi media dan dalam memberikan pemahaman pada motivasi serta perhatian kepada media massa. Walaupun terdapat beberapa perbedaan dari segi pendekatan tentang cara untuk mengukur keperluan– keperluan khalayak dan fungsi-fungsi media, namun dalam kajian kegunaan dan kepuasan ini terdapat asumsi yang disetujui bersama. Adapun asumsi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan media adalah berdasarkan kepada informasi. Media massa digunakan untuk memenuhi keperluan-keperluan tertentu. Keperluan ini wujud dari lingkungan sosial sekitar;
2. Penerima atau khalayak memilih jenis media dan isi media untuk memenuhi keperluan mereka, dengan itu khalayak yang memulai proses komunikasi, serta merekalah yang dapat menentukan media berdasarkan keperluan masing-masing dan membiarkan media mempengaruhi mereka;
3. Terdapat sumber lain yang dapat memenuhi keperluan-keperluan khalayak dan media massa terpaksa bersaing dengan sumber-sumber tersebut;
4. Khalayak menyadari keperluan mereka dan dapat melaporkan atau menggambarkan apabila ditanya. Khalayak juga menyadari apa alasan mereka menggunakan media massa.
Berbagai motif memang tidak terbatas, tetapi operasionalisasi Blumler lebih sesuai dan mudah untuk dijadikan petunjuk penelitian. Blumler menyebutkan tiga orientasi: orientasi kognitif (keperluan akan informasi, pengamatan atau eksplorasi kenyataan), diversi (keperluan akan pelepasan dari tekanan dan keperluan akan hiburan), serta identitas personal (yaitu menggunakan isi media untuk memperkuat atau menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak sendiri) (Baran & Davis, 2009:
241-242). Penggunaan media terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media yang dipergunakan dan berbagai hubungan antara individu yang mempergunakan media dengan isi media yang dipergunakan atau media secara keseluruhan.
Selain itu menurut McQuail (Humaizi, 2017: 35-37) terdapat empat alasan mengapa khalayak menggunakan media, yaitu:
1. Pengalihan (diversion), yaitu melarikan diri dari rutinitas atau masalah sehari-hari. Mereka yang sudah bekerja seharian membutuhkan media sebagai pengalih perhatian dan rutinitas.
2. Hubungan personal, hal ini terjadi ketika seseorang menggunakan media sebagai pengganti teman
3. Identitas personal, sebagai cara untuk memperkuat nilai-nilai individu.
Misalnya, banyak pelajar yang merasa lebih bisa belajar jika ditemani alunan musik dari radio.
4. Pengawasan (surveillance) yaitu informasi mengenai bagaimana media membantu individu mencapai sesuatu. Misal orang menonton program agama di televisi untuk membantunya memahami agamanya secara lebih baik.
Menurut McQuail (Rakhmat, 2012: 66) motif seseorang menggunakan media, yaitu: motif hiburan, yang menetapkan sebagai pelarian dari rutinitas atau masalah sehari-hari; motif integratif sosial, terjadi ketika mereka menggantikan media sebagai sahabat mereka; motif identitas pribadi, cara untuk memperkuat nilai-nilai pribadi; dan motif informasi, tentang bagaimana media akan membantu seseorang untuk mendapatkan informasi. Untuk lebih jelasnya penggunaan media menurut McQuail adalah sebagai berikut:
1. Informasi
a. Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia;
b. Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan;
c. Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum;
d. Belajar, pendidikan diri sendiri.
2. Identitas pribadi
a. Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi;
b. Menemukan model perilaku; Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media)
3. Integritas dan interaksi sosial
a. Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain; empati sosial;
b. Mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan rasa memiliki;
c. Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial;
d. Memperoleh teman.
e. Membantu menjalankan peran sosial.
f. Memungkinkan seseorang untuk dapat menghubungi sanak- keluarga, teman, dan masyarakat.
4. Hiburan
a. Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.
b. Bersantai.
c. Memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis.
d. Mengisi waktu.
e. Penyaluran emosi.
Motif-motif di ataslah yang disebut dalam model nilai pengharapan Palmgreen sebagai Gratifications Sought (GS). Di mana Gratifications Sought (GS) adalah kepuasan yang dicari atau diinginkan pengguna ketika menggunakan suatu jenis media tertentu. Dengan kata lain, pengguna akan memilih atau tidak suatu media tertentu dipengaruhi oleh sebab-sebab tertentu, yaitu didasari motif pemenuhan sejumlah kebutuhan yang ingin dipenuhi (Humaizi, 2017: 32-33).
2.1.4 New Media
Belakangan ini new media atau media baru membuat khalayak mengembangkan bisnis ataupun informasi melalui media berteknologi canggih.
Media baru sendiri merupakan sebuah media dengan segala karakteristiknya yang memiliki teknologi, cara penggunaan, lingkup layanan, isi dan image sendiri.
Media baru tidak memiliki, tidak dikendalikan atau tidak dikelola oleh sebuah badan tunggal tetapi merupakan sebuah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan beroperasi berdasarkan protokol yang disepakati bersama (Humaizi, 2017: 50).
Menurut Lievrouw dan Livingstone (Humaizi, 2017: 51) new media adalah tekonologi-teknologi informasi dan komunikasi dan konteks-konteks sosial yang terkait, serta infrastruktur yang terdiri dari tiga komponen, yakni: alat-alat yang digunakan untuk berkomunikasi atau menyimpan informasi, aktivitas- aktivitas dimana orang-orang terlibat untuk berkomunikasi atau membagikan informasi dan pengaturan sosial atau bentuk-bentuk organisasional yang berkembang melalui alat-alat dan aktivitas-aktivitas tersebut.
Menurut (McQuail, 2011: 156-157) terdapat lima kategori utama ‘media baru’ yang sama-sama memiliki kesamaan saluran tertentu dan kurang lebih dibedakan berdasarkan jenis penggunaan, konten, dan konteks, seperti berikut ini:
1. Media komunikasi antarpribadi (interpersonal communication media).
Meliputi telepon (yang semakin mobile) dan surat elektronik (terutama untuk pekerjaan, tetapi menjadi semakin personal). Secara umum, konten bersifat pribadi dan mudah dihapus dan hubungan yang tercipta dan dikuatkan lebih penting daripada informasi yang disampaikan.
2. Media permainan interaktif (interactive play media). Media ini terutama berbasis komputer dan video game, ditambah peralatan realitas virtual.
Inovasi utamanya terletak pada interaktivitas dan mungkin dominasi dari kepuasan ‘proses’ atau ‘penggunaan’.
3. Media pencarian informasi (information search media). Ini adalah kategori yang luas tetapi Internet/www merupakan contoh yang paling penting, dianggap sebagai perpustakaan dan sumber data yang ukuran, aktualitas dan aksibilitasnya belum pernah ada sebelumnya. Posisi mesin pencari telah telah menjadi sangat penting sebagai alat bagi para pengguna sekaligus sebagai sumber pendapatan untuk Internet. Di samping Internet, telepon (mobile) juga semakin menjadi saluran penerimaan informasi, sebagaimana juga teleteks yang disiarkan dan layanan data radio.
4. Media partisipasi kolektif (collective participatory media). Kategorinya khususnya meliputi penggunaan Internet untuk berbagi dan bertukar informasi, gagasan dan pengalaman, serta untuk mengembangkan hubungan pribadi aktif (yang diperantarai komputer). Situs jejaring sosial termasuk di dalam kelompok ini.
5. Substitusi media penyiaran (substitution of broadcasting media). Acuan utamanya adalah penggunaan media untuk menerima atau mengunduh konten yang dimasa lalu biasanya disiarkan atau disebarkan dengan metode lain yang serupa. Dalam media baru dapat memudahkan kita untuk mengetahui segala informasi yang jauh, sehingga kita dapat bertemu secara tatap muka dalam sebuah teknologi. Melalui media baru juga kita mendapat berbagai informasi dari seluruh dunia
2.1.5 Instagram
Instagram adalah sebuah aplikasi dari Smartphone yang khusus untuk media sosial yang merupakan salah satu dari media digital yang mempunyai
fungsi hampir sama dengan twitter, namun perbedaannya terletak pada pengambilan Instagram berasal dari kata “instan” atau “insta”, seperti kamera polaroid yang dulu lebih dikenal dengan “foto instan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata
“gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja telegram adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Begitu pula dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima dengan cepat, foto dalam bentuk atau tempat untuk berbagi informasi terhadap penggunanya. Instagram juga dapat memberikan inspirasi bagi penggunanya dan juga dapat meningkatkan kreatifitas, karena Instagram mempunyai fitur yang dapat membuat foto menjadi lebih bagus, lebih indah, dan lebih artistik (Atmoko, 2012: 2).
Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto dan mengambil gambar atau foto yang menerapkan filter digital untuk mengubah tampilan efek foto, dan membagikannya ke berbagai layanan media sosial, termasuk milik Instagram sendiri (Atmoko, 2012:28). Instagram memiliki lima menu utama yang semuanya terletak dibagian bawah yaitu sebagai berikut :
a. Home Page
Home page adalah halaman utama yang menampilkan (timeline) foto-foto terbaru dari sesama pengguna yang telah diikuti. Cara melihat foto yaitu hanya dengan menggeser layar dari bawah ke atas seperti saat scroll mouse di komputer. Kurang lebih 30 foto terbaru dimuat saat pengguna mengakses aplikasi, Instagram hanya membatasi foto-foto terbaru.
b. Comments
Sebagai layanan jejaring sosial Instagram menyediakan fitur komentar, foto-foto yang ada di Instagram dapat dikomentar di kolom komentar.
Caranya tekan ikon bertanda balon komentar di bawah foto, kemudian ditulis kesan-kesan mengenai foto pada kotak yang disediakan setelah itu tekan tombol send.
c. Explore
Explore merupakan tampilan dari foto-foto populer yang paling banyak disukai para pengguna Instagram. Instagram menggunakan algoritma